Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengenalan Lichenes


Lichenes atau lumut kerak adalah dua macam organisme yaitu alga dan
jamur yang hidup bersimbiosis. Banyak jenis Ascomycotina dan beberapa jenis
Basidiomycotina hidup bersimbiosis dengan alga hijau atau alga biru yang
umumnya bersel satu yang membentuk lichenes. Lichenes dapat ditemukan pada
batu-batuan, pada kulit pohon atau berupa lumut janggut. Menurut Hasairin
(2007), alga pada lichenes dapat hidup tanpa bersimbiosis, tapi hampir semua
jamur pada lichenes hanya dapat hidup jika bersimbiosis dengan alga. Alga yang
ikut menyususn tubuh lichenes disebut gonidium, dapat bersel tunggal ataupun
berbentuk koloni. Kebanyakan gonidium adalah alga biru (Cyanophyceae) antara
lain Choococcus dan Nostoc, kadang-kadang juga alga hijau (Cholorophyceae)
misalnya Cystococcus dan Trentopohlia. (Aththorick dan Siregar, 2006)
Setiap jenis alga akan menghasilkan lain jenis lichenes. Jadi bentuk
lichenes tergantung pada macam cara hidup bersama antara kedua macam
organisme yang menyusunnya. Dapat juga hubungan antara kedua alga dan jamur
itu dianggap sebagai suatu helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya
bersifat sementara, yang pada permulaannya saja, tetapi akhirnya alga diperalat
oleh cendawan, dan hubungan mana menyerupai hubungan seorang majikan
dengan budaknya (helot). (Aththorick dan Siregar, 2006)
Tumbuhan lichenes ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan
dalam pembentukan tanah. Tumbuhan ini bersifat endolitik karena dapat masuk
pada bagian pinggir batu. Lichenes ini menghasilkan asam, dan kemudian asam
itu melubangi batu dan lama kelaman memecahnya. Begitu batu menjadi tanah,
tanaman lain pun bisa tumbuh di sana. Dalam hutan yang sudah mantap, lumut
dan lichenes akan menyerap air dari hujan dan salju yang mencair. Hal ini
mengurangi kemungkinan adanya banjir dalam musim semi dan kekeringan
sungai dalam musim panas. Juga mengurangi hilangnya tanah oleh erosi air
(Kimbal, 1999).

Lumut kerak ini bahkan bisa tumbuh di tengkorak binatang yang mati.
Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan
terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes tumbuh sangat
lambat dan umurnya pun panjang. Lichenes yang hidup pada batuan dapat
menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika
turun hujan bisa hidup kembali. Pertumbuhan talusnya sangat lambat, dalam 1
tahun jarang lebih dari 1 cm. Tubuh buah baru terbentuk setelah mengadakan
pertumbuhan vegetatif bertahun-tahun. Satu hal yang tak disukai oleh tumbuhan
ini adalah udara dan air yang beracun. Itulah sebabnya kita tidak akan bisa
menjumpai tumbuhan ini tumbuh dekat pabrik-pabrik. Karena sifatnya yang peka
ini lichenes sering dipakai sebagai penunjuk adanya pencemaran udara di suatu
daerah (Bold, 1987 ; Sutiyo dan Perkerti, 2010). Dengan pertumbuhan kerak tidak
hanya mengalami kemunduran di daerah yang terkena polusi berat tetapi menjadi
langka atau menghilang. Hampir sebagian besar spesies lichenes sangat sensitif
terhadap gas belerang dioksida (SO2) dan gas buang lainnya yang berasal dari
industri dan kendaraan bermotor. (Pratiwi, 2006 ; Suwarso, 1995)
Para ahli mengemukakan berbagai pendapat mengenai pengelompokan
atau klasifikasi lichenes dalam dunia tumbuhan. Ada yang berpendapat bahwa
lichenes dimasukkan kedalam kelompok yang tidak terpisah dari jamur, tapi
kebanyakan ahli berpendapat bahwa lichenes perlu dipisahkan dari jamur atau
memiliki kelompok sendiri. Alasan dari pendapat yang kedua ini adalah karena
jamur yang membangun tubuh lichenes tidak akan membentuk tubuh lichenes
tanpa alga. Hal lain didukung oleh karena adanya zat-zat hasil metabolisme yang
tidak ditemui pada alga dan jamur yang hidup terpisah. (Yurnaliza , 2002)
Menurut Pandey & Trivendi (1977), simbiosis antara alga dan fungi,
memberikan dua penafsiran yang berbeda, yaitu :
1) Disebut simbiosis mutualisme, bila dipandang ke dua simbion dapat
memperoleh keuntungan dari hidup bersama. Pada simbiosis tersebut alga
memberikan hasil fotosintesisnya, terutama yang berupa karbohidrat kepada
fungi, dan sebaliknya fungi memberikan air dan garam-garam kepada alga.

2)

Disebut helotisme, bila keuntungan yang timbal balik itu hanya sementara,
yaitu pada permulaannya saja, tetapi pada akhirnya alga akan diperalat oleh
fungi.

2.2. Morfologi Thallus


2.2.1. Morfologi Luar
Tubuh lichenes dinamakan thallus yang secara vegetatif mempunyai
kemiripan dengan alga dan jamur. Thallus ini berwarna abu-abu atau abu-abu
kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah
dengan habitat yang bervariasi. Bagian tubuh yang memanjang secara selluler
dinamakan hifa. Hifa merupakan organ vegetatif dari thallus atau miselium yang
biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada pada
bagian permukaan dari thallus (Hawksworth, 1984). Berdasarkan bentuknya,
lichenes dibedakan atas empat bentuk :
a. Crustose

Gambar 2.1. Haematomma accolens

Gambar 2.2. Acarospora

Sumber : Sharnoff (2002)


Lichenes yang memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis dan
selalu melekat ke permukaan batu, kulit pohon atau di tanah. Jenis ini susah untuk
mencabutnya tanpa merusak substratnya. Contoh : Graphis scipta, Haematomma
puniceum, carospora atau Pleopsidium.Lichen Crustose yang tumbuh terbenam di
dalam batu hanya bagian tubuh buahnya yang berada di permukaan disebut
endolitik, dan yang tumbuh terbenam pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik
atau endoploidal. Lichenes yang longgar dan bertepung yang tidak memiliki
struktur berlapis, disebut leprose. (Sutiyo dan Perkerti. 2010)

b. Foliose

Gambar 2.3. Xantoria elegans


Sumber : Sharnoff (2002)
Lichenes foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobuslobus. Lichenes ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya. Thallusnya
datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian
permukaan atas dan bawah berbeda. Permukaan bawah berwarna lebih terang atau
gelap dan pada bagian tepi talus biasanya menggulung ke atas (Vashishta 1982,
dalam Januardania 1995). Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan
rhizines. Rhizines ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan.
Contoh : Xantoria, Physcia, Peltigera, Parmelia dll.
c. Fruticose

Gambar 2.4. Cladonia portentosa


Sumber : Sharnoff (2002)
Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk
seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daun-daunan atau
cabang pohon. Tidak terdapat perbedaan antara permukaan atas dan bawah. Talus
hanya menempati bagian dasar dengan cakram bertingkat. Lumut kerak fruticose
ini memperluas dan menunjukan perkembangannya hanya pada batu-batuan,
daun, dan cabang pohon (Vashishta 1982, dalam Januardania 1995). Contoh :
Usnea, Ramalina dan Cladonia

d. Squamulose

Gambar 2.5. Psora pseudorusselli


Sumber : Sharnoff (2002)
Lichenes ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut
squamulus yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dan sering
memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia. Talus ini memiliki bentuk
seperti sisik yang tersusun oleh banyak cuping (lobes) yang kecil tetapi tidak
memiliki rizin (Vashishta 1982, dalam Januardania 1995). Contoh: Psora
pseudorusselli, Cladonia carneola.

Gambar 2. 6 Morfologi Talus


Sumber : Sharnoff (2002)

2.2.2. Morfologi Dalam (Anatomi)


Struktur dalam (anatomi) diwakili oleh jenis foliose, karena jenis ini
mempunyai empat bagian tubuh yang dapat diamati secara jelas yaitu. (Brown,
1987)
a. Korteks atas, berupa jalinan yang padat disebut pseudoparenchyma dari hifa
jamurnya. Sel ini saling mengisi dengan material yang berupa gelatin. Bagian

ini tebal dan berguna untuk perlindungan. (Sutiyo dan Perkerti. 2010). Lapisan
teratas disebut sebagai lapisan hifa fungi. Lapisan ini tidak memiliki ruang
antar sel dan jika ada maka ruang antar sel biasanya diisi oleh gelatin. Pada
beberapa jenis lumut kerak yang bergelatin, kulit atas juga kekurangan satu
atau beberapa sel tipis. Namun, permukaan tersebut dapat ditutupi oleh
epidermis. Secara umum, lapisan atas alga diketahui dapat menerima cahaya
sinar matahari. Simbiosis yang terjadi mengakibatkan kedua komponen
tersebut saling tergantung satu sama lain. Lumut kerak dapat mengabsorbsi air
dari hujan, aliran permukaan, dan embun. (Misra & Agrawal, 1978).
b. Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak di bawah
korteks atas yang terdiri atas lapisan gonidial. Bagian ini terdiri dari jalinan
hifa yang longgar fungi yang bercampur dengan alga. Diantara hifa-hifa itu
terdapat sel-sel hijau, yaitu Gleocapsa, Nostoc, Rivularia dan Chrorella.
Lapisan thallus untuk tempat fotosintesa disebut lapisan gonidial sebagai
organ reproduksi. Berdasarkan penyebaran lapisan alga pada talusnya, lumut
kerak telah diklasifikasikan menjadi dua katagori yaitu homoiomerus dan
heteromerous. Pada homoimerus, sel alga tersebar merata pada jaringan
longgar hifa fungi sedangkan pada heteromerus sel-sel alga terbatas pada
lapisan atas talus (Misra & Agrawal, 1978).
c. Medulla, menurut Sutiyo dan Perkerti (2010), terdiri dari lapisan hifa yang
berjalinan membentuk suatu bagian tengah yang luas dan longgar. Hifa jamur
pada bagian ini tersebar ke segala arah dan biasanya mempunyai dinding yang
tebal. Hifa pada bagian yang lebih dalam lagi tersebar di sepanjang sumbu
yang tebal pada bagian atas dan tipis pada bagian ujungnya. Dengan demikian
lapisan tadi membentuk suatu untaian hubungan antara dua pembuluh.
Lapisan ini akan memberikan kekuatan dan penghubung antara lapisan bawah
dan atas atau bagian luar dan dalam talus.
d. Korteks bawah, menurut Sutiyo dan Perkerti (2010), lapisan ini terdiri dari
struktur hifa yang sangat padat dan membentang secara vertikal terhadap
permukaan thallus atau sejajar dengan kulit bagian luar. Korteks bawah ini
sering berupa sebuah akar (rhizines). Ada beberapa jenis lichenes tidak

mempunyai korteks bawah. Dan bagian ini digantikan oleh lembaran tipis
yang terdiri dari hypothallus yang fungsinya sebagai proteksi.

2.2.3. Struktur Vegetatif


Struktur tubuh lichenes secara vegetatif terdiri dari :
a. Soredia.
Soredia terdapat pada bagian medulla yang keluar melalui celah kulit.
Diameternya sekitar 25100 m , sehingga soredia dapat dengan mudah
diterbangkan angin dan akan tumbuh pada kondisi yang sesuai menjadi
tumbuhan licenes yang baru. Jadi pembiakan berlangsung dengan perantaraan
soredia. Soredia itu sendiri merupakan kelompok kecil sel-sel ganggang yang
sedang membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi satu
badan yang dapat terlepas dari induknya. Soredia ini terdapat di dalam
soralum.
b. Isidia
Isidia berbentuk silinder, bercabang seperti jari tangan dan terdapat pada kulit
luar. Diamaternya 0,01 0,03 m dan tingginya antara 0,5 3 m.
Berdasarkan kemampuannya bergabung dengan thallus, maka dalam media
perkembangbiakan, isidia akan menambah luas permukaan luarnya. Sebanyak
25 30 % dari spesies foliose dan fructicose mempunyai isidia. Proses
pembentukan isidia belum diketahui, tetapi dianggap sebagai faktor genetika.
c. Lobula
Lobula merupakan pertumbuhan lanjutan dari tahllus lichenes yang sering
dihasilkan di sepanjang batas sisi kulit luar. Lobula ini dapat berkembang
dengan baik pada jenis foliose, Genus Anaptycia, Neproma, Parmelia dan
Peltigera. Lobula sangat sukar dibedakan dengan isidia.
d. Rhizines
Rhizines merupakan untaian yang menyatu dari hifa yang berwarna kehitamhitaman yang muncul dari kulit bagian bawah (korteks bawah) dang mengikat
thallus ke bagian dalam. Ada dua jenis rhizines yaitu bercabang seperti pada

Ctraria, Physcia dan Parmelia dan yang tidak bercanag terdapat pada
Anaptycis dan beberapa Parmelia.
e. Tomentum
Tomentum memiliki kepadatan yang kurang dari rhizines dan merupakan
lembaran serat dari rangkaian akar atau untaian yang renggang. Biasanya
muncul pada lapisan bawah seperti pada Collemataceae, Peltigeraceae dan
Stictaceae.
f. Cilia
Cilia berbentuk seperti rambut, menyerupai untaian karbon dari hifa yang
muncul di sepanjang sisi kulit. Cilia berhubungan dengan rhizines dan hanya
berbeda pada cara tumbuh saja.
g. Cyphellae dan Pseudocyphellae
Cypellae berbentuk rongga bulat yang agak besar serta terdapat pada korteks
bawah dan hanya dijumpai pada genus Sticta. Pseudocyphellae mempunyai
ukuran yang lebih kecil dari cyphellae terdapat pada korteks bawah spesies
Cetraria, Cetralia, Parmelia dan Pasudocyphellaria. Rongga ini berfungsi
sebagai alat pernafasan atau pertukaran udara.
h. Cephalodia.
Cephalodia merupakan pertumbuhan lanjutan dari thallus yang terdiri dari
alga-alga yangg berbeda dari inangnya. Pada jenis peltigera aphthosa,
cephalodia mulai muncul ketika Nostoc jatuh pada permukaan thallus dan
terjaring oleh hifa cephalodia yang berisikan Nostoc biru kehijauan. Jenis ini
mampu

menyediakan

nitrogen

thallus

seperti

Peltigera,

Lecanora,

Stereocaulon, Lecidea dan beberapa jenis crustose lain. (Brown, 1987 ; Sutiyo
dan Perkerti, 2010)

2.3. Klasifikasi Lichenes


Lichenes sangat sulit untuk diklasifikasikan karena merupakan gabungan
dari alga dan fungi serta sejarah perkembangan yang berbeda. Para ahli seperti
Bessey, Martin dan Alexopoulus, berpendapat bahwa Licheness dikelompokkan
dan

diklasifikasikan

ke

dalam

kelompok

jamur

sebenarnya.

Bessey

meletakkannya dalam ordo Leocanorales dan Ascomyccetes. Smith menganjurkan


agar Licheness dikelompokkan dalam kelompok yang terpisah yang berbeda dari
alga dan fungi (Hawksworth, 1984).
Licheness

memiliki

klasifikasi

yang

bervariasi

dan

dasar-dasar

klasifikasinya secara umum adalah sebagai berikut :


A. Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya
1. Ascolichens
Apabila cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka tubuh
buah yang dihasilkan berupa peritesium, contoh : Dermatocarpon dan Verrucaria.
Dan jika cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes Lichenes membentuk
tubuh buah berupa apothecium yang berumur panjang, bersifat seperti tulang
rawan dan mempunyai askus yang berdinding tebal, contoh : Usnea yang
berbentuk semak kecil dan banyak terdapat pada pohon-pohon dalam hutan, lebihlebih di daerah pegunungan, dan Parmelia yang berupa lembaran-lembaran
seperti kulit yang hidup pada pohon-pohon dan batu-batu.
Dalam kelas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari
famili: Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus
dari Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa dan lainlain. Dari Cholophyceae adalah Protococcus, Trentopohlia, Cladophora dan
lainnya (Duta, 1968 ; Hawksworth, 1984).
2. Basidiolichenes.
Kebanyakan mempunyai thalus berbentuk lembaran-lembaran. Pada tubuh
buah terbentuk lapisan himenium yang mengandung basidium, menyerupai tubuh
buah

Hymenomycetales.

Berasal

dari

jamur

Basidiomycetes

dan

alga

Mycophyceae, Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae dengan tiga


genus Cora, Corella dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filament yaitu
Scytonema dan tidak berbentuk filamen yaitu Chrococcus (Duta, 1968;
Hawksworth, 1984)
3. Lichen Imperfect
Detromucetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon,
Normandia, dan lainnya (Duta, 1968; Hawksworth, 1984).

B. Berdasarkan alga yang menyusun thalus.


1. Homoimerus
Sel alga dan hifa jamur tersebar merata pada thallus. Komponen alga
mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam Mycophyceae.
Contoh : Ephebe, Collema.
2. Heteromerous.
Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen jamur
menyebarkan terbentuknya thallus, alga tidak berupa gelatin Chlorophyceae.
Contoh : Parmelia. (Teguhadang. 2010)
C. Berdasarkan type thallus dan kejadiannya.
1. Crustose atau Crustaceous.
Merupakan lapisan kerak atau kulit yang tipis di atas batu, tanah atau kulit
pohon. Seperti Rhizocarpon pada batu, Lecanora dan Graphis pada kulit kayu.
Mereka terlihat sedikit berbeda antara bagian permukaan atas dan bawah.
2. Fruticose atau Filamentous
Lichenes semak, seperti silinder rata atau seperti pita dengan beberapa
bagian menemoel pada bagian dasar atau permukaan. Thallus bervariasi, ada yang
pendek dan panjang, rata, silindris atau seperti janggut atau benang yang
menggantung atau berdiri tegak. Bentuk yang seperti telinga tipis yaitu Ramalina.
Yang panjang menggantung seperti Usnea dan Alectoria. Cladonia adalah tipe
kedua bentuk itu (Hawksworth, 1984).

2.4. Habitat dan Penyebaran Lichenes


Lumut kerak hidup tidak hanya tumbuh pada pohon-pohonan, tetapi juga
di atas tanah, terutama pada daerah tundra di sekitar kutub utara. Lokasi
tumbuhnya dapat di atas maupun di dalam batu dan tidak terikat pada tingginya
tempat di atas permukaan laut. Lumut kerak dapat ditemukan dari tepi pantai
sampai di atas gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini tergolong dalam
tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Beberapa jenis
dapat masuk pada bagian pinggir batu-batu, yang biasa disebut sebagai bersifat

endolitik (Tjitrosoepomo, 1981). Lumut kerak juga dapat hidup dan tumbuh pada
habitat yang agak kering (Polunin, 1990).
Menurut Pandey & Trivendi (1977); habitat lumut kerak dapat dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu :
1) Saxicolous adalah jenis lumut kerak yang hidup di batu. Menempel pada
substrat yang padat dan di daerah dingin.
2) Corticolous adalah jenis lumut kerak yang hidup pada kulit pohon. Jenis ini
sangat terbatas pada daerah tropis dan subtropis, yang sebagian besar kondisi
lingkungannya lembab.
3) Terricolous adalah jenis lumut kerak terestrial, yang hidup pada permukaan
tanah.
Menurut Pandey & Trivendi (1977), penyebaran koloni lumut kerak dapat
terjadi secara vegetatif yaitu dengan cara fragmentasi, soredia, dan isidia serta
secara seksual. Penyebaran secara vegetatif secara tidak langsung dapat dibawa
oleh air, angin, serangga atau satwa. Air hujan sangat penting dalam penyebaran
soredia, meskipun dengan angin juga dapat terjadi penyebaran.
Fragmentasi merupakan salah satu cara penyebaran secara vegetatif yang
paling umum dijumpai. Lumut kerak yang kering dengan kondisi yang sangat
rapuh, bila terpisah dari talus utamanya maka potongan talus tersebut akan
terbawa oleh angin atau air sehingga akan jatuh pada tempat yang baru. Pada
tempat yang baru, potongan talus tersebut akan tumbuh menjadi talus yang baru.
Soredia merupakan struktur berbentuk bubuk yang berwarna putih keabuan atau
hijau keabuan, yang biasanya terletak pada permukaan talus atau pinggiran talus.
Isidia merupakan struktur yang memiliki bentuk seperti karang yang terdapat pada
permukaan atau pinggiran talus.
Untuk reproduksi seksual terbatas untuk pasangan fungi yang terdapat
pada lumut kerak, sebab sebagian besar komponen fungi pada lumut kerak
termasuk dalam golongan Ascomycetes. Reproduksi ini meliputi pembentukan
askokarp dalam struktur khusus yang disebut dengan asci, tumbuh pada apotesium
atau peritesium. Banyak jenis fungi pada lumut kerak membentuk askokarp,
tergantung pada golongannya.

Menurut Vashishta (1982) dalam Januardania (1995), menyebutkan bahwa


ada beberapa faktor yang membantu penyebaran lumut kerak. Penyebaran secara
vegetatif merupakan cara efisien membantu penyebarannya, hal tersebut juga
didukung oleh sifat lumut kerak yang memiliki ketahanan terhadap suhu dan
kelembaban yang ekstrim.

2.5. Pengaruh Faktor Lingkungan bagi Lichenes


a. Suhu udara
Faktor kondisi tempat tumbuh sangat berpengaruh terhadap nilai kerapatan
lumut kerak serta jumlah jenis lumut kerak tersebut. Lumut kerak memiliki
kisaran toleransi suhu yang cukup luas. Lumut kerak dapat hidup baik pada suhu
yang sangat rendah atau pada suhu yang sangat tinggi. Lumut kerak akan segera
menyesuaikan diri bila keadaan lingkungannya kembali normal. Salah satu
contohnya alga jenis Trebouxia tumbuh baik pada kisaran suhu 12-24C, dan
fungi penyusun lumut kerak pada umumnya tumbuh baik pada suhu 18-21C
(Aththorick dan Siregar, 2006; Istam, 2007).
b. Kelembaban udara
Walaupun lumut kerak tahan pada kekeringan dalam jangka waktu yang
cukup panjang, namun lumut kerak tumbuh dengan optimal pada lingkungan yang
lembab (Nursal; Firdaus; dan Basori, 2005).
c. Kualitas Udara
Menurut Nursal; Firdaus; dan Basori (2005), udara adalah suatu campuran
gas yang berada pada lapisan yang mengelilingi bumi, dengan komposisi
campuran gas tersebut tidak selalu konstan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor
41 Tahun 1999; pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat,
energi, dan/atau komponen lain berupa debu, uap air, bau, asap, dan berbagai jenis
gas lainnya yang dalam jumlah konsentrasi, sifat dan lama waktu keberadaannya
di atmosfer, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya dan dapat
menyebabkan gangguan terhadap lingkungan disekitarnya baik terhadap gangguan

kesehatan, kerusakan pada kualitas barang/benda tertentu atau kenyamanan


makluk disekitarnya.

2.6. Pengenalan Rasamala (Altingia exelsa)


Rasamala (Altingia excelsa) adalah pohon hutan yang dapat tumbuh sangat
tinggi, mencapai 40 hingga 60 meter. Kulit kayu halus, abu-abu, dan kayunya
merah. Adapun klasifikasinya adalah :
Klasifikasi Ilmiah Rasamala:
Kingdom

: Plantae

Ordo

: Saxifragales

Famili

: Altingiaceae

Genus

: Altingia

Spesies

: A. excels (Anonim, 2011)

Gambar 2.7 Altingia excelsa


(1) Bentuk Pohon, (2) Bunga Jantan, (3) Ranting yang berbuah
Sumber : Soerianegara, I. dan Lemmens (1994)

Gambar 2.8 Pohon Rasamala


Sumber : Djaman (2002)
Jenis ini menyebar mulai dari Himalaya menuju wilayah lembab di
Myanmar hingga Semenanjung Malaysia, ke Sumatera dan Jawa. Di Jawa, jenis
ini hanya tumbuh di wilayah barat dengan ketinggian 500-1.500 m dpl, di hutan
bukit dan pegunungan lembab. Di Sumatera, Altingia excelsa tersebar di Bukit
Barisan. Tumbuh alami terutama pada tapak lembab dengan curah hujan lebih 100
mm per bulan dan tanah vulkanik. Jenis ini digunakan untuk penanaman terutama
di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ditanam pada jarak rapat, karena pohon muda
cenderung bercabang jika mendapat banyak sinar matahari.
Pohon Rasamala selalu hijau, tinggi dapat mencapai 40-60 m dengan
tinggi bebas cabang 20-35 m, diameter hingga 80-150 cm. Pohon yang masih
muda bertajuk rapat dan berbentuk piramid, kemudian berangsur menjadi bulat
setelah tua. Letak daun bergiliran, bentuknya lonjong, panjangnya 6 - 12 cm, dan
lebarnya 2,5-5,5 cm, dengan tepi daun bergerigi halus. Bunga berkelamin satu.
Bunga jantan dan betina terpisah pada pohon yang sama.

Altingia excelsa ini memiliki berbagai kegunaan, diantaranya kayunya


sangat awet walaupun langsung bersentuhan dengan tanah. Karena bebas
cabangnya tinggi, maka kayunya cocok untuk kerangka jembatan, tiang,
konstruksi, tiang listrik dan telpon,serta penyangga rel kereta api. Selain itu,
kayunya dimanfaatkan untuk konstruksi berat, rangka kendaraan, perahu dan
kapal, lantai, rakit, finir, dan plywood. Daun yang masih muda berwarna merah
sering untuk sayur atau lalap. Di Jawa, daun yang telah ditumbuk halus digunakan
sebagai obat batuk. Getahnya berbau aromatik sebagai pengharum ruangan.
(Pramono, A dan Dharmawati, 2002)