Anda di halaman 1dari 11

VAGINAL SMEAR

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Nur Fadilah
: B1J013073
: III
:3
: Mithun Sinaga

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Vaginal smear merupakan salah satu metode untuk menentukan atau
mengidentifikasi fase estrus yang dialami oleh mamalia betina. Fungsi dari metode
vaginal smear adalah untuk mengetahui fase estrus pada mamalia betina. Fase estrus
ditandai oleh sel-sel epitel vagina mengalami kornifikasi sebagai akibat kadar
estrogen yang tinggi (Soeminto, 2008).
Metode vaginal smear menggunakan sel epitel dan sel lukosit sebagai bahan
identifikasi. Sel epitel merupakan sel yang terletak di permukan vagina sehingga
apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epitel merupakan sel yang paling
awal terkena akibat dari perubahan tersebut. Sel leukosit merupakan sel antibodi
yang terdapat di seluruh bagian individu. Sel leukosit di vagina berfungsi membunuh
bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum. Sel epitel berbentuk oval atau
poligonal, dan berinti sedangkan sel leukosit berbentuk bulat dan berinti (Nalbandov,
1990).
Praktikum vaginal smear ini menggunakan preparat mencit karena sel epitel
pada vagina mencit tersebut dapat dengan mudah dikikis untuk diketahui
keadaannya. Sel epitel tersebut dapat mengidentifikasi fase apa yang sedang dialami
mencit tersebut. Contoh lainya mencit, kucing dan mamalia non primata lainnya
kecuali manusia (primata) dan orang utan sebab manusia dan orang utan mengalami
menstruasi.
Vaginal smear menggunakan daerah vagina sebagai daerah identifikasi.
Mukosa vagina diambil untuk bahan identifikasi. Sel epitel dan leukosit terdapat
dalam mukosa vagina. Identifikasi bentuk sel epitel dan leukosit dapat menunjukkan
fase dalam siklus estrus (Gilbert, 1994). Fase estrus suatu spesies dapat diidentifikasi
dengan vaginal smear. Fase tersebut tidak dapat teridentifikasi saat hamil dan belum
masak kelamin. Pembuatan preparat apus vagina dapat dilakukan saat individu
tersebut telah berumur delapan minggu (Yatim, 1990).
Satu siklus estrus terdapat empat fase yaitu proestrus, estrus, metestrus atau
postestrus, dan diestrus. Fase estrus ditandai dengan tingkah laku aneh, gelisah, dan
tidak menolak apabila didekati individu jantan. Setiap fase berkaitan dengan
perubahan aktivitas dan struktur ovarium, uterus, dan vagina. Perubahan satu bagian

tersebut berhubungan dengan bagian lain (Nalbandov, 1990). Siklus estrus ini
dikontrol oleh hormon estrogen. Reseptor hormon estrogen tidak hanya di oviduktus,
tetapi juga pada hati. Reseptor hormon estrogen pada oviduktus berfungsi untuk
mensintesis protein telur. Reseptor hormon estrogen pada hati berfungsi mensintesis
vitelogen (Rugh, 1962).
Hewan yang memiliki daur estrus sekali dalam setahun, disebut monoestrus.
Terdapat pada rusa, kijang, harimau, serigala, kucing hutan dan sebagainya. Terdapat
juga yang memiliki daur beberapa kali setahun, disebut poliestrus, yang belakangan
terdapat pada rodentia dan hewan yang sudah turun temurun dipelihara, seperti
kucing dan anjing. Anjing memiliki daur 2-3 kali setahun, sedangkan kucing bisa
sampai 4 kali (Yatim, 1990).
Daur estrus terutama pada poliestrus dapat dibedakan atas : (1) proestrus,
yaitu pertumbuhan folikel, dihasilkan estrogen dalam jumlah banyak dan estrogen
merangsang pertumbuhan seluler pada alat kelamin tambahan, terutama vagina dan
uterus, (2) estrus, merupakan periode ovulasi, betina siap menerima jantan, (3)
metestrus, yaitu fase setelah ovulasi, dimana korpus luteum mulai berfungsi.
Panjangnya metestrus dapat tergantung pada panjangnya LH disekresi oleh
adenohipifisis, dan (3) diestrus, merupakan periode istirahat, yaitu alat kelamin
tambahan mengalami perubahan berangsur-angsur kembali (Yatim, 1990).
Siklus estrus yang normal terjadi selama 4-5 hari pada mencit, namun pada
mencit yang telah diimunisasikan dengan gonadotropin menunjukan siklus estrus
yang pada tahap pengenalanya menjadi jeuh lebih lama hingga 13 hari, dan siklus
esterus akan lengkap hingga 65 hari, hal ini menunjukan mencit yang diberi
perlakuan penambahan estradiol dan progesterone akan mempengaruhi siklus estrus
pada mencit, dan menunjukan bahwa siklus estrus tersebut berakhir jauh lebih cepat
sehingga tidak dapat berfungsi layaknya mencit betina yang normal (Javid, 2009).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum vaginal smear adalah agar praktikan dapat melakukan
prosedur pembuatan preparat apus vagina, dapat mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam
preparat tersebut dan menentukan fase estrus dari hewan uji.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum vaginal smear adalah mikroskop
cahaya, gelas objek beserta penutupnya, cotton bud, dan tissue.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum vaginal smear adalah Mencit
betina (Mus musculus ) matang kelamin yang tidak sedang hamil, larutan NaCl
0,9%, larutan alkohol 70%, dan pewarna methylen blue 1% akuades.
B. Metode
1. Memegang mencit betina yang akan diperiksa dengan tangan kanan,
ditelentangkan di atas telapak tangan sementara dijepit oleh ibu jari dan telunjuk.
Ekor dijepit diantara telapak tangan dan jari kelingking.
2. Membasahi ujung cotton bud dengan larutan NaCl 0,9% kemudian secara
perlahan dimasukkan dalam vagina mencit sedalam 5 mm dan diputar searah
secara perlahan sebanyak dua hingga tiga kali.
3. Membersihkan objek gelas dengan alkohol 70% dan dikeringkan di udara. Ujung
cotton bud yang sudah dimasukkan dalam vagina dioleskan memanjang dua atau
tiga baris olesan dengan arah yang sama pada gelas objek.
4. Menetesi olesan vagina tersebut dengan larutan methylen blue 1% sambil
sesekali dimiringkan agar pewarna merata pada permukaan olesan dengan
ditunggu selama 5 menit. Pewarna yang berlebihan dibersihkan dengan membilas
menggunakan akuades atau air mengalir kemudian ditutup dengan gelas penutup.
5. Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah kemudian
perbesaran kuat. Tipe dan proporsi sel dalam preparat apusan diperhatikan. Selsel yang ditemukan digambar dalam sediaan tersebut dan ditentukan fasenya.
6. Menggambar bentuk sel epithel dan leucocyte yang tampak pada preparat apus
vagina.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1
2
1

(A)

(B)

Gambar 1. (A) Mikroskopis Siklus Estrus Fase Diestrus Perbesaran 10 x 40


(B) Skematis Siklus Estrus Fase Diestrus
Keterangan gambar :
1. Epitel
2. Leukosit

B. Pembahasan
Vaginal smear merupakan salah satu metode untuk menentukan atau
mengidentifikasi fase estrus yang dialami oleh mamalia betina. Tujuan dari metode
vaginal smear adalah untuk mengetahui fase estrus pada mamalia betina. Fase estrus
ditandai oleh sel-sel epitel vagina mengalami kornifikasi sebagai akibat kadar
estrogen yang tinggi. Alat-alat yang digunakan pada praktikum vaginal smear yaitu
cotton bud yang berguna untuk mengambil lapisan mukosa didalam vagina marmut,
gelas objek beserta penutupnya berfungsi untuk media pembuatan apusan vagina,
dan mikroskop cahaya berfungsi untuk mengamati sel-sel pada preparat apusan.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu mencit betina (Mus musculus ) masak kelamin
yang tidak sedang hamil berfungsi sebagai hewan percobaan yang diamati fase
estrusnya, larutan NaCl 0,9% berfungsi untuk memudahkan sel-sel epithel vagina
menempel pada cotton bud, larutan alkohol 70% untuk mensterilkan objek gelas, dan
pewarna methylen blue 1% akuosa sebagai pewarna pada preparat apusan vagina
mencit agar mudah diamati pada mikroskop cahaya (Soeminto, 2008).
Metode vaginal smear menggunakan sel epitel dan sel lukosit sebagai bahan
identifikasi. Sel epitel merupakan sel yang terletak di permukan vagina sehingga
apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epitel merupakan sel yang paling
awal terkena akibat dari perubahan tersebut. Sel leukosit merupakan sel antibodi
yang terdapat di seluruh bagian individu. Sel leukosit di vagina berfungsi membunuh
bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum. Sel epitel berbentuk oval atau
poligonal, dan berinti sedangkan sel leukosit berbentuk bulat dan berinti (Nalbandov,
1990).
Fase estrus, produksi estrogen bertambah dan terjadi ovulasi (javid, 2009).
Mukosa dari uterus mengembung dan banyak mengandung darah. Waktu inilah
hewan betina siap untuk menerima hewan jantan. Lamanya fase estrus yaitu 18 jam.
Sel epitel dalam sediaan apus vagina memiliki inti bewarna gelap dan sel epitel
sudah mengalami penandukan (kornifikasi). Dalam sediaan apus vagina hewan uji
tipe sel yang berbentuk bulat disebut leukosit. Leukosit tampak bewarna lebih terang
bila dibandingkan dengan warna sel epitel. Dalam sediaan apus vagina letak sel
epitel berinti dan leukosit tidak teratur (Djuhanda, 1981).
Menurut Frandson (1993), ada empat fase estrus yaitu :
1. Proestrus

Produksi estrogen meningkat di bawah stimulasi FSH, adenohipofisis


pituitary dan LH ovari yang menyebabkan terjadinya peningkatan perkembangan
uterus, vagina, oviduk, dan folikel ovari. Fase ini dianggap sebagai fase
penumpukan. Fase ini folikel ovari dengan ovumnya yang menempel membesar
terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi hormon estrogenik.
Estrogen yang diserap dari folikel ke dalam aliran darah merangsang penaikan
vesikularitas dan pertumbuhan sel genitalia tubular dalam persiapan untuk birahi dan
kehamilan yang terjadi.
2. Estrus
Periode penerimaan seksual pada hewan betina yang terutama ditentukan oleh
tingkat sirkulasi estrogen, kemudian terjadi ovulasi. Ovulasi ini terjadi dengan
penurunan tingkat FSH dalam darah dan peningkatan LH. Sebelum ovulasi folikel
membesar dan mengalami turgit, serta ovum yang berada didalamnya mengalami
pemasakan. Estrus kira-kira berakhir pada saat pecahnya folikel ovari atau terjadinya
ovulasi. Ovum dilepaskan dari folikel menuju tuba uterine.
3. Metestrus
Fase setelah ovulasi, dimana korpus luteum mulai berfungsi. Panjangnya
metestrus dapat tergantung pada panjangnya LH disekresi oleh adenohipifisis.
Selama periode ini terjadi penurunan estrogen.
4. Diestrus dan Anestrus
Diestrus adalah periode quiescence yang relatif panjang. Anestrus
merupakan periode quiescence antar musim kawin. Ciri diestrus yaitu separuh
waktu siklus, ada korpora lutea, epitel berinti dan leukosit, sedangkan ciri dari
anestrus yaitu korpora lutea mulai berfungsi dan epitel terkornifikasi hilang.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap sediaan apus vagina mencit betina
didapatkan bahwa mencit tersebut sedang mengalami fase diestrus. Fase ini dapat
dilihat dengan adanya sel leukosit yang banyak dan ukurannya kecil sedangkan sel
epitelnya sedikit, berinti, dan ukurannya lebih besar. Terdapat korelasi antara
keadaan-keadaan psikologis dan fisiologis dengan kejadian-kejadian endokrin
reproduksi (Nalbandov, 1990).
Hasil pada praktikum kali ini menunjukan fase yang sama pada tinjauan
pustaka, pada hasil praktikum ini menunjukan bahwa fase yang diperlihatkan dalam
pengamatan mikroskopis terdapat banyak leukosit dan sedikit sel epitel, hal tersebut
menunjukan bahwa mencit sedang dalam fase diestrus. Leukosit yang sedikit

dibandingkan dengan sel epitel memberikan kesempatan bagi sel sperma untuk dapat
membuahi sel telur tersebut, apabila terdapat sel leukosit yang lebih banyak
dibandingkan dengan sel epitel maka sel sperma tidak dapat membuahi sel telur
tersebut karena sel sperma akan dianggap sebagai antigen bagi sel leukosit.
menunjukan dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia
dan banyak primata lain mempunyai siklus menstruasi (menstrual cycle), sementara
mamalia lain mempunyai siklus estrus (estrus cycle). Kedua kasus ini ovulasi terjadi
pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri
banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantasi embrio.
Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika
kehamilan tidak terjadi. Siklus menstruasi endometrium akan meluruh dari uterus
melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi
(Campbell, 2004).
Menurut Shearer (2008), fase menstruasi terjadi apabila ovum tidak dibuahi
sehingga nidasi tidak terjadi. Fase ini berlangsung 2 minggu setelah terjadinya
ovulasi. Awal fase menstruasi yang berlangsung pada hari pertama disebut juga fase
ischemic yaitu ketika arteri spiral pada lapisan fungsionalis mengalami ischemic
(aliran darah terhenti), sehingga sel-selnya mengalami necrosis (mati).
Nilai waktu masak vaginal (MV) dihitung dari perbandingan superfisial,
intermediat dan sel parabasal di dalam vaginal smear yang telah digunakan untuk
mendeteksi berhentinya pertumbuhan vaginal dan kekurangan estrogen pada wanita
yang merupakan gejala postmenopousal. MV (maturation value) adalah suatu marker
yang bermanfaat untuk menguji waktu masak vaginal dan menampakkan vaginal
kekurangan estrogen dengan mengabaikan adanya peradangan (Yoruk et al, 2006).
Perbedaan siklus estrus dan menstruasi, diantaranya terletak pada fase-fase yang
terjadi yaitu, fase proestrus folikel mengalami pemasakan akhir, fase estrus terjadi
ovulasi, fase metestrus terjadi pembentukan corpus luteum, fase diestrus corpus
luteum berfungsi optimal (Widyawati, 2007).
Penentuan fase estrus menggunakan metode vaginal smear merupakan salah
satu metode yang akurat dan mudah untuk dilakukan, tetapi ketika melakukan
pengamatan preparat praktikan harus mengamati pada semua area preparat, karena
proporsi sel yang ingin diamati terkadang tidak merata, sehingga bisa salah dalam
penentuan fase estrus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Byers et al.(2012) bahwa
pengidentifikasian fase estrus menggunakan vaginal smear menjadi cara yang paling

akurat dalam penentuan seluruh tahapan siklus estrus. Metode sitologi vagina baik
digunakan untuk pengidentifikasian keempat tahap siklus estrus. Pengamatan secara
visual digunakan untuk mengamati proestrus dan estrus pada hewan uji, dengan
tujuan penentuan waktu perkawinan hewan uji, tetapi untuk pengamatan yang lebih
akurat harus menggunakan vaginal cytology.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Vaginal smear merupakan salah satu metode untuk menentukan atau
mengidentifikasi fase estrus yang dialami oleh mamalia betina.
2. Metode vaginal smear menggunakan sel epitel berinti dan sel leukosit sebagai
bahan identifikasi.
3. Mencit betina (Mus musculus ) yang digunakan dalam praktikum vaginal smear
sedang mengalami fase estrus.
B. Saran
Menambah alat-alat praktikum seperti mikroskop agar setiap praktikan
menggunakan mikroskop masing-masing sehingga tidak berebut dalam pengamatan,
dan juga seharusnya menggunakan mencit yang jinak supaya tidak sampai menggiti
praktikannya.

DAFTAR REFERENSI

Byers, Shannon. Wiles, Michael. Dunn, Sadie dan Taft, Robert.2012.Mouse Estrous
Cycle Identification Tool and Images. Reproductive Sciences R&D, The
Jackson Laboratory, Bar Harbor, Maine, United States of
America.Technology Evaluation and Development, The Jackson Laboratory,
Bar Harbor, Maine, United States of America.
Campbell, N. A. 2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Amrico, Bandung.
Frandson, R. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM University Press,
Yogyakarta.
Gilbert, S.F. 1994. Developmental Biology 4th ed. Sianuer Associates inc Publisher,
Massachusetts.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Sinar Wijaya,
Surabaya.
Javid, and vinoy. 2009. Effect of gonadotropin releasing hormone conjugate
immunization and bioenhancing role of khamdenu ark on estrus cycle.
department of bioscience, barkatullah university, India.
Nalbandov, A. V. 1990. Reproduvtive physiology of Mamals and Birds: The
Comparative Physiologi of Domestic and laboratory Animals and Man.
W.H.Freeman and company, San Fransisco.
Rugh, R. 1962. Experimental Emrbryology. Burger Publishing Company, Minnesota.
Shearer, J. K. 2008. Reproductive Anatomy and Physiology of Dairy Cattle.
University Of Florida. Florida.
Soeminto, 2008. Buku dan Petunjuk Praktikum SPH II. Fakultas Biologi Universitas
Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Widyawati. P. 2007. Struktur Reproduksi Wanita. http://209.85.175.1.:www.sch.id
tahukah.htm+siklus+menstruasi+mamalia Tanggal akses 14 Oktober 2009.
Yatim, W. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.
Yoruk, Pinar, Meltem Uygur, Mithat Erenus, and Funda Eren. 2006. The Role Of
Vaginal Maturation Value Assessment In Prediction Of Vaginal PH, Serum
FSH And E2 Levels. Marmara Medical Journal, 19 (2) : 52-57.