Anda di halaman 1dari 27

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

LAPORAN UJIAN
RHINOSINUSITIS
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Telinga Hidung Tenggorok
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa
Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. M. Setiadi, SpTHT, M.Si.Med

Disusun Oleh :
Maula Nurfahdi

H2A009032

Kepaniteraan Klinik Departemen Telinga Hidung Tenggorok


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa
PERIODE 2014

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN


TELINGA HIDUNG TENGGOROK
Presentasi kasus dengan judul :

RHINOSINUSITIS
Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Telinga Hidung Tenggorok
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh:
Maula Nurfahdi

H2A009032

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Nama pembimbing

Tanda Tangan

dr. M. Setiadi, SpTHT, M.Si.Med

.............................
Mengesahkan:

Koordinator Kepaniteraan Telinga Hidung Tenggorok

dr. M. Setiadi, SpTHT, M.Si.Med


NIP. 19720608 201001 1 008

Tanggal
.............................

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS
Nama

: Nn.F

Umur

: 20 tahun

Jenis Kelamin

: perempuan

Status

: belum menikah

Pekerjaan

: Swasta

Agama

: Islam

Tanggal periksa

: 2 januari 2014

ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 2 januari 2014 jam 10.50
WIB.
i. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluh sering keluar cairan dari kedua rongga hidung sejak 3 bulan yang
lalu
ii. KELUHAN TAMBAHAN
Pasien juga mengeluh sering berasa pusing sejak 3 bulan yang lalu. Pusing dirasakan
seperti tertusuk-tusuk dan kepala terasa berat. Batuk dan pilek terus menerus dan
sering kambuh.
iii. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien sering batuk pilek berulang dan sering kambuh sejak 1 tahun yang lalu.
Namun sejak 3 bulan ini, pasien mengeluh keluar cairan dari kedua rongga
hidungnya. Sekret berwarna putih, bening, kental, berbau hamis dan pernah terdapat
rembesan darah. Cairan lebih sering keluar pada pagi hari.
Sering terasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokan sejak 3
bulan terakhir ini. Pasien juga sering berasa pusing seperti ditusuk- tusuk dan kedua

rongga hidungnya tersumbat. Kepala dirasakan berat terutama pada waktu bangun
pada pagi hari. Tidak ada keluhan demam, mual dan muntah.
iv. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat hipertensi (-), Riwayat Diabetes Mellitus (-), Riwayat penyakit Tuberkulosis
(-), Riwayat asma (+) pada usia sekitar 9 tahun tetapi tidak kambuh lagi, pasien
mengaku pernah sakit gigi dan pernah mendapatkan rawatan tambalan gigi. Tidak ada
riwayat trauma dan pasien belum pernah dirawat di Rumah Sakit.
v. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada keluarga pasien yang menderita gejala yang sama Tidak ada riwayat
penyakit asma , dan tuberkulosis dalam keluarga.
vi. RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien pernah mendapatkan rawatan untuk batuk pilek nya di klinik- klinik sejak 1
tahun yang lalu, keluhan dirasakan membaik tetapi sering kambuh lagi. Tidak ada
riwayat alergi obat.
vii. RIWAYAT KEBIASAAN
Pasien sering rutin olahraga, merokok (-), minum alkohol (-), pasien mengaku sering
menjaga kebersihan oralnya dengan sikat gigi setiap habis mandi.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
a) KESADARAN : Compos mentis, tampak sakit sedang
b) TANDA VITAL
TD

: 130/90 mmHg

Nadi

: 80x/menit

RR

: 16x/menit

Suhu

: 36,5C

c) KEPALA:
Normocephali, distribusi rambut hitam merata, tidak mudah dicabut.
d) MATA :
Konjungtiva anemis (- /-), Sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung(-/-), refleks
cahaya tidak langsung (-/-), pupil isokor (+/+)
e)

HIDUNG :
Deviasi septum (+), mukosa hiperemis (+/+), sekret (+/+)

f)

TELINGA :
Normotia, serumen (-), membrane timpani intak (+/+)

g) MULUT :
Sianosis (-), mukosa hiperemis (-), T1-T1 simetris
h) LEHER :
Trakea lurus di tengah, pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-).
i)

JANTUNG:
BJI - BJII normal, regular, murmur (-), gallop ().

j)

PARU :
Suara nafas vesikuler kanan kiri, ronchi (-/-) pada kedua apex paru, wheezing (-/-)

k) ABDOMEN :
Datar, supel, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), udema (-), hepar dan lien tidak
teraba membesar, ginjal tidak teraba
l)

EKSTREMITAS :
Akral hangat, motorik normal, udema (-)

B. STATUS LOKALIS THT :


i. TELINGA
Daun telinga
Retroaurikular

Kanan
Kiri
Normotia
Normotia
Nyeri tekan (-) , SikatriksNyeri tekan (-) , Sikatriks (-)

Liang telinga
Mukosa
Sekret
Serumen
Membran timpani

(-) , fistel (-), Abses (-)


Tidak penuh serumen
Hiperemis (-)
(-)
(+)
Intak

fistel (-), Abses (-)


Tidak penuh serumen
Hiperemis (-)
(-)
(+)
Intak

Nyeri tarik telinga


Nyeri tekan tragus

Reflex cahaya (+)


(-)
(-)

Reflex cahaya (+)


(-)
(-)

Kanan

Kiri

(-)

(-)

Pangkal hidung

(+)

(+)

Pipi

(+)

(+)

Dahi
Krepitasi

(-)
(-)

(-)
(-)

Deformitas
Nyeri tekan :

Vestibulum

Lapang

Lapang

Rambut (+)

Rambut (+)

Mukosa:Hiperemis (+)

Mukosa :Hiperemis (+)

Sekret (+)

Sekret (+)

Massa (-)
(+)

Septum deviasi

Massa (-)
(+)

Dasar hidung

Sekret (-)

Sekret (-)

Krusta (-)
Oedem (+)

Krusta (-)
Oedem (+)

Hiperemis (+)
Oedem (+)

Hiperemis (+)
Oedem (+)

Hiperemis (+)

Hiperemis (+)

Konka inferior

Konka media

Sekret (+)
Sekret (+)
Sukar dinilai karena konka mediaSukar dinilai karena konka media

Meatus media

oedem dan hiperemis


ii. HIDUNG :

oedem dan hiperemis

Arkus faring
Pilar anterior
Uvula
Dinding faring
Mukosa faring

Simetris, massa (-)


Simetris
Ukuran dan bentuk normal, letak lurus di tengah
Granula (-), cobble stone appearance (-)
Hiperemis (-), post nasal drip (-) ,

Tonsil
Gigi geligi

massa (-), Pseudomembran (-), granul (-) , bercak-bercak putih (-)


T1 T1, hiperemis -/-,kripta normal, detritus -/Lengkap, Caries gigi (+) , tambalan (+) di molar II kanan bawah, nyeri ketok

(-)
KGB regional
KGB tidak teraba membesar
Palatum Durum
Simetris, massa (-)
Palatum Mole
Simetris, massa (-), bercak-bercak keputihan (-)
iii. TENGGOROKAN

PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN


Foto

: X-foto SPN waters

Deskripsi

: Tampak deviasi septum, penebalan mukosa sinus maksilaris sinistra,


gambaran air fluid level

Kesan
V.

: gambaran sinusitis maksilaris dan deviasi septum

RESUME
Pasien bernama Nn.F 20 tahun datang dengan keluhan sering keluar cairan dari kedua
rongga hidung sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga berasa ada cairan yang turun dari
belakang hidung ke tenggorokan serta sering pusing seperti ditusuk- tusuk dan kedua
rongga hidungnya tersumbat. Kepala dirasakan berat terutama pada waktu bangun
pada pagi hari. Tidak ada keluhan demam, mual dan muntah.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada kedua pipi dan pangkal hidung.
Pada gigi geligi terdapat caries gigi dan tambalan gigi molar II bawah. Pada
rhinoskopi anterior ditemukan mukosa hiperemis dengan sekret pada kedua rongga
hidung. Konka inferior dan konka media ditemukan hiperemis, dan oedema. Kesan
pada pemeriksaan rontgen adalah gambaran sinusitis maksilaris dan septum deviasi.

VI.

DIAGNOSIS KERJA :
Rhinosinusitis Kronik & devisasi septum

VII.

DIAGNOSIS BANDING

1.

Rhinitis Alergi Kronis

2.

Rhinitis Hipertrofi

VIII.
i.
a.

RENCANA TINDAKAN
FARMAKOLOGI
Antibiotika : ( Cravit ) Levofloxacin 1x1tab

b. Dekongestan : ( Lapifed ) pseudoephedrine HCL + tripolidine HCL 3x1


c. Anti-inflamasi : (Lameson ) metal prednisolon 3x1 tab
ii.

NONFARMAKOLOGI

1. Bed rest
2. Diet seimbang : meningkatkan pemakanan tinggi vitamin A,B,C dan E serta makanan
tinggi omega-3 ( ikan tuna,walnuts)
3. Pembedahan :
- Pembedahan Radikal
Bila pengobatan konservatif gagal, dilakukan terapi radikal, yaitu mengangkat
mukosa yang patologik dan membuat drainase dari sinus yang terkena. Untuk sinus
maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc, sedangkan untuk sinus ethmoid dilakukan
ethmoidektomi yang bisa dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dari luar
(ekstranasal).Drainase sekret pada sinus frontal dapat dilakukan dalam hidung
(intranasal) atau dengan operasi dari luar (ekstra nasal) seperti pada operasi Killian.
Drainase sinus sphenoid dilakukan dari dalam hidung (intranasal).
- Pembedahan Tidak radikal
Akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunkan
endoskop yang disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BESF). Prinsipnya ialah
membuka dan membersihkan daerah kompleks ostia-meata yang menjadi sumber
penyumbatan dan infeksi, sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali
melalui ostium alami. Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal.
IX.

PROGNOSIS
Ad Vitam

: Bonam

Ad Fungsionam

: Bonam

Ad Sanationam

: Bonam

PEMBAHASAN
2.1.

Anatomi dan Fisiologi Sinus Paranasal


Terdapat delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung

sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior),
sinus maksila kanan dan kiri (antrum Highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri.
Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa saluran
pernafasan yang mengalami modifikasi, bersilia serta mampu menghasilkan mukus
dan bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. Sekret yang
dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi
udara.4

Gambar 1: Anatomi sinus

Daerah sinus maksila, sinus frontal, dan sinus ethmoid anterior bermuara ke
dalam hidung melalui kompleks osteomeatal yang terletak lateral dari meatus medial.
Sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid membuka menuju meatus superior yang
merupakan ruang di antara konka superior dan konka media dan resesus sfenoethmoidal. Pada meatus medius yang merupakan ruang di antara konka superior dan

konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris
yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.4

Gambar 2 : Kompleks Osteomeatal (KOM)

Kompleks Osteomeatal (KOM)


Kompleks osteomeatal (KOM) merupakan daerah yang rumit dan sempit pada
sepertiga tengah dinding lateral hidung, yaitu di meatus media, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus etmoid anterior. KOM merupakan serambi muka
bagi sinus maksila dan frontal memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis.
Pada potongan koronal sinus paranasal terlihat gambaran suatu rongga antara konka
media dan lamina papyraceae. Isi dari KOM terdiri dari infundibulum ethmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, sel agger nasi, resesus frontalis, bula
ethmoid, dan sel-sel ethmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.4,5
Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV
dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto
rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk.4,5

Fungsi sinus paranasal adalah :1


i.

Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara


sehingga bisa untuk perluasan. Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan

ii.
iii.
iv.
v.

tulang akan terdesak.


Sebagai pengatur udara (air conditioning).
Peringan cranium.
Resonansi suara.
Membantu produksi mukus.

2.1.1. Sinus Ethmoidalis


Sinus ethmoid terbentuk pada usia fetus bulan IV. Saat lahir, berupa 2-3
cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae, dindingnya tipis.
Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan
mata. Terdapat banyak variasi dari ruang-ruang sinus ethmoid yang jumlahnya dapat
mencapai 10 hingga 12 ruang di satu sisi dan terletak di dalam labirinthus ethmoidalis
di antara orbita dan kavitas nasi.1,2,3
Ruang-ruang sinus ethmoid terletak di depan bawah (ruang ethmoid anterior)
atau di belakang atas (ruang ethmoid posterior) dari perlekatan konka medial terhadap
dinding nasal lateral. Ruang ethmoid anterior membuka ke infundibulum di meatus
media dan ruang posterior membuka ke meatus superior. Sinus-sinus ini terletak pada
superior dari kavum nasi dan dibatasi dari orbita oleh lamina papyraceae.4
Dinding sinus ethmoid dibentuk oleh os frontale, os maxilla, os lacrimale, os
sphenoidale, dan os palatina. Berdasarkan bagian-bagian dari sinus ethmoidalis
disebut cellulae ethmoidales. Muaranya, cellulae ethmoidales digolongkan menjadi:
i.

Cellulae ethmoidales anterior yang bermuara di meatus nasi medius.

ii.

Cellulae ethmoidales posterior yang bermuara di meatus nasi superior dan


suprema.
-

Diinervasi oleh nervus ethmoidalis posterior dan nervus ethmoidalis


anterior.

Vaskularisasi oleh arteri ethmoidalis posterior dan arteri ethmoidalis


anterior.1,2,3

2.2.

Sinusitis

2.2.1. Definisi
Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus paranasal yang terjadi karena
alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu
dari keempat sinus yaitu maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis. Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis. Kadang kala, semua sinus pada satu sisi atau
kedua sisi terlibat secara bersamaan (pansinusitis unilateral atau bilateral).5
Dari semua jenis sinusitis, yang paling sering ditemukan adalah sinusitis
maksilaris dan sinusitis ethmoidalis. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus
ethmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus sfenoid belum.5
Menurut Cauwenberg berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas :
i.

Sinusitis akut, bila infeksi berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu.

ii.

Sinusitis subakut, bila infeksi berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan.

iii.

Sinusitis kronis, bila infeksi berlangsung lebih dari 3 bulan.

iv.

Rekuren akut apabila didapati 3 atau lebih episode tiap tahun dengan tiap
episode berlangsung kurang dari 2 minggu.3,4,5
Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut,

subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih
reversibel, dan kronik bila perubahan tersebut sudah irreversibel, misalnya menjadi
jaringan granulasi atau polipoid. 3,4,5

Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi atas 4,5:

1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang


menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Contohnya
rinitis akut (influenza), polip, dan deviasi septum.
2. Dentogenik/Odontogenik

(penyebabnya

kelainan

gigi),

yang

sering

menyebabkan sinusitis infeksi adalah pada gigi geraham atas (pre molar dan
molar). Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus
influenza, Steptococcus viridans, Staphylococcus aureus, Branchamella
catarhatis.
Patofisiologi
Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril. Sinusitis dapat terjadi bila
klirens silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang
menyebabkan retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial
oksigen. Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen. Apabila
terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini,
maka terjadilah sinusitis.7,8
Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu
obstruksi drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas
mukosa. Sebagian besar episode sinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus
tersebut sebagian besar menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus,
influenza A dan B, parainfluenza, respiratory syncytial virus, adenovirus dan
enterovirus. Sekitar 90 % pasien yang mengalami infeksi saluran pernafasan atas
akan memberikan bukti gambaran radiologis yang melibatkan sinus paranasal.
Selama infeksi akut virus, berbagai mediator inflamasi seperti interleukin, TNF-,
dan sitokin mengalami up-regulation. Inflamasi akut pada mukosa sinus
bermanifestasi dalam bentuk hipersekresi mukosa dan edema yang menyebabkan
obstruksi dari ostium sinus dan berpengaruh pada mekanisme drainase dan ventilasi
dalam sinus. Obstruksi tersebut mengakibatkan hipoksia lokal dan sekret sinus

berakumulasi. Kombinasi dari rendahnya kadar oksigen dan media kultur yang kaya
memungkinkan pertumbuhan bakteri secara eksponensial di dalam sinus.4 Infeksi
virus juga merusak epitel dan fungsi silia yang akhirnya menyebabkan infeksi
sekunder bakteri.3,6,7,8
Virus yang menginfeksi tersebut dapat memproduksi enzim dan neuraminidase
yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan
mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang
diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk
berkembangnya bakteri patogen. Silia yang kurang aktif fungsinya tersebut terganggu
oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus. Terganggunya fungsi silia tersebut dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kehilangan lapisan epitel bersilia, udara
dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri, environmental ciliotoxins, mediator
inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa, parut, primary cilliary dyskinesia
(Kartagener syndrome). 3,5,8
Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan
kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh
bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan
media yang menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan
jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktivitas leukosit.
Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat,
obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri
patogen. 7,8
Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir
sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan
menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi
manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa, di
mana stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab

menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar
dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga
terjadilah polip.7
Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini, yang
menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan 7:
1. Jaringan submukosa diinfiltrasi oleh serum. Sedangkan permukaannya kering.
Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa.
2. Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan
pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan
epitel.
3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui
epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan bakteri, debris, epitel
dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah bercampur
dengan sekret. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit, kemudian menjadi
kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum.
4. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya
pengeluaran leukosit memakan waktu 10 14 hari.
5. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe
purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih
mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum
menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi
permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di bawahnya dapat
memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang.
Meskipun infeksi virus akut merupakan penyebab utama pada sinusitis akut,
faktor lain seperti atopi, immunodefisiensi, atau obstruksi anatomik juga dapat

menjadi faktor predisposisi. Selain itu inflamasi, polip, tumor, trauma, parut,
anatomic variant, dan nasal instrumentation juga menyebabkan menurunnya patensi
sinus ostia.
2.3.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan posterior,
pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan
dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan
ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis ethmoidalis
posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada
anak sering ada pembengkakan dan kemerahan pada kantus medius.
Untuk membantu diagnosis sinusitis, American Academy of Otolaryngology
Head and Neck Surgery (AAO-HNS) membuat bagan diagnossi yang disebut Task
Force on Rhinosinusitis pada tahun 1996. Bagan ini didasarkan atas gejala klinis yang
dibagi atas kategori gejala mayor dan minor untuk diagnosis rhinosinusitis.9

Major Factors
Facial pain/pressure a
Nasal obstruction
Nasal discharge/discolored postnasal drip

Minor Factors
Headache
Fever (non acute)
Halitosis

Dental pain
Hyposmia/anosmia
Fatigue
Purulence in examination
Cough
Fever (acute) b
Ear pain/pressure/fullness
a
Facial pain/pressure alone does not constitute a suggestive history for diagnosis in the
absence of another symptom or sign
b
Fever in acute sinusitis alone does not constitute a suggestive history for diagnosis in the
absence of another symptom or sign
Tabel 2.1 Bagan Task Force on Rhinosinusitis 1996

Riwayat yang konsisten dengan rhinosinusitis memerlukan 2 faktor mayor


atau 1 mayor dan 2 faktor minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari. Ketika
hanya 1 faktor mayor atau 2 atau lebih faktor minor yang ada, ini menunjukkan
kemungkinan di mana rhinosinusitis perlu dimasukkan ke dalam diagnosa banding.7
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto
polos posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus
besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, airfluid level, atau penebalan mukosa. Rontgen sinus dapat menunjukkan kepadatan
parsial pada sinus yang terlibat akibat pembengkakan mukosa atau dapat juga
menunjukkan cairan apabila sinus mengandung pus. Pilihan lain dari rontgen adalah
ultrasonografi terutama pada ibu hamil untuk menghindari paparan radiasi.7,9

Gambar 2.1 Foto rontgen sinus yang menunjukkan air-fluid level pada sinus etmoid

CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu


menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus
secara keseluruhan dan perluasannya. CT scan mampu memberikan gambaran yang
bagus terhadap penebalan mukosa, air-fluid level, struktur tulang, dan kompleks
osteomeatal. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis
sinusitis kronis yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai
panduan operator saat melakukan operasi sinus. 9
MRI sinus lebih jarang dilakukan dibandingkan CT scan karena pemeriksaan
ini tidak memberikan gambaran terhadap tulang dengan baik.2 Namun, MRI dapat
membedakan sisa mukus dengan massa jaringan lunak di mana nampak identik pada
CT scan. Oleh karena itu, MRI akan sangat membantu untuk membedakan sinus yang
terisi tumor dengan yang diisi oleh sekret.9

Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau
gelap. Hal ini lebih mudah diamati bila sinusitis terjadi pada satu sisi wajah, karena
akan nampak perbedaan antara sinus yang sehat dengan sinus yang sakit.
Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas kegunaannya.
Endoskopi nasal kaku atau fleksibel dapat digunakan untuk pemeriksaan
sinusitis. Endoskopi ini berguna untuk melihat kondisi sinus ethmoid yang
sebenarnya, mengkonfirmasi diagnosis, mendapatkan kultur dari meatus media dan
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. Ketika dilakukan dengan hatihati untuk menghindari kontaminasi dari hidung, kultur meatus media sesuai dengan
aspirasi sinus yang mana merupakan baku emas. Karena pengobatan harus dilakukan
dengan mengarah kepada organisme penyebab, maka kultur dianjurkan.9,10
Diagnosis banding
Diagnosis banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak
sensitif dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan kokain,
rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang dengan
gejala

pilek

dan

kongesti

nasal.

Rhinorrhea

cairan

serebrospinal

harus

dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat cedera kepala. Pilek persisten unilateral
dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma atau benda asing nasal.2,3
Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah diagnosis
alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah. Pasien dengan demam
memerlukan perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi sinusitis
saja atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau abses
intrakranial.2,3,4
Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:
i. Mempercepat penyembuhan

ii. Mencegah komplikasi


iii. Mencegah perubahan menjadi kronik
Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di kompleks osteo-meatal
sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Sinusitis akut dapat
diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan pembedahan (operasi). 9
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut
bakterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka
sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti
amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi betalaktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin
generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-14 hari walaupun gejala
klinik sudah menghilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk
kuman gram negatif dan anaerob. Dekongestan lokal berupa obat tetes hidung
diberikan untuk memperlancar drainase hidung.9
Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan,
seperti analgetik, mukolitik, dan steroid oral/topical. Antihistamin tidak rutin
diberikan karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih kental.
Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Imunoterapi
dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat. 9,10
Irigasi sinus atau Proetz displacement juga merupakan terapi tambahan yang
dapat bermanfaat.Indikasinya adalah apabila terapi di atas gagal dan ostium sinus
sedemikian edematosa sehingga terbentuk abses sejati. Irigasi dilakukan dengan
mengalirkan larutan salin hangat. Cairan ini kemudian akan mendorong pus untuk
keluar melalui ostium normal. 9,10

Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan


sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus. Dianjurkan unutk menghilangkan
faktor predisposisi dan kausanya jika ethmoiditis diakibatkan oleh kelainan gigi. 9,10
Pembedahan (operasi) pada pasien sinusitis akut jarang dilakukan kecuali
telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial. Selain itu nyeri yang hebat akibat
sekret yang tertahan oleh sumbatan dapat menjadi indikasi untuk melakukan
pembedahan. Ethmoidektomi dilakukan dengan 3 teknik yaitu ethmoidektomi
eksternal, ethmoidektomi intranasal, dan ethmoidektomi transantral. Keputusan
terhadap teknik yang akan digunakan bergantung pada pilihan operator dan luasnya
penyakit. Lebih dari 1 teknik dapat dikombinasikan selama operasi.10
Pencegahan
Sulit untuk mencegah ethmoiditis untuk menyebar ke organ lain. Tetapi
bagaimana pun membersihkan sekret hidung dapat mencegah infeksi bakteri.
Membersihkan hidung bisa dengan cara minum banyak cairan, membatasi susu, dan
mencuci sinus dengan cairan garam fisiologi. Dalam kasus alergi, seseorang harus
menghindari alergen yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Bila ada inflamasi kronis
pada infeksi, semprot hidung dapat membantu mencegah kerusakan mukosa
membran seiring dengan waktu.3,4
Komplikasi
Ethmoiditis dapat meluas keluar dari area sinus dan menyebabkan selulitis
orbita, abses orbita subperiosteal, abses orbita, sindrom fisura orbitalis superior,
trombosis sinus kavernosus. Trombosis sinus kaveronous harus diobati seumur hidup
dan menyebabkan gerak mata terbatas, proptosis, dan penglihatan berkurang.
Komplikasi intrakranial dari sinusitis biasanya jarang tapi bila ada sangat berbahaya
meliputi meningtis, tromboplebitis sinus sagital superior dan bentuk abses. Osteitis
dan osteomielitis pernah dilaporkan, mukokel dan piokel juga dapat terjadi.11

Komplikasi ethmoiditis berhubungan dengan penyebaran infeksi dari sistem


sel-sel udara ethmoid. Komplikasi dari bagaian tengah orbita dapat menyebabkan
kebutaan. Begitu juga dapat terjadi penyebaran infeksi ke tulang-tulang lain dalam
tulang tengkorak dan berkembang menjadi meningtis, trombosis vena-vena besar
dalam kepala dan abses otak epidural dan intraperenkim. 3,4,11
Komplikasi lokal sinusistis termasuk osteomielitis dan mukokel yang
merupakan efek dari obstruksi duktus yang lama dan paling sering pada ethmoid
supraorbital dan dapat menyebar ke sinus frontalis. Secara radiologis tampak ekspansi
sinus oleh jaringan dengan densitas rendah yang homogen. Pengobatannya adalah
operasi termasuk drainase mukokel intranasal atau eksisi lengkap dengan ablasio
lewat ke kavum sinus. Osteomielitis membutuhkan terapi antibiotik jangka panjang
sampai jaringan nektorik tulang sembuh. Prosedur operasi kedua untuk rekonstruksi
kosmetik mungkin diperlukan.11
Komplikasi intrakranial dari sinusitis biasanya melewati penyebaran
hematogen misalnya trombosis sinus kavernous dan meningitis atau penyebaran
secara langsung seperti abses epidural dan abses parenkhimal. Untungnya sekarang
ini jarang terjadi. Trombosis sinus kavernosus ditandai dengan optalmoplegia,
kemosis, hilangnya penglihatan. Epidural abses biasanya sulit terdiagnosais, dan
mungkin terdeteksi dengan CT Scan. Harus selalu diingat bahwa diagnosis karsinoma
sinus pranasal adalah berbeda dengan sinusitis. 11
Gambaran destruksi tulang secara radiologis, neuropati saraf kranial, nyeri
persisten, epistaksis, gejala klinis yang terus-menerus dapat dicurigai kemungkinan
adanya suatu karsinoma(8). Bila ada riwayat alergi yang lama, infeksi bakteri,
gangguan struktural, dinding sinus menipis dan drainase terhambat. Hai ini dapat
berkembang menjadi sinusitis kronis.11

Prognosis
Sinusitis tidak menyebabkan mortalitas namun komplikasi dari sinusitis dapat
menyebabkan morbiditas dan pada kasus yang jarang dapat mengakibatkan kematian.
Sekitar 40% dari akut sinusitis akan sembuh sendiri tanpa pemberian antibiotik. Pada
viral sinusitis, tingkat kesembuhan spontannya sebesar 98%. Pasien dengan terapi
antibiotik yang adekuat biasanya menunjukkan perbaikan.3,11
Tingkat kekambuhan setelah terapi yang sukses adalah kurang dari 5%.
Sinusitis yang tidak ditangani atau ditangani tidak sempurna dapat berujung pada
komplikasi seperti meningitis, orbital cellulitis, abses orbita, atau abses otak.3,11

DAFTAR PUSTAKA
1. Probst, R., 2006. Acute Sinusitis. In: Basic Otorhinolaryngology. Sttutgart:
Georg Thieme Verlag; 54-56
2. Lalwani, A.K., 2007. Acute and Chronic Sinusitis. In: Current Diagnosis &
Treatment: Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd edition. New York: Lange
3. Brook,

I.,

2012.

Acute

Sinusitis.

Available

in:

http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview [Accessed on 4 April


2012]
4. Ballenger, J.J., and J.B. Snow, 2003. Sinusitis and Polyposis. In: Ballengers
Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery 16th Edition. Hamilton: BC Decker;
760-764
5. Dhingra, P.L., 2005. Acute Sinusitis. In: Diseases of Ear, Nose, and Throat 4th
Edition. New York: Elsevier; 181-184
6. Radojicic, C., 2006. Sinusitis: Allergy, antibiotics, aspirin, asthma. Cleveland
Clinical Journal of Medicine vol 73 no 7; 671-675
7. Bailey, B.J., and J.T. Johnson, Nonpolypoid Rhinosinusitis: Classification,
Diagnosis, and Treatment. In: Head & Neck Surgery Otolaryngology 4th
Edition. London: Lippincott Williams & Wilkins; 407-415
8. Brook, I., 2005. Bacteriology of Acute and Chronic Ethmoid Sinusitis. Journal of
Clinical Microbiology volume 43 no 7; 3479-3480
9. Cummings, C.W., 2006. Radiology of Nasal Cavities and Paranasal. In:
Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 4 th Edition. Los Angeles:
Mosby Elsevier

10. Mercandetti, M., 2011. Surgical Treatment of Acute Ethmoid Sinusitis Historical
Overview. Available in: http://emedicine.medscape.com/article/862183-overview
[4 April 2012]
11. Shah, N.J., 1999. Complications of Sinusitis. Bombay Hospital Journal volume
41 no 4