Anda di halaman 1dari 5

Lumpuh Layuh Bukan Berarti Polio

Sial betul nasib polio. Setiap kali ada kasus lumpuh layuh, semua caci maki dan sumpah
serapah lantas me-nyasar ke arahnya. Padahal lumpuh tak selalu akibat serangan polio.
Banyak penyakit lain yang bisa membuat anak-anak lumpuh layuh. Semuanya berbahaya.
Tapi penyebab terbesarnya memang polio. Itu sebabnya, banyak orang menyalahkan dan
membenciPolio.
Lumpuh layuh mengacu pada istilah kedokteran acute flaccid paralysis. Akut (acute)
merujuk pada penyakit-penyakit mendadak, seketika, atau jangka pendek. Gejalanya biasanya
parah atau berat. Flaccid melukiskan keadaan otot yang tidak memiliki ketegangan (tonus) sama
sekali, sedangkan paralysis berarti kelumpuhan. Jadi, lumpuh layuh bisa disebut sebagai
kelumpuhan seketika, ditunjukkan dengan hilangnya ketegangan otot yang bersangkutan. Polio,
identik dengan lumpuh layuh, karena penularannya gampang. Virus yang menginfeksi manusia
lewat pencernaan itu dapat masuk melalui makanan dan minuman terkontaminasi. Bahkan
manusia adalah tempat tinggal alamiah utama mereka. Polio Tak Terditeksi
Istilah lumpuh layuh sendiri mencuat sejak media gencar memberitakan serangan virus
polio di Sukabumi, sekitar awal Mei 2005. Serangan itu memupus ambisi Indonesia untuk
mendapatkan sertifikasi bebas polio dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Secara fisik, virus
polio memang sulit dideteksi, bahkan oleh mikroskop cahaya biasa. Ukurannya hanya 27
nanometer atau 0,000000001 m. Penyakit yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sanitasi ini
masuk ke dalam tubuh mendompleng makanan atau minuman terkontaminasi, lalu
memperbanyak diri dalam kelenjar getah bening di saluran pencernaan. Dalam membangun
koloni, mereka membutuhkan suplai asam amino dan asam nukleat yang cukup. Untuk itu
mereka merampok zat-zat itu dari sel-sel tubuh manusia.
Akibatnya, sel-sel tubuh yang dijarah tadi mati. Begitu seterusnya, setelah satu sel mati,
virus polio merampok sel yang lain. Mereka mampu melakukan penyusupan ke sel-sel dalam
jaringan kelenjar getah bening, jaringan otot, jaringan selaput otak, dan jaringan otak. Pada tahap
awal, ketika virus memperbanyak diri dalam tonsil, jaringan yang dijajahnya itu akan
membengkak, mirip "radang tenggorokan".

Dari tonsil, virus polio memperbanyak diri dalam kelenjar getah bening usus,
menimbulkan mual atau muntah-muntah. Bila infeksi berlanjut, virus akan masuk ke peredaran
darah (menyebabkan demam tinggi), lalu memperbanyak diri di jaringan otot. Dari jaringan otot,
virus merambah sel saraf melalui ujung sel saraf, sebelum akhirnya menjalar ke inti sel saraf
pusat di daerah tulang belakang. Pada tahap inilah kelumpuhan datang.
Imunisasi polio sangat dianjurkan, karena jika telanjur terserang virus polio, korban akan
sulit diobati. Sampai saat ini, masih belum ada obat yang efektif untuk membunuh virus itu.
Imunisasi hanya meningkatkan "kecerdasan" sistem kekebalan tubuh dalam mengenali virus
polio. Semakin mudah virus dikenali, semakin gampang dia dibunuh.
Tiga sekawan dan rabies. Namun, apakah hanya virus polio yang dapat meng-hadirkan
lumpuh Layuh?Tidak. Ada banyak penyebab lain. Misalnya, infeksi yang disebabkan virus
coxsakie A7, echovirus 3, dan enterovirus 71. Ketiga virus itu masih satu keluarga dengan virus
polio, yakni kelompok virus enterovirus. Virus-virus jenis ini menginfeksi manusia melalui jalur
saluran pencernaan atau masuk melalui mulut.
Secara medis, ketiga enterovirus itu dapat menyebabkan penyakit tangan, kaki, dan mulut
(hand, foot, and mouth disease, HFMD). Gejala-gejalanya tampak pada daerah tangan, kaki, dan
mulut. Di sekitar tangan dan kaki muncul kelainan kulit berupa ruam-ruam dan vesikel atau
gelembung kecil berisi cairan. Di daerah mulut dan tenggorokan, vesikel-vesikel itu akan terasa
menyakitkan. Kulit daerah tangan dan kaki serta permukaan rongga mulut pun seperti melepuh.
Sebenarnya, ada banyak tipe enterovirus yang dapat menyebabkan HFMD, tetapi ketiga
virus tadi lebih sering menyebabkan lumpuh layuh.
Dari ketiga virus itu, enterpovirus 71 yang terganas. Namun secara umum, dampak
serangan ketiga virus ini patut diwaspadai. Mereka menimbulkan wabah hebat di beberapa
tempat, seperti Toronto (1959), California (1969), Bulgaria (1975), dan Hungaria (1978). Di Asia
Tenggara, bom infeksi virus-virus ini pernah terjadi di Malaysia (1997) dan Taiwan. Sayangnya,
belum ada data atau pencatatan secara resmi tentang sepak terjangnya di Indonesia.
Virus lain yang berpotensi menyebabkan lumpuh layuh ialah virus rabies. Sudah banyak
orang tahu, virus rabies ditularkan melalui gigitan anjing. Meski sebenarnya, anjing bukan satu-

satunya binatang pembawa rabies. Virus ini dapat juga ditularkan oleh kucing, kelelawar
pengisap darah, rubah, dan serigala.
Seseorang yang tergigit anjing atau binatang lain yang telah terinfeksi virus rabies akan
merasa baal di daerah tergigit. Hal itu karena virus rabies mengganggu saraf-saraf peraba di
sekitar daerah itu. Melalui jaras-jaras saraf otot dari daerah yang tergigit, virus kemudian
menjalar ke pusat persarafan di tulang belakang (korda spinalis), terus naik ke atas sampai
akhirnya menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernapasan, penelan, dan bicara.
Waktu yang diperlukan virus untuk menyebabkan gejala-gejala itu atau masa inkubasinya
antara 4 - 12 minggu, sehingga masih ada waktu untuk diberikan imunisasi. Imunisasi rabies
sebaiknya diberikan juga pada anjing peliharaan, agar kelak tak mencelakai sang tuan.
Sindrom Guillain-Barre
Di antara berbagai penyakit yang menyebabkan lumpuh layuh, sindrom Guillain-Barre
(SGB) adalah penyakit yang paling sulit dibedakan dengan polio.SGB merupakan sekelompok
gejala atau sindrom berupa kelumpuhan, kerusakan saraf, dan jika parah bisa menimbulkan
koma.
Gejala-gejala itu muncul pada penderita yang telah terinfeksi bakteri atau virus yang
dicurigai. Singkatan SGB diambil dari nama para dokter yang pertama kali menemukan sindrom
ini. Dua dokter Prancis, Georges Guillain dan Jean A. Barre pada 1916 melaporkan gejala
kelumpuhan mirip polio pada para penderita yang baru saja mengalami perbaikan kondisi akibat
terserang influenza.
Awal kelumpuhan terjadi di bawah, mengenai kaki (umumnya kedua tungkai), dan terus
merembet ke atas, hingga menyebabkan gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran.
Keempat tungkai (kedua kaki dan kedua tangan) itulah yang berpeluang mengalami lumpuh
layuh. Saraf yang diserang bukan hanya yang mempersarafi otot, tetapi bisa juga indera peraba.
Akibatnya, penderita mengalami baal atau mati rasa.
SGB sempat mencuri perhatian masyarakat dunia, ketika pada 1976, pemerintah Amerika
Serikat mengadakan program imunisasi massal terhadap influenza. Dari 46 juta orang yang
diimunisasi, ternyata lebih dari 4.000 orang mengalami sindrom GBS. Meski jumlahnya tak

seberapa dibandingkan dengan seluruh populasi yang mendapat imunisasi, tapi menimbulkan
banyak tuntutan hukum akibat kelumpuhan yang berkaitan dengan program imunisasi itu.
Penderita SGB bisa sembuh secara spontan setelah 2 - 3 pekan. Kesembuhan ditunjukkan
dengan pulihnya kekuatan otot, dimulai dari bagian atas. Otot-otot kaki biasanya pulih paling
belakangan.
Myastenia Gravis
Myasthenia artinya kelemasan pada otot, sedangkan gravis berarti berat atau parah. Jadi,
dari namanya, penyakit ini menunjukkan gejala kelemasan berat pada otot. Otot-otot penderita
menjadi cepat lelah dan lemas secara tidak normal, setelah melakukan kerja fisik tertentu.
Penyakit ini masuk kategori kelainan autoimmune, akibat sistem kekebalan tubuh
(antibodi) menyerang organ-organ tubuh sendiri. Antibodi seharusnya menyerang kuman
penyakit dari luar, tapi pada myasthenia ia menyerang sambungan saraf-otot. Supaya otot
berkontraksi, ujung serabut saraf melepaskan sinyal tertentu pada otot yang dituju.
Sinyal-sinyal yang dilepas

itu berupa senyawa-senyawa kimia tertentu atau

neurotransmitter. Nah, pada penyakit ini, reseptor-reseptor pada otot yang berfungsi menerima
neurotrasmitter diblokade oleh antibodi itu sendiri. Hasilnya, otot yang bersangkutan tidak
mampu berkontraksi dan menjadi lumpuh layuh. Kelemahan otot juga dapat mengenai otot
pengunyah, otot penelan, dan otot bicara.
Bila penderita sering mengunyah, otot-otot pengunyahnya akan gampang kelelahan,
sehingga mulut penderita menganga, tak sanggup menutup. Pada saat makan, penderita bisa saja
terganggu karena kehilangan kemampuan untuk menelan makanan. Atau bila banyak berbicara,
mendadak ia menjadi bisu.
Penderitaan lain, si penderita tidak bisa mengangkat tangannya lebih dari 1 - 2 menit.
Meskipun kelumpuhan pertama-tama menyerang otot daerah kepala (mata, pengunyah, penelan,
bicara), myasthenia juga bisa mengenai otot tungkai. Bila tidak ditangani dengan serius, ia bisa
mengancam

nyawa.

Terutama

bila

yang

diserangnya

otot

pernapasan.

Polio memang menjadi sorotan ketika banyak orang menderita lumpuh layuh tapi, polio bukan
satu-satunya tersangka.