Anda di halaman 1dari 16

BAB V

KONSEP PERANCANGAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep perancangan tapak dan konsep
perancangan bangunan Taman Bunga Sebagai Fasilitas Rekreasi Kota di Denpasar.
Konsep perancangan tapak terdiri dari konsep entrance, zoning, pola massa, bentuk
massa, sirkulasi dan parkir, ruang luar, serta utilitas tapak. Dalam konsep
perancangan bangunan terdiri dari konsep tampilan bangunan, struktur, dan utilitas
bangunan.

5.1

Konsep Perancangan Tapak


Pada sub bab konsep perancangan tapak ini akan diuraikan konsep-konsep

yang digunakan secara umum pada tapak. Konsep yang dibahas dalam sub bab ini
antara lain: 1) Konsep entrance; 2) Konsep zoning; 3) Konsep pola massa; 4)
Konsep bentuk massa; 5) Konsep sirkulasi dan parkir; 6) Konsep taman; serta 7)
Konsep utilitas tapak.

77

5.11 Konsep Entrance


Tujuan

: Menentukan entrance.

Kriteria

: Mendukung kelancaran sirkulasi luar dan dalam tapak,

mengoptimalkan efektifitas, memenuhi aspek kenyamanan dan keamanan, serta


dapat mengakomodasi fungsi taman bunga secara optimal.
Faktor penentu

: Keadaan lalu lintas di lingkungan tapak, jenis kendaraan

yang akan masuk ke dalam tapak (sepeda, sepeda motor, dan mobil), dan bentuk
entrance menggunakan gaya Arsitektur Bali dan disesuaikan dengan tema
rancangan untuk memberi identitas sosial dan budaya setempat serta
memperkuat tampilan taman.
Analisa

Pada alternatif 1, peletakkan entrance masuk-keluar untuk pengunjung dan


pengelola digabung pada 1 (satu) gate dan diletakkan di bagian tengah (lihat
Gambar 5.1) sehingga memudahkan pencapaian civitas serta lebih efisien dalam
pengawasan keamanan dan sirkulasinya. Kekurangan pada alternatif 1 ini adalah
sirkulasi pengunjung dan pengelola yang sama sehingga akan terlihat kurang
baik terutama saat melakukan loading dock untuk foodcourt dan distribusi
pembuangan sampah dan kegiatan pengelolaan lainnya terlihat langsung oleh
pengunjung.

KETERANGAN
= Entrance Pengunjung & Pengelola

Gambar 5.1 Letak entrance alternatif 1

78

Pada alternatif 2, peletakkan entrance dipisah antara pengunjung dan


pengelola (lihat Gambar 5.2) sehingga memudahkan sirkulasi pelayanan oleh
pengelola taman, baik untuk pengelola taman, loading dock untuk foodcourt,
maupun distribusi pembuangan sampah. Kekurangan alternatif 2 ini adalah
diperlukan lahan yang lebih luas untuk sirkulasi khusus pengelola dan
pengamanan lebih untuk kedua gate.

KETERANGAN
= Entrance Pengunjung
= Entrance Pengelola

Gambar 5.2 Letak entrance alternatif 2

Kesimpulan

Berdasarkan dua alternatif tersebut, maka konsep entrance pada tapak


yang optimal adalah alternatif 2 yaitu dengan peletakkan gate untuk
pengunjung dan pengelola yang dipisahkan. Entrance berada di bagian Timur
tapak (Jl. Raya Pemogan), dengan gate berada di tengah sehingga dapat
terlihat baik oleh pengunjung yang datang dari arah Utara maupun Selatan
sehingga tidak terlewat terutama bagi pengunjung yang baru pertama datang
ke tapak. Sementara side entrance berada di bagian Utara tapak sebagai
sirkulasi pengelola.

79

5.1.2 Konsep Zoning


Tujuan

: Menentukan penataan bangunan (zoning) pada tapak.

Kriteria

: Menciptakan hubungan kegiatan yang efektif dan efisien,

memenuhi kebutuhan dan sirkulasi setiap fasilitas, dan memenuhi tuntutan sifat
kegiatan masing-masing ruang.
Faktor penentu

: Build Up Area (BUA), organisasi dan hubungan ruang,

konsep entrance.
Analisa

Pada alternatif 1, zoning dibuat berdasarkan zonasi kebisingan dan


kebutuhan bangunan dari jalan utama dengan meletakkan parkir di bagian Timur
tapak, pelayanan dan pengelola serta area servis di bagian Utara, kemudian
pelayanan umum di dekat pengelola dan fasilitas utama tersebar di bagian Barat
dan Selatan (lihat Gambar 5.3).

KETERANGAN
= Bangunan di sekitar tapak
= Fasilitas parkir
= Pengelola & pelayanan umum
= Area servis
= Fasilitas penunjang
= Fasilitas rekreasi

Gambar 5.3 Zoning alternatif 1

Pada alternatif 2, zoning juga dibuat berdasarkan kebutuhan titik tangkap


bangunan dan sonasi kebisingan namun dengan arah orientasi ke dalam (tengah)
tapak. Dengan adanya fasilitas penunjang yang mengelilingi fasilitas utama
(rekreasi) akan mempermudah akses pengunjung untuk menikmati fasilitas
penunjang yang disediakan (lihat Gambar 5.4).

80

KETERANGAN
= Bangunan di sekitar tapak
= Fasilitas parkir
= Pengelola & pelayanan umum
= Area servis
= Fasilitas penunjang
= Fasilitas rekreasi

Gambar 5.4 Zoning alternatif 2

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa alternatif, maka konsep zoning pada tapak yang


optimal adalah alternatif 2 karena paling mendekati kriteria dan juga
menyesuaikan sonasi kebisingan, organisasi ruang, serta kebutuhan titik tangkap
dari jalan dan sesuai dengan fungsi taman yang berorientasi ke dalam.

5.1.3 Konsep Pola Massa


Tujuan

: Menentukan pola massa pada tapak.

Kriteria

: Menciptakan hubungan kegiatan yang efektif dan efisien,

menciptakan pengelompokkan kegiatan, menyesuaikan karakteristik tapak, dan


menyesuaikan dengan tema.
Faktor penentu

: Zoning, bentuk tapak, hubungan kegiatan, dan topografi.

Analisa

Massa pada bangunan mengakomodasi fasilitas pengelola dan pelayanan umum,


area servis, fasilitas penunjang, dan fasilitas utama (rekreasi). Fasilitas utama
didominasi oleh ruang luar (taman), sementara fasilitas lainnya didominasi oleh
bangunan tertutup (dibatasi partisi). Dalam penentuan pola massa, maka hal-hal
yang perlu dipertimbangkan adalah kesesuaian jenis pola massa dengan
karakteristik massa dan kebutuhan perancangan (lihat Tabel 5.1)

81

Tabel 5.1 Analisa Pola Massa


Massa Tunggal
Karakteristik
Dimensi bangunan besar
dan tinggi
Hubungan kegiatan sangat
kompak
Cocok dikembangkan pada
tapak dengan luas tanah
terbatas dan mahal
Kurang
menyesuaikan
dengan lingkungan
Cocok dikembangkan pada
tapak datar
Kesan formal
Jumlah

Massa Majemuk
Kesesuaian
dengan
Kebutuhan

Karakteristik

Kesesuaian
dengan
Kebutuhan

Dimensi bangunan menjadi


lebih kecil
Hubungan kegiatan kurang
kompak
Cocok diterapkan pada
tapak luas

Serasi dengan lingkungan

Cocok dikembangkan pada


tapak datar maupun miring
Kesan
formal
maupun
informal
Jumlah

Justifikasi Penilaian:
Berdasarkan karakteristik taman bunga yang akan dirancang, tentu
membutuhkan bangunan dengan dimensi lebih kecil agar bangunan tidak
mendominasi tapak. Hubungan kegiatan yang dilakukan cukup kompak satu
dengan yang lain, walaupun dirancang dalam tapak yang luas di perkotaan.
Selain itu, taman juga harus menyesuaikan dengan lingkungan sehingga lebih
sesuai dengan massa majemuk (jamak). Dilihat dari topografi tapak, tapak
memiliki kemiringan 5%, sehingga termasuk dalam tapak yang landai. Kesan
yang ingin ditampilkan pada taman ini yaitu kesan informal untuk menciptakan
taman yang nyaman dan santai untuk masyarakat kota.

Kesimpulan

Dari keseluruhan justifikasi nilai (Tabel 5.1) dapat terlihat pola massa
majemuk lebih sesuai untuk digunakan pada perancangan Taman Bunga
Sebagai Fasilitas Rekreasi Kota di Denpasar. Permasalahan dari pola massa ini
adalah membutuhkan hubungan kegiatan yang kompak sehingga pemecahannya
berupa pemanfaatan tapak dan menghubungkan ruang secara efisien dan efektif.

82

5.1.4 Konsep Bentuk Massa


Tujuan

: Menentukan bentuk massa pada tapak.

Kriteria

: Memenuhi tuntutan tema, selaras dengan sifat kegiatan,

selaras dengan bentuk tapak dan bentuk massa di lingkungan sekitar, serta
efisien dan efektif dalam pemanfaatan ruang.
Faktor penentu

: Konsep pola massa, tuntutan tema, bentuk tapak, dan

bentuk massa di lingkungan sekitarnya.


Analisa

Bentuk tapak dan bentuk massa di lingkungan sekitar adalah berbentuk


persegi sehingga dalam menampilkan kesan dinamis dan selaras dengan bentuk
tapak. Maka bentuk dasar bangunan akan dibuat dengan bentuk persegi, namun
untuk menambah kesan informal bangunan akan ditambah lengkunganlengkungan. Tampak massa dibuat dengan perbedaan ketinggian pada masingmasing bangunan sehingga menambahkan kesan dinamis pada bangunan.
Kesimpulan

Berdasarkan analisa bentuk massa, maka bentuk massa yang dipilih adalah
bentuk persegi dengan tambahan elemen lengkungan dan split level/perbedaan
ketinggian bangunan (lihat Gambar 5.5).

Gambar 5.5 Bentuk massa bangunan

83

5.1.5 Konsep Sirkulasi dan Parkir


Tujuan

: Menentukan sirkulasi dan parkir dalam tapak.

Kriteria

: Memiliki daya tampung kendaraan yang optimal, serta

sistem keamanan yang baik dan sirkulasi yang lancar.


Faktor penentu

: Konsep entrance dan zoning, serta pelaku sirkulasi

(manusia dan kendaraan).


Analisa

Pada alternatif 1, sirkulasi kendaraan disusun dengan pola parkir 45o (lihat
Gambar 5.6). Dengan pola parkir ini sirkulasi kendaraan akan lebih mudah baik
untuk memarkirkan kendaraan ataupun saat akan keluar dari parkir. Kekurangan
dari sistem parkir ini adalah kurang optimalnya jumlah kendaraan yang dapat
ditampung pada tapak.

Gambar 5.6 Sirkulasi dan parkir alternatif 1

Pada alternatif 2, parkir disusun dengan pola parkir yaitu 90o (lihat Gambar
5.7). Parkir dengan pola ini dapat menampung kendaraan lebih banyak dan lebih
optimal namun memerlukan area sirkulasi yang sedikit lebih lebar.

Gambar 5.7 Sirkulasi dan parkir alternatif 2

84

Kesimpulan

Berdasarkan analisa sirkulasi dan parkir, penggunaan parkir kendaraan


yang optimal pada tapak adalah parkir 90 o agar dapat menampung kendaraan
lebih optimal. Alur sirkulasi kendaraan dibuat satu arah untuk menghindari
terjadinya persilangan yang mengganggu kelancaran sirkulasi.

5.1.6 Konsep Penataan Taman (Ruang Luar)


Tujuan

: Menentukan penampilan ruang luar (taman) pada tapak.

Kriteria

: Elemen-elemen pengisi ruang luar sesuai dengan tuntutan

fungsi ruang luar dan ukuran/skala serta bentuk ruang luar sesuai dengan fungsi
ruang sekitarnya.
Faktor penentu

: Kesesuaian dengan tema, konsep pola massa dan konsep

sistem sirkulasi-parkir.
Analisa

Sesuai dengan tema yaitu menggunakan konsep Dewata Nawa Sanga sebagai
pola penataan tanaman di taman bunga (lihat Gambar 5.8). Tanaman akan di
tanam sesuai dengan warna dan karakteristiknya sehingga sesuai dengan tema
yang diterapkan.

Gambar 5.8 Penataan taman dengan warna Dewata Nawa Sanga

Kesimpulan

Perancangan taman bunga sebagai fasilitas rekreasi kota menggunakan


tanaman bunga dari berbagai jenis bunga dengan variasi warna yang beragam.

85

Taman akan dibagi menjadi 8 bagian, ditambah 1 bagian sebagai inti/pusat


taman. 8 bagian taman tersebut akan ditata sesuai dengan karakteristik konsep
Dewata Nawa Sanga.

5.1.7 Konsep Utilitas


Tujuan

: Menentukan sistem utilitas dalam tapak.

Kriteria

: Memenuhi kebutuhan utilitas pada tapak, sesuai dengan

infrastruktur di lingkungan tapak, serta efisien dan efektif pelaksanaannya.


Faktor penentu

: Infrastruktur eksisting, konsep zoning, dan konsep pola

massa.
Analisa

Untuk jaringan utilitas seperti PLN, PDAM, dan telepon sudah terpasang
di sepanjang jalan lingkungan tapak. Pengalirannya akan dipusatkan pada area
servis yang terletak di sebelah Utara tapak kemudian didistribusi ke ruang-ruang
lainnya sehingga tidak mengganggu penampilan fasilitas utama.
Adapun kebutuhan energi rumah kreatif ini sebagai berikut:
A.

Daya listrik
Listrik menggunakan sumber PLN dipusatkan pada area servis dan
didistribusi ke bagian yang memerlukan listrik. Listrik digunakan
mayoritas untuk penerangan, dan penghawaan buatan. Untuk menunjang
listrik digunakan genset sebagai sumber listrik selain PLN. Distribusi
listrik yang akan digunakan pada tapak adalah sebagai berikut (lihat
Gambar 5.9).

Gambar 5.9 Alur distribusi listrik

B.

Air
Kebutuhan air bersih pada tapak digunakan untuk kebutuhan toilet
dan juga foodcourt serta untuk perawatan tanaman. Sumber air yang

86

digunakan adalah bersumber dari PDAM dan air tanah. Alur distribusi air
bersih pada tapak dapat dilihat pada Gambar 5.10.

Gambar 5.10 Alur distribusi air bersih

C.

Sampah
Sampah dikumpulkan sementara di beberapa tempat di dalam tapak
dan jenis-jenis sampah dapat dipisahkan sehingga sampah yang masih bisa
di daur ulang dapat dikumpulkan. Sampah lainnya dikumpulkan pada bak
penampungan yang akan diletakkan di bagian Timur tapak untuk
selanjutnya dibuang ke TPA.

Kesimpulan

Peletakkan peralatan servis difokuskan pada area servis kemudian


didistribusikan ke seluruh tapak dan bangunan sehingga memudahkan
teknis dan perawatannya (lihat Gambar 5.11).

KETERANGAN
= Listrik PLN
= Area service
= Dari PLN ke service
= Distribusi utilitas

Gambar 5.11 Utilitas pada tapak

87

5.2

Konsep Perancangan Bangunan


Pada sub bab konsep perancangan bangunan ini akan diuraikan konsep-

konsep yang digunakan secara umum pada bangunan. Konsep yang dibahas dalam
sub bab ini antara lain: 1) Konsep tampilan bangunan; 2) Konsep struktur; dan 3)
Konsep utilitas bangunan.

5.2.1 Konsep Tampilan Bangunan


Tujuan

: Menentukan tampilan bangunan.

Kriteria

: Tampilan harus sesuai dengan tema yaitu mengambil

konsep Dewata Nawa Sanga serta memiliki unsur Arsitektur Bali.


Faktor penentu

: Tema

Analisa

Tampilan bangunan didesain dengan berbentuk persegi sesuai dengan pola


dan bentuk massa. Untuk menambahkan kesan dinamis pada bangunan akan
dibuat dengan split level (perbedaan ketinggian lantai) dan lengkunganlengkungan untuk membuatnya terlihat tidak monoton. Untuk elemen finishing
akan menggunakan material alam berupa batu, kayu atau bambu untuk
menambah kesan etnik pada bangunan.
Kesimpulan

Untuk mengurangi penggunaan listrik, maka perlu mengoptimalkan


pencahayaan alami dan penghawaan alami. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan atap skylight dan penggunaan ventilasi silang atau bangunan
dengan dinding yang tidak masif (lihat Gambar 5.12).
Atap limasan
Atap plat datar
Ruangan
semi terbuka

Split level

Gambar 5.12 Konsep tampilan bangunan

88

5.2.2 Konsep Struktur


Tujuan

: Menentukan struktur bangunan.

Kriteria

: Struktur bangunan tepat, efisien dan efektif penerapannya,

serta tetap mendukung estetika bangunan.


Faktor penentu

: Geologi tapak, bentuk dan tampilan bangunan, Peraturan

Daerah, bangunan di sekitar tapak.


Analisa

Sub structure mempertimbangkan kondisi jenis tanah persawahan pada


tapak. Super structure membentuk dinding masif persegi maupun lengkungan
dinamis. Upper structure berupa atap lengkung, atap datar dan atap limasan.
Kesimpulan

Pada sub structure menggunakan pondasi bore pile dan batu kali karena
daya dukung tanah yang kurang baik (lihat Gambar 5.13).

Gambar 5.13 Konsep sub structure

Pengaplikasian super structure banyak menggunakan material bata dan


beton sebagai kolomnya, beberapa menggunakan partisi berupa kayu atau
bambu (lihat Gambar 5.14). Material bata digunakan di ruangan atau bangunan
yang memerlukan perlindungan khusus baik dari alam maupun segi keamanan.
Sementara pemisah ruangan yang disesuaikan sesuai kebutuhan.

89

Gambar 5.14 Konsep super structure

Upper structure menggunakan material baja ringan, dan beberapa


bangunan menggunakan kayu sebagai upper structure. Penutup atap
menggunakan genteng agar sesuai dengan keadaan bangunan di sekitar dan
dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Bangunan yang memerlukan
pencahayaan khusus seperti ruang pembibitan tanaman menggunakan penutup
atap transparan berupa kaca (lihat Gambar 5.15).

Gambar 5.15 Konsep upper structure

90

5.2.3 Konsep Utilitas Bangunan


Tujuan

: Menentukan utilitas bangunan meliputi sistem jaringan

listrik, penghawaan, pencahayaan, pengadaan air bersih, pembuangan air kotor


dan limbah, akustik, serta sistem keamanan.
Kriteria

: Penggunaan sistem tepat, penerapannya efisien dan efektif,

dan tetap menjaga kenyamanan estetika.


Faktor penentu

: Kebutuhan utilitas, zoning, dan sirkulasi pada bangunan.

Analisa dan kesimpulan :


A.

Sistem jaringan listrik


Analisa

: Listrik berasal dari PLN dan genset. Listrik dialirkan ke

panel induk yang diletakkan di area servis kemudian didistribusikan ke


tiap ruang/bangunan dengan kegunaan antara lain:
a. Penerangan buatan di setiap ruang dalam bangunan dan penerangan di
taman serta area parkir.
b. Penghawaan buatan (AC) di beberapa ruang tertentu.
c. Kebutuhan penunjang seperti komputer, pompa, dan sebagainya
Kesimpulan : Karena area tapak yang cukup luas maka diperlukan
beberapa sub panel listrik untuk mendukung distribusi listrik ke tiap
bangunan atau ruang. (lihat Gambar 5.16)
PANEL
UTAMA

SUB
PANEL

SUB
PANEL

RUANGAN

RUANGAN

RUANGAN

RUANGAN

Gambar 5.16 Konsep sistem jaringan listrik

B.

Sistem penghawaan
Analisa

: Fungsi ruang yang akan dikondisikan dam jenis fasilitas

yang ada di dalam ruangan.


Kesimpulan : Sistem penghawaan alami dengan membuat bukaan berupa
ventilasi yang memakai sistem cross ventilation pada ruangan yang

91

memungkinkan. Sistem penghawaan buatan yang dipilih menggunakan


Air Conditioner (AC) jenis AC split untuk ruangan tertentu.
C.

Sistem pencahayaan
Analisa

: Pencahayaan buatan diperlukan di setiap ruangan untuk

memenuhi fungsi penerangan di malam hari dan kebutuhan pencahayaan


untuk setiap ruangan berbeda-beda.
Kesimpulan : Pencahayaan alami diupayakan dengan menggunakan
skylight atau mengoptimalkan bukaan-bukaan pada bagian bangunan.
Pencahayaan buatan akan menggunakan lampu downlight/wall light sesuai
dengan kebutuhan dan dapat menunjang estetika.

92