Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permintaan energi dunia terus meningkat sepanjang sejarah peradaban umat
manusia. Proyeksi permintaan energi pada tahun 2050 hampir mencapai tiga kali
lipat dari permintaan di tahun 20121. Tampaknya masalah energi akan tetap
menjadi topik yang harus dicarikan solusinya bersama. Usaha-usaha untuk
mendapatkan energi alternatif telah lama dilakukan untuk mengurangi
ketergantungan terhadap sumber daya minyak bumi. Pemanfaatan minyak bumi
diperkirakan akan habis dalam waktu yang tidak lama jika pola pemakaian seperti
sekarang ini yang justru semakin meningkat dengan meningkatnya industri
maupun transportasi. Selain itu dari berbagai penelitian telah didapat gambaran
bahwa kualitas udara telah semakin mengkawatirkan akibat pembakaran minyak
bumi.
Dalam menanggapi krisis energi yang terjadi, pemerintah mengupayakan
berbagai cara untuk mengembangkan berbagai energi alternatif. Sebagaimana kita
ketahui, Indonesia berada pada daerah khatulistiwa dan akan selalu disinari
matahari selama 10 - 12 jam dalam sehari. Maka potensi untuk mengembangkan
energi surya sangatlah besar. Total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per
meter persegi perhari, matahari bersinar berkisar 2000 jam per tahun, sehingga
tergolong kaya sumber energi matahari. Data Ditjen Listrik dan Pengembangan
Energi pada tahun 1997, kapasitas terpasang listrik tenaga surya di Indonesia
mencapai 0,88 MW dari potensi yang tersedia 1,2 x 109 MW.2 Dengan potensi
yang cukup besar tersebut diharapkan energi surya ini dapat membantu dalam
memenuhi kebutuhan energi bangsa ini dan juga mengurangi ketergantungan kita
terhadap pemakaian energi fosil.
1
2

http://www.esdm.go.id/news-archives/, diakses tanggal 18-03-2013


http://www.greenradio.fm/technology/energy/solar-cell/, diakses 18-03-2013

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1. Bagaimana cara memanfaatkan energi surya menjadi energi alternatif?
2. Apa saja dampak energi surya terhadap lingkungan?
3. Bagaimana penanggulangan dampak negatif dari energi surya terhadap
lingkungan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Memahami proses pemanfaatan energi surya sebagai energi alternatif
2. Mengetahui dampak pengembangan energi surya terhadap lingkungan
3. Memahami konsep penanggulangan dampak negatif dari energi surya
terhadap lingkungan
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Dapat mengimplementasikan teknologi terbaru dalam pengembangan
enerfi surya
2. Dapat memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang timbul
akibat dalam pengembangan energi surya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Energi Surya

Gambar 2.1 Matahari (sumber: www.esdm.go.id)

Energi surya merupakan energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari yang
hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69 persen dari total energi pancaran
matahari. Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan
bumi mencapai 3 x 1024 Joule pertahun (setara dengan 2 x 1017 Watt). Jumlah
energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat
ini. Menutup 0,1 persen saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang
memiliki efisiensi 10 persen sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di
seluruh dunia saat ini.3
Indonesia berpotensi untuk menjadikan solar sel sebagai salah satu sumber
energi masa depan mengingat posisi Indonesia pada daerah khatulistiwa. Dalam
kondisi puncak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di
permukaan panel surya di Indonesia seluas 1 m 2 mampu mencapai 900 hingga
1000 Watt. Total intensitas penyinaran perharinya di Indonesia mencapai 4500
watt hour/m2 yang membuat Indonesia tergolong kaya sumber energi matahari ini.
Dan matahari di Indonesia mampu bersinar hingga 2.000 jam pertahunnya.4
3
4

Sumber : http://www.esdm.go.id, diakses tanggal 12-03-2013


Sumber : http://www.esdm.go.id, diakses tanggal 12-03-2013.

2.2 Potensi Energi Surya


Posisi matahari dan kedudukan wilayah dipermukaan bumi memberikan
pengaruh nyata terhadap potensi energi surya pada suatu wilayah. Potensi ini akan
berubah tiap waktu, tergantung dari kondisi atmosfer, dan tempat (garis lintang)
serta waktu (hari dalam tahun dan jam dalam hari). Indonesia yang berada dalam
wilayah khatulistiwa mempunyai potensi energi surya yang cukup besar sepanjang
tahunnya. Energi surya sangat berpotensi untuk dimanfaatkan secara langsung
sebagai sumber energi alternatif. Pemanfaatan energi surya ini dapat dilakukan
secara termal maupun melalui energi listrik. Pemanfaatan secara termal dapat
dilakukan secara langsung dengan membiarkan objek pada radiasi matahari, atau
menggunakan peralatan yang mencakup kolektor dan konsentrator surya.
Informasi mengenai ketersediaan energi matahari merupakan hal penting dalam
rangka mendukung usaha pemanfaatan energi matahari secara optimal.
Pengetahuan mengenai besarnya radiasi matahari pada suatu lokasi merupakan hal
yang penting dalam beberapa aplikasi energi matahari seperti desain arsitektur dan
dan kenyamanan termal bangunan, sistem pemenfaatan energi matahari
(photovoltaic/PV, solar concentrator, solar collector) dan lain-lain [Mubiru,
2008]. Perlu dilakukan diversifikasi pemanfaatan sumber energi selain fosil yang
memiliki keterbatasan dan rentan memicu kerusakan lingkungan. Diversifikasi ini
dapat dimulai dengan melakukan pendayagunaan energi matahari yang sangat
potensial dan tak terbatas terutama untuk wilayah Indonesia.

Indonesia memiliki potensi energi surya yang cukup besar mengingat letak
geografisnya yang berada pada daerah tropis. Berdasarkan data penyinaran
matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia
untuk kawasan Barat Indonesia mencapai 4,5 kWh/m2/hari dengan variasi
bulanan sekitar 10%, sementara itu untuk Kawasan Timur Indonesia sekitar 5,1
kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%.
Menurut artikel yang dimuat di situs Departemen ESDM,

untuk

memanfaatkan potensi energi surya tersebut, telah dikenal teknologi energi surya

termal dan energi surya fotovoltaik. Energi surya termal pada umumnya
digunakan untuk memasak, mengeringkan hasil pertanian dan memanaskan air.
Sedangkan energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik,
pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin dengan kapasitas total
sekitar 6 MW.
Pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi listrik ditargetkan akan
mencapai 25 MW pada tahun 2020. Selain untuk memenuhi listrik pedesaan,
energi surya diharapkan juga mampu berperan sebagai salah satu sumber energi
alternatif di wilayah perkotaan, yang dimanfaatkan untuk lampu penerangan jalan,
penyediaan listrik untuk rumah peribadatan, sarana umum, sarana pelayanan
kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, posyandu, dan rumah bersalin, kantor
pelayanan umum pemerintah, hingga untuk pompa air yang digunakan untuk
pengairan irigasi atau sumber air bersih.
Tabel 2.1. Potensi Sumber Daya Energi Surya di Beberapa Kota di Indonesia.

No

Kota

Provinsi

Tahun
Pengukuran

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Banda Aceh
Palembang
Menggala
Rawasragi
Jakarta
Bandung
Darmaga, Bogor
Serpong, Tangerang
Semarang
Surabaya
Kenteng,
Yogyakarta
Denpasar
Pontianak

Aceh
Sumatera Selatan
Lampung
Lampung
Jakarta
Jawa Barat
Jawa Barat
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur

1980
1979 1981
1972 1979
1965 1979
1965 1981
1980
1980
1991 1995
1979 1981
1980

Radiasi
rata- rata
(W/m2)
4.1
4.95
5.23
4.13
4.19
4.15
2.56
4.45
5.49
4.30

Yogyakarta

1980

4.50

Bali
Kalimantan Barat

1977 1979
1991 1993

5.26
4.55

11
12
13

Sumber : Rencana Induk Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan, 1997.


Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, DESDM

2.3 Pemanfaatan Energi Surya

Energi surya merupakan energi yang dapat dimanfaatkan secara luas. Seperti
yang dapat dilihat pada skema di bawah ini radiasi matahari dapat dimanfaatkan
melalui tujuh jenis tahapan.

Gambar 2.2 Skema Pemanfaatan Energi Surya (Sumber : Erlinawati, Modul Energi Konvensional
dan Non Konvensional.2012)

Pada tahap I, radiasi matahari diterima oleh tumbuh-tumbuhan yang


digunakan untuk proses fotosintesis. Dengan begitu tumbuhan seperti jenis kayukayuan dan tumbuhan lainnya akan dapat berlangsung hidup. Seperti yang kita
ketahui, kayu dapat digunakan sebagai bahan bakar. Pada tahap II radiasi matahari
yang memanasi atmosfer sehingga terjadi perpindahan udara yang berupa angin
dan arus pancar.Proses III.an dipanaskan. Di sini terjadi 2 hal. Pertama air naik
sebagai uap menjadi awan dan turun lagi ke bumi dalam bentuk hujan.Hujan yang
turun di gunung dan air mengalir di sungai merupakan potensi tenaga air. Selain
itu lautan dipanaskan. Lapisan laut sebelah atas lebih panas dari lapisan bawah.
Panas ini merupakan potensi energi yang dapat dimanfaatkan dengan cara
Konversi Energi Panas Lautan (KEPL), atau yang biasa disebut dalam bahasa
inggris Ocean Thermal Energi Converter (OTEC). Proses IV.Panas matahari
dimanfaatkan secara langsung, misalnya pada saat kita menjemur pakaian,
menjemur ikan kering atau membuat garam di pantai. Pada Proses V,VI dan VII

Pemanfaatan panas matahari dengan kolektor buatan manusia. Dengan kolektor


dimaksud suatu alat untuk penangkap dan pengumpul sinar matahari.
2.3.1 Teknologi Energi Surya Termal
Selama ini, pemanfaatan energi surya termal di Indonesia masih dilakukan
secara tradisional. Para petani dan nelayan di Indonesia memanfaatkan energi
surya untuk mengeringkan hasil pertanian dan perikanan secara langsung.
Berbagai teknologi pemanfaatan energi surya termal untuk aplikasi skala
rendah (temperatur kerja lebih kecil atau hingga 60oC) dan skala menengah
(temperatur kerja antara 60 hingga 120oC) telah dikuasai dari rancang-bangun,
konstruksi hingga manufakturnya secara nasional. Secara umum, teknologi surya
termal yang kini dapat dimanfaatkan termasuk dalam teknologi sederhana hingga
madya. Beberapa teknologi untuk aplikasi skala rendah dapat dibuat oleh bengkel
pertukangan kayu/besi biasa. Untuk aplikasi skala menengah dapat dilakukan oleh
industri manufaktur nasional.
Beberapa peralatan yang telah dikuasai perancangan dan produksinya
seperti sistem atau unit berikut:

Pemanas air domestic;

Dalam sistem pemanas air, panas matahari merupakan sumber utama yang
dibutuhkan,

serta

sebuah

kolektor

pengumpul

panas

yang

berfungsi

mengumpulkan panas matahari serta memperbesar suhu dari panas matahari


dalam suatu ruangan tertutup yang didalamnya terdapat pipa tembaga yang
dirancang sedemikian rupa sebagai tempat air melakukan sirkulasi. Pemanas air
dengan tenaga surya dapat digunakan dalam kebutuhan sehari-hari seperti
mencuci, mandi, dan lain sebagainya.
Karena menggunakan panas matahari sebagai sumber energinya, maka
hasilnya bergantung pada keadaan cuaca dalam mempengaruhi radiasi panas
matahari yang sampai ke bumi.

Panas dari matahari masuk kedalam kolektor melalui kaca kristal yang
akan menyebarkan panas tersebut secara merata di dalam kolektor, lalu air yang
mengalir melalui pipa tembaga di dalam kolektor akan menyerap panas tersebut,
sehingga dihasilkan panas yang sebanding dengan panas yang berada di dalam
kolektor.

Gambar 2.3. Mekanisme Kerja Pemanas Air Tenaga Surya (Sumber : ejournal.undip.ac.id)

Menunjukan arah aliran air, warna biru adalah air dingin setalah melewati
kolektor bagian bawah akan mengalami pemasanan di gambarkan berwarna
merah. Gambar diatas menunjukan mekanisme kerja pemanas air tenaga surya,
dimana terdapat sebuah pompa yang mengalirkan air dingin masuk melalui bagian
bawah kolektor sehingga berubah menjadi air panas yang keluar melalui bagian
atas kolektor menuju tangki penampungan air panas yang sudah di rancang untuk
mencegah radiasi panas keluar.

Kompor Surya;
Kompor tenaga surya adalah perangkat masak yang menggunakan sinar

matahari sebagai sumber energi. Kompor jenis ini tidak menggunakan bahan
bakar konvensional dan biaya operasinya rendah sehingga sangat disayangkan jika
tidak dimanfaatkan. Terdapat tiga prinsip dasar kompor surya yaitu, pemusatan
cahaya matahari, mengubah cahaya menjadi panas dan memerangkap panas.
Kompor dengan prinsip kerja mengubah cahaya menjadi panas menggunakan
bahan panci yang berwarna hitam hal ini dapat meningkatkan efektivitas
pengubahan cahaya menjadi panas. Panci berwarna hitam dapat menyerap hampir

semua cahaya matahari dan mengubahnya menjadi panas, secara mendasar


meningkatkan efektivitas kerja kompor surya. Semakin baik kemampuan panci
menghantarkan panas, semakin cepat kompor bekerja.

Prinsip kerja kompor

memerangkap panas merupakan upaya mengisolasi udara di dalam kompor dari


udara diluarnya akan menjadi penting. Penggunaan bahan yang keras dan bening
seperti kantong plastik atau tutup panci berbahan kaca memungkinkan cahaya
untuk masuk ke dalam panci. Setelah cahaya terserap dan berubah jadi panas,
kantong plastik atau tutup berbahan gelas akan memerangkap panas didalamnya
seperti efek rumah kaca. Hal ini memungkinkan kompor untuk mencapai
temperatur yang sama ketika hari dingin dan berangin seperti halnya ketika hari
cerah dan panas. Sedangkan prinsip kerja yang digunakan pada praktikum ini
adalah pemusatan cahaya matahari. Pada kompor ini terdapat bahan metal/logam
yang memantulkan cahaya, digunakan untuk memusatkan cahaya dan panas
matahari ke arah area memasak yang kecil, membuat energi lebih terkonsentrasi
dan lebih berpotensi menghasilkan panas yang cukup untuk memasak. Kompor
berbentuk parabola, sehingga pemusatan cahaya matahari dapat menghasilkan
panas yang cukup untuk memanaskan air.

Gambar 2.4 Kompor Matahari

10

Untuk diameter cermin sebesar1,3 meter kompor ini memberikan daya


thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor ini maka
kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat dikurangi.
Selain teknologi pemanfaatan diatas, energi surya juga dapat dimanfaatkan
dalam peralatan seperti Pompa air (dengan Siklus Rankine dan fluida kerja
Isopentane), Penyuling air ( Solar Distilation/Still ), Pendingin (radiatif, absorpsi,
evaporasi, termoelektrik, kompressip, tipe jet), Sterilisator surya dan Pembangkit
listrik dengan menggunakan konsentrator dan fluida kerja dengan titik didih
rendah.

2.3.2 Teknologi Energi Surya Fotovoltaik


Salah satu cara penyediaan energi listrik alternatif yang siap untuk
diterapkan secara masal pada saat ini adalah menggunakan suatu sistem
teknologi yang diperkenalkan sebagai Sistem Energi Surya Fotovoltaik
(SESF) atau secara umum dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Fotovoltaik (PLTS Fotovoltaik). Sebutan SESF merupakan istilah yang telah
dibakukan oleh pemerintah yang digunakan untuk mengidentifikasikan suatu
sistem

pembangkit

energi

yang

memanfaatkan

energi

matahari

dan

menggunakan teknologi fotovoltaik. Dibandingkan energi listrik konvensional


pada umumnya, SESF terkesan rumit, mahal dan sulit dioperasikan. Namun dari
pengalaman lebih dari 15 tahun operasional di beberapa kawasan di Indonesia,
SESF merupakan suatu sistem yang mudah didalam pengoperasiannya, handal,
serta memerlukan biaya pemeliharaan dan operasi yang rendah menjadikan
SESF mampu bersaing dengan teknologi konvensional pada sebagian besar
kondisi wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau - pulau kecil yang tidak
terjangkau oleh jaringan PLN dan tergolong sebagai kawasan terpencil.
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu
junction antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari
ikatan-ikatan atom yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar.

11

Semikonduktor

tipe-n

mempunyai

kelebihan

elektron

(muatan

negatif)

sedangkan semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif)


dalam struktur atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa terjadi
dengan mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk
mendapatkan material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron, sedangkan
untuk mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh atom fosfor.
Ilustrasi dibawah menggambarkan junction semikonduktor tipe-p dan tipe-n.

Gambar 2.4 Junction antara semikonduktor tipe-p (kelebihan hole) dan tipe-n (kelebihan elektron).
(Sumber : eere.energy.gov)

Gambar 2.5 Ilustrasi cara kerja sel surya dengan prinsip p-n junction. (Gambar : sun-nrg.org)

12

BAB III
DAMPAK ENERGI SURYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN CARA
PENANGGULANGANNYA
Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses
thermonuklir yang terjadi di matahari. Kehidupan manusia memang tidak terlepas
dari sumber-sumber radiasi. Radiasi yang berarti pemancaran atau penyinaran
merupakan penyebaran partikel-patikel elementer dan energi radiasi dari suatu
sumber radiasi.
Menggunakan energi surya memang tidak mengakibatkan polusi udara
atau polusi air, dan tidak juga menghasilkan gas rumah kaca, tetapi tetap memiliki
beberapa dampak tidak langsung terhadap lingkungan. Dampak tersebut antara
lain dijelaskan pada penjelasan dibawah ini.
3.1 Pada Proses Produksi Modul Surya
Efek lingkungan yang berhubungan dengan manufaktur pembangkit sel
surya khususnya terjadi selama proses produksi sel surya. Dalam beberapa tahun
terakhir, telah dibahas terutama terhadap penggunaan sumber mineral yang langka
dan beracun. Solar sel dengan bahan mono-crystalline dan multi-crystalline begitu
juga dengan silikon tak berbentuk secara umum dikenali sebagai sumber mineral
yang langka dan sedikit digunakan, sedangkan teknologi sel cadmium telluride
(CdTe) dan sel CIS merupakan mineral dengan konsumsi menengah. Aplikasi dari
germanium (Ge) tampaknya secara khusus bermasalah untuk produksi sel silikon
tak berbentuk; hal yang sama terjadi terhadap Indium (In) pada sel CIS dan
tellurium pada sel CdTe. Berdasarkan pengetahuan yang ada sekarang ini,
kuantitas dari material-material tersebut adalah terbatas di bumi ini.
Dalam hal material beracun, hanya efek lingkungan yang sedikit yang
dapat terjadi untuk teknologi silikon crystalline. Namun begitu, teknologi sel
CdTe dan CIS dapat dianggap lebih bermasalah karena kandungan kadmium (Cd),

13

selenium (Se), tellurium (Te) dan tembaga (Cu) yang tinggi. Selain itu, selama
masa manufaktur dari modul CIS, substansi gas racun (seperti hidrogen selenida
(H2Se)) dapat dihasilkan yang secara umum berhubungan dengan potensi bahaya
lingkungan tertentu.
Secara umum, efek lingkungan yang berhubungan dengan manufaktur sel
surya adalah sebanding dengan industri manufaktur semikonduktor. Akan tetapi,
efek lingkungan yang telah dijelaskan relatif rendah karena peraturan legal akan
perlindungan lingkungan yang berkembang. Hal ini juga benar akibat
dibutuhkannya kemurnian material selama proses manufaktur sel surya. Di lain
pihak, dapat saja terjadi potensi bahaya yang berhubungan dengan proses
manufaktur dalam kasus kegagalan operasinya.

3.2 Pada Pemasangan Modul Surya


Selama operasi dari modul sel surya yang ditempatkan pada atap, tidak ada
gangguan yang dihasilkan dan tidak ada substansi yang dikeluarkan. Inverter yang
tersedia baru-baru ini di pasaran memiliki sifat low-noise yang sedang
dikembangkan dengan menggunakan desain khusus. Hal ini memungkinkan
pembangkitan listrik yang sangat ramah lingkungan. Selain itu, modul sel surya
sangat mirip dengan atap dalam hal penyerapan dan pemantulan terhadap radiasi
matahari. Oleh karena itu, tidak ada pengaruh yang besar terhadap iklim lokal.
Baru-baru ini modul yang ditempatkan pada atap yang miring dan datar dalam
beberapa kasus dapat terlihat dari jarak jauh. Hal ini dapat berpengaruh terhadap
pandangan dari penduduk perkotaan maupun pedesaan. Namun di lain pihak,
pemasangan tersebut tidak membutuhkan ruang tambahan.
Pembangkit listrik dengan sel surya yang ditempatkan pada tanah (seperti
pembangkit listrik yang dipasang pada tanah bekas pertanian atau pertambangan)
sebagian atau seluruhnya akan membatasi penggunaan lahan untuk keperluan lain.
Namun begitu, hanya sebagian kecil dari lahan akan hilang untuk tujuan

14

penggunaan lahan lainnya, yaitu hanya sekitar fondasi yang mendukung


pemasangan modul sel surya. Lahan utama yang masih tersisa dapat digunakan
untuk pertanian atau penanaman rerumputan untuk gembala domba. Oleh karena
permukaan yang ditutupi relatif besar dan juga karena divergensi penyerapan dan
pemantulan

yang

beragam

jika

dibandingkan

dengan

lahan

pertanian,

pengaruhnya terhadap iklim mikro dapat saja terjadi. Namun, efek lingkungan ini
hanya relevan dalam kasus penggunaan sel surya secara besar-besaran, yang
sangat jarang terjadi karena alasan ekonomi.

Operasi dari pembangkitan dengan sel surya juga berhubungan dengan


transmisi radiasi elektromagnetik (aspek dari kompatibilitas elektromanget). Tidak
seperti pembangkit listrik umumnya, pembangkit dengan sel surya umumnya
dilengkapi dengan kabel arus searah secara besar-besaran dan dalam hal generator
sel surya dibutuhkan permukaan radiasi yang luas, selain itu ditempatkan pada
daerah perumahan penduduk sekitar. Namun begitu, selama proses pemasangan,
umumnya terjamin bahwa lintasan tertutup dari pengkabelan, yang dapat bersifat
sebagai antena dijaga sekecil mungkin. Hal ini merupakan tindakan protektif
untuk menjaga iradiasi dan penerimaan radiasi elektromagnetik. Penerimaan
radiasi gelombang elektromagnetik secara khusus merupakan permasalahan yang
kritis dalam hal terjadinya petir di sekitar modul sel surya dan dapat menghasilkan
tegangan dan arus berlebih jika daerah penerimaannya yang terlalu besar.
Rusaknya komponen listrik dapat terjadi akibat hal tersebut. Namun begitu,
medan magnetik dengan frekuensi rendah yang dihasilkan dari komponen sel
surya tidaklah lebih besar dibandingkan dengan peralatan rumah tangga, dimana
emisinya dapat dianggap lebih rendah seperti jika dibandingkan dengan televisi.
Usaha manufaktur dalam hal desain modul akan lebih jauh mengurangi emisi,
sehingga tidak ada pengaruh yang besar yang dapat terjadi.
Untuk menghindari resiko bahaya terhadap manusia dan lingkungan
karena kegagalan operasi dari pembangkit dengan sel surya, maka kegagalan
pembangkit dan beberapa bagiannya harus dapat diidentifikasi dan diperhatikan.

15

Desain inveter dan pembangkit sel surya harus dapat melakukan deteksi
terputusnya daya listrik dan juga pemadaman secara otomatis. Sistem sel surya
hanya boleh dihubungkan dengan grid yang kuat. Inverter modern biasanya telah
memiliki peralatan pengamanan yang sesuai, sehingga syarat diatas biasanya telah
dipenuhi.

16

BAB IV
PENUTUP

Energi surya merupakan energi alternatif yang memiliki potensi cukup


besar di Indonesia. Energi terbarukan ini telah dikembangkan dengan dua metode
yaitu energi surya fotovoltaik yang secara umum dikenal sebagai Pembangkit
Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik (PLTS Fotovoltaik) dan energi surya termal
yang mana pemanfaatannya di Indonesia masih dilakukan secara tradisional,
seperti untuk mengeringkan hasil pertanian dan perikanan secara langsung.
Menggunakan energi surya memang tidak mengakibatkan polusi udara atau polusi
air, dan tidak juga menghasilkan gas rumah kaca, tetapi tetap memiliki beberapa
dampak tidak langsung terhadap lingkungan. Meskipun begitu pembangkit listrik
dengan sel surya memiliki kecenderungan terhadap dampak negatif lingkungan
yang rendah, dan dampak negatif ini dapat diminimalisir, dengan syarat bahwa
modul terpasang dan dioperasikan secara baik, pengaruh lingkungan yang
signifikan akan jarang ditemukan.

17

DAFTAR PUSTAKA
Erlinawati, Modul Energi Konvensional dan Non Konvensional.2012
http://www.greenradio.fm/technology/energy/solar-cell/, diakses 18-09-2014
http://www.esdm.go.id/news-archives/, diakses tanggal 18-09-2014
http://www.litbang.esdm.go.id , diakses tanggal 18-09-2014
http://tenagasuryaku.com/2011/12/03/solar-sell/ diakses tanggal 20-09-2014
http://sentradaya.com/solar-cell/ diakses tanggal 20-09-2014
http://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-selsurya/ diakses tanggal 20-09-2014
http://konversi.wordpress.com/2009/06/12/dampak-lingkungan-penggunaanphotovoltaic/ diaksess tanggal 20-09-2014