Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan petunjuk, rahmat
dan berkah-Nya yang telah dilimpahkan kepada penyusun. Sehingga Kami dapat
menyelesaikan tugas pembuatan makalah filsafat ini dalam waktu singkat yang ditentukan.
Makalah ini berjudul Filsafat, Ilmu dan Pengetahuan, merupakan tugas dari Mata
Kuliah Filsafat Ilmu membahas secara detail yang berhubungan dengan hubungan antara
pengetahuan, filsafat dan ilmu lainnya.
Kami sangat mengharapkan agar makalah ini

bersifat sumber referensi

pembelajaran, bahan diskusi agar kita mengerti bagaimana setiap ilmuwan mempunyai
tafsiran sendiri mengenai filsafat ilmu sehingga tidak setiap ilmuwan mempunyai pandangan
yang tepat sama dengan ilmuwan lain. Diharapkan juga kita dapat mengimplementasikan
saat yang tepat untuk berpikiri lmiah dalam kehidupan sehari-hari.
Namun sebagaimana pepatah mengatakan,tak ada gading yang tak retak,saran dan
kritik yang membangun tetap kami butuhkan guna memperdalam pengetahuan kami untuk
menjadi yang lebih baik daripada sekarang.
Akhirnya dengan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhinggakan
kepada Bapak Prof.Dr.H.M.Tauchid Noor, S.H.,M.H.,M.Pd, selaku Dosen Mata Kuliah
Filsafat Ilmu yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Mudah-mudahan beliau senantiasa mendapatkan maghfirah, sehat badan, dan pahala yang
berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin ya rabbal alamin

Malang, Mei 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................1


Daftar Isi .................................................................................................................................. 2
BAB I Pendahuluan ........................................................................................3
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 4
1.3 Tujuan ............................................................................................................................... 4
BAB II Pembahasan ................................................................................................................ 5
2.1 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan.......................................................................................... 5
2.2 Hubungan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan............................................................... 7
2.3 Perbedaan Filsafat Dengan Ilmu-Ilmu Lain .................................................................. 9
2.4 Manfaat Mempelajari Keterkaitan Antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan............. 10
BAB III Penutup .................................................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 12
3.2 Saran .............................................................................................................................. 12
Daftar Pustaka................................................. ..................................................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa raguragu, dan berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui
apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati
bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini.
Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus
terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Ilmu merupakan
pengetahuan yang kita gumuli sejak kita lahir sampai kita meninggal.
Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang pada diri kita sendiri, apakah
sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan
ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? bagaimana saya ketahui
bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? kriteria apa yang kita pakai dalam
menentukan kebenaran ilmu?mengapa kita mesti mempelajari ilmu? dan seterusnya.
Seorang yang berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan
yang telah diketahuinya, mengakui kelemahan dan sempitnya ilmu yang dimilikinya. Dia
diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang menengadah kelangit yang penuh
bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang
yang berada dipuncak gunung memandang lembah dan jurang dibawahnya. Dia ingin
menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan
tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat
hakikat ilmu dalam konsentrasi pengetahuan yang lain. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan
moral. Kaitan ilmu dengan agama dan ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan.
Meski bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat,
sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat dan apa kriteria
suatu pemikiran hingga kita bisa memvonisnya, karena filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu.
Sebagaimana definisinya, sejarah dan perkembangan filsafat pun takkan pernah habis untuk
dikupas. Tapi justru karena itulah mengapa fisafat begitu layak untuk dikaji demi mencari
serta memaknai segala esensi kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

Apakah definisi ilmu pengetahuan dan filsafat?

Bagaimana hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan?

Jelaskan perbedaan dan perbandingan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain yang
kini berkembang menjadi ilmu-ilmu baru?

Apakah manfaat mempelajari keterkaitan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan


tersebut?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas mengenai
hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan, definisinya serta perbedaan dan
perbandingan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain yang kini berkembang menjadi ilmu-ilmu
baru. Serta mengkaji keterkaitan diantarnya untuk mencapai sebuah kesinambungan yang
sinergi antara filsafat, ilmu dan kebenaran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Pada hakikatnya kelahiran cara berfikir ilmiah adalah merupakan suatu revolusi besar
dalam dunia ilmu pengetahuan, karena sebelum itu manusia lebih banyak berpikir menurut
gagasan-gagasan magi dan mitologi yang bersifat gaib dan tidak rasional.
Dengan berilmu dan berfilsafat manusia ingin mencari hakikat kebenaran daripada
segala sesuatu Dalam berkelana mencari pengetahuan dan kebenaran itu menusia pada
akhirnya tiba pada kebenaran yang absolut atau yang mutlak yaitu Causa Prima daripada
segala yang ada yaitu Allah Maha Pencipta, Maha Besar, dan mengetahui. Oleh karena itu
kita setuju apabila disebutkan bahwa manusia itu adalah mahluk pencari kebenaran. Di
dalam mencari kebenaran itu manusia selalu bertanya.
Ketidakmampuan Ilmu pengetahuan dalam menjawab sejumlah pertanyaan itu, maka
Filasafat tempat menampung dan mengelolahnya. Filsafat adalah ilmu yang tanpa batas,
tidak hanya menyelidiki salah satu bagian dari kenyataan saja, tetapi segala apa yang
menarik perhatian manusia.
J. Arthur Thompson dalam bukunya An Introducation to Science menuliskan bahwa
ilmu adalah diskripsi total dan konsisten dari fakta-fakta empiri yang dirumuskan secara
bertanggung jawab dalam istilah- istilah yang sederhana mungkin.
Untuk menjelaskan perbedaan antara Ilmu Pengetahuan dan Filsafat, baiklah
dikemukakan rumusan Filsafat dari filsuf ulung Indonesia Prof. DR. N. Driyarkara S.Y., yang
mengatakan Filsafat adalah pikiran manusia yang radikal, artinya yang dengan
mengesampingkan pendirian-pendirian dan pendapat- pendapat yang diterima saja,
mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain-lain pandangan dan
sikap praktis. Jika filsafat misalnya bicara tentang masyarakat, hukum, sisiologi, kesusilaan
dan sebagainya, di satu pandangan tidak diarahkan ke sebab-sebab yang terdekat,
melainkan kemengapa yang terakhir sepanjang kemungkinan yang ada pada budi manusia
berdasarkan kekuatannya itu.
Filsafat adalah ilmu Pengetahuan dan Teknologi, filsafat tidak memperlihatkan
banyak kemajuan dalam bidang penyelidikan. Ilmu pengetahuan dan Teknologi bahkan
melambung

tinggi

mencapai

era

nuklir

dan

sudah

diambang

kemajuan

dalam

mempengaruhui penciptaan dan reproduksi manusia itu sendiri dengan revolusi genitika
yang bermuara pada bayi tabung I di Inggris serta diambang kelahiran kurang lebih 100 bayi
tabung yang sudah hamil tua.

Di satu pihak fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat
berutang kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, berupa penciptaan sarana yang
memudahkan pemenuhan kebutuhan manusia untuk hidup sesuai dengan kodratnya. Inilah
dampak positifnya disatu pihak sedangkan dipihak lainnya bdampak negatifnya sangat
menyedihkan.
Bahwa ilmu yang bertujuan menguasai alam, sering melupakan faktor eksitensi
manusia, sebagai bagian daripada alam, yang merupakan tujuan pengembangan ilmu itu
sendiri kepada siapa manfaat dan kegunaannya dipersembahkan. Kemajuan ilmu teknologi
bukan lagi meningkatkan martabat manusia itu, tetapi bahkan harus dibayar dengan
kebahagiaannya. Berbagai polusi dan dekadensi dialami peradaban manusia disebabkan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu.
Dalam usahanya pendidikan keilmuwan bukanlah semata-mata ditujukan untuk
menghasilkan ilmuwan yang pandai dan trampil, tetapi juga bermoral tinggi.Ilmu merupakan
kumpulan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Batas penjelajahan
ilmu sempit sekali, hanya sepotong atau sekeping saja dari sekian permasalahan kehidupan
manusia, bahkan dalam batas pengalaman manusia itu, ilmu hanya berwenang menentukan
benar atau salahnya suatu pernyataan. Demikian pula tentang baik buruk, semua itu
(termasuk ilmu) berpaling kepada sumber-sumber moral (filsafat Etika), tentang indah dan
jelek (termasuk ilmu) semuanya berpaling kepada pengkajian filsafat Estetika.
Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta , demi kian kata tokoh Einstein.
Kebutuaan moral dari ilmu itu mungkin membawa kemanusiaan kejurang malapetaka.
Relativitas atau kenisbian ilmu pengetahuan bermuara kepada filsafat dan relativitas atau
kenisbian ilmu pengatahuan serta filsafat bermuara kepada agama.
Filsafat ialah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak
dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah itu berada di luar atau
di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia
dengan akal budinya untuk dapat memahami dan mendalami secara radikal integral
daripada segala sesuatu yang ada mengenai :
a. Hakikat Tuhan
b. Hakikat alam semesta, dan
c. Hakikat manusia termasuk sikap manusia terhadap hal tersebut sebagai
konsekuensi logis daripada pahamnya tersebut.

2.2 Hubungan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan


Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff
dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal
saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara
mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang
harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada
bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui
anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut.
Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu
cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold
H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi
yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak
ilmuwan yang juga filsuf. Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula
menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga
filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat
adalah alam, manusia dan ketuhanan.
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami
perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani,
philosophia meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain.
Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecahpecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu
pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan
ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17
tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan
pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian
dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri
telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu

pengetahuan telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang


melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti
metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju
dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu
pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti
spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen
(1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan
taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu
pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya Knowledge Is
Power, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan
manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi
yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat
hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu
dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan
suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh
karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada
dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan
bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang
lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang
Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the
sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah
atau ilmu merupakan a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai
penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat
menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama
diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu
yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The
Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang
ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak
dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik
tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento

Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena
terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak
mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan
pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah. Lebih jauh, Jujun S. Suriasumantri
(1982:22), dengan meminjam pemikiran Will Durant menjelaskan hubungan antara ilmu
dengan filsafat dengan mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang berhasil
merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai
pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak
bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan,
menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.

Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Dia memberi sumbangan dan peran
sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan
hingga ilmu pengetahuan itu itu dapat hidup dan berkembang.

Filsafat

membantu

ilmu

pengetahuan

untuk

bersikap

rasional

dalam

mempertanggungjawabkan ilmunya. Pertanggungjawaban secara rasional di sini


berarti bahwa setiap langkah langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan
sangkalan dan harus dipertahankan secara argumentatif, yaitu dengan argumenargumen yang obyektif (dapat dimengerti secara intersuyektif).

2.3 Perbedaan filsafat dengan ilmu-ilmu lain


Untuk melihat hubungan antara filsafat dan ilmu, ada baiknya kita lihat pada
perbandingan antara ilmu dengan filsafat dalam bagan di bawah ini, (disarikan dari Drs.
Agraha Suhandi, 1992)
Ilmu

Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar

Filsafat

Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban.

dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti

Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi


segi

pandangannya

bahkan

cenderung

memandang segala sesuatu secara umum dan


keseluruhan
Obyek penelitian yang terbatas

Keseluruhan yang ada

Keseluruhan yang ada

Menilai obyek renungan dengan suatu makna,


misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb

Bertugas memberikan jawaban

Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu

a. Filsafat menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan, dan


menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Jadi ia memandang
satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta pembahasanya secara kesuluruhan.
Sedangkan ilmu-ilmu lain atau ilmu vak menyelidiki hanya sebagian saja dari alam
maujud ini, misalnya ilmu hayat membicarakan tentang hewan, tumbuh-tumbuhan
dan manusia; ilmu bumi membicarakan tentang kota, sungai, hasil bumi dan
sebagainya.
b. Filsafat tidak saja menyelidiki tentang sebab-akibat, tetapi menyelidiki hakikatnya
sekaligus. Sedangkan ilmu vak membahas tentang sebab dan akibat suatu peristiwa.
c. Dalam pembahasannya filsafat menjawab apa ia sebenarnya, dari mana asalnya,
dan hendak ke mana perginya. Sedangkan ilmu vak harus menjawab pertanyaan
bagaimana dan apa sebabnya. Sebagian orang menganggap bahwa filsafat
merupakan ibu dari ilmu-ilmu vak. Alasannya ialah bahwa ilmu vak sering
menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masingmasing. Misalnya batas antara ilmu alam dengan ilmu hayat, antara sosiologi dengan
antropologi. Ilmu-ilmu itu dengan sendirinya sukar menentukan batas-batas masingmasing. Suatu instansi yang lebih tinggi, yaitu ilmu filsafat, itulah yang mengatur dan
menyelesaikan hubungan dan perbedaan batas-batas antara ilmu-ilmu vak tersebut.

2.4 Manfaat Mempelajari Keterkaitan Antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan


Pada intinya manfaat mempelajari keterkaitan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
adalah karena setiap orang yang berfilsafat berupaya untuk menemukan kebenaran yang
hakiki. Untuk menemukan kebenaran ternyata sangat relatif sekali, yaitu tergantung
kapasitas ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut.
Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah
bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/memahami faktafakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap
kritis, berfikiran terbuka serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada
pengetahuan yang terorganisisr dan sistematis.
Meskipun filsafat ilmu mempunyai substansinya yang khas, namun dia merupakan bidang
pengetahuan campuran yang perkembangannya tergantung pada hubungan timbal balik dan
saling pengaruh antara filsafat dan ilmu, oleh karena itu pemahaman bidang filsafat dan
pemahaman ilmu menjadi sangat penting, terutama hubungannya yang bersifat timbal balik,

10

meski dalam perkembangannya filsafat ilmu itu telah menjadi disiplin yang tersendiri dan
otonom dilihat dari objek kajian dan telaahannya
Filsafat

membantu

ilmu

pengetahuan

untuk

bersikap

rasional

dalam

mempertanggungjawabkan ilmunya. Pertanggungjawaban secara rasional di sini berarti


bahwa setiap langkah langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan
dan harus dipertahankan secara argumentatif, yaitu dengan argumen-argumen yang obyektif
(dapat dimengerti secara intersuyektif).
Dalam memperoleh kebenaran yang bermakna dan makna yang benar setiap
individu harus menggunakan cara memperoleh kebenaran dengan menggunakan empat alur
pemikiran filsafati yaitu : Alur rasional (thingking), Empirik (sensing), intuisi (feeling), dan
Autoritarian atau kepercayaan (believing). Oleh karena itu kebenaran yang diperoleh
manusia adalah relatif, tergantung cara memperoleh kebenaran yang dipakai, sedang
kebenaran yang berasal dari tuhan bersifat hakiki.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berfilsafat bisa dilakukan oleh setiap orang. Seseorang yang berfilsafat pada
hakikatnya sedang mempelajari dirinya sendiri. Karena seseorang yang berfilsafat pada
penghujung petualangannya dengan suatu tindakan berpikir yang menggunakan akal budi
untuk mencari dan menemukan menemukan kebenaran hakiki. Tetapi kebenaran ini sangat
bersifat relatif bergantung kapasitas ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Semakin kaya
seseorang dengan ilmu dan pengalaman maka semakin luas pula ruang lingkup filsafat yang
akan dia jangkau.
Dengan berfilsafat seharusnya seseorang akan lebih mengerti hakikat kehadirannya
dalam kehidupan didunia ini, yang pada akhirnya akan menyadarkan bahwa dirinya adalah
makhluk kecil yang tiada berdaya dengan segala keterbatasan ditengah semesta keluasan
dan kemahakuasaan Tuhan yang Maha Esa. Seorang teman pernah mengatakan
seseorang tak akan bisa menguasai semuanya, tetapi sesuatu pasti dimiliki setiap orang.
3.2 Saran
Untuk mendapatkan sumber referensi atas hal-hal yang kurang pembaca mengerti
dalam makalah ini ,penulis menyarankan untuk mencari referensi dari sumber lain. Sehingga
kita makin mengerti dan memahami hakikat mempelajari filsafat yang merupakan induk
semua ilmu pengetahuan. Hal ini tentunya dapat memberi sumbangan dan peran sebagai
induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ilmu
pengetahuan itu itu dapat hidup dan berkembang.

12

DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasumantri (2007). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka
Sinar Harapan

Slide Materi Filsafat Ilmu (Microsoft Power Point) oleh: Prof.Dr.H.M.Tauchid Noor,
S.H.,M.H.,M.Pd/ Hj Ida Nuryana, SE., MM
Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya,
Filsafat_Ilmu, http://members.tripod.com/aljawad/artike/filsafat_ilmu.htm
Filsafat dan Pembagiannya ,http://purmadi.wordpress.com/2007/09/15/

Filsafat Ilmu, http://uharsputra.files.wordpress.com/

Hubungan antara filsafat dengan ilmu. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/

13