Anda di halaman 1dari 4

Belum pernah Ting mendapatkan sumber kalori seistimewa susu Yue.

Ia menjadi lebih fokus


dengan pekerjaannya, lebih kuat bekerja sampai larut malam, lebih sehat, lebih gagah, lebih
kekar, dan lebih bertenaga. Karena susu Yue, semakin banyak perempuan yang melirik dan
menggoda Ting, tapi ia tak berminat pada mereka. Sebab tidak ada yang sesempurna Yue.
Perutnya yang membesar setiap bulan memberikan satu sensasi ajaib. Ting menjadi pecandu
yang tidak terselamatkan. Bagai mukjizat, tubuh Yue menumpahkan lemak, keringat, dan
susu tiada habis. Nafsu Ting langsung terbakar mirip matahari jam dua belas siang.
Setelah melahirkan bayinya, suami Yue pindah pekerjaan, kembali ke Indonesia. Kehadiran
suami dan seorang bayi menuntut perhatiannya, membuat Yue kurang leluasa mencuri waktu
bergelut dengan Ting. Setelah tiga kali nyaris terpergok sedang membobol sumur susu dan
kemudian dikejar-kejar tukang pukul suaminya, Ting kapok.
Kehadiran Yue pelan-pelan tergantikan dengan perempuan-perempuan lain. Namun, setiap
Ting memeluk satu dari perempuan-perempuan itu, Ting selalu memikirkan Yue. Memikirkan
hujan susunya yang legit.

BEBERAPA tahun lalu, seorang perempuan parobaya di acara reuni keluarga datang dengan
putri bungsunya yang berusia lima belas. Ternyata ia adalah istri dari saudara sepupu Ting
yang tinggal di Medan. Mereka bedua memiliki wajah yang mirip. Si ibu bernama Lan Fen,
dan si anak bernama Mei Fen.
Mei Fen dititipkan di rumah Ting karena ia bersekolah di SMA yang murid-muridnya
bermata sipit semua, sementara ibunya kembali ke Medan. Tidak ada apa-apa di antara Mei
Fen dan Ting, kecuali satu kecelakaan kecil yang mengakibatkan perubahan yang sangat
drastis. Ting memergoki Mei Fen sedang menonton film porno di internet. Ketika ditegur,
tatapan matanya yang malu-malu membakar Ting.
Dari kejadian itu, Ting menjadi dekat dengan Mei Fen. Sangat dekat, sampai suatu hari Ting
mengajaknya menonton bioskop. Dalam kegelapan, Ting mengendus sumber susu terbaru;
susu yang masih sedikit mentah dan mengkal, tapi rasanya distingtif luar biasa. Ting seketika
belingsatan dengan aroma dan teksturnya.
Hubungan mereka berjalan aman dan tertutup dari sepengetahuan siapa pun sampai suatu hari
ayah Mei Fan meninggal dan ibunya memutuskan pindah ke Jakarta untuk tinggal sementara
di rumah Ting. Walaupun usia Lan Fen sudah parobaya, demi Tuhan, Ting bersumpah bahwa
tubuhnya masih liat seperti gadis-gadis muda. Bagaimana Ting mengetahuinya? Sebab ia
pernah menguras isinya.
Seperti tanah yang kebanjiran air hujan di musim semi, begitulah Ting tergenang susu.
Sepuluh bulan yang penuh gandrung, akhirnya Ting berhadapan dengan kejadian terpelik
dalam sejarah hidupnya. Seharusnya Ting bisa menjadi lelaki yang paling bahagia dari semua
kumpulan bajingan di kota setan ini, tapi nyatanya ia berakhir menjadi sebuah kutukan.
Yang hamil pertama kali adalah Mei Fen. Ia berusaha menggugurkannya dengan segala cara.
Kehamilanna hanya berbeda sebulan dengan ibunya. Seperti kecurigaan Ting dari awal, Lan
Fen belum mengalami menopause. Ia masih subur, kebablasan hamil, dan berusaha
menggugurkannya. Mereka berdua tidak pernah berhasil. Para jabang bayi keras kepala

seperti ayahnya. Ting kabur dari keluarga ketika mereka mendesak dan mengancam Ting
setiap hari agar mengawini Mei Fen.

HARI ini, Ting mendapat telepon dari kakak Papa nomor terakhir. Ia mengabari kakak Papa
nomor pertama yang pandai memanggang daging anak babi meninggal. Ia meminta Ting
pulang dan menghadiri upacara kremasi. Di hari-hari terakhirnya almarhum hanya menyebutnyebut nama Ting saja.
Ting mematikan telepon dengan perasaan datar. Ini usaha terbaik adik Papa nomor terakhir
memaksa Ting agar pulang. Sebelumnya Ting sudah berkali-kali ditelepon dan ia selalu
menolak dengan dingin. Demi mengingat apa yang sudah terjadi, siapa yang mau berhadapan
dengan keluarga sendiri untuk dikeroyok dan dipanggang hidup-hidup?
Ada apa? Pacar Ting memandangnya lekat setelah Ting meletakkan telepon di meja. Ia
berhenti membuka bungkusan makanan.
Boh tai ji, kata Ting pendek.
Pacar Ting meraup beberapa potong daging anak babi dari bungkusannya ke piring. Ia
sebenarnya tidak pandai memasak. Dua hari lalu, Ting memesan makanan dari tetangga yang
menjual nasi campur dan aneka daging panggang.
Ting melempar pandang ke arah pacarnya yang sedang mengenakan daster longgar. Sela-sela
kukunya basah dan lengket dipenuhi minyak. Ia menarik kursi, menimbulkan suara derit
pelan. Pahanya tersingkap tanpa sengaja. Ting melihatnya dan terpaku, bermenit-menit.
Gema suara adik Papa nomor terakhir menggertak di kepala, Kn ni na-bu! Dasar babi!
Anak tidak tahu diuntung! Nggak punya titit! Perlahan, ada yang terbangun di balik celana
Ting. (*)

2014

Catatan:
Anak babi yang masih menyusu kepada ibunya: bayi babi yang berusia maksimal 6 minggu,
masih menyusui. Ia dipisahkan dari induknya untuk dikuliti dan dipanggang sampai kering
garing. Disebut dengan r zh pn pn (Mandarin) atau sederhananya, anak babi panggang.
Dalam dialek Hokkien: Suwee, cantik. Ln-chiu, brengsek. Boh tai ji, tidak ada apa-apa.
Kn ni na-bu, bangsat keparat sundal.

Clara Ng tinggal di Jakarta. Buku-bukunya antara lain Blackjack (novel, 2013), Princess,
Bajak Laut, dan Alien (novel anak-anak, 2013), dan Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita
Lainnya (2008).

About these ads


HARI ini, Ting mendapat telepon dari kakak Papa nomor terakhir. Ia mengabari kakak Papa
nomor pertama yang pandai memanggang daging anak babi meninggal. Ia meminta Ting
pulang dan menghadiri upacara kremasi. Di hari-hari terakhirnya almarhum hanya menyebutnyebut nama Ting saja.
Ting mematikan telepon dengan perasaan datar. Ini usaha terbaik adik Papa nomor terakhir
memaksa Ting agar pulang. Sebelumnya Ting sudah berkali-kali ditelepon dan ia selalu
menolak dengan dingin. Demi mengingat apa yang sudah terjadi, siapa yang mau berhadapan
dengan keluarga sendiri untuk dikeroyok dan dipanggang hidup-hidup?
Ada apa? Pacar Ting memandangnya lekat setelah Ting meletakkan telepon di meja. Ia
berhenti membuka bungkusan makanan.
Boh tai ji, kata Ting pendek.
Pacar Ting meraup beberapa potong daging anak babi dari bungkusannya ke piring. Ia
sebenarnya tidak pandai memasak. Dua hari lalu, Ting memesan makanan dari tetangga yang
menjual nasi campur dan aneka daging panggang.
Ting melempar pandang ke arah pacarnya yang sedang mengenakan daster longgar. Sela-sela
kukunya basah dan lengket dipenuhi minyak. Ia menarik kursi, menimbulkan suara derit
pelan. Pahanya tersingkap tanpa sengaja. Ting melihatnya dan terpaku, bermenit-menit.
Gema suara adik Papa nomor terakhir menggertak di kepala, Kn ni na-bu! Dasar babi!
Anak tidak tahu diuntung! Nggak punya titit! Perlahan, ada yang terbangun di balik celana
Ting. (*)HARI ini, Ting mendapat telepon dari kakak Papa nomor terakhir. Ia mengabari
kakak Papa nomor pertama yang pandai memanggang daging anak babi meninggal. Ia
meminta Ting pulang dan menghadiri upacara kremasi. Di hari-hari terakhirnya almarhum
hanya menyebut-nyebut nama Ting saja.
Ting mematikan telepon dengan perasaan datar. Ini usaha terbaik adik Papa nomor terakhir
memaksa Ting agar pulang. Sebelumnya Ting sudah berkali-kali ditelepon dan ia selalu
menolak dengan dingin. Demi mengingat apa yang sudah terjadi, siapa yang mau berhadapan
dengan keluarga sendiri untuk dikeroyok dan dipanggang hidup-hidup?
Ada apa? Pacar Ting memandangnya lekat setelah Ting meletakkan telepon di meja. Ia
berhenti membuka bungkusan makanan.
Boh tai ji, kata Ting pendek.

Pacar Ting meraup beberapa potong daging anak babi dari bungkusannya ke piring. Ia
sebenarnya tidak pandai memasak. Dua hari lalu, Ting memesan makanan dari tetangga yang
menjual nasi campur dan aneka daging panggang.
Ting melempar pandang ke arah pacarnya yang sedang mengenakan daster longgar. Sela-sela
kukunya basah dan lengket dipenuhi minyak. Ia menarik kursi, menimbulkan suara derit
pelan. Pahanya tersingkap tanpa sengaja. Ting melihatnya dan terpaku, bermenit-menit.
Gema suara adik Papa nomor terakhir menggertak di kepala, Kn ni na-bu! Dasar babi!
Anak tidak tahu diuntung! Nggak punya titit! Perlahan, ada yang terbangun di balik celana
Ting. (*)