Anda di halaman 1dari 33

ISK

Enterobacter aerogenesis
pada Bayi
Dipresentasikan oleh Kelompok 4
www.themegallery.com Company Logo
Kelompok 4:
4
Lupi Ratnasari
1
2
3
5
Novy Dwirianty Janed
M. Agung Julistiawan
Muftita Rusdiana
Nur Fauziani
Nur Syafaatur Rahmaniyah
6
7
Rafika Zidni Ilma
Definisi ISK
Infeksi Saluran Kemih adalah Invasi
microorganisme pada salah satu atau
beberapa bagian saluran kemih
Saluran Kemih :
Urethra Urethritis
Kandung Kemih Cystitis
Ureter Ureteritis
Jaringan Ginjal Pyelonephritis
Prostat Prostatitis



Mikroorganisme penyebab ISK
BAKTERI :
Escherichia coli
Staphylococcus sp
Proteus sp
Streptococcus sp
Klebsiella sp
Pseudomonas sp
Enterobacter sp
JAMUR : Candida sp.
VIRUS :
Papovavirus
Herpes simplex
Adenovirus

Mikroorganisme masuk ke saluran kencing
melalui beberapa cara, yakni:
a. Penyebaran langsung dari tempat infeksi
terdekat.
b. Penyebaran mikro-organisme melalui
aliran darah (hematogen)
c. Penyebaran mikro-organisme melalui
saluran getah bening
d. Dari luar, misalnya karena pemakaian
kateter, dan lain-lain.


Infeksi
Enterobacter aerogenesis
Enterobacter aerogenesis
Merupakan bakteri gram
negatif
Merupakan bakteri patogen
karena dapat menyebab-
kan berbagai jenis infeksi
seperti infeksi saluran
pernapasan ringan, infeksi
kulit, infeksi saluran
kemih, endocarditis,
infeksi bagian dalam perut,
septic arthritis,
osteomyelitis dan infeksi
pada mata (Farmer, et al.,
1985).

Treatmen infeksi Enterobacter aerogenesis
Terapi Antimikroba diindikasikan pada hampir
semua infeksi Enterobacter. Kelas utama yang digunakan
untuk infeksi dengan bakteri meliputi :
Beta-lactam: Carbapenem adalah obat beta laktam
yang paling dapat diandalkan untuk mengobati infeksi
enterobacter yang paling parah, sefalosporin generasi
empat itu dijadikan pilihan kedua, sefalosporon
golongan ketiga adalah pilihan yang ketiga
Aminoglikosida : Resistensi aminoglikosida relatif lebih
sering terjadi.
Fluoroquinolon: Resistensi terhadap fluoroquinolon
relatif jarang terjadi.
Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMZ) : Resistensi
terhadap TMP_SMZ lebih umum terjadi.

Panduan Diagnosis dan Tata
Laksana ISK pada Bayi dan Anak
Beberapa rekomendasi dari AAP mengenai
diagnosis dan penatalaksanaan ISK pada bayi dan anak
usia 2-24 bulan dengan demam adalah:
Diagnosis infeksi saluran kemih ditegakkan dari
spesimen urin dengan piuria dan 50.000 koloni
organisme uropatogen/mL atau lebih.
Untuk memfasilitasi diagnosis dan terapi ISK
rekuren, sebaiknya dilakukan pemantauan setelah 7-
14 hari terapi anti-mikroba.
Untuk mendiagnosis abnormalitas anatomi, dilakukan
pemeriksaan USG pada ginjal dan kandung kemih.
Karena evidence dari 6 studi terbaru tidak mendukung
penggunaan profilaksis anti-mikroba untuk mencegah ISK
rekuren dengan demam pada bayi tanpa vesicoureteral
reflux (VUR) atau VUR grade 1-4, voiding
cystourethrography (VCUG) tidak direkomendasikan
secara rutin setelah ISK yang pertama.
VCUG direkomendasikan bila USG ginjal dan kandung
kemih menunjukkan adanya hidronefrosis, jaringan parut,
atau VUR high-grade, atau obstruksi uropati atau keadaan
klinik yang atipikal atau kompleks.
Bayi dan anak dengan ISK rekuren dan demam sebaiknya
dilakukan VCUG
Antibiotik parenteral yang dapat diberikan:
Antibiotik Dosis
Ceftriaxone 75 mg/kg, tiap 24 jam
Cefotaxime 150 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 6-
8 jam
Ceftazidime 100-150 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis
tiap 8 jam
Gentamicin 7,5 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 8
jam
Tobramycin 5 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 8
jam
Piperacillin 300 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 6-
8 jam
Antibiotik oral yang diberikan:
Terapi anti-mikroba diberikan selama 7-14
hari
Antibiotik Dosis
Amoxicillin/clavu
lanate
20-40 mg/kg/hari, dibagi dalam 3 dosis
Sulfonamide
Trimethoprim-
sulfamethoxazole
6-12 mg/kg/hari trimethoprim dan 30-60
mg/kg/hari sulfamethoxazole, dibagi
dalam 2 dosis
Sulfisoxazol 120-150 mg/kg/hari, dibagi 4 dosis
Cephalosporin 8 mg/kg/hari, 1 kali sehari
Cefixime 10 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
Cefpodoxime 30 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
Cefprozil 20-30 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
Cefuroxime axetil 50-100 mg/kg/hari, dibagi 4 dosis
PASIEN=
BAYI USIA 2 BULAN,
BB 3,9 KG,
TINGGI 54 CM

METODE ANALISA KASUS &
DRP
Tanggal 1 April
S= badan panas 38-39C, sejak 8 hari yang lalu
O= Suhu tubuh 38-39C
A= PCT 4 X 125 Mg, infus Ciprofloxacin 2 X 50 mg
DRP
1. PCT yang diberikan over dosis
- Dosis PCT(15 mg/60mg) untuk bayi usia 2 bulan
- Perhitungan dosis :
DM 1 X P = 15 mg
1 X H = 60mg
DP 1 X P = 125mg
1 X H = 4 X 125mg = 500mg
% DP/DM 1 X P = 125/15 X 100%
= 833,3 %
1 X H = 500/60 X 100%
= 833,3%
- Rekomendasi = dosis PCT diturunkan 70%
=70%/833% X 125mg
= 10,5mg
Jadi PCT yang digunakan adalah 4 X 10,5 mg
DRP
2. Ciprofloxacin kontra indikasi pada anak dibawah usia 18
tahun
karena dapat menyebabkan malformasi pertumbuhan
pada tumbuh anak. Hasil penelitian pada hewan
menunjukkan atropati pada sendi penunjang BB.
Ciprofloxacin diganti dengan Cefadroxil dosis 25
mg/kg/hari dalam dosis terbagi 2 kali sehari

P=
Pengecekan suhu tubuh
Jika suhu tubuh mulai turun /normal, dosis PCT diturunkan
menjadi 3 X 10,5 mg karena jika PCT digunakan berlebihan bisa
berdampak toksis pada hati
Amati kondisi pasien apakah terjadi diare, mual, dan muntah
karena terlalu tingginya dosis Cefadroxil yang diberikan.



Tanggal 2 April
S= badan panas 38-39C,
perut kembung,
diare 5X sehari, dan
rewel
O= Suhu tubuh 38-39C
A= PCT 4 X 125 mg,
inf Ciprofloxacin 2 X 50 mg,
Antasida sirup 1ml 3X sehari.
DRP
1. PCT over dosis
Dosis PCT diturunkan menjadi 4 X 10,5 mg
2. Ciprofloxacin kontra indikasi pada anak di bawah umur usia
18 tahun
Ciprofloxacin diganti oleh cefadroxil 2 x 12.5 mg/kg/hari
3. Pemberian antasida yang tidak tepat indikasi, karena tidak
ada gejala yang menunjukkan pasien mengalami gangguan
asam lambung.
Rekomendasi= tidak perlu pemberian antasida




DRP
4. Penggunaan Ciprofloxacin menimbulkan efek samping
berupa diare yang mengakibatkan perut kembung dan bayi
rewel.
Penanganan diare pada bayi:
Diberikan probiotik seperti lacto B dan Zinc
Lacto B = 2 Sachet /hari
Zink = 10 mg/hari selama 10 hari
5. Pasien mengalami diare 5x sehari pasien dimungkinkan
mengalamai dehidrasi pasien memerlukan pengganti
cairan tubuh.
Rekomendasi : diberikan oralit jika bayi hanya dehidrasi
ringan
P=
Pemantauan suhu tubuh
Pemantauan frekuensi BAB
Pemantauan penurunan berat badan karena diare
Pemantauan elektrolit tubuh / tingkat dehidrasi tubuh, apakah
dehidrasi kuat atau dehidrasi ringan



Tanggal 3 April
S = badan panas suhu 3839
o
C,
perut kembung,
diare 5x sehari, dan
rewel.
O = - Suhu tubuh 3839
o
C
- Hb = 11,8 (10 13 g/dL) normal
- Ht = 36,8 (29 42 %) normal
- Leukosit = 16.400 (6 17,5 x 10 ) cukup tinggi
- Kultur Urin = Enterobacter aerogenesis
- Ureum = 12 mg/dL (5-15 mg/dL) normal
- Cr = 0,7 ml / dL (0,7-1,4 mg/dl) normal
- USG Ginjal dan kemih normal
- Diagnosa banding = Pyelonefritis Akut (negatif)
- Diagnosa = ISK Enterobacter aerogenesis
A = PCT 4 x 125 mg
Cipro 2 x 50 mg
Antasida 3 x sehari 1 ml

DRP
1. PCT over dosis
Dosis PCT diturunkan menjadi 4 X 10,5 mg
2. Ciprofloxacin kontra indikasi pada anak di bawah umur usia
18 tahun
Ciprofloxacin diganti oleh cefadroxil 2 x 12.5 mg/kg/hari
3. Pemberian antasida yang tidak tepat indikasi.
Rekomendasi= tidak perlu pemberian antasida
4. Penggunaan Ciprofloxacin menimbulkan efek samping
berupa diare.
Diberikan probiotik seperti lacto B dan Zinc
5. Pasien mengalami diare 5x sehari pasien dimungkinkan
mengalamai dehidrasi
Rekomendasi :
jika bayi hanya dehidrasi ringan diberikan oralit
jika dehidrasi berat berikan 100 ml/kgBB cairan Ringer
Laktat atau Ringer asetat (atau jika tak tersedia,
gunakan larutan NaCl)




P=
Pemantauan suhu tubuh
Pemantauan frekuensi BAB
Pemantauan penurunan berat badan karena diare
Pemantauan elektrolit tubuh / tingkat dehidrasi
tubuh, apakah dehidrasi kuat atau dehidrasi ringan
Pemantauan lebih lanjut dengan melakukan
pemeriksaan kultur urinnya lagi. Untuk memastikan
ada kesembuhan atau tidak.
Monitoring keberhasilan terapi secara klinis atau
secara mikrobiologis (kultur ulang)

Tanggal 4 April
S = badan panas suhu 3839
o
C,
perut kembung,
diare 5x sehari, dan
rewel.
O = - Suhu tubuh 3839
o
C
- Hb = 11,8 (10 13 g/dL) normal
- Ht = 36,8 (29 42 %) normal
- Leukosit = 16.400 (6 17,5 x 10 ) cukup tinggi
- Kultur Urin = Enterobacter aerogenesis
- Ureum = 12 mg/dL (5-15 mg/dL) normal
- Cr = 0,7 ml / dL (0,7-1,4 mg/dl) normal
- USG Ginjal dan kemih normal
- Diagnosa banding = Pyelonefritis Akut (negatif)
- Diagnosa = ISK Enterobacter aerogenesis
A = PCT 4 x 125 mg
Ceftazidime 3 x 75 mg iv
Antasida 3 x sehari 1 ml

DRP
1. PCT over dosis
Dosis PCT diturunkan menjadi 4 X 10,5 mg
2. Pemberian antasida yang tidak tepat indikasi.
Rekomendasi= tidak perlu pemberian antasida
3. Ceftazidime sebaiknya diganti dengan Ceftriaxone dengan
dosis 75 mg / kg tiap 24 jam secara intra vena.
Alasan penggantian Ceftazidime:
a. Karena Ceftazidime itu kemampuan lebih tinggi/lebih
aktif dari pada ceftriaxone.
b. Cefriaxone merupakan first choice dalam pengobatan
ISK pada bayi.
P =
Pemantauan suhu tubuh
Amati kondisi pasien apakah terjadi diare karena penggunaan
dosis yang Ceftriaxone yang terlalu tinggi
Pemantauan lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan kultur
urinnya lagi. Untuk memastikan ada kesembuhan atau tidak.
Monitoring keberhasilan terapi secara klinis atau secara
mikrobiologis (kultur ulang)




Tanggal 5 April
S = badan panas suhu 3839
o
C,
perut kembung,
diare 5x sehari, dan
rewel.
O = - Suhu tubuh 3839
o
C
- Hb = 11,8 (10 13 g/dL) normal
- Ht = 36,8 (29 42 %) normal
- Leukosit = 16.400 (6 17,5 x 10 ) cukup tinggi
- Kultur Urin = Enterobacter aerogenesis
- Ureum = 12 mg/dL (5-15 mg/dL) normal
- Cr = 0,7 ml / dL (0,7-1,4 mg/dl) normal
- USG Ginjal dan kemih normal
- Diagnosa banding = Pyelonefritis Akut (negatif)
- Diagnosa = ISK Enterobacter aerogenesis
A = PCT 4 x 125 mg
Ceftazidime 3 x 120 mg iv
Antasida 3 x sehari 1 ml

DRP
1. PCT over dosis
Dosis PCT diturunkan menjadi 4 X 10,5 mg
2. Pemberian antasida yang tidak tepat indikasi.
Rekomendasi= tidak perlu pemberian antasida
3. Dosis Ceftazidime ditingkatkan menjadi 3x120 mg iv.
Peningkatan dosis ceftazidime harus dikonfirmasi ulang
kepada dokter. Apakah peningkatan dosis dikarenakan
infeksi pada pasien tidak kunjung membaik atau tidak.
Jika iya, sebaiknya dilakukan tes sensitivitas antimikroba.
Sehingga dapat dipilihkan antimikroba yang tepat (bukan
meningkatkan dosis)
4. Ceftazidime sebaiknya diganti dengan Ceftriaxone dengan
dosis 75 mg / kg tiap 24 jam secara intra vena.
P =
Pemantauan suhu tubuh
Amati kondisi pasien apakah terjadi diare karena penggunaan
dosis yang Ceftriaxone yang terlalu tinggi
Pemantauan lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan kultur
urinnya lagi. Untuk memastikan ada kesembuhan atau tidak.
Tes sensitivitas antimikroba pada bayi

PELAYANAN INFORMASI OBAT
Konsultasi, Informasi dan Edukasi Pasien (KIE)
Memberikan informasi tentang obat baik
mengenai nama obat, dosis, aturan pakai dan
cara penggunaan obat.
Memberikan informasi, instruksi, dan
peringatan kepada pasien dan keluarganya
tentang efek terapi dan efek samping yang
mungkin timbul selama pengobatan.
Memberikan edukasi kepada pasien bahwa
perlu menjaga kebersihan agar tidak
terinfeksi bakteri.


Cara Penggunaan Obat

Paracetamol 0,4 ml diberikan dengan menggunakan pipet


secara per oral pada bayi 4 kali sehari

Cefadroksil 0,325 ml diberikan dengan menggunakan


pipet secara per oral pada bayi 2 kali sehari
Lacto B = 2 Sachet /hari
Cara pemberian :
Diberikan bersama makanan bayi

Zink = 10 mg/hari selama 10 hari
Cara pemberian :
Dicampurkan pada ASI atau pada 1 air
hangat.

Ceftriaxone 75 mg/kg tiap 24 jam secara
intra vena
Dosis 1xp = 75 x 3,9 = 292,5 mg = 0,2 g
Cara pemberian :
Ceftriaxone 1 g dilarutkan dalam 10 ml
WFI
Jadi, 0,2 g Ceftriaxone dilarutkan dalam
2 ml WFI
Kemudian disuntikkan langsung kedalam
vena atau pada bagian distal dari tabung
infus

Sekian dan Terimakasih