Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah
komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sebagai sebuah
sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis. Sistematis yang
dimaksud adalah bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak
tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya sistem
bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari
sejumlah subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem
sintaksis, dan subsistem leksikon.
Kajian bahasa memang tidak pernah berhenti dibicarakan. Selalu ada
permasalahan bahasa yang menarik untuk dikaji. Hal itu disebabkan bahasa
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bahasa adalah alat komunikasi
dan alat interaksi manusia. Sebagai alat komunikasi manusia, bahasa dapat
dipisahkan menjadi unit satuan-satuan. Satuan bentuk terkecil dalam bahasa
adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di antara suatu bentuk
terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk morfem, kata, kalimat, dan
alinea.
Satuan bentuk bahasa itu baru diakui eksistensinya jika mempunyai
makna atau dapat mempengaruhi makna. Maksud penyataan dapat
mempengaruhi makna dalam hal ini adalah kehadirannya dapat mengubah
makna atau menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna
dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yakni satu sama lainya saling
melengkapi. Bentuk yang tidak mempunyai makna atau tidak dapat
mempengaruhi makna tidak akan mendapat tempat dalam tatanam satuan
bentuk bahasa.
Selain Bahasa merupakan suatu sistem, bahasa juga merupakan alat
untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota
masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau
perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan
2

itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan,
diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau
pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut
dengan kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan
pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara
tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca
dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti
apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Berdasarkan uraian diatas, kami tertarik untuk mengetahui berbagai
macam bentuk dan makna kata, serta penggunaan kalimat efektif dalam Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah bentuk kata dalam Bahasa Indonesia?
2. Apakah yang dimaksud dengan makna kata?
3. Apakah yang dimaksud dengan kalimat efektif ?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui bentuk-bentuk kata dalam bahasa Indonesia
2. Mengetahui tentang makna kata dan macam-macamnya
3. Mengetahui tentang kalimat efektif beserta ciri-cirinya.

D. Manfaat
Makalah ini berisi penjelasan tentang bentuk dan makna kata yang ada
dalam bahasa Indonesia serta tentang penggunaan kalimat efektif, yang
diharapkan bisa membantu para pembaca dalam memahami bahasa Indonesia
lebih mendalam.




3

BAB II
PEMBAHASAN

Bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi manusia. Sebagai alat
komunikasi manusia, bahasa dapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan. Satuan
bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di
antara suatu bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk morfem, kata,
kalimat, dan alinea.
Satuan bentuk bahasa itu baru diakui eksistensinya jika mempunyai makna
atau dapat mempengaruhi makna. Maksud penyataan dapat mempengaruhi makna
dalam hal ini adalah kehadirannya dapat mengubah makna atau menciptakan
makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna dapat diibaratkan sebagai dua
sisi mata uang yakni satu sama lainnya saling melengkapi. Bentuk yang tidak
mempunyai makna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak akan mendapat
tempat dalam tatanam satuan bentuk bahasa.

A. Bentuk Kata
1. Fenom
Fonem merupakan satuan bunyi bahasa yang terkecil yang mampu
menunjukan perbedaan makna dalam ilmu bahasa. Fonem itu ditulis
diantara dua garis miring /.../ misalnya bunyi a/,/i,/u/e/,dan/o. Jika satu
fonem saja diganti atau dihilangkan atau bahkan ditambahkan maka akan
mengubah kata. Fonem dibedakan atas vocal dan konsonan.
Contoh kasta, kista, kusta, kata-kata ini hanya dibedakan oleh
fenomena a/,i/, dan u/. Contoh lainnya yang fenomenanya berupa huruf
konsonan misalnya kata jari, hari, tari, lari, kata-kata tersebut dibedakan
oleh fonem/j/,/h/,t/,l/. Fungsi fonem itu sendiri untuk membedakan makna
perbedaan bunyi. Pada fonem yang membedakan makna ini menegaskan
adanya fonem-fonem yang berbeda pula.
2. Morfem
Morfem adalah suatu bentuk terkecil yang dapat membedakan
makna dan atau mempunyai makna.
4

Morfem an, -di, me-, ter, -lah, jika digabungkan dengan kata
makan, dapat membentuk kata makanan, dimakan, memakan, termakan,
makanlah yang mempunyai makna baru yang berbeda dengan makna
kata makan.
Morfem boleh dibagi dua, yaitu morfem bebas dan morfem terikat.
a. morfem bebas, dapat menjalankan fungsinya secara mandiri (dapat
diucapkan tersendiri, dan dapat diletakkan dalam hubungan kalimat).
Contoh : buku, uang, orang.
b. morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat dapat berdiri sendiri
dari satu makna. Maknanya baru jelas setelah dihubungkan dengan
morfem yang lain. Morfem terikat mencakup :
Awalan : Ditambah pada bagian depan kata dasar.
Misalnya membaca, menghafal.
Akhiran: Ditambah pada bagian belakang kata dasar.
Sisipan: Diselit di antara unsur unsur kata dasar.
Misalnya telapak (tapak)
Apitan: Ditambahkan serentak pada awalan dan akhiran kata dasar.
Misalnya, imbuhan per....an dalam permainan
3. Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri
sendiri dan mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf
atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru diakui
sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna. Dari segi bentuk, kata
dibagi atas dua macam:
a. Kata yang bermorfem tunggal (kata dasar), yaitu kata yang belum
mendapat imbuhan.
b. Kata yang bermorfem banyak, yaitu kata yang sudah mendapat
imbuhan.
Pembagian kelas atau jenis kata:
1) kata benda (nomina) 6) kata bilangan (numeralia)
2) kata kerja (verba) 7) kata sambung (konjungsi)
3) kata sifat (adjektiva) 8) kata sandang (artikel)
5

4) kata ganti (pronomina) 9) kata seru (interjeksi)
5) kata keterangan (adverbia) 10) kata depan (preposisi)
Sementara itu, ilmu bahasa termasuk morfologi terus berkembang.
Pembagian kelas kata bahasa Indonesia yang paling mutakir adalah yang
diajukan oleh Tim Depdikbud RI yang terdapat di dalam buku Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi perdana 1988). Di dalam buku itu,
Moeliono, dkk. mengelompokan kata ke dalam lima jenis, yaitu :
1. Verba (Kata Kerja)
Adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan,
proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Umumnya
berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri-ciri kata kerja:
1) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan,sedang, dan telah.
Contoh: (akan) mandi
2) Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: (tidak) makan
3) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata benda
atau kata sifat.
Contoh: tulis + dengan pena (KB) menulis + dengan cepat
(KS)
Selain bentuk di atas, ada bentuk verba yang lain, yaitu:
a) Verba reduplikasi atau verba berulang dengan dengan atau tanpa
pengimbuhan, misalnya makan-makan, batuk-batuk.
b) Verba majemuk, yaitu verba yang terbentuk melalui proses
penggabungan kata, namun bukan berupa idiom; misalnya terjun
payung, tatap muka.
c) Verba berpreposisi, yaitu verba intransitif yang selalu diikuti
oleh preposisi tertentu; misalnya tahu akan, cinta pada.
2. Adjektiva (Kata Sifat)
Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat
orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat,
6

objek, dan penjelas dalam kalimat. Dibedakan atas dua macam,
yaitu:
1) kata sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri:
a. dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang,
dan paling: misalnya lebih baik.
b. Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali;
misalnya sangat senang, sedikit sekali.
c. Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, misalnya tidak
benar.
2) kata sifat berimbuhan. Contoh: abadi, manusiawi, kekanak-
kanakan.
3. Adverbia (Kata Keterangan)
Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba,
adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Kalimat Saya ingin segera
melukis, kata segera adalah adverbia yang menerangkan verba
melukis.
Menurut Alwi dkk. (1998 : 366), keterangan di dalam kalimat
ada Sembilan macam, semua keterangan itu diisi oleh beraneka
bentuk adverbial seperti tampak dalam contoh di bawah ini. Contoh :
a) Yang menyatakan waktu : sekarang, besok, beberapa hari lagi,
pada masa lalu, sejak tahun 1945;
b) Yang menyatakan tempat dan arah : di sana, ke kampus, dari
bogor, diatas meja, di selatan khatulistiwa ;
c) Yang menyatakan tujuan : demi keluarga, untuk mencerdaskan
bangsa, bagi tanah air dan Negara;
d) Yang menyatakan cara : sekuat kuatnya, lama lama, baik
baik, kecil kecilan, dengan terang terangan, dengan
perhatian penuh ;
e) Yang menyatakan penyertaan : dengan karyawan, bersama
rakyat, tanpa guru ;
f) Yang menyatakan alat : dengan kereta api, dengan sepeda,
dengan gunting, dengan kapak merah ;
g) Yang menyatakan kemiripan : laksana puteri, bagaikan karang,
seperti petinju ;
h) Yang menyatakan penyebaban : karena inflasi, karena krisis
keuangan, karena cinta ;
i) Yang menyatakan kesalingan : satu sama lain ;


7

4. Rumpun Kata Benda
Kata Benda adalah kata yang mengacu kepada sesuatu
benda (konkret maupun abstrak). Kata benda berfungsi sebagai
subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam kalimat.
Ciri kata benda:
a. Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh: gula (bukan gula).
b. Dapat diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang
sangat + kata sifat.
Contoh: buku + yang mahal (KS).
Ada tiga jenis kata yang juga mengacu kepada benda, yaitu:
a. Nomina (kata benda) : kata yang dipakai untuk menyatakan
benda konkret.
b. Pronomina (kata ganti) : kata yang dipakai untuk mengacu
kepada nomina lain.
Contoh: mana, kapan, Bu
c. Numeralia (kata bilangan) : kata yang dipakai untuk menghitung
banyaknya orang, binatang, atau barang.
Contoh: tiga, puluhan.
5. Rumpun Kata Tugas
Kata Tugas adalah kumpulan kata dan partikel. Lebih tepat
dinamakan rumpun kata tugas, yang terdiri atas:
a. Kata depan (preposisi)
Kata depan adalah kata tugas yang selalu berada di depan
kata benda, kata sifat atau kata kerja untuk membentuk
gabungan kata depan (frasa preposional).
Contoh: di kantor, sejak kecil.
b. Kata sambung (konjungsi)
Kata sambung adalah kata tugas yang berfungsi
menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Contoh: - antara hidup dan mati (dalam kalimat)
8

- Situasi memang sudah membaik. Akan tetapi, kita
harus selalu siaga.
c. Kata seru (interjeksi)
Kata seru adalah kata tugas yang dipakai untuk
mengungkapkan seruan hati seperti rasa kagum, sedih, heran,
dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimat
perintah (imperatif).
Contoh: Aduh, gigiku sakit sekali!
Ayo, maju terus, pantang mundur!
d. Kata sandang (artikel)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna
jumlah orang atau kata benda. Artikel ada tiga, yaitu:
(a) yang bermakna tunggal: sang putri
(b) yang bermakna jamak: para hakim
(c) yang bermakna netral: si hitam manis.
e. Partikel
Bermakna unsur-unsur kecil dari suatu benda. Partikel
yang dibicarakan di sini adalah partikel yang berperan
membentuk kalimat tanya (interogatif) dan pernyataan, yaitu:
kah: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
Berfungsi sebagi kalimat tanya yang membutuhkan jawaban
lah: Apalah dayaku tanpa bantuanmu?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang tidak membutuhkan
jawaban tetapi tetap diberi tanda tanya.
lah: Dialah yang Maha Kuasa.
Kata lah dalam kalimat ini menunjukkan partikel dan harus
ditulis dengan huruf kecil.





9

4. Frasa
Frasa adalah kelompok kata / gabungan dua kata atau lebih yang
membentuk satu kesatuan dan memiliki satu makna gramatikal.
Ciri-ciri frasa :
1. terbentuk atas dua kata atau lebih dalam pembentukannya.
2. menduduki fungsi gramatikal dalam kalimat.
3. mengandung satu kesatuan makna gramatikal.
4. bersifat nonpredikatif.
Frasa terbagi atas:
a. Frase bertingkat (endosentrik) ; memiliki pola inti, pola DM atau
MD
Misal: Penuh wibawa
M D (inti)
Gembira Sekali
D(inti) M
b. Frase setara (eksesentrik) ; tidak memiliki inti frase, unsur-
unsurnya merupakan kelompok kata yang setara
Misal: tanya jawab
Penggolongan Frasa berdasarkan kelas kata:
a. Frase Nominal ; distribusinya sama dengan kata benda ; rumah
mewah
b. Frase Verbal ; distribusinya sama dengan kata kerja ; belum pergi
c. Frase Sifat; distribusinya sama dengan kata sifat; jujur sekali
d. Frase bilangan ; distribusinya sama dengan kata bilangan ; tujuh
helai
e. Frase Depan ; frase yang diawali kata depan dan diikuti dengan
kata benda, kerja, bilangan dan keterangan ; dari terminal
f. Frase keterangan ; distribusinya sama dengan kata keterangan ;
minggu depan



10

5. Klausa
Klausa ialah satu unit rangkaian perkataan yang mengandung subjek
dan predikat yang menjadi konstituen kepada ayat. Klausa merupakan ayat
yang membentuk ayat majemuk. Klausa terbagi kepada dua jenis, yaitu
klausa bebas dan klausa tak bebas.
a. Klausa bebas
Klausa bebas ialah klausa yang boleh berdiri dengan sendiri dan
apabila diucapkan dengan intonasi yang sempurna, klausa bebas
ini akan menjadi ayat yang lengkap.
Contoh : Ahmad menari. (klausa bebas)
b. Klausa tak bebas
Klausa tak bebas ialah klausa yang tidak dapat berdiri sendiri
dan dalam ayat majemuk, klausa tak bebas ini dipancangkan ke
dalam klausa bebas atau klausa utama.
Contoh :
1. Dia lulus dalam ujian karena belajar bersungguh-sungguh.
2. Dia lulus dalam ujian (klausa utama / klausa bebas)
3. karena belajar bersungguh-sungguh (klausa tak bebas)

6. Kalimat
Kalimat, dari bahasa Arab, adalah satuan lingusitik yang terkecil
yang bisa berdiri sendiri. Dalam bahasa Latin disebut sintaks atau
sintaksis.
Dalam linguistik, kalimat adalah satuan dari bahasa atau arus
ujaran yang berisikan kata atau kumpulan kata yang memiliki pesan atau
tujuan dan diakhiri dengan intonasi final.
Contoh : - Ayah pergi ke kantor jam 7 pagi.
- Adik sedang bermain bola di lapangan.




11

7. Paragraf
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau
karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris
baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat
dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser
ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.

B. Makna Kata
1. Pengertian Makna Kata
Makna adalah denotasi. Kadang kadang Makna itu selaras
dengan Arti dan kadang tidak selaras. Apabila makna sesuatu itu sama
dengan arti sesuatu itu, maka makna tersebut disebut Makna Laras (Explicit
Meaning). Apabila maknanya tidak selaras dengan Arti, maka sesuatu itu
disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning) atau Makna Lazim
(Necessary Meaning).
Sebagai contoh kata Sapi, ia memiliki arti dan makna. Sapi sudah
memiliki arti sebelum kata tersebut dimasukan ke dalam kalimat, tapi ia
belum memiliki makna, karena makna hanya akan terbentuk apabila kata itu
sudah dimasukan kedalam kalimat.
Contoh Makna Laras:
Gara membeli sapi.
Kalimat ini memiliki makna yang sama dengan artinya, yaitu sapi.
Pengertian yang menyeluruh tentang sapi tersebut itulah yang disebut dengan
Makna Laras (Explicit Meaning). Ketika Gara membeli sapi, tentu yang
dibeli adalah keseluruhan tubuh sapi. Oleh karena itu, makna Sapi dalam
12

kalimat tersebut adalah sama dengan arti Sapi, sehingga disebut memiliki
Makna Laras.
Contoh Makna Kandungan:
Gara memukul sapi.
Yang dipukul oleh Gara adalah sebagian tubuh sapi itu, oleh karena
itu Sapi dalam kalimat tersebut tidak selaras dengan artinya, melainkan
hanya kandungan arti tersebut. Oleh karena itu Sapi dalam kalimat
tersebut memiliki Makna Kandungan.
Contoh Makna Kata Lazim:
Gara Menarik sapi.
Kata Sapi dalam kalimat tersebut adalah memiliki Makna Lazim,
karena ketika Gara menarik sapi, sebenarnya yang dipegang adalah talinya.
Dia menarik tali itu secara tidak langsung menarik tubuh sapi. Kendatipun
yang gara pegang dan dia tarik secara langsung adalah tali kedali sapi dan
bukan sapinya secara langsung, tetapi sudah lazim dikatakan bahwa hal itu
disebut menarik sapi. Itulah mengapa disebut Makna Lazim.
2. Relasi Makna Kata
Di dalam Bahasa Indonesia, banyak ditemukan suatu kata yang
memiliki hubungan atau relasi semantik dengan kata lain, seperti kesamaan
makna, lawan kata, kegandaan kata, ketercakupan makna, kelainan makna,
dan sebagainya. Di bawah ini akan dijelaskan macam-macam relasi makna
tersebut.


13

a. Sinonim
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno,
yaitu onoma yang berarti Nama, dan syn yang berarti Dengan. Maka
secara harfiah kata sinonim berarti Nama lain untuk benda atau hal yang
sama (Chaer, 1990:85). Sinonim atau bisa disebut kegandan makna dapat
diartikan sebagai dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau
hampir sama. Dikatakan hampir sama karena meskipun dua kata tersebut
sama, kata tersebut tidak dapat atau kurang tepat bila menggantikan kata
yang lain dalam sebuah kalimat. Contohnya seperti di bawah ini :
Tikus itu mati diterkam kucing.
Tikus itu meninggal diterkam kucing.
Dalam dua kalimat di atas, kita dapat menemukan dua kata yang
bersinonim, yaitu mati dan meninggal. Namun kata Meninggal pada
kalimat kedua tidak dapat menggantikan kata Mati pada kalimat
pertama. Hal ini karena kata Mati dapat digunakan pada semua makhluk
hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan kata
Meninggal hanya digunakan pada manusia.
b. Antonim
Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang
berarti Nama, dan anti yang berarti Melawan. Maka secara harfiah
antonim berarti nama lain untuk benda lain pula(Chaer, 1990:85). Kata
antonim atau sering disebut lawan kata dapat diartikan sebagai dua kata
yang memiliki makna yang berlawanan atau bertentangan. Misalnya,
hidup-mati, diam-gerak dan sebagainya.
14

c. Homonim, homofon, homograf
Kata homonimi berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang
berarti Nama dan homo yang artinya Sama. Secara harfiah homonimi
dapat diartikan sebagai Nama sama untuk benda atau hal lain (Chaer,
1990:85). Homonim adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan dan
lafal yang sama namun memiliki makna yang berbeda. Misalnya, kata
Bisa dapat diartikan dua makna, yakni Bisa yang berarti Dapat dan
Bisa yang berarti Racun.
Homofon (homo berarti sama, fon berarti bunyi ) adalah dua kata
atau lebih yang memiliki lafal yang sama walaupun ejaan dan maknanya
berbeda. Misalnya, kata Bang dan Bank. Homograf (homo berarti
sama, grafi berarti tulisan) adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan
yang sama namun memiliki lafal dan makna yang berbeda. Misalnya,
Tahu (baca Tahu) bermakna salah satu produk makanan yang berasal
dari kedelai, sedangkan kata Tahu (baca Tau) bermakna mengetahui.
d. Hiponim dan hipernim
Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno , yaitu onoma
berarti Nama dan hypo berarti Di bawah. Jadi, secara harfiah berarti
Nama yang termasuk di bawah nama lain (Chaer, 1990:85). Hipomimi
dan hipermimi berhubungan satu sama lain, hipomimi merujuk pada kata
yang lebih khusus yang merupakan subordinat dari hipermimi. Misalnya,
kata Tongkol dan Ikan, kata Tongkol merupakan hiponim dari kata
Ikan sedangkan kata Ikan merupakan hipernim dari kata Tongkol.

15

e. Polisemi
Polisemi adalah satuan bahasa (bisa kata atau frase) yang memiliki
makna lebih dari satu. Misalnya pada kalimat di bawah ini :
Kepalaku sakit sejak kemarin.
Kepala sekolah menemui para murid di kelas
Kata Kepala yang pertama bermakna bagian tubuh yang berada
di atas leher sedangkan kata Kepala yang kedua bermakna pemimpin.
3. Perubahan Makna Kata
Dalam perkembangan penggunaannya, kata sering mengalami
perubahan makna. Perubahan tersebut terjadi karena pergeseran konotasi,
rentang masa penggunaan, jarak, dan lain-lain. Namun yang jelas, perubahan-
perubahan tersebut ada bermacam-macam yaitu: menyempit, meluas,
amelioratif, peyoratif, dan asosiasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan
penjelasan dibawah ini :
Macam-macam Perubahan Makna:
a. Menyempit/spesialisasi
Kata yang tergolong kedalam perubahan makna ini adalah kata
yang pada awal penggunaannya bisa dipakai untuk berbagai hal umum,
tetapi penggunaannya saat ini hanya terbatas untuk satu keadaan saja.
Contoh :
Sastra dulu dipakai untuk pengertian tulisan dalam arti luas atau
umum, sedangkan sekarang hanya dimaknakan dengan tulisan yang
berbau seni. Begitu pula kata sarjana (dulu orang yang pandai, berilmu
tinggi, sekarang bermakna Lulusan perguruan tinggi).
16

b. Meluas/generalisasi
Penggunaan kata ini berkebalikan dengan pengertian menyempit.
Contoh :
Putera dan puteri dulu dipakai untuk anak dari raja, tetapi sekarang
kata tersebut dipakai untuk keadaan yang lebih luas. Penggunaan kata
Putera dan puteri saat ini menunjuk pada semua anak lelaki dan anak
perempuan. Hal ini merupakan bukti bahwa kata Putera dan puteri meluas
penggunaa nnya.
c. Amelioratif
Pada awalnya, kata ini memiliki makna kurang baik, kurang positif,
tidak menguntungkan, akan tetapi, pada akhirnya mengandung pengertian
makna yang baik, positif, dan menguntungkan.
Contoh :
Wanita, pramunikmat, dan warakawuri merupakan kata-kata yang
dipakai untuk lebih menghaluskan, menyopankan pengertian yang
terkandung dalam kata-kata tersebut.
d. Peyoratif
Makna kata sekarang mengalami penurunan nilai rasa kata
daripada makna kata pada awal pemakaiannya.
Contoh :
Kawin, gerombolan, oknum, dan perempuan terasa memiliki
konotasi menurun atau negatif.


17

e. Asosiasi
Yang tegolong kedalam perubahan makna ini adalah kata-kata
dengan makna-makna yang muncul karena persamaan sifat. Sering kita
mendengar kalimat hati-hati dengan tukang catut itu.
Tukang catut dalam kalimat diatas tergolong kata-kata dengan makna
asosiatif. Begitu pula dengan kata kacamata dalam : menurut kacamata
saya, perbuatan anda tidak benar
f. Sinestesia
Perubahan makna terjadi karena pertukaran tanggapan antara dua
indera, misalnya dari indera pengecap ke indera penglihatan.
Contoh:
Gadis itu berwajah manis. Kata manis mengandung makna enak,
biasanya dirasakan oleh alat pengecap, berubah menjadi bagus, dirasakan
oleh indera penglihatan. Demikian juga kata panas, kasar, sejuk, dan
sebagainya.
4. Jenis Makna Kata
Makna di dalam sastra Bahasa Indonesia ditentukan dalam beberapa
kriteria atau jenis dan juga sudut pandang. Jenis makna dalam Bahasa
Indonesia sangat banyak diantaranya: Berdasarkan jenis semantiknya, dapat
dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau
tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem dapat dibedakan adanya
makna referensial dan makna nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai
rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan
makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal makna kata dan
18

makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteri
lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif,
kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.
a. Makna Lesikal dan Makna Gramatikal
Leksikal merupakan bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk
nomina leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk
bahasa yang bermakna. Dengan kata lain makna lesikal adalah makna
unsur-unsur bahasa (leksem) sebagai lambang benda, peristiwa, obyek,
dan lain-lain. Seperti kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa
binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus.
Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing,
atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus.
Biasanya makna leksikal dipertentangkan dengan makna
gramatikal. Jika makna leksikal berkenaan dengan makna leksem, maka
makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya
proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses
komposisi. Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat
Batu seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna Dapat, dan
dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas
melahirkan makna gramatikal Tidak sengaja.
b. Makna Referensial dan Makna Nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial
berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu
mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu,
19

maka kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu
tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna
nonreferensial. Kata meja termasuk kata yang bermakna referensial karena
mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut
Meja. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai referen, jadi kata karena
termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
c. Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif atau konseptual adalah makna kata yang
didasarkan atas penunjukkan yang langsung (lugas) pada suatu hal atau
obyek di luar bahasa. Makna langsung atau makna lugas bersifat obyektif,
karena langsung menunjuk obyeknya. Jadi, makna denotatif ini
menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh karena itu, makna
denotasi sering disebut sebagai makna sebenarnya.
Seperti dalam kata perempuan dan wanita kedua kata itu
mempunyai dua makna yang sama, yaitu Manusia dewasa bukan laki-
laki.
Makna konotatif merupakan lawan dari makna denotatif. Jika
makna denotatif mencakup arti kata yang sebenarnya, maka makna
konotatif sebaliknya, yang juga disebut sebagai makna kiasan. Lebih
lanjut, makna konotasi dapat dijabarkan sebagai makna yang diberikan
pada kata atau kelompok kata sebagai perbandingan agar apa yang
dimaksudkan menjadi jelas dan menarik. Seperti dalam kalimat Rumah
itu dilalap si jago merah. Kata Si jago merah dalam kalimat tersebut
bukanlah arti yang sebenarnya, melainkan kata kiasan yang bermakna
20

Kebakaran. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu.
Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti
Cerewet, tetapi sekarang konotasinya positif.
d. Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna, namun dalam
penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah
berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda
dengan kata, istilah mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang tidak
meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering
dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa
sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu. Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh
berikut
(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah
bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam bidang kedokteran kedua
kata itu memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari
pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari
pergelangan sampai ke pangkal bahu.
e. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang
dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.
Kata kuda memiliki makna konseptual sejenis binatang berkaki empat
21

yang biasa dikendarai. Jadi makna konseptual sesungguhnya sama saja
dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau
kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang
berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu
yang suci atau kesucian.
f. Makna Idiomitikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat
Diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun
secara gramatikal. Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang
dengan makna Bekerja keras, meja hijau dengan makna Pengadilan.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat
ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya
Asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna
Dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur. Makna ini memiliki
asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersama
memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
g. Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan
digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua
bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti
sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut
22

mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam
arti Bulan, raja siang dalam arti Matahari.

5. Kalimat Efektif
a. Pengertian
Kalimat efektif dapat diartikan sebagai kalimat yang dapat
mengkomunikasikan pikiran, perasaan penulis atau pembicara kepada
pembaca atau pendengar secara tepat. Dengan kalimat efektif,
komunikasi penulis dan pembaca atau pendengar tidak akan menghadapi
keraguan atau salah komunikasi.
Gorys Keraf dalam bukunya menyatakan pengertian kalimat
efektif adalah :
1. Kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan
pembicara atau penulis
2. Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam
pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan
pendengar atau pembaca. Kalimat efektif adalah kalimat atau
bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun untuk
mencapai daya informafi yang tetap dan baik
Dari pengertian-pengertian yang telah diungkapakan diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dapat
mengkomunikasikan pikiran penulis dan pendengar. Ada dua pihak yang
terlibat dalam pembicaraan ini; pertama adalah penulis dan kedua adalah
pembaca, maka maksud dari pembicaraan yang ingin kita sampaikan
harus disusun sedemikian rupa agar tidak terjadi kesalahpahaman antara
23

penulis dan pembaca. Selain itu, fungsi kalimat sebagai alat komunikasi
dapat terwujud.
b. Ciri-ciri kalimat efektif
Membicarakan tentang kalimat efektif tidak lepas dari ciri-ciri yang
terdapat di dalamnya. Mengenai ciri-ciri kalimat efektif banyak batasan
yang diberikan para ahli tentang ciri-ciri tersebut walau berbeda dalam
perumusan namun secara prinsip tampak sejalan.
Ciri-ciri kalimat efektif adalah :
a. Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan
struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan artinya hungan timbak
balik antara predikat dengan objek serta denagn keterangan-keterangan
yang menjelaskan unsur-unsur kalimat tadi. Kesepadanan memiliki
beberapa ciri seperti :
1. Mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan
predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata
depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai,
menurut, dsb di depan subjek.
Contoh :
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah.
Seharusnya :
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah.

24

2. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh :
Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
Seharusnya :
Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
3. kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :
Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti
acara pertama
Seharusnya :
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat
mengikuti acara pertama.
Perbaikan kalimat diatas bisa dilakukan dengan cara
mengubah kalimat dengan menjadikan kalimat majemuk dan
mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi kalimat
ungkapan penghubung antar kalimat.
b. Keparalelan
Kesamaan bentuk kata yang digunakn dalam kalimat itu. Jika
kalimat tersebut menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya
juga mrnggunakan nomina, jika menggunakan verba maka seterusnya
maka gunakan verba. Kesatuan unsur-unsur yang digunakan secara
konsisten. Kesejajaran iala menempatkan gagasna yang sama penting
dan fungsinya kedalam struktur kebahasaan yang sama.
25

Contoh : Karena sering tidak masuk kuliah, amir tidak dapat
menjawab soal yang sangat mudah.
c. Ketegasan
Ketegasan yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan
ialalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Ada
berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
i) Meletakkan kata yang ditonjolkan didalam kalimat.
Contoh :
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun membangun
bangsa dan negaranya.
Penekanannya ada pada harapan presiden.
ii) Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh :
Bukan seribu, sejuta, atau seratus tetapi berjuta-juta rupiah, telah
disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya :
Bukan seratus, seribu, atau sejuta tetapi berjuta-juta rupiah, telah
disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
iii) Melakukan pengulanagn kata atau repetisi.
Contoh :
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suak akan kelembutan
mereka.


26

iv) Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh :
Anak itu tidak malas dan cenderung curang, tetapi rajin dan jujur.
v) Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh :
Saudaralah yang bertanggung jawab.
vi) Menggunakan klimaks atau anti klimaks.
Contoh :
Jangankan menjalankan salat sunnah, salat wajib saja dia
tinggalkan
d. Kehematan
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frase, atau
bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus
menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat.
Kehematan berarti penghematan terhadap kata yang memeng tidak
dipergunakan, sejauh ini menyalahi tata bahasa.
Kriteria kehematan diantaranya:
Menghilangkan pengulangan subjek
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu.
Seharusnya:
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Menghindari pemakaian superordinat pada hiponim kata
Contoh: kata pipit sudah mewakili kata burung
27

Dimana engkau menangkap burung pipit itu?
Menghindari kesinoniman dalam satu kata
Kata naik bersinonim ke atas
Contoh: mereka naik keatas menggunakan tangga
Seharusnya: mereka naik menggunakan tangga.
Menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak
Banyak para jemaah yang menjadi korban ketika terjadinya
musibah di jamarat Mina
Seharusnya:
Banyak jamaah yang menjadi korban ketika terjadinya musibah di
Jamarat Mina.
Penggunaan bentuk panjang yang salah
Contoh:
Dosen itu memberikan teguran kepada mahasiswa yang sering
tidak masuk kuliah.
Seharusnya:
Dosen menegur mahasiswa yang sering tidak masuk kuliah.
e. Kecermatan
Kecermatan adalah bahwa kalimat ini tidak menimbulkan
tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Seharusnya:
Mahasiswa yang terkenal di perguruan tinggi itu menerima hadiah.
28

f. Kepaduan
Kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga
informasi yang disampaikannya tdak terpecah-pecah. Kepaduan
adalah adanya hubungan yang padu (koheren) antar unsur kalimat.
Satu unsur dengan unsur yang lain tidak boleh diselingi sebuah kata
yang tidak penting dan letak kata dalam kalimat tidak boleh
dipertukarkan.
Sebuah kalimat dikatakan padu bisa ditempuh dngan jalan:
i) Hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele
ii) Kalimat yang padu menggunakan pola aspek + agen + verba secara
tertib.
iii) Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti
daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek
penderita.
Contoh:
Pembangunan desa daripada kita bertujuan untuk memakmurkan
rakyat daripada desa, bukan untuk segelintir orang tersebut.
Seharusnya:
Pembangunan desa kita bertujuan untuk kemakmuran rakyat desa,
bukan untuk segelintir orang.
g. Kelogisan
Ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisnya sesuai
dengan ejaan yang berlaku. Kemampuan sebuah kalimat untuk
29

menyatakan sesuatu dengan logika. Sebuah kalimat memiliki
kelogisan jika masuk akal.
Contoh:
Waktu dan tempat kami persilahkan
Seharusnya:
Bapak Menteri kami silahkan.






















30

BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari materi diatas yaitu di dalam mempelajari bahasa
Indonesia khususnya dalam kalimatnya kita tidak pernah terlepas dari struktur
pembentukannya yang di dalamnya terdapat fonem, morfem, kata, frase, klausa,
dan kalimat. Dalam perkembangan penggunaannya, kata sering mengalami
perubahan makna. Perubahan tersebut terjadi karena pergeseran konotasi, rentang
masa penggunaan, jarak, dan lain-lain. Sehingga dalam pembuatan kalimat harus
memperhatikan beberapa hal agar tebentuk suatu kalimat yang efektif. Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mengkomunikasikan pikiran penulis dan
pendengar.




















31

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk.1990. Tata Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul dan Liliana Muliastuti. 2003. Kelas I Makna dalam semantic.
Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Keraf, Gorys, 1996, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT Gramedia
Finoza, Lamuddin, 2006, Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Insan Media.
Minto Rahayu, 2007, Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jakarta: Grasindo
http://afirmanto.blogspot.com/2010/04/bentuk-dan-makna-dalam-bahasa-
indonesia.html