Anda di halaman 1dari 2

Sperber-Wilson mengkaji pragmatik dengan menggunakan Teori Kognisi.

Pragmatik berbicara tetang bagaimana pesan itu ditangkap, diolah, dan


dikembalikan (encoding, decoding, recoding). Dalam perkembangannya, kajian
pragmatik tentang implikatur dianggap kurang memuaskan karena berkutat
pada masalah struktural, karena itu Sperber-Wilson menawarkan konsep
relevansi dari logika dan penalaran. Pandanaan ini berkembang dalam Teori
Komunikasi dan Kognisi Sperber-Wilson.
Keadaaan otak sangat berpengaruh terhadap kemampuan
berbahasa/komunikasi.Beberapa fenomena kebahasaan mengalami kendalakendala pragmatik. Pragmatik telah berkembang dan mengalami internalisasi ke
dalam kecenderungan kognitif. Banyak kajian yang menerapkan teori dan
kerangka dengan berbagai pendekatan khusus pragmatik untuk mendiagnosis
gangguan-gangguan bahasa. Fenomena-fenomena pragmatik seperti tindak
tutur, konteks, pengetahuan pendengar, maksim-maksim & implikatur
percakapan, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis
percakapan dan wacana dijadikan sebagai indikator pendeteksian gangguan
pragmatik dalam kajian linguistik klinis yakni Patologi Bahasa. Contoh,
penderita autis. Mereka mengalami masalah pada sistem gramatika di otak,
maka yang perlu penangan khusus dalam penguasaan konsep (lange) agar
mereka lebih mudah dalam berkomunikasi.
Perkembangan metode linguistik yang pernah ramai diperbincangkan salah
satunya adalah metode NLP (Neurolinguistic Programming). Metode ini
menggabungkan antara ilmu neurologi, linguistik, dan
empirism/pengalaman (programming). Terdapat beberapa teknik NLP yang
dapat dimanfaatkan dalam menjalin komunikasi yang harmonis, yaitu rapport,
matching dan mirroring, pacing dan leading, serta sistem representasi.3 Menurut
Stollznow (2010), "NLP juga melibatkan analisis fringe discourse dan pedoman
praktis untuk meningkatkan komunikasi. Misalnya, satu teks menegaskan ketika
Anda mengadopsi kata "tapi", orang akan mengingat apa yang Anda katakan
sesudahnya. Dengan menggunakan kata "dan", orang mengingat apa yang Anda
katakan sebelum dan sesudahnya. Namun, NLP berkembang menjadi metode
pseudosains yang didiskreditkan karena beberapa ulasan penelitian empiris
menunjukkan bahwa NLP telah gagal memproduksi hasil yang dapat diandalkan
terhadap ajaran intinya.4
3 Wikanengsih. Memperkukuh Jati Diri Bangsa Yang Berkarakter Melalui
Pemakaian Bahasa Indonesia Yang Santun . Jurnal. Tanpa Tahun.. STKIP Siliwangi
Bandung
4 NLP dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
INTELEGENSI ARTIFISIAL. Pragmatik memberi pengaruh terhadap inteligensi
artifisial. Hal ini dapat disimak pada implikasi pragmatik yang memberikan
model pemrosesan inteligensi artifisial dalam pemrosesan bahasa. Pengolahan
informasi mesin merupakan analog kognisi manusia. Program-program komputer
mampu memahami permintaan bahasa yang alami, seperti aturan yang
minimum, semantik, sintaktis, dasar pengetahuan yang berkonteks sosial dan
dunia serta beberapa metode dalam mengatasi keambiguan yang muncul dalam
penggunaan bahasa pada umumnya. Pragmatik mengambil keuntungan
konseptual dengan asimilasi berbagai temuan dan wawasan AI. Tipe-tipe

pengetahuan yang berbeda dapat direpresentasikan paling baik oleh AI. Teknik
penalaran nonmonoton memberi landasan dalam menyelidiki defeasibilitas
implikatur-implikatur percakapan. Meski proses pemahaman mesin AI dapat
dikatakan cerdas akan tetapi belum dapat dikatakan pintar, karena semua
bergantung pada seperangkat kontrol program dan pola-pola mekanis sistemik.
Terkait kemungkinan perkembangan inteligensi artifisial, Descartes menyatakan,
secara moral tidak mungkin ada cukup wawasan pada sebuah mesin untuk
melakukan semua tindakan di hidupnya seperti halnya nalar manusia. Manusia
memang berhasil membuat analogi kecerdasan otak pada sebuah mesin, namun
tetap saja manusia tidak bisa membuat sebuah mesin melakukan kegiatan
berpikir seperti apa yang dilakukan manusia. Pun demikian, manusia terus
percaya dan berusaha mengembangkan sebuah otak komputer menyerupai otak
manusia bisa muncul di tahun 2020.2
BEBERAPA TOPIK DAN DISIPLIN BARU
SIFAT ACUAN. Kita sepakat pragmatik bersumber dari positivism, karena itu
haruslah referensial. Dalam pragmatik sifat acuan harus jelas (tanda, indeksikal,
deiksis). Fakta harus ditelusuri melalui proposisi-proposisi dan inferensi. Bas van
Fraassen percaya bahwa pragmatik dapat menguraikan suasana paradoks
akibat ketidak pastian acuan argumen model teori Putnam. Ini merupakan
pertanyaan filsafat yang jawabannya dapat diberikan oleh pragmatik.
ANGGAPAN. Logika formal telah memancing munculnya pemikiran tentang
anggapan. Anggapan menjadi penting dengan beberapa alasan berikut 1)
anggapan merupakan dasar prinsip dan proses pragmatik, 2) prinsip dan proses
pragmatik menolak kerangka yg lain, 3) penelitian logika informal dan
argumentasi mendukung sifat dan fungsi anggapan dalam pragmatik. Dengan
memanfaatkan bidang lain seperti filsafat dan psikologi, sifat logis anggapan
diharapkan dapat tercapai.
KONSEPSI PRAANGGAPAN. Dalam pragmatik, praanggapan diperoleh dari
implikatur dan konteks. Pun demikian, konsep praanggapan yang benar-benar
koheren masih menunggu kemajuan bidang lain, terutama mengenai kerangka
dialektika komitmen partisipan yang berubah-ubah dalam dialog.
HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN KOGNISI. Berapapun banyaknya penjelasan
mengenai hubungan komunikasi dan kognisi dalam pragmatik, kita masih
membutuhkan validasi dari berbagai disiplin seperti linguistik klinis dan
neurolinguistik. Ilmu adalah satu, dan tidak bisa terpisah-pisah. Semua saling
memberi kontribusi dalam kemajuan bidang yang lain.***