Anda di halaman 1dari 23

PENGANTAR KRIMINAL

In Tak Berkategori on Desember 13, 2007 at 10:43 pm

Pengantar Kriminologi.
Pendahuluan.
Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya masih baru apabila kita ambil
definisinya secara etimologis berasal dari kata crimen yang berarti kejahatan dan logos
yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, sehingga kriminologi adalah ilmu
/pengetahuan tentang kejahatan. Istilah kriminologi untuk pertama kali (1879) digunakan
oleh P. Topinard, ahli dari perancis dalam bidang antropologi, sementara istilah yang
sebelumnya banyak dipakai adalah antropologi criminal.
Menurut E.H. Sutherland, kriminologi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari
kejahatan sebagai fenomena social, termasuk didalamnya proses pembuatan undangundang, pelanggaran undang-undang dan reaksi terhadap pelanggaran undang-undang.
Bonger mengatakan bahwa kriminologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan
seluas-luasnya.
Sejarah kriminologi.
Meskipun Kriminologi bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan baru yang diakui baru
lahir pada abad ke-19 ( sekitar tahun 1850 )bersamaan dengan ilmu sosiologi tetapi
karangan-karangan tentang kriminologi bisa ditemukan pada zaman kuno yaitu zaman
Yunani dimulai dengan karangan Plato dalam Republiek menyatakan antara lain bahwa
emas , manusia adalah sumber dari banyak kejahatan sedangkan Aristotelis menyatakan
bahwa kemiskinan adalah sumber dari kejahatan.
Kemudian abad pertengahan Thomas Aqunio menyatakan bahwa orang kaya
memboros-boroskan kekayaanya disaat dia jatuh miskin maka dia akan mudah menjadi
pencuri
Perkembangan hukum pidana pada Akhir abad ke 19 yang dirasakan sangat tidak
memuaskan membuat para ahli berfikir mengenai efektifitas hukum pidana itu sendiri,
Thomas Moore melakukan penelitian bahwa sanksi yang berat bukanlah faktor yang

utama untuk memacu efektifitas hukum pidana buktinya lewat penelitiannya ditemukan
bahwa para pencopet tetap beraksi disaat dilakukan hukuman mati atas 24 penjahat di
tengah-tengah lapangan. Ini membuktikan bahwa sanksi hukum pidana tidak berarti apaapa. Ketidakpuasan terhadap hukum pidana, Hukum acara pidana dan sistem
penghukuman menjadi salah satu pemicu timbulnya kriminologi
Perkembangan ilmu statistik juga mempengaruhi timbulnya kriminologi. Statistik sebagai
pengamatan massal dengan menggunakan angka-angka yang merupakan salah satu
pendorong perkembangan ilmu sosial.
Quetelet (1796-1829) ahli statistik yang pertama kali melakukan pengamatan terhadap
kejahatan. Dialah yang pertama kali membuktikan bahwa kejahatan adalah fakta yang
ada dimasyarakat, dalam penelitiannya Quetelet menemukan bahwa kejahatan memiliki
pola-pola yang sama setiap tahunnya maka beliau berpendapat bahwa kejahatan dapat
diberantas dengan meningkatkan/ memperbaiki kehidupan masyarakat.
Sarjana lain yang menggunakan statistik dalam pengamatan terhadap kejahatan adalah G
Von Mayr ( 1841-1925) ia menemukan bahwa perkembangan antara tingkat pencurian
dengan tingkat harga gandum terdapat kesejajaran (positif). Bahwa tiap-tiap kenaikan
harga gandum 5 sen dalam tahun 1835 1861 di bayern. Jumlah pencurian bertambah
dengan 1 dari antara 100.000 penduduk. Dalam perkembangannya ternyata tingkat
kesejajaran tidak selalu tampak. Karena adakalanya berbanding berbalik ( invers) antara
perkembangan ekonomi dengan tingkat kejahatan.
Sebutan kriminologi sendiri diperkenalkan oleh Topinard ( 1830-1911) seorang ahli
antropologi dari perancis.
Aliran Pemikiran Dalam Kriminologi
Yang dimaksud dengan aliran pemikiran disini adalah cara pandang (kerangka acuan,
Paradigma, perspektif) yang digunakan oleh para kriminolog dalam melihat, menafsirkan,
menanggapi dan menjelaskan fenomena kejahatan.
Oleh karena pemamahaman kita terhadap dunia social terutama dipengaruhi oleh cara
kita menafsirkan peristiwa-peristiwayang kita alami/lihat, sehingga juga bagi para
ilmuwan cara pandang yang dianutnya akan dipengaruhi wujud penjelasan maupun teori
yang dihasilkannya. Dengan demikian untuk dapat memahami dengan baik penjelasan-

penjelasan dan teori-teori dalam kriminologi perlu diketahui perbedaan aliran


pemikiran/paradigma dalam kriminologi.
Teori adalah bagian dari suatu penjelasan mengenai sesuatu sementara suatu penjelasan
dipandang sebagai masuk akal akan dipengaruhi oleh fenomena tertentu yang
dipersoalkan didalam keseluruhan bidang pengetahuan. Adapun keseluruhan bidang
pengetahuan tersebut merupakan latar belakang budaya kontemporer yang berupa dunia
informasi. Hal-hal yang dipercayai ( belief ) dan sikap-sikap yang membangun iklim
intelektual dari setiap orang pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Didalam sejarah intelektual terhadap masalah penjelasan ini secara umum dapat
dibedakan dua cara pendekatan yang mendasar yakni pendekatan spiritistik atau
demonologik dan pendekatan naturalistic, yang kedua-duanya merupakan pendekatan
yang dikenal pada masa kuno maupun modern.
Penjelasan demonologik mendasarkan pada adanya kekuasaan lain atau spirit ( roh).
Unsur utama dalam penjelasan spiristik adalah sifatnya yang melampaui dunia empiric;
dia tidak terikat oleh batasan-batasan kebendaan atau fisik, dan beroperasi dalam caracara yang bukan menjadi subyek dari control atau pengetahuan manusia yang bersifat
terbatas.
Pada pendekatan naturalistik penjelasan diberikan secara terperinci dengan melihat dari
segi obyek dan kejadian-kejadian dunia kebendaan dan fisik. Secara garis besar
pendekatan ini dibagi tiga bentuk sistem pemikiran atau bisa disebut sebagai paradigma
yang digunakan sebagai kerangka untuk menjelaskan fenomena kejahatan, adapun ketiga
paradigma/ aliran ini adalah aliran klasik, positivisme dan aliran kritis.
a. Aliran Klasik
Aliran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan
ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang
bersifat perorangan maupun kelompok. Intelegensi mampu membawa manusia untuk
berbuat mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti lain ia adalah penguasa dari dirinya
sendiri. Ini adalah pokok pikiran aliran klasik dengan dilandasi pemikiran yang demikian
maka penjahat dilihat dari batasan-batasan perundang-undangan yang ada.
Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran terhadap undang-undang hukum pidana,
penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Secara rasionalitas maka

tanggapan masyarakat adalah memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian yang


ditimbulkan oleh kejahatan. Kriminologi disini sebagai alat untuk menguji sistem
hukuman yang dapat meminimalkan kejahatan.
Salah satu tokoh dalam aliran ini adalah Cesare Beccaria ( 1738 1794 ) merupakan
tokoh yang menentang kesewenang-wenangan lembaga peradilan pada saat itu. Dalam
bukunya Dei Delitti e delle pene secara gamblang dia menyebutkan keberatankebaratannya atas hukum pidana.
Aliran ini melahirkan aliran Neo-Klasik dengan ciri khas yang masih sama tetapi ada
beberapa hal yang diperbaharui antara lain adalah kondisi si pelaku dan lingkungan mulai
diperhatikan. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan Code De Penal secara kaku dimana tidak
memperhitungkan usia, kondisi mental si pelaku, aspek kesalahan. Semua faktor tersebut
tidak menjadi pertimbangan peringanan hukuman, penjatuhan hukuman dipukul rata
berdasarkan prinsip kesamaan hukum dan kebebasan pribadi.
b. Aliran Positivisme
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
faktor-faktor diluar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologi maupun kultural. Ini
berarti manusia bukanlah mahluk yang bebas untuk mengikuti dorongan keinginannya
dan intelegensinya, akan tetapi mahluk yang dibatasi atau ditentukan perangkat
biologinya dan situasi kulturalnya. Manusia berubah bukan semata-mata akan
intelegensianya akan tetapi melalui proses yang berjalan secara perlahan-lahan dari aspek
biologinya atau evolusi kultural. Aliran ini melahirkan dua pandangan yaitu
Determinisme Biologik yang menganggap bahwa organisasi sosial berkembang sebagai
hasil individu dan perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari
warisan biologik. Sebaliknya Determinis Kultural menganggap bahwa perilaku manusia
dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural
yang melingkupinya. Mereka berpendapat bahwa dunia kultural secara relatif tidak
tergantung pada dunia biologik, dalam arti perubahan pada yang satu tidak berarti akan
segera membuat perubahan yang lainnya.
Salah satu pelopor aliran positivis ini adalah Cesare Lombrosso (1835-1909) seorang
dokter dari itali yang mendapat julukan Bapak Kriminologi Modern lewat teorinya yang
terkenal yaitu Born Criminal, Lombrosso mulai meletakkan metodologi ilmiah dalam

mencari kebenaran mengenai kejahatan serta melihatnya dari banyak faktor.


Teori Born Criminal ini di ilhami oleh teori evolusi dari darwin. Lombrosso membantah
mengenai Free Will yang menjadi dasar aliran klasik. Doktin Avatisme membuktikan
bahwa manusia menuruni sifat hewani dari nenek moyangnya. Gen ini dapat muncul
sewaktu-waktu dan menjadi sifat jahat pada manusia modern.
Dalam perkembangan teorinya bahwa manusia jahat dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya
lewat penelitian terhadap 3000 tentara dan narapidana lewat rekam mediknya beberapa
diantaranya telingan yang tidak sesuai ukuran, dahi yang menonjol, hidung yang
bengkok.
Pada dasarnya teori lombrosso ini membagi penjahat dengan empat golongan, yaitu :
1. Born Criminal yaitu orang yang memang sejak lahir berbakat menjadi penjahat seperti
paham avatisme
2. Insane Criminal yaitu orang termasuk dalam golongan orang idiot, embisil,dan
paranoid
3. Ocaccasial criminal atau criminaloid adalah pelaku kejahatan yang berdasarkan pada
pengalaman yang terus menerus sehingga mempngaruhi pribadinya.
4. Criminal of Passion yaitu orang yang melakukan kejahatan karena cinta, marah atapun
karena kehormatan.
c. Aliran Kritis
Pemikiran Kritis lebih mengarhkan kepada proses manusia dalam membangun dunianya
dimana dia hidup. Menurut aliran ini tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama
ditentutakan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalanka. Sehubungan denga
itu maka tugas dari kriminologi adalah bagaimana cap jahat tersebut diterapkan terhadap
tindakan dan orang-orang tertentu.
Pendekatan kritis ini secara relatif dapat dibedakan antara pendekatan interaksionis dan
konflik. Pendekatan interaksionis berusaha untuk menentukan mengapa tindakantindakan dan orang-orang tertentu didefinisikan sebagai kriminal di masyarakat tertentu
dengan cara mempelajari persepsi makna kejahatan yang dimiliki masyarakat yang
bersangkutan. Mereka juga mempelajari kejahatan oleh agen kontrol sosial dan orangorang yang diberi batasan sebagai penjahat, juga proses sosial yang dimiliki kelompok

bersangkutan dalam mendifinisikan seseorang sebagai penjahat.


Hubungan antara kejahatan dan proses kriminalisasi secara umum dijelaskan dalam
konsep penyimpangan ( deviance ) dan reaksi sosial. Kejahatan dipandang sebagai
bagian dari penyimpangan sosial dengan arti tindakan yang bersangkutan berbeda
dengan tindakan orang pada umumnya dan terhadap tindakan menyimpang ini
diberlakukan reaksi yang negatif dari masyarakat.
Menurut pendekatan konflik orang berbeda karena kekuasaan yang dimilikinya dalam
perbuatan dan bekerjanya hukum. Secara umum dapat dijelaskan bahwa mereka yang
memiliki kekuasaan yang lebih besar dan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam
mendifinisikan kejahatan adalah sebagai kepentingan yang bertentangan dengan
kepentingan dirinya sendiri. Secara umum kejahatan sebagai kebalikan dari kekuasaan;
semakin besar kekuasaan seseorang atau sekelompok orang semakin kecil
kemungkinannya untuk dijadikan kejahatan dan demikian juga sebaliknya.
Orientasi sosio-psikologis teori ini pada teori-teori interaksi sosial mengenai
pembentukan kepribadian dan konsep proses sosial dari perilaku kolektif.
Dalam pandangan teori ini bahwa manusia secara terus menerus berlaku uintuk terlibat
dalam kelompoknya dengan arti lain hidupnya merupakan bagian dan produk dari
kumpulan kumpulan kelompoknya. Kelompok selalu mengawasi dan berusaha untuk
menyeimbangkan perilaku individu-individunya sehingga menjadi suatu perilaku yang
kolektif.
Dalam perkembangan lebih lanjut aliran ini melahirkan teori kriminologi Marxis
dengan dasar 3 hal utama yaitu; (1) bahwa perbedaan bekerjanya hukum merupakan
pencerminan dari kepentingan rulling class (2) kejahatan merupakan akibat dari proses
produksi dalam masyarakat, dan (3) hukumj pidana dibuat untuk mencapai kepentingan
ekonomi dari rulling class.
Daftar Pustaka
Bonger, W.A , Pengantar Tentang Kriminologi, Pustaka Sarjana, Jakarta 1982
Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung
1992
Susanto I.S, Kriminologi, FH Universitas Diponegoro, Semarang, 1995

Topo Santoso & Eva Achjani, Kriminologi, Rajawali Press, 2004


Yoblonsky Lewis, Criminologi Crime and Criminality Fourth Edition, Harper & Row
Publhiser, New York, 1990

Tujuan hukum pidana memberi system dalam bahan-bahan yang banyak dari hukum:
azas-azas dihubungkan satu sama lain sehingga dapat dimasukkan dalam satu system.
Penyelidikan secara demikian adalah dogmatis yuridis. Peninjauan bahan-bahan hukum
pidana terutama dilakukan dari sudut pertanggung jawaban manusia tentang perbuatan
yang dapat dihukum. [1]
Pada prinsipnya sesuai dengan sifat hukum pidana sebagai hukum public tujuan pokok
diadakannya hukum pidana ialah melindungi kepentingan kepentingan masyarakat
sebagai suatu kolektiviteit dari perbuatan-perbuatan yang mengancamnya atau bahkan
merugikannya baik itu datang dari perseorangan maupun kelompok orang (suatu
organisasi). Berbagai kepentingan bersifat kemasyarakatan tersebut antara lain ialah
ketentraman, ketenangan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat.[2] Salah satu
kesimpulan dari seminar kriminologi ke-3 1976 di Semarang antara lain, hukum pidana
hendaknya dipertahankan sebagai salah satu sarana untuk social defense yaitu untuk
perlindungan masyarakat.[3]
Namun demikian, dalam perspektif Barat yang kehidupan bersamannya lebih didasarkan
pada paham-paham seperti individualisme dan liberalisme. Konsep tentang tujuan
diadakannya hukum pidana agaknya cenderung diorientasikan untuk memberikan
perlindungan terhadap berbagai macam kepentingan warga Negara secara individu dari
kesewenang-wenangan penguasa. Konsep demikian antara lain dapat ditelusuri melalui
berbagai pemikiran barat khususnya yang terkait dengan gagasan tentang azas legalitas.

Sementara itu, ada pula pemikiran yang menggabungkan secara sekaligus dua tujuan
diadakannya hukum pidana yang telah disebutkan diatas. Sehingga konsepnya menjadi
bahwa hukum pidana diadakan tujuannya adalah disamping untuk melindungi
kepentingan-kepentingan yang bersifat kemasyarakatan, sekaligus (secara implisit) juga
melindungi kepentingan-kepentingan yang bersifat perseorangan.[4]
Hukum pidana dilihat sebagai ilmu kemasyarakatan tidak terlepas dari sebab-sebab dari
kejahatan (Kriminology). Didalam Etiology terdapat beberapa aliran (mazhab=sekolah)
tentang sebab-sebab kejahatan antara lain:[5]
1. Aliran Biologi-Kriminal (mazhab Italia), penganjurnya adalah DR. C.
Lombrosso yang menyimpulkan bahwa memang ada orang jahat dari sejak lahir
dan tiap penjahat mempunyai banyak sekali sifat yang menyimpang dari orangorang biasa.
2. Aliran Sosiologi-Kriminil (mazhab Prancis), penganjurnya A.Lacassagne,
aliran ini menolak aliran diatas dengan mengeluarkan pendapat bahwa seseorang
pada dasarnya tidak jahat, ia akan berbuat jahat disebabkan karena susunan, corak
dan sifat masyarakat dimana penjahat itu hidup.
3. Aliran Bio-Sosiologis, penganjurnya adalah E. Feri, aliran ini merupakan
sintesa dari kedua aliran diatas yang menyimpulkan kejahatan itu adalah hasil dari
factor-faktor individual dan social.
Persoalan ini menimbulkan bermacam-macam teori hukum pidana, pada akhirnya
teori hukum pidana dibagi dalam 3 jenis, yaitu:
a. Teori mutlak (pembalasan), penganutnya Immanuel Kant, Hegel,
Herbart, Stahl. Teori ini teori tertua (klasik) berpendapat bahwa dasar
keadilan hukum itu harus dalam perbuatan jahat itu sendiri. Seseorang
mendapat hukuman karena ia telah berbuat jahat. Jadi hukuman itu melulu
untuk menghukum saja (mutlak) dan untuk membalas pebuatan itu
(pemabalasan).
b. Teori relative (teori tujuan), teori ini berpendapat dasar hukum
bukanlah pembalasan tetapi lebih kepada maksud/ tujuan hukuman,
artinya tujuan ini mencari manfaat daripada hukuman. Beberapa doktrin
mengajarkan yaitu diantaranya tujuan hukuman untuk mencegah kejahatan

baik pencegahan umum (Algemene Crime) maupun pencegahan khusus


(Special Crime). Selain itu, terdapat paham lain yaitu tujuan hukuman
adalah untuk membinasakan orang yang melakukan kejahatan dari
pergaulan masyarakat, tujuan pelaksanaaan daripada hukuman terletak
pada tujuan hukuman. Akan tetapi disamping teori relative ini ini masih
dikenal lagi Teori relative modern , penganutnya Frans Von Lizt, Van
Hommel, D. Simons. Teori ini berpendapat dasar hukuman adalah untuk
menjamin ketertiban hukum. Pokok pangkalnya adalah Negara, dimana
negara melindungi masyarakat dengan cara membuat peraturan yang
mengandung larangan dan keharusan yang berbentuk kaidah/ norma.
c. Teori gabungan (1 dan 2), menurut teori ini dasar hukuman adalah
terletak pada kejahatan sendiri yaitu pembalasan atau siksaan (teori
mutlak) tetapi disamping itu diakuinya dasar-dasar tujuan daripada
hukuman. Penganut aliran ini diantaranya adalah Binding.
Dalam perspektif teori tentang aliran-aliran pemikiran hukum pidana tersebut, tiga
konsep mengenai tujuan diadakannya hukum pidana diatas sebenarnya tercermin
(termanifestasi) dalam tiga aliran pokok yang pernah berkembang dalam hukum pidana.
Tiga aliran pokok tersebut ialah:[6]
1. Aliran Hukum Pidana Klasik (Daad Strafrecht)
Secara garis besar, konsep pemikiran tentang hukum pidana yang beraliran klasik
memiliki ciri sebagai berikut:
a. titik sentral perhatian hukum pidana dan penegakannya menurut aliran ini adalah
perbuatan pelaku kejahatan (Daad artinya perbuatan). Jadi yang terpenting
adalah sepanjang fakta/ kenyataan ada orang yang telah berbuat tindak pidana
(melanggar aturan hukum pidana), maka orang tersebut harus dijatuhi sanksi
pidana sebagaimana telah diancamkan dalam ketentuan hukum tanpa melihat
motivasi yang mendorong si pelaku berbuat pelangaran.
b. Timbulnya konsep Daad Strafrecht, sebenarnya secara teoritik adalah akibat dari
pengaruh kuat paham Indeterminisme , yaitu suatu paham yang memandang
bahwa manusia dan perbuatan adalah otonom/ mandiri (dalam arti tidak terjadi
karena pengaruh factor-faktor lain diluar dirinya) melainkan murni dari

pilihannnya sendiri. Dalam konfigurasi pemikiran yang demikian ini, maka


konsep bahwa perbuatan pidana = penjatuhan sanksi pidana menjadi logis adanya.
c. Aliran ini dengan dikaitkan dengan salah satu konsep tujuan diadakanya hukum
pidana maka bisa dikatakan bahwa aliran klasik tersebut sesungguhnya adalah
cermin atau malah penjabaran dari konsep mengenai tujuan diadakannya
hukum pidana yang pertama yaitu melindungi kepentingan-kepentingan
yang bersifat luas/ kemasyarakatan. Karena dalam aliran klasik ini, begitu
terjadi suatu tindak pidana yang dilakukan seseorang, maka demi untuk
melindungi masyarakat, orang tersebut harus segera dijatuhi pidana tanpa
memperhatikan kondisi (motivasi/ latar belakang) dirinya saat berbuat tindak
pidana.
2. Aliran Hukum Pidana Modern (Daader Strafrecht)
Secara garis besar, konsep pemikiran tentang hukum pidana yang beraliran modern atau
daader strafrecht ini memiliki cirri-ciri pokok sebagai berikut:
a. Titik sentral perhatian hukum pidana dan penegakannnya dalam aliran ini
adalah pada diri si pelaku kejahatan (Daader artinya pelaku). Jadi, ketika terjadi
suatu tindak pidana maka tidaklah selalu otomatis pelakunya harus dijatuhi sanksi
pidana tertentu sesuai dengan ketentuan hukum. Karena dalam ini harus
diselidiki/ dibuktikan terlebih dahulu apa yang sesungguhnya menjadi latar
belakang atau motivasi dari pelaku saat melakukan tindak pidana tersebut.
b. Timbulnya konsep Daader Strafrecht diatas, secara teoritik adalah akibat
adanya pengaruh kuat dari paham Determinisme, yaitu paham yang
memandang bahwa manusia dan perbuatannya adalah sama sekali tidak otonom.
Artinya

dipengaruhi

oleh

hal-hal

eksternal

diluar

dirinya.

Dalam

perkembangannya Determinisme ini pun kemudian sampai pada gagasan perlunya


mengganti konsep pemberian sanksi pidana (yang cenderung bersifat punishment/
hukuman, menjadi pengenakan tindakan (yang lebih bersifat treatment/
pembinaan).
c. Apabila aliran pemikiran hukum pidana modern ini dikaitkan dengan salah satu
konsep tentang tujuan diadakannya hukum pidana, maka bisa dikatakan bahwa

aliran ini sesungguhnya adalah cermin atau malah penjabaran dari konsep
mengenai tujuan diadakannya hukum pidana yang kedua (yaitu melindungi
kepentingan-kepentingan yang bersifat perseorangan dari setiap individu
warga Negara). Hal ini terlihat dari konsep aliran modern ini yang menghendaki
aspek kondisional dalam diri pelaku tujuannya ialah agar individu pelaku
kejahatan yang menjadi calon terpidana tersebut pun dapat tetap terjamin
perlindungan hak-haknya dari kemungkinan mengalami kesewenag-wenangan
penguasa.
3. Aliran Hukum Pidana Neo Klasik/ Neo Modern (Daad-Daader Strafrecht)
Secara garis besar, konsep pemikiran tentang hukum pidana yang beraliran Neo Klasik/
Neo Modern (Daad-Daader Strafrecht) memiliki ciri-ciri pokok sebagai berikut:
a. Titik setral perhatian hukum pidana dan penegakannya dalam aliran ini adalah
aspek perbuatan pidana dan pelaku dari perbutan pidana secara seimbang (DaadDaader artinya perbuatan dan pelakunya). Jadi suatu pemidanaan adalah haruslah
didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan secara matang dan seimbang antara
fakta berupa telah terjadinya tindak pidana yang dilakukan seseorang maupun
kondisi subyektif dari pelaku tindak pidana khususnya saat ia berbuat. Gabungan
antara keduanya harus bisa melahirkan keyakinan bahwa orang tersebut memang
pelaku sebenarnya dari tindak pidana yang terjadi dan untuk itu ia memang patut
dicela, yang dalam hal ini ialah dengan cara dikenakan sanksi pidana terhadap
dirinya.
b. Apabila aliran ini dikaitkan dengan salah satu konsep tentang tujuan
diadakannnya

hukum

pidana,

maka

bisa

dikatakan

bahwa

aliran

ini

sesunggguhnya adalah cermin atau malah penjabaran dari konsep mengenai


tujuan diadakannya hukum pidana yang ketiga yaitu untuk melindungi
kepentingan-kepentingan yang bersifat kemasyarakatan dan sekaligus juga
kepentingan-kepentingan yang bersifat perseorangan. Hal ini menunjukkan
bahwa keharusan perhatian terhadap realitas tentang telah terjadinya perbuatan
pidana, kiranya dapat disamakan dengan orientasi untuk memberikan
perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan yang bersifat publik.
Sedangkan keharusan perhatian terhadap kondisi subjektif pelaku perbuatan

pidana, kiranya dapat disamakan dengan orientasi untuk memberikan


perlindungan terhadap kepentingan yang bersifat perseorangan (c.q
individu pelaku tindak pidana sebagai warga Negara).
Apabila ketiga aliran tersebut diatas dikaitkan dengan konteks bangunan hukum pidana
Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa KUHP Indonesia yang sekarang adalah
mencerminkan sosok hukum pidana yang mencerminkan sosok hukum pidana yang
beraliran klasik (daad strafrecht). Kesimpulan demikian misalnya terlihat dari rumusan
pasal-pasal

KUHP

yang

selalu

diawali

dengan

kata-kata:

Barang

siapa

melakukan..dst, hal ini menunjukkan arti bahwa siapa yang berbuat tindak
pidana akan dikenai pidana tertentu (tanpa harus memperhatikan kondisi subyektif pelaku
saat berbuat). Ini adalah ciri khas aliran pemikiran hukum pidana klasik yang sangat
menekankan aspek perbuatan daripada pelakunya. Namun, apabila dikaitkan dengan
hukum pidana Indonesia mendatang (RUU KUHP Indonesia) maka dapat dikatakan
bahwa bangunan RUU KUHP adalah mencerminkan sosok hukum pidana yang beraliran
neo klasik/ neo modern atau daad-daader strafrecht.[7] Kesimpulan ini karena dilihat
dari beberapa konsepnya yaitu:[8]
a. Pasal 51 tentang tujuan pemidanaan. Yaitu:
Ayat (1):
1. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakan norma hukum
demi pengayoman masyarakat
2. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga
menjadi orang yang baik dan berguna.
3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan
keseimbangan dam mendatangkan rasa damai dalam masyarakat
4. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
Ayat (2):
Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat
manusia.
a. Pasal 52-94 tentang pedoman pemidanaan yang baik bersifat umum maupun
pedoman pemidanaan bagi setiap jenis sanksi pidana.

b. Pasal 125-129 tentang hal-hal yang meringankan dan memperberat pidana.


c. Adanya konsep tentang individualisasi pidana yang dimasukkan dalam beberapa
ketentuan pasal seperti mengenai modifikasi pidana, Rechterlijk pardon dan
sebagainya.
Adanya ketentuan tentang pedoman pemidanaan, pertimbangan mengenai hal-hal yang
meringankan dan yang memberatkan pemidanaan serta individualisasi pidana diatas,
secara eksplisit jelas menunjukkan bahwa RUU KUHP tidak dimaksudkan untuk
menderitakan dan merendahkan martabat manusia Indonesia merupakan sosok hukum
pidana Indonesia mendatang yang menganut aliran klasik (daad Strafrecht) sekaligus
aliran modern (daader strafrecht) karena konsep tujuan pemidanaan diatas yang nomor 1
dan 2 cermin dari aliran pemikiran klasik sedangkan nomor 3 dan 4 cerminan dari aliran
pemikiran modern. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum pidana Indonesia
mendatang (RUU KUHP) adalah hukum pidana yang menganut aliran pemikiran neo
klasik/ neo modern.
[1] CST. Kansil, Pengantar ilmu hukum dan Tata hukum Indonesia, Ctk.9, Balai Pustaka, Jakarta, 1993,
hlm. 97
[2] M.Abdul Kholiq, Buku Pedoman kuliah hukum pidana, Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 2002,
hlm.15.
[3] Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana, Ctk. I, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2005, hlm.52
[4] Ibid.
[5] CST Kansil, Op.Cit, hlm.97-105
[6] M.Abdul Kholiq, Buku Pedoman kuliah hukum pidana, Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 2002,
hlm.15-20
[7] M.Abdul Kholiq, Buku Pedoman kuliah hukum pidana, Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 2002,
hlm.20-21
[8] Direktorat Jenderal Peraturan prundang-undangan, Departement Hukum dan HAM, Rancangan
Undang-undang KUHP, 2005.

Soal No.1 : Mengenai Paradigma Kriminologi, kita sebaiknya mencermati sejarahnya,


dari Klasik hingga Kritis. Aliran klasik, mulai berkembang di Inggris pada akhir abad ke
19 dan kemudian meluas ke negara-negara lain di Eropa dan Amerika, dasar dari mazhab
ini adalah hedonistic-psycology dan metodenya Arm- Chair (tulis menulis). Psikologi
mejadi dasar aliran ini , sifatnya adalah individualistis, intelectualistis dan voluntaristis,
aliran ini berpandangan adanya kebebasan kehendak sedemikain rupa, sehingga tidak ada
kemungkinan untuk menyelidiki lebih lanjut sebab-sebab kejahatan atau usaha-usaha
pencegahan kejahatan. Contoh yang sederhana adalah setiap perbuatan yang bertentangan
dengan undang-undang, sangat sederhana, namun pandangan ini berhasil menjadi tulang
punggung hukum pidana dan merupakan doktrin yang berpengaruh hingga sekarang.

Menurut aliran ini orang yang melanggar undang-undang tertentu harus menerima
hukuman yang sama tanpa mengingat umur, kesehatan jiwa, kaya miskinnya, posisi
sosial dan keadaan-keadan lain. Hukuman dijatuhkan harus berat, namun propossional,
dan untuk memperbaiki, dan lain-lain. Meskipun aliran ini kurang mampu menjelaskan
mengapa seseorang berperilaku jahat, namun hingga sekarang mencengkram kuat dan
mempengaruhi terhadap pemberian makna penjahat. Penjahat adalah mereka yang dicap
demikian oleh undang-undang, merupakan pengaruh nyata terhadap pola berfikir banyak
ahli (hukum) di Indonesia.
Aliran positivis muncul sebagai proses ketidak puasan dari jawaban-jawaban aliran
klasik, aliran ini berusaha menjelaskan mengapa seseorang bisa bertindak jahat. Aliran ini
bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar
kontrolnya, baik yang berupa faktor biologik maupun kultural. Ini berarti bahwa manusia
bukan makhluk yang bebas untuk berbuat menuruti dorongan keinginannya dan
intelegensinya, akan tetapi makhluk yang dibatasi atau ditentukan oleh perangkat
biologiknya dan situasi kulturalnya.
Lambroso, yang dianggap sebagai pelopor mazhab ini pada pertengahan abad ke 19
secara tegas mengetengahkan apa yang disebut Born Criminal (penjahat sejak lahir),
bahwa penjahat sejak lahirnya merupakan tipe khusus, dengan kalsifikasi khusus
misalnya pencuri, pembunuh atau penjahat-penjahat lainnya memiliki tanda atau ciri
yang berbeda-beda, Aliran biologis yang dipeloporinya ini meskipun mendapat kritikan
dari beberapa ahli kriminologi, namun sampai saat ini pengaruh dari Lombroso masih
terasa, misalnya seseorang akan dicurigai apabila menampilakan ciri-ciri biologis
berambut gondrong, berdahi lebar, seperti satau atau dua jumlah uyeng-uyeng di kepala
bayi yang baru dilahirkan, dll. Kemudian muncul aliran yang memperluas dari individu
(biologis) kepada kondisi-kondisi yang dapat menghasilkan penjahat. Kejahatan
merupakan produk sistem sosial, yang menekankan pada struktur kesempatan yang
berbeda atau diffrential opartunity structure, kemiskinan, rasisme dan lain-lain, sebagai
faktor penyebab yang penting. Tercatat beberapa tokoh teori ini seperti Tarde, Lacasagne,
WA Bonger dan Sutherland. Ketidak puasan terhadap aliran-aliran di atas kemudian

menampilkan perspektif baru dalam melihat mengapa seseorang dapat menjadi jahat,
sebagai hasilnya muncul apa yang disebut denagan perspektif aliran kriminologi baru
yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis dan radikal.
Munculnya aliran ini, tidak luput dari perkembangan atau konteks perubahan-perubahan
sosial di Amerika Serikat sekitar tahun 1960, dan dibagian-bagian dunia setelah redanya
perang dingin, muncul apa yang disebut dengan kriminologi kritis sampai radikal., bahwa
pengungkapan terhadap kejahatan harus lebih kritis, selektif dan waspada. Wawasan
kriminologi ini disebut kriminologi baru. Munculnya kriminologi baru ini salah satunya
dan di mulai dengan munculnya teori Labbeling (labelling theory), dikemukakan Howard
Becker yang mengatakan pada dasarnya kejahatan merupakan suatu proses dalam
konteks, dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sosial.
Perkembangan selanjutnya, perbuatan jahat (kejahatan) ditafsirkan sebagai hasil dari
keadaan disorganisasi sosial dan kejahatan diakibatkan dari berbagai hal yang bersifat
sosial seperti Industrialisasi, perubahan sosial yang cepat dan modernisasi. Kejahatan
bukanlah kualitas perbuatan yang dilakukan oleh orang, melainkan sebagai akibat
diterapkannya peraturan dan sanksi oleh orang-orang lain kepada seorang pelanggar.
Oleh karena itu teori labelling ini telah merubah konteks studi kriminologi, yaitu dari
penjahat kepada proses terjadinya kejahatan, meskipun istilah pertamanya teori ini
muncul dalam bukunya Frank Tannenbaun, dan E.M Lemert, Disusul kemudian oleh
teori-teori yang dikemukakan Austin Turk, Ralf Dahrendorf Chambliss dan Seidman,
dengan teori Konflik,aliran ini disebut pula dengan aliran Kriminologi radikal.
Bagi aliran-aliran kriminologi baru penyimpangan adalah normal, dalam pengertian
manusia terlibat secara sadar dalam penjara-penjara yang sesungguhnya dan masyarakat
yang juga merupakan penjara, dalam menyatakan kebhinekaan mereka. Tugas ahli
kriminologi bukanlah sekedar mempermasalahkan stereotype atau bertindak sebagai
pembawa-pembawa alternatif phenomenological realities, kewajiban ahli kriminologi
adalah untuk menciptakan suatu masyarakat di mana kenyataan-kenyataan keragaman
personal, organik dan sosial manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa.

Munculnya aliran baru kriminologi sebenarnya merupakan kritik terhadap perkembangan


kriminologi itu sendiri, disaat kriminologi tradisional atau oleh Taylor disebut dengan
istilah Orthodoks kriminologi, tidak mampu memuaskan jawaban-jawabn terutama
terhadap mengapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Terlebih lagi studi yang
dilakukan masih tradisional, fokus kejahatan hanyalah terhadap apa yang disebut dengan
kejahatan jalanan. Terutama di Indonesia, hal ini telah menyita tenaga dari sistem
peradilan pidana sehingga kejahatan-kejahatan dengan klasifikasi lain atau kejahatan
yang dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan menjadi tidak tersentuh, sehingga
lahirnya aliran-lairan baru dalam kriminologi, apabila ditempatkan dalam konteks
paradigma Thomas Kuhn, maka proses ini bisa disebut sebagai Lompatan Paradigmatik,
bahwa Ilmu pengetahuan itu hidup karena revolusi bukan akumulasi. Menurut
Mardjono,lahirnya Kriminologi yang non konvensional memberikan analisa berbeda,
dilihat dari kacamata kriminologi yang non konvensional itu maka apa yang disjikan oleh
kriminologi konvensional adalah menyesatkan, dengan dua hal yang menjadi sangat
penting; bahwa angka kriminalitas yang tidak dilaporkan dan tidak tercatat cukup besar
(the dark number of crime), dan ;di samping kejahatan jalanan masih terdapat kejahatan
korporasi (Corporate crime) dan kejahatan-kerah putih/orang berdasi (White Collar
Crime), yang jarang diketahui, dilaporkan dan dicatat.
Pada intinya aliran baru mengecam statistik kriminalitas yang tidak mampu memberikan
data akurat, dan menjelaskan kejahatan secara faktual. Seorang kriminolog Indonesia
yaitu Paul Moedikdo, memberikan komentar terhadap pandangan aliran-aliran
kriminologi baru ini, menurutnya kadar kebenaran dan nilai praktis teori kritis dapat
bertambah apabila hal itu dikembangkan dalam situasi kongkret demi kepentingan atau
bersama-sama mereka yang diterbelakangkan, guna memperbaiki posisi hukum atau
pengurangan keterbelakangan mereka dalam masyarakat. Akan tetapi bahaya praktek
pengalaman yang terbatas adalah adanya penyempitan kesadaran dan diadakannya
generalisasi terlalu jauh jangkauannya. Mereka sampai kepada perumusan-perumusan
tentang kejahatan dan perilaku menyimpang yang tidak dapat dipertahankan oleh karena
adanya generalisasi yang berlebihan bahwa delik-delik adalah pernyataan dari
perlawanan sadar dan rasional terhadap masyarakat yang tidak adil yang hendak

menyamaratakan orang menjadi objek-objek pengaturan oleh birokrasi ekonomi.


Ini kemudian dipertegas oleh Soedjono bahwa, dengan kata lain kriminologi baru
melupakan sama sekali adanya street crime yang konvensional dan tradisional yang
berkait dengan tatanan birokratis yang ada, maka dapat dikatakan catatan atau kritik
terhadap kriminologi baru ini bahwa, perspektif baru memang diperlukan dalam
meluruskan pandangan sempit dari kriminologi konvensional, namun rumusannya
tentang kejahatan dan generalisasinya mengenai teori kejahatan dan perilaku
menyimpang terlalu jauh, sehingga justru melahirkan pertentangan pendapat yang
berkepanjangan dan dapat memecah belah para kriminologi ke dalam dua kubu. Paul
Moedikdo juga memberikan komentarnya terhadap Ian Taylor dll, yaitu bahwa rumusan
kewajiabn ahli kriminologi untuk berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana
kenyataan-kenyataan kebhinekaan manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa
adalah rumusan yang keliru. Bukan kekuasaan untuk mengkriminalisasi kajahatan yang
harus dirumuskan atas dasar prinsip-prinsip egalitarian dan kooperatif, bukan berdasarkan
hierarkhikal dan eksploitatif. Suatu kritik dilontarkan pula terhadap teori Labelling
bahwa, teori ini bersifat deterministik dan menolak pertanggungjawaban individual, dan
teori ini tidak berlaku untuk semua jenis kejahatan, bahkan meurut Hagan, teori labeling
yang selalu berangapan bahwa setiap orang melakukan kejahatan dan nampak bahwa
argumentasinya adalah cap, dilekatkan secara random. Kenyataannya bahwa hanya
kejahatan yang sangat serius memperoleh reaksi masyarakat atau cap.
Namun apabila kita lihat pandangan-pandangan atau kritik yang dikemukakan oleh Paul
Modikdo dan Soejono terhadap Kriminologi baru itu, nampaknya banyak yang tidak
tepat, meski bisa dipertimbangkan (sebagai scientific device). Hanya saja kritik tersebut
terkesan umum (tidak cermat) serta kurang memiliki landasan cukup tajam terhadap
pandangan-pandangan kriminologi baru, apalagi kritik itu lebih bersifat kehati-hatian
daripada melihat substansi teori yang dikembangkan, pemikiran kritis sering dicap
sebagai bagian yang harus diwaspadai dalam pengertian negatif, apalagi pandangan yang
dikemukakan aliran kritis/radikal sering bersinggungan dengan konteks kekuasaan atau
bentuk perlawanan, sehingga apabila dibaca dalam paradigma kekuasaan yang pada

waktu itu sangat dominan (Rezim Orde Baru begitu alergi terhadap pandanganpandangan kritis dan perlawanan, sehingga aliran-aliran kritis sering dicurigai). Saat ini
penafsiran terhadap kejahatan mengalami suatu perubahan cukup mendasar, yang timbul
akibat perubahan besar disegala bidang kehidupan, sehingga kalau boleh saya jelaskan
bahwa kritik terhadap kriminologi baru yang dikemukakan kedua pakar krimonolog di
atas adalah kritik yang kering interpretasi, tidak melihat konteks. Hanya perlu
diperhatikan mengenai kritik dari Paul Meodikdo, tentang generalisasi yang terlau jauh
dari jangkauannya, untuk kategori ini kita memang harus berhati-hati karena
penyamarataan itu memang akan menyesatkan mengenai pandangan kita tentang
kejahatan.
Bahwa aliran aliran baru terutama kritis dan radikal, dalam menguraikan teori mereka
didasarkan kepada kemampuan apa yang disebut dengan motif-motif berfikir kritis
dengan melihat tembus melihat dibalik (adegan), dengan kata lain untuk tidak
menerima apa adanya Take for Granted. Sebagai contoh, hal ini bisa dilihat dari uraian
Steven Box , mengenai hubungan kejahatan dengan kekuasaan, dengan menguraikan
suatu analisis bahwa Undang-Undang Percobaan usaha kriminal (Criminal Attemps
Act), 1981, dimaksudkan untuk mencabut hukum-hukum sus yang banyak dikutuk
orang. Akan tetapi penguatan hukum usaha percobaan bisa direntangkan sebagai akibat
dari undang-undang ini, untuk mencakup usaha pencurian materi yang tidak di kenal oleh
orang-orang tidak dikenal, serta usaha untuk mencuri mobil yang sedang diparkir.
Sekedar keberadaan (kehadiran), terutama kalau wajah anda tidak sesuai, atau warna kulit
anda kurang layak di sebuah jalan dengan sebuah mobil yang sedang diparkir, dimata
polisi bisa di anggap sebagai suatu usaha percobaan pencurian mobil. Melalui undangundang ini wewenang polisi telah ditambah dan bukannya dikurangi. Demikian pula
dengan undang-undang polisi dan Bukti Kriminal, (police and Criminal Evidence Bill
1982 ) adalah contoh lain dari usaha negara untuk mendapatkan kekuasaanya. Ini hanya
sekedar satu di dalam satu deretan manuver legal yang konsekuensi latennya, tidak peduli
apapun maksud yang dinyatakan, adalah untuk meningkatkan kekuasan polisi untuk
menyerang privasi individu dan menunda mereka sampai bukti ditemukan, bisa
dibayangkan efek yang timbul. Tengok pula bagaimana di Indonesia kejahatan mengalir

tanpa hambatan melalui legalisasi peraturan perundang-undangan.


Apabila kita melihat seadanya maka nampak, bahwa terbitnya undang-undang itu
merupakan rasa peduli pemerintah dan kekhawatiran pemerintah, terhadap
warganegaranya, namun pemerintah sendiri telah menciptakan opini publik yang
berlebihan tentang kejahatan (warungan) melalui media-media, dan menciptakan setan
rakyat, dari para pengemis, pencuri jaminan sosial. Pada gilirannya pemerintah kemudian
tampak responsif terhadap keprihatinan publik, sementara pada kenyataanya tujuannya
adalah untuk menanamkan kedisiplinan dan rasa takut akan penganggur yang menerima
keuntungan negara, karena mereka bukan golongan menegah yang terhormat atau yang
secara potensial rusak. Aliran-aliran kriminologi baru ( Taylor dll ) mengakui secara jujur
bahwa gambaran yang diromantisasikan merupakan suatu formulasi yang kasar dan
bahkan salah, serta lebih banyak merupakan pemujaan dari pada analisa perbuatan
menyimpang yang dikagumi penyusun-penyusun teori seperti perilaku hippi, pemakaian
narkotik, vandalisme dan sabotase industri. Namun harus diakui apa yang ditawarkan
oleh aliran kriminologi baru, kritis dan radikal adalah alternatif pemikiran yang mencoba
membuka pemahaman kita akan realitas kejahatan serta memberikan kegairahan
perkembangan pemikiran kejahatan dalam konteks kriminolog.

Soal No.2 : Relativitas Kejahatan, sosiologi berpendapat bahwa kejahatan disebabkan


karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilakuperilaku sosial lainnya. Analisis terhadap kondisi-kondisi dan proses-proses tersebut
menghasilkan dua kesimpulan, yaitu pertama yang terdapat hubungan antara variasi
kejahatan dengan variasi organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi.
Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan
organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi, maka angka-angka
kejahatan dalam masyarakat, golongan-golongan masyarakat dan kelompok-kelompok
sosial mempunyai hubungan dengan kondisi-kondisi dari proses-proses misalnya gerak
sosial, persaingan dan penentangan kebudayaan, ideologi, politik, agama, ekonomi.
Dengan cara inilah sosiologi memandang arti sebuah kejahatan.

Kejahatan merupakan persoalan yang dialami manusia dari waktu ke waktu, bahkan dari
sejak Adam-Hawa kejahatan sudah tercipta, maka dari itulah kejahatan merupakan
persoalan yang tak henti-hentinya untuk diperbincangkan oleh karena itu di mana ada
manusia, pasti ada kejahatan Crime is eternal-as eternal as society. Masalah ini
merupakan suatu masalah yang sangat menarik, baik sebelum maupun sesudah
kriminologi mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti dewasa ini. Maka
pengertian kejahatan adalah relativ tak memilki batasRelativitas kejahatan dan aspek
yang terkait di dalamnya tidaklah merupakan konsepsi hukum semata-mata, sekalipun
memang legalitas penentuan kejahatan lebih nyata nampak dan dapat dipahami, akan
tetapi aspek-aspek hukum diluar itu (extra legal) tidaklah mudah untuk ditafsirkan.
karena kenisbian konsep kejahatan yang aneka macam seperti itu sering didengar didalam
percakapan sehari-hari, kejahatan dalam artian hukum, sosiologi, dan kombinasi dari
semuanya itu. Relativitas jelas akan berpengaruh terhadap penggalian faktor sebab
musababnya yang pada gilirannya berpengruh terhadap metode penanggulangan
kriminalitas pada umumnya.
Tentunya relativitas kejahatan memerlukan atau bergantung kepada ruang dan waktu,
serta siapa yang menamakan seuatu itu adalah kejahatan.Misdaad is benoming yang
berarti tingkah laku didefenisikan sebagai jahat oleh manusia-manusia yang tidak
mengkualifikasikan diri sebagai penjahat. Meskipun kejahatan itu relatif, ada pula
perbedannya antara mala in se dengan mala in prohibita.Mala in se adalah suatu
perbuatan yang tanpa dirumuskan sebagai kejahatan sudah merupakan kejahatan.
Sedangka Mala in prohibita, adalah suatu perbuatan manusia yang diklasifikasikan
sebagai kejahatan apabila telah dirumuskan sebagai kejahatan dalam Undang-undang.
Siapakah sebenarnya penjahat itu. Apakah cukup mereka yang dinyatakan melakukan
perbuatan yang dilarang dan diberi sanksi hukum yang tercantum dalam pasal undangundang disebut sebagai penjahat? Dalam KUH-Pidana (kita) tidak ada satu pasal pun
yang mengatakan bahwa penjahat adalah..., dan KUH-Pidana kita tidak menyebutkan
siapakah orangnya yang menyandang gelar penjahat. Akan tetapi mereka hanya dicap

sebagai penjahat dengan sebutan barang siapa (Yesmil Anwar. 2004:5), tentunya
penjahat itu merupakan label atau stigma dari undang-undang.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, ternyata aliran klasik atau aliran positif tidak
dapat bertahan lama, aliran-aliaran ini kembali mendapat kritikan dari aliran atau mazhab
sosiologis. Dalam lapangan kriminologi, aliran ini paling banyak melahirkan variasivariasi dan perbedaan-perbedaan analisa dari sebab musabab kejahatan. Pokok pangkal
dari ajaran ini adalah kelakuan-kelakuan jahat yang dihasilkan dari proses-proses yang
sama seperti kelakuan-kelakuan sosial lainnya.
Bukan suatu penjungkirbalikan terhadap paham klasik, positivistik, namun merupakan
sebuah perkembangan yang begitu dasyat dalam lapangan kriminologi. Edwin Hardin
Sutherland (1883-1950), boleh kita sebuat sebagai seorang berani tampil beda dalam
menelaah kejahatan, the white collar crime adalah suatu hal yang bagus, yang ia
hasilkan, bahwa kejahatan tidak hanya dilakukan orang-orang kelas bawah, namun
kejahatan dilakukan juga oleh orang-orang kelas atas. J.E Sahetapy menyebut hal ini
sebagai kejahatan dalam kemasan baru.
Kejahatan dalam tataran seperti yang Sutherland kemukakan adalah merupakan
educated criminals. Dalam pandangannya, Pelaku kejahatan adalah orang-orang yang
berasal dari kelas-kelas sosial dan ekonomi yang rendah, kejahatan tersebut itu berupa,
perampokan, pencurian, dan kekerasan lainya hal ini menunjukan bahwa kejahatan
merupakan fenomena yang dapat diketemukan juga dalam kelas-kelas masyarakat yang
lebih tinggi, yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan secara tradisional, seperti
kemiskinan, atau fakto-faktor patologik yang bersifat individual.