Anda di halaman 1dari 2

RATUSAN tahun lalu di daratan Cina, anak babi kecil yang masih menyusu kepada ibunya

dianggap sebagai lambang kesucian. Lambang kesucian bagi seorang pengantin perempuan
yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun. Pada malam pernikahan, ia, yang
masih polos dan murni, akan menjadi milik sang suami.
Ting An tahu kisah ini dari kakak Papa nomor satu yang selalu bercerita tanpa diminta di
setiap pesta pernikahan keluarga.
Sebenarnya, yang dimaksud dengan anak babi kecil yang masih menyusu kepada ibunya
adalah daging anak babi muda yang sudah melewati proses pemanggangan dan menjadi
makanan pembukaan semua perayaan, khususnya perkawinan. Daging lembut beserta
kulitnya yang renyah membuat semua orang akan memandangnya dengan penuh nafsu.
A Ting, keponakan kesayanganku, kata kakak Papa nomor pertama. Kamu bisa
memanggangnya dengan suhu tinggi atau rendah, di tingkat atas oven atau di bawah,
bertahap atau langsung. Semua teknik bisa menghasilkan anak babi panggang garing yang
mencucurkan lemak manis. Lihat, hasilnya. Suwee.
Kakak Papa nomor pertama membawa anak babi yang masih menyusu kepada ibunya tanpa
dipotong-potong. Mengambil daging ini selalu lebih enak jika menggunakan jari-jari. Sensasi
meremas anak babi yang gajihnya meleleh di kulit adalah sebuah upacara kenikmatan yang
luar biasa. Ting dan adik-adiknya langsung berdiri dari kursi, sedikit membungkuk untuk
mencabik-cabik daging dan kulit.
Daging anak babi adalah daging terlezat sejagat alam semesta raya.
Itu kata adik Ting nomor dua. Jari-jarinya basah oleh lemak.

PULUHAN tahun lalu, Mama minggat, meninggalkan Ting yang masih berumur dua bulan.
Tidak lama kemudian, kakak Papa nomor pertama menyusui Ting seperti ia menyusui bayi
perempuannya yang baru saja meninggal. Kesukaan Ting mengisap susu menjadi kisah yang
sering diulang-ulang oleh kakak Papa nomor pertama kepada seluruh keluarga besar.
Ketika masuk sekolah, Ting tidak mau berbagi susu dengan siapa pun. Susu jugalah yang
mempertemukan Ting dengan Fai Fai. Ia baru selesai bermain basket di lapangan sekolah.
Berkeringat dan haus, Ting pergi ke toko kelontong di seberang jalan. Tampak seorang
perempuan mungil yang mengenakan celana jins selutut. Dompet tertinggal dan ia kesulitan
membayar belanjaannya. Ting mengeluarkan uang untuk dua kotak susu yang dibelinya. Fai
Fai berterima kasih lalu membonceng Ting pulang ke rumah.
Esoknya, ia menunggu Ting di depan gerbang sekolah. Celana jinsnya masih selutut dan
motornya bersandar di sebelahnya. Fai Fai mengajak Ting mencari nasi ayam yang rasanya
paling gurih dan minyaknya paling tebal. Ting tidak tahu di mana letak warung yang menjual
nasi ayam yang disebut Fai Fai. Ia membawa Ting ke sebuah gang di mana semua orangorang berbicara dalam bahasa Indonesia dan dialek Hokkie yang berselang-seling seperti
saling berteriak satu sama lain. Nasi ayam yang dipesan berwarna kuning pucat. Lemaknya
sedap seperti susu Fai Fai yang lumer di bibir Ting.

Setiap siang setelah siang itu, Fai Fai menjemput Ting dan mereka mengabiskan sore di
kamar kosnya yang sempit dan panas. Ting di atas tubuh Fai Fai, atau Fai Fai di atas tubuh
Ting. Setelah sebulan rajin mencaploki susu, Ting baru tahu Fai Fai berusia lima tahun lebih
tua darinya, putus-sambung kuliah jurusan ekonomi, dan tinggal sendirian di kota ini. Bagi
Ting, semuanya tidak penting. Yang paling penting, Fai Fai memiliki tubuh yang membuat
Ting mengeras jika melihat gadis itu bergerak sedikit saja.
Hubungan Ting diketahui ayah Fai Fai setelah setengah tahun mereka bersabung dengan
penuh berahi. Ia datang menemui Ting dan menempelengnya keras-keras di halaman sekolah.
Ln-chiu! Bocah sialan! katanya penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk hidung Ting.
Untung ia tidak melapor ke wali kelas sehingga kemaluan Ting terselamatkan. Setelah
peristiwa itu, mereka tetap berhubungan di tempat-tempat rahasia yang tak diketahui siapasiapa. Ting masih menyusu kepada Fai Fai sampai ia lulus SMA.
Aku harus pulang. Ada seorang lelaki yang meminangku di kota kelahiran, begitu kata Fai
Fai suatu hari. Jangan menguntitku. Mereka tak akan suka.
Mereka berpisah tanpa diiringi air mata dan kesenduan. Di malam-malam sepi, Ting
merindukan susu Fai Fai.

BELASAN tahun lalu. Ting bolak-balik berkenalan dengan perempuan-perempuan yang


salah tapi juga benar. Salah satu perempuan itu bernama Yue. Mereka berkenalan di sebuah
acara perayaan grup korporasi, tempat Ting mengabdikan diri di salah satu anak perusahaan.
Ting baru tahu bahwa Yue adalah manajer Humas yang malam itu bersikap sangat ramah
kepadanya. Seperti disambar kilat, Ting langsung menyukai Yue. Matanya pipih seperti
kacang almon. Ketika melirik, Yue membuat Ting panas dingin.
Tidak ada yang bisa mengalahkan susu Yue. Susunya kualitas nomor satu; manis dan kental
di lidah. Ting mabuk tak alang kepalang. Semakin lama ia menikmati susu Yue, semakin
banyak kuantitas yang dikucurkan. Yue mengabarkan ia sedang hamil tiga bulan ketika
mereka saling menerkam pertama kali.
Suami Yue bekerja di perusahaan kelapa sawit di Penang yang lebih sering berada di tengahtengah perkebunan daripada di sampingnya. Pernikahan mereka sudah mencapai titik jenuh
setelah lima tahun berjalan tanpa kehadiran seorang anak. Tahu-tahu Yue hamil setelah
mereka nyaris menyerah dan kemudian Ting dan Yue bertemu.
Belum pernah Ting mendapatkan sumber kalori seistimewa susu Yue. Ia menjadi lebih fokus
dengan pekerjaannya, lebih kuat bekerja sampai larut malam, lebih sehat, lebih gagah, lebih
kekar, dan lebih bertenaga. Karena susu Yue, semakin banyak perempuan yang melirik dan
menggoda Ting, tapi ia tak berminat pada mereka. Sebab tidak ada yang sesempurna Yue.
Perutnya yang membesar setiap bulan memberikan satu sensasi ajaib. Ting menjadi pecandu
yang tidak terselamatkan. Bagai mukjizat, tubuh Yue menumpahkan lemak, keringat, dan
susu tiada habis. Nafsu Ting langsung terbakar mirip matahari jam dua belas siang.