Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ferdiansyah Ramadhan

NIM

: C54120078

Tugas Keanekaragaman Hayati Laut

1. Peraturan pemerintah tentang konservasi sumberdaya hayati laut.


5 tahun 1990, Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Sebelum UU No. 5 tahun 1990, Pemerintah menetapkan UU No. 4 tahun 1982
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup. Pasal 12 dari UndangUndang ini menyebutkan bahwa ketentuan tentang konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya ditetapkan dengan undang-undang tersendiri. Ketentuan
pada Pasal 12 inilah yang mendorong Pemerintah untuk menetapkan UU No. 5
tahun 1990.
UU No. 5 tahun 1990 terintegrasi dengan Peraturan Pelaksana yang ditetapkan 8
(delapan) tahun berikutnya, ialah PP No. 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka
Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Pasal 5 dari UU No. 5 tahun 1990
menyatakan: Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan
melalui kegiatan: (a) perlindungan sistem penyangga kehidupan; (b) pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (c)
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Untuk
tujuan perlindungan, Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah
perlindungan sistem penyangga kehidupan (Pasal 8(1.a)). Ketentuan dalam pasal
inilah yang menentukan adanya kawasan konservasi yang selanjutnya diatur pada
PP No. 68 tahun 1998.
Pada Pasal 11 dinyatakan bahwa: pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan: (a) pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (b) pengawetan
jenis tumbuhan dan satwa. Selanjutnya, Pasal 12 menyebutkan bahwa: pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan dengan
menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. PP No. 68
tahun 1998 membagi kawasan suaka alam menjadi 2 (dua) kategori, ialah: Cagar
Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM).
Pasal 26 dari UU No. 5 tahun 1990 menyebutkan bahwa: pemanfaatan secara
lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: (a)
pemanfaatan kondisi lingkungan 335 Hukum dan kebijakan kawasan konservasi
perairan kawasan pelestarian alam; (b) pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.
Pasal ini melahirkan istilah kawasan pelestarian alam (KPA) yang selanjutnya
dibahas pada PP No. 68 tahun 1998. Selanjutnya, Pasal 29 menyebutkan bahwa:
Kawasan pelestarian alam terdiri darikategori: (a) Taman Nasional; (b) Taman Hutan
Raya; dan (c) Taman Wisata Alam. Dari uraian di atas, UU No. 5 tahun 1990 ialah
peraturan pertama di Indonesia tentang kawasan konservasi, dibedakan
berdasarkan fungsinya melalui kegiatan yang boleh dilakukan di dalamnya, ialah:

Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Selanjutnya, KSA
dibedakan dalam bentuk Cagar Alam dan Suaka Margasatwa (SM). Sedangkan KPA
dibedakan menjadi: Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya (TAHURA) dan Taman
Wisata Alam (TWA).
Semua kategori kawasan konservasi tersebut mencakup wilayah darat maupun
laut. Hal ini sesuai dengan definisi kawasan suaka alam (Pasal 1(1)) ialah ialah
kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang
mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan
dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem
penyangga kehidupan. Sedangkan kawasan pelestarian alam (Pasal 1(13))
didefinisikan sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di
perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan
secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
UU No. 31 tahun 2004, Perikanan
UU No. 31 tahun 2004 harus dikaitkan dengan peraturan pelaksananya yang
ditetapkan 3 (tiga) tahun kemudian, PP No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi
Sumber daya Ikan. Artinya, kedua ketentuan ini ditetapkan untuk mencapai tujuan
pengelolaan perikanan, ialah pemanfaatan secara berkelanjutan atau lestari. Pasal
13(1) dari UU No. 31 tahun 2004 menyatakan sebagai berikut: Dalam rangka
pengelolaan sumber daya ikan, dilakukan upaya konservasi ekosistem, konservasi
jenis ikan, dan konservasi genetika ikan. Pasal 13 ini diterjemahkan sebagai
konservasi sumber daya ikan pada PP No. 60 tahun 2007. Konservasi sumber daya
ikan didefinisikan sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan
sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin
keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dankeanekaragaman sumber daya ikan. Sedangkan
konservasi ekosistem adalah upaya melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan
fungsi ekosistem sebagai habitat penyangga kehidupan biota perairan pada waktu
sekarang dan yang akan datang.
Pasal 8(1) dari PP No. 60 tahun 2007 menyatakan bahwa terkait dengan konservasi
ekosistem, satu atau beberapa tipe ekosistem yang terkait dengan sumber daya
ikan dapat ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Kawasan
Konservasi Perairan didefinisikan sebagai kawasan perairan yang dilindungi, dikelola
dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan
lingkungannya secara berkelanjutan. Selanjutnya, Pasal 8(2) menyatakan bahwa
Kawasan Konservasi Perairan terdiri atas Taman Nasional Perairan, Taman Wisata
Perairan, Suaka Alam Perairan, dan Suaka Perikanan. Undang-Undang No. 31 tahun
2004 membuat nomenklatur baru tentang kawasan konservasi yang dibuat khusus
berlaku pada wilayah perairan.
UU No. 27 tahun 2007, Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 memperkenalkan istilah baru kawasan
konservasi yang berlaku untuk Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil . Konservasi
Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil didefinisikan sebagai upaya perlindungan,

pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta


ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan 336 Hukum dan
kebijakan kawasan konservasi perairan kesinambungan sumber daya Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan
keanekaragamannya (Pasal 1(19)). Sedangkan Kawasan Konservasi di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan
ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan (Pasal 1(20)).
Pasal 28(4) menyatakan bahwa kawasan konservasi di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Setahun kemudian, Menteri
Kelautan dan Perikanan menetapkan Peraturan Menteri No. 17 tahun 2008 tentang
Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Pasal 4(1) dari
Peraturan Menteri ini menyatakan bahwa Kategori Kawasan Konservasi Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil , terdiri dari: Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ,
yang selanjutnya disebut KKP3K; Kawasan Konservasi Maritim, yang selanjutnya
disebut KKM; Kawasan Konservasi Perairan, yang selanjutnya disebut KKP; dan
Sempadan Pantai. Selanjutnya, Pasal 5 menyatakan bahwa jenis KKP3K terdiri dari
kategori: Suaka pesisir; Suaka pulau kecil; Taman pesisir; dan Taman pulau
kecil.

2. Informasi tentang wilayah konservasi


Taman Nasional Laut Bunaken
Taman Nasional Bunaken adalah taman laut yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. Taman ini terletak
di Segitiga Terumbu Karang, menjadi habitat bagi 390 spesies terumbu karang dan juga berbagai spesies ikan,
moluska, reptil dan mamalia laut. Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem laut Indonesia,
meliputi padang rumput laut, terumbu karang dan ekosistem pantai.
Taman nasional ini didirikan pada tahun 1991 dan meliputi wilayah seluas 890.65 km. 97% dari taman
nasional ini merupakan habitat laut, sementara 3% sisanya merupakan daratan, meliputi lima pulau: Bunaken,
Manado Tua, Mantehage, Naen dan Siladen.

Taman Nasional Bunaken memiliki ekosistem terumbu karang yang sangat kaya Terdapat sekitar 390 spesies
terumbu karang di wilayah ini Spesies alga yang dapat ditemui di Taman Nasional Bunaken
adalah Caulerpa, Halimeda dan Padina, sementara spesies rumput laut yang banyak ditemui
adalah Thalassiahemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassaodendron ciliatum. Taman Nasional Bunaken
juga memiliki berbagai spesies ikan, mamalia laut, reptil, burung, moluska dan mangrove. Sekitar 90 spesies
ikan tinggal di perairan wilayah ini.

Di daratan, pulau ini kaya akan Arecaceae, sagu, woka, silar dan kelapa. Selain itu, Taman Nasional Bunaken
juga memiliki spesies hewan yang tinggal di daratan, seperti rusa dan kuskus. Hutan mangrove di taman ini
menjadi habitat bagi kepiting, lobster, moluska dan burung laut.[3]

Di wilayah ini, terdapat 22 desa dengan jumlah penduduk sekitar 35.000 jiwa. Kebanyakan dari mereka
bekerja sebagai nelayan atau petani kelapa, ubi jalar, pisang dan rumput laut untuk diekspor, sementara
sebagian lainnya bekerja sebagai pemandu, pekerja di cottage dan nahkoda kapal.[4]
Pariwisata di wilayah ini terus dikembangkan. Antara tahun 2003 hingga 2006, jumlah pengunjung di Taman
Nasional Bunaken mencapai 32.000 hingga 39.000 jiwa, dengan 8-10.000 diantaranya merupakan turis asing. [1]
Taman Nasional Bunaken secara resmi didirikan pada tahun 1991 dan merupakan salah satu taman laut
pertama Indonesia. Pada tahun 2005, Indonesia mendaftarkan taman nasional ini kepada UNESCO untuk
dimasukan kedalam Situs Warisan Dunia. Meskipun memiliki status taman nasional dan mendapat pendanaan
yang cukup, taman ini mengalami degradasi kecil akibat penambangan terumbu karang, kerusakan akibat
jangkar, penggunaan bom dan sianida dalam menangkap ikan, kegiatan menyelam dan sampah. World Wildlife
Fund (WWF) memberikan bantuan konservasi sebagai bagian dari "Sulu Sulawesi Marine Eco-region Action
Plan". Konservasi meliputi patroli, yang berhasil mengurangi penggunaan bom dalam menangkap ikan. [

3. Apakah peraturan sudah melindungi kawasan konservasi tersebut?

Peraturan pemerintah yang dibuat cukup melindungi kawasan ini. Dilihat dari status wilayah ini
yang merupakan Taman Nasional Laut , sudah memasuki kawasan konservasi yang dilindungi
oleh pemerintah. Di samping itu, bila melihat langsung kondisi kawasan ini yang berada di
Provinsi Sulawesi Utara ini, kondisinya sangat baik sekali. Dapat dilihat dari keadaan perairan
dan keanekaragaman hayati laut yang sangat mempesona. Tidak adanya tindakan perusakan yang
signifikan yang menyebabkan rusaknya ekosistem yang ada. Di samping itu, kawasan dengan
keindahan alam bawah laut ini terlidungi karena ada upaya juga dari masyarakatnya. Mereka
menilai bahwa pentingnya daerah konservasi ini, karena dapat menunjang sisi ekonomi
masyarakat. Keindahan yang ada inilah yang menjadi daya tarik para wisatawan , baik
wisatawan domestic maupun mancanegara. Tidak jarang juga adanya event-event nasional
maupun internasional. Hal inilah yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga
menjadi dorongan agar melindungi kawasan konservasi tersebut.