Anda di halaman 1dari 4

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PERNIKAHAN DALAM ISLAM

DISUSUN OLEH :

Yuriska Fitri Dyah Utami

13308141048

Jaka Fitriyanta

13308141057

Wulan Novitasari

13308141062

Yuniar Kurnia Widasari

13308144009

Ulfa Nur Wahyudi

13308144011

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

A. Prinsip-prinsip Pernikahan dalam Islam


Secara spesifik,manusia adalah makhluk biologis yang memiliki hasrat untuk
mengembangkan keturunan sebagai generasi penerusnya. Agar fungsi manusia tersebut
dapat berjalan, Islam memberikan aturan-aturan yang tertuang dalam ayat-ayat Al-Quran
maupun hadis Nabi secara lengkap dan rinci yaitu pernikahan atau perkawinan.
Perkawinan merupakan suatu ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang
terinstitusi dalam satu lembaga yang kokoh, dan diakui baik secara agama maupun secara
hukum. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteriisteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasah kasih sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
[QS. Ar-Ruum, 30 : 21]
Secara bahasa, nikah berasal dari akar kata bahasa Arab : makaha yankihu
nikahan yang berarti mengumpulkan. Sedangkan secara syara artinya akad yang telah
dikenal dan memenuhi rukun serta syarat (yang telah tentu) untuk berkumpul (Moh.
Rifai, t.t:268). Islam menyebut perkumpulan yang penuh cinta, kasih dan sayang dengan
ungkapan bahasa mawaddah wa rahmah.
Sesuai dengan Hadis Rasulullah saw riwayat Ibnu Majah: Nikah adalah sunnahku,
barangsiapa tidak menjalankan sunnahku, dia bukan umatku. Dari hadis tersebut bisa
diambil makna bahwa nikah adalah anjuran (bukan kewajiban) yang bisa dikategorikan
sebagai sunah yang mendekati wajib, atau sunnah muakkad.
Tujuan dan fungsi pernikahan secara tegas didalam Al-Quran dan Hadis sebagai
berikut:
1. Untuk mendapatkan ketenangan hidup (mawaddah wa rahmah)
2. Menjaga pandangan mata dan kehormatan
3. Untuk mendapatkan keturunan

B. Praktik Perkawinan Sebelum Datangnya Islam


Sebelum datangnya Islam perkawinan bangsa Arab masih kental sekali nuansa
patriarkhi yang menempatkan perempuan sebagai objek yang harus tunduk dan mengikuti

keinginan laki-laki (suami) daripada teman hidup yang bakal memberikan keturunan
kepadanya.
Bentuk perkawinan yang mendominasi yaitu sebagai berikut :
Perkawinan al-daizan adalah bentuk perkawinan yang menetapkan bahwa apabila
suami dari seorang perempuan meninggal dunia, anaknya yang tertua berhak untuk
mengawininya. Bahkan anak tersebut berhak untuk mengkawinkannya dengan orang lain
atau melarangnya menikah sama sekali sampai ia meninggal.
Ada juga perkawinan yang disebut zawwaj al-badal (saling bertukar isteri). Seorang
laki-laki dapat meminta laki-laki lain agar melepaskan isterinya untuk diperisteri, dan
sebagai gantinya dia akan menyerahkan isterinya untuk diperisteri laki-laki tersebut. Ini
terjadi tanpa pemberian mas kawin. Bentuk perkawinan yang lain adalah zawwaj alistibda dimana seorang suami akan meminta isterinya untuk bersetubuh dengan laki-laki
yang dianggap mempunyai kekuatan dan kelebihan, agar isteri tersebut bisa hamil dan
mengandung anaknya. Anak yang lahir nantinya dianggap sebagai hadiah dari orang
tersebut.
Bentuk perkawinan yang lain adalah seorang laki-laki yang menikahi tawanan perang
perempuan, disebut nikah al-zainah. Tawanan tersebut tidak dapat menolak dan tidak ada
pembayaran mas kawin ataupun penyampaian khutbah nikah. Sebenarnya masih banyak
lagi bentuk-bentuk perkawinan yang dirasa sangat merendahkan martabat dan kehormatan
perempuan, misalnya saja nikah muthah, poligami tanpa batas lain sebagainya.

C. Konsep Wali dan Mahar


Dalam Islam, konsep wali dan mahar mempunyaimakna dan tujuan yang berbeda
dengan masa pra Islam. Wali dianggap sebagai pemandu perempuan Arab pada masa itu
yang kebanyakan masih bodoh, tidak berpendidikan dan tertinggal dalam segala bidang.
Sedangkan mahar, isyarat Al-Quran menyebutnya dengan nihlah atau saduqat
(pemberian) yang dimaksud adalah sebagai tanda kesungguhan cinta kasih yang diberikan
oleh laki-laki kepada perempuan, yang diberikan secara sukarela tidak mengharap imbalan
apapun. Jadi mahar bukan sebagai harga perempuan sebagaimana yang dipahami pada
masa pra Islam.
Prinsip-prinsip pernikahan dalam Islam meliputi:
1. Prinsip kebebasan memilih
2. Prinsip mawaddah
3. Prinsip rahmah

4. Prinsip amanah/tanggungjawab
5. Prinsip muasyarah bil maruf