Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kemajuan dan kelancaran sarana telekomunikasi akan menunjang
pelaksanaan pembangunan berupa penyebaran kebutuhan informasi ke seluruh
pelosok tanah air, misalnya sektor industri, perdagangan, pariwisata dan
pendidikan. Dalam lingkungan nasional, telekomunikasi merupakan sarana
vital

negara

Indonesia

untuk

memperlancar

kegiatan

pemerintah,

meningkatkan hubungan antar bangsa, mempelancar komunikasi warga antar


daerah serta memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam rangka wawasan
nusantara.
Untuk melaksanakan penyelenggaraan telekomunikasi diperlukan
suatu badan pengelola, seperti yang dilakukan oleh PT. Telekomunikasi
Indonesia (PT. Telkom) yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa
sambungan telekomunikasi. Salah satu layanan PT. Telkom yang mulai
diluncurkan pada tahun 2006 adalah Telkom Speedy. Telkom Speedy
merupakan layanan internet access end to end dari PT. Telkom dengan basis
teknologi Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL), yang dapat menyalurkan
data dan suara secara simultan melalui satu saluran telepon biasa dengan
kecepatan maksimal 384 kbps yang dijaminkan dari modem sampai BRAS
(Broadband Remote Access Server) di sisi perangkat Telkom Speedy. Dengan
slogan Broadband Internet Access for Home and Small Office, maka Telkom

Speedy menjadi solusi utama bagi akses broadband koneksi internet tidak
hanya di kalangan bisnis namun meluas sampai ke rumah-rumah.
Telkom Speedy mulai diluncurkan dengan cakupan layanan nasional
secara bertahap mulai bulan Mei 2006. Pada awalnya beberapa daerah yang
sudah dapat dilayani (first package) meliputi, Medan, Pekanbaru, Padang,
Batam, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang,
Yogyakarta, dan Solo. Cakupan layanan Telkom Speedy senantiasa terus
diperluas ke daerah-daerah lainnya di tahun 2010 ini dan tahun-tahun
berikutnya untuk memenuhi kebutuhan akses broadband yang telah
meningkat pesat.
Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan jasa telekomunikasi,
khususnya internet dengan provider Telkom Speedy yang diselenggarakan
oleh PT. Telkom, terlebih dahulu harus mengadakan perjanjian dengan PT.
Telkom. Perjanjian berlangganan internet Telkom Speedy pada PT. Telkom
dapat dikonstruksikan sebagai perjanjian untuk melakukan jasa. Perjanjian
untuk melakukan jasa diatur dalam Pasal 1601 K.U.H.Perdata yang berbunyi:
Selain persetujuan-persetujuan untuk menyelenggarakan beberapa jasa yang
diatur oleh ketentuan-ketentuan khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang
diperjanjikan, dan apabila ketentuan-ketentuan yang syarat-syarat ini tidak
ada, persetujuan yang diatur menurut kebiasaan.
Hukum perjanjian menganut azas kebebasan berkontrak, yang berarti
bahwa hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
seseorang untuk membuat perjanjian, asalkan tidak bertentangan dengan

undang-undang, ketertiban umum serta kesusilaan. Asas kebebasan berkontrak


ini ditafsirkan dari Pasal 1338 ayat (1) K.U.H.Perdata yang menyatakan,
bahwa: Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya.
Dalam sebuah perjanjian, masing-masing pihak yaitu, pihak pengguna
jasa atau pelanggan dan pihak penyelenggara jasa yaitu PT. Telkom
mempunyai hak dan kewajiban. Pelaksanaan suatu perjanjian yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak tidak selalu sesuai dengan apa yang
diharapkan. Sebagai pihak penyedia jasa, PT. Telkom sudah semestinya
memperoleh hak untuk menerima harga pembayaran jasa telekomunikasi
internet dari pelanggan, tetapi dalam kenyataannya masih banyak pihak
pelanggan yang sama sekali tidak melakukan pembayaran. Di lain pihak,
pengguna jasa Telkom Speedy juga ada yang merasa dirugikan, seperti
pengguna jasa Telkom Speedy tidak memakai melebihi batas pemakaian
(kuota), namun jumlah tagihan pembayarannya malah meningkat. Hal ini
dapat saja terjadi karena username dan password pemakaian diketahui oleh
orang lain akibat kesalahan sendiri atau kelemahan pihak PT. Telkom dalam
mengantisipasi

pengambilan

data

oleh

pihak-pihak

yang

tidak

bertanggungjawab atau dikarenakan kesalahan instalasi, yaitu pada waktu


instalasi pertama kali pemasangan Telkom Speedy, pihak pengguna jasa tidak
diberikan penjelasan secara jelas.
Seperti diketahui bahwa setting instalasi Telkom Speedy ada 2 (dua)
macam, yaitu denga sistem dial-up dan otomatis. Dengan sistem dial-up ini,

maka kontrol pemakaian dapat diketahui pihak pengguna jasa, sedangkan


sistem otomatis tidak dikontrol oleh pengguna jasa, akan tetapi koneksi
internet otomatis berjalan apabila komputer dan modem dinyalakan. Sistem
otomatis ini biasanya dipasang apabila digunakan lebih dari 2 (dua) komputer,
karena instalasi pemasangan lebih mudah, dari pada menggunakan sistem
network connection dengan kabel LAN.
Pembengkakan atau penurunan kualitas pelayanan dapat terjadi,
apabila kuota yang diberikan telah habis. Pengguna jasa Telkom Speedy
biasanya menggunakan paket family, yaitu paket kuota sampai dengan 3 GB
dengan kecepatan maksimal 384 dan kecepatan akan menurun apabila kuota
yang disediakan telah habis. Permasalahan dapat terjadi apabila pengguna jasa
Telkom Speedy tidak diberikan penjelasan oleh petugas instalasi tentang
sistem koneksi yang digunakan Telkom Speedy. Seperti yang terjadi pada
kasus berikut ini: Seorang pengguna jasa Telkom Speedy berlangganan paket
family, karena menginginkan agar kedua koputernya dapat berkoneksi dengan
internet, maka petugas instalasi menyambungkan kedua komputer milik
pengguna jasa dengan Telkom Speedy. Petugas instalasi yang bersangkutan
memasang dengan sisten otomatis, akan tetapi dalam proses instalasi ini, pihak
pengguna jasa tidak diberikan penjelasan tentang kelebihan dan kekuarngan
sistem dial-up maupun sisten otomatis. Akibatnya pihak pelanggan Telkom
Speedy merasakan pelayanan yang dijanjikan tidak sesuai, karena baru
beberapa hari pemakaian, kecepatan yang dijanjikan sudah menurun, padahal
pihak pelanggan merasa tidak pernah melakukan download sama sekali.

Meskipun demikian pihak pelanggan tetap berkewajiban membayar biaya


secara penuh, sehingga ia merasa dirugikan. Pada kasus yang lain, ada juga
seorang pengguna jasa Telkom Speedy yang berlangganan paket Game. Pada
paket game ini, kecepatan yang dijanjikan adalah sampai dengan 768 kbps,
akan tetapi pada kenyataannya kecepatan yang didapat hanya 153 kbps sampai
dengan 384 kbps, padahal biaya yang dibayar tetap sesuai dengan paket game,
dimana paket game ini lebih mahal dari pada paket family.
Padahal di dalam Pasal 8 ayat (2) huruf 6 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa: Pelaku usaha
dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang
tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan,
iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut. Di samping hal
tersebut, Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memberikan
kewajiban kepada pelaku usaha untuk memberikan informasi yang benar, jelas
dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi
penjelasan pcnggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.
Dikaitkan dengan contoh kasus yang telah diuraikan di atas, maka
pengguna jasa Telkom Speedy yang dimaksud kurang mendapatkan
perlindungan hukum terhadap konsumen sesuai dengan ketentuan yang ada
dalam undang-undang, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang, Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pengguna Jasa Internet
Telkom Speedy.

B. Perumusan Masalah
Atas dasar latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan
dalam penulisan skripsi ini adalah:
Bagaimanakah perlindungan hukum konsumen terhadap pengguna
jasa Telkom Speedy?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka
tujuan dari penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui perlindungan hukum konsumen terhadap pengguna
jasa Telkom Speedy.

D. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Perjanjian
Istilah perjanjian, sebagai terjemahan dari agreement dalam bahasa
Inggris, atau overeenkomst dalam bahasa Belanda.1 Di samping itu, ada juga
istilah yang sepadan dengan istilah perjanjian, yaitu istilah transaksi yang
merupakan terjemahan dari istilah Inggris transaction. Namun demikian,
istilah perjanjian adalah yang paling modern, paling luas dan paling lazim
digunakan, termasuk pemakaiannya dalam dunia bisnis.
Perjanjian adalah suatu kesepakatan (promissory agreement) di antara
2 (dua) atau lebih pihak yang dapat menimbulkan, memodifikasi, atau
menghilangkan hubungan hukum. Ada juga yang memberikan pengertian
1

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 9.

sebagai suatu serangkaian perjanjian di mana hukum memberikan ganti rugi


terhadap wanprestasi dari kontrak tersebut, dan oleh hukum, pelaksanaan dari
kontrak tersebut dianggap merupakan suatu tugas yang harus dilaksanakan.
Pasal 1313 K.U.H.Perdata memberikan definisi perjanjian adalah:
Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.
Menurut Subekti, perjanjian merupakan terjemahan dari kata
overeenkomst.2 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, menerjemahkan istilah
overeenkomst

dengan

pengertian

persetujuan.3

Menurut

Setiawan,

overeenkomst berasal dari kata overeenkomen yang berarti setuju ataupun


sepakat,

karena

itulah

dipergunakannya

istilah

persetujuan

untuk

menerjemahkan istilah overeenkomst.4


Berdasarkan rumusan perjanjian yang telah dikemukakan tersebut,
maka pengertian perjanjian itu mempunyai unsur-unsur yang dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Ada dua pihak atau lebih
Para pihak yang disebutkan itu adalah subyek pada perjanjian yang dapat
berupa manusia pribadi atau badan hukum. Untuk dapat membuat
perjanjian tersebut harus mampu atau wenang melakukan perbuatan
hukum seperti yang telah ditetapkan dalam undang-undang.
b. Ada kesepakatan diantara para pihak

Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa Jakarta, 1985, hlm. 1.


Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perutangan, Sumur Bandung, Bandung, 1989, hlm. 1.
4
Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perjanjian, Bina Cipta, Jakarta, 1987, hlm. 2.
3

Kesepakatan yang dimaksud adalah yang bersifat tetap, artinya tidak


termasuk

tindakan-tindakan

pendahuluan

untuk

mencapai

adanya

persetujuan atau kesepakatan. Persetujuan ini dapat diketahui dari


penerimaan tanpa syarat atas suatu tawaran yang berarti apa yang
ditawarkan pihak yang satu diterima oleh pihak lainnya.
c. Ada tujuan yang akan dicapai
Tujuan para pihak mengadakan perjanjian adalah agar memenuhi
kebutuhan pihak-pihak, oleh karena itu di dalamnya harus ada tujuan yang
akan dicapai. Tujuan tersebut tidak boleh bertentangan dengan ketertiban
umum, kesusilan dan tidak dilarang oleh undang-undang.
d. Ada prestasi yang harus dilaksanakan
Dalam suatu perjanjian, para pihak disamping memperoleh hak dibebani
pula dengan kewajiban-kewajiban yang berupa suatu prestasi. Prestasi
merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak sesuai
persyaratan atau syarat-syarat perjanjian, misalnya penjual berkewajiban
menyerahkan barang yang telah dijualnya.
Tidak ada kesatuan pendapat mengenai pengertian perjanjian, namun
apabila diperhatikan dengan sesama, maka pada dasarnya perjanjian
merupakan suatu hubungan hukum berdasarkan kesepakatan antara dua pihak
atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk menimbulkan suatu akibat
hukum tertentu. Kedua belah pihak atau lebih tersebut terikat karena

kesepakatan yang mereka lakukan untuk melaksanakan tujuan yang termaksud


dalam perjanjian yang mereka buat.5
2. Asas-asas Perjanjian
Dalam hukum perjanjian juga terdapat beberapa asas yang mendasari
berlakunya suatu perjanjian. Untuk lebih jelasnya mengenai asas hukum yang
dimaksud dalam perjanjian ini, satu persatu dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Asas Konsensualitas
Asas ini berkaitan dengan saat lahirnya suatu perjanjian. Asas ini
menyatakan bahwa perjanjian sudah lahir pada saat tercapainya kata
sepakat diantara para pihak mengenai unsur-unsur pokoknya.
Soedikno Mertokusumo mengemukakan sebagai berikut: Untuk
adanya perjanjian harus ada dua kehendak yang mencapai kata sepakat
atau konsensus. Tanpa kata sepakat tidak mungkin ada perjanjian, tidak
menjadi soal apakah kedua kehendak itu disampaikan secara lisan atau
tertulis. Bahkan dengan bahasa isyarat atau membisu sekalipun dapat
terjadi perjanjian asal ada kata sepakat.6
b. Asas Kebebasan Berkontrak
Menurut asas ini, hukum perjanjian memberikan peluang kepada
masyarakat untuk menentukan isi perjanjian, bentuk maupun obyek dari
perjanjian tersebut. Kebebasan berkontrak haruslah memperhatikan
batasan-batasan tertentu seperti diatur dalam Pasal 1337 K.U.H.Perdata

5
6

Ibid, hlm. 96.


Ibid, hlm. 96.

yang intinya memberikan batasan yaitu tidak dilarang oleh undangundang, tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.
Asas kebebasan berkontrak ini juga dapat dianalisis dari ketentuan
Pasal 1338 ayat (1) K.U.H.Perdata yang menyatakan: Semua persetujuan
yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya.
c. Asas Kekuatan Mengikat Perjanjian
Pengertian asas kekuatan mengikat perjanjian ini adalah para pihak
yang telah mengadakan perjanjian tersebut, masing-masing terikat dengan
ketentuan yang terdapat di dalam perjanjian yang telah diadakan tersebut.
Soedikno Mertokusumo mengemukakan sebagai berikut: Para pihak
haruslah melaksanakan apa yang mereka sepakati sehingga perjanjian itu
berlaku sebagai undang-undang. Ini berarti bahwa kedua belah pihak
wajib mentaati dan melaksanakan perjanjian. Asas kekuatan mengikat ini
berhubungan dengan akibat perjanjian dan dikenal sebagai Pacta Sunt
Servanda, sudah selayaknya bahwa sesuatu yang telah disepakati oleh
kedua belah pihak dipatuhi pula oleh kedua belah pihak.7
d. Asas Kepribadian
Pasal 1315 dan 1340 K.U.H.Perdata mengatur bahwa, pada dasarnya
suatu perjanjian hanya mengikat kedua belah pihak yang mengadakan
perjanjian tersebut. Asas ini dinamakan asas kepribadian suatu perjanjian,
sedangkan pihak-pihak di sini maksudnya adalah, siapa saja yang

Soedikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengatar, Liberty, Yogyakarta, 1989, hlm. 97.

10

tersangkut dalam perjanjian, yaitu kreditur dan debitur. Terhadap asas


kepribadian tersebut terdapat suatu pengecualian yang disebut janji guna
pihak ketiga, yaitu bahwa dalam suatu perjanjian dimungkinkan adanya
hak pihak ketiga yang adanya sejak pihak ketiga itu menyatakan
kesediaannya menerima prestasi tersebut, seperti diatur dalam Pasal 1317
K.U.H.Perdata.
Menurut Setiawan, janji untuk pihak ketiga adalah, Janji yang oleh
para pihak dituangkan dalam suatu perjanjian dimana ditentukan bahwa
para pihak ketiga akan memperoleh hak atau suatu prestasi.8
e. Asas Itikad Baik
Asas itikad baik ini merupakan asas yang berkaitan dengan
pelaksanaan perjanjian. Di dalam asas ini ditentukan bahwa suatu
perjanjian haruslah dilaksanakan dengan itikad baik, sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) K.U.H.Perdata.
Pengertian asas itikad baik di dalam hukum perjanjian adalah,
bahwa pelaksanaan suatu perjanjian harus berjalan sebagaimana mestinya,
sesuai dengan ukuran obyektif masyarakat. Hal ini untuk menjamin
kepastian hukum, sebab dengan adanya pelaksanaan perjanjian secara baik
dan benar, tidak akan terjadi suatu penyimpangan terhadap suatu
perjanjian.

Setiawan, op.cit., hlm. 35.

11

3. Syarat-syarat Sahnya Perjanjian


Pasal 1320 K.U.H.Perdata menyebutkan bahwa untuk sahnya suatu
perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat, yaitu:
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
b. Adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian.
c. Adanya hal tertentu.
d. Suatu sebab yang halal.
Keempat syarat tersebut merupakan syarat mutlak di dalam perjanjian
yang harus dipenuhi oleh para pihak apabila ingin perjanjian yang dibuatnya
sah. Tidak dipenuhinya keempat syarat tersebut akan berakibat perjanjian itu
batal atau dapat dibatalkan. Hal ini tergantung pada syarat mana dari keempat
syarat tersebut yang tidak dipenuhi, karena keempat syarat tersebut dapat
digolongkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
a. Syarat subyektif, adalah syarat yang menyangkut subyek dari suatu
perjanjian atau syarat yang

melekat pada subyek-subyek yang

mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian. Apabila syarat ini tidak


dipenuhi maka akibat hukumnya perjanjian ini dapat dibatalkan. Termasuk
syarat subyektif adalah syarat sepakat yang mereka mengikatkan diri dan
adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian.
b. Syarat obyektif, adalah suatu syarat yang menyangkut obyek perjanjian itu
sendiri. Apabila syarat ini tidak dipenuhi maka akibat hukum dari
perjanjian itu adalah batal demi hukum. Termasuk syarat obyektif adalah
syarat suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal.

12

Pengertian perjanjian dapat dibatalkan ini adalah perjanjian yang telah


ada tetap terus berjalan selama belum ada atau tidak diadakan pembatalan,
pembatalan hanya dapat dilakukan oleh hakim pengadilan atas permintaan
yang berhak meminta pembatalan, berbeda dengan pengertian batal demi
hukum. Apabila perjanjian batal demi hukum, maka maksudnya perjanjian itu
sejak semula dianggap tidak pernah ada, dengan demikian perjanjian itu
menjadi batal tanpa campur tangan dari hakim.
Adanya perbedaan dapat dibatalkan dan batal demi hukum ini menurut
Subekti merupakan suatu sistem logis dan dapat dianut di mana-mana, dan
lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa, Sistem tersebut logis karena tidak
dipenuhinya syarat subyektif tidak dapat dilihat oleh hakim dan karenanya
harus diajukan kepadanya oleh yang berkepentingan, sedangkan hal tidak
dipenuhinya syarat obyektif seketika dapat dilihat oleh hakim.9
4. Hak dan Kewajiban Para Pihak
Pendukung dalam suatu perjanjian sekurang-kurangnya harus ada 2
(dua) orang yang disebut subyek perjanjian. Masing-masing orang menduduki
tempat yang berbeda, satu orang menjadi kreditur yang berhak atas prestasi
dan orang lainnya sebagai debitur yang wajib memenuhi prestasi. Pihak-pihak
dalam perjanjian dapat berupa manusia pribadi (persoon) atau lembaga/badan
hukum (rechtspersoon).

Subekti, op.cit., hlm. 26.

13

Subyek perjanjian harus mampu dan berwenang melakukan tindakan


hukum seperti yang ditetapkan oleh undang-undang. Sesuai dengan teori dan
praktek hukum, yang dapat menjadi kreditur atau debitur adalah terdiri dari:
a. Individu sebagai person.
1) Manusia tertentu (persoon).
2) Badan Hukum (rechtspersoon).
b. Seseorang sebagai individu atas keadaan atau kedudukan tertentu
bertindak untuk atau atas nama orang tertentu.
c. Seseorang sebagai individu yang menggantikan kedudukan debitur
semula, baik atas dasar bentuk perjanjian maupun atas ijin dan persetujuan
kreditur.
Hak dan kewajiban para pihak adalah merupakan isi dari perjanjian itu
sendiri. Isi perjanjian didasarkan atas azas kebebasan berkontrak, yaitu para
pihak bebas untuk menentukannya. Pada hakekatnya hak disatu pihak adalah
merupakan kewajiban pihak lain, dengan kata lain prestasi yang merupakan
hak dari kreditur adalah merupakan kewajiban bagi debitur untuk
memenuhinya. Jadi baik kreditur maupun debitur sama-sama berorientasi pada
satu hal yaitu prestasi, karena kreditur berhak atas prestasi dan debitur
berkewajiban untuk memenuhi prestasi atau melaksanakan prestasi.
5. Wanprestasi dan Overmacht Dalam Perjanjian
Perjanjian yang dibuat dengan sah menimbulkan perikatan atau hak
dan kewajiban bagi para pihak yang membuatnya. Dalam suatu perjanjian ada
kalanya terjadi wanprestasi, yang artinya menurut Soedikno Mertokusumo,

14

adalah: tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan,


baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun perikatan yang timbul
karena undang-undang.10
Tidak dipenuhinya kewajiban itu selain karena wanprestasi dapat juga
karena keadaan memaksa (overmacht), atau peristiwa yang terjadi diluar
kemampuan debitur, sehingga debitur tidak mempunyai kesalahan.
Bentuk wanprestasi ada 4 (empat), yaitu:
a. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali, artinya debitur tidak dapat
memenuhi kewajibannya yang telah disanggupi untuk dipenuhi dalam
suatu perjanjian.
b. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan.
c. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat waktunya.
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Mengetahui sejak kapan debitur itu dalam keadaan wanprestasi, perlu
diperhatikan apakah dalam perikatan itu ditentukan pelaksanaan pemenuhan
prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu ditentukan pelaksanaan
pemenuhan prestasi, maka ketentuan Pasal 1238 K.U.H.Perdata menyatakan
sebagai berikut: Debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau dengan
akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila
perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan lewatnya
waktu yang ditentukan.

10

Ibid, hlm. 73.

15

Alasan kedua tidak dapat dipenuhinya kewajiban adalah keadaan


memaksa (overmacht), akibatnya ada salah satu pihak yang dirugikan.
Keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana tidak dapat dipenuhinya
prestasi oleh debitur karena terjadi suatu peristiwa yang bukan karena
kesalahannya. Peristiwa dimana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga
akan terjadi pada waktu membuat perjanjian.11
Unsur-unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa:
a. Tidak

dapat

dipenuhinya

prestasi

karena

suatu

peristiwa

yang

memusnahkan atau membinasakan benda yang menjadi obyek perjanjian.


b. Tidak dapat dipenuhinya suatu prestasi karena suatu peristiwa yang
menghalangi perbuatan debitur.
c. Peristiwa yang tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu
membuat perikatan atau perjanjian baik oleh debitur maupun oleh
kreditur, bukan karena kesalahan pihak-pihak khususnya debitur.
Sifat keadaan memaksa ada 2 (dua):
a. Overmacht yang bersifat absolute (mutlak) ialah suatu keadaan dimana
prestasi sama sekali tidak dapat dipenuhi, maka perikatan tersebut terhenti
sama sekali.
b. Overmacht yang bersifat relatif ialah suatu keadaan dimana kewajiban
berprestasi terhentikan untuk sementara dan akan timbul lagi setelah
keadaan memaksa berhenti.

11

Setiawan, op.cit., hlm. 27.

16

6. Berakhirnya Perjanjian
Hapusnya perjanjian pada umumnya adalah jika tujuan dari suatu
perjanjian itu telah tercapai. Dengan demikian isi perjanjian yang telah mereka
buat bersama itu telah dilaksanakan dengan baik oleh mereka. Beberapa
macam cara hapusnya perjanjian, yaitu apabila:
a. Masa berlakunya perjanjian yang telah disepakati sudah terpenuhi.
b. Pada saat masa berlakunya perjanjian belum berakhir para pihak sepakat
mengakhirinya.
c. Adanya penghentian oleh salah satu pihak dalam perjanjian dengan
memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku setempat.
d. Waktu berakhirnya suatu perjanjian ditentukan dengan batas waktu
maksimal oleh undang-undang.
e. Adanya putusan hakim karena adanya tuntutan pengakhiran perjanjian
dari salah satu pihak.
f. Di dalam undang-undang atau perjanjian itu sendiri ditentukan bahwa
dengan adanya suatu peristiwa tertentu maka perjanjian akan berakhir.12

7. Perlindungan Konsumen
Perlindungan

konsumen

adalah

istilah

yang

dipakai

untuk

menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen


dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang dapat
merugikan konsumen itu sendiri. Dalam bidang hukum, istilah ini masih
12

Ibid, hlm. 106.

17

relatif baru, khususnya di Indonesia, sedangkan di negara maju hal ini mulai
dibicarakan bersamaan dengan berkembangnya industri dan teknologi.13
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun-1999 tentang
Perlindungan Konsumen disebutkan: Perlindungan konsumen adalah segala
upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen.
Berbicara tentang perlindungan konsumen berarti mempersoalkan
jaminan atau kepastian tentang terpenuhinya hak-hak konsumen. Perlindungan
konsumen mempunyai cakupan yang luas meliputi perlindungan terhadap
konsumen barang dan jasa, yang berawal dari tahap kegiatan untuk
mendapatkan barang dan jasa hingga ke akibat-akibat dari pemakaian barang
dan jasa itu.
Cakupan perlindungan konsumen dalam dua aspeknya itu, dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Perlindungan terhadap kemungkinan diserahkan kepada konsumen barang
dan atau jasa yang tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati atau
melanggar ketentuan undang-undang. Dalam kaitan ini termasuk
persoalan-persoalan mengenai penggunaan bahan baku, proses produksi,
proses distribusi, desain produk, dan sebagainya, apakah telah sesuai
dengan standar sehubungan keamanan dan keselamatan konsumen atau
tidak. Juga, persoalan tentang bagaimana konsumen mendapatkan

13

Adijaya Yusuf dan John W. Haed, Hukum Ekonomi, ELIPS, Jakarta, 1998, hlm. 9.

18

penggantian jika timbul kerugian karena memakai atau mengonsumsi


produk yang tidak sesuai.
b. Perlindungan terhadap diberlakukannya kepada konsumen syarat-syarat
yang tidak adil. Dalam kaitan ini termasuk persoalan-persoalan promosi
dan periklanan, standar kontrak, harga, layanan purna jual, dan
sebagainya. Hal ini berkaitan dengan perilaku produsen dalam
memproduksi dan mengedarkan produknya.14
Aspek yang pertama, mencakup persoalan barang atau jasa yang
dihasil-kan dan diperdagangkan, dimasukkan dalam cakupan tanggung jawab
produk, yaitu tanggung jawab yang dibebankan kepada produsen karena
barang yang diserahkan kepada konsumen itu mengandung cacat di dalamnya,
sehingga menimbulkan kerugian bagi konsumen, misalnya karena keracunan
makanan, barang tidak dapat dipakai untuk tujuan yang diinginkan karena
kualitasnya rendah, barang tidak dapat bertahan lama karena cepat rusak, dan
sebagainya. Dengan demikian, tanggung jawab produk erat kaitannya dengan
persoalan ganti kerugian.
Sedangkan yang kedua, mencakup cara konsumen memperoleh barang
dan atau jasa, yang dikelompokkan dalam cakupan standar kontrak yang
mempersoalkan syarat-syarat perjanjian yang diberlakukan oleh produsen
kepada konsumen pada waktu konsumen hendak mendapatkan barang atau
jasa kebutuhannya.

14

Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2006, hal 10.

19

Umumnya

produsen

membuat

atau

menetapkan

syarat-syarat

perjanjian secara sepihak .tanpa memperhatikan dengan sungguh-sungguh


kepentingan konsumen, sehingga bagi konsumen tidak ada kemungkinan
untuk mengubah syarat-syarat itu guna mempertahankan kepentingannya.
Seluruh syarat yang terdapat pada perjanjian, sepenuhnya atas kehendak pihak
produsen barang atau jasa. Bagi konsumen hanya ada pilihan: mau atau tidak
mau sama sekali. Vera Bolger menamakannya sebagai take it or leave it
contract. Artinya, kalau calon konsumen setuju, perjanjian boleh dibuat; kalau
tidak setuju, silakan pergi.15

E. Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan pengolahan yang diperlukan dalam
rangka penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian hukum
empiris sebagai berikut:
1. Objek Penelitian
Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pengguna Jasa Internet
Telkom Speedy.
2. Subjek Penelitian
a. Direksi PT. Telkom Wilayah Yogyakarta.
b. Pihak pengguna jasa Telkom Speedy.

3. Sumber Data
15

Mariam Darus Badrulzaman, Perlindungan Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Segi Standart
Kontrak (Baku), makalah pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen,
BPHN, Bina Cipta, Jakarta, 1980, hlm. 59-60.

20

a. Data primer, yaitu data yang didapat langsung dengan subyek


penelitian.
b. Data sekunder adalah berupa data yang diperoleh dari penelitian
kepuatakaan (library research) yang terdiri atas:
a. Bahan hukum primer, dalam hal meliputi: K.U.H.Perdata dan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
b. Bahan hukum sekunder, adalah bahan yang digunakan sebagai
pelengkap bahan hukum primer, berupa buku-buku, literatur,
dokumen-dokumen, maupun makalah-makalah yang berkaitan
dengan obyek penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara secara bebas
terpimpin berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan.
5. Metode Pendekatan
Metode yang dilakukan oleh penulis adalah yuridis normatif, yang mana
dalam melakukan pada objek penelitian lebih menitikberatkan pada aspekaspek yuridis, yang dimana dalam melakukan analisa data-data yang
diperoleh dari objek penelitian dengan menggunakan asas-asas hukum,
teori-teori hukum serta ketentuan perundang-undangan.
6. Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu
menganalisa hasil penelitian dengan menggambarkan hubungan yang ada

21

antara hasil penelitian yang diperoleh tersebut untuk memaparkan dan


menjelaskan suatu persoalan, sehingga sampai pada suatu kesimpulan.
F. Kerangka Skripsi
Penulisan skripsi ini terbagi dalam empat bab, yaitu bab I mengenai
pendahuluan, bab II mengenai hukum perlindungan konsumen, bab III
mengenai hasil penelitian dan pembahasan, bab IV penutup.
Pada bab I terdiri dari 6 sub bab diantaranya adalah latar belakang
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metode
penelitian dan kerangka skripsi.
Pada bab II terdiri dari 5 sub bab, yaitu: hukum perlindungan
konsumen diuraikan menjadi pengertian hukum perlindungan konsumen,
kepentingan dan masalah yang dihadapi konsumen, perilaku konsumen, aspek
hukum perlindungan konsumen dan penyelesaian sengketa.
Pada bab III terdiri dari 5 sub bab, yaitu: hasil penelitian dan
pembahasan dari perlindungan hukum konsumen terhadap pengguna jasa
internet telkom speedy yang meliputi gambaran umum telkom speedy, syarat
berlangganan telkom speedy, bentuk dan isi perjanjian, hak dan kewajiban
para pihak, perlindungan hukum konsumen terhadap pengguna jasa internet
telkom speedy.
Pada bab IV yaitu penutup, berisi mengenai kesimpulan dan saran,
dimana kesimpulan dan saran ini diuraikan mengenai hasil akhir penelitian
yang sudah dilakukan oleh penulis.

22