Anda di halaman 1dari 16

1

PERCOBAAN VI
PANCA INDERA
I. TUJUAN PERCOBAAN
Mengenal mekanisme fisiologi dan sifat-sifat indera
II. TINJAUAN PUSTAKA
Macam-macam alat indera pada manusia:
a. Lidah (indera pengecap)
Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa
dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis
dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat
menikmati makanan dan minuman karena adanya indra pengecap ini. Bagian lidah yang
depan berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam,
bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakang
untuk rasa pahit.
Pada hakekatnya, lidah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan indera
khusus pengecap. Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsic
lidah melakukan semus gerakan halus, sementaea otot ektrinsik mengaitkan lidah pada
bagian-bagian sekitarnya serta melaksanakan gerakan-gerakan kasar yang sangat penting
pada saat mengunyah dan menelan. Lidah mengaduaduk makanan, menekannya pada
langit dan gigi dan akhirnya mendorong masuk faring
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan
kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap
berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang
mempunyai tonjolan seperti rambut.
Lidah terletak pada dasar mulut, sementara pembuluh darah dan urat saraf
masuk dan keluar pada akarnya. Bila lidah digulung kebelakang, maka tampaklah
permukaan bawahnya yang disebut frenulum linguae, sebuah struktur ligament halus
yang mengaitkan bagian posterior lidah pada dasar mulut. Bila dijulurkan maka ujung
lidah akan meruncing, dan bila terletak tenang didasar mulut, maka ujung lidah berbentuk
bulat.
Selaput lender (membrane mukosa ) lidah selalu lembab, dan pada waktu sehat
berwarna merah jambu. Permukaan atas nya seperti beludru dan ditutupi papil-papil,
yang terdiri atas 3 jenis.
a. Papillae sirkumualata adalah jenis papillae yang terbesar, dan masing-
masing dikelilingi semacam lekukan seperti parit. Tersusun berjejer membentuk huruf V
pada bagian belakang lidah.
b. Papillae fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan
berbentuk jamur.
2

c. Papillae filiformis adalah yang terbanyak dan menyebar pada seluruh
permukaan lidah. berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang
sebenarnya.

b. Kulit ( indera peraba)

Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu,
sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya. Pada kulit terdapat reseptor
yang merupakan percabangan dendrit dari neuron sensorik yang banyak terdapat di
sekitar ujung jari, ujung lidah, dahi, dll.

c. Mata ( indera pelihat)

Mata adalah indera yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya
dalam bentuk gambar sehingga mampu dengan mengenali benda-benda yang ada
disekitarnya dengan cepat. Jumlah mata manusia ada dua buah yang bekerja saling
menunjang satu sama lain.
Dimata terdapat reseptor khusus cahaya yang disebut fotoreseptor. Setiap
mata mempunyai satu lapisan reseptor, suatu sistem lensa untuk memusatkan cahaya
pada reseptor , dan sistem saraf untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke otak.

Struktur dan anatomi mata
o Bola mata
Umumnya mata dilukiskan sebagai bola, tetapi sebetulnya lonjong dan
bukan bulat seperti bola. Bola mata mempunyai garis tengah kira-kira 2 cm, bahgian
depannya bening, serta terdiri dari 3 lapisan :
1. Lapisan luar, fibrus, yang merupakan lapisan peyangga
2. Lapisan tengah, vaskulker
3. Lapisan dalam, lapisan saraf
Bagian-bagian yang termasuk kedalam bola mata memiliki fungsi yang berbeda,
sebagai berikut:
1. Sklera
Melindugi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola
mata.
2. Otot-otot
Otot-otot yang melekat pada mata :
o Muskulus reseptor superior : menggerakan mata ke atas
3

o Muskulus reseptor inferior : menggerakan mata ke bawah
3. Kornea : memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya
4. Badan siliaris : menyokong lensa dan mengandung otot yang
memungkinkan lensa untuk berakomodasi.
5. Iris : mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil,
mengandung pigmen.
6. Lensa : memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
7. Bintik kuning (fovea) : bagian retina yang mengandung sel kerucut
8. Bintik buta : daerah saraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
9. Vitreous humor : menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
10. Aquous humor : menjaga bentuk kantong bola mata
Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar kedalam yaitu:
o Tunica vibrosa terdiri dari sclera
o Tunica vascilosa merupakan bagian tengah bola mata.
o Tunica nervosa ( retina) merupakan reseptor mata yang terlrtak pada
bagian belakang koroid.
Alat-alat tambahan mata terdiri dari :
o Alis : terdiri dari rambut kasar yang terletal melintang diatas mata,
fungsinya untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat.
o Kelopak mata : ada 2, yaitu atas dan bawah kelopak mata atas lebih
banyak bergerak dari kelopak yang bawah. Untuk menutup mata dilakukan oleh otot-otot
yang melingkari kelopak mata atas dan bawah yaitu musculus orbicularis oculi.
o Bulu mata : barisan bulu-bulu terletak disebelah anterior dari kelenjar
meibow, kelenjar sroacea yang terletak pada akar bulu-bulu mata disebut kelenjar Zeis.
o Apparatus lacrimalis : terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis,
canalis lacrimalis, dan ductus nassolacrimalis.
Cara kerja mata: cahaya memasuki mata melalui pupil. Lensa mata mengarahkan
cahaya sehingga benda jatuh keretina. Kemudian ujung saraf penerima yang ada pada
retina menyampaikan bayangan benda itu ke otak. Setelah diproses di otak kit adapt
melihat benda itu.
d. Telinga (indera pendengar)
Telinga adalah oragan pendengaran. Saraf yang melayani indera ini adalah
saraf cranial kedelapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu
telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.
Telinga luar terdiri atas aurikel atau pinna. Liang ini berukuran panjang
sekitar 2 cm sepertiga luarnya adalah tulang rawan sementara 2/3 dalamnya berupa
tulang. Bagian tulang rawan tidak lurus serta bergerak kearah atas dan belakang.
4

Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang mengandung
udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membrana timpani atau gendang telinga, yang
memisahkan rongga itu dari meatus auditorius externa. Rongga itu sempit serta memiliki
dinding tulang dan dinding membranosa, sementara pada bagian belakangnya
bersambung dengan antrum mastoid dalam proses mastoideus pada tulang temporalis,
melalui sebuah celah yang disebut aditus.
Tulang-tulang pendengaran adalah tiga tulang kecil yang tersusun pada
rongga telinga tengah seperti rantai yang bersambung dari membrane timpani menuju
rongga telingga bagian dalam .
Rongga telinga bagian dalam berada dalam bagian os petrosum tulang
temporalis. Rongga telinga bagian dalam ini terdiri dari berbagai rongga yang
menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis. Rongga-rongga itu disebut labirin
tulang, dab dilapisi membran sehingga membentuk labirin membranosa.
Kokhlea adalah sebuah tabung berbentuk spiral yang membelit dirinya
laksana sebuah rumah siput. Belitan-belitan itu melingkari sebuah sumbu berbentuk
kerucut yang memilki bagian tengah dari tulang, dan disebut modiulus.
Dalam setiap belitan ini terdapat saluran membranosa yang mengandung
ujung-ujung akhir saraf pendengaran. Cairan dalam labirin membranosa disebut
endolimfe, sementara cairan diluar labirin membranosa dalam labirin tulang disebut
perilimfe.
Nervus auditorius (saraf pendengaran) terdiri dari 2 bagian: salah satu dari
padanya pengimpalan sensibilitas dari bagian vestibuler rongga telinga dalam, yang
mempunyai hubungan dengan keseimbangan. Bagian kokhlearis pada nervus auditorius
adalah saraf pendengar yang sebenarnya.
e. Hidung (indera penciuman)

Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan
sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. Kita mampu dengan mudah mengenali
makanan yang sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan
mencium aroma makanan tersebut. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel
kemoreseptor untuk mengenali bau.
Rasa penciuman dirangsang oleh gas yang terhirup ataupun oleh unsur-
unsur halus. Rasa penciuman ini sangat peka, dan kepekaan ini mudah hilang bila
dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk suatu waktu yang cukup lama.
Indra penciuman mempunyai reseptor yang hampir sama dengan resptor pengecap
yaitu kemoreseptor.
Organ penciuman ini terdri atas dua lapisa :
5

a. Epitel olfaktorius yang terdiri atas sel resptor penciuman ( sel olfaktorius),
sel penyokong (sel sustenkular) dan sel basal. Epitel ini dalam keadaan hidup tampak
berwarna kekuningan.
b. Lamina propria merupakan lapisan yang terdapat dibawah epitel
olfaktorius dan disusun oleh jaringan ikat longgar. Lapisan ini mengandung akson sel
olfaktorius, pembuluh darah dan kelenjar olfaktorius ( dikenal sebagai kelenjar bowman)
yang mengajasilakn secret serosa.
Alat indera dibagi 3 kelompok :
a. Kemoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan zat
kimia yaitu indera pembau (hidung) dan indera pengecap (lidah).
b. Mekanoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan
gaya berat, tegangan suara dan tekanan indera peraba (kulit) dan indera pendengaran
(hidung).
c. Photoreseptor/fotoreseptor adalah alat indera yang meresepon terhadap
rangsangan cahaya seperti indera penglihatan (mata).


III. BAHAN DAN ALAT
BAHAN
- Larutan kinin sulfat 0,1% - Larutan HCl 0,0009 N
- Larutan kinin sulfat 0,000008 M - Kapas
- Larutan sukrosa 0,01 M dan 5% - Kamfer
- Larutan asam asetat 1% - Minyak Permen
- Larutan Natrium klorida 0,01 M dan 10% - Minyak Cengkeh
ALAT
- Model anatomis telinga - Garpu tala
- Model anatomis mata - Jam/Stopwatch
- Pengukur pupil mata - Penutup mata
- Lampu senter - Penutup hidung
- Pipet tetes - Plat warna inhihara
- Kartu snellen






6

IV. CARA KERJA
A. Penglihatan (Visual)
1. Anatomi mata
Amati mata kambing/sapi yang tersedia dan temukan bagian-bagian mata yang
terpenting dan temukan juga bagian-bagian tersebut pada model anatomic mata manusia,
kemudian cantumkan bagian-bagian dari gambar 7.1 pada text book.
1. Fisiologi penglihatan
a. Refleks akomodasi
1. Ukur pupil mata dan amati adanya perbedaan ukuran pupil mata di bawah
sinar biasa dan sinar terang.
2. Ukur pupil mata bila mata melihat objek pada jarak 5 meter maupun 20
cm.
3. Tabel pengamatan:
Jarak /
keadaan cahaya
Gelap Terang
20 cm
5 cm
b. Titik dekat
1. Fokuskan mata pada objek (mis : pensil/Batang pengaduk) berjarak 1
meter.
2. Perlahan-lahan gerakkan objek mendekati mata sampai objek terlihat
berganda.
3. Gerakkan kembali menjauh sampai objek tampak lagi sebagai objek
tunggal.Jarak ini disebut titik dekat untuk akomodasi.
4. Tabel pengamatan:
Jarak
terlihat barganda
Jarak
kembali menjadi
objek tunggal
Jarak
(cm)

c. Bintik Buta
1. Bintik buta adalah area pada retina dimana saraf-saraf optis dan pembuluh
darah meninggalkan retina, dengan demikian tidak memiliki reseptor visual.
2. Tutup mata kiri, fokuskan mata kanan pada salib dengan jarak 60 cm.
3. Dengan mata kanan tetap terfokus pada tanda salib, gerakkan gambar ini
mendekati mata. Pada jarak tertentu bintik-bintik hitam akan hilang, tapi muncul kembali
pada jarak yang lebih dekat.Hitung jarak ini.
4. Tabel pengamatan:
7

Objek(titik hitam)tak
tampak
Objek Nampak kembali
Jarak
(cm)

d. Ketajaman penglihatan
1. Uji ketajaman penglihatan dengan kartu snellen yang ditentukan pada
jarak yang ditentukan (bagi yang berkaca mata lakukanlah uji ini dengan dan tanpa kaca
mata)
2. Ketajaman penglihatan dinyatakan sebagai:
V= d/D
D = Jarak pada mana huruf seharusnya dapat dibaca (mata normal)
D = Jarak pada mana huruf dapat dilihat dengan jelas (dapat dibaca)
B. Kecap/ rasa
1. Anatomi Lidah
Pada Gambar 7.3 Anatomi Lidah
2. Distribusi reseptor kecap
Dengan menggunakan satu tetes dari larutan dibawah ini, tentukan lokasi reseptor
untuk empat jenis rasa lidah:
- Larutan kinin sulfat 0,1%
- Larutan sukrosa 5%
- Larutan asam asetat 1%
- Larutan natrium klorida 10%
Tiap kali setelah mengecap satu rasa, kumurlah dengan air tawar:
Jenis larutan Lokasi reseptor
Larutan kinin sulfat 0,1%
Larutan sukrosa 5%
Larutan asam asetat 1%
Larutan natrium klorida
10%

3. Nilai ambang rasa
a. Larutan-larutan berikut merupakan larutan yang memiliki rasa pada nilai
ambang rasa lidah (pada rata-rata orang)
- Pahit : kinin 0,000008 M
- Manis : sukrosa 0,1 M
- Asam : asam klorida 0,009 M
- Asin : natrium klorida 0,01 M
8

b. Seluruh anggota kelompok cobalah apakah hal ini benar, dengan
meneteskan tiap tetes larutan pada lidah yang bersih.Sebelum dicicipi, larutan dipanaskan
dulu 37C dan sewaktu mencicipi lidah tidak goyang.
Rasa Zat Kosentrasi Pembuktian
Pahit Kinin 0,000008 M
Manis Sukrosa 0,1 M
Asam Asam
klorida
0,009 M
Asin Natrium
klorida
0,01 M
C. Pendengaran
1. Anatomi
Gambar 7.4 Anatomi Telinga
2. Ketajaman pendengaran
Pada saat melakukan uji ini, ruangan harus sepi
Tempatkan seluruh jam yang berdetak pada telinga kanan salah satu
anggota kelompok mata harus tertutup dan telinga kiri disumbat dengan kapas
Jatuhkan jam perlahan-lahan, kemudian tentukan jarak dimana detak jam
tepat tak terdengar lagi
Jauhkan jam tersebut sedikit lagi dan kemudian perlahan-lahan dekatkan
kembali pada telinga.Tentukan jarak dimana detak jam tepat terdengar kembali.Apakah
jarak yang diperoleh dengan kedua cara tersebut diatas sama besar?
Lakukanlah hal yang sama pada telinga kiri dengan telinga kanan yang
tersumbat
Bandingkanlah ketajaman pendengaran telinga kanan dan kiri
Tabel pengamatan:
Bunyi Alarm Telinga
Kanan Kiri
Jarak (m)
3. Uji Weber
Uji ini merupakan salah satu uji untuk menentukan ketulian.Uji ini tidak
dilakukan diruangan yang sepi
Pukulkan sebuah garputala(sedapatnya dengan frekuensi 512 cps) pada
lutut saudara, kemudian gigit garputala ini diantara gigi, dengan bibir terbuka
Orang dengan pendengaran normal akan melokalisir suara yang terdengar
seakan berasal pada posisi median
9

Bila seseorang menderita ketulian konduksi pada satu telinga, maka suara
ini akan lebih jelas terdengar pada telinga tersebut
Bila ketulian saraf yang diderita pada salah satu telinga, maka suara ini
akan lebih jelas terdengar ditelinga yang normal
Untuk mendapatkan keadaan yang serupa ketulian konduksi, lakukan
percobaan ini dengan satu telinga tersumbat kapas
4. Komponen pendengaran
Mulai dari telinga luar ketelinga bagian dalam
Komponen alat
pendengaran
Fungsi



5. Uji keseimbangan
Satu orang anggota kelompok berdiri tegak, kemudian merapatkan
kakinya dan menutup matanya
Dalam keadaan demikian, catat apakah ia sanggup berdiam selama 5
menit tanpa bergerak
Bila alat keseimbanagn dalam keadaan tidak baik, maka seseorang tidak
sanggup memelihara keseimbangannya
D. Penciuman
1. Anatomi
Gambar sel epitel ofaktorius
2. Adaptasi penciuman
Tutup mata salah satu anggota kelompok
Cium kamfer pada satu lubang hidung, lubang hidung lainnya ditutup
Apakah bau tersebut langsung tercium?
Bila tercium terus menerus, catat waktu yang dibutuhkan sampai subjek
tak dapat lagi mendeteksi bau tersebut(waktu adaptasi)
Langsung minta kepada subjek agar ia membedakan/mengenali bau minya
permen dan minyak cengkeh dengan lubang hidung yang telah teradaptasi tadi
Catat pengamatan saudara dan cari landasan-landasan teorinya
Adaptasikan lagi salah satu lubang hidungnya dengan kamfer
Catat pengamatan saudara
Tabel pengamatan:
Bahan Adaptasi organ
penciuman
Kan Kir
10

an i
Kamfer
Cengkeh
Minyak permen
3. Transmisi Impuls penciuman
Gambar Transmisi impuls penciuman manusia, secara skematis.
4. Interaksi rasa dengan penciuman
Tutup kedua lubang hidung subjek dan kedua matanya.
Pada lidah subjek yang terjulur, tempatkan bergantian potongan-potongan
jambu air, bawang merah dan kentang.
Apakah dapat diindentifikasi makanan-makanan ini?
Ulangi dengan lubang hidung terbuka


5. Nystagmus dan uji air es
Ikuti refleks nystagmus pada tiap anggota kelompok dengan cara memutar
kepala kesatu arah sembil memeperhatikan suatu objek yang diam
Akan terjadi pergeakan bola mata mengikuti dan suatu saat terjadi
loncatan dari bola mata
Masukkan air es kedalam salah satu telinga. Uraikan perasaan yang
dialami dan catat ada atau tidaknya nystagnimus.
E. Visceral refleks
1. Refleks foto pupil
2. Refleks konsensual terhadap cahaya (Consensual light refeks)
3. Refleks akomodasi
4. Refleks siliospinal
5. Refleks sfingter cardiak
F. Pengujian fungsi saraf cranial
1. Pengujian fungsi saraf cranial
Lakukan percobaan-percobaan berikut ini amati serta cata hasilnya.
Tentukan saraf mana yang diuji pada masing-masing percobaan dan bahas
hasil yang diperoleh.
a. Bedakan bermacam-macam bau dengan menggunakan kedua lubang
hidung (kopi, nanas, teh, cuka)
b. Bacalah tulisan dengan tiap mata jika menggunakan kaca mata tetaplah
dipakai.
c. Berikan sinar pada masing-masing mata secara terpisah. Amati dan ukur
perubahan ukuran pupil mata. Amati pergerakan mata dengan menggerakkan jari ke atas,
bawah, kiri dan kanan.
11

d. Katupkan rahang atas dan bawah, rabalah kekerasan otot kunyah. Lakukan
uji sensasi sentuhan pada seluruh muka dengan menggunakan kapas.
e. Gerakkan mata ke samping.
f. Kerutkan dahi, senyum dan bersiullah.
g. Bisikkan kata-kata pada teman anda dan suruhlah ia mengulangi kata-kata
tersebut.
h. Berjalanlah, jagalah keseimbangan badan sambil sebelah kaki diangkat.
i. Berbicaralah dan menelan. Amati apakah ada kelainan.
j. Naikkan pundak yang sebelumnya telah diberi tekanan. Belokkan kepala
ke arah yang diberi tekanan.
k. Julurkan lidah.
2. Distribusi dan fungsi saraf cranial
Tempatkan bagian tubuh berikut sesuai dengan distribusi saraf cranialnya.
Organ dalam rongga perut dan rongga dada, otot kunyah, kulit muka dan kepala,
gigi, otot sterocleidoinastoid, telinga dalam, otot mata ekstrinsil, otot trapezius, iris
mukosa lidah, otot-otot ekspresi muka, mukosa faring, mukosa hidung, otot lidah, retina,
otot menelan.















12

V. JAWABAN PERTANYAAN-PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan akomodasi ? otot-otot mana yang terlihat
dalam akomodasi ini dan bagaimana kerjanya ?
Jawab : Akomodasi adalah kemampuan dari mata untuk :
mencembungkan/memperbesar daya lensa mata sehingga stimulus penglihatan/obyek
yang terletak lebih dekat dari PR (Punctum Remotum), masih dapat dilihat dengan jelas.
Akomodasi pada mata diatur oleh saraf parasimpatis. Perangsangan serabut
parasimpatis pada mata akan menyebabkan muskulus siliaris berkontraksi, kemudian
merelaksasi ligamen lensa dan meningkatkan daya biasnya. Dengan meningkatnya daya
bias, mata dapat memfokuskan benda yang lebih dekat.
2. Bagaimana terjadinya bentuk dan posisi iris pada akomodasi untuk
melihat ?
Jawab :
Akomodasi pada mata diatur oleh saraf parasimpatis. Perangsangan serabut
parasimpatis pada mata akan menyebabkan muskulus siliaris berkontraksi, kemudian
merelaksasi ligamen lensa dan meningkatkan daya biasnya. Dengan meningkatnya daya
bias, mata dapat memfokuskan benda yang lebih dekat.
3. Apakah yang dimaksud dengan presbiopi, myiopi dan hipermetropi ?
Jawab :
Miopia
Miopi (rabun jauh) adalah kelainan pada mata yang ditandai dengan mata tidak
dapat melihat jauh. Hal itu terjadi karena bola mata terlalu panjang dan bayangan benda
jatuh di depan bintik kuning. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai kaca mata
berlensa cekung (negatif).
Hipermetropi
Hipermetropia (rabun dekat) adalah kelainan pada mata yang ditandai dengan
mata tidak dapat melihat dekat. Hal itu terjadi karena bola mata terlalu pendek dan
bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai
kaca mata berlensa cembung (positifl.
Presbiopia
Presbiopia (rabun dekat danjauh) adalah kelainan yang ditandai dengan mata tidak
dapat melihat dekat dan jauh. Hal itu terjadi ka.rena daya akomodasi mata mulai
berkurans. Kelainan ini dialami oleh orang tua sehingga disebut juga mata tua. Kelainan
ini dapat diatasi dengan memakai kacamata berlensa rangkap, yaitu bagian atas berlensa
cekung (negatif) dan bagian bawah berlensa cembung (positif).

4. Bagaimana mengoreksi kelainan-kelainan ini ?
Jawab :
13

Pemeriksaan refraksi terdiri dari 2 yaitu refraksi subyektif dan refraksi obyektif.
Refraksi subyektif tergantung respon pasien untuk mendapatkan koreksi refraksi yang
memberikan tajam penglihatan terbaik.


Gambar 4. Pemeriksaan Mata
Refraksi obyektif dilakukan dengan retinoskopi. Mayoritas retinoskopi
menggunakan sistem proyeksi streak yang dikembangkan oleh Copeland. Retinoskopi
dilakukan saat akomodasi pasien relaksasi dan pasien disuruh melihat ke suatu benda
pada jarak tertentu yang diperkirakan tidak membutuhkan daya akomodasi.
Idealnya, pemeriksaan kelainan refraksi dilakukan saat akomodasi mata pasien
istirahat. Pemeriksaan mata sebaiknya dimulai pada anak sebelum usia 5 tahun. Pada usia
20 50 tahun dan mata tidak memperlihatkan kelainan, maka pemeriksaan mata perlu
dilakukan setiap 1 2 tahun. Setelah usia 50 tahun, pemeriksaan mata dilakukan setiap
tahun.
5. Apa pula yang dimaksud dengan emmetropia ?
Jawab :
Emetropi adalah terjadi jika berkas cahaya sejajar dari benda jauh berada dalam
fokus tajam pada retina ( muskulus siliaris berelaksasi)
6. Jelaskan perubahan-perubahan kimia apa dalam menerima sensasi cahaya
dan warna
Jawab :


7. Apa yang sesungguhnya terjadi pada keadaan buta warna ?
Jawab :
Penderita buta warna tidak dapat membedakan warna tertentu. misalnya merah,
hijau. dan biru. Buta warna merupakan penyakit keturunan yang tidak dapat
disembuhkan. Buta warna lebih banyak diderita laki-laki dari pada perempuan.
8. Organ apa dari mata yang mengalami kelainan pada keadaan buta warna ?
Jawab :
Buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan
ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum
14

warna tertentu sehingga warna objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya. Pada
keadaan normal, terdapat bagian mata yang disebut retina. Retina memiliki dua macam
sel yaitu sel batang (rod cells) dan sel kerucut (cone cells) yang peka terhadap cahaya. Sel
batang ini lebih peka pada malam hari dan juga warna hitam dan putih. Sedangkan sel
kerucut lebih banyak bekerja pada siang hari yang peka terhadap berbagai warna. Sel
kerucut ada 3 jenis yang masing masing paling peka terhadap spektrum warna merah,
hijau dan biru.
9. Apakah yang terjadi pada keadaan buta warna merah-hijau ?
Jawab :
Buta warna merah hijau sejauh ini merupakan bentuk paling umum buta warna.
Seorang individu dengan bentuk ini buta warna sebenarnya tidak buta untuk kedua merah
dan hijau pada waktu yang sama, tetapi lebih baik buta warna merah, atau buta warna
hijau. Namun hasilnya sama, ketidakmampuan untuk membedakan antara berbagai warna
merah dan hijau.
10. Buatlah bagian lidah dan sebutkan bagian-bagian yang memiliki dan yang
tidak memiliki reseptor kecap.
Jawab :

11. Apakah yang dimaksud dengan decibel dan decibel zero pada sistem
pendengaran ?
Jawab :
Selain dari frekuensi, suara juga dapat diukur dari kebisingan (loudness). Jika
batas kebisingan dinyatakan dengan 0 desibel, maka suara bisikan kira-kira mempunyai
kebisingan 20 desibel dan percakapan normal mempunyai kebisingan 50 hingga 70
desibel. Suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 170 desibel bisa menyebabkan
kerusakan gendang telinga.
12. Jelaskan fungsi dan bagian-bagian dari organ corti
Jawab :
Organ corty merupakan organ reseptor yang menimbulkan imfuls saraf akibat
getaran membran basiliaris. Reseptor sensoris dalam organ corti adalah dua jenis sel
rambut (sel rambut dalam dan sel rambut luar

15

13. Jelaskan bagian-bagian dan fungsi olfaktory membrane
Jawab :
Membran olfaktoria terletak pada bagian superior rongga hidung, sel-sel reseptor
untuk penciuman adalah sel-sel olfaktoria tang merupakan sel bipolar berasal dari SSP.
Sel olfaktoria terangsang apabila udara mengalir keatas, masuk daerah superior hidung.
Reseptor olfaktoria memberi respon dalam milidetik terhadap senyawa yang mudah
menguap.
Indera penciuman, indera olfaktorius, berhubungan dengan struktur sensorik.
Reseptor olfaktorius ini diklasifikasikan sebagai kemoreseptor, yang berarti bahwa
mereka dirangsang oleh bahan kimia yang larut dalam kelembaban dari jaringan hidung.
Sekali reseptor olfaktorius sudah dirangsang, impuls sensorik berjalan disepanjang nervus
olfaktorius (saraf kranial I). Informasi sensorik kadang-kadang diinterpretasikan sebagai
penciuman dalam korteks olfaktorius dari lobus temporalis. Reseptor olfaktorius
beradaptasi secara cepat.
14. Kemukakan rute impuls saraf pada penglihatan, kecap (rasa), pendengaran
dan penciuman.
Jawab :
Mekanisme melihat
Jika suatu benda terkena cahaya, benda akan memantulkan berkas-berkas cahaya
tersebut. Pantulan cahaya tersebut masuk melalui lensa mata serta bagian-bagian lainnya
menuju ke retina. Pada mata yang normal, bayangan benda akan jatuh tepat di bintik
kuning pada retina. Rangsangan cahaya yang diterima oleh retina tersebut selanjutnya
akan diteruskan oleh urat saraf penglihatan ke pusat penglihatan di otak untuk
diinterpretasikan atau diterjemahkan. Akhirnya, kita dapat melihat benda tersebut. Mata
normal (emetrop) merupakan mata yang dapat memfokuskan cahaya yang masuk tepat
pada bintik kuning. Mata normal dapat melihat benda yang jauh maupun yang dekat.
Jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik jauh.
Jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik dekat.
Titik dekat pada anak-anak umumnya masih dekat. Makin tua titik dekatnya umumnya
makin jauh.
Mekanisme mendengar
Apabila sampai pada telinga kita, gelombang suara akan masuk ke telinga bagian
luar melalui saluran pendengaran dan akhirnya sampai pada membran timpani.
Gelombang suara ini menggetarkan membran dan tulang martil. Selanjutnya tulang
landasan dan tulang sanggurdi ikut bergetar. Akhirnya tingkap bundar ikut bergetar juga.
Getaran ini akan menggetarkan cairan di dalam rumah siput. Cairan yang bergetar
menstimulasi ujung-ujung saraf. Impuls dari ujung saraf ini diteruskan ke saraf pendengar
di otak besar. Kekhususan pola impuls ditentukan oleh pola gelombang suara yang
diterima. Otak besar menerima impuls ini, kemudian menerjemahkannya dan kita
mempersepsikannya sebagai suara.
16

Mekanisme kecap / rasa
Ujung saraf pengecap berlokasi di kuncupkuncup pengecap pada lidah. Kuncup-
kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan
hingga belakang. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap
melalui pori-pori bagian atas. Di dalam mulut, makanan akan merangsang ujung saraf
yang mempunyai rambut. Dari ujung tersebut pesan akan dibawa ke otak, kemudian
diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke
dalam mulut kita.
Mekanisme penciuman
Pada saat kita menarik napas, udara masuk ke dalam rongga hidung. Gas
memasuki rongga hidung bercampur dengan lendir, kemudian menstimulasi ujung-ujung
saraf. Impuls ini diteruskan ke saraf pembau di pusat saraf, dan akhirnya diinterpretasikan
sebagai bau. Indra pembau (pencium) ini bersangkut paut dengan indra pengecap. Jika
terjadi gangguan pada indra pembau, kita tidak dapat mengecap dengan baik.