Anda di halaman 1dari 12

DASAR-DASAR PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Oleh : Amin Nugroho

I. LATAR BELAKANG
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 menyatakan bahwa bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, sehingga
penggunaannya harus memperhitungkan generasi yang akan datang.
Penggunaan sumberdaya alam khususnya air di Indonesia semakin hari
semakin meningkat
seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan
pembangunan di segala bidang. Dengan demikian limbah cair yang dihasilkan
oleh kegiatan tersebut juga semakin meningkat, sehingga apabila kualitas air
tersebut tidak dikendalikan secara bijaksana, maka
dikhawatirkan akan
berdampak negatif terhadap generasi mendatang.
Dampak pada kualitas air merupakan konsekuensi terhadap terjadinya
penurunan kualitas air dan pencemaran air sebagai akibat dari berbagai jenis
kegiatan, baik alami maupun oleh ulah manusia. Hal-hal yang akan dibahas
dalam dampak pada kualitas air meliputi : pengertian (air, kualitas air,
peruntukan air, limbah cair, penurunan kualitas air, pencemaran air, beban
pencemaran air, baku mutu air, ekosistem perairan); sifat dan karakteristik air;
proses dan sumber-sumber pencemaran air; dampak pencemaran air;
pengendalian pencemaran air.
Air sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia, sehingga kualitasnya perlu
dijaga dan dilindungi. Kegiatan pembangunan jelas akan menghasilkan limbah
cair, sehingga kegiatan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar
dampak terhadap penurunan kualitas air masih layak, baik secara teknisekonomis maupun lingkungan, sehingga masih dapat digunakan untuk berbagai
kepentingan manusia. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan tersebut
antara lain meliputi : pembangunan berdasarkan pemikiran aspek lingkungan
sedini mungkin, pembangunan yang menekankan pengelolaan sumberdaya
alam secara bijaksana, dan pembangunan yang memperhitungkan dayadukung
lingkungan serta pembangunan di bawah nilai ambang batas. Hal tersebut harus
dilakukan mengingat kapasitas dan daya pulih lingkungan relatif tetap,
sementara kontribusi limbah cair ke badan air penerima semakin lama semakin
besar. Oleh karena itu proses pencemaran air harus dapat dicegah dan
ditanggulangi melalui pengendalian lingkungan sejak dini.

II. PENGERTIAN - PENGERTIAN


Air merupakan salah satu sumberdaya alam berbentuk cair yang sangat
dibutuhkan oleh manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Kegunaan air antara
lain untuk diminum, pertanian, proses industri, pelarut, pembersih, dan
sebagainya. Oleh karena itu keberadaannya perlu dilindungi, sehingga
pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana
yaitu dengan memperhitungkan generasi sekarang dan yang akan datang.
Limbah cair adalah buangan berbentuk cair sebagai akibat kegiatan manusia,
makhluk hidup lainnya, dan proses-proses alam yang pada saat ini belum dapat
dimanfaatkan karena pengolahannya tidak ekonomis. Jika nantinya buangan
tersebut dapat dimanfaatkan lagi secara ekonomis karena perkembangan
teknologi, maka buangan tersebut sudah tidak dapat dikatakan lagi sebagai
limbah cair. Di dalam limbah cair terkandung zat-zat pencemar dengan
konsentrasi tertentu yang bila dimasukkan ke dalam badan air akan dapat
mengubah kualitas airnya ke arah penurunan ataupun pencemaran.
Kualitas air merupakan pencerminan kandungan konsentrasi makhluk hidup,
energi, zat-zat, atau komponen lain yang ada dalam air.
Baku mutu air merupakan batas kadar atau makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain yang ada atau unsur pencemar yang dapat ditenggang adanya
dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya.
Beban pencemaran air adalah jumlah kadar dari parameter kualitas air atau
limbah cair yang terkandung dalam sejumlah air atau limbah cair.
Peruntukkan air adalah fungsi dari air yang sangat tergantung dari kualitasnya,
misalnya air untuk air baku air minum, air untuk keperluan perikanan dan
peternakan, air untuk pertanian, air untuk penggelontor kota, dan sebagainya.
Pencemaran air didefinisikan sebagai peristiwa kehadiran atau penambahan
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain secara sengaja atau tidak
disengaja ke dalam air oleh manusia atau proses alam, sehingga kualitas air
menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak sesuai lagi
dengan peruntukannya. Oleh karena itu, kualitas air harus dikendalikan agar
masih sesuai atau masih mempunyai dayadukung terhadap lingkungan melalui
upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Bila penurunan kualitas
air masih sesuai dengan peruntukan airnya, maka tidak dapat dikatakan terjadi
pencemaran air, tetapi hanya mengalami penurunan kualitas air.
Ekosistem perairan didefinisikan sebagai sistem perairan yang tersusun dari
organisme hidup dan benda-benda mati yang dapat berinteraksi satu sama lain
sehingga terjadi pertukaran zat antara organisme hidup dan benda mati tersebut
(soutwick, 1976). Contohnya : ekosistem laut, ekosistem sungai, ekosistem
danau, ekosistem kolam dan lain-lain. Ekosistem tersebut mempunyai
kemampuan untuk memelihara dirinya sendiri dan mengatur, serta mengadakan
keseimbangan kembali, sehingga apabila terjadi pencemaran, maka
keseimbangan ekosistem akan terganggu.

III. SIFAT- SIFAT AIR


1. Sifat-Sifat Fisik
a. Padatan Total
Padatan total dari air adalah semua zat yang tinggal sebagai residu saat
diuapkan pada suhu 103 - 105 o C. padatan total terdiri dari bahan organik
dan anorganik yang ada dalam air dalam bentuk tersuspensi, koloid, dan
terlarut. padatan tersuspensi dan koloid hanya dapat terendapkan oleh
oksidasi biologi dan pengendapan kimia melalui koagulasi, sedangkan
padatan terlarut dapat terendapkan dengan cara gravitasi. Zat padat
tersuspensi mempunyai diameter 1 mikron, koloid 1 mm mikron - 1 mikron,
dan padatan terlarut < 1 mm mikron.
b. Bau
Bau dalam air ditimbulkan oleh gas akibat peruraian mikroba. Gas
penimbul bau busuk (seperti telur busuk) yang khas adalah H 2S yang
ditimbulkan oleh mikroba anaerobik yang mereduksi sulfat menjadi sulfida.
c. Warna
Warna air merupakan identitas dari kualitasnya. Limbah cair yang
berwarna abu-abu biasanya merupakan limbah yang baru, sedangkan
yang sudah lama berwarna hitam, karena oksigennya direduksi sampai
dengan nol.
d. Konduktivitas
Konduktivitas air adalah daya hantar listrik di dalam air. Air dengan daya
hantar yang tinggi berarti mengandung garam-garam terlarut yang tinggi
pula atau sebaliknya.
2. Sifat-Sifat Kimia Bahan Anorganik
a. pH
pH disefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen
(mol/l). Air murni pada suhu 25 oC mengandung ion H- dan OH - 10-7 (mol/l).
pH air merupakan indikator kondisi asam dan basa dari air. Air dikatakan
bersifat asam apabila mempunyai pH < 7 dan dikatakan basa bila
mempunyai pH > 7. Sedangkan air dikatakan bersifat netral bila
mempunyai pH 7 dan pada pH inilah merupakan media yang baik untuk
kehidupan biota air.
b. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen yang ada dalam air dan dinyatakan
dalam mg/l pada suhu 25 oC. DO sangat dibutuhkan oleh biota air untuk
kehidupannya. Semakin tinggi DO, maka kehidupan biota semakin baik,
demikian sebaliknya. DO yang baik adalah = atau > dari 6.
c. Logam Berat
Logam berat dalam jumlah tertentu dibutuhkan oleh air untuk kehidupan
biota air, namun dalam jumlah yang besar akan bersifat racun. Logam
berat antara lain : Pb, Cr, Fe, Mn, Zn, dan Hg.

d. Nitrogen
Unsur Nitrogen sangat dibutuhkan oleh protista dan tanaman. Unsur ini
merupakan makanan perangsang pertumbuhan. Nitrogen dalam limbah
cair merupakan gabungan protein dan urea yang oleh mikroba diubah
menjadi amonia, sehingga kondisi kualitas air dapat ditunjukkan oleh
kandungan amonia yang ada. Dalam kondisi aerob, amonia dapat
dioksidasi oleh mikroba menjadi nitrat dan nitrit. Nitrit (NO 2-) kurang begitu
stabil dan penting, sehingga mudah dioksidasi menjadi nitrat (NO 3-).
Adanya unsur Nitrogen yang terlalu banyak akan menyebabkan gangguan
terhadap kehidupan biota air.
e. Phosphor (P)
Unsur P dalam air juga merupakan unsur penting untuk pertumbuhan
protista dan tanaman. Unsur P merupakan penyubur algae dan biota air
lainnya, sehingga dapat dijadikan tolok ukur kualitas air. Namun bila terlalu
banyak juga akan mengganggu kehidupan biota air.
f. Sulfur (S)
Unsur S dibutuhkan untuk sintesa protein dan dibebaskan saat terurai.
Sulfat (SO4) dapat direduksi menjadi sulfida dan gas H 2S oleh mikroba
dalam kondisi anaerob. H2S kemudian dioksidasi menjadi sulfat. Sulfat
direduksi menjadi sulfida yang akan mengganggu lumpur biologis apabila
konsentrasinya > 200 ppm. H 2S yang dibebaskan akan bergabung dengan
gas-gas CH4 dan CO2 dalam air buangan.
3. Sifat-Sifat Kimia Bahan Organik
a. Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak bersifat cair yang keduanya mempunyai komponen
karbon dan hidrogen yang bersifat tidak larut dalam air. Sifat lainnya
adalah tidak mudak terurai oleh mikroba. Dengan adanya minyak dan
lemak dalam air akan mengakibatkan DO dalam air menjadi semakin kecil,
sehingga akan mengganggu kehidupan biota air.
b. Kebutuhan Oksigen Biologis (Biological Oxygen Demand = BOD)
BOD adalah jumlah kebutuhan oksigen untuk mikroba dalam air secara
biologis untuk mengoksidasi bahan organik yang mudah terurai pada
waktu tertentu (umumnya 5 hari/BOD 5) sehingga bahan organik tersebut
dapat terurai. Semakin tinggi BOD semakin rendah DO, sehingga kualitas
air semakin jelek dan kehidupan biota air menjadi semakin terganggu. BOD
ini merupakan salah satu parameter kunci untuk kualitas air.
c. Kebutuhan Oksigen Kimia (Chemical Oxygen Demand = COD)
COD adalah jumlah kebutuhan oksigen untuk mikroba dalam air secara
kimia untuk mengoksidasi bahan organik, baik yang mudah terurai maupun
tidak mudah terurai. Test COD merupakan informasi tambahan terhadap
test BOD sebagai parameter pencemaran air. Dibanding test BOD, test
COD memerlukan waktu yang lebih singkat. Test COD ini juga merupakan
parameter kunci untuk pencemaran air.
d. Deterjen
4

Bahan ini banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga yaitu untuk
mencuci. Bahan aktif deterjen di Indonesia sebelum tahun 1993 masih
menggunakan ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) yang bersifat sulit terurai
dalam air, sehingga dapat menimbulkan pencemaran air. Setelah tahun
1993 bahan aktif tersebut telah diganti oleh bahan yang relatif mudah
terurai yaitu ALS (Alkyl Linier Sulfonat), namun harganya relatif lebih
mahal.
e. Phenol
Bahan ini merupakan unsur bahan organik yang bersifat racun terhadap
kulit dan tenggorokan serta merupakan bahan yang dapat menyebabkan
iritasi yang kuat pada kulit. Toleransi maksimum dalam air adalah 2 mg/l.
IV. KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR
1. Limbah Cair Rumah Tangga/Domestik
Limbah cair ini antara lain berasal dari buangan rumah tangga, hotel, rumah
sakit, dan sebagainya. Limbah ini umumnya berasal dari buangan mandi,
cuci, dan dapur. Pada umumnya limbah cair ini mempunyai karakteristik BOD
rata2 220 mg/l, COD rata-rata 500 mg/l, Padatan terlarut rata-rata 500 mg/l,
padatan tersuspensi rata-rata 220 mg/l, minyak dan lemak rata-rata 100 mg/l.
2. Limbah Cair Pertanian
Limbah cair ini berasal air larian yang masih mengandung sisa pupuk
anorganik (N-P-K) dan pestisida yang tidak terserap dalam tanah. Pupuk
anorganik dan pestisida tidak semuanya terserap oleh tanah, sehingga
sisanya menjadi limbah yang sebagian terakumulasi dalam tanah dan
sebagian lagi terikut dalam air larian sehingga dapat menimbulkan limbah cair
yang nantinya akan masuk ke saluran, sungai, waduk dan sebagainya dan
akhirnya akan mengganggu kesehatan manusia dan kehidupan biota
perairan.
3. Limbah Cair Pertambangan
Limbah cair ini berasal dari air larian yang mengandung unsur-unsur dalam
tambang seperti misalnya tambang batubara adalah unsur S yang
menimbulkan air asam bila dibuang ke badan air. Sedangkan untuk tambang
lainnya sangat tergantung dari unsur yang dikandungnya.
4. Limbah Cair Industri
Limbah cair ini berasal dari kegiatan industri yang membuang limbah cairnya
ke badan air. Limbah cair industri umumnya mempunyai kandungan
pencemar yang tinggi yang ditandai oleh kandungan COD dan BOD yang
tinggi (untuk COD umumnya di atas 1000 mg/l, sedangkan untuk BOD
umumnya setengah dari COD).

V. PROSES DAN SUMBER - SUMBER PENCEMARAN AIR


Proses pencemaran air terjadi akibat adanya kehadiran atau penambahan
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain secara sengaja atau tidak
disengaja ke dalam air oleh manusia dan proses alam, sehingga kualitas air
menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak sesuai lagi
dengan peruntukannya (air untuk minum, mandi, cuci, peternakan, perikanan,
pertanian, dan sebagainya). Sedangkan sumber-sumber pencemaran air
antara lain : limbah cair dari kegiatan industri, pertanian (pupuk dan pestisida),
pertambahan penduduk yang menghasilkan limbah rumah tangga/domestik
(cuci, mandi, MCK, sampah), pertambangan (air asam, logam berat) dan
kegiatan alami meliputi : limbah cair akibat pembusukan, sedimentasi, run off,
dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan dan pencemaran
kualitas air antara lain sebagai berikut :
1. Jenis Limbah Cair
Jenis limbah cair yang berbeda akan menyebabkan penurunan dan
pencemaran kualitas air yang berbeda pula. Limbah cair industri akan
berbeda pengaruhnya terhadap kualitas air dibandingkan dengan limbah
domestik/rumah tangga, pertanian atau pertambangan. Disamping jenis
limbah cair, kapasitas produksi dan cara memproses kegiatan juga
berpengaruh terhadap perbedaan penurunan dan pencemaran kualitas air.
2. Perubahan Tataguna Lahan
Perubahan tataguna lahan akan berpengaruh terhadap penurunan dan
pencemaran kualitas air. Sebagai contoh : lahan tambak, pertanian, hutan
dan perkebunan berubah menjadi industri, perumahan, dan perdagangan
akibat kegiatan pembangunan. Perubahan tersebut akan mengakibatkan
peningkatan air larian yang sebelumnya dapat tertampung dan disaring oleh
lahan tersebut. Air larian tersebut akan membawa bahan-bahan pencemar
dan akan langsung masuk ke badan air tanpa hambatan, sehingga jumlah
atau kuantitas air yang masuk ke badan air menjadi semakin banyak dengan
kualitas air yang semakin menurun. Disamping itu, dengan semakin
banyaknya kegiatan penghasil pencemar air tersebut di atas, maka limbah
cair yang dihasilkan juga semakin banyak, sehingga kualitas air di badan air
semakin lama juga semakin menurun.
3. Dayadukung Alam/Lingkungan
Dayadukung alam / lingkungan didefinisikan sebagai daya pulih (self
purification) kondisi lingkungan terhadap pengaruh limbah cair. Kondisi
lingkungan tersebut antara lain meliputi : kondisi hutan, tanaman, rawa,
tambak, sungai, tanah, gunung, perbukitan dan lain sebagainya yang akan
berpengaruh terhadap penurunan atau pencemaran kualitas air. Bila kondisi
dayadukung alamnya masih baik, maka dayapulih kondisi lingkungan
terhadap penurunan dan pencemaran kualitas air juga akan baik pula. Namun
bila dayadukung alamnya sudah jelek, maka akan terjadi sebaliknya.
4. Curah Hujan

Curah hujan di suatu daerah akan berbeda denga daerah lainnya. Hal ini
akan berpengaruh terhadap kualitas air di sekitarnya. Daerah yang
mempunyai curah hujan yang tinggi relatif mempunyai dayadukung terhadap
kualitas air yang relatif tinggi pula. Namun hal ini tidak berlaku bila di daerah
tersebut mempunyai tingkat polusi udara yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh
air hujan yang membawa pencemar udara ke dalam air berupa hujan asam
yang membahayakan kehidupan biota air.

VI. DAMPAK PENCEMARAN AIR


1. Gangguan Terhadap Kesehatan
Penurunan kualitas air dan pencemaran air sebagai akibat adanya limbah
cair sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia. Hal ini disebabkan oleh
banyaknya penyakit yang dapat ditularkan melalui media air (water born
diseases) seperti : penyakit kolera, radang usus, dan hepatitis infektiosa.
Selain itu, di dalam air itu sendiri juga mengandung bahan-bahan yang
berbahaya dan beracun, sehingga sangat membahayakan kesehatan
manusia.
2. Gangguan Terhadap Kehidupan Biota Perairan
Penurunan kualitas air dan pencemaran air sebagai akibat adanya limbah
cair dapat menurunkan oksigen terlarut (disolved oxygen = DO) di dalam air.
Dengan demikian, maka kehidupan biota air (plankton, benthos, nekton) yang
membutuhkan oksigen dalam air akan terganggu perkembangannya.
Gangguan terhadap kehidupan plankton dan benthos akan berdampak
lanjutan terhadap kehidupan ikan (nekton) karena plankton dan benthos
merupakan makanan ikan, dan selanjutnya tentunya akan berakibat terhadap
manusia sebagai pemakan ikan. Disamping itu, proses penjernihan air sendiri
melalui self purification yang seharusnya dapat dilakukan oleh biota air
tersebut menjadi terhambat atau terganggu. Sedangkan dampak limbah cair
terhadap kondisi tanah adalah terganggunya kehidupan ekosistem di dalam
tanah seperti : mikroba tanah, cacing tanah, sehingga dikhawatirkan akan
dapat memutus mata rantai ekosistem dalam tanah, sehingga akan
berpengaruh terhadap kehidupan dan konservasi tanaman yang selanjutnya
akan merugikan manusia.
3. Gangguan Terhadap Keindahan
Penurunan kualitas air dan pencemaran air sebagai akibat adanya limbah
cair akan dapat menimbulkan bau busuk yang sangat menusuk hidung.
Selain itu, warna air akibat kotoran-kotoran limbah tersebut akan
menimbulkan gangguan terhadap pemandangan, sehingga akan menurunkan
keindahan dan estetika lingkungan serta berdampak lanjutan terhadap
persepsi negatif masyarakat di sekitarnya.
4. Gangguan Terhadap Kerusakan Benda

Penurunan kualitas air dan pencemaran air sebagai akibat adanya limbah
cair yang bersifat korosif dapat menimbulkan kerusakan benda, terutama
pada benda-benda logam yang terkena limbah cair tersebut. Dengan
demikian benda-benda tersebut akan mengalami kerusakan yang lebih cepat,
sehingga dibutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih besar.

VII. PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Pengendalian pencemaran air pada dasarnya dilakukan melalui upaya-upaya
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
Pengelolaan lingkungan secara umum didefinisikan sebagai upaya terpadu
dalam pencegahan dan penanggulangan dampak negatif serta pengembangan
dampak positif terhadap lingkungan agar diperoleh manfaat yang lebih besar
bagi manusia. Pengelolaan dampak kegiatan terhadap penurunan kualitas air
dan pencemaran air dilakukan dengan cara menekan sekecil mungkin dampak
tersebut, sehingga akan tercapai stabilitas ekologi. Beberapa tindakan yang
dapat mempertinggi stabilitas ekologi dalam hubungannya dengan
penanggulangan dampak adalah memperbaiki proses fotosintesa dengan
respirasi ( mengurangi jumlah masukan pencemar air ke dalam perairan,
memperkecil waktu keberadaan nutrien di dalam perairan); pengelolaan
sumberdaya tanah (reboisasi, pengendalian erosi); memperbaiki kompleksitas
biologi (penyebaran berbagai jenis organisme, dan stratifikasi).
Sedangkan untuk mengantisipasi adanya limbah cair yang akan masuk ke
perairan pada dasarnya dilakukan melalui internal proses dan eksternal
proses sebagai berikut :
1. Internal Proses
a. Mengubah bahan (jenis dan jumlah), b. Modifikasi/mengubah proses
c. Daur ulang proses, d. Optimasi proses dan pemeliharaan
e. Pemikiran dan pengembangan ke arah teknologi bersih.
2. Ekternal Proses
a. Diversifikasi produk baru dari produk samping
b. Pengolahan limbah cair dalam IPAL (Intalasi Pengolah Air Limbah).
Pengelolaan limbah cair dari berbagai kegiatan harus dilakukan secara terpadu
dari berbagai instansi yang terkait. Pengelolaan lingkungan tidak dapat
dilakukan secara sektoral, tetapi harus terpadu dan terkait dari berbagai instansi
karena lingkungan tidak mengenal batas administratif. Dengan demikian ego
sektoral mulai sekarang harus dihilangkan. Pada dasarnya pengelolaan limbah
cair dilakukan dengan cara minimalisasi beban limbah cair yang meliputi
penekanan volume dan kadar limbah cair.

Contoh-contoh pengelolaan secara terpadu antara lain : penerapan sistem


pertanian-peternakan-perikanan secara terpadu, sistem kawasan industriperumahan-perdagangan-pendidikan dengan IPAL terpadu, sistem tata ruang
yang ramah lingkungan, sistem mix farming tambak garam dan bandeng dan
sebagainya.
Volume limbah cair dapat ditekan antara lain dengan cara :
1. Konservasi penggunaan bahan baku, bahan pembantu, dan utilitas
2. Pemisahan limbah cair dari berbagai proses
3. Daur ulang dan penggunaan kembali bahan dan utilitas dari proses
4. Pengaturan jadwal produksi untuk mengurangi jumlah limbah cair
5. Menghindari pembuangan limbah cair secara batch.
Penurunan kadar cemaran dapat dilakukan antara lain dengan cara :
1. Modifikasi peralatan dan proses
2. Ekualisasi, pemisahan, dan porportioning
3. Pengambilan hasil samping yang penting dari limbah cair.
Pemantauan lingkungan didefinisikan sebagai pengukuran yang dilakukan
secara berulang-ulang terhadap parameter kualitas lingkungan pada lokasi dan
waktu tertentu dan dilakukan untuk mengetahui perubahan kualitas lingkungan
yang terjadi sebagai akibat adanya aktivitas kegiatan pembangunan.
Pemantauan lingkungan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengelolaan
lingkungan telah dilakukan dengan baik atau belum. Apabila pengelolaan belum
dilakukan secara baik, maka pengelolaan harus diperbaiki sampai memenuhi
baku mutu. Namun apabila sudah dilakukan secara baik, maka disarankan untuk
ditingkatkan, sehingga kondisi lingkungan akan menjadi lebih baik. Khusus
untuk pemantauan pencemaran kualitas air, yang dilakukan adalah pemantauan
pencemaran kualitas air terhadap parameter fisik-kimia dan biologi air.
Pada dasarnya pengolahan limbah cair dapat dilakukan dilakukan dengan cara
fisik, kimia, biologi, lanjutan, dan gabungan. Pengolahan limbah cair tersebut
sangat tergantung dari karakteristik dan debit air limbah.
1. Pengolahan Secara Fisik
Pengolahan secara fisik bertujuan untuk memisahkan zat padat tersuspensi,
zat padat terlarut, zat koloid, dan zat emulsi yang ada dalam air limbah.
a. Penyaringan Kasar (Screening)
Penyaringan kasar bertujuan untuk memisahkan zat padat kasar dalam
air limbah, seperti : sampah daun, plastik, sedangkan penyaring kasar
antara lain : kawat, kisi-kisi, dan pelat berlubang.
b. Pengendapan (Precipitation/Sedimentation)
Pengendapan ini bertujuan untuk memisahkan partikel-patikel tersuspensi
dalam air limbah dengan cara membiarkan air tidak bergerak untuk
kemudian kotorannya akan terendapkan dengan sendirinya akibat gaya
berat atau gravitasinya sendiri.
c. Pengapungan (Flotation)

Pengapungan ini bertujuan untuk memisahkan partikel padat maupun


cair dengan cara memasukkan gelembung gas dalam fase cair. Partikel
yang sudah terapung dihilangkan dengan cara skimming.
d. Penyaringan halus (Filtration)
Penyaringan ini bertujuan untuk memisahkan zat-zat tersuspensi dengan
cara mengalirkan zat cair tersebut ke dalam suatu media berpori (pasir,
kerikil).
2. Pengolahan Secara Kimia
Pengolahan secara kimia dilakukan dengan penambahan zat kimia ke dalam
air limbah, sehingga dapat dipisahkan antara lain : zat-zat organik tak
terdekomposisi, zat-zat anorganik, logam berat, phosphat, merkuri, sianida.
Disamping itu, pengolahan kimia juga ada yang bertujuan untuk membunuh
mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit yaitu dengan cara
desinfektasi menggunakan khlor.
a. Penetralan pH
Proses penetralan pH merupakan pengolahan awal (pre treatment) agar
dapat memudahkan proses selanjutnya. Bila larutan bersifat asam
ditambah dengan basa (misal CaCO 3), bila larutan bersifat basa ditambah
dengan asam atau gas CO2.
b. Pengendapan Kimia (Koagulasi)
Pengendapan kimia dilakukan karena pada pengendapan dengan cara
sedimentasi belum dapat bekerja secara sempurna untuk menghilangkan
zat-zat tersuspensi. Koagulan yang biasa digunakan antara lain :
tawas/alum, kapur Ca(OH)2, ferri sulfat, ferri khlorida dan copperas.
c. Gas Transfer
Gas dimasukkan ke dalam limbah cair, sehingga gas-gas yang tidak
diinginkan (gas amoniak, H2S) akan keluar, selain itu juga gas tersebut juga
berguna untuk kehidupan bakteri aerob (dengan oksigen) yang dapat
menguraikan zat pencemar dalam air limbah.
d. Khlorinasi
Proses ini dilakukan untuk desinfektasi terhadap mikroorganisme yang
dapat menimbulkan penyakit. Proses desinfektasi dilakukan dengan cara
khlorinasi yaitu memasukkan khlorine ke dalam air limbah yang akan
masuk ke badan air, sehingga tidak membahayakan bagi lingkungan.
3. Pengolahan Secara Biologi
Pengolahan secara biologi dilakukan dengan cara pemberian mikroorganisma
ke dalam air limbah, sehingga zat-zat pencemar di dalam air limbah dapat
terurai. Secara umum pengolahan secara biologi meliputi : proses aerobik,
anaerobik, dan fakultatif.

a. Proses Aerobik

10

Proses aerobik (dengan oksigen) secara umum menggunakan proses


lumpur aktif. Proses ini menggunakan metode yang sederhana, yaitu
dengan menumbuhkan massa sel mokroba sampai konsentrasi yang cukup
tinggi. Dengan demikian sel mikroba tersebut mampu mengubah bahan
organik menjadi bahan yang lebih aman untuk lingkungan yaitu CO 2 dan
H2O dengan laju yang tinggi. Pada proses lumpur aktif secara aerobik,
oksigen berfungsi sebagai penerima elektron akhir untuk reaksi biooksidasi yang harus dicatu dari fase gas. Bahan organik dalam
dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan maupun dioksidasi
menjadi senyawa yang lebih sederhana yaitu CO 2 dan H2O. Selain itu agar
pertumbuhan mikroorganisme menjadi optimum, maka harus ditambah
unsur hara ke dalam air limbah tersebut. Keuntungan proses ini adalah
hasil olahan air limbah menjadi tidak terlalu berbau. Proses aerobik sangat
cocok untuk menguraikan air limbah yang mempunyai kandungan COD
yang tidak terlalu tinggi < 1000 mg/l dengan ratio COD/BOD sekitar 2 - 3
b. Proses Anaerobik
Proses anaerobik menggunakan mikroorganisme yang bersifat anaerob
(tanpa oksigen). Proses ini akan menguraikan bahan organik dan
anorganik yang ada dalam air limbah tanpa adanya oksigen. Pada tahap
pertama terjadi proses hidrolisa dan fermentasi senyawa organik kompleks
menjadi sederhana, misalnya asam asetat. Pada tahap kedua terjadi
proses pengubahan asam organik sederhana menjadi gas methane dan
CO2. Keuntungan proses ini antara lain : dapat menangani air limbah
dengan beban yang tinggi, prosesnya sederhana, menghemat listrik,
namun timbul bau dan waktunya lebih lama. Proses anaerobik sangat
cocok untuk menguraikan air limbah yang mempunyai kandungan COD
yang tinggi > 1000 mg/l dengan ratio COD/BOD > 3
c. Proses Fakultatif
Proses fakultatif merupakan proses antara aerobik dan anaerobik yaitu
dengan menggunakan mikroorganisme yang bersifat aerob (dengan
oksigen) dan anaerob (tanpa oksigen). Proses ini akan menguraikan bahan
organik dan anorganik yang ada dalam air limbah tanpa dan dengan
adanya oksigen. Mikroorganisme yang berada di bak atau tangki air limbah
bagian atas bersifat aerobik, sedangkan pada bagian bawah atau bagian
dalam akan bersifat anaerobik.
4. Pengolahan Lanjutan
Pengolahan ini dilakukan apabila beberapa komponen pencemar tidak dapat
diolah dengan cara-cara di atas, misalnya Ca, K, SO 4. Proses tersebut antara
lain : proses ion exchange dan adsorbsi dengan menggunakan karbon aktif.

5. Pengolahan Secara Gabungan

11

Pengolahan ini dilakukan dengan cara menggabungkan pengolahan secara


fisik, kimia, biologi, dan lanjutan. Pengolahan secara gabungan biasanya
dilakukan di industri yang sangat kompleks limbahnya. apabila beberapa
komponen pencemar tidak dapat diolah dengan cara-cara di atas, misalnya
Ca, K, SO4. Proses tersebut antara lain : proses ion exchange dan adsorbsi
dengan menggunakan karbon aktif.

VIII. PENUTUP
Dengan mengetahui, mendalami dan memahami tentang proses pencemaran air
dan pengendaliannya, maka diharapkan dapat bermanfaat bagi peserta serta
dapat diimplementasikan di daerah masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA
1. Corbitt, R.A.1990. Standard Hanbook Of Environmental Engineering.
McGraw Hill. Inc. New York.
2. Djajadiningrat, A.1994. Pengolahan Limbah Cair. Pelatihan Pengolahan
Limbah., ITB, Bandung.
3. Suratmo, F. Gunarwan. 1991. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
4. Metcalf and Eddy. 1979. Wastewater Engineering: Treatment, Disposal,
Reuse. 2nd Edition. McGraw Hill Series Water Resources
and Environmental Engineering, New York.
5. Nugroho, A. 1997. Teknologi Pengolahan Limbah Cair Lanjut Bagian I.
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro, Semarang.
6. Sugiarto. 1987. Dasar-Dasar Pengolahan Limbah Cair., Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
7. RTM Sutamihardja. 1990. Dampak pada Ekologi Perairan. Kursus AMDAL A,
LSM BINTARI, Semarang.

12