Anda di halaman 1dari 3

Ditimbang aspirin yang dibuat dengan metode granulasi kering,

vitamin b1 dengan menggunakan metode kempa langsung, zat


tambahan yang akan digunakan (amprotab, laktosa, avicel 101, Mgstearat, PEG 6000, Amylum kering). Kemudian zat aktif aspirin dan
fase dalam yaitu (laktosa, amprotab, avicel 101) dimasukan kedalam
wadah tertutup kemudian dicampur sampai homogen. Setelah
homogen dilakukan evaluasi serbuk yang akan dibuat granul terdiri
dari :
a. Uji kerapatan sejati
Piknometer yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan
kemudian

dikeringkan.

Kemudian

piknometer

yang

telah

dibersihkan dan dikeringkan ditimbang (W0). Setelah itu


dimasukan kedalam piknometer pelarut yang akan digunakan
kemudian ditimbang (W1). Berat pelarut yang digunakan data
diketahui dengan dihitung selisih W1-W0. Serbuk yang telah
homogen ditimbang sebanyak 1 gram (W 3). Dimasukan pelarut dan
serbuk yang telah homogen kedalam piknometer kemudian
ditimbang (W4). Berat pelarut yang tergantikan oleh serbuk
diperoleh dari W5= W0 W3 W4. Kemudian volume sampel
dihitung, setelah volume sampel dihitung lalu dihitung BJ
nyatanya.
b. Uji sifat alir dan sudut istirahat
Serbuk uji ditimbang secukupnya, lalu dimasukan ke dalam corong
getar dengan kondisi lubang corong tertutup. Tutup corong dibuka
dan dihitung berapa waktu yang dibutuhkan oleh serbuk untuk
keluar seluruhnya dari corong. Diukur tinggi timbunan serbuk. Dan
diameter serbuk diukur dengan mengujur diameter dari 3 garis
potong, kemudian dicatat dan dihitung rata rata diameter tersebut.
Setelah itu dihitung sudut istirahat dari serbuk yang diuji. Lalu
dihitung % kompresibilitasnya.
c. Uji curah dan mampat
Serbuk yang telah homogen dimasukan kedalam gelas ukur
kemudian dilihat volumenya (volume curah). Gelas ukur yang
telah terisi serbuk dimasukan kedalam alat tap density untuk

dimampatkan. Setelah dimampatkan dilihat kembali volumenya


(volume mampat). Kemudian dihitung kompresibilitasnya.
Setelah campuran serbuk diuji, dilakukan proses slugging.
Dimana setelah proses slugging, dilakukan pengayakan dengan no
pengayak 14 dan 40. Setelah pengayakan, granul ditimbang
kemudian dilakukan pengujian granul meliputi :
a. Uji sifat alir dan sudut istirahat
Granul ditimbang secukupnya, lalu dimasukan ke dalam corong
getar dengan kondisi lubang corong tertutup. Tutup corong
dibuka dan dihitung berapa waktu yang dibutuhkan oleh serbuk
untuk keluar seluruhnya dari corong. Diukur tinggi timbunan
granul. Dan diameter granul diukur dengan mengukur diameter
dari 3 garis potong, kemudian dicatat dan dihitung rata rata
diameter tersebut. Setelah itu dihitung sudut istirahat dari
granul yang diuji. Lalu dihitung kompresibilitasnya.
Dimasukan kembali campuran granul kedalam wadah
bertutup yang telah ditambahkan dengan zat aktif Vitamin B1
lalu ditambahkan fase luar (amylum kering, PEG 6000, MgStearat) dimasukan lalu diaduk sampai homogen. Campuran
granul massa siap cetak siap dicetak dengan bobot setiap tablet
150mg dibuat tablet sebanyak 200 tablet. Setelah campuran
granul dicetak dilakukan evaluasi tablet meliputi keseragaman
ukuran, keseragaman bobot, kekerasan tablet, friabiliti dan
fraksibiliti, dan uji waktu hancur.
a. Keseragaman ukuran
Diambil 20 tablet lalu diukur diameter dan tebal tablet satu
persatu lalu dihitung rata rata dan standat deviasinya
keseragaman bobot
b. Keseragaman bobot
Diambil 20 tablet lalu ditimbang tablet satu per satu dan
dihitung rata rata dan standar deviasi.
c. Kekerasan tablet
Diambil beberapa tablet lalu diuji kekerasan tablet satu persatu
menggunakan hardness tester lalu dihitung rata-ratanya.
d. Friabiliti dan fraksibiliti

Diambil 20 tablet untuk friabiliti dan 20 tablet untuk fraksibiliti


lalu ditimbang masing-masing bagian tablet, 20 tablet
dimasukan kedalam friabilitas tester dan 20 tablet selanjutnya
kedalam friksibiliti tester masing-masing selama 4 menit lalu
ditimbang tablet setelah diuji, dihitung persen dari friabilitas
dan fraksibilitas.
e. Uji waktu hancur
Diambil 6 tablet lalu dimasukan 6 tablet pada 6 tabung kaca
kemudian dinaik turunkan secara teratur lalu dihitung waktu
hancur tablet pertama dan waktu hancur tablet yang ke 6
kemudian dihitung selisih waktunya.
Bila pada saat evaluasi tablet diperoleh hasil yang baik dan
telah memenuhi persyaratan maka tablet siap untuk dikemas.
Sumber : ( Farmakope Indonesia edisi IV ; 1086 ).