Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme
kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai
dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi
fungsi insulin .
1

2.1.1 Jenis-jenis diabetes melitus
2.1.1.1 Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit populasinya,
diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi penderita diabetes. Diabetes
tipe ini disebabkan kerusakan sel-sel pulau Langerhans yang disebabkan oleh reaksi
otoimun.
1
Pada pulau Langerhans kelenjar pankreas terdapat beberapa tipe sel, yaitu sel ,
sel dan sel . Sel-sel memproduksi insulin, sel-sel memproduksi glukagon,
sedangkan sel-sel memproduksi hormon somastatin. Namun demikian serangan
autoimun secara selektif menghancurkan sel-sel .
1
Destruksi otoimun dari sel-sel pulau Langerhans kelenjar pankreas langsung
mengakibatkan defesiensi sekresi insulin. Defesiensi insulin inilah yang menyebabkan
gangguan metabolisme yang menyertai DM Tipe 1. Selain defesiensi insulin, fungsi sel-
sel kelenjar pankreas pada penderita DM tipe 1 juga menjadi tidak normal. Pada
penderita DM tipe 1 ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel-sel pulau
Langerhans. Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi glukagon, tapi hal
ini tidak terjadi pada penderita DM tipe 1, sekresi glukagon akan tetap tinggi walaupun
dalam keadaan hiperglikemia, hal ini memperparah kondisi hiperglikemia. Salah satu
manifestasi dari keadaan ini adalah cepatnya penderita DM tipe 1 mengalami
ketoasidosis diabetik apabila tidak mendapatkan terapi insulin.
1

2.1.1.2 Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan DM tipe 1, terutama terjadi pada orang
dewasa tetapi kadang-kadang juga terjadi pada remaja. Penyebab dari DM tipe 2 karena
sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal, keadaan
ini disebut resietensi insulin.
1
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM tipe 2 dapat juga timbul
gangguan gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan.
Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel langerhans secara autoimun
sebagaimana terjadi pada DM tipe 1. Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada
penderita DM tipe 2 hanya bersifat relatif, tidak absolut.
1
Obesitas yang pada umumnya menyebabkan gangguan pada kerja insulin,
merupakan faktor risiko yang biasa terjadi pada diabetes tipe ini, dan sebagian besar
pasien dengan diabetes tipe 2 bertubuh gemuk. Selain terjadi penurunan kepekaan
jaringan pada insulin, yang telah terbukti terjadi pada sebagian besar dengan pasien
diabetes tipe 2 terlepas pada berat badan, terjadi pula suatu defisiensi jaringan terhadap
insulin maupun kerusakan respon sel terhadap glukosa dapat lebih diperparah dengan
meningkatya hiperglikemia, dan kedua kerusakan tersebut dapat diperbaiki melalui
manuve-manuver teurapetik yang mengurangi hiperglikemia tersebut .
1

2.1.1.3 Diabetes mellitus gestasional

Diabetes mellitus gestasional adalah keadaaan diabetes yang timbul selama masa
kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara. Keadaan ini terjadi karena
pembentukan hormon pada ibu hamil yang menyebabkan resistensi insulin.
1


2.1.2 Diagnosis diabetes mellitus

Diagnosis DM biasanya diikuti dengan adanya gejala poliuria, polidipsia,
polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
Diagonosis DM dapat dipastikan apabila hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
sewaktu 200 mg/dl dan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.
1
Tabel 2.1. Kriteria Penegakan diabetes Melitus


2.3 Hubungan Diabetes Melitus dengan Tindakan Anastetikum
2
Diabetes mellitus (DM) bukan merupakan kontraindikasi untuk setiap tindakan
perawatan kedokteran gigi, misalnya tindakan operatif seperti pencabutan gigi, kuretase
pada poket dan sebagainya. Hal ini tidak masalah bagi dokter gigi apabila penderita di
bawah pengawasan dokter ahli sehingga keadaanya terkontrol. Untuk setiap tindakan
operatif ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor sebelum dan setelah
tindakan operatif. Faktor sebelum operatif antara lain keadaan umum penderita, kadar
gula darah dan urin penderita, anastetikum yang akan digunakan serta tindakan asepsis.
Tindakan yang perlu dilakukan setelah tindakan operatif adalah pencegahan terhadap
kemungkinan terjadinya infeksi, juga keadaan umum serta kadar gula darah dan urin .
Anastetikum yang digunakan untuk tindakan operatif harus aman, tidak boleh
meninggikan kadar gula dalam darah. Pemakaian adrenalin sebagai lokal anastesi masih
dapat diterima karena kadarnya tidak terlalu besar walaupun adrenalin dapat
meninggikan kadar gula dalam darah. Procain sebagai anastesi lokal sangat dianjurkan .
Sebelum tindakan operatif sebaiknya penderita diberi suatu antibiotik untuk
mencegah infeksi (antibiotik profilaksis, juga pemberian vitamin C dan B kompleks,
dapat membantu memepercepat proses penyembuhan serta mengurangi kemungkinan
terjadinya infeksi setelah perawatan. Kultur bakteri perlu dilakukan untuk kasus-kasus
infeksi oral akut. Jika terjadi respon yang kurang baik dari pemberian antibiotik yang
pertama, dokter gigi dapat memebrikan lagi antibiotik yang lebih efektif berdasarkan uji
kepekaan bakteri pada pasien .
Tindakan perawatan gigi penderita tergantung pada pengetahuan dokter gigi
tentang keadaan penyakit tersebut. Jika pasien telah didiagnosis dan dikontrol dengan
adekuat, maka tidak ada masalah sepanjang dokter gigi benar-benar mempertimbangkan
hal-hal yang dapat menghilangkan komplikasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada
perawatan gigi pasien DM adalah
2
:
1. Hal-hal tentang keadaan kesehatan pasien DM harus didiskusikan dengan dokter
yang merawatnya.
2. Semua infeksi rongga mulut harus dirawat dengan segera dengan antibiotik yang
tepat.
3. Kesehatan rongga mulut yang baik harus dipertahankan, sehingga iritasi lokal
akan hilang secara teratur, pembentukan kalkulus berkurang dan sangat
diharapkan gingivitis dan penyakit periodontal dapat dicegah.
Tindakan asepsis perlu diperhatikan apabila kita akan merawat gigi dan mulut
penderita DM yang sudah terkontrol, karena penderita pada umumnya mempunyai daya
tahan tubuh yang rendah terhadap infeksi. Adanya DM yang tidak terdiagnosa, tidak
dirawat, kurang dikontrol menyebabkan risiko yang lebih besar atau serius bagi dokter
gigi dalam mengatur rencana perawatan. Kemungkinan terjadinya koma diabetes
(hiperglikemia), shock insulin (hipoglikemia), penyebaran infeksi, kurangnya respon
penyembuhan pembedahan harus menjadi pertimbangan utama. Pasien yang memiliki
risiko ini harus dievaluasi dengan hati-hati dan konsultasi kesehatan jika ada satu
kemungkinan di rongga mulut .


1. Reno gustaviani, 2006, Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Jilid III,Edisi IV;Jakarta

2. Waspadji, S. 2005. Diabetes Melitus : Mekanisme dasar dan pengelolaannya
yang Rasional dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu
Cetakan 5. Jakarta : Penerbit FKUI.