Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1. ACARA
Praktikum Pemeriksaan Parasit pada Sayuran
2. TUJUAN
Untuk mengetahui ada tidaknya parasit (cacing) dalam sayuran
3. TINJAUAN TEORI
Masyarakat perlu mempelajari cara-cara pencegahan penularan cacing.
Penyebaran infeksi Ascaris Lumbricoides, Trichuris trichiurotoma duodenale).
Mempunyai pola yang hampir sama, sehingga kita perlu mengetahui
spesifikasi dari masing-masing jeis cacing tersebut.
a. Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
Sering disebut juga sebagai cacing usus atau cacing gelang. Cacing
ini merupakan cacing parasit yang paling sering terdapat pada manusia.
Panjangnya bisa mencapai 20 cm. Kedua ujungnya meruncing, warnanya
merah muda.
Cacing gelang dapat menghasilkan 2.000.000 telur per hari. Telur
tersebut tahan terhadap suhu tinggi dan dapat bertahan hidup selama
bertahun-tahun di dalam tanah. Cacing dewasa hidup di dalam usus halus
manusia dan dapat keluar melalui anus bersama kotoran.
Ukuran cacing jantan lebih kecil dan ekornya berkait atau bengkok.
Telur keluar bersama feses penderita. Telur tersebut mengandung embrio
cacing, jika telur cacing ini termakan manusia, maka telur akan menetas di
dalam usus. Larvanya keluar dari telur dan menembus dinding usus,
masuk ke dalam pembuluh darah/ larva terbawa aliran darah menuju ke
jantung, lalu ke paru-paru, larva bergerak ke faring penderita. Jika larva
tertelan, akan masuk lagi ke dalam usus. Di dalam usus halus cacing akan
tumbuh menjadi dewasa.
Dalam pengembaraannya, larva cacing ada yang terbawa aliran
darah mencapai mata dan otak. Jika demikian cacing ini akan sangat

berbahaya karena dapat mengakibatkan mata menjadi buta dan


mengganggu pusat susunan saraf.
b. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale)
Cacing ini disebut dengan cacing tambang karena dahulu banyak
diderita oleh orang-orang yang bekerja di pertambangan. Cacing ini dapat
menginfeksi penderita melalui kulit kaki.
Ancylostoma duodenale. Hidup di dalam usus manusia. Cacing ini
memiliki kait untuk mencengkeram diri di usus dan mengeluarkan zat anti
koagulan sehingga darah penderita sulit membeku. Dengan demikian,
cacing menghisap darah penderita. Telur yang dihasilkan dapat mencapai
9.000 butir per hari, ikut keluar bersama feses penderita. Di tempat yang
becek, telur menetas menjadi larva. Larva dapat hidup dalam jangka waktu
yang lama di tempat yang becek tersebut. Jika ada orang yang menginjak
kakinya, larva menempel, menembus kaki, dan ikut aliran darah menuju
jantung. Dari jantung larva ikut ke paru-paru naik ke faring, jika tertelan
larva akan mencapai usus penderita dan akan tumbuh menjadi cacing
dewasa. Kemudian daur hidup berulang kembali.

BAB II
PELAKSANAAN
A. ALAT
1. Container (ember, bekker glass) 1 lt
2. Kerucut Inhoff
3. Centrifuge
4. Tabung centrifuge
5. Pipet ukur
6. Pipet tetes
7. Cover glass
8. Objek glass
B. BAHAN
1. NaOH 0,2 %
2. Lugol 1 %
3. Sayuran (seledri)
C. CARA KERJA
1. Bersihkan alat yang akan digunakan
2. Ambil sayuran yang akan diperiksa, rendamlah larutan NaOH 0,2 %
selama 30 menit
3. Ambil sayuran dengan menggunakan pinset agar parasitnya tidak ikut
sampelnya digoyang-goyangkan
4. Suspensi dituang dalam kerucut inhoff biarkan selama 1 jam (agar
parasitnya mengendap)
5. Setelah 1 jam, suspensi bagian atas dibuang disisakan 30 ml
6. Pindahkan ke tabung centrifuge isinya 10-15 ml
7. Putar dalam centrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 1500 rpm
8. Ambil suspensi bagian endapan dengan pipet tetes, letakkan di atas
objek glass yang sebelumnya sudah terdapat larutan lugol
9. Tutup dengan cover glass
10. Amati di bawah mikroskop

BAB III
PEMBAHASAN
A. HASIL
Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap sample(sayuran seledri), ternyata
dalam sample (sayuran seledri) tersebut tidak mengandung telur cacing. Sehingga
pemeriksaan ini dinyatakan negative (-) karena tidak ditemukan telur cacing di
dalam sample (sayuran seledri)
B. PEMBAHASAN
Dengan adanya hasil pemeriksaan yang negative terhadap sample dalam arti
praktikan tidak menemukan telur cacing pada sample (sayuran seledri) tersebut,
mengindikasikan bahwa sayuran seledri tersebut terhindar dari parasit.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemeriksaan sample sayuran ini dilakukan untuk memeriksa adanya
parasit pada sayuran. Suatu sayuran dinyatakan positif (+) apabila dalam
sayuran tersebut ditemukan telur cacing
Dalam pemeriksaan yang praktikan lakukan mendapat hasil yang negative,
itu artinya pada sampel sayuran yang digunakan terhindar dari parasit.
B. SARAN
Dampak infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted
helminthes) pada masyarakat perlu dipelajari untuk dapat menentukan cara
pencegahannya.
Untuk itu kita sebagai calon tenaga sanitasi perlu mengerti upaya
pencegahan pencemaran sayuran oleh parasit (cacing), sehingga kita harus
lebih teliti memilih bahan makanan dan harus memebersihkan sayuran
sebelum di masak.

DAFTAR PUSTAKA
R.Noble,Elmer And Glenn A.Noble,1989.Parasitologi Biologi Parasit Hewan,
UGM Press,Yogyakarta.
Soeharsono, 2002, Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan Ke Manusia,
Kanisius, Yogyakarta.
Syamsuri, Istamar,2000, Biologi 2000 Jilid IB, Erlangga, Jakarta.
Tim Dosen Parasitologi Fkui,1998, Parasitologi Kedokteran, Balai Penerbit Fkui,
Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM PMM_B


PEMERIKSAAN PARASIT PADA SAYURAN

DISUSUN OLEH :
ARIF KURNIAWAN

L0A005007

FIKA HARIYANTI

L0A005012

MUJIANTI UNIK C

L0A005015

RINI HARTATI

L0A005017

HARI HERMAWAN

L0A005033

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


PROGRAM DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2006

BAB I