Anda di halaman 1dari 9

Berpikir, Definisi, Syarat, Metode Aqliyyah

dan Ilmiyyah
NOV 14
Posted by M. Taufik N.T

Iman adalah pembenaran secara pasti yang sesuai dengan realita yang ada, dan bersumber dari dalil.
Jadi, keberadaan dalil merupakan syarat utama dalam keimanan. Jika objeknya adalah realita yang
terjangkau oleh indra, seperti Al Quran, maka dalilnya adalah aqliy, dan jika realitanya tidak terjangkau
oleh indra, seperti surga dan neraka, maka dalilnya adalah naqliy.
Dalil bahwa Al Quran datang dari sisi Allah SWT adalah aqliy. Akan tetapi, keimanan terhadap isi yang
terkandung di dalamnya, seperti surga dan neraka; menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta
dan orang yang kena penyakit kusta (mukjizat Nabi Isa AS), terpecahnya lautan dan berjalannya tongkat
(mukjizat Nabi Musa AS); dan kisah-kisah lain yang merupakan realita-realita tidak terindra, harus dengan
dalil naqliy.
Dalil aqliy yang selamat dari kesesatan, hanya dapat diraih dengan metode pemikiran yang cemerlang.
Pemikiran cemerlang inilah yang menjadi dasar pijakan dalam menjawab pertanyaan:

Dari mana saya?

Untuk apa keberadaan saya (di dunia ini)?

Ke mana tempat kembali saya (setelah mati)?


Metode berpikir cemerlang akan mampu menjawab semua pertanyaan tersebut dengan jawaban yang
sesuai dengan fitrah manusia.
Keimanan yang selamat dari kesesatan dan sesuai dengan fitrah tegak di atas dua
asas: pertama, memahami potensi kehidupan (al thaqah al hayawiyah); kedua, memahami pemikiran (al
fikru, al aqlu, al idrak).
Potensi Kehidupan
Pada dasarnya setiap manusia dalam hidupnya memiliki dua potensi, yaitu naluri (gharizah) dan
kebutuhan jasmani (al haajat al udhawiyah). Manusia memiliki watak-watak (tabiat) tertentu yang harus
diketahui dan dipahami. Untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan fitrah, dengan naluri dan dengan
kebutuhan jasmaninya, tetapi harus dengan berpikir secara shahih yang mendalam dan rinci. Dengan
berpikir itulah akan diketahui hakikat watak dan hakikat tugas-tugasnya. Di antara
penyokong tabiatmanusia adalah potensi kehidupan, yang mendorong untuk membahas dan menyelidiki
berbagai sarana yang dapat memuaskan dan memenuhinya.
Naluri manusia ada tiga, yaitu: naluri seksual (gharizah al nau),naluri beragama (gharizah al
tadayyun) dan naluri mempertahankan diri (gharizah al baqa). Naluri seksual diwujudkan dalam bentuk
rasa kasih sayang, belas kasih dan tertarik terhadap lawan jenis. Naluri beragama diwujudkan dalam
bentuk rasa taqdis, tunduk, mendekatkan diri kepada Allah SWT atau kekuatan-kekuatan ghaib maupun
segala sesuatu yang dianggap agung. Perwujudan naluri mempertahankan diri di antaranya rasa ingin
memiliki, hasrat untuk menguasai, harapan meraih cita-cita, tamak dan seterusnya. Sedangkan, wujud
kebutuhan jasmani di antaranya rasa lapar, rasa haus, rasa ngantuk dan lain-lain.
Naluri dan kebutuhan jasmani harus dipenuhi. Rasa lapar mendorong kita untuk makan sesuatu sampai
merasa kenyang, rasa haus mendorong kita untuk mencari air minum sampai hilang rasa dahaganya. Juga,
kecenderungan manusia untuk menyimpan harta dan mencari kekayaan yang didasari rasa cinta
kepemilikan. Mendapatkan rasa aman atau keselamatan jiwanya merupakan pendorong kuat untuk

beribadah dan tunduk kepada sesuatu yang diagungkan. Manusia dalam bermasyarakat dalam
merealisasikan nilai-nilai kemanusiaannya memunculkan kehidupan romantisme dan dinamisme.
Perjalanan manusia untuk merealisasikan pemenuhan melahirkan perbuatan, baik berupa prilaku maupun
ucapan. Perbuatan adalah manifestasi (tabir) dari potensi kehidupan yang terpendam dalam diri
manusia. Potensi kehidupan itulah yang mendorong adanya aktivitas (harakah), yang terwujud dalam
prilaku. Melakukan suatu perbuatan merupakan pemenuhan terhadap naluri dan kebutuhan jasmani.
Kita melakukan sesuatu aktivitas dasarnya adalah pemahaman bukan hanya pemikiran. Setiap
pemikiran mempunyai makna.Tatkala kita mampu menemukan makna dari pemikiran, dan kita
meyakininya, maka pemikiran telah menjadi pemahaman. Dan, tatkala kita tidak menemukan makna
apa pun dari pemikiran, atau menemukan maknanya tetapi tidak meyakininya, artinya tidak
membenarkan dengan pembenaran yang pasti, maka pemikiran hanya menjadi informasi (al malumat).
Informasi tidak berdampak apa pun terhadap perbuatan, karena yang mempengaruhi perbuatan adalah
pemahaman. Oleh karena itu, kita harus dapat membedakan antara pemikiran, informasi, dan
pemahaman tatkala membahas rahasia eksistensi kita di dunia ini.
Manusia, tatkala mengemban pemikiran tertentu ada kemungkinan untuk berpindah ke pemikiran yang
lain. Jika ia beralih pada pemikiran baru, kemudian mengimani dan membenarkannya, maka pemikiran
barunya telah terikat dengan potensi kehidupannya, dan menjadi pemahaman (al mafahim) baginya. Dan,
jika ia tidak membenarkan dengan pasti pemikiran barunya, maka pemikiran tadi hanya sebatas informasi
baginya, dan belum menjadi pemahaman. Jadi, pemahaman adalah makna-makna pemikiran, bukan
makna bahasa. Artinya, makna yang realitanya telah ditemukan dalam jiwa (al dzihnu), baik realita
terindra maupun realita yang tidak terindra tetapi ada, seperti malaikat, setan, dan jin.
Pemahaman mempengaruhi perilaku. Pernyataan yang mengatakan bahwa perilaku manusia tergantung
pada pemahamannya adalah pernyataan yang pasti dan tidak ada keraguan lagi. Tatkala pemahaman
muncul dari pembenaran yang pasti dengan proses berpikir, maka menjadi jelas bahwa pemikiran tidak
akan ada pengaruhnya pada perilaku. Kecuali, jika telah bertalian dengan potensi kehidupan, artinya
telah menjadi mafahim. Pembenaran dengan pemikiran yang bertalian dengan potensi kehidupan tidak
mungkin mempengaruhi perilaku kecuali jika sesuai dengannya.
Perbedaan antara perilaku dan berpikir sangat jelas. Berpikir bukanlah kecenderungan (al muyul), dan
pola pikir (al aqliyah) bukanlah pola jiwa (al nafsiyah). Artinya, terdapat akal yang digunakan untuk
berpikir dan terdapat potensi yang menuntut pemenuhan. Dua hal ini berbeda antara yang satu dengan
yang lain. Apabila kita berhasil mempertemukan antara keduanya, maka perilaku manusia berjalan di atas
dasar proses berpikir. Hasilnya adalah terbentuknya kepribadian (al syakhshiyyah) yang unik, misalnya:
kepribadian Islam, kepribadian demokrat dan kepribadian sosialis-komunis. Dan, tatkala tidak ada
pertalian antara keduanya, maka kecenderungan dan pemikiran akan berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya,
hilanglah perilaku dan kepribadian yang unik, dan yang muncul adalah kepribadian yang kacau (spliting
personality). Sehingga, kita tidak bisa lagi mengatakan seseorang mempunyai kepribadian Islami,
demokrat maupun kepribadian sosialis-komunis.
Terkadang, kecenderungan seseorang berbeda dengan pemikirannya, sehingga perilakunya berbeda
dengan pemikirannya. Kepribadiannya adalah kepribadian yang kacau, karena perbuatannya berbeda
dengan pemikirannya. Hanya saja, perbedaan perilaku dan pemikiran biasanya terjadi hanya pada bagian
tertentu (al juziyah). Oleh karena itu, efeknya hanyalah kadang-kadang, dan hanya pada sebagian
aktivitas. Sehingga, tidak akan membentuk kepribadian yang unik.

Terkadang juga, perilaku berpengaruh pada kepribadian individu dan masyarakat, meskipun pengaruh
yang timbul berbeda. Jadi, terpisahnya perilaku dari pemikiran pada suatu keadaan hanya terjadi pada
prilaku tertentu, dan tidak memiliki pengaruh yang besar pada kepribadian. Pendapat yang menyatakan
bahwa manusia memiliki dua sudut pandang (wijhah al nadzar) dalam kehidupan, yang pertama lahir dari
pemikiran, dan kedua yang berkaitan dengan perilaku, merupakan pendapat yang keliru. Tidak mungkin
manusia memiliki dua sudut pandang, karena manusia hanya memiliki satu pemikiran asasi, yang akan
menjadi pemahamannya. Tatkala terdapat pemikiran lain yang tidak memiliki realita, maka pemikiran itu
tetap berupa pemikiran, dan tidak akan berubah menjadi pemahaman. Sehingga, dapat kita simpulkan
bahwa sumber perilaku adalah potensi kehidupan, yakni: naluri dan kebutuhan jasmani.
Ketidakterpenuhan naluri biasanya lebih kecil bahayanya dibanding kebutuhan jasmani manusia, meskipun
bahayanya tetap besar dalam kehidupan ini.
Kebutuhan jasmani harus dipenuhi, jika tidak akan menghantarkan pada kehancuran hidupnya, bahkan
kematian. Adapun naluri, jika tidak dipenuhi tidak akan membawa kematian, tetapi akan menjerumuskan
pada kubangan lumpur kebinasaan. Oleh karena itu, manusia harus berupaya untuk memenuhi naluri dan
kebutuhan jasmaninya. Hanya saja, pemenuhannya harus dengan cara yang tidak ngawur dan tidak
mendobrak aturan, agar naluri dan kebutuhan itu tidak memperbudak dan melemahkannya. Sehingga,
harus ada aturan dalam pemenuhannya, dan aturan ini membutuhkan pemikiran tertentu.
Berpikir
Untuk mengetahui hakikat berpikir, kita harus membahas empat hal, berikut ini:
arti berpikir (al mana);
prasyarat-prasyarat berpikir (al awamil);
aktivitas berpikir (al amaliyah);
macam-macam pemikiran (al aqsaam).
Definisi Pemikiran
Gerakan yang dihasilkan oleh manusia adalah sesuatu yang berkecamuk di dalam diri akibat dari berbagai
prasyarat yang membangun tabiat manusia, pengindraan, pengertian dan perbuatan lewat panca indra.
Semua itu, menjadikan manusia mampu untuk memberikan penilaian (al hukmu) atas sesuatu, yang
dihasilkan dari berpikir. Oleh karena itu, dapat dikatakan, bahwa berpikir adalah kekuatan yang mampu
melahirkan penilaian atas sesuatu.
Prasyarat-Prasyarat Berpikir
Kehidupan manusia, susunan tabiatnya, dan keunikannya ada karena manusia memiliki panca indra, yaitu:
penglihatan (al nadzru), penciuman (al sammu), pendengaran (al samu), perabaan (al lamsu) dan
merasakan (al dzauqu). Keistimewaan otak yaitu mampu mengaitkan informasi (rabthu al malumat) dan
mempunyai potensi untuk membedakan sesuatu (al tamyiz). Kemampuan mengaitkan dan membedakan
merupakan keistimewaan utama otak manusia. Dengan kelebihannya, manusia memiliki pemahaman
untuk membedakan atau memutuskan (al hukmu). Berbeda dengan seluruh makhluk hidup lain, meskipun
memiliki panca indra dan otak, tetapi otaknya tidak memiliki kemampuan untuk mengaitkan informasi,
sehingga tidak dapat membedakan sesuatu yang mengantarkan pada penilaian terhadap sesuatu.
Eksistensi benda adalah pasti. Manusia mengetahuinya melalui panca indra dan otaknya. Manusia melihat
sesuatu dengan matanya, mencium sesuatu dengan hidungnya, mendengar sesuatu dengan telinganya,
meraba sesuatu dengan tangannya, dan merasakan sesuatu dengan lidahnya. Segala sesuatu yang dapat
dijangkau oleh indranya adalah realita yang terindra. Misalnya roti, botol, komputer, pena maupun fijan.
Benda-benda yang berada dalam cakupan indra merupakan sesuatu yang terindra. Lantas, mengapa kita
mampu membedakan roti dan pena, akan tetapi kita tidak mampu menilai fijan? Ini karena informasi yang
kita miliki tentang roti dan pena terbangun dengan gambaran yang sempurna, sehingga kita mampu

menggambarkan dengan benar tentang roti dan pena. Kita mampu membedakan dan mampu menilai atas
roti dan pena, artinya pengetahuan tentang roti dan pena tergambar dengan sempurna. Hal ini berbeda
dengan fijan. Ketika melihat pertama kali, kita dapati bahwa fijan adalah pepohonan dengan sifat
tertentu dan mempunyai aroma tertentu. Akan tetapi, meskipun kita melihat dan menciumnya, kita tidak
mampu memberikan penilaian yang benar tentangnya, artinya kita tidak akan mampu mencapai
pengetahuan yang sempurna. Hal ini dikarenakan adanya prasyarat yang belum terpenuhi, yakni informasi
awal (malumat tsabiqah) tentang fijan.
Jadi, dihadapan kita ada kenyataan baru, sebagai prasyarat berpikir, yaitu fijan sebuah tumbuhan
tertentu, yang belum kita ketahui seluruh karakteristiknya. Sampai di sini, kita telah memiliki tiga
prasyarat, yaitu: kenyataan (keberadaan fijan), pengindraan terhadap realita (melihat dan mencium
baunya) dan otak yang membedakan (bahwa tumbuhan fijan berbeda dengan yang lain). Sekarang, kita
akan memberikan penilaian terhadap fijan, jika kita mendapatkan informasi
tentang fijan dengan sempurna. Fijan adalah sebuah pohon berdaun seperti sotar, dapat tumbuh di
berbagai tempat, menebar aroma tertentu, mempunyai rasa tertentu, dan mempunyai faidah tertentu.
Maka, jika kita mengaitkan informasi ini dengan tiga prasyarat di depan, memungkinkan untuk
memberikan penilaian terhadap fijan. Dan, jika kita melihat fijan di tempat dan pada waktu yang
berbeda kita akan mampu mengidentifikasi dan dapat membedakannya dengan tumbuhan lain.
Jadi, kebenaran realita sesuatu dapat dinilai jika memenuhi empat prasyarat, yaitu: fakta (al waqi);
pengindraan terhadap fakta (ihsas bi al waqi); otak (al dimagh); dan informasi awal (al malumat al
tsabiqah). Misalnya, kita sebut dua kata: pertamawalimah dan kedua wadhimah. Ketika mendengar
kata walimah, kita akan langsung mengatakan bahwa walimah merupakan acara makan pada hari-hari
bahagia. Mengapa kita dapat menjelaskan secepat itu? Karena telah terpenuhinya empat prasyarat
pemikiran tentang kata walimah. Akan tetapi, pada kata wadhimah, yang kita tidak mempunyai informasi
awal tentang kata itu sebelumnya, maka kita akan kebingungan dan mengatakan ketidaktahuan kita.
Dalam keadaan ini hanya terdapat tiga prasyarat pemikiran, yaitu: kenyataan, pengindraan terhadap
fakta, dan otak. Setelah melakukan pengindraan, fakta akan berpindah ke otak dan terekam di dalamnya.
Otak kemudian melakukan klasifikasi dari memori-memori yang lain, karena otak memiliki informasi baru
tentang realita yang dinamakan wadhimah. Di sini, aktivitas pemikiran hanya terdiri dari tiga prasyarat
dan belum bisa memberikan penilaian yang jelas tentang kata wadhimah. Kita harus menyempurnakan
aktivitas berpikir ini, dengan melengkapi prasyarat keempatnya, yakni: informasi awal
tentang wadhimah.
Ketika diinformasikan kepada kita bahwa kata wadhimah adalah ajakan makan pada saat berkabung.
Maka, setelah itu, kita telah mempunyai keempat prasyarat berpikir, sehingga mampu memahami hakikat
realitanya. Artinya, kita mampu menghadirkan penilaian yang benar terhadap kenyataan. Proses berpikir
seperti ini terjadi secara alami, bahkan tanpa kita sadari.
Selanjutnya, muncul pertanyaan apa yang dimaksud dengan informasi awal? Apa standarnya (al miqyas)?
Dan, apa dalilnya?
Agar mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan tepat, maka harus mengetahui empat
prasyarat pemikiran:

Dua prasyarat terdapat pada manusia, yaitu panca indra dan otak,
Dua syarat lainnya terdapat di luar manusia, yaitu hakikat fakta dan informasi awal.

Aktivitas pemikiran bertolak dari bergabungnya empat prasyarat di atas. Titik tolaknya adalah fakta yang
terindra. Dari fakta, terkadang ditransfer informasi awal yang benar, dan terkadang ditransfer informasi
yang salah. Ketika diinformasikan kepada kita bahwa di desa terpencil telah dibangun bandara
internasional dengan pelayanan profesional, kemudian kita ke sana untuk menyaksikan langsung dan

ternyata memang benar, maka ini adalah informasi yang benar. Sebaliknya, jika faktanya tidak terdapat
bandara di desa tersebut, maka informasi itu adalah salah. Dengan melihat langsung terhadap fakta
bandara, akan menetapkan hakikat fakta pada kita. Hakikat inilah yang akan menghilangkan keraguan,
kedustaan, dan penyesatan. Standar dan dalil atas kebenaran atau kesalahan informasi awal adalah
hakikat fakta. Atas dasar hakikat kenyataan, dapat difahami makna sesuatu, misalnya: apa yang dimaksud
dengan Komputer, apa rasa buah strawberry, apa nama benda untuk menulis di papan tulis, apa manfaat
dan bahaya (mudharat) internet, apakah persidangan kasus korupsi dilakukan atau ditangguhkan, apa
yang menetapkan perkataan ya dan tidak, dan seterusnya. Segala sesuatu, perkara, urusan, hukum,
keadaan, masalah, dan harta, baik berwujud fakta materi atau nonmateri, menuntut adanya informasi
awal yang kemudian digabungkan dengan prasyarat lain, sehingga memungkinkan melakukan pengaitan.
Dari penggabungan keempat prasyarat kita mampu membedakan antara satu hal dengan yang lainnya.
Hanya saja, yang dianggap (ibrah) bukan sekedar adanya informasi awal, tetapi mengaitkan informasi
awal dengan fakta, sehingga aktivitas berpikir berjalan dengan sempurna yang akhirnya menghasilkan
pemikiran. Kebiasaan pengaitan yang dilakukan sejak kecil, akan menjadikan empat prasyarat di atas
terajut menjadi pemikiran, yakni penilaian atas fakta. Oleh karena itu, penilaian atas informasi awal
sangat berpengaruh pada penilaian fakta. Jika informasi awal benar maka penilaian adalah benar.
Sebaliknya, jika informasi awal salah maka penilaian sesuatu tidak akan pernah sesuai. Prinsip penggalian
seluruh fakta yang ada dapat dianalogkan seperti itu.
Para pakar terdahulu sering keliru dalam membahas akal (pemikiran). Mereka disibukkan dengan
permasalahan letaknya, apakah di kepala, di hati atau di tempat lain.
Para pakar sekarang juga masih keliru, yang menjadikan otak sebagai tempat akal. Kekeliruan ini sama
dengan kelirunya orang yang mengatakan bahwa pemikiran adalah refleksi otak atas fakta, dan sebaliknya
refleksi fakta atas otak. Yang benar adalah otak merupakan bagian organ tubuh, seperti organ tubuh lain,
yang tidak bisa terefleksi atau merefleksikan sesuatu. Refleksi adalah dicerapnya cahaya kepada sesuatu,
yang kemudian cahaya itu berbalik. Sebagai contoh, cahaya lampu menyinari disket kemudian cahaya
terpantul kembali, sehingga disket dapat terlihat; juga, wajah yang terpantul oleh cermin ketika ada
cahaya, maka cahaya akan kembali dan gambar wajah akan terpantul oleh kaca, sehingga wajah dapat
terlihat. Ketika gambarnya terpantul seolah-olah tergambar di belakang cermin, maka tampaknya gambar
yang hakikatnya tidak terdapat di cermin. Gambar terpantul seperti terpantulnya cahaya yang mengenai
wajah. Itulah refleksi, dan itu tidak terjadi pada otak.
Ketika mata menangkap cahaya yang dihasilkan oleh materi, akan terwujud gambar pada retina, dan dari
penangkapan ini dihasilkan penglihatan. Jadi, memindahkan fakta ke otak melalui perantara panca indra
bukanlah refleksi (inikas), tetapi transformasi fakta (objek) ke dalam otak (inkisar). Sehingga,
pembahasan refleksi tidak ditemukan dalam aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir adalah pengaitan empat
prasyarat, dan pengaitan ini akan menghasilkan kemampuan untuk membedakan (al tamyiz), yang
merupakan sumber penilaian (al hukmu) atas sesuatu.
Aktivitas Berpikir
Adalah keliru pendapat yang mengatakan bahwa manusia dapat berpikir tanpa mempunyai informasi awal.
Dengan bukti, dahulu manusia pertama dalam menghadapi sesuatu (tesa), maka sesuatu itu akan
memberikan respons balik kepadanya. Dengan indranya, dia mengetahui sesuatu yang dapat dimakan dan
yang tidak dapat dimakan. Dia juga menjadi mengerti dari indra dan penelitiannya bahwa kayu
mengapung di atas air, sehingga dia mampu membuat kapal untuk mengarungi lautan. Dia juga
mengetahui bahwa tidur di gua dalam hutan membuat rasa aman dari hujan, kedinginan, dan hewan buas,
sehingga ia menjadikan gua sebagai tempat tinggal. Adalah manusia pertama dahulu kala dengan
indranya, dia mampu membuat keputusan (penilaian) dan melakukan pengaturan terhadap sesuatu

menurut penilaiannya, artinya menurut pemikirannya. Hal ini menunjukkan menurut keyakinannya
bahwa pemikiran adalah mentransfer fakta ke otak dengan perantara indra tanpa membutuhkan informasi
awal.
Sebenarnya manusia pertama yang dijadikan contoh hanyalah hipotesis yang tidak diketahui (majhul)
dan sudah tidak ada (ghaib). Padahal, yang kita inginkan adalah tentang pemikiran yang dilakukan
manusia saat ini. Maka, tidak dapat menganalogkan antara yang diketahui (malum) dengan yang tidak
diketahui (majhul), dan tidak dapat menganalogkan antara yang sekarang (al hadlir) dengan yang dahulu.
Analog yang benar adalah sebaliknya, yaitu menganalogkan yang majhul dengan yang malum dan
menganalogkan yang dulu dengan yang sekarang. Adalah kekeliruan yang sangat fatal, jika kita
menganalogkan manusia yang ada di hadapan kita dengan manusia pertama yang telah berlalu dan tidak
diketahui untuk mengetahui arti pemikiran orang sekarang. Dan, menganalogkan manusia pertama
dengan kita justru sangat memungkinkan. Mengetahui arti pemikiran kekinian dapat digunakan untuk
mengetahui pemikiran manusia pertama. Dari sini, adanya keyakinan bahwa indra merupakan sumber
pemikiran bagi manusia pertama adalah keliru.
Argumentasi yang mereka gunakan adalah informasi sejarah manusia pertama, yaitu bahwa pada zaman
batu, manusia telah berusaha untuk mencari makanan dengan dengan teknologi meskipun sangat
sederhana, yakni menggunakan peralatan-peralatan batu untuk mengambil buah dari hutan rimba,
memburu ikan, membangun tempat tinggal untuk berlindung dari bahaya hewan buas. Kalaupun informasi
itu benar, maka ia terkait dengan pemenuhan naluri dan bukan dengan pemikiran. Artinya, terkait dengan
pemahaman perasaan (al idrak al suuri) atau identifikasi berdasarkan naluri (al tamyiz al gharizi), dan
tidak terkait dengan pemahaman pemikiran (al idrak al aqliyyah). Argumentasi lain untuk memperkuat
pendapat di atas adalah: karyawan baru yang dihadapkan komputer 1 (satu) unit yang dipisah-pisah
komponennya. Orang tersebut tidak mempunyai informasi awal tentang komputer, dan dia ingin
memperbaiki komputer tersebut. Orang tersebut berusaha mencoba berulang-ulang (trial and error), dan
dalam waktu yang lama, akhirnya ia mampu menyusun komputer kembali. Apakah berarti orang tersebut
mampu berpikir tanpa membutuhkan informasi awal? Ini juga pendapat yang tidak tepat, karena orang
tersebut sebenarnya memiliki banyak informasi awal. Dari uji coba (trial and error) yang dilakukannya
beberapa kali telah menghasilkan informasi-informasi awal bagi percobaan selanjutnya, yang akhirnya
berhasil mengumpulkan informasi yang lengkap untuk menyusun kembali komputer tersebut. Artinya,
dengan pengaitan informasi-informasi yang dihasilkan dari uji cobanya memungkinkan dia sampai pada
kesimpulan cara memasang komputer yang benar.
Argumentasi di atas tidak layak dijadikan contoh, karena sebenarnya dia memiliki informasi awal. Contoh
yang layak adalah anak kecil yang tidak memiliki informasi awal sama sekali atau seseorang yang tidak
mempunyai informasi yang memungkinkan untuk meminta bantuan guna menghadirkan informasi awal
untuk menerangkan kenyataan. Misalnya: orang desa dimasukkan ke laboratorium, kemudian dia dibiarkan
untuk melakukan penelitian; juga, seorang ekonom dimasukkan ke laboratorium atom dan nuklir (al
makhtabar al dzarrah), kemudian dia diminta menjelaskan rahasia bom nuklir (al qumbulah al
dzarriyyah). Kedua contoh terakhir lebih layak dan lebih tepat, dibanding orang yang sedang menyusun
komputer.
Otak bukanlah tempat pemikiran. Indra mentransfer kesan objek berupa materi ke otak. Jika alat
indranya adalah mata, yang ditransfer adalah kesan objek berupa gambar. Jika indranya adalah telinga
yang ditransfer adalah kesan objek berupa suara. Jika indranya adalah hidung yang ditransfer adalah
kesan objek berupa aroma. Demikianlah fakta terekam, yang sama seperti ketika ditransfer ke otak, yakni
menurut kesan yang ditransfer. Oleh karena itu, pengindraan yang sempurna pada fakta belum
membangkitkan pemikiran, akan tetapi hanya menghasilkan naluri untuk membedakan (al tamyiz al
gharizi), dilihat dari sisi dapat memenuhi (kebutuhan) atau tidak, menyengsarakan atau tidak,
membahagiakan atau tidak, dan tidak lebih dari itu. Jika terdapat informasi awal yang kemudian oleh

otak dikaitkan dengan fakta terindra yang tergambar dalam otak, maka pada saat itu sempurnalah
aktivitas pemikiran dan menghasilkan pemahaman terhadap sesuatu, serta dapat mengetahui hakikat
sesuatu. Jika tidak demikian, maka aktivitas tersebut hanyalah pengindraan ataual tamyiz al gharizi .
Apabila kita mengerahkan pikiran secara sempurna, tetapi tidak terdapat fakta yang terindra, ditambah
tidak ada informasi awal, maka itu hanyalah khayalan kosong. Hal ini justru akan mendatangkan
penyimpangan dengan imajinasi-imajinasi yang keliru, kesesatan dan terkadang mengantarkan kepada
depresi otak sehingga akan mendatangkan penyakit stres, ketidakwarasan, gila, dan sejenisnya. Jadi,
dalam aktivitas pemikiran harus terdapat fakta terindra dan informasi awal seperti keharusan terdapatnya
otak dan indra. Jadi, pemikiran adalah mentransfer fakta melalui panca indra ke otak disertai dengan
informasi awal yang akan menentukan penafsiran terhadap fakta tersebut.
Demikianlah definisi pemikiran dan aktivitas pemikiran yang dilakukan oleh para pemikir yang
menghasilkan pemikiran bukan orang yang hanya sekedar mentransfer pemikiran. Adapun orang yang
hanya mentransfer pemikiran, maka tidak perlu aktivitas seperti ini, karena pemikiran telah dihasilkan
dan telah selesai. Orang-orang yang telah menghasilkan pemikiran akan memberitahukan pemikirannya
kepada orang lain, dengan bahasa dan istilah yang berbeda-beda. Adapun pemikiran yang ditransfer dari
orang lain perlu diperhatikan. Jika yang diterima sama seperti sumber yang ditransfer, lalu membenarkan
pemikiran tersebut, seakan-akan ia mengindra sendiri, maka pemikiran tersebut menjadi pemahaman
(mafahim) yang sama. Dan, jika yang menerima tidak dapat menggambarkan objek pemikiran tersebut,
tetapi hanya memahami secara global atau mengerti maksudnya, tetapi tidak mampu mewujudkan
faktanya dalam benak, baik secara pengindraan maupun pembenaran dan penerimaan, maka pemikiran
tersebut hanya menjadi informasi. Artinya, hanya menjadi pengetahuan (al maarif). Oleh karena itu,
informasi saja tidak akan berpengaruh pada seseorang, dan yang berpengaruh adalah
pemahaman(mafahim), karena pemahaman adalah pemikiran yang memiliki fakta dalam benak. Seorang
pemikir haruslah mengetahui realita yang dipikirkan, apa dampaknya dan bagaimana pengaruhnya,
sehingga mampu mentransfer pemikirannya kepada orang lain. Jika tidak demikian, ia bukanlah
mentransfer pemikiran kepada orang lain, akan tetapi yang ia transfer hanyalah informasi-informasi. Jadi,
ia adalah pengajar, bukan pemikir. Dari sini, tidak boleh ada pencampuradukan antara aktivitas
berpikir (amaliyah al tafkir) dan identifikasi berdasarkan naluri (al tamyiz al gharizi).

Identifikasi Naluriah
Kita sering mencampuradukkan antara berpikir dengan identifikasi naluriah, karena ketidakmampuan kita
untuk membedakannya. Oleh karena itu, kita sering terperosok dalam kesalahan-kesalahan yang
menggelikan dan kadang-kadang menyesatkan, sehingga di antara kita ada yang berpendapat bahwa anak
kecil memiliki akal dan pemikiran sejak lahir. Sebagian lagi berpendapat hewan memiliki pemikiran. Dan,
ada yang mencampuradukkan antara pemikiran dan naluri (al gharizah) sehingga mengakibatkan
kesesatan dalam pendefinisian pemikiran. Oleh karena itu, pengetahuan tentang naluri sangat urgen
seperti halnya pengetahuan tentang pemikiran.
Kesempurnaan naluri pada hewan dikarenakan pengindraan yang berulang-ulang terhadap kenyataan.
Hewan memiliki otak dan indra seperti halnya manusia, akan tetapi otak hewan tidak mampu untuk
mengaitkan berbagai fakta, hewan hanya mampu mengindra. Hewan tidak memiliki informasi awal (al
malumat al tsabiqah) yang dapat dikaitkan dengan fakta atau dengan pengindraan. Bahkan, setiap fakta
yang ia indra menjadi rekaman, yang kembali teringat ketika hewan itu mengindra fakta itu.
Pengingatannya bukanlah pengaitan, tetapi hanya aktivitas untuk mengokohkan pengindraan. Pengingatan
tumbuh dari pengindraan fakta yang pertama atau terhadap fakta baru yang berhubungan dengan fakta
pertama. Maka, pengindraan pada saat itu menjadi identifikasi naluriah (al tamyiz al gharizi). Inilah yang
menentukan perilaku hewan dan gerak-geriknya pada saat memenuhi naluri dan kebutuhan-kebutuhan
fisiknya.

Misalnya, ketika disodorkan daging dan anggur kepada kucing maka, dengan nalurinya, kucing mengetahui
di antara keduanya, mana yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan. Kucing akan memakan
daging dan menyingkirkan anggur. Juga sama, jika disodorkan biji gandum dan abu kepada kuda yang
lapar, maka ia akan berusaha mendeteksi mana benda yang dapat mengenyangkan. Kuda menemukan
bahwa pemenuhannya terdapat pada gandum bukan pada abu, maka pengindraannya akan melekat (al
irtikaz) bahwa gandum dapat memenuhi kebutuhannya, sedangkan abu tidak. Maka, abu ditinggalkan
semata-mata pengindraannya, dan gandum dimakan juga karena pengindraannya. Ini berlaku untuk semua
hewan. Anak kecil ketika baru dilahirkannya juga seperti hewan, meskipun memiliki potensi pengaitan,
akan tetapi otaknya tidak memiliki informasi yang dapat dikaitkan dengan pengindraan fakta baru,
sehingga ia belum mampu membedakan berbagai fakta. Ia tidak memiliki pemikiran, akan tetapi hanya
identifikasi naluriah (al tamyiz al gharizi) dilihat dari sisi benda itu mengenyangkan atau tidak, tetapi ia
tidak mengetahui hakikat benda itu. Ketika disodorkan kurma dan arang pada anak kecil yang lapar, maka
dia akan mendeteksi salah satunya. Jika dia menemukan dalam benda tersebut terdapat pemenuhan,
maka dia akan memakannya dan membuang yang lain.
Akan tetapi, jika ia memiliki informasi awal (al malumah al tsabiqah) dia akan segera
menggunakan malumat itu secara refleks, karena pengaitan adalah bagian integral dari susunan otaknya.
Atas dasar itu, identifikasi naluriah (al tamyiz al gharizi) tidak lebih dari pengindraan fakta untuk
mengetahui keberadaan sesuatu itu, apakah memenuhi kebutuhan atau tidak. Identifikasi naluriah
berbeda dengan pemikiran yang merupakan penilaian (al hukmu) atas sesuatu. Aktivitas pemikiran dapat
dihasilkan dengan dua metode:
1.
Metode aqliyah (al thariqah al aqliyyah) adalah metode yang membutuhkan pengamatan dan
pengambilan keputusan
2.
Metode ilmiyah (al thariqah al ilmiyyah) adalah metode yang membutuhkan pengamatan, percobaan
dan pengambilan keputusan
Metode Aqliyah dan Ilmiah
Metode aqliyah didefinisikan sebagai suatu metode pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui hakikat
sesuatu melalui proses pentransferan fakta, dengan perantara indra, ke otak, didukung oleh adanya
informasi awal (al malumat al tsabiqah) yang akan memberikan tafsiran dan penilaian (al hukmu)
terhadap fakta tersebut. Penilaiannya dinamakan pemikiran atau pemahaman akal (al idrak al aqli).
Metode aqliyah biasa digunakan untuk mengkaji objek yang terindra (fisik) seperti kimia dan fisika, untuk
mengkaji pemikiran-pemikiran seperti aqidah dan perundang-undangan (al tasyri), untuk membahas
sastra (al adab) dan fiqh. Metode ini adalah metode yang alami, untuk sampai pada pemikiran.
Metodeaqliyah hakikatnya adalah definisi berpikir itu sendiri. Dengan cara inilah, manusia, dalam
kedudukannya sebagai manusia, dapat memahami segala sesuatu yang telah diketahui atau yang ingin ia
ketahui.
Hasil yang diperoleh dari metode aqliyah ada dua kemungkinan. Jika kesimpulannya berkaitan dengan ada
atau tidak adanya sesuatu, maka metode ini bersifat pasti (qathi), tidak mungkin salah. Hal ini, karena
keputusan diambil dari pengindraan terhadap fakta. Padahal pengindraan terhadap keberadaan fakta
tidak mungkin salah, karena pengindraan itu bersifat pasti. Penilaian (al hukmu) akal untuk menentukan
keberadaan sesuatu dengan metode aqliyah pasti adanya.
Apabila kesimpulannya adalah pemikiran atas hakikat atau sifat sesuatu, maka hasilnya bersifat tidak
pasti (dzanni), dan masih ada potensi salah. Penilaian tersebut diambil dari suatu informasi (malumat)
atau interpretasi terhadap fakta yang terindra berdasarkan informasi yang telah ada. Kesimpulan ini
sangat mungkin mengandung kesalahan, namun tetap benar selama belum terbukti kesalahannya. Pada
saat terbukti kesalahannya itulah diputuskan bahwa kesimpulannya salah. Oleh karena itu, pemikiran
yang diperoleh melalui metode aqliyah, jika berkaitan dengan keberadaan sesuatu seperti eksistensi Allah
SWT, Al Quran dari sisi Allah SWT, Muhammad SAW adalah Rasulullah dan lain-lain, adalah pemikiran yang
pasti (qathi). Akan tetapi, bila berkaitan dengan penilaian atas hakikat dan sifat sesuatu, seperti hukum-

hukum syara, maka kesimpulan pemikiran tersebut tidak pasti adanya (dzanni). Artinya, diduga kuat
hukum sesuatu itu adalah begini, dan bahwa kejadian itu hukumnya begini. Penilaian ini adalah benar,
meskipun ada peluang terjadi kesalahan, akan tetapi masih merupakan kesimpulan yang benar sampai
terbukti kesalahannya.
Definisi metode ilmiah adalah metode pengkajian seperti metodeaqliyah yang ditempuh untuk
mengetahui hakikat sesuatu, tetapi melalui metode ekspresimental (al tajarub). Oleh karena itu, metode
ini digunakan untuk benda-benda yang bersifat fisik, tidak mungkin dilakukan untuk membahas sesuatu
yang abstrak. Metode ini dilakukan dengan cara memperlakukan benda pada situasi/keadaan tertentu
yang bukan situasi alaminya. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil percobaan pada
situasi alaminya. Dari hasil percobaan yang diperoleh serta perbandingan yang dilakukan, dapat diambil
kesimpulan tentang hakikat benda yang diteliti. Bentuk percobaan ini lazim dilakukan di laboratoriumlaboratorium (al mukhtabarat). Metode ilmiah mengharuskan adanya peniadaan seluruh informasi yang
diperoleh sebelumnya tentang sesuatu yang diteliti. Kemudian mulai dilakukan pengamatan dan
percobaan terhadap benda tersebut. Metode ini mengharuskan seorang peneliti untuk mengosongkan
seluruh pendapat dan keyakinan dari benak mereka dalam pengkajian ini. Kemudian melakukan
eksperimen, dilanjutkan dengan melakukan komparasi (al muwazanah) dan klasifikasi sehingga
didapatkan suatu konklusi berdasarkan tahapan metodologi ilmiah (al muqaddimah al ilmiyyah). Apabila
peneliti telah sampai pada suatu kesimpulan dengan metode ini, hasil penelitiannya dinamakan
kesimpulan ilmiah, yakni hakikat ilmiah yang tunduk pada pengkajian dan penelitian. Kesimpulan ini tetap
merupakan kesimpulan ilmiah yang benar, selama belum ada penelitian lain yang menyanggahnya.
Berdasarkan definisi metode ilmiah dan aqliyah di atas, jelaslah bahwa metode aqliyah adalah satusatunya metode yang harus digunakan oleh manusia, dalam kapasitasnya sebagai manusia, ketika berpikir
dan menilai sesuatu. Dan, untuk memahami hakikat dan sifat sesuatu. Seperti halnya metode langsung
adalah yang paling selamat dari kesalahan. Dengan demikian, akan dihasilkan pemikiran yang benar atau
lebih mendekati kebenaran untuk kasus yang dzanni, dan akan dihasilkan kesimpulan yang pasti benar
untuk kasus yangqathi. Karena setiap masalah membutuhkan pemikiran, maka pemikiran itulah harta
yang paling berharga dan paling mahal bagi manusia dalam kehidupan ini. [Terjemahan dari Kitab
Thariiqul Iman, Dr. Samih Athif az Zain- penterjemah K.H . Shiddiq Al Jawi]
Baca Juga:

Macam-Macam Pemikiran
Kebobrokan Tafsir Hermeneutika
Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen
Hermeneutika Dan Liberalisme Islam
Asal Usul Mutakallimin dan Metodologinya
Tuhan Tidak Ada ? (Hati-Hati Pakai Logika)
Ketidakadilan Berpikir &(Bertanya)