Anda di halaman 1dari 2

Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada,

sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat
berkembang biak. Dalam sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas
seperti spora bakteri(1).
Sterilisasi yang digunakan pada praktikum ini adalah sterilisasi panas kering (oven).
LAF, dan sterilisasi panas basah (Autoklaf). Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa
saja yang tidak merusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu tinggi. Bahan-bahan yang
biasa disterilkan dengan cara ini antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri
dari kaca, botol sampel, juga peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus
uap seperti gliserin, minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang
disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam
suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven. Oven
menggunakan panas kering. Dalam penggunaannya, alat ini di setting dalam suhu yang tinggi
(160 atau 180C). Kerja oven tergantung pada penetrasi panas melalui benda yang disterilkan.
Bahan-bahan yang disterilisasi dengan oven adalah benda-benda yang tahan terhadap panas
tinggi atau dengan isolasi termik. Lama waktu pemanasan harus disesuaikan. Jika bahan yang
harus disterilkan memungkinkan, maka diadakan pemanasan pada suhu sekitar 170 oC atau 180oC
selama kurang lebih 60 menit. Oven mencapai suhu maksimum 200oC karena itu oven dapat
digunakan sebagai pengganti inkubator yang hanya bersuhu 60oC. tetapi inkubator tidak dapat
digunakan sebagi oven. Sterilisasi dengan oven memiliki keuntungan yaitu lebih efektif untuk
bahan yang harus selalu dalam keadaan kering, dapat mensterilkan bahan tanpa harus
membasahi, tidak tergantung tekanan dan dapat mencapai suhu sangat tinggi sekali yaitu 200 oC.
Sedangkan kelemahannya, panas yang diperlukan tinggi sekali, waktu pemanasan lama, dan
biasanya bahan yang tidak tahan panas akan meleleh atau gosong. Tidak efisien, dan media gel
atau cair akan kering.
Selain itu digunakan juga sterilisasi dengan Laminar air flow. Alat ini digunakan dalam
teknik sterilisasi radiasi. Penggunaannya adalah untuk mensterilisasikan udara ditempat kerja,
sehingga kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan dan pengambilan mikroba dapat dilakukan
di sekitar laminar air flow. Di dalam laminair flow terdapat Blower yang berfungsi untuk
menghembuskan udara dari dalam keluar secara horizontal sehingga udara luar tidak dapat
masuk atau mengkontaminasi. Digunakannya angin untuk mencegah udara dari lingkungan
masuk ke dalam sistem sehingga memungkinkan kerja yang aseptis karena mikroorganisme
kontaminan yang terdapat pada udara lingkungan tidak dapat masuk untuk menyaring udara yang
selalu mengarah keluar dan sinar UV dengan panjang gelombang 260 nm. Lampu ultraviolet

sebagai sterilisasi radiasi dapat membunuh mikroorganisme yang diawali dengan proses mutasi.
Sifat yang berbahaya tersebut mengharuskan penggunaan sinar ultraviolet harus dilakukan secara
berhati-hati, dimana ketika sinar ultraviolet digunakan, laminair flow tersebut harus dalam
keadaan tertutup untuk mencegah adanya radiasi yang tak terarah (2).
Sterilisasi ketiga yang digunakan adalah autoklaf yang termasuk dalam sterilisasi panas
basah. Yang dimaksud panas basah adalah pemansan menggunakan air atau uap air. Uap air
adalah media penyalur panas yang terbaik dan terkuat daya penetrasinya. Panas basah
mematikan mikroba. Oleh karena koagulasi dan denaturasi enzim dan protein protoplasma
mikroba. Untuk mematikan spora menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121oC

disebabkan oleh tekanan 1 atm(1).


1. Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor
2. Pelczar, M.J., Chan, E. S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Edisi 1. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.