Anda di halaman 1dari 15

Tahap Penyelesaian Audit

Pertemuan 17
Dosen : Wiwit Irawati, S.E.

nfa
a
M

i
d
u
at A

i
m
o
n
o
k
E
k
e
p
s
a
ri
a
d
t

Meningkatkan kredibilitas perusahaan.


Meningkatkan efisiensi dan kejujuran.
Meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Mendorong efisiensi pasar modal.

LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU

Unsur Laporan Audit Bentuk Baku (lihat Gambar 3.1)


1. Judul Laporan
2. Alamat Laporan
3. Paragraf Pendahuluan
4. Paragraf Scope
5. Paragraf Pendapat
6. Nama KAP
7. Tanggal Laporan Audit
Kategori Laporan Audit (lihat Gambar 3-2)
1. Wajar Tanpa Syarat
2. Wajar Tanpa Syarat dengan Paragraf Penjelasan atau
dengan Modifikasi Kalimat
3. Wajar Dengan Pengecualian
4. Tidak Wajar
5. Menolak Memberikan Pendapat (Disclaimer)

Paragraf pendahuluan
Jenis jasa yang diberikan (audit)
Obyek audit (laporan keuangan, nama perusahaan yang
diaudit, tanggal LK)
Perbedaan tanggung jawab manajemen dan auditor

Paragraf luas pemeriksaan


Audit telah sesuai dengan SABU
Memuat keyakinan auditor bahwa hasil auditnya telah
memberikan dasar yang memadai terhadap laporan
pendapatnya

Paragraf pernyataan pendapat


Pernyataan bahwa LK wajar dalam seluruh aspek yang
materiil
Memuat informasi tentang posisi keuangan pada tanggal
neraca dan hasil operasi dan aliran kas periode tersebut
Pernyataan bahwa LK telah disusun sesuai dengan PABU

LAPORAN AUDITOR BENTUK


BAKU.
Laporan auditor bentuk baku memuat suatu
pernyataan auditor independen bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material, posisi keuangan
suatu satuan usaha, hasil usaha, dan arus kas
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum. Laporan bentuk baku inilah yang paling
banyak dikeluarkan auditor.

Penyimpangan dari Laporan Audit


Bentuk Baku.
Penambahan bahasa penjelasan dalam
laporan audit bentuk baku yang
memberikan pendapat wajar tanpa
pengecualian.
Pernyataan pendapat selain pendapat
wajar tanpa pengecualian.

LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU


Kondisi bagi Laporan Audit Wajar Tanpa Syarat
1. Seluruh Laporan Keuangan, lengkap
2. Semua aspek dari ketiga standar umum
GAAP/PSAK telah dipatuhi dalam penugasan
audit
3. Bukti audit yang cukup memadai telah
terkumpul
4. Laporan Keuangan telah disajikan sesuai
dengan PABU
5. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor
merasa perlu untuk menambahkan sebuah
paragraf penjelasan atau modifikasi kalimat

LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU


Laporan Audit Wajar Tanpa Syarat dengan
Paragraf Penjelasan atau Modifikasi
Kalimat, penyebabnya :
Tidak adanya konsistensi dalam Penerapan

GAAP/PSAK (lihat Gambar 3.3)


Kalangsungan hidup perusahaan (lihat
Gambar 3.4)

Auditor menyetujui terjadinya


penyimpangan dari PABU
Penekanan masalah
Laporan yang melibatkan auditor lainnya
(lihat Gambar 3-5)

PENYIMPANGAN DARI LAPORAN AUDIT BENTUK


BAKU
1. Ruang Lingkup Dibatasi
Terjadi karena auditor tidak dapat mengumpulkan bukti audit

yang
memadai untuk menyimpulkan apakah laporan
keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP/PSAK

2. Penyajian Laporan Keuangan Tidak Sesuai dengan


Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (Penyimpangan
dari GAAP/PSAK)
3. Auditor Tidak Independen
Ditentukan berdasarkan Aturan 101 dari Aturan Kode Etik

Profesional

Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified


Opinion)
Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion)

DISKUSI ATAS KONDISI YANG MEMBUTUHKAN


PENYIMPANGAN
1. Lingkup Audit Auditor telah Dibatasi
disebabkan oleh klien dan kondisi diluar kendali klien
maupun auditor

Wajar Dengan Pengecualian Akibat Adanya


Pembatasan Lingkup Audit (lihat Gambar 3-6)
Penolakan Pemberian Pendapat Audit Akibat
Adanya Pembatasan Lingkup Audit (lihat Gambar 3-7)
Pemberian Pendapat Wajar Dengan Pengecualian
Akibat Tidak Dipatuhinya Prinsip dalam GAAP (lihat
Gambar 3-8)
Pemberian Pendapat Tidak Wajar akibat Tidak
Dipatuhinya Prinsip dalam GAAP (lihat Gambar 3-9)

2. Penyajian Laporan Keuangan Tidak Sesuai


dengan GAAP
Auditor harus menerbitkan Pendapat Wajar Dengan
Pengecualian (lihat Gambar 3-8) atau Pendapat Tidak
Wajar, tergantung dari tingkat materialitas item
tersebut
Saat nilainya sangat material atau sangat pervasive
sehingga diperlukan Pendapat Tidak Wajar, maka
paragraf scope-nya sama dengan bentuk baku,
paragraf ketiga (qualifying paragraph) dapat sama, tapi
paragraf pendapat dibuat seperti dalam Gambar 3-9

3. Auditor Tidak Independen (lihat Gambar 3-11)


Penolakan pemberian pendapat harus dilakukan,
walaupun seluruh prosedur audit yang dilaksanakan
dianggap telah sesuai dengan kondisi yang ada

Penyimpangan dari laporan baku


Lapora
n baku

Laporan
baku
dengan
penjelasan

WTS

WTS

Keadaan

Audit sesuai SABU,


laporan keuangan
sesuai PABU dan:
tidak perlu
penjelasan
perlu penjelasan
Laporan keuangan

Pendapat auditor
jenis lain
WDS

Tidak Menola
wajar
k

V
V

PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN AUDITOR UNTUK PENERBITAN


LAPORAN AUDIT
1. Menentukan Apakah Terdapat Kondisi yang Memerlukan
Penyimpangan dari Laporan Audit Bentuk Baku (lihal Tabel 3-3)
Jika ada kondisi terebut diidentifikasi dan dimasukkan dalam kertas kerja
sebagai bahan diskusi untuk menentukan laporan audit yang tepat untuk
diterbitkan, jika tidak ada auditor akan menerbitkan laporan audit bentuk baku

2. Memutuskan Tingkat Materialitas Tiap Kondisi (lihat Tabel 3-2)


Ketika terdapat penyimpangan dari GAAP atau pembatasan ruang
lingkup audit, diputuskan apakah tidak material, material atau sangat
material
Semua kondisi, kecuali bila terjadi ketiadaan independensi bagi
auditor, hanya membedakan apakah tidak material atau material
Merupakan hal yang sulit dan membutuhkan pertimbangan yang
matang

3. Memutuskan Jenis Laporan Audit yang Tepat bagi Kondisi Tertentu


Memutuskan jenis pendapat yang akan diberikan dengan bantuan
suatu alat pembantu pembuat keputusan (lihat Tabel 3-2)

4. Menuliskan Laporan Audit


KAP memiliki suatu file komputer yang telah berisi kalimat yang tepat
untuk masing-masing kondisi yang berbeda

Terdapat Lebih dari Satu Kondisi yang


Membutuhkan Penyimpangan atau
Modifikasi
Contoh situasi dimana auditor harus
memodifikasi pendapatnya

Dampak E-Commerce pada Laporan Audit


Standar audit menekankan bahwa situs
elektronik adalah sebuah cara
mendistribusikan informasi dan tidak
dianggap dokumen seperti istilah yang
digunakan dalam GAAS

Tanggung Jawab Auditor


Tanggung jawab auditor hanya terbatas pada
pemberian pendapat atas kewajaran
penyajian laporan keuangan.
Tanggung jawab auditor timbul jika auditor
gagal menemukan kekeliruan, ketidakberesab
atau kecurangan karena kelalaiannya
mematuhi norma-norma atau SABU.