Anda di halaman 1dari 25

BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. M

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 31 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Asrama Gedong Panjang RT 01/03 Kab. Sukabumi

Suku-bangsa

: Sunda

Pendidikan

: SMA

Status pernikahan

: Janda

Pekerjaan

: Tidak Bekerja

Tanggal Masuk RS

: 25 Agustus 2014

B. RIWAYAT PSIKIATRI
Berdasarkan :

Autoanamnesis : diambil tanggal 25 Agustus 29 Agustus 2014 di bangsal


Kemuning

Alloanamnesis : diambil tanggal 27 Agustus 2014 ( dengan ibu pasien)

1. Keluhan Utama
Pasien ngamuk-ngamuk di rumah sampai membenturkan kepalanya ke tembok
2. Riwayat Penyakit Sekarang
1 hari SMRS pasien ngamuk ngamuk dirumah sampai membenturkan
kepalanya ke tembok. Kadang pasien mengancam ingin bunuh diri sambil membawa
pisau. Karena khawatir, orang tua pasien membanyanya ke IGD.
4 hari SMRS pasien control ke Poli Jiwa tapi setelah pulang ke rumah, pasien
tidak mau minum obatnya dengan alasan bosan minum obat. Pasien bercerita ke Ibu
nya bahwa dia kenal dengan seorang laki-laki supir angkot yang dikenalkan oleh
temannya, dan dia ingin menikah dengan laki-laki tersebut. Tapi ibu pasien tidak
menyetujuinya. Karena ibu pasien tau laki-laki tersebut sering main judi dan minum
alcohol. Tapi pasien tidak setuju dengan pendapat Ibunya dan marah-marah

3 bulan yang lalu, pasien mengatakan ada bisikian yang tidak terlihat
wujudnya, suara lak-laki yang mengatakan bahwa, Kau adalah istri saya kamu
jangan menikah dengan manusia seumur hidup kamu. Pasien mengatakan serign
mengalami sakit pada kepala, lalu ada bisikan lagi yang mengatakan, Rambutnya
gunting sama kamu. Digundulin sama kamu biar sakit kepalanya hilang, lalu pasien
mengikuti perintah tersebut dan memotong rambutnya.

Ibu pasien mengatakan, pasien mengalami keluhan seperti ini sejak bercerai
dengan suaminya. Pasien sudah pernah menikah 7 tahun yang lalu. Pasien di
kenalkan dengan mantan suaminya oleh temannya. Awalnya pasien tidak mau
menikah, tapi setelah 1 minggu berkenalan, tiba-tiba pasien ingin menikah dengan
laki-laki tersebut. 3 bulan setelah menikah, pasien bercerita ke ibunya bahwa
suaminya tidak lagi ganteng seperti dulu. Suaminya sering minum alcohol dan sering
memukul pasien. Karena tidak tahan, pasien dan suami bercerai. Ibu pasien
mengatakan keluhan pasien timbul beberapa bulan setelah bercerai dengan suaminya.
Ibu pasien menduga bahwa anaknya telah di guna-guna oleh orang.

Pasien adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Pasien mengatakan jika pasien
tidak yakin bahwa keluarga nya yang sekarang adalah keluarga kandungnya. Pasien
mengatakan sering mendapat perlakuan buruk dan ucapan yang kasar dari
keluarganya. Pasien mengatakan sering disetubuhi oleh ayah dan kakak iparnya.
Pasien mengatakan ayah nya menyetubuhi pasien atas izin dari ibunya. Pasien merasa
ayah dan ibu nya lebih sayang dengan kakaknya di bandingkan dengan pasien. Pasien
sering merasa banyak orang yang tidak suka dengan dirinya, dan ada yang berbuat
jahat dengannya. Pasien sering mendengar orang lain membicarakan dan menghina
dirinya. Pasien mengeluh seluruh kulitnya berubah menjadi hitam karena ada yang
tidak suka dengan pasien. Kadang pasien juga menyalahkan orang tuanya karena
kulitnya berubah, supaya pasien tidak mendapat jodoh. Pasien mengatakan pernah
berfikiran untuk bunuh diri, karena pasien merasa frustasi. Pasien merasa tidak
berguna hidup didunia.

Ibu pasien mengatakan bahwa ayah, ibu, dan kakaknya adalah keluarga
kandung pasien. Ibunya mengatakan bahwa pasien memang tidak dekat dengan

ayahnya, karena ayahnya sering bertugas ke luar kota. Jika keluhan pasien timbul,
pasien tidak mengenali keluarganya, pasien selalu menganggap bahwa mereka bukan
keluarga kandung pasien.

Pasien sering dirawat di Ruang Kemuning sejak 4 tahun yang lalu dan
sekarang merupakan rawat inap yang ke-19 kali. Terakhir dirawat 1 bulan yang lalu
dengan keluhan yang sama. Keluarga pasien sering membawa pasien ke orang pintar
dan diberikan minuman yang dibacakan doa untuk diminum oleh pasien. Setelah
berobat ke orang pintar, ibu pasien mengaku keadaan pasien membaik tapi tidak
lama.

Pasien mengaku pernah berpacaran saat SMA kemudian hamil, setelah


anaknya lahir pasien mengaku membunuh anaknya dengen cara mencekik leher
anaknya dan dibuang ke sungai oleh pacarnya. Sebelum mencekik anaknya, pasien
mengatakan ada yang membisikinya dengan kata kata. Itu anaknya cekik sama
kamu, laki-laki ga tanggung jawab sama kamu.

Saat di Ruang Kemuning pasien merasa pasien yang lain sering membicarakan
pasien, dengan mengatakan pasien adalah seorang pembantu. Pasien juga mendengar
perawat Kemuning membicarakan dirinya karena pasien dirawat hanya untuk
mendapatkan makanan gratis dan enak.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sering dirawat di ruang Kemuning sejak 4 tahun yang lalu. Pasien rutin
meminum obat selama 4 tahun yang lalu hingga 4 hari sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat dikeluarga tidak ada yang menderita gangguan jiwa.

Pasien tidak memiliki gangguan bawaan sejak lahir, tidak pernah mempunyai
riwayat kejang sebelumnya, tidak pernah menderita sakit berat hingga membutuhkan
perawatan Rumah Sakit, dan tidak ada riwayat trauma kepala sebelumnya.

Pasien mengaku pernah di paksa makan narkoba tapi hanya sekali. Pasien tidak
merokok dan menyangkal minum minuman alcohol

Keluarga mengatakan sering membawa pasien ke dukun untuk berobat, dan


diberi air yang telah dibacakan doa oleh dukun tersebut untuk diminum dan dibasuh ke
muka pasien supaya pasien sembuh. Setelah berobat ke dukun, keluarga pasien
mengatakan kalau keluhannya pasien berkurang tapi tidak lama

4. Riwayat Kehidupan Pribadi


a. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Saat kehamilan, ibu pasien mengatakan tidak ada masalah dengan kandungannya.
Pasien lahir cukup bulan.

b. Masa Kanak-kanak dini ( 0-3 tahun)


Ibu pasien mengatakan perkembangan pasien sesuai dengan usianya

c. Masa Kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)


Perkembangan fisik pasien sama dengan anak sebayanya. Pasien termasuk
anak yang memiliki banyak teman. Pasien tidak memiliki masalah belajar, tidak
pernah mengompol, tidak pernah melakukan kekerasan terhadap binatang.

d. Masa pubertas dan remaja

Hubungan sosial
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan komunikasi antara
keluarga juga baik, pasien termasuk anak yang penurut. Pasien lebih sering
tinggal dirumah dan membantu ibunya.

Riwayat Pendidikan Formal


Pasien bersekolah di SD dekat rumahnya, yang ditempuh selama 6
tahun, kemudian dilanjutkan bersekolah di SMP selama 3 tahun, dan
selanjutnya pasien melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.

Perkembangan motorik dan kognitif


Tidak terdapat gangguan pertumbuhan fisik, sesuai dengan usianya,
dalam perkembangan kognitif tidak terlihat adanya gangguan dalam belajar.
Tidak ada gangguan dalam perkembangan motorik.

Masalah emosi dan fisik


Pasien termasuk orang yang penurut dan cenderung menghindari
konflik dengan teman-temannya, jika terjadi masalah pasien sering
menghindar. Dalam perkembangan fisik, pasien terlihat sesuai dengan anak
seusianya.

Riwayat Psikoseksual
Menurut pasien, pasien pernah pacaran saat SMA dan hamil diluar nikah.

Riwayat agama
Pasien termasuk orang yang taat beribadah.

e. Masa Dewasa

Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai wartawan di salah satu Koran daerah. Kemudian
berhenti semenjak ingin menikah.

Aktivitas sosial
Jika pasien dalam keadaan sehat. Hubungan pasien dengan lingkungan sekitar
cukup baik.

Riwayat pernikahan
Pasien pernah menikah sebelumnya 1 kali dan bercerai.

f. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayah kandung dan ibu kandung
masih hidup. Dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita gejala yang sama
dengan pasien. Kakak pasien sudah menikah dan mempunyai satu anak

SKEMA KELUARGA

Keterangan :
Laki laki

Perempuan

Pasien

g. Situasi hidup sekarang


Pasien tinggal didaerah pemukiman yang cukup padat, hubungan pasien dengan
tetangga kurang baik. Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakak dan
keponakannya. Sumber penghasilan keluarga pasien dari ayah pasien dan kakak
pasien. Pasien saat ini tidak bekerja.

Wawancara Psikiatri
Alloanamnesis Tanggal 27 Agustus 2014
Lokasi : Ruang kemuning
D : dokter Muda K : keluarga

D : Assalamualaikum, bu
K : Waalaikum salam.
D : Maaf ini dengan siapanya pasien?
K : Saya Ibunya
D : Oh ya bu perkenalkan kami dokter muda
K : Iya dok
D : Kami mau bertanya tanya dulu ya bu ?
K : Boleh dok.

D : Kenapa Meilia dibawa kesini ya bu ?


K : Gini dok, dia suka ngamuk-ngamuk terus di rumah sampai jedutin kepalanya ke tembok
dan sering mengancam akan membunuh diri menggunakan pisau dan gunting
D : Sejak kapan bu?
K : Sejak 4 hari yang lalu dok
D : Kenapa bisa ngamuk- ngamuk bu?
K : Awalnya dia ingin menikah dengan laki-laki yang dikenalkan oleh temannya. Tapi orang
tua tidak setuju karena laki-laki tersebut sering minum alcohol dan main judi. Sebelumnya
Meilia pernah menikah 7 tahun yang lalu. Tapi bercerai setelah 7 bulan menikah. Kata Meilia
setelah 3 bulan menikah, suaminya tidak ganteng lagi seperti dulu.
D : Kenal sama suaminya dimana bu?
K : Dikenalkan oleh temannya. Awalnya dia gamau dok tapi setelah 1 minggu kenalan tibatiba dia mau karena menganggap suaminya terlihat ganteng. Dari situ saya merasa sepertinya
Meilia di guna guna
D: Apakah Meilia mempunyai anak dari pernikahannya bu?
K : Alhamdulillah untungnya belum dok
D : Loh kok Alhamdulillah bu?
K : Iya karena suaminya kasar, sering mukulin Meilia dan sering minum alcohol juga.
D : Apakah sebelumnya pernah Meilia berobat ke poli jiwa bu?
K : Iya dok, sejak 4 tahun yang lalu, terakhir kontrol ke poli 4 hari sebelum kesini
D : Obatnya rutin diminum setiap hari bu?
K : Iya dok, tapi dari yang terakhir control itu ga minum lagi, katanya bosen
D : Ngamuk-ngamuknya tiba tiba atau bagaimana bu ?
K : Tiba tiba dok setelah tidak disetujui menikah
D : Pas lagi marah marah dia sampai merusak barang barang di rumah nggak bu ?
K : Engga dok, hanya ingin melukai dirinya sendiri, sering jedutin kepalanya ke tembok,
pernah juga bawa pisau mau bunuh diri aja, sama saya langsung di pukul tangannya
D : Terus ditanyakan ke pasien kenapa dia mengamuk - ngamuk ?
K :Katanya karena ingin menikah. Namanya orang tua ya dok, ingin yang terbaik buat
anaknya
D : Ibu sama Bapak orang tua kandungnya Mei atau gimana?
K : Iya orang tua kandung. Saya yang hamil sampai melahirkan dia. Cuma waktu saya lagi
hamil, Bapak lagi tugas di luar kota. Setelah Mei lahir saya Cuma bilang ke Bapak kalau mau
kasih nama Meilia, kata Bapak iya. Bapak teh baru balik kesini pas Mei usia 3 tahun. Habis

itu ada tugas lagi keluar kota. Makanya Mei jadi ga deket sama Bapaknya. Kalau lagi kumat
mah dia ga kenal sama orang tuanya
D : Di keluarga ada yang punya penyakit sama kaya Meilia ga bu?
K : Engga dok, cuma dia aja yang kaya gini
D : Meilia sebelumnya udah pernah kerja bu?
K : Udah jadi wartawan tapi cuma 1,5 tahun aja. Soalnya dia ga nyaman kerja disana, ga ada
yang seumuran dengan dia, usia nya sudah tua semua.
D : Waktu di tempat kerja pernah ada masalah dengan teman kantornya ga bu?
K : Engga ya dok
D : Sama keluarga gimana bu? Pernah ada masalah?
K : Sama keluarga sih engga dok. Cuma ya itu kalau lagi kambuh suka ga inget sama
keluarganya, dibilangnya kita bukan keluarga kandugnya.
D : Apakah ada masalah lain yang ibu ketahui tentang Meilia?
K : Engga ada, hanya ingin menikah saja karena dia takut tidak mendapat jodoh sampai tua
D : Masih ada hal lain yg mau di kerjakan di rumah nggak bu?
K :Sehari-hari dia masih membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, jika pikirannya
sedang baik tapi kalau lagi kumat biasanya cuma tidur-tiduran aja dikamar
D : Selain itu bagaimana bu dengan pola tidurnya di rumah ?
K : Kalau lagi kambuh mah tidurnya susah dok, kalau lagi baik ya baik tidurnya
D : Terus bagaimana dengan pola makannya bu ?
K : Makannya seperti biasa dok

Autoanamnesis Tanggal 28 Agustus 2014


Lokasi: Ruang Kemuning
D : Dokter Muda; P : (Pasien)

D : Assalamualaikum, nama kamu siapa?


P : Waalaikum salam. Saya Meilia dok, panggila aja Mei (muka senyum)
D : Umurnya berapa Mei?
P : 31 dok.
D : Agamanya apa?

P : Islam.
D : Sekolah sampai tingkat berapa?
P : SMEA dok
D : Sekarang bekerja atau tidak?
P : Engga dok, saya bantu Mama aja di rumah kalau lagi baik
D : Tapi sebelumnya pernah bekerja ga?
P : Pernah dok, jadi wartawan cuma 2 bulan aja tapinya
D : Kenapa cuma sebentar?
P : Iya soalnya temennya udah pada tua semua. Ga ada anak perempuannya, Cuma saya aja,
jadi saya berhenti saja
D : Mei kesini diantar siapa?
P : Sama Mama sama Bapak. Tapi gatau itu kayaknya bukan orang tua kandung saya
D : Kenapa kok gitu?
P : Iya soalnya mereka pada jahat sama saya. Saya mau menikah tapi ga boleh. Ini kulit saya
dibikin jelek biar ga ada yang suka
D : Cara dibikin jeleknya gimana?
P : Iya saya dibawa ke orang pinter, dikasih air untuk diminum dan cuci muka. Tapi abis itu
muka saya jadi jelek, saya liat ke kaca malah jadi kaya nenek nenek, kulit saya jadi gosong
D : Mei tau ga ini dimana?
P : Iya tau dok ruang kemuning.
D : Mei tau sakit apa?
P : Pertamanya sakit hati karena putus dari pacar, pacar tidak tanggung jawab. Terus sakit
pikiran. Pernah dibawa kesini dari sebelum dr. Tommi karena stress pikiran, depresi.
D : Kenapa dibawa kesini lagi?
P : Saya kepikiran ingin nikah ingin punya jodoh yang sayang sama saya. Jadi sakit
pemikiran karna orang tua dirumah ga sayang sama saya. Pilih kasih. Ga sayang sama saya.
Kalo kakak mah diberi modal sama orang tua saya. Dibeliin angkot, kalau saya engga. Tapi
saya ga suka fitnah, kalo fitnah takut masuk neraka ya dok
D : Tapi Mei pernah denger ada bisikan gitu ga?
P : Kalau bisikan mah dulu pernah ada ya. Tapi aku ga dengerin. Terakhri ada bisikan
suaranya laki-laki tapi bukan orang. Katanya gini Kau adalah istri saya kamu jangan
menikah dengan manusia seumur hidup kamu, Rambut ini juga udah tumbuh lagi. Asalnya
botak. Ada bisikan katanya gini, aku kan sakit kepala ya sakit ubun ubun gini katanya
Rambutnya gunting sama kamu. Digundulin sama kamu biar sakit kepalanya hilang,

D : kapan Mei denger suara gitu?


P : 3 bulan yang lalu
D : Tapi kalo liat bayangan atau makhluk gitu pernah ga?
K : Kalau sekarang sih engga ya . Waktu itu terlihat, tapi ga ngarang cerita ya, gatau setan
jurig atau apa gitu, berbulu, menyerupai orang tua. Jadinya negliat bapak ada 2, mama ada 2.
Tapi ada bedanya setelah di liat liat. Tapi sekarang mah engga Alhamdulillah
D : Mei suka ngerasa cemas ga sama orang lain yg baru dikenal takut di jahatin?
P : Iya jadi gini dokter ya,aku teh dari dulu ya ga suka keluar ya, diem aja dirumah dikamar
terus apalagi pas sakit berbaring. Aku sekarang aneh juga. Aku kok ga bisa normal kaya
orang lain ya. Orang lain mah bisa kerja, aku ga bisa malah sakit
D: Ga bisa keluar gimana? Sakit gimana? Sakit badannya apa gimana?
P : Iya kepala suka sakit, muka badan suka sakit, rasanya seperti terbakar gitu. Terus kalau
aku lihat dicermin berubah wajah aku, berubah jadi nenek nenek. Ini juga lihat tuh jadi
gosong gini. Asalnya mah mulus aku teh. Kepikiran ga bisa bergaul positif. Aku ga bisa
punya teman
D : Kenapa ga bisa gitu? Ada pikiran takut di jahatin atau gimana?
P : Iya ada kepikiran gitu. Tapi waktu aku sekolah mah ya ada punya teman tapi yagitu ga
tanggung jawab.
D : Temannya ga tanggung jawab kenapa?
P : Aku gatau ya, aku kira laki-lakinya soleh gataunya laki-lakinya buaya, banyak ceweknya,
suka makan narkoba. Aku awalnya gatau itu narkoba, aku ditipu itu, aku disuruh mangap,
trus diminum. Katanya itu obat buat cerdas. Tapi aku mah bukan pecandu. Abis itu aku
pusing. Abis itu di setubuhi. Melahirkan disekolah.
D : Trus kekarang anaknya kemana?
P : Iya bentar dengerin dulu ya. Aku awalnya gatau waktu itu hamil, Pas lagi mandi kok perut
berasanya agak sakit, Kaya ada isinya, dipegang keras. Aku pikir kenapa gini. Aku ga bilang
ke orang tua. Terus Bulbul Dani kan ya nama pacar pertama aku orang Sekarwangi. Aku kan
muntah muntah gatau apa apa. Dia yang tau aku hamil. Dikasih uang buat gugurin sama dia
50.000 tapi aku ga nurut gatau kenapa. Ditendang perut aku sama Bul bul. Ga ngaku dia
hamilin aku. Aku jadinya serem. Abis melahirkan jadinya stress gitu, kan diputusin sama dia.
Jadinya itu udah ada bisikan bisikan waktu aku hamil katanya gini Itu anaknya cekik sama
kamu, laki-laki ga tanggung jawab sama kamu terus aku kan dari dulu suka kemasukan,
terus aku cekik anaknya, mati. Terus dibawa sama Bulbul. Katanya mah dibuang ke sungai

hanyut. Jadi aku ya udah stress dari dulu ya. Tapi wallahu alam ya gatau gamau suuzon, kaya
ada yang mau jahatin jadinya gini (sambil tunjukin kulitnya yang menjadi gosong)
D : Pernah berobat ke dukun ga?
P : Pernah kan kata dr. tomi harus campur syariat kata Pak Hatta, Pak Edy harus campur
syariat doa doa.
D : Mei ada masalah dengan keluarga?
P : Gatau mama dan bapak yang jahatnya ya. Aku pernah berantem sama Mama sama Bapak
sama Mba Anti, kakak aku. Tapi aku juga punya ini pendengaran ya aku lihat sama mata
kepala aku sendiri; Mama, Bapak, Mba Anti, Mas Napi (kakak ipar) sama Neng keponakan
aku, ga mitnah ya engga, pernah ngedoain aku biar mati, biar jomblo seumur hidup, biar jelek
wajahnya, biar jelek kulitnya seumur hidup, biar sakit biar gila seumur hidup. Aku emang
pernah salah ya sama keluarga tapi mereka ga memaafkan aku. Bukan hanya keluarga tapi
sodara, orang lain juga kaya gitu, banyak fitnah aku. Akau difitnah diledek, dituduh.
D : Dituduh apa?
P : Dituduh mencuri
D : Tapi Mei mencuri ga?
P : Engga demi Allah. Makanya saya kadang suka frustasi pengen bunuh diri aja rasanya
D : Dirumah biasanya ngapain aja?
P : Dirumah kalo lagi fit bantuin mama beresin rumah. Kalau lagi stress tidur aja baringan di
kasur. Saya ga mau suuzon ya kayaknya ada jahatin ya jadinya saya kaya gini. Bisa juga aku
kena azab karna dosaku
D : Di rumah atau sekitar rumah ada yg jahat ga?
P : Kalo di rumah iya ada mama bapak kakak sama kakak ipar aku
D : Jahatinnya gimana?
P : jadi gini ya dok ya kalau aku stress nya timbul, aku kan ingin kawin tapi ga dikwainin.
Tapi bapak itu malah mukulin ke aku. Di tending. Terus mama nyakaitin omongannya. Gini
katanya dasar kamu ga punya pikiran. Kegila gila sama laki-laki yang item. Tapi aku gatau
juga ya dok ya, aku kan juga berobat ke luar katanya ada yg zolim sama aku
D : ada permah kepikirian mau bunuh diri ga?
P : Pernah
D : Kapan itu?
P : Kemaren sebelum kesini
D : Mau bunuh diri pake apa?
P : Membenturkan kepala ke tembok

D : Kalau pake pisau pernah?


P : Pernah, udah mau tapinya ga jadi. Kenapa dokter Tanya-tanya?
D : Mau tau, boleh kan?
P : Iya boleh
D : Itu ada yang bisikin ga suruh gitu?
P : Engga aku aja, gatau, buat apa juga hidup juga
D : Kan kalo bunuh diri di akhirat ga akan seneng. Udah disini ga seneng, di akhirat juga ga
seneng. Coba kalau banyak ibadah. Setidaknya kita di akhirat ada yang jamin
P : iya saya juga kadang suka kalo lagi waras mah sering ibadah. Buat apa hidup di pikir mah,
kalau ga ada jodohnya, setiap hari diem di rumah terus. Dan lagi kan orang tua itu sama
kakak dan kakak ipar, ga ridho rejekinya dimakan saya. Saya kan ga bisa usaha. Saya kan
sakit sakitan. Kalau saya sih inginnya punya suami aja. Kalau punya suami, suami yang kerja,
saya urus rumah tangga.
D : Pokoknya jangan coba ya untuk bunuh diri lagi
P : Engga. Aku mah takutnya ya sampai mati, sampai nenek nenek ga ada jodoh ya. Kalo
dipikir mah, wajah jadi berubah kaya udah tua, padahal baru 31, keliatan kaya nenek nenek,
jadi burem jelek. Aku mah juga tau ya, ini kena guna guna, kena sihir ya, kena zolim, kena
kutukan.
D : Emang katanya pernah dinikahin sama bapak?
P : Gatau ya pernah dinikahkan dari kecil, kan pernah diliatin surat nikahnya sama aku. Aku
gamau ya. Aku masih kecil, bapak udah tua, makanya aku ga laku laku
D : Bapak siapa? Bapak kandung bukan?
P : Bukan, itu Pak Wawi yang anterin aku
D : Itu bukan bapak kandung?
P : Iya bukan. Udah alhmarhum orang tua saya. Dia itu ngaku ngaku bapak kandung saya
padahal bukan. Disetubuhi bapak itu juga makanya aku marah-marah sama dia, atas dasar
aku tidak cinta, yang cinta si bapak itu sama saya, saya gamau juga. Saya diperkosa dari kecil
sama bapak itu, tapi dia ga ngaku, malah menyalahkan itu sih setan
D : Dari kecil? Jadi yang waktu SMA itu bukan pertama kali?
P : Bukan. Aku itu, ga nuduh ya, emang aku tau, kisah nyatanya aku, ga suuzon engga, saya
itu suka di dukunkan sama bapak jadi dikasih minum air botol, bakar bakar apa gitu. Pantesan
bukan oang tua itu mah. Aku kan nanya gini, Pak kenapa sih bapak suka nompakin aku?
katanya bapak itu Kamu mah bukan anak saya jadi orang tua saya kayaknya dibunuh bapak
waktu kecil. Ga inget saya juga, kan aku inget nangis nangis waktu kecil dulu

D : Bapak ini punya istri ga?


P : Itu kan istrinya si ibu itu
D : Itu ibu kandung?
P : Bukan kayaknya, dia juga kan aku Tanya saya Ma sebenernya saya anak siapa? Kamu
teh bukan anak mama gitu. Pak sebetulnya saya anak siapa? Kamu mah bukan anak
saya Jadi sebenrnya saya anak siapa? Anak Jonathan Sihombing almarhum teman
bapak, masih tentara cuma udah almarhum, mamanya Rita Butarbutar. Meninggal kayaknya
dibunuh bapak. Gatau da aku mah masih kecil juga, udah agak-agak lupa gitu. Jadi kalau ada
yang mau sama saya, orang tua si bapak si ibu teh melarang sama saya. Saya dilarang
pacaran, dilarang menikah, harus diem aja terus dirumah. Seenaknya aja si bapak
menyenggamain saya, kalau malam-malam pura-pura jadi setan, padahal si bapak itu.
D : Emang istrinya bapak gatau kalau dia seperti itu?
P : Atas setuju si ibu tapi pada ga ngaku sih. Meskipun ditanyain polisi ga akan ngaku.
Akunya juga diem aja di rumah, ga ada keberanian, ga punya uang. Jadi ga ada yang percaya
sama saya, disangkainnya saya ngarang cerita, saya fitnah. Padahal mah emang aslinya
begitu. Terus sama kakak ipar saya juga disetubuhi lagi, demi Allah. Padahal aku bukan
pelacur
D : Tapi kakak tau?
P : Akhirnya tau, malah nyebut aku cabul juga. Padahal aku mah bukan cabul. Padahal aku
lagi tidur dikamar. Jadi disangka kakak ya, tau kakak kandung atau kakak angkat ya, saya itu
naksir dia, padahal engga. Nyebut saya cabul, babu, padahal engga. Jangan kan keluarga,
orang lain juga sama pasien-pasien disini nyebutnya babu ke aku. Padahal aku bukan babu
juga.
D : Siapa bilang gitu?
P : Bu Elam kadang si Koko juga kali gatau aku
D : Mereka ngomogn gitu ke kamu?
P : Engga kedenger gitu sama aku. Tapi biarin deh mau disebut gitu tapi aku mah aslinya
bukan gitu.
D : Kalau tidur gimana biasanya? Suka bangun bangun ga?
P : Engga engga.
D : Mei biasanya lebih seneng menyendiri, main kumpul sama yang lain atau gimana?
P : Saya sih pengennya ya kaya orang normal. Pingin punya temen, temen laki-laki, temen
perempuan, sahabat atau pacar yang tidak menjuruskan saya, yang baik. Tapi itu ada yang

doa jahat ke saya biar saya sendiri seumur hidup. Aku mah ga suuzon dokter, emang
nyatanya begitu
D : Jadi menurut Mei yakin ini bapak ibu itu bukan orang tua kandungnya?
P : Iya yakin. Lagian waktu kecil kan bapak ibu mukanya ga kaya gitu, kenapa sekarang kaay
gitu. Tapi dia ngaku saya anak dia tapi bapak itu setubuhin saya, juga pilih kasih, terus bilang
terang terangan Mama sama bapak ga sayang sama kamu, kamu bukan anak kandung
mama.
D : Iyaudah kalo gitu makasih ya Mei, nanti kalo ada yang mau ditanya saya tanya lagi ya,
terimakasih
P : Iya dokter

C. STATUS MENTAL
1. Raut wajah

: sedih

2. Pola pikir
a. Bentuk

: Autistik

b. Isi

: Wahan Curiga, Waham Hubungan

c. Jalan

: Flight of Idea, Sirkumstansial, Persevarasi

3. Gangguan persepsi
a. Auditorik

: ada

b. Visual

: tidak ada

4. Afek

: Apprpriate

5. Mood

: Disforik

6. Perhatian

: Distraktibilitas (-)

7. Tingkah Laku

: Hipoaktif

8. Decorum

: Penampilan : rapi
Kebersihan

: bersih

Sopan santun : baik


9. Tilikan

: III

10. Taraf dapat dipercaya : Kurang dapat dipercaya

D. STATUS FISIK
1. Status Internus

Keadaan umum

: tampak sehat

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36 oC

Nadi

: 80 kali/menit

Pernafasan

: 20 kali/menit

2. Status Neurologi

Gangguan rangsang Meningeal : (-)

Mata

Gerakan

: Baik kesegala arah

Bentuk Pupil

: Bulat isokor

Reflek cahaya

: +/+ (langsung, tidak langsung)

Motorik

Tonus

: baik

Turgor

: baik

Kekuatan

: baik

Koordinasi

: baik

Refleks

: tidak dilakukan

E. PEMERIKSAAN MULTIAKSIS

Aksis I
F20.0 Skizofrenia Paranoid dengan Depresi dan Suicidal Behaviour
DD/ F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresi dengan Gejala
Psikotik

Aksis II
F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
Aksis III

Tidak ada gangguan. Dari pemeriksaan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien
tidak memiliki penyakit lain.

Aksis IV
Ditemukan adanya masalah hubungan percintaan (psikososial)

Aksis V
GAF 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang).

I.

RencanaTerapi
Rawat inap. Karena pasien datang ke RS Syamsudin dengan keadaan mengamuk,
tidak mau minum obat, dan ingin mencoba bunuh diri

Farmakoterapi
Risperidon 2 mg, 3x1 tab
Trihexyphenidyl 2 mg, 3x1 tab
Chlorpromazine 100 mg, 1x1 tab
Depakote 250 mg 1x1 tab

Psikoterapi suportif

Psikoterapi persuasi : minum obat teratur dan control kedokter.

Psikoterapi sugestif : meyakinkan pasien dengan tegas bahwa yang di


dengarnya tidak benar.

Psikoterapi bimbingan : memberi nasehat kepada pasien bahwa beribadah itu


penting karena dapat menenangkan pikiran.

II.

Prognosis
Ad vitam :
Bonam karena pasien tidak mengalami kelainan fisik dan skizofrenia paranoid
tidak menyebabkan kecacatan fisik.

Ad functional :
Bonam karena pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Ad sanationam :
Dubia karena pada pasien ini stress yang menjadi kekambuhan nya diakibatkan
dari faktor luar, tekanan dari luar diri individu dapat diminimalisir atau
dihilangkan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Skizofrenia adalah gangguan mental atau kelompok gangguan yang ditandai oleh
kekacauan dalam bentuk dan isi pikiran (contohnya delusi atau halusinasi), dalam mood
(contohnya afek yang tidak sesuai), dalam perasaan dirinya dan hubungannya dengan dunia
luar serta dalam hal tingkah laku.2
Menurut DSM-IV, adapun klasifikasi untuk skizofenia ada 5 yakni subtipe paranoid,
terdisorganisasi (hebefrenik), katatonik, tidak tergolongkan dan residual. Untuk istilah
skizofrenia simpleks dalam DSM-IV adalah gangguan deterioratif sederhana.3 Sedangkan
menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia yang
ke-III skizofrenia dibagi ke dalam 6 subtipe yaitu katatonik, paranoid, hebefrenik, tak terinci
(undifferentiated), simpleks, residual dan depresi pasca skizofrenia. 4

2.2 Epidemiologi
Penelitian insiden pada gangguan yang relatif jarang terjadi, seperti skizofrenia, sulit
dilakukan. Survei telah dilakukan di berbagai negara, namun dan hampir semua hasil
menunjukkan tingkat insiden per tahun skizofrenia pada orang dewasa dalam rentang yang
sempit berkisar antara 0,1 dan 0,4 per 1000 penduduk. Ini merupakan temuan utama dari
penelitian di 10-negara yang dilakukan oleh WHO. Untuk prevalensi atau insiden skizofrenia
di Indonesia belum ditentukan sampai sekarang, begitu juga untuk tiap-tiap subtipe
skizofrenia.5
Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan perbedaan
dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang lebih awal daripada
perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun, sedangkan
perempuan 25 sampai 35 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki adalah
lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif dan wanita lebih mungkin
memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk
pasien skizofrenik wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia lakilaki.
Skizofrenia tidak terdistribusi rata secara geografis di seluruh dunia. Secara historis,
prevalensi skizofrenia di Timur Laut dan Barat Amerika Serikat adalah lebih tinggi dari
daerah lainnya.3

2.3 Etiologi
Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun berbagai
teori telah berkembang seperti model diastesis-stres dan hipotesis dopamin. Model diastesis
stres merupakan satu model yang mengintegrasikan faktor biologis, psikososial dan
lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang yang mungkin memiliki suatu
kerentanan spesifik (diastesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang
menimbulkan stres, memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia. Komponen lingkungan
dapat biologis (seperti infeksi) atau psikologis (seperti situasi keluarga yang penuh
ketegangan).
Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya
aktivitas dopaminergik. Teori tersebut muncul dari dua pengamatan. Pertama, kecuali untuk
klozapin, khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan dengan kemampuannya untuk
bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik tipe 2. Kedua, obat-obatan yang
meningkatkan

aktivitas

dopaminergik

(seperti

amfetamin)

merupakan

salah

satu

psikotomimetik. Namun belum jelas apakah hiperaktivitas dopamin ini karena terlalu
banyaknya pelepasan dopamin atau terlalu banyaknya reseptor dopamin atau kombinasi
kedua mekanisme tersebut. Namun ada dua masalah mengenai hipotesa ini, dimana
hiperaktivitas dopamin adalah tidak khas untuk skizofrenia karena antagonis dopamin efektif
dalam mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien teragitasi berat. Kedua, beberapa
data elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin meningkatkan
kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan obat
antipsikotik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien skizofrenia
mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik.3
Skizofrenia berdasarkan teori dopamin terdiri dari empat jalur dopamin yaitu:
1.

Mesolimbik dopamin pathways: merupakan hipotesis terjadinya gejala positif pada


penderita skizofrenia. Mesolimbik dopamin pathways memproyeksikan badan sel
dopaminergik ke bagian ventral tegmentum area (VTA) di batang otak kemudian ke
nukleus akumbens di daerah limbik. Jalur ini berperan penting pada emosional, perilaku
khususnya halusinasi pendengaran, waham dan gangguan pikiran. Antipsikotik bekerja
melalui blokade reseptor dopamin ksususnya reseptor dopamin D2. Hipotesis hiperaktif
mesolimbik dopamin pathways menyebabkan gejala positif meningkat.

2.

Mesokortikal dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah VTA ke daerah serebral
korteks khususnya korteks limbik. Peranan mesokortikal dopamin pathways adalah

sebagai mediasi dari gejala negatif dan kognitif pada penderita skizofrenia. Gejala
negatif dan kognitif disebabkan terjadinya penurunan dopamin di jalur mesokortikal
terutama pada daerah dorsolateral prefrontal korteks. Penurunan dopamin di
mesokortikal dopamin pathways dapat terjadi secara primer dan sekunder. Penurunan
sekunder terjadi melalui inhibisi dopamin yang berlebihan pada jalur ini atau melalui
blokade antipsikotik terhadap reseptor D2. Peningkatan dopamin pada mesokortikal dapat
memperbaiki gejala negatif atau mungkin gejala kognitif.
3.

Nigostriatal dopamin pathways: berjalan dari daerah substansia nigra pada batang otak
ke daerah basal ganglia atau striatum. Jalur ini merupakan bagian dari sistem saraf
ekstrapiramidal. Penurunan dopamin di nigostriatal dopamin pathways dapat
menyebabkan gangguan pergerakan seperti yang ditemukan pada penyakit parkinson
yaitu rigiditas, bradikinesia dan tremor. Namun hiperaktif atau peningkatan dopamin di
jalur ini yang mendasari terjadinya gangguan pergerakan hiperkinetik seperti korea,
diskinesia atau tik.

4.

Tuberoinfundibular dopamin pathways: jalur ini dimulai dari daerah hipotalamus ke


hipofisis anterior. Dalam keadaan normal tuberoinfundibular dopamin pathways
mempengaruhi oleh inhibisi dan penglepasan aktif prolaktin, dimana dopamin berfungsi
melepaskan inhibitor pelepasan prolaktin. Sehingga jika ada gangguan dari jalur ini
akibat lesi atau penggunaan obat antipsikotik, maka akan terjadi peningkatan prolaktin
yang dilepas sehingga menimbulkan galaktorea, amenorea atau disfungsi seksual.4

Selain dopamin, neurotransmiter lainnya juga tidak ketinggalan diteliti mengenai


hubungannya dengan skizofrenia. Serotonin contohnya, karena obat antipsikotik atipikal
mempunyai aktivitas dengan serotonin. Selain itu, beberapa peneliti melaporkan pemberian
antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas noradrenergik.3

2.4 Gejala dan Diagnosis


Gejala dari skizofrenia paranoid berupa gejala positif dan negatif dari skizofrenia
yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang
menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi
pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata,
modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.5 Gejala
waham dan halusinasi dapat muncul dan terutama waham curiganya.3

Terlebih dahulu akan dibahas mengenai penegakan diagnosa skizofrenia. Adapun


menurut DSM-IV sebagai berikut:
A. Gejala Karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi)
4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5) Gejala negatif yaitu pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan (avolition)
Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau pikiran
pasien atau dua lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya.
B. Disfungsi sosial/pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan,
satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan
diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa
anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal,
akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
C. Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Pada 6
bulan tersebut, harus termasuk 1 bulan fase aktif (yang memperlihatkan gejala kriteria A)
dan mungkin termasuk gejala prodormal atau residual.
D. Penyingkiran gangguan skizoafektif atau gangguan mood: gangguan skizoafektif atau
gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada episode
depresif berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama gejala fase aktif
atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya relatif
singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E. Penyingkiran zat/kondisi medis umum
F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif 3
Sedangkan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di
Indonesia yang ke-III sebagai berikut:

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas):

a) thought eco = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan walaupun isinya sama tapi kualitasnya
berbeda.

thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal); dan
thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar, atau
delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar
delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya secara jelas merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau pikiran, tindakan atau penginderaan khusus);
delusion perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
c) Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilkau pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara) atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh pasien
d) Waham-waham menetap lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar
dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau
kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa

2.5 Diagnosa Banding


Skizofrenia residual merupakan salah satu diagnosa banding dari skizofrenia paranoid.
PPDGJ-III memberikan pedoman diagnostik untuk skizofrenia residual yakni harus
memenuhi semua kriteria dibawah ini untuk suatu diagnosis yang meyakinkan:
a. Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik,
aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan
dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam
ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja
sosial yang buruk.
b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosis skizofrenia.

c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.5

2.6 Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia.
Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada pasien. Pada
skizofrenia paranoid, gejala positif lebih menonjol, maka adapun pengobatan yang
disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan tipikal (CPZ, HLP).4
Obat Risperidon adalah suatu obat antipsikotik dengan aktivitas antagonis yang
bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan pada reseptor dopamin tipe 2 serta
antihistamin (H1). Menurut data penelitian, obat ini efektif mengobati gejala positif maupun
negatif.3 Risperidon senyawa antidopaminergik yang jauh lebih kuat, berbeda dengan
klozapin, sehingga dapat menginduksi gejala ekstrapiramidal juga hiperprolaktinemia yang
menonjol. Meskipun demikian, risperidon dianggap senyawa antipsikotik atipikal secara
kuantitatif karena efek samping neurologis ekstrapiramidalnya kecil pada dosis harian yang
rendah.7
Klozapin termasuk obat antipsikotik atipikal yang juga mempunyai aktivitas antagonis
yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan antagonis lemah pada reseptor
dopamin tipe 2 juga bersifat antihistamin (H1). Efek samping berupa gejala ekstrapiramidal
sangat minimal, namun mempunyai sifat antagonis -1 adrenergik yang bisa menimbulkan
hipotensi ortostatik dan sedatif. Selain itu, dilaporkan terjadinya agranulositosis dengan
insiden 1-2% ditambah harganya yang mahal. Klozapin adalah obat lini kedua yang jelas bagi
pasien yang tidak berespon terhadap obat lain yang sekarang ini tersedia.
Selain terapi obat-obatan, juga bisa diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari terapi
perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, psikoterapi individual. Terapi
perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan
kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi
interpersonal. Perilaku adaptif didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk
hal-hal yang diharapkan sehingga frekuensi maladaptif atau menyimpang dapat diturunkan.
Terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. Pusat dari
terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi
yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Setelah pemulangan, topik penting yang dibahas
di dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya.

Selanjutnya diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi menurunkan stres dan
mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.
Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam
kehidupan nyata. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan
rasa persatuan dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia.
Psikoterapi individual membantu menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep
penting didalam psikoterapi adalah perkembangan hubungan terapeutik yang dialami psien
adalah aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak
emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang
diinterpretasikan oleh pasien. Ahli psikoterapi sering kali memberikan interpretasi yang
terlalu cepat terhadap pasien skizofrenia. psikoterapi untuk seorang pasien skizofrenia harus
dimengerti dalam hitungan dekade, bukannya sesi, bulanan, atau bahkan tahunan. Di dalam
konteks hubungan profesional, fleksibilitas adalah penting dalam menegakkan hubungan
kerja dengan pasien. Ahli terapi mungkin akan makan bersama, atau mengingat ulang tahun
pasien. Tujuan utama adalah untuk menyampaikan gagasan bahwa ahli terapi dapat
dipercaya, ingin memahami pasien dan akan coba melakukannya dan memiliki kepercayaan
tentang kemampuan pasien sebagai manusia. Mandred Bleuler menyatakan bahwa sikap
terapeutik terhadap pasien adalah dengan menerima mereka bukannya mengamati mereka
sebagai orang yang tidak dapat dipahami dan berbeda dari ahli terapi.3

2.7 Prognosis
Prognosis tidak berhubungan dengan tipe apa yang dialami seseorang. Perbedaan
prognosis paling baik dilakukan dengan melihat pada prediktor prognosis spesifik di Tabel
2.13.

Prognosis Baik

Prognosis Buruk

Onset lambat

Onset muda

Faktor pencetus yang jelas

Tidak ada faktor pencetus

Onset akut

Onset tidak jelas

Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan
pramorbid yang baik

pramorbid yang buruk

Gejala

gangguan

mood

(terutama Perilaku menarik diri, autistik

gangguan depresif)
Gejala positif

Gejala negatif

Riwayat keluarga gangguan mood

Riwayat keluarga skizofrenia

Sistem pendukung yang baik

Sistem pendukung yang buruk


Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma prenatal
Tidak ada remisi dalam 3 tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan

Walaupun skizofrenia bukanlah penyakit yang fatal, namun rata-rata kematian orang
yang menderita skizofrenia dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.
Tingginya angka kematian berkaitan dengan kondisi buruk di institusi perawatan yang
berkepanjangan yang menyebabkan tingginya angka Tuberkulosis dan penyakit menular
lainnya. Namun, penelitian baru-baru ini pada orang-orang skizofrenia yang hidup dalam
masyarakat, menunjukkan bunuh diri dan kecelakaan lain sebagai penyebab utama kematian
di negara berkembang maupun negara-negara maju. Bunuh diri, khususnya, telah
muncul sebagai masalah yang mekhawatirkan, karena risiko bunuh diri pada orang dengan
gangguan skizofrenia selama hidupnya telah diperkirakan di atas 10%, sekitar 12 kali lebih
tinggi dari populasi umum. Sepertinya ada sebuah peningkatan mortalitas untuk gangguan
kardiovaskular juga, mungkin terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat, pembatasan akses
perawatan kesehatan atau efek samping obat antipsikotik

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta; Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007.

2. Kumala, Poppy dkk. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. EGC. Jakarta:1998. 970

3. Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J., dan Grebb, Jack A. Sinopsis Psikiatri, Jilid I.
Binarupa Aksara. Tangerang: 2010. 699-702, 720-727, 737-740

4. Syamsulhadi dan Lumbantobing. Skizofrenia. FK UI. Jakarta: 2007.26-34

5. Maslim, Rusdi.Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ- III. FK Unika
Atmajaya. Jakarta:2001. 46, 50

6. Goodman dan Gilman. Dasar Farmakologi Terapi Vol.I. EGC. Jakarta:2007.475,480 &
482