Anda di halaman 1dari 7

1

Es krim merupakan salah satu hasil olahan susu yang banyak


diminati oleh konsumen. Es krim memiliki dayak tarik sendiri bagi
segala golangan usia terutama bagi anak. Mengingat begitu
manfaatnya es krim dalam mencukupi kebutuhan protein hewani hasil
olahan susu, oleh karenanya penting sebuah sistem penjaminan
kualitas es krim berbasis mikrobiologi.
Es krim merupakan makanan beku susu yang dibuat melalui
pendinginan susu pasteurisasi. Komposisi es krim tersebut adalah susu
yang terdiri dari susu, bubuk susu, dank rim dari susu. Di Iran, produski
susu dapat dilakukan melalui dua metode, yakni metode tradisional
dan produksi industri. Metode tradisional dibuat mengacu pada
pembuatan tukang es krim. Es krim dibuat dalam produksi skala kecil,
yang sering tidak memperhatikan standar produksi yang ditentukan.
Oleh karenanya, sering sekali ditemukan kontaminasi bakteri dari
produksi es krim traditional akibat dari proses setelah pasteurisasi atau
dari sanitasi alat-alat dan lingkungan. Banyak kontaminasi bakteri
seperti listeria monicytogens, staphylococcus aureus, bacillus,
salmonella, shigella, streptococcus, pseudomonas, camphylobacter,
brucella sp dan bakteri koliform yang secara umum terdapat dalam
hasil produksi es krim tradisional (Jay, 1992).
Walau oleh pabriknya sudah diproses dengan baik, namun
diusahakan es krim yang akan disimpan agar tetap beku atau belum
mencair. Bahan pembuat es krim sangat mudah ditumbuhi bakteri
patogen dan bakteri penghasil racun lainnya.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14671/1/09E01278.
pdf
2, 3, 4
Air PDAM yang diminum adalah hasil dari proses sterilisasi dengan
menggunakan klorinasi. Setelah melalui proses klorinasipun, air masih
mengandung 13 substansi berbahaya, diantaranya hidrokarbon yang
terhalogenasi serta khloroform yang dapat mengakibatkan kanker dan
atogenik (kelainan/abnormal). Saat suhu air dipanaskan hingga 90C,
kandungan hidrokarbon yang terhalogenasi akan meningkat dari 53
mikrogram menjadi 177 mikrogram, atau lebih dari 2 kali lipat dari
standard kesehatan air minum nasional. Pakar menuturkan bahwa

meminum air yang tidak mendidih dapat meningkatkan kemungkinan


terkena kanker prostat dan kanker rectum (bagian akhir dari usus
besar) 21%-38% lebih tinggi. Jika suhu air mencapai 100C maka
kedua zat berbahaya ini akan menguap mengikuti uap air dan
kandungan dalam air akan berkurang drastis, jika air dibiarkan
mendidih terus menerus selama 3 menit, akan lebih aman untuk
dikonsumsi.

Dua puluh empat tiga puluh sampel minum air yang diambil dari
setiap galon telah diidentifikasi sebagai mengandung beberapa bakteri
dengan jumlah indikator TPC 1-22 CFU / ml. TPC jumlah sampel
keseluruhan menunjukkan bahwa jumlah bakteri cenderung meningkat
setelah disimpan dalam dispenser air untuk jangka waktu tertentu.
Dalam dua hari, jumlah TPC telah mencapai 2-98 CFU / ml, dan setelah
empat hari mencapai 3-166 CFU / ml. Penelitian menunjukkan bahwa
ketiga sampel tidak dikonsumsi setelah disimpan dalam dispenser air
selama empat hari, karena mengandung bakteri dengan jumlah TPC
lebih dari 100 CFU / ml. Peningkatan jumlah bakteri, sebagai air yang
disimpan di dispenser, mungkin disebabkan oleh reproduksi bakteri
yang awalnya terkontaminasi air minum. Jika tidak, peningkatan jumlah
TPC mungkin juga disebabkan oleh bakteri dalam air dispenser sendiri.
Disarankan bagi konsumen untuk membersihkan dispenser air sebelum
mereka tukar galon untuk mencegah kontaminasi bakteri dalam air
minum mereka.
Penggunaan dispenser memang membuat penyajian air minum
menjadi praktis sesuai dengan kebutuhan penyajian tetapi kebersihan
dispenser umumnya kurang diperhatikan oleh konsumen. Penggunaan
dispenser berulang ulang tanpa pembersihan bagian dalam dispenser
memungkinkan tumbuhnya mikroba. Resiko pencemaran mikroba ini
dapat terjadi baik pada keran bersuhu normal, dingin ataupun panas
karena mikroba dapat tumbuh pada suhu dingin / psikrofilik, normal /
mesofilik ataupun panas / termofilik. Dampak pencemaran mikroba
dalam dispenser kemungkinan dapat menyebabkan gangguan
pencernaan berupa diare yang biasanya terjadi pada orang orang yang
mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya wisatawan
Pencemaran Air Minum dapat terjadi di tingkat produsen, penjual
ataupun konsumen. Air layak minum harus memenuhi syarat kimiawi
maupun bakteriologis. Salah satu indicator untuk air layak minum

adalah jumlah bakteri yang terkandung. Menurut persayaratan Dirjen


POM , batas cemaran bakteri dalam makanan dan minuman adalah
angka TPC < 100 / ml sample.
Persyaratan Air Minum Secara bakteriologis Angka TPC dalam air
minum < 100 / ml (Dirjen POM,1989)
TPC merupakan pemeriksaan kuantitatif terhadap bakteri dalam
sample. TPC adalah Total Plate Count, yaitu suatu hitungan jumlah
bakteri yang terkandung di dalam 1 ml sample. (Pelczar,JM dkk.1988)
Air Minum Dalam Kemasan adalah air yang telah disterilkan dan
layak dikonsumsi , dikemas dalam cup atau botol berbagai ukuran .
Bahan baku air ini umumnya dari sumber mata air pegunungan .
Beberapa Kejadian Pencemaran Mikroba pada Air minum Dalam
Kemasan Norovirus (Norwalk like virus ) pernah terdeteksi pada 3
merek air mineral di Eropa (Beure et al,2002) Di Afrika Selatan
ditemukan sejumlah bakteri pada 2 dari 10 botol yang diperiksa yang
diduga karena kegagalan dari proses ozonisasi atau pencemaran oleh
pekerja (Marthie et al, 2004) Terdapat bakteri pada Air Minum Dalam
Kemasan Galon tetapi masih dalam batas normal dan layak dikonsumsi
Terdapat perbedaan angka TPC antara Air langsung dari kemasan
dengan Air yang sudah disimpan dalam dispenser Terdapat perbedaan
angkan TPC antara Air yang disimpan dalam dispenser selama 2 hari
dengan air yang disimpan dalam dispenser selama 4 hari Ada
peningkatan angka TPC antara Air langsung dari kemasan dengan air
yang disimpan dalam dispenser selama 2 hari dan 4 hari Perlu diteliti
lebih lanjut jenis bakteri pencemar pada dispenser Disarankan untuk
membersihkan / disinfeksi bagian dalam dispenser setiap penggantian
Air Minum Dalam Kemasan Galon Disarankan untuk membuang / tidak
dikonsumsi satu gelas pertama dari dispenser setelah penggantian air
minum dalam kemasan galon
http://zarravata.wordpress.com/2012/11/23/deteksi-adanya-bakteripada-air-minum-dalam-kemasan-galon/
https://cemani.wordpress.com/2012/12/28/konsumsi-air-bersihuntuk-masa-depan/
5

Sebanyak 60 persen bakteri air minum cemari jajanan anak Sekolah


Dasar (SD). Dinas Kesehatan Kota Depok juga menemukan sebanyak
52 persen jajanan anak SD terkontaminasi oleh bakteri makanan atau
yang dikenal dengan coliform.
Kepala Bidang Perbekalan Kesehatan Pengawas Obat dan Makanan
Dinas Kesehatan Kota Depok Devi Maryori mengatakan bakteri coliform
tersebut ditemukan pada produk makanan seperti batagor isi telur,
cilok, nasi uduk, nasi goreng, bakso, dan juga brondong jagung.
Sementara itu, 60 persen minuman anak SD yang tercemar bakteri
air adalah es teh manis, es mambo, sari kelapa, es buah, es krim
bantal, es ketan hitam, es puter kelapa muda, dan es kocok.
"Minuman lain yang menggunakan es balok juga bisa jadi tercemar,"
tambah Devi.
Menurutnya jajanan dan minuman anak SD tersebut hampir semua
ditemukan pada pedagang di luar sekolah. Dinas Kesehatan juga masih
menemukan adanya zat formalin sebanyak 4 persen pada jajanan anak
SD, seperti mi basah, tahu siomay, dan tahu isi.
6
Meskipun terlihat bersih sayuran dan buah diambil dari ladang
pertanian yang kotor. Bakteri patogen seperti jenis salmonella,
escherichia coli, lietseria, dan telur cacing seringkali menempel dan
tidak terlihat. Selama proses penanaman hingga panen, bahan pangan
ini juga diberi pupuk kimia dan disemprot insektisida untuk membasmi
hama. Bahan kimia, bakteri, telur cacing, dan kotoran yang melekat
tentu berbahaya bagi kesehatan.
Sebelum dimasak, dikonsumsi mentah dan disimpan pastikan buah
serta sayur sudah bersih. Cuci sayur dan buah dengan iar mengalir
hingga bersih sebelum dikupas atau diiris karena jika belum dicuci
rentan terjadi kontaminasi-silang pada pisau atau peralatan lain.
Kontaminasi-silang tidak hanya dari daging serta telur, tapi juga
dari buah dan sayur. Buah dan sayur banyak yang masih tidak bersih,
kadang tanah pun banyak yang masih menempel di kulitnya. Jika
langsung diiris tanpa dicuci kotoran dan kuman berbahaya yang
menempel di buah sayur ini bisa berpindah ke pisau, talenan dan

permukaan lainnya sehingga rentan mengakibatkan sakit. Mencuci


buah dan sayur yang sudah diiris-iris juga akan memudahkan
hilangnya kandungan vitamin larut air.
FDA (U.S Food and Drug Administration) menyarankan memilih
buah dan sayur yang berkualitas bagus. Pilih yang tidak memar, tidak
rusak juga tidak busuk. Pilih produk pre-cut yang disimpan di kulkas
atau di permukaan es batu.
7
Meski makanan kaleng sudah diolah dan diawetkan secara baik
dengan persyaratan tertentu, tetapi untuk jenis ikan atau daging
(kornet, sarden dsb) harus diamati dengan seksama. Jika terjadi
penggelembungan pada kaleng atau tutupnya sebaiknya dihindari.
Biasanya hal itu terjadi karena adanya bakteri aktif di dalamnya yang
mengeluarkan gas.
Bakteri Clostridium botulinum umum terdapat pada makanan
kaleng dengan pH lebih dari 4,6. Kerusakan makanan kaleng
dipengaruhi oleh jenis makanan dan jenis mikroba yang terdapat
didalamnya. Pada dasarnya makanan kaleng dibedakan atas tiga
kelompok berdasarkan keasaman, yaitu:
Makanan kaleng berasam rendah (pH>4,6), misalnya produkproduk daging dan ikan, beberapa sayuran (jagung, buncis), dan
masakan yang terdiri dari campuran daging dan sayuran (lodeh,
gudeg, opor, dan lain-lain).
Makanan kaleng asam (pH 3,7-4,6), misalnya produk-produk tomat,
pear, dan produk-produk lain.
Makanan kaleng berasam tinggi (pH<3,7), misalnya buah-buahan
dan sayuran kaleng seperti jeruk, pikel, sauerkraut, dan lain-lain
(Siagian 2002).
8
Saat ini pedagang makanan (misalnya: pedagang kaki lima) sudah
akrab di kehidupan masyarakat kita. Masyarakat cenderung lebih
senang membeli makanan jadi daripada mengolah makanan mereka
sendiri dengan alasan praktis dan lebih hemat waktu. Pedagang

makanan sebagai produsen makanan harus memperhatikan higiene


dan sanitasi makanan yang mereka jual kepada masyarakat. Higiene
dan sanitasi makanan yang tidak diperhatikan dengan baik dapat
menjadi salah satu penyebab terjadinya keracunan makanan. Salah
satu penyakit yang sering terjadi adalah diare yang bisa disebabkan
karena infeksi kuman penyebab diare misalnya Escherichia coli.
Kebersihan peralatan makan yang kurang baik sangat mempunyai
peranan penting dalam pertumbuhan penyebaran kuman penyakit dan
keracunan. Untuk itu peralatan makanan haruslah dijaga terus
kebersihannya, supaya terhindar dari kontaminasi kuman patogen
salah satunya yaitu Escherichia coli serta zat pencemar lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan 73,9 % responden memiliki higiene
sanitasi makanan yang baik dan 26,1 % memiliki higiene sanitasi
makanan yang tidak baik. Hasil pemeriksaan jumlah kuman
menunjukkan 82,6 % tidak mengandung Escherichia coli dan 17,4 %
mengandung Escherichia coli.
Higiene sanitasi makanan berhubungan secara signifikan dengan
keberadaan bakteri Escherichia coli pada peralatan makan (p<0,05).
Saran bagi pedagang kaki lima adalah agar tetap memperhatikan
higiene sanitasi peralatan makan yang meliputi penjamah makanan,
peralatan makan, air bersih dan sarana penjaja. Mengadakan
pertemuan secara rutin untuk memberikan informasi tentang
pentingnya kebersihan serta dilakukan pemantauan secara berkala
terhadap higiene sanitasi makanan pada pedagang kaki lima.
9
Temuan baru tampak online di PLoS ONE berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Gilberto Flores, PhD dari University of Colorado.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat darimana sumber bakteri
terbanyak sehingga dapat dilakukan pencegahan penyakit infeksi yang
disebabkan oleh penggunaan toilet umum. Dengan menggunakan alat
sekuensing genetik teknologi tinggi, peneliti mengidentifikasi 19
kelompok bakteri dari 12 toilet umum di Colorado enam toilet pria
dan enam toilet perempuan.
Berdasarkan hasil penelitian, strain bakteri yang ada di toilet umum
merupakan bakteri yang berasal dari tanah, air, mulut, urin, kotoran
dan kulit kita. Tempat tempat yang diperiksa diantaranya adalah

daun pintu, pegangan pintu, dispenser sabun, dudukan toilet, tombol


siram, lantai dan wastafel. Hasil penelitian cukup mengagetkan!
Bakteri yang paling banyak ditemukan pada seluruh tempat yang
diteliti merupakan strain bakteri yang biasanya ada pada kulit kita.
Artinya, tangan kita merupakan sumber infeksi jika kita tidak
membersihkannya. Banyak strain bakteri yang diidentifikasi dapat
ditularkan dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi.
Misalnya, pada permukaan toilet ditemukan bakteri yang umumnya
terkait dengan kotoran manusia. Hasil Penelitian oleh Gilberto Flores,
PhD dari University of Colorado Bakteri penyebab penyakit kulit seperti
Staphylococcus aureus ditemukan pada kran dan perlengkapan lainnya
yang biasanya kita sentuh dengan tangan kita. Dan lantai permukaan
yang memiliki paling beragam strain bakteri terkontaminasi dengan
banyak bakteri yang ditemukan di tanah. Selain itu, ada beberapa hasil
yang berbeda yang terlihat pada toilet laki-laki dan toilet perempuan.
Sebagai contoh, Lactobacillus merupakan bakteri yang ditemukan
pada organ intim wanita, jelas lebih sering terlihat di kamar mandi
perempuan.
Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/sehat-wanita/parawanita-hati-hati-d