Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Amubiasis tersebar hampir di seluruh bagian di dunia, diperkirakan 10%
dari penduduk di dunia terkena infeksi dengan amuba. Walaupun prevalansi dan
keganasannya berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya dan meningkat
pada daerah tertentu. Di jakarta penyakit ini dijumpai secara endemik. Pada
pemeriksaan tinja penderita yang tidak mencret di RS Cipto Mangunkusumo
dijumpai berkisar antara 9.3%-13.3%.
Pada akhir abad yang lalu disentri amuba dan abses hati oleh amuba
merupakan penyakit yang fatal. Pada saat itu Ipecacuanha digunakan untuk
pengobatan. Pada tahun 1912 Roger memperkenalkan Emetine hidrochloride
yang pada saat itu menjadi obat yang paling efektif, walaupun pada saat sekarang
obat itu diketahui mempunyai toksisitas pada dosis terapi dan sering dijumpai
relaps. Pada tahun 1915 Du Menz memperkenalkan persenyawaan emetien oral
yang ternyata memberikan angka penyembuhan yang tinggi pada pengobatan
amubiasis usus.
Sekitar tahun 1920-1940 perkembangan obat anti amuba usus semakin
banyak dan pada saat itu sering digunakan preparat Quinline dan Arsen. Pada
tahun 1945 adalah era antibiotik untuk pengobatan amubiasis dan pada tahun
1948 Conan melihat Chloroquine mempunyai efek pada penderita abses hati oleh
amuba, tetapi efektifitasnya lebih rendah dari emetine.
Brossi

dan

kawan-kawan

pada

tahun

1959

memperkenalkan

Dehydroemetine yang pada saat tersebut diterima dengan baik oleh banyak orang,
tetapi toksisitasnya masih diragukan apakah lebih rendah dari emetine sendiri.
Baru pada tahun 1966, Metronidazol suatu turunan Nitro-imidazol dilaporkan
sangat baik untuk pengbatan amubiasis.
1

Pada saat sekarang ini pilihan terhadap obat yang digunakan untuk
penderita amubiasis haruslah mempunyai sifat bekerja sebagai tissue amoebicide,
setelah diabsorbsi langsung berdifusi kedalam mukosa usus dengan segera
membunuh amuba, bekerja sebagai lumen amoebicide dan sangat efektif untuk
membunuh kisata dan trofozoid.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui efek
farmakologi dari obat Anti Amuba terhadap penyakit yang disebabkan oleh
Amuba

1.3 Rumusan Masalah


Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Anti Amuba?
2. Gejala yang timbul saat terserang penyakit yang disebabkan oleh amuba?
3. Penggolongan obat Anti Amuba?
4. Mekanisme kerja dari obat Anti Amuba?
5. Efek samping, indikasi, kontraindikasi dari obat Anti Amuba?

1.4 Batasan Masalah


Pada makalah ini pokok permasalahan hanya membahas tentang penyakit
yang disebabkan oleh amuba, penggolongan obatnya dan penggunaanya terhadap
penyakit tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Amoebiasis Intestinalis


Disentri amoeba adalah penyakit infeksi usus yang ditimbulkan oleh
Entamoeba histolytica, suatu mikroorganisme anaerob bersel tunggal (protozoon).
Dewasa ini dapat dibedakan dua jenis spesies, yaitu E. histoltica yang bersifat
pathogen dan E. dispar yang non patogen.
Amoebiasis adalah penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh
parasit komensal usus. Penyakit ini tersebar hampir diseluruh dunia terutama di
daerah negara tropis yang sedang berkembang. Umumnya disebabkan karena
faktor kepadatan penduduk, higiene individu dan sanitasi lingkungan hidup serta
kondisi sosial ekonomi dan kultural yang kurang menunjang perilaku kesehatan.
Kasus amoebiasis masih sering di jumpai, baik di pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas) maupun dalam praktek kedokteran sehari-hari, tetapi
penanganannya kadangkala kurang memadai, sehingga akan terjadi komplikasi
(penyulit) yang lebih berbahaya. Maka ada baiknya diketahui tentang kasus
amoebiasis agar bisa dilakukan penanganan dan pencegahan yang tepat.
Kuman Penyebab Amoebiasis yaitu Entamoeba histolytica merupakan
protozoa usus, sering hidup sebagai komensal (apatogen=tidak menimbulkan
penyakit) di usus besar manusia. Apabila kondisi tubuh mengizinkan dapat
berubah menjadi patogen (membentuk koloni di dinding usus, menembus dinding
usus dan menimbulkan peradangan). Siklus hidupnya ada 2 macam yaitu bentuk
trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista yang bisa bertahan.
Kuman amoeba bisa menginfeksi di dalam usus, menimbulkan kasus
Amoebiasis Usus Akut, Amoebiasis Usus Kronis (carrier), atau infeksi di luar
usus terutama mengakibatkan penyakit Amoebiasis Hati dan Amoebiasis Paru.

a. Bentuk entamoeba
Entamoeba terdiri atas tiga bentuk, yaitu :
a. Bentuk kista
merupakan bentuk yang tidak aktif dari amuba yang memiliki membran
pelindung yang ulet dan tahan getah lambung.
b. Bentuk minuta (kecil)
Bila makanan yang terinfeksi oleh kista amuba masuk ke usus manusia,
kista akan pecah dan berkembang menjadi bentuk aktif yang disebut
tropozoit, memperbanyak diri dengan pembelahan dan hidup dari bakteribakteri yang ada di usus, akibatnya terjadi luka-luka kecil pada mukosa
usus sehingga menimbulkan kejang perut, diare berlendir dan berdarah.
c. Bentuk Histolitika
Pada kasus tertentu tropozoid melewati dinding usus, berkembang
menjadi 2 kali lebih besar, lalu menerobos ke organ-organ lain (jantung,
paru-paru, otak khususnya hati) di sini tropozoid - tropozoid ini hidup dari
eritrosit dan sel-sel jaringan yang dilarutkan olehnya dengan jalan
fagositosis sehingga jaringan yang ditempatinya akan mati (nekrosis).
Sebagian tropozoid ada yang menjadi kista, akan keluar bersama tinja
penderita, dengan perantaraan lalat, tangan yang kotor atau makanan dapat
masuk lagi ke tubuh manusia yang lain.

Cara amuba masuk ke dalam tubuh

b. Gejala
Masa inkubasi penyakit ini antara beberapa hari dan beberapa bulan
sampai satu tahun.
o Amebiasis Usus (disentri Amueba) yang akut memperlihatkan gejalanya
yang menyerupai disentri basiler (Shigellosis). Awal infeksi ditandai oleh
diare akut yang ringan dan berselang-seling (intermittent), biasanya
berlanjut dengan diare yang mengandung lender dan darah, kejang-kejang,
nyeri perut serta mulas hajat (tenesmus). Gejala lainnya berupa sakit
kepala, mual, dan anoreksia.
o Amebiasis Hati, gejalanya demam tinggi, mual, muntah-muntah da nyeri
di daerah hati yang memancar ke punggung atau bahu juga pembesaran
hati (Hepatomegaly) tetapi dalam kebanyakan hal tidak terjadi diare.
c. Pencegahan
Amoebiasis dapat dihindari dengan cara : makanan dan air minum
sebaiknya di masak dulu dengan baik, karena kista akan binasa bila
dipanaskan 50 derajat Celcius selama 5 menit. Penting sekali adanya jamban
keluarga, isolasi dan pengobatan terhadap carrier. Khusus untuk seorang

carrier (pembawa kista penyakit) dilarang bekerja sebagai juru masak atau
segala pekerjaan yang berhubungan dengan makanan.

2.2 Trichomoniasis
Trichomonas vaginalis adalah protozoon berekor yang bermukim di
saluran genital manusia yang terinfeksi, khususnya di uretra dan vagina. Infeksi
terutama terjadi akibat kontak seksual dan pada bayi yang dilahirkan dari ibu
yang terinfeksi. Pada pria infeksi umumnya berlangsung tanpa gejala, hanya
kadang kala terjadi radang salurang kemih. Pada wanita gangguan ini
menyebabkan radang vagina dengan keputihan kuning-hijau dan berbusa yang
berbau busuk, gatal-gatal dan sukar berkemih

2.3 Giardiasis
Giardia lamblia / intestinalis adalah protozoon dengan benang cambuk
(flagella) dan seperti Entamoeba histolytica dapat menimbulkan infeksi via air
atau makanan yang tercemar kista. Kista ini dalam usus halus segera
memperbanyak diri dan hidup di mukosa, hanya jarang menembusnya. Infeksi
kebanyakan tidak memberikan gejala, misalnya mual, diare, sakit perut, kembung
dan mal absorbs dari bahan makanan. Giardiasis banyak ditemukan di daerah
tropis dan pada wisatawan yang merupakan salah satu penyebab travellers
diarrhoe.

2.4 Antiamuba
Anti Amuba adalah obat-obat yang digunakan untuk mengobati penyakit
yang disebabkan oleh mikro organisme bersel tunggal (protozoa) yaitu
Entamoeba histolytica yang dikenal dengan dysentri amuba.
a. Penggolongan obat
Berdasarkan tempat kerjanya, anti amuba dibagi atas 3 golongan :

1. Amubisid jaringan
Yaitu obat yang bekerja terutama pada dinding usus, hati dan jaringan
ekstra intestinal lainnya. Yang termasuk dalam golongan ini adalah
Dehidroemetin, emetin dan klorokuin.
2. Amubisid Kontak
Yaitu bekerja dalam rongga usus dan disebut juga amubisid kontak. Yang
termasuk golongan ini adalah Diyodohidroksikuin, Iodoklorhidroksikuin,
kiniofon, glikobiarsol, karbarson, emetin bismuth iodide, klefamid,
diloksanid furoat, teklozan etofamid dan beberapa antibiotic, misalnya
tetrasiklin, eritromisin, dan paromomisin.
3. Amubisid yang bekerja pada lumen usus dan jaringan.
Contohnya antara lain, metronidazole dan tinidazol

b. Zat-zat tersendiri
1. Emetin
Alkaloid ini terdapat pada akar tumbuh-tumbuhan Psychotria
ipecacuanha dan berkhasiat sebagai amubisid sistemis, terutama terhadap
bentuk histolytica. Emetin kurang aktif terhadap bentuk minuta, walaupun
sangat efektif untuk meredakan gejala parah akut dari amebiasis usus
maupun amebiasis hati. Emetin sekarang ini hanya boleh digunakan bila
metronidazole tidak efektik atau dikontra indikasi pemberiannya.
2. Derivat 8- hidroksikuinolin (Vioform, iodoklorooksikinolin)
Senyawa ini selain berkhasiat sebagai anti bakteri dan fungisid juga
berdaya amubisid khususnya terhadap Entamoeba bentuk minuta, tetapi
tidak efektif terhaap bentuk histolitika. Mekanisme kerjanya berdasarkan
pelepasan unsur iod dalam usus (kadar iodnya lebih kurang 40%).
Digunakan sebagai amubisid kontak pada amebiasis usus dan pengobatan
bagi pembawa kista. Reabsorbsinya di usus buruk dan bervariasi, rata-rata

hanya 10% yang diekskresikan cepat lewat kemih sebagai konjugat.


Sisanya yang tak disera perlahan-lahan dikeluarkan melalui tinja.
Efek samping : gangguan saluran cerna, sedangkan penggunaan
yang lama dalam dosis tinggi (> 2 g sehari) dapat menyebabkan neuropati
toksis, yakni dikenal dengan sebagan SMON (Subacute Myelo Optic
Neuropathy).
Dosis : 3 dd 250-500 mg selama 7-10 hari. Bila setelah ini ternyata
tinja belum seluruhnya bebas dari kista, maka setelah istirahat 8 hari perlu
diulang bahkan sampai 3 kali.
3. Klorokuin (Nivaquine, Resochin, Avloclor)
Senyawa 4-aminokinolin ini selain berkhasiat antimalaria dan
antiradang, juga berkhasiat amebisid terhadap bentuk jaringan (amebisid
hati). Kerjanya kurang kuat, maka biasanya hanya digunakan dalam
kombinasi

dengan metronidazole. Atau bila dengan pengobatan

metronidazole

tidak

efektif

atau

ada

kontra

indikasi

terhadap

penggunaannya. Tidak efektif terhadap bentuk minuta dalam colon,


karena kadar pada dinding usus jauh lebih rendah daripada di hati, juga
resorpsinya di usus cepat dan praktis lengkap. Klorokuin berakumulasi di
dalam hati sampai konsentrasi yang sangat tinggi, sehingga sangat efektif
terhadap abses hati dan amebiasis hati. Lewat pengobatan beberapa hari
saja, gejala amebiasis hati sudah hilang. Pengobatan dengan klorokuin
perlu disusul dengan diloksanida atau kliokinol.
Efek samping jarang terjadi dan biasanya berupa sakit kepala, gatalgatal, gangguan saluran cerna ringan dan gangguan akomodasi. Golongan
ini terakumulasi di dalam hati, ginjal dan mata, sehingga pada terapi
jangka panjang perlu diadakan pemeriksaan mata setiap 3-6 bulan.
Anak-anak sangat peka terhadap senyawa 4-amino-kinolin sehingga
pemakaiannya pada anak-anak berusia 1-3 tahun perlu sangat hati-hati.

Dosis : pada amebiasis hati 2 dd 300 mg basa untuk 2 hari,


kemudian 1 dd 300 mg selama 2-3 minggu. Untuk anak-anak 10 mg/kg
sehari selama 2-3 hari, maksimal 300 mg perhari.
4. Metronidazol (Flagyl, Flagystatin, Radogyl)
Senyawa nitro-imidazol ini memiliki spectrum anti protozoa dan
antibacterial yang luas. Berkhasiat kuat terhadap semua bentuk
entamoeba, juga terhadap protozoa pathogen anaerob lainnya, seperti
Trichomonas dan Giardia. Obat ini juga aktif terhadap semua cocci dan
basil anaerob gram positif dan gram negative, tetapi tidak aktif terhadap
kuman aerob. Metronidazol berkhasiat amebiasid jaringan kuat dan
amebiasid kontak lemah, karena resorpsinya di usus yang cepat, sehingga
kadar dalam rongga usus tidak sempat mencapai kadar terapeutik tinggi.
Mekanisme kerjanya, dalam organisme atau bakteri gugusan nitro
direduksi oleh enzim dan membentuk zat-zat antara yang merintangi
sintesa DNA dan merusak DNA, sehingga sintesa asam nukleat terganggu.
Efek mutagennya juga diperkirakan berdasarkan mekanisme ini.
Toksisitasnya juga lebih ringan dibandingkan emetin.
Penggunaan obat ini merupakan pilihan pertama untuk amebiasis
hati. Pada infeksi Helicobacter Pylori digunakan pada triple/quadruple
therapy, bersamaan dengan 2 atau 3 obat lain (bismutoksida, omeprazole,
amoksisilin).
Efek sampingnya ringan dan berupa gangguan saluran cerna, mulut
kering dan rasa logam, pusing atau sakit kepala, rash kulit dan adakalanya
leukopenia. Air kemih dapat menjadi coklat kemerah-merahan disebabkan
oleh zat warna yang terbentuk. Selama terapi tidak boleh minum alcohol
karena dapat menimbulkan efek disulfiram yaitu intoksikasi asetaldehid
dengan vasodilatasi perifer, muka merah, jantung berdebar-debar dan
nyeri kepala Metronidazol tidak dianjurkan penggunaannya untuk

gangguan ringan seperti vaginitis, karena tersedianya obat-obat lain yang


juga efektif. Tidak pula selama kehamilan dan laktasi.
Dosis pada amebiasis 3 dd 750 mg selama 5-10 hari atau 1 dd 2,5 g
selama 2-5 hari. Untuk anak-anak dosisnya adalah 30-50 mg/kg sehari
dalam 3 dosis selama 5-10 hari. Pada keadaan parah lazimnya
dikombinasi dengan klorokuin atau tetrasiklin 4 dd 250-500 mg.
Pada trichomoniasis oral sekaligus 2 g sebagai single dose, bila tidak
efektif maka 2 dd 500 mg selama 7 hari. Tablet vaginal dari 500 mg
malam hari selama 10 hari. Bila perlu dapat diulang setelah 4-6 minggu.
Pada giardiasis adalah 1 dd 2 g untuk 3 hari atau 3 dd 250 mg selama
5-7 hari. Untuk anak-anak sampai 10 tahun dosisnya adalah sehari 20
mg/kg berat badan dibagi dalam 2-3 dosis selama 7 hari.
a. Tinidazol (Fasigyn, Flatin)
Derivat ini juga memiliki khasiat antiprotozoal yang luas dengan
sifat lipofil yang lebih besar dibandingkan derivate-derivat nitro imidazole
lainnya. Berkhasiat lebih lama dari pada metronidazole dengan efek
sampingnya yang sangat ringan.
Dosisnya pada amebiasis adalah sekaligus 4 tablet dari 500 mg
selama 3 hari, pada trichomoniasis dan giardiasis dosis tunggal dari 4
tablet sudah mencukupi.
b. Secnidazol (Flagentyl)
Merupakan derivate dengan khasiat sama seperti metronidazole,
tetapi kerjanya lebih panjang. Efek sampingnya lebih kuat dan lebih sering
terjadi. Dosisnya adalah 1 dd 4 tablet dari 0,5 g p.c selama 3-5 hari.
c. Nimorazol (nitrimidazin, naxogin)
Merupakan derivate dengan khasiat dan penggunaan yang sama.
Dosisnya pada amebiasis adalah sekaligus 8 tablet dari 250 mg p.c selama
7 hari. Pada trichomoniasis adalah 3 dd 4 tablet dengan interval 12 jam
dan pada giardiasis adalah sekaligus 4 tablet selama 5 hari.
10

5. Diloksanida (furamide)
Ester furoat dari derivate diklorasetamida ini sangat efektif terhadap
bentuk minuta dalam usus. Diperkirakan furamida lebih efektif daripada
kliokinol, tetapi terhadap bentuk jaringan tidak berkhasiat. Digunakan
pula dalam bentuk ester furoat dengan resorpsi lebih ringan dan lambat
daripada senyawa induknya diloksanida, hingga dapat melakukan
aktivitasnya dalam rongga usus secara lebih intensif. Diloksanida furoat
merupakan obat pilihan pertama untuk pengobatan pembawa kista
asimtomatis.
Efek sampingnya ringan, antara lain gangguan saluran cerna,
terutama flatulensi yaitu banyak gas tertimbun dalam usus. Dosis sebagai
amebiasis kontak untuk anak-anak di atas 12 tahun adalah 3 dd1 tablet
dari 500 mg a.c selama 10 hari. Anak-anak di bawah 12 tahun adalah 20
mg/kg berat badan sehari dalam 3 dosis.
6. Antibiotika Amoebiasid
Beberapa antibiotik berkhasiat anti amebiasis intestinal, terutama
paromomisisin, beberapa senyawa tetrasiklin dan eritromisin. Dari ketiga
antibiotic ini paromomisisn yang berkhasiat amebisid langsung,
sedangkan yang lainnya mengganggu flora usus yang dibutuhkan untuk
perkembangan amuba pathogen.
-

Paromomisisn ( Gabbroral)
Merupakan antibiotic aminoglikosida yang diperoleh dari Streptomyces
rimosus dan bekerja langsung terhadap amuba bentuk usus. Di samping
itu

senyawa

ini

juga

memiliki

kegiatan

antibacterial

terhadap

mikroorganisme normal maupun pathogen di saluran cerna. Paromomisin


juga efektif terhadap infeksi oleh beberapa jenis cacing pita. Pada
penggunaan oral zat ini praktis tidak diabsorbsi dan sangat toksis bagi
telinga. Dosisnya adalah 25-35 mg/kg daqlaqm 3 dosis selama 5-10 hari
secara oral.
11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut :
-

Amuba adalah parasit yang terdapat dalam makanan dan minuman yang
tercemar, kemudian masuk terlelan oleh manusia, dan menetap di usus, yang
dapat menimbulkan infeksi pada usus.

Anti amuba adalah obat-obatan yang digunakan untuk mencegah penyakit


yang diakibatan oleh parasit bersel tunggal (protozoa) yang disebut entamoeba
histolitika (disentri amuba).

Bentuk entamuba terdiri dari bentuk kista, bentuk minuta dan bentuk
histolitika

Berdasrkan tempat kerjanya, anti amuba terdiri dari amubisid jaringan,


amubisi kontak dan amubisid yang bekerja pada lumen usus dan jaringan.

12