Anda di halaman 1dari 12

Klasifikasi Fraktur Antebrachii

Menurut Arif Mansjoer (2000: 351) ada 4 klasifikasi fraktur antebrachii antaralain:
1. Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien
terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke dalam
(endorotasi). Tangan terbuka terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi supinasi).
2. Fraktur Smith.
Fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse colles fracture.
Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang
posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi.
3. Fraktur Galeazzi.
Fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan
tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi
waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
4. Fraktur Montegia.
Fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal.

Fraktur Antebrachii Secara Umum


Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisik didapati tanda fraktur, Pemeriksa harus memperhitungkan kemungkinan
adanya gangguan syaraf atau kerusakan pembuluh darah. Pada pemeriksaan radiologis yang
perlu diperhatikan adalah adanya luksasl sendi radioulnar proksimal atau distal yang lebih
dicurigai apabila ditemukan fraktur hanya pada salah satu tulang disertai dislokasi.

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Doegoes,dkk (1999) pemeriksaan penunjang pada kasus fraktur :
1. Scan tulang, tomogram, magnetic resonance imaging (MRI) memperlihatkan fraktur, juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak.

2. Arteriogram, dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler


3. Profil koagulasi
4. Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranafusi multiple atau cairan hati.(6)
Penanganan
Pada fraktur yang tidak berubah posisinya dilakukan pemasangan gips di atas siku. Pada fraktur
yang posisinya berubah harus dilakukan reposisi tertutup untuk kemudian dipasang gips di atas
siku. Untuk fraktur radius ulnar proksimal, lengan bawah diimobilisasi dalam gips pada posisi
supinasi. Posisi ini dimaksudkan untuk mengatasi rotasi radius dan mengendurkan otot supinator.
Fraktur bagian distal umumnya diimobilisasi dalam posisi pronasi dan patah tulang bagian
tengah dalam posisi netral. Akan tetapi, pada umumnya fraktur kedua tulang radius dan ulna
sulit untuk dilakukan reposisi tertutup dengan baik sehingga diperlukan operasi reposisi terbuka
dan fiksasi interna. Reposisi terbuka juga lebih sering diperlukan pada patah tulang yang disertai
dislokasi sendi. (1)
Penyulit
Lesi saraf jarang terjadi pada fraktur tertutup. Apabila terjadi, bisa mengenai saraf radialis,
ulnaris maupun medianus atau cabangnya. Cedera saraf radialis ditemukan pada fraktur
Monteggia. sedangkan cedera saraf medianus sering terjadi pada fraktur radius distal. (1)
Karena di lengan bawah terdapat banyak pembuluh darah kolateral, kerusakan pembuluh darah
jarang berakibat berat terhadap lengan bawah.
Penyulit yang segera tampak berupa sindrom kompartemen juga relatif jarang. Apabila terdapat
sindrom ini, biasanya sulit didiagnosis atau terlambat karena denyut nadi sering masih teraba.
Pengobatannya adalah fasiotomi yang cukup luas. Pada pembedahan memang tidak boleh
dilakukan penjahitan kembali fasia. (1)
Komplikasi
Komplikasi lambat yang tersering adalah salah-taut dan apabila salah-tautnya berupa angulasi
disertai dengan ketidaksejajaran radius dan ulna, akan terjadi gangguan gerak pronasi dan
supinasi. Komplikasi lain adalah terbentuknya sinostosis atau jembatan kalus, yaitu kalus antara
radius dan ulna sehingga kemungkinan supinasi dan pronasi hilang. Sinostosis ini dapat terjadi
pada fraktur dislokasi, seperti fraktur Monteggia atau fraktur Galeazzi. (1)
Komplikasi yang tidak jarang terjadi adalah pseudartrosis karena gagal bertaut, misalnya akibat
terjadinya infeksi, operasi yang terlalu merusak periost, atau terselipnya otot di antara fragmen

patahan tulang. Komplikasi infeksi yang menyebabkan osteomielitis biasanya merupakan akibat
dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah reposisi terbuka. (1)
2.5.1 Fraktur Satu Tulang
Fraktur radius saja biasanya terjadi akibat suatu trauma langsung dan sering terjadi pada bagian
proksimal radius. Fragmen fraktur akan terdislokasi ad latitudinem dan ad periferam. Fraktur ini
sulit direposisi secara tertutup atau akan mengalami redislokasi bila reposisi berhasil. Oleh
karena itu, dianjurkan reposisi terbuka dan biasanya dipasang fiksasi interna dengan plat jenis
kompresi.
Fraktur ulna biasanya disebabkan oleh trauma langsung, misalnya menangkis pukulan dengan
lengan bawah. Relatif sering terjadi fraktur yang tidak berubah posisinya. Pengobatan biasanya
konservatif dengan pemasangan gips. Kadang Juga terjadi fraktur yang terdislokasi, dalam hal
Ini harus diteliti apakah ada juga fraktur tulang radius atau dislokasi sendi radioulnar. Pada
fraktur yang kominutif dapat terjadi penyatuan lambat atau pseudoartrosis dan ini memerlukan
tindak operatif disertai cangkok tulang. (1)

Fraktur Antebrachii Yang Khas


a. Fraktur Monteggia
Definisi
Monteggia mempublikasikan fraktur ini sebagai fraktur sepertiga proksimal ulna disertai
dislokasi ke anterior dari kapitulum radius(1,2). Ternyata kemudian terbukti bahwa dislokasi ini
dapat terjadi ke lateral dan juga ke posterior. Penyebabnya biasanya trauma langsung
terhadap ulna, misalnya sewaktu melindungi kepala pada pukulan, sehingga disebut patah
tulang tangkis. (1)
Gambaran klinik
Pada umumnya menyerupai fraktur pada lengan bawah dan apabila terdapat dislokasi ke anterior,
kapitulum radius akan dapat diraba pada fosa kubitus. (1). Pergelangan tangan dan tangan harus
diperiksa untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda cedera pada saraf radialis. (2) . Terdapat 2 tipe
yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong
ulna kearah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan
kearah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior. (3)

Gambaran radiologis
Gambaran radiologis jelas memperlihatkan adanya fraktur ulna yang disertai dislokasi sendi
radio-humeral. (1) Pada kasus biasa kaput radius berdislokasi kedepan, dan terdapat fraktur pada
sepertiga bagian atas ulna dengan pelengkungan kedepan. Kadang-kadang dislokasi radius
disertai dengan fraktur olekranon. Kadang-kadang kapur radius berdislokasi keposterior dan
fraktur ulna melengkung kebelakang ( Monteggia kebelakang). Pada fraktur ulna yang terisolasi,
selalu diperlukan pemeriksaan sinar X pada siku. (2)
Pengobatan
Dengan cara konservatif biasanya berhasil pada anak, tetapi metode operatif sering menjadi
pilihan pada fraktur Monteggia pada orang dewasa. (1) . Petunjuk untuk keberhasilan terapi
adalah memulihkan panjangnya ulna yang mengalami fraktur, hanya setelah itu sendi yang
berdislokasi dapat sepenuhnya direduksi. Pada anak-anak kadang-kadang dapat dilakukan
manipulasi, tetapi pada orang dewasa lebih baik dilakukan reduksi terbuka dan pemasangan flat.
Kalau kaput radius dapat direduksi secara tertutup, begitu lebih baik dan bila tidak harus diterapi
dengan operasi. Lengan diimobilisasi dalam gips dengan siku yang difleksikan selama 6 minggu.
Setelah itu dianjurkan gerakan aktif. (2)
b. Fraktur Galeazzi
Definisi
Fraktur ini merupakan fraktur distal radius disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar
distal. Terjadinya fraktur ini biasanya akibat trauma langsung sisi lateral ketika jatuh. Saat pasien
jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi
pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi. (1,3)

Gambaran klinis
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung bagian bawah ulna
yang menonjol merupakan tanda yang mencolok. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf
ulnaris yang sering terjadi. (2). Gambaran klinisnya bergantung pada derajat dislokasi fragmen
fraktur. Bila ringan. nyeri dan tegang hanya dirasakan pada daerah fraktur; bila berat, biasanya
terjadi pemendekan lengan bawah. Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal.
Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna.(1)
Gambaran radiologis

Fraktur melintang atau oblique yang pendek ditemukan pada sepertiga bagian bawah radius,
dengan angulasi atau tumpang-tindih. Sendi radioulnar inferior bersubluksasi atau berdislokasi.
(2)

Pengobatan
Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius
ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi. Secara konservatif mungkin kurang memuaskan dan bila
demikian. terapi bedah menjadi pilihan. (1)
c. Fraktur Colles
Definisi
Cedera yang diuraikan oleh Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang pada
radius tepat diatas pergelangan tangan dengan pergeseran dorsal fragmen distal. Ini adalah
fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidennya yang tinggi berhubungan
dengan permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang
memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang.(5)

Klasifikasi
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur ekstensi dari radius distal. Namun
yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan sistem ini
maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut : (4)
Tipe IA : Fraktur radius ekstra artikuler
Tipe IB : Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler
Tipe IIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar
Tipe IIIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radioulnar
Tipe IVA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi radioulnar
Tipe IVB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi radioulnar

Trauma / Kelainan yang Berhubungan


Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi bersamaan dengan trauma atau luka yang
berhubungan, antara lain : (4)
1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)
2. Fraktur collum ulna
3. Fraktur carpal
4. Subluksasi radioulnar distal
5. Ruptur tendon fleksor
6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris
Manifestasi Klinis
Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi diciptakan)
dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan penonjolan punggung pergelangan
tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat
nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan. (2) Selain itu juga didapatkan
kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang terkena. (4)

Diagnosis
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara klinis
dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi
fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang. (1,3)
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur kominutif
dan mengetahui letak persis patahannya. (1) Pada gambaran radiologis dapat diklasifikasikan
stabil dan instabil. Stabil bila hanya terjadi satu garis patahan, sedangkan instabil bila patahnya
kominutif. Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh.
(4). Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus
ulnar sering putus. Fragmen radius :
1. Bergeser dan miring ke belakang
2. Bergeser dan miring ke radial

3. Terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami peremukan dan kominutif yang hebat.
(4)

(b) Fraktur tidak masuk dalam sendi pergelangan tangan


(c) Pergeseran ke belakang dan ke radial

Penatalaksanaan (2)
- Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips yang
dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam
posisinya.
- Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk keadaan
ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi radius dan pen
distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga. (2)
- Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan
traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan tangan
untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan menekan
kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar
dan pronasi.
Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang slab gips dorsal,
membentang dari tepat di bawah siku sampai leher metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan
tangan itu. Slab ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi
ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat saja pada tiap arah.

(b) Pronasi dan pergeseran ke depan,


(c) Deviasiulnar

Pembebatan :
a. penggunaan sarung tangan
b. slab gips yang basah
c. slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras.
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari segera dimulai
setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, harus tidak ada
keragu-raguan untuk membuka pembalut. Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang
baru; pergeseran ulang sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya,
sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.
Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara radiologi, slab
dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep sementara.
Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan komplikasi
jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles tipe IA atau IB dan tipe IIA yang boleh
ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada
ahli orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu diketahui, sebagai berikut :
Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan dorsal sehingga
mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen
Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23 derajat di sebelah palmar,
sedangkan angulasi dorsal tidak.
Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini dapat dengan mudah
dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang lama sampai terjadi proses penyembuhan
kecuali difiksasi.
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka beberapa hal berikut
dapat dilakukan :
1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional
2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese finger traps dan siku
dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban seberat 8-10 pon digantungkan pada
siku selama 5-10 menit atau sampai fragmen disimpaksi. Kemudian lakukan penekanan fragmen
distal pada sisi volar dengan menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen
proksimal menggunakan jari-jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan, maka beban
dapat diturunkan.

3. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi terhadap
pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi ulna. Lengan bawah
sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan pemasangan anteroposterior long arms
splint. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah tercapai
posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya
4. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam untuk mengurangi
bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan
pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma.
5. Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan untuk fraktur yang
bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.

Komplikasi (4)
Dini
Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan slab perlu dibuka atau
dilonggarkan.
Cedera saraf jarang terjadi dan yang mengherankan tekanan saraf medianus pada saluran karpal
pun jarang terjadi. Kalau hal ini terjadi, ligamen karpal yang melintang harus dibelah sehingga
tekanan saluran dalam karpal berkurang.
Distrofi refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan, tetapi untungnya ini jarang
berkembang lengkap menjadi keadaan atrofi sudeck. Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri
tekan pada sendi-sendi jari, waspadalah jangan sampai melalaikan latihan setiap hari. Pada
sekitar 5 % kasus, pada saat gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri serta terdapat tanda-tanda
ketidakstabilan vasomotor. Sinar X memperlihatkan osteoporosis dan terdapat peningkatan
aktivitas pada scan tulang.
Lanjut
Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap atau karena pergeseran dalam
gips yang terlewatkan. Penampilannya buruk, kelemahan dan hilangnya rotasi dapat bersifat
menetap.
Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi processus stiloideus ulnra

sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa saja dan tetap mengalaminyeri dan nyeri tekan
selama beberapa bulan.
Kekakuan pada bahu, karena kelalaian adalah komplikasi yang sering ditemukan. Kekakuan
pergelangan tangan dapat terjadi akibat pembebatan yang lama.
Atrofi Sudeck, kalau tidak diatasi dapat mengakibatkan kekakuan dan pengecilan tangan
dengan perubahan trofik yang berat.
Ruptur tendon biasanya terjadi beberapa minggu setelah fraktur radius bawah yang tampaknya
sepele dan tidak bergeser. (2)
d. Fraktur Smith
Definisi
Fraktur smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut
reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan
menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan
pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular. Penggeseran bagian
distal radius bukan ke dorsal, melainkan ke arah palmar. Patah tulang ini lebih jarang terjadi. (1)
Manifestasi klinik
Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi
tangan ke radial (garden spade devormity). (1)

Terdapat fraktur pada metafisis radius distal; foto lateral menunjukkan bahwa fragmen distal
bergeser dan miring ke anterior-sangat berlawanan dengan fraktur colles.
Penatalaksanaan
Pengobatannya merupakan kebalikan dari pengobatan patah tulang Colles dan pascareduksi,
posisi dipertahankan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal. Lalu
diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4-6 minggu. (3)
e. Fraktur Barton volar
Fraktur Barton volar sebetulnya masih bagian dari fraktur Smith. Reduksi biasanya cukup
dengan tarikan dan supinasi, tetapi karena garis patah tulang miring reposisi yang dicapai
biasanya tetap tidak stabil sehingga kadang pembedahan akan lebih baik hasilnya. Epalsiolisis
harus diusahakan untuk reposisi secara anatomis mungkin agar tidak terjadi gangguan
pertumbuhan. Hal ini dapat dilakukan secara tertutup, kadang secara terbuka. Dengan atau tanpa

reposisi operatif dapat dipakai kawat K yang kecil yang cukup kuat untuk fiksasi intern
sehingga fiksasi dapat dicapai tanpa merusak cakram epiflsis. (1)
f. Fraktur atau dislokasi tulang karpus
Patah tulang os navikulare yang agak jarang, sering terlewat diagnosisnya, baik karena tidak
terperhatikan maupun karena tidak dibuat foto Rontgen oblik khusus. Seperti halnya tulang yang
lain, vaskularisasi tulang skafoid sebagian besar melalui simpal sendi dan karena sebagian besar
permukaan tulang ini merupakan bagian tulang rawan sendi, vaskularisasi yang masuk relatif
sedikit. Oleh karena itu, komplikasi nekrosis avaskuler dan kegagalan pertautan cukup sering. (1)
Gambaran Klinis
Gambaran klinis sering kurang jelas. Biasanya ada keluhan nyeri di pergelangan tangan. Pada
pemeriksaan didapatkan empat tanda yang jelas, ialah nyeri tekan di tabatiere* pada posisi
deviasi ulna yang menyebabkan penonjolan tulang skafoid di tabatiere, nyeri tekan pada
penonjolan navikulare di sebelah volar pada deviasi radier, nyeri sumbu pada pukulan martil
perkusi pada kaput metakarpale pada tangan sikap tinju dan nyeri di dalam pergelangan tangan
pada fleksi maupun ekstensi ekstrem. (1)
Biasanya patah tulang os navikulare tidak terdislokasi sehingga tidak perlu direposisi. Posisi
dalam gips yang meliputi lengan bawah bagian distal sampai batas sendi metakaipofalangeal,
termasuk metakarpus I, dipertahankan tiga bulan untuk menghindari pseudoartrosis. Bila lambat
bertaut atau gagal-bertaut, perlu dilakukan operasi cangkok tulang.Pada patali leher tulang
bagian proksimal os skafoid terancam nekrosis avaskuler karena sebagian besar per mukaannya
ditutup oleh tulang rawan sendi sehingga darah dari bagian proksimal tidak mungkin sampai. (1)
Dislokasi lunatum agak jarang ditemukan, tetapi sering juga terlewat diagnosisnya. Dislokasi
yang terjadi adalah akibat trauma jatuh pada tangan dalam posisi dorsifleksi maksimal. Pada
pemeriksaan klinis didapati pembengkakan pada pergelangan tangan dan pasien sangat kesakitan
bila jari secara pasif diekstensikan. Bisa ditemukan adanya lesi saraf medianus oleh adanya
penekanan saraf di dalam kanalis karpal. Pada foto Rontgen akan terlihat adanya dislokasi
lunatum ataupun perilunatum. Akan tetapi, ternyata dislokasi ini sering terlewat karena
kurangnya pengalaman pemeriksa foto. Penanganannya adalah reposisi, yang pada dislokasi baru
biasanya akan berhasll. diikuti dengan imobilisasi. Komplikasi lambat yang bisa terjadi adalah
nekrosis avaskuler dan artritis degeneratif. (1)

DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. 2005. Jakarta: EGC
2. Apley A, Graham & Solomon, Louis. BukuAjar Ortopedi & Fraktur Sistem Apley Edisi VII.
1995. Jakarta: Widya Medika.
3. Mansjoer, Arief, ed. Kapita Selekta Kedokteran. 2000. Jakarta: Media Aesculapius
4. http://medlinux blogspot. Com, diakases tanggal 25 Juli 2010
5. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/9205.htm, diakses tanggal 31 Juli 2010
6. http://www.trinoval.web.id/2010/04/fraktur-antebrachii.html, diakses tanggal 1 Agustus 2010