Anda di halaman 1dari 13

KETAHANAN NASIONAL

A.

Pendahuluan
Belakangan, masyarakat dunia juga menghadapi berbagai krisis yang
diakibatkan oleh terkurasnya sumber energi dan sumber makanan dunia yang
menggenapi krisis ekonomi yang makin mengglobal. Krisis pangan, krisis energi,
krisis ekonomi, bahkan krisis air menjadi ancaman yang tidak boleh disepelekan.
Negara-negara yang tidak memperhatikan ketahanan pangan dan ketahanan
lainnya akan mudah terpuruk menjadi bangsa yang lemah dan tergantung dari
bangsa lain.
Tidak bisa dimungkiri, memang bangsa Indonesia yang memiliki
limpahan Sumberdaya Alam (SDA). Namun, keadaan itu ternyata tidak cukup
menjadikan bangsa dan negaranya kuat.
Sumberdaya Manusia (human resources atau SDM) kurang cukup
mengimbangi pembangunan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek). SDA yang melimpah tetapi tidak didukung oleh SDM yang
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan ketergantungan pada
bangsa-negara asing. Melihat kondisi SDA dan ancaman ketergantungan pada
asing memperlihatkan bahwa peningkatan kualitass SDM menjadi sangat vital.1
Pembangunan Nasional Indonesia pada hakikatnya adalah pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.
Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa
dan tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana
perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam
lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
Tantangan pembanguan nasional antara lain mewujudkan kemandirian, kemajuan
ekonomi yang perlu didukung oleh kemampuan mengembangkan potensi diri.
Tantangan tersebut antara lain; [1] mengembangkan perekonomian yang
1

Seskoad, Kewiraan, (Bandung: Seskoad, 1997), hlm. 101.

didukung oleh penguasaan dan penerapan teknologi; [2] meningkatkan


produktivitas SDM; [3] mengembangkan kelembagaan ekonomi yang efisien
dengan menerapkan praktik-praktik terbaik dan prinsip-prinsip pemerintahan
yang baik; dan [4] menjamin ketersediaan kebutuhan dasar dalam negeri.
Berbagai tantangan diatas adalah saling terkait dan saling mendukung.
Salah satu potensi yang penting dikembangkan adalah keberadaan pemuda yang
merupakan SDM muda (young human resources) yang dimiliki oleh setiap
bangsa. Jumlah pemuda yang mencapai 80 juta orang merupakan potensi
pembangunan yang sangat besar . Pemberdayaan pemuda sebagai upaya
peningkatan kualitass SDM dilakukan melalui dorongan, bimbingan, kesempatan,
pendidikan, pelatihan dan panduan sehingga mempunyai kesempatan untuk
tumbuh sehat, dinamis, maju, mandiri, berjiwa wirausaha, tangguh, unggul,
berdaya

saing,

demokratis

dan

bertanggung

jawab

dalam

kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


B.

Pengertian Ketahanan Nasional


Ketahanan Nasional adalah kondisi hidup dan kehidupan nasional yang
harus senantiasa diwujudkan dan dibina secara terus-menerus secara sinergi. Hal
demikian itu, dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri pribadi, keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara dengan modal dasar keuletan dan ketangguhan
yang mampu mengembangkan kekuatan nasional.2
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ketahanan nasional ialah
kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan
hidupnya, menuju kejayaan bangsa dan negara.
Hakekat Ketahanan Nasional Indonesia adalah keuletan dan ketangguhan
bangsa yang mengandung kemempuan menggambarkan kekuatan nasional untuk

Usman, Daya Tahan Bangsa. Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, (Jakarta:
Universitas Indonesia, 2003), hlm. 30.

dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam mencapai tujuan
nasional.
C.

Sifat-Sifat Ketahanan Nasional


1.

Manunggal, Aspek kehidupan bangsa Indonesia dikelompokkan ke


dalam delapan gatra atau astagatra.

2.

Mawas ke dalam dan Mawas ke luar. Ketahanan nasional terutama


diarahkan pada diri bangsa dan negara sendiri.

3.

Kewibawaan. Makin meningkatnya pembangunan nasional, akan


meningkatkan ketahanan nasional.

4.

Berubah menurut Waktu. Ketahanan nasional, sebagai kondisi bangsa


tidak selalu tetap, tergantung dari upaya bangsa dalam pembangunan nasional
dari waktu ke waktu dan ketangguhannya menghadapi ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan.

5.

Tidak Membenarkan Adu Kekuatan dan Adu Kekuasaan. Konsep


ketahanan nasional tidak hanya mengutamakan kekuasaan fisik tetapi juga
kekuatan moral yang dimiliki suatu bangsa.

6.

Percaya Pada Diri Sendiri. Ketahanan nasional ditingkatkan dan


dikembangkan didasarkan atas kemampuan sumber daya yang ada pada
bangsa dan sikap percaya kepada diri sendiri.3

D.

Peran Pemuda dan Urgensi Keberadaan Pemuda


Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan
generasi muda dan kaum muda yang memiliki terminologi beragam. Untuk
menyebut pemuda, digunakan istilah young human resources sebagai salah satu
sumber pembangunan. Mereka adalah generasi yang ditempatkan sebagai subjek
pemberdayaan yang memiliki kualifikasi efektif dengan kemampuan dan
3

Masdiana, Peran Generasi Muda Dalam Ketahanan Nasional, (Jakarta: Kementerian negara
Pemuda dan olahraga, 2008), hlm. 5-6.

keterampilan yang didukung penguasaan iptek untuk dapat maju dan berdiri
dalam keterlibatannya secara aktif bersama kekuatan efektif lainnya guna
penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi bangsa. Meskipun tidak pula
dipungkiri bahwa pemuda sebagai objek pemberdayaan, yaitu mereka yang masih
memerlukan bantuan, dukungan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi
dan kemampuan efektif ke tingkat yang optimal untuk dapat bersikap mandiri dan
melibatkan secara fungsional.4
Dalam pendekatan ekosferis, generasi muda atau pemuda berada dalam
status yang sama dalam menghadapi dinamika kehidupan seperti halnya orang
tua. Generasi tua sebagai generasi yang berlalu (passsing generation)
berkewajiban

membimbing

generasi

muda

sebagai

generasi

penerus,

mempersiapkan generasi muda untuk memikul tanggung jawabnya yang semakin


kompleks. Di pihak lain, generasi muda yang penuh dinamika, berkewajiban
mengisi akumulator generasi tua yang makin melemah, di samping memetik buah
pengalaman generasi tua. Dalam hubungan ini, generasi tua tidak dapat
mengklaim bahwa merekalah satu-satunya penyelamat masyarakat dan negara.
Sebaliknya generasi muda tidak bisa melepaskan diri dari kewajiban untuk
memelihara dan membangun masyarakat dan negara. Pemuda memiliki peran
yang lebih berat karena merekalah yang akan hidup dan menikmati masa depan.
Sejarah memperlihatkan kiprah kaum muda selalu mengikuti setiap tapak-tapak
penting sejarah. Pemuda sering tampil sebagai kekuatan utama dalam proses
modernisasi dan perubahan. Dan biasanya pula pemuda jenis ini adalah para
pemuda yang terdidik yang mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain
semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya dan kebersihan-nya
dari noda orde masanya.
Angkatan 1908 mendapat inspirasi dari asiatic reveil (kebangkitan bangsabangsa Asia) akibat kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1904-1905,
4

Sunario, Arti Sumpah Pemuda, Nasional dan Internasional dalam 45 Tahun Sumpah
Pemuda, (Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, 2006), hlm. 78-79.

sehingga mulai tumbuh kesadaran sebagai bangsa. Melalui Sumpah Pemuda


tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda berikrar untuk mengakui satu bangsa
Indonesia. Angkatan 1945 menjadi angkatan yang mendorong lahirnya negara
baru bernama Indonesia melalui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Angkatan 1966 melakukan koreksi terhadap kepemimpinan nasional yang dipicu
oleh pemberontakan PKI. Angkatan 1966 juga dianggap sebagai penyelamat atas
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Angkatan 1974 menjadi angkatan
yang mengoreksi kebijakan pemerintah Orde Baru hingga Angkatan 1998 sebagai
pendobrak otokrasi yang dilakukan oleh Presiden Soeharto. Lewat gerakan
Reformasi, kembali peran pemuda diharapkan muncul sebagai penyelamat krisis
bangsa.5
Melihat peran pemuda tersebut, posisi pemuda sebagai salah satu elemen
bangsa adalah sangat urgen. Krisis ekonomi yang merembet ke krisis
multidimensi ini belum berakhir. Pemuda yang menjadi penggerak pada setiap
zamannya, kembali dituntut untuk tampil, meski tantangan yang dihadapi selalu
berbeda.
E.

Ketahanan Nasional dan Perlunya Pemuda Tampil


Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang
terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar,
secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan
membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta
perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional. Bentuk-bentuk
ancaman tersebut menurut doktrin Hankamnas (catur dharma eka karma) adalah
[1] ancaman di dalam negeri, misalnya pemeberontakan dan subversi yang berasal
atau terbentuk dari masyarakat Indonesia. [2] ancaman dari luar negeri, seperti
5

Ibid.,

infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme


serta invasi dari darat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri.
Melihat berbagai tantangan tersebut, seluruh elemen bangsa seperti
pemerintah, masyarakat, generasi tua, wanita, pemuda dan sebagainya, memiliki
peranan vital di masing-masing bidangnya. Namun, pemuda yang memiliki
batasan produktif dalam berkarya, memiliki posisi yang penting. Dalam
konstruksi pemuda, posisi generasi muda lebih sebagai subjek dibanding sebagai
obyek dan pada tingkat tertentu berperan secara lebih aktif, produktif dalam
membangun jati diri secara bertanggung jawab dan efektif. Artinya, kalaupun
masih banyak pemuda yang berposisi sebagai obyek pembangunan, maka harus
terjadi perubahan paradigma, sehingga posisi mereka sebagai obyek bisa berubah
dengan pemberdayaan diri dan kesadaran berkarya.
Dengan demikian, pemuda tidak hanya memiliki tantangan terhadap
dirinya sendiri, yaitu melihat dirinya sebagai obyek pembangunan, tetapi
tantangan luar yang menghampiri seluruh bangsa. Kesadaran untuk menjadi
subyek sangat perlu dihayati bahwa solusi pengangguran dan berbagai problem
pemuda

lainnya,

bisa

diselesaikan

oleh

mereka

sendiri.

Kemampuan

menyelesaikan problem obyektif yang ada diharapkan mampu mengantarkan


pemuda untuk tampil menghadapi tantangan yang lebih luas lagi.
F.

Sikap Pemuda terhadap Persoalan Bangsa


Potensi

yang

dimiliki

oleh

generasi

muda

diharapkan

mampu

meningkatkan peran dan memberikan kontribusi dalam mengatasi persoalan


bangsa. Persoalan bangsa, bahkan menuju pada makin memudarnya atau
tereliminasinya jiwa dan semangat bangsa, sebagaimana yang dimaksudkan
Socrates sebagai discovery of the soul . Berbagai gejala sosial dengan mudah
dapat dilihat, mulai dari rapuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, rendahnya
sensitivitas sosial, memudarnya etika, lemahnya penghargaan nilai-nilai
kemanusiaan, kedudukan dan jabatan bukan lagi sebagai amanah penederitaan

rakyat, tak ada lagi jaminan rasa aman, mahalnya menegakan keadilan dan masih
banyak lagi problem sosial yang kita harus selesaikan.6
Hal ini harus menjadi catatan agar pemuda lebih memiliki daya
sensitivitas, karena bangsa ini sesungguhnya sedang menghadapi problem
multidimensi yang serius, dan harus dituntaskan secara simultan tidak
fragmentasi. Oleh karena itu, rekonstruksi nilai-nilai dasar bangsa ke depan perlu
bberapa langkah strategis dalam mengatasi persoalan bangsa ; pertama, komitmen
untuk meningkatkan kemandirian dan martabat bangsa. Kemandirian dan
martabat bangsa Indonesia di mata dunia adalah terpompanya harga diri bangsa.
Seluruh aktivitas pembangunan sejauh mungkin dijalankan berdasar kemampuan
sendiri, misalnya dengan menegakkan semangat berdikari.
Kedua, harmonisasi kehidupan sosial dan meningkatkan ekspektasi
masyarakat sehingga berkembang mutual social trust yang berawal dari komitmen
seluruh komponen bangsa. Pelaksanaan hukum, sebagai benteng formal untuk
mengatasi korupsi, tidak boleh dipaksa tunduk pada kemauan pribadi pucuk
pimpinan negara. Ketiga, penyelenggara negara dan segenap elemen bangsa harus
terjalin dalam satu kesatuan jiwa Kata kucinya adalah segera terwujudnya sistem
kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa di mata rakyat yang memiliki
integritas tinggi (terpercaya, jujur dan adil), adanya kejelasan visi (ke depan)
pemimpin yang jelas dan implementatif, pemimpin yang mampu memberi
inspirasi (inspiring) dan mengarahkan (directing) semangat rakyat secara kolektif,
memiliki semangat jihad, komunikatif terhadap rakyat, mampu membangkitkan
semangat solidaritas (solidarity maker) atau conflict resolutor.
Dan untuk pemuda, mereka harus mempu memperjuangkan sistem nilainilai yang merepresentasikan aspirasi, sensitivitas dan integritas para generasi
muda terhadap gejala ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.
G.

Strategi Pemuda dalam Memperkuat Ketahanan Nasional

Budiono, Profil Pemuda Indonesia Tahun 2007, (Jakarta: Statistik, 2007), hlm. 45..

Strategi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan pemuda Indonesia yang


berwawasan kebangsaan, cerdas, terampil, kreatif, memiliki daya saing dan
berakhlak mulia adalah :
1. Pemberdayaan

generasi

muda

yang

dilaksanakan

harus

terencana,

menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap dan berlanjut untuk memacu tumbuh


kembangnya wawasan generasi muda dalam mewujudkan kehidupan yang
sejajar dengan generasi muda bangsa-bangsa lain. Usaha pengembangan ini
merupakan pemerataan serta perluasan dari tahap sebelumnya dan merupakan
rangkaian yang berkelanjutan.
2. Pemberdayaan generasi muda merupakan program pembangunan yang
bersifat lintas bidang dan lintas sektoral, harus dikoordinasikan sedini
mungkin

dari

perumusan

kebijaksanaan,

perencanaan,

pelaksanaan,

pengendalian dan pengawasanserta melibatkan peran serta masyarakat.


3. Menempatkan posisi generasi muda lebih sebagai subjek dibanding sebagai
objek dan pada tingkat tertentu diharapkan agar generasi muda dapat berperan
secara lebih aktif, produktif dalam membangun jati diri secara bertanggung
jawab dan efektif.7
Dalam pelaksanaan strategi ini, perlu dirancang rumusan hak dan
kewajiban yang merupakan proses gradual semenjak kanak-kanak hingga
mencapai usia dewasa. Proses gradual ini secara sosiologis merupakan proses
sosialisasi (penanaman) nilai dan norma masyarakat sesuai dengan tahapan
usianya. Proses ini dapat dikelompokkan sesuai usia; 0-6 tahun, 6-18 tahun, 18-21
tahun dan 21-35 tahun. Kelompok 6-18 tahun harus mulai melakukan interaksi
sosial dalam rangka memperoleh keterampilan sosial sebagai bekal untuk menjadi
orang dewasa sehingga ketika mereka mencapai usia kelompok berikutnya (usia
21-35 tahun), diharapkan mampu mencapai tingkat kematangan pemikiran
sekaligus mampu menerapkannya dalam lingkungannya.

Masdiana, Op.cit., hlm. 10.

Namun demikian, perlu sarana kondusif untuk mencapai puncak


kematangan sebuah generasi. Pemuda, dan masyarakat umumnya, memerlukan
fasilitas untuk mencapai kemandirian. Pertama, harus diciptakan iklim yang
kondusif agar para generasi muda dapat mengaktualisasikan segenap potensi,
bakat, dan minat yang dimilikinya. Dengan pernyataan ini maka berarti kita
memiliki pandangan yang positif dan optimis tentang para generasi muda, yaitu
bahwa setiap generasi muda memiliki potensi, bakat, dan minat masing-masing.
Kedua, pemberdayaan generasi muda membutuhkan suatu strategi kebudayaan,
bukan strategi kekuasaan. Dengan strategi kebudayaan berarti kita harus
menempatkan generasi muda bukan lagi sebagai obyek, melainkan sebagai
subyek. Para generasi muda harus diberikan otoritas untuk melakukan proses
pembelajaran sendiri agar mereka menjadi lebih berdaya dan diberdayakan.
Ketiga, memberikan kesempatan dan kebebasan kepada para generasi muda untuk
mengorganisasikan dirinya secara bebas dan merdeka. Ini dimaksudkan agar etos
kompetisi tumbuh dan berkembang dengan baik. Kecenderungan untuk
menyeragamkan mereka dalam suatu wadah tunggal seperti kebiasaan lama
ternyata justru menumbuhkan semangat berkompetisi.
H.

Keberhasilan Ketahanan Nasional


Sejak merdeka negara Indonesia tidak luput dari gejolak dan ancaman
yang membahayakan
kelangsungan hidup bangsa.Tetapi bangsa Indonesia mampu
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya
dari agresi Belanda dan mampumenegakkan wibawa pemerintahan dari gerakan
separatis.Ditinjau dari geopolitik dan geostrategi dengan posisi geografis, sumber
dayaalam dan jumlah serta kemampuan penduduk telah menempatkan Indonesia
menjadiajang persaingan kepentingan dan perebutan pengaruh antar negara besar.
Hal ini secaralangsung maupun tidak langsung memberikan dampak negatif
terhadap

segenap

aspek kehidupan

sehingga

dapat

mempengaruhi

dan

membahayakan kelangsungan hidup daneksitensi NKRI. Untuk itu bangsa


Indonesia

harus

memiliki

keuletan

dan

ketangguhanyang

mengandung

kemampuan mengembangkan kekuatan nasional sehingga berhasilmengatasi


setiap

bentuk

tantangan

ancaman

hambatan

dan

gangguan

dari

manapundatangnya. Hal inilah yang dinamakan ketahanan nasional.Ketahanan


Nasional mempunyai aspek utama, yaitu Kesejahteraan dan Keamanan.8
Kesejahteraan dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan
Nasionalyang dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Sebab itu,
mengusahakan terwujudnyaKetahanan Nasional hakikatnya merupakan satu
proses membentuk Kesejahteraan danKeamanan buat negara dan bangsa. Ada
kalanya bangsa berada dalam tingkat perjuanganyang memerlukan titik berat pada
Kesejahteraan, sedangkan pada tingkat perjuangan lainmungkin juga titik berat
harus pada Keamanan . Namun sekalipun titik berat diletakkan pada salah satu
aspek, aspek yang lain tidak boleh hilang sama sekali. Sebab sepertidalam ilmu
hitung apabila kita kalikan satu angka dengan nol, hasilnya menjadi nol pula.Jadi
kalau salah satu aspek sama sekali tidak diperhatikan, Ketahanan Nasional
akansama dengan nol atau tidak ada Ketahanan Nasional. Paling baik adalah
kalau kita dapatmembentuk kondisi harmonis antara Kesejahteraan dan
Keamanan, meskipun hal itutidak mudah tercapai
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, ketahanan nasional
digunakan untuk menangkal adanya ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan
untuk menjaminkehidupan nasional yang termuat dalam ASTA GATRA (Trigatra
dan Pancagatra). Padakesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai
ancaman yang ada dalamPancagatra yang terdiri dari ancaman di bidang ideologi,
politik,

ekonomi,

social

budaya,dan

pertahanan

dan

keamanan

(IPolEkSosbudHankam).

Yussuf Solichien, Bayang-bayang Ekonomi Global, dalam Indonesia Baru dan Tantangan
Pemerintah, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hlm. 15.

10

Untuk mewujudkan keberhasilan ketahanan nasional diperlukan kesadaran


setiap warga negara Indonesia, yaitu :
1. Memiliki semangat perjuangan bangsa dalam bentuk perjuangan non fisik
yang berupa keuletan dan ketangguhan yang tidak mengenal menyerah yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam rangka
menghadapi segala ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan baik yang
datang dari luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas, integritas,
kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan
nasional.
2. Sadar dan peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang timbul pada aspek
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, sehingga
setiap warga negara Indonesia baik secara individu maupun kelompok dapat
mengeliminir pengaruh tersebut, karena bangsa Indonesia cinta damai akan
tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal itu tercermin akan adanya kesadaran bela
negara dan cinta tanah air.9
I.

Kesimpulan
1.

Ketahanan Nasional adalah kondisi hidup dan kehidupan nasional


yang harus senantiasa diwujudkan dan dibina secara terus-menerus secara
sinergi. Hal demikian itu, dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri pribadi,
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dengan modal dasar keuletan dan
ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional. Bentukbentuk ancaman tersebut menurut doktrin Hankamnas (catur dharma eka
karma) adalah [1] ancaman di dalam negeri, misalnya pemeberontakan dan
subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia. [2] ancaman
dari luar negeri, seperti infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan
kolonialisme dan imperialisme
9

Manai Sophiaan, Nasionalisme dan Sumpah Pemuda dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda,
(Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, 2006), hlm. 78.

11

2.

Dalam pendekatan ekosferis, generasi muda atau pemuda berada


dalam status yang sama dalam menghadapi dinamika kehidupan seperti
halnya orang tua. Generasi tua sebagai generasi yang berlalu (passsing
generation) berkewajiban membimbing generasi muda sebagai generasi
penerus, mempersiapkan generasi muda untuk memikul tanggung jawabnya
yang semakin kompleks.

3.

Potensi yang dimiliki oleh generasi muda diharapkan mampu


meningkatkan peran dan memberikan kontribusi dalam mengatasi persoalan
bangsa. Persoalan bangsa, bahkan menuju pada makin memudarnya atau
tereliminasinya jiwa dan semangat bangsa, sebagaimana yang dimaksudkan.

4.

Ketahanan nasional digunakan untuk menangkal adanya ancaman,


tantangan, hambatan dan gangguan untuk menjaminkehidupan nasional yang
termuat dalam ASTA GATRA (Trigatra dan Pancagatra).

5.

Pemuda tidak hanya memiliki tantangan terhadap dirinya sendiri, yaitu


melihat dirinya sebagai obyek pembangunan, tetapi tantangan luar yang
menghampiri seluruh bangsa. Kesadaran untuk menjadi subyek sangat perlu
dihayati bahwa solusi pengangguran dan berbagai problem pemuda lainnya,
bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. Kemampuan menyelesaikan problem
obyektif yang ada diharapkan mampu mengantarkan pemuda untuk tampil
menghadapi tantangan yang lebih luas lagi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Budiono. Profil Pemuda Indonesia Tahun 2007, Jakarta: Statistik, 2007.

12

Masdiana. Peran Generasi Muda Dalam Ketahanan Nasional, Jakarta:


Kementerian negara Pemuda dan olahraga, 2008.
Seskoad. Kewiraan, Bandung: Seskoad, 1997.
Solichien, Yussuf. Bayang-bayang Ekonomi Global, dalam Indonesia Baru dan
Tantangan Pemerintah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999.
Sophiaan, Manai. Nasionalisme dan Sumpah Pemuda dalam 45 Tahun Sumpah
Pemuda, Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, 2006.
Sunario. Arti Sumpah Pemuda, Nasional dan Internasional dalam 45 Tahun
Sumpah Pemuda, Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, 2006.
Usman. Daya Tahan Bangsa. Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional,
Jakarta: Universitas Indonesia, 2003.

13