Anda di halaman 1dari 64

BAB II

KAJIAN TEORITIK
2.1. Pengertian Judul

Judul Kajian Apartment Resort Terhadap Pengaruh Arsitektur Tropis.

Apartment Resort adalah sebuah perwujudan hunian secara tersusun dalam area
tempat rekreasi atau resort. Di Canggu Bali terdapat sebuah bangunan apartment resort
yang berhadapan langsung dengan pantai, yang tentu saja yang kita ketahui memiliki
suhu yang cukup panas. Konsep dasar yang kontekstual dengan iklim di Indonesia serta
Mengangkat Nilai nilai Budaya Setempat membuat Bangunan ini memiliki nilai lebih.
Sentuhan Interior bergaya kontemporer disematkan pada bangunan yang di desain oleh
arsitek asal italia.
Maka dari itu konsep ini menjadi daya tarik tersendiri, dan pendekatan desain
bangunan hunian di kawasan resort dan konsep arsitektur tropis menjadi dasar dari
sebuah penelitian. Fungsi, elemen, dan bentuk dari asritektur tropis banyak diterapkan
pada bangunan.
Maka Secara garis besar pengertian judul ini adalah bagaimana desain bangunan
untuk hunian yang berada dalam sebuah area rekreasi di tepi pantai, dapat senantiasa
kontekstual dengan penerapan konsep arsitektur tropis.

2.2. Pengertian Apartmen


Beberapa pengertian mengenai apartment muncul dari berbagai ahli, mereka
mengungkapkan beberapa pengertian yang secara keseluruhan semuanya mengerucut
pada satu kesimpulan yang sama.

Suatu kompleks hunian dan bukan sebuah tempat tinggal yang berdiri
sendiri (Joseph de Chiara, Time Saver Standards For Building Types)

Sebuah ruangan atau beberapa susunan ruangan dalam beberapa jenis


yang memiliki kesamaan dalam suatu bangunan yang digunakan sebagai
rumah tinggal (stein, 1967)

Gedung bertingkat yang di bangun dalam suatu lingkungan, terbagi atas


bagian bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah vertikal

dan horizontal dan merupakan satuan satuan yang dapat dimiliki dan
digunakan secara terpisah yang dilengkapi dengan bagian bersama, tanah
bersama dan benda bersama (Pasal 1 UURS no. 16 tahun 1985)

Apartment berbentuk vertikal sehingga penggunaan lahan lebih efisien


dan merupakan solusi paling ideal untuk menyelesaikan masalah
pemukiman di kota (Akmal, 2007).

2.2.1. Definisi Apartment


Apartment :
apartments. (Oxford English Dictionary)
Menurut Oxford English Dictionary definisi Apartemen adalah beberapa
ruangan yang merupakan tempat tinggal, atau berbentuk flat. Sedangkan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia apartemen adalah ;
1) tempat tinggal (terdiri atas kamar duduk, kamar tidur, kamar mandi,
dapur, dsb) yang berada pada satu lantai bangunan bertingkat; rumah
flat; rumah pangsa.
2) Bangunan bertingkat yang terbagi dalam beberapa tempat tinggal
Apartemen adalah suatu ruang atau rangkaian ruang yang dilengkapi dengan
fasilitas serta perlengkapan rumah tangga dan digunakan sebagai tempat tinggal.
(Harris; 1975; 20)
Sehingga dapat disimpulkan definisi apartemen adalah sebuah bangunan
beringkat yang terdiri beberapa unit yang berupa tempat tinggal, yang terdiri dari
kamar duduk, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dsb.

2.2.2.
A.

Jenis Jenis Apartment


Berdasarkan ketinggian bangunan
Berdasarkan Ketinggian Apartment dapat digolongkan ke beberapa Tipe yakni;

Bertingkat Rendah (Low Rise)


Bangunan dengan ketinggian sampai 4 (empat) lantai termasuk row
house, maisonette dan walk up apartemen. Pencapain kearah pertikal
menggunakan tangga.

Gambar II.1 Ilustrasi Apartment Low Rise


(sumber : http://wibiti.com/images/hpmain/995/177995.jpg)

Bertingkat Sedang (medium Rise)


Bangunan dengan ketinggian 5 (lima) sampai 8 (delapan) lantai.
Pencapaiannya kearah vertikal menggunakan tangga normal sekalian
dijadikan tangga kebakaran dan lift.

Gambar II.2 ilustrasi gambar Apartment Medium rise


(sumber : http://kalyanigroups.net/kalyani/2.jpg)

Bartingkat Banyak (Tall Building)


Bangunan dengan ketinggian di atas 9 (sembilan) lantai. Pencapaian
utamanya menggunakan lift dan dilengkapi tangga normal dan tangga
kebakaran.

Gambar II.3 ilustrasi Apartment High Rise


(sumber :
http://www.apartmentwiz.com/austin_apartments/images)

B.

Berdasarkan Pencapaian vertikal


Berdasarkan Pencapaian atau aksesibiitas apartment dapat digolongkan jadi
dua bagian yakni;

Elevated Apartment
Pencapaian melalui elevator atau lift dengan ketinggian lebih dari 4
lantai.

Gambar II.4 ilustrasi Lift Sebagai Pusat Sirkulasi


(sumber : http://ad009cdnb.archdaily.net)

Seperti penjelasan gambar di atas digambarkan aksesibilitas menuju


unit apartment dilakukan dengan cara Vertikal yaitu dengan Lift. Pada
umumnya di bangunan medium dan high rise lift ini dijadikan sebuah
Core bangunan.

Walk-Up Apartment
Pencapaian melalui tangga, dengan ketinggian tidak lebih dari 4 lantai.

Gambar II.5 Contoh Gambar Walk-Up Apartment


(sumber: coroflot.com)
Dari Gambar diatas yang menunjukan tampak dan potongan dari
desain apartment yang dihubungkan dengan tangga saja. Apartment

tersebut terdiri dari beberapa unit dan jumlahnya tidak lebih dari
empat lantai.

C.

Berdasarkan Sistem Koridor


Berdasarkan Sistem Koridor Apartment dapat digolongkan dalam beberapa
jenis koridor yakni

Koridor 1 Sisi
Tipe koridor ini adalah meletakkan koridor pada Sisi di tepi bangunan
(Single Loaded) pada sistem slab blok.

Gambar II.6 Single Loaded Corridor


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

Double Loaded Corridor


Koridor ini berada di tengah tengah dengan akses pada unit yang
saling menghadap ke koridor.

Gambar II.7 Double Loaded Corridor


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

Koridor 2 Sisi
Koridor ini berada di dua sisi tepi bangunan pada sistem blok.

Gambar II.8 Koridor 2 sisi


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

Koridor Terpusat (Sistem Tower)


Koridor ini berada Di Terpusat di tengah tengah bangunan pada
sistem tower.

Gambar II.9 Sistem Koridor terpusat.


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

D.

Berdasarkan Penyusunan Lantai


Dari sistem penyusunan lantai per unit (Chiara, 1986), apartment dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu;

E.

Simplex

: Unit hunian terdapat dalam satu lantai.

Duplex

: Unit hunian terdapat dalam dua lantai.

Triplex

: unit hunian terdapat dalam tiga lantai.

Berdasarkan bentukan Massa


Berdasarkan bentuk massa , apartment digolongkan menjadi;

Bentuk Massa Slab

Yaitu Massa bangunan memanjang dengan bentuk sirkulasi berupa


korisor, biasanya menggunakan lebih dari satu sistem sirkulasi vertikal.

Gambar II.10 contoh bentuk gubahan massa Slab


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

Bentuk Massa Tower


Massa bangunan memusat dengan bentuk sirkulasi berupa hall, atau
ruang perantara.

Gambar II.11 contoh bentuk gubahan massa Tower


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

Bentuk Massa Variant


Penggabungan antara bentuk slap dan tower.

Gambar II.12 contoh bentuk gubahan massa Variant


(sumber : http://anditriplea.blogspot.com/2011/05/jenisapartemen.html)

2.2.3.
A.

Klasifikasi Apartment
Berdasarkan Pengelolaannya
Berdasarkan tipe pengelolaannya, terdapat tida jenis apartemen (Akmal,2007),
yaitu;

Serviced Apartment
Apartment yang dikelola secara menyeluruh oleh manajemen
tertentu, biasanya menyerupai cara pengelolaan sebuah hotel, yaitu
penghuni mendapatkan pelayanan menyerupai hotel bintang lima,
misalnya unit perabotan lengkap, house keeping, layanan kamar,
laundry, business centre.

Apartment Milik Sendiri


Apartment yang dijual dan dapat dibeli oleh pihak individu. Mirip
dengan apartment sewa, apartment ini juga tetap memiliki
pengelolaan yang mengurus fasilitas umum penghuninya.

Apartment Sewa
Apartment yang disewa oleh individu tanpa pelayanan khusus,
meskipun demikian tetap ada manajemen apartment yang mengatur
segalas sesuatu berdasarkan kebutuhan bersama seperti sampah,
pemeliharaan bangunan, lift, koridor, dan fasilitas umum lainnya.

B.

Berdasarkan Tipe Unitnya


Berdasarkan tipe unitnya, apartment dibagi menjadi empat (akmal, 2007),
yaitu;

Studio
Unit apartemen yang hanya memiliki satu ruang. Ruang ini sifatnya
multifungsi sebagai ruang duduk, kamar tidur dan dapur yang semula
terbuka tanpa partisi. Satu-satunya ruang yang terpisah biasa hanya
kamar mandi. Apartemen tipe studio relative kecil. Tipe sesuai dihuni
oleh satu orang atau pasangan tanpa anak. Luas unit minimal 20-35m.

Gambar II.13 Contoh Type Studio


(sumber: Majestic Point Serpong)

Apartment Keluarga (1BR,2BR,3BR)

Pembagian ruang apartemen ini mirip rumah biasa. Memiliki


kasur tidur terpisah serta ruang duduk, ruang makan, dapur yang
terbuka dalam satu ruangan atau terpisah. Luas apartemen tipe
sangat beragam tergantung ruang yang dimiliki serta jumlah
kamarnya. Luas minimal untuk satu kamar tidur adalah 25m, 2
kamar tidur 30 m, 3 kamar tidur 85, dan 4 kamar tidur 140 m.

Gambar II.14 Contoh Type Keluarga


(sumber: Majestic Point Serpong)

Loft

Loft adalah bangunan bekas gudang atau pabrik yang kemudian


dialih fungsikan sebagai apartemen. Caranya adalah dengan
menyekat-nyekat bangunan besar ini menjadi beberapa unit
hunian. Keunikan loftapartment adalah biasanya memiliki ruang
yang tinggi, mezzanine atau dua lantai dalam satu unit. Bentuk
bangunannya pun cenderung berpenampilan industrial. Ttetapi,
beberapa pengembang kini menggunakan istilah loft untuk
apartemen dengan mezzanine atau dua lantai tetapi dalam
bangunan yang baru.

Gambar II.15 Contoh bentuk Loft Apartment


(sumber:
http://www.barrioantonelli.com/images/loft_apartment.jpg)

Penthouse

Unit hunian ini berada di lantai paling atas sebuah bangunan


apartemen. Luasnya lebih besar dari pada unit-unit dibawahnya.
Bahkan, kadang-kadang satu lantai hanya ada satu atau dua
units Selain lebih mewah, penthouse juga sangat privat karena
memiliki khusus untuk penghuninya. Luas minimumnya adalah
300 m.

Gambar II.16 Type Penthouse


(sumber:
http://www.condadoinvest.com/Condado%20de%20Alhama%2
0Penthouses%20floor%20plan%20970px.jpg)
C.

Berdasarkan Tujuan Pembangunan


Berdasarkan tujuan pengembangan ada tiga (akmal, 2007), yaitu;

Komersial
Apartemen yang hanya ditujukan untuk bisnis komersial yang
mengejar keuntungan atau profit.

Umum
Apartemen yang ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, akan
tetapi biasanya hanya dihuni oleh lapisan masyarakat kalangan
menengah kebawah.

Khusus
Apartemen yang hanya dipakai oleh kalangan tertentu saja,
biasanya dimiliki suatu perusahaan atau instansi yang dipergunakan
oleh para pegawai maupun tamu yang

berhubungan dengan

pekerjaan.
D.

Berdasarkan Golongan sosial


ApartemenSederhana
ApartemenMenengah
ApartemenMewah
Apartemen super Mewah
Yang membedakan keempat tipe tersebut sebelumnya adalah fasilitas
yang terdapat dalam apartemen tersebut. Semakin lengkap fasilitas
dalam sebuah apartemen, maka semakin mewah apartemen tersebut.
Pemilihan bahan bangunan dan system apartemen juga berpengaruh.
Semakin baik kualitas material dan semakin banyak pelayanannya,
semakin mewah apartemen tersebut.

E.

Berdasarkan Penghuni

Apartemen Keluarga

Apartemen ini dihuni oleh keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anaknya.
Bahkan tidak jarang orang tua dari ayah atau ibu tinggal bersama.
Terdiri dari 2 hingga 4 kamar tidur, belum termasuk kamar tipe
pembantu yang tidak selalu ada.

Apartemen Lajang

Apartemen ini dihuni oleh pria atau wanita yang belum menikah
biasanya tinggal bersama teman mereka. Mereka menggunakan
apartemen sebagai tempat tinggal, bekerja, dan beraktivitas lain diluar
jam kerja.

Apartemen Pebisnis/Ekspatrial

Apartemen ini digunakan oleh para pengusaha untuk bekerja karena


mereka telah mempunyai hunian sendiri diluar apartemen ini. Biasanya

terletak dekat dengan tempat kerja sehingga memberikan kemudahan


bagi pengusaha untuk mengontrol pekerjaannya.

Apartemen Manula

Apartemen ini merupakan suatu hal yang baru di Indonesia, bahkan


dikatakan tidak ada meskipun sudah menjadi sebuah kebutuhan.Di
negeri seperti Amerika, China, Jepang, dan lain-lain telah banyak
dijumpai apartemen untuk hunian manusia usia lanjut. Desain
apartemen disesuaikan dengan kondisi fisik para manula dan
mengakomodasi manula dengan alat bantu jalan.

F.

Berdasarkan Kepemilikan

Apartemen Sewa

Pemilik membangun dan membiayai operasi serta perawatan


bangunan. Penghuni membayar uang sewa selama jangka waktu
tertentu.

Apartemen Kondominium

Penghuni membeli dan mengelola unit yang menjadi haknya, tidak ada
batasan bagi penghuni untuk menjual kembali atau menyewakan
miliknya. Penghuni biasanya membayar uang pengelolaan ruang
bersama yang dikelola oleh pemilik gedung.

Apartemen Koperasi

Apartemen ini dimiliki oleh koperasi,

penghuni memiliki saham

didalamnya sesuai dengan unit yang ditempatinya. Bila penghuni


pindah, ia dapat menjual sahamnya kepada koperasi atau calon
penghuni baru dengan persetujuan koperasi.

G.

Berdasarkan Pelayanannya

Apartemen Fully Service

Apartemen yang menyediakan layanan standard hotel bagi penghuni


seperti laundry, cathering, kebersihan, dan sebagainya.

Apartemen Fully Furnished

Apartemen yang menyediakan furniture

atau perabotan dalam

apartemen.

Apartemen Fully Furnished &Fully Service


Merupakan gabungan dari keduanya.

Apartemen Building only

Apartemen yang tidak menyediakan layanan ruang atau furniture.

2.3. Tinjauan Khusus Apartment Resort


2.3.1. Pengertian Apartment Resort
Apartment Definisinya adalah beberapa ruangan yang merupakan tempat
tinggal, Sedangkan Resort definisinya adalah tempat untuk relaksasi atau rekreasi,
menarik pengunjung untuk berlibur. Jadi Pengertian Apartment Resort adalah
Sekelompok Ruang yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang berorientasi pada
sebuah tempat dengan suasana liburan atau rekreasi.
Tempat tinggal pada umumnya terletak di sebuah perkotaan karena pada
umumnya merupakan sebuah akomodasi untuk menetap dan melakukan aktivitas
sehari hari. Sebuah tempat tinggal dengan nuansa rekreasi lebih cocok berada
di sebuah tempat liburan, seperti gunung, pantai, dsb.

Gambar II.17 Sebuah Blok Apartment yang memiliki tempat untuk rekreasi
(sumber :
http://www.vanuatuluxuryholidayhomes.com/images401/TL%20strand%2000.jpg
)

Jadi Apartment Resort bisa dikatakan sebagai sebuah tempat tinggal yang
memiliki sebuah tempat untuk berekreasi, atau liburan. Fasilitas yang lebih
menjadi pembeda dengan tempat tinggal (Apartment) lainnya.

2.3.2. Klasifikasi Resort


Jenis Jenis Resort berdasarkan kelengkapan atraksi wisata antara lain :

Resort Gabungan (Integrated Resort)


Resort gabungan berorientasi khusus pada keistimewaan alam seperti
pantai , laut, lereng ski , pemandangan gunung , atau keistimewaan
lain seperti sejarah , lapangan golf , dan fasilitas olahraga lainnya ,
termasuk di dalamnya perkampungan pedesaan untuk berlibur. Resort
gabungan dapat memiliki variasi menurut ukuran dari satu hotel
dengan hotel lainnya , menurut keseluruhan jumlah kamar , menurut
fasilitas pelayanan seperti olahraga , rekreasi , atau konferensi.
Beberapa resort gabungan juga dibedakan menurut tingkat pelayanan
akomodasi , misalnya tipe hotel dan cottage dengan pelayanan pribadi
, apartemen , town house dan villa. Contoh resort di kepulauan Hawai.

Resort Perkotaan (Town Resort)


Resort perkotaan menggabungkan penggunaan lahan dan aktivitas
pada komunitas perkotaan , tetapi secara ekonomi difokuskan pada
aktivitas resort yang memiliki akomodasi seperti hotel dan pelayanan
wisata. Contoh resort di kota kota Eropa, Amerika Utara , pantai
australia , dan Jepang.

Resort Retreat
Skala resort retreat lebih kecil , kira kira 20 25 kamar , tetapi
direncanakan dengan analisa dan kelayakan yang hati hati. Karena
karakter khusus resort ini yang akses pencapaiannya terbatas ,
melayani tamu yang menginginkan ketenangan , lingkungan yang
menyendiri , tetapi diikuti oleh aktivitas rekreasi , seperti berburu ,
menyelam , memancing. Contoh resort resort di karibia dan pulau
pulau Pasifik.

Beberapa resort yang termasuk dalam jenis resort berdasarkan lokasi dan atraksi
wisata :

The Beach, Golf and Tennis Resort


Resort di sepanjang pantai yang selain menyediakan unit hunian yang
baik , juga menyediakan fasilitas tenis dan golf serta variasi fasilitas
olahraga dan kebugaran ( fitness ) yang diharmonisasikan dengan
suasana pantai atau pegunungan.

The Vacation Village (Dusun Wisata)


Bentuk
setempat

bangunan

dusun

wisata

meniru

bentuk

bangunan

yang disesuaikan dengan kebutuhan dan merupakan

sebuah kompleks bangunan besar dan modern yang meniru konsep


dusun.

The Health Spa Resort


Resort yang menawarkan fasilitas tambahan berupa perawatan dan
penyembuhan penyakit tertentu dengan air mineral.

The Marina Hotel


Biasa disebut juga Floating Hotel , yakni bentuk penginapan yang
terdapat di tepi sungai atau laut yang membutuhkan akses pencapaian
yang mandiri dan memiliki jumlah tamu tertentu selama perjalanan.

2.3.3. Faktor Penyebab Munculnya Apartment Resort


Beberapa faktor munculnya apartment resort, karena apartment resort
ini adalah sebuah tempat hunian ekslusif dengan adanya sebuah area wisata dan
pemandangan sebagai nilai lebih.

Memiliki keindahan Alam sebagai sebuah tempat wisata


Keindahan alam di maksimalkan sebagai potensi untuk menarik dan
meyakinkan pembeli akan kondisi lingkungan sekitar yang menjadi
nilai eksotis. Keindahan alam yang bisa diolah yaitu, di area
pegunungan, pantai, danau, sungai, dll. Keindahan tersebut membawa
sebuah suasana liburan di hunian

Membawa suasana liburan dalam hunian tempat tinggal


Tentunya membawa suasana liburan kedalam area hunian adalah
faktor utama dalam sebuah apartment resort. Suasana ini diolah
sedemikian rupa agar penghuni dapat merelaksasi diri setiap saat
ditengah kepenatan.

Peluang nilai investasi


Nilai Investasi property merupakan salah satu nilai yang cukup
menjanjikan, selain bentuk wujud dan dapat dinikmati sehingga
prospeknya cukup menjanjikan. Nilai investasi property akan selalu
naik dan tidak akan turun. Maka dari itu dengan memili sebuah unit
property dapat menjadikannya sebuah pemasukan yang cukup
realistis.

Keinginan Menikmati Potensi alam


Keberadaan potensi alam yang

indah dan sejuk

sangat

sulit

didapatkan di daerah perkotaan yang penuh sesak dan polusi


udara. Dengan demikian keinginan masyarakat perkotaan untuk
menikmati potensi alam menjadi permasalahan, oleh sebab itu
Apartment resort menawarkan pemandangan alam yang indah dan
sejuk sehingga dapat dinikmati oleh pengunjung ataupun Penghuni
Apartment tersebut.

Kebutuhan Manusia Akan Rekreasi


Manusia pada umumnya cenderung membutuhkan rekreasi untuk
dapat bersantai dan menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan oleh
aktivitas mereka.

2.3.4. Perkembangan Apartment Resort secara Umum


Perkembangan Apartment Resort Secara umum, berkembang tentunya di
lokasi tempat wisata yang strategis, tentunya lokasi tersebut harus memiliki daya
tarik dan fasilitas pendukung yang berbeda dengan apartment pada umumnya.
Maka dari itu perkembangan apartment resort lebih cenderung menonjolkan sisi
pariwisata.
Indonesia memiliki keanekaraman dan pesona alam sebagai daya tarik,
sebagai contoh di pulau Belitung memiliki sebuah apartment resort yang
berhadapan dengan laut dan memiliki beberapa fasilitas, seperti :

Gambar II.18 BHR (Belitung Highland resort)


(Sumber : marketing Belitung Highland Resort )

Gambar II.19 Bird View BHR


(sumber : marketing Belitung Highland Resort)
Dari beberapa gambar diatas bagiamana Sebuah Apartment Resort ini
berpotensi untuk menjual nilai Pariwisata juga. Sementara itu dalam wilayah
perkotaan, memungkinkan memanfaatkan alam atau juga membuat sebuah
suasana resort di tengah kota, seperti :

Gambar II.20 Bekasi Town Square


(Sumber : Marketing BETOS)
Seperti gambar diatas kita lihat bagaimana sebuah apartment memiliki
sebuah view danau sebagai nilai jualnya. Sebuah suasana resort di desain
sedemikian rupa sehingga sebuah hunian memiliki sebuah pemandangan yang
dapat merelaksasi tubuh.
Jadi secara umum perkembangan Apartment resort lebih condong ke
tempat wisata, sementara di area perkotaan dapat berkembang dengan
membuat sebuah suasana resort buatan.

2.3.5. Karakteristik Apartment Resort


Apartment Resort pada umumnya memiliki karakter yang berbeda
dengan bangunan sejenisnya, karakter dari apartment resort ciri cirinya seperti
berikut :
Memiliki Sebuah Tempat Rekreasi (Liburan) yang berasal dari faktor
alam maupun buatan.
Pada umumnya berada di lokasi wisata, namun di apabila berada di
pusat kota harus memiliki sebuat tempat untuk rekreasi.
Keberadaan Apartment Resort lebih mengangkat konsep wisata
Memiliki sebuah ketenangan yang membuat penghuninya
mendapatkan sebuah relaksasi.

2.3.6. Kegiatan Apartment Resort

Menikmati Keindahan Alam


Tentunya lokasi wisata merupakan bagian dari apartment resort, disini
lokasi wisata menjadi nilai tambah bagi pemilik unit. Lokasi wisatanya
sendiri lebih privat, karena pada umumya untuk apartment, lokasi wisata
tersebut menjadi lebih ekslusif.

Makan - Makan
Area Makan merupakan sebuah fasilitas penunjang pagi penghuni
apartment, yang digunakan untuk melayani berbagai macam kebutuhan
penghuni.

Melangsungkan Resepsi Pernikahan


Acara resepsi pernikahan sedikitnya mulai banyak dilirik oleh pasar,
karena dengan pemandangan alamnya membuat sebuah acara resepsi
pernikahan mempunyai nilai lebih. Karena tidak menutup kemungkinan
tempat yang privat ini dipakai untuk kegiatan acara pernikahan, bahkan
penghuni yang melangsungkan pernikahan juga bisa menggunakannya.

Tempat Hiburan
Club adalah sebuah tempat hiburan di tepi pantai yang menjadi sebuah
fasilitas penunjang bagi penghuni. Tempat ini dapat berfungsi sebagai
tempat hiburan bagi penghuni apartment.

Hunian
Kamar kamar di apartment tentunya yang paling utama, karena ini
sebagai fungsi utama. Hunian mewah dengan keistimewaan sekitarnya
membuat penghuni lebih relax dalam menetap dengan waktu yang cukup
lama.

Olahraga
Kolam renang yang menjadi sebuah fasilitas yang hampir setiap bangunan
apartment memilikinya. Area ini dapat digunakan sebagai tempat
berolahraga, kemudian bisa di dukung dengan adanya tempat Fittnes,
spa, dan Jogging Track.

Meeting dan Ballroom


Sebuah Tempat seharusnya memiliki sebuah lahan yang luas untuk
melakukan sebuah acara indoor. Karena area ini dapat dipakai oleh
penghuni untuk melangsungkan berbagai macam kegiatan. Agar sebuah

komplek bangunan ini menjadi lengkap dengan segala sarana dan


prasarananya.

2.3.7. Sarana dan Prasarana Apartment Resort


Sarana dan Prasarana adalah sebuah fasilitas untuk mendukung berbagai
macam kegiatan di apartment. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai
sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan, Sedangkan Prasarana adalah
segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses
(usaha, pembangunan, proyek).
Sarana dalam Apartment Resort :

Unit Kamar Apartment

Lokasi Wisata

Meeting dan Ballroom


Prasarana dalam Apartment Resort :

Ruang Kontrol tata udara

Ruang Kontrol CCTV

Ruang Penerima tamu (Lobby)

Restaurant

Klub Hiburan

Luas Ruang parkir

Fasilitas Audiovisual dan ruang pertemuan

Fasilitas Wisata (liburan)

Kolam Renang

Fasilitas olahraga

2.3.8. Daya Tarik Apartment Resort


Faktor daya tarik sebuah apartment resort, diantaranya ;

Membawa suasana liburan kedalam area hunian

Memiliki fasilitas penunjang berbagai macam kegiatan, seperti pada


bagian sarana dan prasarananya.

Pencapaian yang mudah.

Berbagai pilihan Transportasi.

Nilai Budaya dan keunikan lokal.

Citra dari lokasi tersebut.

Jarak tempuh dan biaya dari tempat kedatangan

Keistimewaan alam dan pemandangan kedalam maupun keluar


bangunan.

Keamanan sekitar

Keramahtamahan masyarakat di sekitar lokasi.

2.4. Arsitektur Tropis


2.4.1. Pengertian Arsitektur Tropis
Pengertian umumnya adalah sebuah konsep desain yang beradaptasi
dengan lingkungan yang tropis Tetapi bukan berarti melupakan sisi estetika.
Hanya disini hal yang paling utama adalah sebuah respon positif dari efek iklim
tropis itu sendiri. Tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari segi
material, sirkulasi udara, dan penchayaan alami. Karena lingkungan yang tropis
memilikin iklim dengan panas yang menyengat, pergerakan udara, dan curah
hujan yang cukup tinggi. Oleh sebab itu dalam konsep arsitektur tropis ini juga
ada upaya yang harus dicegah dari timbulnya efek iklim tropis. Seperti faktor
kelembaban, perubahan suhu, kesehatah udara.
Pada bangunan arsitektur tropis juga didukung dengan materialnya yang
banyak dengan material lokal dan alami. seperti kayu, bambu, dll.
Bukaan untuk bangunan arsitektur tropis harus memperhatikan arah
pencahayaan matahari pagi dan sore. Agar tercipta suhu dalam bangunan yang
cukup nyaman dan sehat. Juga sirkulasi udara yang dirasa akan cukup sebagai
udara yang sehat.

Gambar II.

(sumber : Scribd Arsitektur Tropis)


Definisi atau pemahaman tentang arsitektur tropis di Indonesia hingga
saat ini cenderung keliru. Arsitektur tropis sering sekali dibicarakan, didiskusikan,
diseminarkan dan diperdebatkan oleh mereka yang memiliki keahlian dalam
bidang sejarah atau teori arsitektur. Arsitektur tropis seringkali dilihat dari
konteks 'budaya'. Padahal kata 'tropis' tidak ada kaitannya dengan budaya atau
kebudayaan, melainkan berkaitan dengan 'iklim'. Pembahasan arsitektur tropis
harus didekati dari aspek iklim. Mereka yang mendalami persoalan iklim dalam
arsitekturpersoalan yang cenderung dipelajari oleh disiplin ilmu sains bangunan
(fisika bangunan) akan dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan terukur
secara kuantitatif. Mereka yang dianggap ahli dalam bidang arsitektur
tropisKoenigsberger, Givoni, Kukreja, Sodha, Lippsmeier dan Nick Bakermemiliki
spesialisasi keilmuan yang berkaitan dengan sains bangunan, bukan ilmu sejarah
atau teori arsitektur.
Kekeliruan pemahaman mengenai arsitektur tropis di Indonesia
nampaknya dapat dipahami, karena pengertian arsitektur tropis sering
dicampuradukkan dengan pengertian 'arsitektur tradisional' di Indonesia, yang
memang secara menonjol selalu dipecahkan secara tropis. Pada masyarakat
tradisional, iklim sebagai bagian dari alam begitu dihormati bahkan dikeramatkan,
sehingga pertimbangan iklim amat menonjol pada karya arsitektur tersebut.
Manusia Indonesia cenderung akan membayangkan bentuk-bentuk arsitektur
tradisional Indonesia ketika mendengar istilah arsitektur tropis. Dengan bayangan
iniyang sebetulnya tidak seluruhnya benarpembicaraan mengenai arsitektur
tropis akan selalu diawali. Dari sini pula pemahaman mengenai arsitektur tropis
lalu memiliki konteks dengan budaya, yakni kebudayaan tradisional Indonesia.
Hanya mereka yang mendalami ilmu sejarah dan teori arsitektur yang mampu
berbicara banyak mengenai budaya dalam kaitannya dengan arsitektur,
sementara arsitektur tropis (basah) tidak hanya terdapat di Indonesia, akan tetapi
di seluruh negara yang beriklim tropis (basah) dengan budaya yang berbeda-beda,
sehingga pendekatan arsitektur tropis dari aspek budaya menjadi tidak relevan.
Dari uraian diatas, perlu ditekankan kembali bahwa pemecahan
pemecahan rancangan arsitektur tropis (basah) pada akhirnya sangatlah terbuka.
Arsitektur tropis dapat berbentuk apa sajatidak harus serupa dengan bentukbentuk arsitektur tradisional yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia,
sepanjang rancangan bangunan tersebut mengarah pada pemecahan persoalan

yang ditimbulkan oleh iklim tropis seperti terik matahari, suhu tinggi, hujan dan
kelembapan tinggi.
Menurut Max Well Fry dan Jane Drew dalam buku Tropical Architecture in
the humid zone, Arsitektur tropis yaitu adalah karya seni manusia yang dapat
memberikan respon alami terhadap iklim.

2.4.2. Kajian Desain Arsitektur tropis


Seperti yang kita ketahui permasalahan yang muncul pada desain
arsitektur tropis yaitu adalah faktor iklim maka beberapa permasalahan dalam
desain muncul yakni,:
A. Respon Terhadap Matahari
Daerah beriklim tropis merupakan daerah yang bermandikan sinar matahari,
sedangkan sinar matahari didalamnya selalu membawa panas, maka aspek
orientasi bangunan menjadi sorotan utama dalam proses desain agar
pengantisipasian pengaruh buruk sinar matahari dapat dihindari.

Gambar II. Contoh Gambar Orientasi Bangunan Pen


(sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/File:30_St_Mary_Axe,_%27Gherkin%27.J PG)
Panas matahari pagi sangatlah baik untuk kesehatan, maka bagian timur
cenderung dibuka untuk memasukan sinar matahari, akan tetapi dibatasi
hanya sampai jam 09.00 selebihnya dari itu sifatnya terik dan menyengat,
sedangkan sinar matahari di barat membawa pengaruh buruk untuk
bangunan, sebaiknya diantisipasi, dengan tritisan atau double layer (titik
puncak panas 14.00 jam 2 siang).

Penggunaannya : Solar Chart


Dengan menggunakan solar chart dapat ditentukan sudut altitude dan azimut
posisi matahari sehingga ukuran sun shading maupun parapet dapat

ditentukan

ukuran

idealnya

(pembayangan

matahari

ackerknechtd,1993).

Gambar II. Solar Chart


Untuk menentukan pembayangan ideal tritisan
(sumber :
http://www.gumbo.net.au/esd/passive_design/p_sunangles.html)

Gambar II. Gambar Sudut Azimuth


menentukan pembayangan matahari
(sumber : http://www.esrl.noaa.gov/gmd/grad/solcalc/glossary.html)

Gut,P

Gambar II. Gambar Sudut Azimut


menentukan pembayangan matahari
(sumber : http://www.esrl.noaa.gov/gmd/grad/solcalc/glossary.html)

Gambar II. Gambar Sudut Azimuth


menentukan pembayangan matahari
(sumber : http://www.esrl.noaa.gov/gmd/grad/solcalc/glossary.html)

B. Parameter Arsitektur Tropis


Faktor kenyamanan dalam bangunan du daerah beriklim tropis lembab
merupakan hal terpenting, kendala utama pada iklim tropis lembab adalah

temperatur dan kelembaban udara yang tinggi sepanjang tahun, maka perlu
antisipasi untuk mencapai kenyamanan thermal yang ideal.
Temperatur efektif sekitar 20C - 26CTE kelembaban udara sekitar 60%
Pergerakan udara 0,25 0,5 m/s
Beberapa parameter yang juga perlu diperhatikan selain kenyamanan

thermal:
a. Orientasi
Orientasi bangunan terhadap mata angin mempengaruhi perletakan
lubang -

lubang permukaan dinding, perencanaan yang tepat

dapat menghinadari masuknya sinar dan panas matahari tapi dapat


menggunakan sky light sebagai pencahayaan alami dan aliran udara
sebagai penetralisir kelembaban udara.
b. Isolasi
Isolasi terhadap panas, hujan dan partikel partikel yang dibawa oleh
angin sangatlah diperlukan bagi bangunan di daerah tropis.
c. Shading
Shading atau pembayangan adalah upaya mematahkan sinar
matahari, karna sinar matahari membawa panas yang tidak baik
untuk thermal bangunan.
d. High Cross Ventilation
Aliran udara yang baik dalam bangunan selain menetralisir udara juga
dapat menetralisir kelembaban udara.
e. Pemanfaatan Tanaman
Tanaman biasanya juga dapat berfungsi sebagai barier, pemecah
udara maupun filter debu, pemilihan tanaman yang tepat dapat
mempengaruhi iklim mikro dan dapat menciptakan lingkungan yang
lebih baik karena hasil dari fotosintesisnya.
f.

Roof Ventilation
Sebisa mungkin panas akibat radiasi sinar matahari pada atap
bangunan dapat di keluarkan dengan aliran udara, dan diharapkan
ventilasi pada atap dapat memasukan udara kedalamnya.

2.4.3. Iklim
A.

Pengertian Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang


untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Studi tentang iklim dipelajari dalam
klimatologi.
Iklim di suatu tempat di bumi dipengaruhi oleh letak geografis dan
topografi tempat tersebut. Pengaruh posisi relatif matahari terhadap suatu
tempat di bumi menimbulkan musim, suatu penciri yang membedakan iklim
satu dari yang lain. Perbedaan iklim menghasilkan beberapa sistem klasifikasi
iklim.
Berdasarkan posisi relatif suatu tempat di bumi terhadap garis
khatulistiwa dikenal kawasan-kawasan dengan kemiripan iklim secara umum
akibat perbedaan dan pola perubahan suhu udara, yaitu kawasan tropika
(23,5LU-23,5LS), subtropika (23,5LU-40LU dan 23LS-40LS), sedang (40LU66,5LU dan 40LS-66,5LS), dan kutub (66,5LU-90LU dan 66,5LS-90LS).
(sumber: Wikipedia.org)

Gambar II. Pembagian Iklim Dunia


(sumber : http://1.bp.blogspot.com/x6JxuoL7YKA/TzsVnGwAJRI/AAAAAAAAAB0/BhIf9weh_5o/s1600/iklim.jpg)

B.

Iklim Tropis
Climate (iklim) berasal dari bahasa Yunani, klima yang berdasarkan
kamus Oxford berarti region (daerah) dengan kondisi tertentu dari suhu
dryness (kekeringan), angin, cahaya dan sebagainya. Dalam pengertian
ilmiah, iklim adalah integrasi pada suatu waktu (integration

in time)

dari kondisi fisik lingkungan atmosfir, yang menjadi karakteristik kondisi


geografis

kawasan tertentu. Sedangkan cuaca adalah kondisi sementara

lingkungan atmosfer pada suatu kawasan tertentu. Secara keseluruhan,


iklim diartikan sebagai integrasi dalam suatu waktu mengenai keadaan
cuaca (Koenigsberger, 1975:3).
Kata tropis berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu kata tropikos yang berarti
garis balik, kini pengertian ini berlaku untuk daerah antara kedua garis balik
ini. Garis balik ini adalah garis lintan 23027 utara dan garis lintan 23027
selatan.
TABEL NEGARA BER-IKLIM TROPIS
Australia

Gunaya

Laos

Sierra Leone

Bangladesh

India

Magdesy

Singapura

Brazil

Indonesia

Meksiko

Suriname

Burma

Kamboja

Mozambik

Tanzania

Daerah Arab

Kenya

Nigeria

Thailand

Ekuador

Kep. Karibia

Pakistan

Uganda

Filipina

Kolombia

Panama

Venezuela

Ghana

Kongo

Papua Nugini

Vietnam

Guatemala

Kostarika

Srilangka

Zaire

Tabel II.1 Negara Iklim Tropis

Gambar II. Peta Iklim Dunia


(sumber:
http://eusoils.jrc.ec.europa.eu/projects/RenewableEnergy/Images/Climate_Zo
ne%2011_s.jpg)

Iklim tropis adalah iklim dimana panas merupakan masalah yang


dominan yang pada hampir keseluruhan waktu dalam satu tahun bangunan
bertugas mendinginkan pemakai, dari pada menghangatkan dan suhu ratarata pertahun tidak kurang dari 200C (Koenigsberger. 1975:3). Menurut
Lippsmiere, iklim tropis Indonesia mempunyai kelembaban relatif (RH)
yang sangat tinggi (kadang-kadang mencapai 90%), curah hujan yang cukup
banyak, dan rata-rata suhu tahunan umumnya berkisar 230C dan dapat naik
sampai 380C pada musim panas.
Pada iklim ini terjadi sedikit sekali perubahan musim dalam satu
tahun, satu-satunya tanda terjadi pergantian musim adalah banyak atau
sedikitnya hujan, dan terjadinya angin besar. Karakteristik warm humid climate
(iklim panas lembab) adalah sebagai berikut (Lippsmiere. 1980:28) :

Landscape, rain forest (hutan hujan) terdapat sepanjang

pesisir pantai dan dataran rendah daerah ekuator.

Kondisi tanah, merupakan tanah merah atau coklat yang tertutup

rumput.

Tumbuhan, zona ini tumbuhan sangat bervariasi dan lebat


sepanjang tahun. Tumbuhan tumbuh dengan cepat karena
pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu udara yang panas.

Musim. Terjadi sedikit perbedaan musim. Pada bulan panas

kondisi panas dan lembab sampai basah. Pada belahan utara,


bulan dingin

terjadi pada Desember-Januari,

bulanpanas

terjadi pada Mei sampai Agustus. Pada belahan selatan bulan


dingin terjadi pada April sampai Juli, bulan panas terjadi pada
Oktober sampai Februari.

Kondisi

langit, hampir

sepanjang

tahun keadaan

langit

berawan. Lingkungan awan berkisar 60%-90%. Luminance (lumansi)


maksimal bisa mencapai 7000 cd/m2 sedangkan luminasi minimal
850cd/m2.

Radiasi dan panas matahari, pada daerah tropis radiasi matahari

dikategorikan tinggi. Sebagian dipantulkan dan sebagian disebarkan


oleh selimut awan, meskipun

demikian

sebagian

radiasi

yang

mencapai permukaan bumi mempunyai dampak yang besar dalam


mempengaruhi suhu udara.

Temperatur udara, terjad fluktuasi perbedaan temperatur

harian

dan tahunan. Rata-rata temperatur maksimum tahunan

adalah 30,50C. temperatur rata-rata tahunan untuk malam hari


adalah 250C tetapi umumnya berkisar antara 21- 270C. sedangkan
selama siang hari berkisar 27-320c. kadang-kadang lebih dari 320C.

Curah hujan sangat tinggi selama satu tahun, umumnya menjadi

sangat tinggi dalam beberapa tahun tertentu. Tinggi curah hujan


tahunan berkisar antara 2000-5000 mm, pada musim hujan dapat
bertambah. Sampai 500 mm dalam sebulan. Bahkan pada saat badai
bisa mencapai 100 mm per jam.

Kelembaban,

umumnya

dikenal

sebagai

RH

(Relative

humidity),

rata-rata tingkat kelembaban adalah sekitar 75%, tetapi

kisaran kelembabannya adalah 55% sampai hampir 100%. Absolute


humidity antara 25-30 mb.

Pergerakan udara, umumnya kecepatan angin rendah, tetapi

angin

kencang dapat terjadi selama musim hujan. Arah angin

biasanya hanya satu atau dua.


Karakteristik

khusus,

tingginya

kelembaban

mempercepat

pertumbuhan alga dan lumut, bahan bangunan organik membusuk


dengan cepat dan banyaknya serangga. Evaporasi tubuh terjadi dalam
jumlah kecil karena tingginya kelembaban dan kurangnya pergerakan
udara (angin). Rata-rata badai adalah 120-140 kali dalam satu tahun.

C.

Panas Dan Lembab


Selain beriklim tropis, Indonesia dikelilingi oleh lautan luas yaitu
samudera hindia dan samudera pasigik, membuatnya memiliki udara yang
bersifat lembab dan memiliki tekanan uap air yang tinggi. Hal tersebut
membuat keadaan lebih tidak nyaman kalau dibandingkan tinggal di iklim yang
lebih panas tetapi kering.
Karakteristik yang paling umum dari rumah tinggal didaerah panas dan
lembab adalah keterbukaan. Mereka dirancang untuk bisa mendapatkan
setiap angin sejuk yang ada karena hal ini dipercaya erupakan yang terbaik
untuk iklim lembab. Balkon balkon panjang, langit langit tinggi, dan jendela
besar pada rumah rumah di Calcutta dan manila, berada yang dalam di
afrika, serta kertas tembok tipis di Indo-China, Semua dirancang untuk
mendapatkan angina sejuk.
Bangunan bangunan pada iklim tropis harus dirancang dengan
perhatian dan pemikiran yang matang karena pengaruh iklimnya. Naungan
dan perlindungan terhadap badai debu bisa menjadi prioritas utama pada
daerah tertentu, sementara di daerah lain, ventilasi dan penangkapan aliran
udara merupakan pilihan utama.

2.4.4. Kelembapan
A.

Pengertian Kelembapan
Kelembaban udara adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara.7
Tidak seperti Oksigen dan Nitrogen, kandungan uap air berbeda-beda pada
tiap tempat. Uap air, adalah hal terpenting dalam penyerapan radiasi,
sehingga kandungan air pada atmosfir berpengaruh besar dalam pemanasan
udara.
Jika seseorang membuat uap air dalam sebuah bejana, hal itu
menghasilkan tekanan dalam jumlah tertentu. Jika pembuatan uap air terus
dilakukan, akan dicapai sebuah batas tekanan. Jika lebih banyak lagi uap air
yang dipaksa dimasukkan ke dalam bejana, maka uap air tersebut akan
berubah menjadi cair atau es. Batas tekanan ini disebut tekanan jenuh. Batas
tekanan jenuh akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Dengan
volume yang sama, suhu tinggi bisa menyimpan uap air lebih banyak
dibandingkan dengan yang berada pada suhu lebih rendah. Pada daerah
tropis, suhu udara cenderung tinggi sehingga udara lebih banyak mengandung

uap air dibandingkan daerah yang berada pada garis lintang tinggi (iklim
sedang atau dingin).

Gambar II. Tekanan kelembapan pada suhu yang bervariasi


Sumber : Tropical Architecture

B.

Perhitungan Kelembapan
Kelembaban relatif (RH) merupakan proporsi dari keadaan tekanan uap
(e) dengan tekanan jenuh (E), dan dihitung dengan prosentase.(Ibid : Hal. 12)

RH = 100 e/E
C.

Pengaruh Kelembapan
Walaupun suhu di daerah tropis biasanya tinggi, akan tetapi tidak begitu
terasa sebagai suatu yang membuat tubuh merasa tidak nyaman. Asalkan
diimbangi dengan hembusan angin sepoi basa, maka orang pun senang berada
di tepi pantai walaupun suhu rata-rata sangat tinggi, karena angin laut yang
mengalir nyaman menetralisir pengaruh panas.
Kepengapan sangat terasa pada saat akan terjadi hujan lebat. Justru
sesudah hujan turun, rasa pengap menjadi hilang karena kendati
kelembaban udara mencapai 100%, namun itu diimbangi oleh perginya suhu
panas dan hawa terasa sejuk. Sesudah hujan, hawa tentulah masih sangat
lembab, tetapi kecerahan langit karena sinar matahari memungkinkan
kelembaban menguap lagi.
Kelembaban udara yang nikmat untuk tubuh berkisar antara 40-70%.
Padahal kelembaban udara di tempat-tempat di tepi pantai seperti
misalnya Jakarta, Ujungpandang, Manado dan sebagainya menunjukkan angka
rata-rata setahun kurang lebih 80%. Dalam keadaan maksimum dapat
mencapai 98% dan minimum masih di atas 70%. Oleh karena itu, dari segi
kenyamanan, kebasahan udara di kota-kota semacam itu dibutuhkan
pertimbangan lain. Dengan kata lain: proses penguapan harus dipercepat. Jika
kelembaban udara sudah jenuh, maka tubuh kita tidak akan bisa lagi
menguapkan air keringat.

Penghalangan proses berkeringat menimbulkan rasa sesak, kotor, dan


panas. Oleh karena itu, konstruksi maupun tempat peletakan rumah-rumah
harus benar-benar

kering

dan

mempercepat

proses

penguapan.

Pengeringan dapat dicapai dengan pertolongan pemanasan, terutama dari


matahari, tetapi untuk unsur-unsur
tidak

lama

terkena

rumah

yang

tidak

pernah

atau

matahari, Pengeringan ditolong oleh penghembusan

udara yang mengalir.

2.4.5. Pengaliran Panas


A.

Pengertian Pengaliran Panas


Panas mengalir dari suhu yang lebih tinggi menuju suhu yang lebih
rendah. Untuk lebih memahami hal ini, digunakan analogi air. Dalam analogi
ini, perbedaan ketinggian permukaan air mewakilkan perbedaan suhu 2 buah
benda dan volume air mewakilkan jumlah panasnya.

Gambar II. Analogi Air


Sumber : Heating, Cooling, Lighting.

Saat 2 penampung air berada pada ketinggian yang sama, seperti pada
gambar, tidak terjadi aliran. Walaupun terdapat lebih banyak air (panas) pada
salah satu penampung, hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa.
Apabila ketinggian permukaan air tidak sama, maka aliran terjadi seperti
pada gambar. Perhatikan bahwa aliran terjadi bahkan saat jumlah air (panas)
lebih kecil pada penampung yang lebih tinggi. Seperti air yang mengalir
menurun, begitu juga panas akan mengalir dari suhu yang lebih tinggi menuju
ke suhu yang lebih rendah.

Panas dapat mengalir dengan beberapa cara:

B.

Konduksi

Konveksi

Radiasi

Konduksi, Konveksi, dan Radiasi

Konduksi
Benda yang memiliki suhu lebih tinggi dianggap memiliki gerakan
acak yang lebih besar dan

menampung lebih banyak panas. Tipe

panas seperti ini dapat diukur dengan termometer.


Jika 2 buah benda seperti pada gambar disentuhkan satu sama
lainnya, maka gerakan-gerakan molekul benda di kiri, akan disalurkan
menuju benda yang di kanan. Dalam mekanisme pengaliran panas, hal
seperti ini disebut konduksi. Molekul-molekul harus berdekatan agar
dapat bertrabrakan. Karena molekul- molekul udara saling berjauhan,
maka udara bukanlah konduktor yang baik, dan ruang vakum tidak
memungkinkan terjadinya konduksi.

Gambar II. Gerakan Molekul Molekul


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Konveksi
Benda gas atau cair mendapatkan panas melalui konduksi
sehingga tingkat kepadatannya menurun. Molekul-molekul tersebut
kemudian bergerak naik ke atas bagian yang masih padat dan
dingin seperti terlihat pada gambar. Perpindahan panas seperti ini
disebut konveksi. Perpindahan panas seperti ini sangat bergantung

kepada gravitasi dan oleh karena itu panas tidak pernah bergerak
turun. Karena kita hidup di lautan udara, konveksi alami memegang
peranan sangat penting dalam mekanisme perpindahan panas.
Arus konveksi alami cenderung menciptakan lapisan-lapisan
dengan suhu berbeda.

Dalam

sebuah

ruangan,

udara

panas

berkumpul di langit-langit sedangkan udara dingin berada di sekitar


lantai.
Konveksi lainnya dapat terjadi saat udara digerakkan oleh
kipas atau angin. Saat udara yang dipanaskan dihembuskan diantara
area yang lebih panas atau dingin, terjadi perpindahan panas yang
disebut konveksi buatan.

Gambar II. Konveksi


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Radiasi
Bentuk ketiga dari panas adalah pancaran. Ini adalah bagian dari
spektrum elektromagnet yang disebut infra merah. Semua benda yang
menghadap ke ruang vakum memancarkan dan menyerap panas.
Benda bersuhu tinggi melepaskan panas melalui radiasi karena
memancarkan lebih banyak energi dibandingkan dengan yang diserap.
Panjang gelombang atau frekuensi radiasi dipengaruhi oleh suhu
benda tersebut.
Radiasi tidak dipengaruhi oleh gravitasi, karena itu benda dapat
memancarkan radiasi ke bawah dan ke atas sama besarnya.
Bagaimanapun juga, radiasi dipengaruhi oleh interaksi benda
khususnya pada permukaan bahan. Empat kemungkinan interaksi
tersebut adalah:14

1. Penembusan
Keadaan saat radiasi menembus sebuah bahan
2. Penyerapan
Keadaan saat radiasi diubah menjadi panas di dalam sebuah
bahan
3. Pemantulan
Keadaan saat radiasi dipantulkan oleh permukaan benda
4. Pemancaran
Keadaan

saat

radiasi

dikeluarkan

melalui

permukaan,

sehingga mengurangi panas yang terkandung benda tersebut

Gambar II. Interaksi Radiasi


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

C.

Kapasitas Kalor
Jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebuah bahan
sebesar 10 F disebut kapasitas kalor bahan tersebut. Kapasitas kalor tiap
bahan sangat beragam tetapi pada umumnya, bahan yang lebih berat memiliki
kapasitas kalor yang lebih tinggi. Air adalah sebuah pengecualian karena
memiliki kapasitas kalor yang tinggi walaupun
menengah.

Dalam

memiliki berat

yang

dunia arsitektur biasanya lebih disukai menghitung

kapasitas kalor berdasarkan volume dibandingkan berdasarkan berat. Berikut


adalah beberapa bahan dengan kapasitas kalornya.

Gambar II. Kapasitas Kalor bahan bahan


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Gambar II. Perbandingan Kapasitas Kalor


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

D.

Jeda Waktu
Bayangkan sebuah bahan terpapar 2 suhu yang berbeda. Di satu sisi
sebuah dinding beton 30,5 centimeter suhunya 37,80 C dan di sisi lainnya 100
C. Perbedaan suhu ini akn menyebabkan panas mengalir melalui dinding
beton. Pada awalnya panas terpakai untuk menaikkan suhu dinding, lalu
setelah mencapai suhu tertentu panas baru bisa mengalir melewati sisi
berikutnya. Jeda pada penyaluran konduksi panas ini berlangsung sangat cepat

pada kayu setebal 2,54 cm karena kapasitas panasnya yang rendah. Beton
dapat menunda lebih lama karena kapasitasnya yang besar.
Konsep ini mudah dimengerti melalui analogi air yang mengalir melalui
tangki penampung yang melambangkan kapasitas panas sebuah bahan.

Gambar II. Ilustrasi Jeda Waktu


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

E.

Pendinginan Konveksi
Di semua iklim, khususnya iklim lembab, udara di malam hari lebih dingin
dibandingkan dengan siang. Udara dingin ini bisa digunakan untuk membuang
panas dari massa bangunan. Massa yang didinginkan ini akan berfungsi
sebagai penyerap panas pada hari berikutnya. Karena ventilasi menghilangkan
panas dari massa bangunan dengan cara konveksi, maka teknik ini disebut
pendinginan konveksi.

Gambar II. Pendinginan Konveksi


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Strategi pendinginan ini bekerja efektif untuk iklim panas dan kering
karena perbedaan suhu siang dan malam yang drastis (16,70 C), tetapi masih
menunjukkan hasil yang baik pada iklim lembab yang memiliki perbedaan suhu
siang dengan malam sekitar 11,10 C.
Massa penyerap panas ini sangat penting karena tanpanya, tidak ada
penyerap panas pada siang hari. Idealnya, massanya memiliki berat sekitar 40
Kg tiap kaki persegi dari luas lantai, dan permukaannya 2 kali luas permukaan
lantai.
Untuk meminimalisasi kenaikan panas, dinding dan atap sebaiknya diberi
insulasi yang memadai dan permukaan luar memiliki warna yang cerah.
(memiliki faktor pemantulan cahaya setidaknya 0,75 untuk atap dan 0,5 untuk
dinding)

Gambar II. Pendinginan Konveksi


Sumber : Heating, Cooling, Lighting
Untuk membuang panas pada malam hari, luas bukaan sebaiknya sekitar

10 sampai 15% dari luas lantai. Saat ventilasi alami tidak memadai, kipas
angin bisa digunakan. Dengan pendinginan konveksi, aliran udara diarahkan ke
massa bangunan buka ke pengguna bangunan.17
Aturan-aturan pendinginan konveksi:

Pendinginan konveksi bekerja efektif untuk iklim panas dan kering


karena perbedaan suhu siang dan malam yang drastis (16,70 C),
tetapi masih menunjukkan hasil yang baik pada iklim lembab yang
memiliki perbedaan suhu siang dengan malam sekitar 11,10 C.

Kecuali untuk daerah yang memiliki angin malam yang konsisten,


jendela dan kipas angin sebaiknya digunakan.

Idealnya, terdapat 40 Kg massa untuk setiap 1 kaki persegi luas lantai,


dan permukaannya 2 kali luas permukaan lantai.

Aliran udara pada malam hari harus diarahkan ke massa bangunan


untuk menjamin perpindahan panas yang baik.

Luas bukaan berkisar antara 10 sampai 15% dari luas lantai.

Jendela sebaiknya dibuka pada malam hari dan ditutup pada siang
hari.

F.

Pendinginan dengan Penguapan


Saat keringat menguap dari permukaan kulit, diperlukan sejumlah besar
panas. Panas untuk penguapan ini diambil dari kulit, yang otomatis
menjadi dingin saat proses ini berlangsung. Panas dari kulit ini diubah menjadi
panas laten pada uap air. Saat air menguap, udara disekitar kulit menjadi
lembab, dan bahkan bisa mencapai jenuh. Uap air di udara lalu akan
mengalami penguapan lebih lanjut. Untuk itu diperlukan aliran udara atau
udara yang sangat kering agar pendinginan melalui penguapan dapat berjalan
efektif.

Gambar II. Ilustrasi Penguapan


Sumber : Heating, Cooling, Lighting
Bangunan juga dapat didinginkan dengan penguapan. Penyiraman air
pada atap bangunan bisa menurunkan suhunya secara dramatis. Pada
iklim kering, udara yang masuk bisa didinginkan dengan menyiramkan air.

Gambar II. Pendinginan dengan penguapan secara langsung dan tidak langsung
Sumber : Heating, Cooling, lighting

G.

Pengaruh Warna
Untuk permukaan-permukaan penyimpan panas yang massif, sebaiknya
berwarna gelap guna menyerap radiasi, dan permukaan yang tidak massif
harus berwarna terang guna memantulkan radiasi.
Permukaan-permukaan dari bahan-bahan ringan dan tidak massif harus
berwarna terang sehingga bahan itu akan memantulkan cahaya ke permukaan
- permukaan massif agar tidak terlalu panas dan menaikkan suhu udara
ruangan.

Gambar II. Data Penyerapan panas berbagai bahan


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

2.4.6. Pengaliran Udara


A.

Pengertian Udara
Udara merupakan campuran berbagai gas yang tidak berwarna dan
berbau yang memenuhi ruang di atas Bumi sampai kira-kira ketinggian
300 Km.
Komposisi atmosfer di seluruh permukaan bumi kira-kira seragam. Sekitar
78% Nitrogen, 21% Oksigen, dan 1% Argon. Sebagai tambahan, atmosfir bumi
juga mengandung

uap

air,

Karbondioksida,

(0

sampai

2,5%),

atau

hasil-hasil kondensasi uap air, serta debu-debu. Air, es, serta debu-debu,
walaupun memiliki jumlah yang kecil, tetapi mempunyai pengaruh yang cukup
signifikan sehingga harus diperhatikan oleh arsitek.
Kebersihan udara sangat penting, baik demi kesehatan maupun
kenikmatan. Dalam gedung-gedung yang dihuni manusia, susunan kadar
tersebut tentulah terpengaruh oleh manusia, organisme-organisme lain yang
bernafas dan hal-hal lain yang ada di situ.

B.

Prinsip Dasar Pengaliran udara


Sifat-sifat angin dan pengaruhnya pada kehidupan manusia harus
dipelajari sebelum merancang sebuah hunian atau bahkan kota. Matahari
memanaskan Bumi, menghangatkan beberapa daerah lebih dari pada yang
lain.

Perbedaaan

suhu

ini

menghasilkan

perbedaan

permukaan Bumi, sehingga terjadilah angin.

Gambar II. Prinsip Pengaliran udara

tekanan

pada

Sumber : Heating, Cooling, Lighting


Kecepatan angin dapat diukur dengan akurat menggunakan anemometer.
Kecepatan angin juga dapat diperkirakan melalui pengaruhnya terhadap asap
atau pepohonan. Observasi seperti ini ditunjukkan melalui skala Beaufort:

Gambar II. Skala Beaufort tentang skala angina


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Akibat dari gaya gesekan, kecepatan angin akan lebih lambat jika
dekat dengan permukaan bumi dan lebih kencang jika berada di
ketinggian. Karena hal tersebut dipengaruhi oleh kekasaran permukaan,
maka kecepatan angin sangat bervariasi untuk pada tiap-tiap daerah.

Gambar II. Profil Kecepatan angina


Sumber : Matahari, Angin, Cahaya
Saat udara bersirkulasi, ia mengikuti hukum-hukum alam. Aturan-aturan
ini membuat aliran udara menjadi secara relatif teratur dan bisa diprediksi.
Aliran udara merupakan fenomena sebab-akibat. Jadi jika seorang perancang
mengerti akibat yang ditibulkan kecepatan dan pola aliran udara, ia
seharusnya dapat mengerti sebabnya.
Pola aliran udara terbagi menjadi 3 kategori:

Laminar
Adalah pola aliran yang paling sering terjadi. Udara mengalir berada
bertumpukan atau bersebelahan satu sama lain dalam sebuah garis
lurus dan mudar diperkirakan karena tingkat gangguan yang kecil.

Separated
Pola ini terjadi setelah pengaruh dari faktor-faktor eksternal
berkurang. Udara kembali bergerak dengan pola laminar tetapi
terdapat beberapa lapisan berbeda.

Turbulent
Terjadi karena faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pola
laminar. Pola aliran menjadi acak dan sulit diperkirakan.

Aliran udara dapat berubah-ubah dari kategori yang satu ke yang


berikutnya dalam sebuah periode jarak dan waktu. Pola aliran laminar bisa
berubah menjadi tubulent jika keadaan topografi lingkungan menjadi besar.
Bangunan-bangunan juga dapat menciptakan pola aliran turbulent dan
separated saat aliran udara melewati mereka.

Gambar II. Tipe Tipe Aliran Udara


Sumber : Controled Air Movement

C.

Pengaruh Bangunan
Selain mengerti tentang pengaruh aliran udara pada struktur bangunan,
seorang arsitek juga harus memahami pengaruh bangunan pada aliran udara.
Bangunan dapat memantulkan, menghalangi, mengarahkan, dan mengurangi
atau menambah kecepatan aliran udara. Besar kecilnya pengaruh bangunan

terhadap aliran udara bergantung kepada tinggi, lebar, panjang, dan bentuk
bangunan tersebut.

Gambar II. Aliran Udara di sekitar bangunan


Sumber : Controling Air Movement

Walaupun

bangunan

bisa

mengurangi

kecepatan

angin

yang

menabraknya, perubahan aliran udara menaikkan kecepatan pada dasar


dan sisi bangunan sebesar 2 bahkan sampai 3 kali lipat.

Hal ini dapat

membahayakan apabila bangunan telah melebihi 6 lantai dan 2 kali lebih


tinggi daripada bangunan sekitarnya.

Gambar II. Pengaruh Bangunan


Sumber : Controlling Air Movement

Pada musim panas, rumah yang mendapatkan angin sepoi-sepoi, jika


dibandingkan

dengan

yang

tidak,

tidak

membutuhkan

mesin-mesin

penyejuk ruangan.

Gambar II. Pengaruh Pola Bangunan


Sumber : Controling air movement

D.

Pengaruh Ventilasi
Elemen vegetasi yang bermacam-macam berpengaruh besar terhadap
pola aliran dan kecepatan udara pada bangunan rendah. Pepohonan,
semak-semak, dinding, dan pagar menciptakan tekanan-tekanan tinggi dan
rendah pada daerah- daerah sekitar hunian dan berhubungan dengan
penempatan bukaan-bukaan pada dinding.
Pepohonan dan semak-semak bukan hanya dapat memperindah tampak
dan meningkatkan nilai jual sebuah bangunan, tetapi juga mengatur aliran
udara jika dipilih dan diletakkan dengan tepat. Penyaringan, pemantulan,
pengarahan, dan penghalangan aliran udara bisa dilakukan oleh pepohonan
dan semak-semak. Vegetasi bahkan dapat mengurangi kecepatan aliran udara
di sekitar bangunan sehingga mengurangi atau menambah kebutuhan
kekuatan struktural.

Gambar II. Pengaruh Vegetasi


Sumber : Controling Air Movement

Robert B. Deering telah mempelajari pengaruh tanaman-tanaman pada


iklim mikro secara mendetail dan menuliskan beberapa faktor yang harus
diperhatikan saat mencoba mengatur iklim dengan vegetasi. Berikut adalah
hal-hal yang direkomendasikan. (Kukreja.C.P: Tropical Architecture)
Pada area yang membutuhkan panas matahari saat musim dingin,
pohon - pohon musiman harus digunakan.
Jika

ditanam

dekat

dengan

rumah,

pepohonan

dan

rerumputan mengalirkan udara dingin ke dalam rumah yang memiliki


bukaan rendah. Bukaan-bukaan tinggi tidak cocok untuk situasi seperti
ini.
Semakin besar dan banyak pepohonan dan semakin besar
lahan rerumputan, maka semakin besar penyejukkan yang akan
terjadi.
Semak-semak bisa juga menaikkan suhu bila sirkulasi udara
terhenti. Semak-semak yang rendah lebih direkomendasikan.
Penahan angin mungkin dibutuhkan untuk menghalangi angin kering
dan panas pada musim panas dan angin dingin pada musim dingin.
Tanaman-tanaman yang merambat pada teralis dan menutupi jendela
bisa dipakai untuk menghalangi sinar matahari.

Selain pola aliran, vegetasi juga mempengaruhi kualitas udara. Saat udara
bergerak di bawah kanopi pepohonan, suhunya mulai berkurang karena panas
radiasi matahari disaring oleh dedaunan. Proses transpirasi yang terjadi pada
pepohonan yang menambah kelembaban juga membantu menghilangkan
panas. Bahkan pada iklim panas dan lembab, sensasi penyejukkan masih dapat
dirasakan.
Sebuah percobaan telah menunjukkan bahwa udara yang berada di atas
aspal memiliki suhu 43,30 C, sedangkan saat berada di atas rerumputan,
suhunya hanya 32,20 C. Perbedaan 11,10 C ini akan memberikan pengaruh
besar terhadap kapasitas panas sebuah bangunan. Maka itu, kenyamanan

termis akan lebih efektif jika bangunan dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan


dibandingkan dengan aspal.
Selain itu, vegetasi juga dapat mengurangi kebisingan, menyaring debudebu, dan juga menghisap karbon dioksida sehingga mengingkatkan kualitas
udara.

Gambar II. Pengaruh Berbagai Vegetasi Terhadap Aliran Udara


Sumber : Controlling Air Movement

Gambar II. Pengaruh Vegetasi Terhadap Aliran Udara ke dalam bangunan


Sumber : Controlling Air Movement

E.

Bukaan Masuk dan Bukaan Keluar


Biasanya ukuran bukaan untuk udara masuk sama dengan ukuran bukaan
untuk udara keluar. Tetapi apabila salah satunya harus lebih kecil, akan lebih
baik jika yang lebih kecil adalah bukaan untuk udara masuk karena akan
memaksimalkan kecepatan aliran udara di dalam ruangan (kecepatan inilah
yang mempengaruhi kenyamanan). Bukaan masuk tidak hanya mempengaruhi
kecepatan, tetapi juga pola aliran udara dalam ruangan, sedangkan lokasi
bukaan keluar hanya memiliki pengaruh kecil dalam kecepatan dan pola aliran
udara.

Gambar II. Pengaruh Lebar Bukaan Masuk dan Keluar


Sumber : Controlling Air movement
Kesalahpahaman yang sering terjadi mengenai ukuran bukaan, adalah
besarnya bukaan yang menghadap ke arah angin akan menghisap udara ke
dalam ruangan sementara bukaan kecil pada dinding yang bersebrangan
dengannya akan menciptakan ventilasi silang. Sebenarnya, rancangan yang
sebaliknya akan lebih tepat dalam menciptakan ventilasi silang pada musim
panas. Semakin besar perbandingan ukuran bukaan keluar dengan bukaan

masuk akan menciptakan kecepatan yang lebih tinggi, yang juga menghasilkan
penyejukan lebih besar. (Kukreja.C.P: Tropical Architecture)
Penempatan bukaan-bukaan dan hubungannya antara satu sama lain
serta orientasi terhadap arah datangnya angin dapat memberikan hasil yang
lebih baik atau buruk. Berlawanan dengan pendapat umum, aliran udara yang
terbaik tidak selalu terjadi jika angin datang tegak lurus terhadap arah bukaan.
Dalam beberapa kasus, kondisi yang lebih baik dapat terapai bila angin
datang dengan sudut tertentu menuju bukaan masuk.
Bila posisi bukaan keluar tetap, sedangkan bukaan masuk ditempatkan
tinggi, sedang atau rendah, pola aliran udara yang terjadi bervariasi. Bukan
hanya dipengaruhi peletakan saja, tetapi juga pengaturan dan tipe-tipe
dari bukaan masuk dapat mempengaruhi pola aliran dalam bangunan.

Gambar II. Berbagai Letak Ketinggian Bukaan


Sumber : Matahari, Angin, Cahaya

Agar nyaman, jendela diletakkan setara dengan ketinggian penghuni di


dalam ruangan. Tambahan jendela tinggi juga harus diperhatikan untuk
mengeluarkan udara panas yang sering terkumpul di dekat langit-langit.
Bukaan tinggi juga penting untuk pendinginan struktur dengan cara konveksi.
(Kukreja.C.P: Tropical Architecture)

Gambar II. Kombinasi Bukaan


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Jika dibuat kesimpulan, hal-hal berikut harus dipertimbangkan untuk


merancang pola aliran udara: (Kukreja.C.P: Tropical Architecture)

Lokasi dan tipe bukaan masuk akan menentukan pola aliran udara
dalam bangunan.

Lokasi dan tipe bukaan keluar hanya berpengaruh sedikit terhadap


pola aliran udara.

Udara mencapai kecepatan tertinggi dalam bangunan saat bukaan


masuk dirancang untuk mengalirkan udara menuju zona-zona
berkegiatan dan bila ukuran bukaan keluar besar.

Perubahan arah aliran udara cenderung menghambat kecepatan


aliran udara, maka dari itu, perubahan aliran udara secara tibatiba sebisa mungkin dihindari.

Pengolahan lahan disekitar bukaan masuk bisa menghambat


atau membantu ventilasi alami.

F.

Ukuran Bukaan
Jika perbandingan besar bukaan masuk dan bukaan keluar tetap,
kecepatan rata-rata aliran udara ruangan akan meningkat bila lebar bukaan
diperbesar. Perlu diingat bila meningkatkan besar bukaan melebihi 2/3 dari
luas lantai, tidak berpengaruh banyak terhadap ventilasi.
Kecepatan rata-rata aliran udara ruangan akan meningkat bila ketinggian
bukaan masuk dan bukaan keluar dinaikkan. Penambahan ketinggian melebihi
1,1 meter berpengaruh sedikit kepada aliran udara di dalam ruangan.

Gambar II. Pengaruh Lebar Bukaan terhadap Kecepatan angina


Sumber : Tropical Architecture

G.

Tipe Tipe Jendela


Aspek-aspek penting sebuah jendela meliputi pencahayaan siang hari
yang mencukupi, tahan cuaca, kokoh, dapat memantulkan atau menyerap
panas radiasi, pengoperasian yang mudah, tahan lama, kedap udara,

insulasinya baik, mudah dibersihkan dan diperbaiki, dan yang terakhir dapat
mengendalikan aliran udara. Jendela yang dirancang dengan baik merupakan
keuntungan dalam konservasi energi, sedangkan jika rancangannya kurang
baik merupakan pembebanan energi. (Boutet, Terry. S.)

Gambar II. Berbagai Tipe Jendela


Sumber : Controlling Air Movement

Tipe hopper dan jalousie cocok untuk iklim panas dan lembab sebab
dapat menghalangi air hujan masuk tetapi masih memungkinkan udara untuk
melewatinya. Sayangnya dengan desain seperti ini, angin dibelokkan naik
melewati kepala sehingga kurang nyaman untuk sebuah ventilasi. Untuk itu
bisa dipasang bagian kedua yang dapat membelokkan lagi angin sehingga
mengenai permukaan kulit penghuni. (Lechner, Norbert)

Gambar II. Type Hooper dan Jalousie


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

H.

Tipe Tipe Pintu


Sebagai tambahan dari fungsi utamanya, pintu memungkinkan cahaya
dan udara memasuki ruangan dari ruang luar yang terbuka. Pintu memiliki
aspek- aspek yang sama seperti jendela. Tetapi hal yang mempengaruhi aspek
pengaliran udara hanyalah cara pengoperasian pintu. (Ibid)

Gambar II. Berbagai Tipe Pintu


Sumber : Controlling Air Movement

I.

Ventilator
Ventilator biasanya digunakan untuk menurunkan suhu bagian loteng
atau langit-langit bangunan. Tetapi apabila kecepatan angin cukup tinggi dan
jumlah ventilatornya cukup besar, maka alat ini juga dapat berguna bagi
ventilasi ruangan di bawahnya. Turbin bisa meningkatkan ventilasi 30% lebih
dibandingkan tipe open stack. Penelitian membuktikan tipe lainnya dapat
meningkatkan aliran udara sampai 120%. (Lechner, Norbert)

Gambar II. Berbagai Tipe Ventilator

Sumber : Heating, Cooling, Lighting

J.

Kenyamanan Ventilasi
Saat udara melewati permukaan kulit, secara psikologis menimbulkan
perasaan sejuk sehingga bisa menciptakan kenyamanan saat suhu udara
berada di atas zona yang nyaman. Istilah kenyamanan ventilasi dipakai untuk
teknik yang menggunakan aliran udara yang menerpa kulit untuk
mendapatkan kenyamanan suhu. Teknik pendinginan pasif ini sangat berguna
pada periode tertentu di semua jenis iklim terlebih lagi pada iklim panas dan
lembab, karena berurusan dengan suhu udara yang cenderung panas dan
memerlukan ventilasi untuk mengendalikan kelembaban ruangan.
Kenyamanan ventilasi sangat jarang bersifat sepenuhnya pasif karena
angin kurang cukup kuat untuk menciptakan aliran udara di dalam ruangan.
Kipas angin biasanya diperlukan untuk memperkuat angin. Untuk kenyamanan
ventilasi, teknik-teknik tersebut harus digunakan untuk memaksimalkan aliran
udara yang menerpa pengguna bangunan. (Ibid)

Tabel : Pengaruh Kecepatan Angin


Sumber : Heating, Cooling, Lighting

Ventilasi silang adalah suatu cara yang berguna untuk menyejukkan


selama periode-periode hangat karena ia tidak hanya membuang panas dari
ruang tetapi juga meningkatkan perasaan penyejukkan dengan meningkatkan
jumlah penguapan dari pengguna ruangan. Pada iklim panas dan iklim sedang,
di waktu malam gerakan udara sering kali lambat. Hal ini dapat diatasi dengan
ventilasi cerobong.
Jika pembukaan-pembukaan untuk ventilasi silang dan ventilasi cerobong
dapat dikoordinasikan, dan jika jumlah aliran kira-kira sama, maka efek
gabungan maksimumnya akan berada pada sekitar 10% lebih besar daripada
yang dapat dicapai oleh baik ventilasi silang ataupun ventilasi cerobong yang
bekerja sendiri - sendiri. (Brown. G.Z)

Gambar II. Aliran Udara Dalam Ruangan


Sumber : Matahari, Angin, Cahaya

K.

Penyejukan dengan Kipas Angin


Kipas berkecepatan rendah yang dipasangkan pada loteng telah terbukti
sebagai metode menyejukkan pada musim panas yang efektif dan
ekonomis. Kipas dapat digunakan untuk: (Kukreja, Tropical Architecture)

Mengeluarkan udara hangat dari dalam ruangan sehingga menarik


udara dingin dari luar.

Menyediakan udara sejuk pada siang hari dan aliran udara dapa
kamar tidur pada malam yang lembab.

Mempertahankan suhu yang sejuk sepanjang hari. Jika kipas


dinyalakan pada sepanjang malam, suhu rumah akan turun sampai
hari berikutnya dimulai, dan tidak akan naik secara drastis pada hari
berikutnya seperti apabila tidak dinyalakan.

Kipas angin bekerja dengan konsumsi energi relatif rendah, pada


kecepatan rendah dan tidak berisik serta dapat menggerakkan udara dalam
jumlah yang besar. Sangat penting untuk memilih tipe yang tepat untuk
mendapatkan hasil yang optimal.

Gambar II. Perletakan Kipas Angin


Sumber : Controlling Air Movement

Gambar II. Perbandingan Konsumsi energy


Sumber : Controlling Air Movement

2.4.7. Kenyamanan Termal


A.

Faktor Faktor Lingkungan


Untuk menciptakan sebuah kenyamanan suhu ruangan, kita harus
mengerti tidak hanya pelepasan panas, tetapi juga mengenai 4 kondisi

lingkungan yang memungkinkan panas untuk menghilang. Keempat hal itu


adalah: (Lechner, Norbert)

1. Suhu udara
Suhu udara akan menentukan perpindahan panas menuju udara dengan cara
konveksi. Di atas 370 C, aliran panas akan berbalik dan tubuh akan menyerap
panas dari udara sekitar. Suhu yang nyaman berkisar antara 200 C sampai
25,60 C

2. Kelembaban relatif

Penguapan keringat sangat dipengaruhi oleh kelembaban udara. Udara kering


akan menyerap cairan dari permukaan kulit menyebabkan penguapan
berkelanjutan yang membuat tubuh terasa sejuk. Saat kelembaban relatif
mencapai 100%, udara menampung seluruh uap air dan

menyebabkan

penguapan berhenti. Untuk kenyamanan, kelembaban relatif harus di atas


20% sepanjang tahun, dibawah 60% pada musim panas, dan dibawah 80%
pada musim dingin.

3. Kecepatan udara

Aliran udara mempengaruhi pelepasan panas baik secara konveksi maupun


penguapan. Kecepatan aliran udara sangat berpengaruh pada pelepasan
panas. Angin pada musim panas merupakan aset yang sangat besar,
sedangkan pada musim dingin merupakan sebuah masalah. Kecepatan
angin yang dianggap nyaman berkisar antara 0,1 sampai 0,3 meter/detik.
Kemampuan kecepatan udara untuk menghilangkan panas sangat bergantung
kepada temperaturnya. Semakin tinggi suhu udara, semakin kecil efek
pendinginannya.

4. Suhu Radiasi Rata-rata

Suhu radiasi rata-rata berbeda dengan suhu udara, dan pengaruhnya tetap
harus diperhatikan. Contohnya, saat duduk di depan jendela yang menghadap
ke selatan pada musim dingin, keadaan akan terasa terlalu panas walaupun

sebenarnya suhu udara berkisar pada keadaan yang nyaman (23,90 C). Hal ini
terjadi karena sinar matahari menaikkan suhu radiasi rata-rata melebihi
tingkat kenyamanan. Setelah matahari terbenam, keadaan berubah menjadi
terasa terlalu dingin padahal suhu ruangan tidak berubah (23,90 C). Kali ini,
kaca jendela yang dingin menurunkan suhu radiasi rata-rata terlalu rendah
sehingga penghuni ruangan akan mengalami penurunan tingkat radiasi yang
cukup drastis. Perlu diperhatikan bahwa rata-rata suhu kulit dan pakaian
manusia berada pada kisaran 29,50 C dan hal inilah yang mempengaruhi
perpindahan panas melalui radiasi terhadap lingkungan sekitarnya.

Gambar II. Suhu Radiasi Rata Rata dan Grafik Zona Kenyamanan

Sumber : Heating, Cooling, Lighting

B.

Faktor Faktor Manusia


Untuk mempertahankan keseimbangan termis, tubuh manusia harus
melepaskan panas sejumlah dengan panas yang didapat dan dihasilkan. Selain
dari faktor-faktor lingkungan, ada juga faktor-faktor yang yang berasal dari
penguna bangunan yang dapat yang mempengaruhi kenyamanan termis.
Faktor-faktor tersebut ialah:

1. Kegiatan
Penghasilan panas hanya sebagian dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena
sebenarnya yang berpengaruh besar adalah aktifitas. Tabel di bawah
menunjukkan perbandingan berbagai macam aktivitas manusia dan panas
yang dihasilkannya serta dibandingkan dengan panas yang dihasilkan oleh
lampu 100 W.

Tabel : Kegiatan Manusia


Sumber : Heating, Cooling, Lighting
2. Pakaian
Sayangnya, arsitek tidak dapat menentukan pakaian yang seorang pengguna
bangunan gunakan. Sering sekali tren, status, dan tradisi dalam berpakaian
justru menghalangi terjadinya kenyamanan termis.
Kemampuan insulasi sebuah pakaian telah diklasifikasikan berdasarkan
resistensi panasnya dalam satuan unit clo. Pada musim dingin pakaian dengan
angka clo tinggi cocok dikenakan. Pakaian ini biasanya memiliki rongga-rongga
udara yang berlapis-lapis. Sedangkan pada musim panas pakaian dengan
angka clo sangat rendahlah yang cocok. Pakaian yang terbuat dari kain kapas
sangat baik dikenakan karena uap keringat dapat dengan mudah

melewatinya dan mendorong terjadinya pelepasan panas.

3. Psikologi
Elemen psikologis juga memegang pengaruh besar dalam persepsi mengenai
kenyamanan. Siapa saja bisa merasa nyaman bila mereka berpikir
lingkungan

sekitar

mereka

bahwa

memberikan kenyamanan tersebut. Contoh,

seseorang merasa lebih sejuk berada di beranda dibandingkan di dapur karena


ruang teduh dan terbuka memberikan kesan lebih sejuk, padahal kedua
tempat tersebut memberikan tingkat kenyamanan yang sama, atau bahkan
sebenarnya tingkat kenyamanan ruang dalam lebih tinggi. Warna juga
mempengaruhi persepsi kenyamanan. Warna-warna cerah pada kain dan
karpet saat musim panas menciptakan suasana ringan, lapang, dan sejuk,
sedangkan perpaduan warna-warni gelap yang digunakan saat musim dingin
menciptakan suasana hangat dan

nyaman,

yang

pada

kenyataannya

keadaan termis ruangan


tersebut tetap sama.50

4. Jumlah pengguna ruangan


Kebersihan udara sangat penting baik demi kesehatan maupun kenikmatan.
Pergantian udara dapat dikatakan baik bila ruangan keluarga atau kamarkamar tidur yang bervolume lebih dari 5 m3/orang, dan udara bersirkulasi
sebanyak 15 m3/orang/jam. Bila volume kurang dari itu, maka pergantian
harus lebih cepat lagi, 25 m3/jam/orang. (Produksi CO2: 0,17 m3/jam)
Itu berarti bahwa untuk kamar yang berisi lebih dari 5 m3/orang,

udara udara dalam ruangan harus bisa bersirkulasi 2,5 kali per jam. Jadi
semakin kecil ruangan, semakin sering juga udara di ruangan tersebut harus
diperbaharui.

Gambar II . Rumus Effisiensi Ventilasi


Sumber : Pengantar Fisika Bangunan

Jumlah

pengguna

sebuah

ruangan

memang tidak

secara

langsung

mempengaruhi kenyamanan termis, akan tetapi jumlah panas yang


dikeluarkan oleh tubuh, serta CO2 dan uap air yang dilepaskan ke udara
lambat laun dapat mempengaruhi kenyaman sebuah ruangan.

2.4.8. Pendekatan Desain Terhadap Arsitektur Tropis


Pendekatan desain arsitektur tropis lebih cenderung terhadap konsep
desain pada bangunan yang dapat merespon iklim setempat. Permasalahan
utama yang dihadapi pada iklim tropis adalah intensitas sinar matahari yang
tinggi, sehingga suhu udara rata-rata relatif tinggi. Sinar matahari yang melimpah
dapat dimanfaatkan sebagai sumber pencahayaan alami, namun tingginya
intensitas sinar matahari turut membawa radiasi panas yang dapat terinduksi ke
dalam bangunan. Panas yang terinduki ke dalam bangunan menyebabkan
meningkatnya suhu udara dalam ruang sehingga menurunkan tingkat
kenyamanan thermal manusia yang beraktivitas di dalamnya.

2.5. Hipotesis kajian Apartment Resort dan Pengaruh Arsitektur Tropis


Hipotesis mengenai kajian teoritik mengenai Apartment Resort dan Arsitektur tropis
adalah :

Apartment Merupakan Sebuah Hunian yang dapat digunakan sebagai akomodasi


wisata bagi pemiliknya

Resort dalam sebuah kawasan apartment adalah sebagai sebuah fasilitas utama
dalam sebuah hunian yang menyuguhkan atraksi wisata

Arsitektur Tropis lebih cenderung menjadi sebuah konsep bangunan yang


merespon iklim di setempat

Jadi Apartment Resort dengan pengaruh Arsitektur tropis, menurut hipotesis


saya adalah sebuah hunian yang dirancang dengan fasilitas atraksi wisata dengan
konsep bangunan yang dapat merespon iklim di sekitarnya agar konsep
bangunan arsitektur tropis dapat menjadi solusi dari permasalahan dalam
kenyamanan termal di dalam ruangan.