Anda di halaman 1dari 31

Makalah Ilmiah Budidaya Perairan

USAHA BUDIDAYA IKAN PATIN (Pangasius pangasius)


DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)

Dosen Penanggung jawab


Prof. Dr. Ir. Hasan Sitorus, M.S

Oleh
Tiur Natalia Manalu
120302028

BUDIDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan berkatNya penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah budidaya
perairan. Makalah ilmiah ini berjudul Usaha Budidaya Ikan Patin (Pangasius
pangasius) di Keramba Jaring Apung (KJA). Makalah ilmiah ini dibuat
dalam

rangka

membuka

wawasan pengetahuan

mengenai

cara

umum

pembudidayaan ikan patin.


Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Prof. Dr. Ir. Hasan Sitorus, M.S, selaku dosen pembimbing mata kuliah
Budidaya Perairan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada abang dan
kakak serta semua pihak yang telah membimbing penulis dalam pembuatan
makalah ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam mengerjakan makalah ilmiah ini masih
terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun demi perbaikan ke depan. Semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan. Akhir kata penulis ucapkan terima
kasih.

Medan, Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan .......................................................................... 3
BAB II TAKSONOMI DAN MORFOLOGI IKAN PATIN
2.1 Taksonomi Ikan Patin... 4
2.2 Morfologi Ikan Patin 5
BAB III PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA
3.1 Faktor Teknis ................................................................................ 8
3.2 Aspek Sosial-Ekonomi .................................................................. 9
BAB IV PERSIAPAN BUDIDAYA
4.1 Penyiapan Keramba Jaring Apung................................................. 10
4.2 Penyediaan Benih.......................................................................... 13
4.3 Prasarana Budidaya ....................................................................... 15
BAB V PEMELIHARAAN
5.1 Penebaran Benih ........................................................................... 16
5.2 Pakan dan Pemberian Pakan .......................................................... 17
5.3 Pengendalian Hama dan Penyakit .................................................. 18
BAB VI PANEN DAN PASCAPANEN
6.1 Panen ............................................................................................ 20
6.2 Pascapanen ................................................................................... 21
BAB VII PENUTUP
7.1 Kesimpulan ................................................................................... 25
7.2 Saran............................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Patin lokal (Pangasius djambal)..

Gambar 2. Morfologi Ikan Patin...

Gambar 3. Bagian-bagian Sirip Ikan Patin...

Gambar 4. Bagian Kepala Ikan Patin

Gambar 5. Keramba Jaring Apung

10

Gambar 6. Wadah Budidaya.....

11

Gambar 7. Pelampung Rakit .

12

Gambar 8. Teknik Streeping

15

Gambar 9. Bak Fiber, Hapa dan AKuarium..

15

Gambar 10. Penebaran dan Penghitungan Benih...

16

Gambar 11. Penampungan atau Pengangkutan Ikan.

20

Gambar 13. Packing

21

Gambar 14. Transportasi Ikan....

21

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar asli Indonesia yang
tersebar di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Daging ikan patin
memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas,
enak, lezat dan gurih sehingga digemari oleh masyarakat. Ikan patin dinilai lebih
aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan
daging hewan ternak. Selain itu ikan patin memilki beberapa kelebihan lain, yaitu
ukuran per individunya besar dan di alam panjangnya bisa mencapai 120 cm. Ikan
patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek menguntungkan karena memiliki
harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat
perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk dibudidayakan. Ikan ini cukup
responsif terhadap pemberian makanan tambahan (Lina, 2010).
Ikan patin (Pangasius sp) di Indonesia terdapat 14 spesies, namum
Pangasianodon hypopthalmus yang berasal dari Thailand merupakan satu-satunya
yang dibudidayakan di Indonesia. Dalam rangka memanfaatkan keanekaragaman
hayati ikan air tawar Indonesia, khususnya potensi spesies ikan patin lokal untuk
budidaya, sejak tahun 1996 telah dilakukan penelitian kerja sama dengan Uni
Eropa. Dimana spesies ikan patin Pangasius djambal bleker (1846) telah menjadi
calon komoditi budidaya baru karena potensi ukurannya yang besar (bisa
mencapai lebih dari 20 kg/ekor), penyebaran geografisnya yang luas serta
popularitasnya diantara konsumen jenis ini di Sumatera dan pulau-pulau lain di
Indonesia. Evaluasi budidaya secara teknis menunjukkan banyak keunggulan
yang bernilai lebih bagi akuakultur sedangkan sosialisasi pembudidayaan jenis ini
telah dilakukan pada tahun 1997 (Risna, 2011).
Dewasa ini apabila diperhatikan sudah banyak restoran yang menyajikan
menu makanan utama berupa ikan patin bakar/goreng. Untuk memenuhi
kebutuhan pasokan ikan tersebut tidak dapat hanya dipenuhi dari hasil tangkapan
diperairan umum, sehingga perlu adanya pembudidayaan secara intensif. Apabila
ditinjau dari aspek pembudidayaan, teknologi budidaya ikan patin relatif telah

dikuasai. Ketersediaan benih yang semula dianggap sebagai kendala, namun


sekarang telah banyak pembenih baik perorangan maupun perusahaan yang
berhasil memproduksi benih ikan patin. Beberapa keunggulan komparatif
budidaya ikan patin adalah bahwa ikan patin ukuran individunya cukup besar,
pemakan segalanya dan dapat bertoleransi terhadap kondisi perairan yang kurang
menguntungkan seperti kondisi oksigen terlarut (02) rendah serta dapat
bertoleransi pada pH 3-4. Demikian juga ikan patin mau mengkonsumsi makanan
buatan atau pakan yang beredar di pasaran sebagai makanannya (Sudiyono, 2010).
Perawatan budidaya ikan patin terbilang lebih mudah dibandingkan
budidaya lele, bahkan pakan ikan patin dapat memanfaatkan limbah rumah tangga
yg tidak mengandung minyak. Disamping itu kemampuan ikan patin untuk
berproduksi juga cukup tinggi, seekor induk yg subur dapat bertelur 200.000 butir
telur setiap 6 bulan sekali. Dalam menjalankan usaha budidaya ikan patin, yang
sering menjadi kendala adalah munculnya jamur dan bakteri yg menyebabkan
turunnya kualitas ikan. Biasanya untuk mencegahnya para petani patin menjaga
sanitasi air, dan mengurangi pemberian pakan yg terlalu banyak. Selain itu suhu
yg terlalu dingin juga berpengaruh buruk bagi perkembangan telur patin, oleh
karena itu para petani memasang heater atau menyimpan akuarium inkubasi di
dalam ruangan agar terhindar dari suhu ekstrim. Sedangkan bagi ikan patin yg
sudah cukup besar, kendalanya adalah persediaan pakan cacing sutera yg masih
kurang (Marganof, 2005).
Usaha kearah pembudidayaan ikan di perairan umum sangat diperlukan,
hal ini disebabkan oleh lajunya pertambahan jumlah penduduk dan sempitnya
areal tanah yang sebagian besar digunakan warga sebagai wilayah pemukiman
perkebunan dan pertanian sehingga terjadi penyempitan lahan untuk budidaya
ikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, budidaya ikan dalam keramba jaring
apung di perairan umum adalah alternatif yang sangat tepat dan lebih efektif.
Selain itu, upaya budidaya ikan juga sebagai penyeimbang dan membantu
pemenuhan produksi ikan yang selama ini diperoleh dari hasil penangkapan yang
cenderung semakin menurun. Hal ini tidak diimbangi dengan usaha budidaya dan
penebaran ikan (restocking) yang akan mengakibatkan terganggunya kelestarian
sumber daya perairan. Seiring dengan berkembangnya zaman dan meningkatnya

pertambahan penduduk yang diiringi dengan semakin meningkatnya kebutuhan


protein hewani oleh manusia setiap tahunnya, maka perlu peningkatan produksi
ikan sebagai salah satu sumber pangan dan sumber protein (Harbowo, 2011)
Keramba jaring apung adalah sistem budidaya dalam wadah berupa jaring
yang mengapung dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti
danau, waduk, laut, selat, sungai dan teluk. Berbagai komoditi perikanan dapat
dibudi dayakan pada media ini, terutama kegiatan pembesaran dan pendederan.
Sampai saat ini kegiatan pembesaran ikan patin secara komersial menggunakan
keramba jaring apung pada perairan umum masih tergolong sedikit. Sedangkan
potensi untuk kegiatan budidaya ikan air tawar di perairan umum peluangnya
masih terbuka lebar. Tingkat permintaan konsumen akan ikan ini juga tidak
pernah turun bahkan sebaliknya cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya
seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk (Lina, 2010).
Kegiatan pembesaran ikan tujuan utamanya mengaharapkan hasil produksi
yang akan didapat bisa maksimal, namun berbagi faktor yang sering menjadi
hambatan bagi pembudidaya sehingga usaha yang dilakukan tidak sesuai dengan
keinginan atau target produksi menurun. Usaha pembesaran tidak mengalami
perkembangan akibat masih kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan
informasi teknis pembudidaya seperti padat penebaran, teknik pemberian pakan,
perawatan dan pegontrolan keramba serta pegendalian hama penyakit. Faktor
lingkungan tempat dilangsungkannya usaha pembesaran terutama parameter
kualitas air juga sangat dipertimbangkan untuk menjaga kelangsungan hidup dan
pertumbuhan ikan. Perlu adanya informasi teknis pembesaran ikan patin dalam
keramba jaring apung sehingga produksi ikan dapat ditingkatkan (Anto, 2008).

1.2 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui secara langsung kegiatan atau cara-cara pembesaran ikan
patin dalam keramba jaring apung.
2. Untuk mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan ikan
patin, terutama parameter kualitas air.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis pakan yang diperlukan bagi pertumbuhan ikan
patin.

BAB II
TAKSONOMI DAN MORFOLOGI IKAN PATIN

2.1 Taksonomi Ikan Patin


Menurut Arnelli (2010), di Indonesia, ada dua macam ikan patin yang
dikenal yaitu patin lokal (Pangasius pangasius) atau sering pula disebut jambal
(Pangasius djambal) dan patin Bangkok atau patin Siam (Pangasius
hypophtalamus sinonim P. sutchi). Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup
banyak diantaranya Pangasius polyuranodo (ikan juaro), Pangasius macronema
(ikan Rios, Riu, Lancang), Pangasius micronemus (ikan Wakal, Riuscaring),
Pangasius nasutus (ikan Padado), dan Pangasius nieuwenhuisii (ikan Lawang).
Klasifikasi ikan patin secara taksonomi adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariophysi

Famili

: Pangasidae

Genus

: Pangasius

Spesies

: Pangasius pangasius.

Gambar 1. Patin lokal (Pangasius djambal)

2.2 Morfologi Ikan Patin


Secara umum ikan patin memiliki tubuh licin, tidak bersisik, serta
memiliki bentuk tubuh agak memanjang dan pipih. Warna tubuh patin pada
bagian punggung keabu-abuan atau kebiru-biruan dan di bagian perut putih
keperak-perakan. Kepala ikan patin berbentuk simetris, lebar dan pipih, hampir
mirip seperti ikan lele. Matanya terletak agak ke bawah. Di perairan
umum,panjang ikan patin bisa mencapai 120 cm. Mulut ikan patin agak lebar dan
terletak di ujung kepal agak ke bawah (sub-terminal). Pada sudut mulutnya,
terdapat dua pasang sungut/kumis yang berfungsi sebagai alat peraba pada saat
berenang ataupun mencari makan. Keberadaan kumis menjadi ciri khas dari ikan
golongan catfish (Yanto, 2012).

Gambar 2. Morfologi Ikan Patin

Tubuh ikan patin terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan
ekor. Bagian kepala mulai dari ujung mulut sampai akhir tutup insang. Bagian
badan mulai dari akhir tutup insang sampai pangkal sirip anal. Sementara bagian
ekor dimulai dari sirip anal sampai ujung ekor. Sirip ekor ikan patin bentuknya
seperti gunting (bercagak) dan simetris. Ikan patin memiliki 5 sirip, yaitu
sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (ventral fin), sebuah sirip

punggung (dorsal fin), sebuah sirip dubur (anal fin), dan sebuah ekor (caudal fin).
Selain lima sirip tersebut, patin juga memiliki sirip yang tidak dimiliki ikan lain,
yaitu sirip tambahan (adipose fin) yang terletak diantara sirip punggung dan sirip
ekor. Pada sirip punggung terdapat 1 jari-jari keras (patil) dan 6-7 buah jari-jari
lunak. Sirip dubur patin cukup panjang, yakni mulai dari belakang dubur hingga
pangkal sirip ekor serta mempunyai 30-33 jari-jari lunak. Pada sirip perut terdapat
6 jari-jari lunak, sedangkan pada sirip dada terdapat 1 jari-jari keras (patil) dan 1213 jari-jari lunak (Maskuro, dkk., 2012).

Gambar 3. Bagian-bagian Sirip Ikan Patin

Gambar 4. Bagian Kepala Ikan Patin


Patin jambal memiliki sungut rahang atas jauh lebih panjang dari setengah
panjang kepala dan hidung sedikit menonjol kemuka serta mata agak ke bawah.
Patin siam merupakan ikan introduksi yang masuk ke Indonesia pada tahun 1972
dari Thailand. Ikan patin yang benar baru dan asli dari Indonesia adalah Patin
pasupati. Patin jenis ini dihasilkan dari persilangan antara patin siam betina dan
patin jambal jantan untuk pertama kalinya. Keunggulan dari patin ini adalah
memiliki daging yang berwarna putih, kadar lemak yang relatif rendah, laju
pertumbuhan badan yang relatif cepat dan jumlah telur yang relatif banyak.
Daging yang berwarna putih dan bobot tubuh yang besar diturunkan dari patin
jambal, sementara jumlah telur yang relatif banyak diturunkan dari patin siam
(Yuliartati, 2011).
Ikan Patin termasuk ikan yang beraktifitas pada malam hari atau nocturnal.
Selain itu, patin suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai habitat
hidupnya. Ikan ini termasuk ikan demersal atau ikan dasar. Secara fisik memang
dari bentuk mulut yang lebar persis seperti ikan domersal lain seperti ikan lele dan
ikan gabus. Ikan patin mempunyai sifat yang termasuk omnivora atau golongan
ikan pemakan segala. Malam hari ia akan keluar dari lubangnya dan mencari
makanan renik yang terdiri atas cacing, serangga, udang sungai, jenisjenis siput
dan bijibijian. Dari sifat makannya ikan ini juga tergolong ikan yang sangat
rakus karena jumlah makannya yang besar (Risna, 2011).

BAB III
PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA

Menurut Arnelli (2010), pemilihan lokasi yang tepat dan benar memegang
peranan yang sangat penting dalam keberhasilan budidaya ikan patin. Persyaratan
yang harus dipenuhi dalam penentuan lokasi meliputi dua faktor yakni faktor
teknis dan faktor sosial-ekonomi.
3.1 Faktor Teknis
Faktor teknis merupakan faktor yang mempengaruhi secara langsung
keberhasilan atau kegagalan terhadap kegiatan teknis budidaya, misalnya lokasi
budidaya (kedalaman KJA), sumber air, limbah, dan kualitas air.
1. Arus Air
Arus air berguna untuk mensuplai oksigen ke dalam KJA dan membuang
kotoran keluar KJA. Di perairan yang bebas (tidak terlindung) arus air
mungkin lebih baik, tetapi tempat ini harus dihindari karena sewaktu terjadi
angin ribut, arus akan terlalu tinggi yang dapat berakibat rusaknya bangunan
KJA. Arus air yang baik adalah yang memungkinkan air didalam KJA berganti
selama 30-60 detik.
2. Pasang Surut dan kedalaman Perairan
Pasang surut dan kedalaman perairan perlu diperhitungkan, yakni sewaktu
surut, dasar perairan tidak kurang dari 0,5 m dari dasar jaring. Kedalaman air
lebih dari 6 m ideal bagi KJA (kedalaman > 3m saat surut terendah dari dasar
jaring).
4. Kualitas Air
Kualitas air atau mutu air yang akan digunakan untuk memelihara ikan di
KJA harus diperhatikan. Dengan kualitas air yang baik, maka ikan patin akan
hidup dan tumbuh dengan baik. Kualitas air disesuaikan komoditi yang
dibudidayakan.
5. Gelombang dan Arus Laut
KJA komoditi air laut lebih baik memilih lokasi pada daerah teluk untuk
menghindari gelombang dan arus besar. Selain itu juga dihindari jalur

pelayaran dan dijauhkan dari muara sungai (gelombang < 1m dan arus 0,2-0,5
m/dtk).
5. Bukan daerah up-welling.
6. Bebas pencemaran (industri dan rumah tangga).
7. Curah hujan yang rendah.

3.2 Aspek Sosial-Ekonomi


Dalam memilih lokasi KJA perlu diperhatikan juga aspek sosial ekonomis,
karena dalam membudidayakan ikan di KJA secara komersil dibutuhkan dana
investasi yang tidak sedikit.
1. Mudah memperoleh sarana dan parasarana.
2. Tersedia SDM yang memadai.
3. Lokasi mudah dijangkau.
4. Tidak terlalu jauh dari sumber pakan, benih, sarana produksi dan daerah
pemasaran.
5. Selain itu lokasi KJA sebaiknya mempunyai sarana dan prasarana yang
memadai, seperti jalan darat, alat-alat komunikasi dan angkutan air.
6. Lokasi juga bukan merupakan lokasi perlindungan
Di beberapa perairan umum ada lokasi-lokasi tertentu yang tidak boleh
diganggu karena tempat itu digunakan ikan setempat untuk berkembang biak.
Karena adanya perkembangan budidaya ikan dan lingkungan sekitarnya,
mungkin didapatkan keadaan yang kurang baik pada lokasi yang ada.

BAB IV
PERSIAPAN BUDIDAYA

4.1 Penyiapan Keramba Jaring Apung

Gambar 5. Keramba Jaring Apung

Menurut Marganof (2005), susunan utama bangunan KJA adalah jaring,


pelampung rakit, kerangka atau titian serta jangkar dan pemberat jaring. Setelah
KJA digunakan dengan berkali-kali maka bangunan KJA tersebut akan
mengalami penurunan fungsi yang lebih lanjut dapat berakhir dengan kerusakan.
Demikian pula lokasi KJA bisa mengalami penurunan kualitas air yang
disebabkan penumpukan kotoran di dasar perairan. Dalam penyiapan bangunan
KJA dilakukan pemeriksaan terhadap beberapa bagian KJA yang dilanjutkan
dengan perbaikan-perbaikan bila dijumpai penurunan fungsi, seperti berikut ini:
1.

Jaring atau Wadah


Didasarkan atas fungsinya jaring ada 2 macam, yaitu jaring utama dan

jaring pengaman. Jaring utama digunakan sebagai tempat pemeliharaan ikan,


sedangkan jaring pengaman, yang ditempatkan di luar jaring utama, berfungsi
untuk mengamankan ikan agar tidak terlepas ke perairan bebas, ketika jaring
utama mengalami kerusakan (bocor atau jebol). Bahan jaring yang umum

digunakan poliethylene. Bahan lain adalah kawat yang berbungkus plastik. Satu
jaring pengaman melindungi beberapa jaring utama, bergantung ukuran jaring
utama. Umumnya untuk panjang dan lebar masing-masing 7 m, satu jaring
pengaman dapat melindungi beberapa jaring utama, bergantung ukuran jaring
utama. Umumnya untuk masing-masing jaring utama yang berukutan panjang dan
lebar masing masing 7 m, satu jaring pengaman memuat 4 jaring utama.

Gambar 6. Wadah Budidaya


Setelah digunakan berkali-kali jaring akan mengalami penurunan fungsi.
Yang paling cepat terjadi adalah jaring menjadi kurang lancar dilalui air, padahal
kelancaran aliran air sangat penting bagi pasokan oksigen ke dalam wadah serta
pembuangan kotoran ikan. Penyebabnya adalah tumbuhnya lumut yang hidup
menempel pada jaring dan memperkecil lubang (mesh size) jaring. Penurunan
fungsi yang lain adalah jaring mengalami pelapukan, yang ditandai dengan
terlihatnya beberapa helai benang yang terputus. Keadaan ini jika dibiarkan suatu
saat akan diikuti dengan kebocoran, terutama ketika jaring mengalami tekanan
berat ikan, ketika berlangsung pemanenan. Untuk memperbaiki hal di atas, maka
sebelum jaring digunakan kembali dilakukan pembersihan jaring dengan sikat
yang diikuti dengan penjemuran.
2. Pelampung rakit
Pelampung rakit berfungsi sebagai pengapung kerangka rakit atau sebagai
tumpuan rakit dan jaring. Oleh karena itu pelampung rakit harus memiliki daya
apung yang tinggi dan tidak mudah rusak. Sedangkan pelampung yang biasanya

digunakan antara lain berupa batang bambu, batang kayu, styrofoam dan drum.
Kerusakan tidak serentak terjadi pada seluruh pelampung yang ada pada bangunan
KJA tersebut. Pada pelampung yang rusak bagian yang mengapung lebih sedikit
dibanding dengan pelampung yang normal, sehingga bangunan KJA terlihat
menjadi miring. Jika diamati lebih lanjut maka dapat dilihat penyebabnya yaitu
adaya kebocoran pada drum atau keretakan pada bambu atau kayu. Jika tingkat
kerusakan itu masih rendah maka perbaikan bisa dilakukan dengan memutar
kedudukan bagian yang bocor/retak menjadi tidak lagi terendam air.

Gambar 7. Pelampung Rakit


3. Kerangka rakit atau titian
Kerangka rakit berfungsi sebagai tempat menggantungkan jaring dan
tumpuan jalan/titian pada saat penebaran benih, pemberian pakan dan kegiatan
lainnya. Kerangka ini juga yang merentangkan kantung jaring menjadi bentuk
persegi atau lingkaran. Sehingga kerangka rakit harus memiliki bahan dasar yang
kuat, yang mampu menahan beban berat orang dan yang lainnya. Bahan yang
biasa digunakan sebagai kerangka rakit antara lain adalah batang bambu, kayu,
besi siku dan pipa. Kerusakan yang terjadi umumnya karena bahannya melapuk
atau pecah-pecah (pada papan, kaso atau bambu) dan berkarat (pada besi).
Walaupun demikian masa pakainya bisa diperpanjang dengan perawatan,
misalnya mencat ulang. Jika kerusakan terlalu parah, maka bahan tersebut harus
diganti.

4. Jangkar atau pemberat


Jangkar berfungsi untuk menahan rakit agar tidak mengalami perpindahan
dari lokasi budidaya yang diinginkan. Pemberat rakit yang digunakan adalah
jangkar besi, beton, batu atau dapat berupa pasak besi ataupun pasak kayu.
Pemberat jaring berfungsi untuk memberikan bentuk yang sempurna pada jaring
sehingga daya tampung jaring menjadi maksimal. Pemberat jaring yang biasa
digunakan adalah berupa beton, batu dan batang besi.

4.2 Penyediaan Benih Patin


Pembenihan adalah suatu kegiatan pemeliharaan ikan yang bertujuan
untuk menghasilkan larva atau benih berukuran 1 inci/ekor. Benih yang dihasilkan
dapat dipelihara lebih lanjut pada kegiatan pendederan atau dijual bila ada
permintaan. Satuan produksi pembenihan ikan patin adalah jumlah (ekor),
sedangkan ukuran benih patin dinyatakan dalam panjang (inci = 2.5 cm). Kegiatan
usaha pemeliharaan induk, pemilihan/seleksi induk, teknik pemijahan patin,
penetasan telur, pemeliharaan larva, hingga benih siap didederkan lebih lanjut.
Benih untuk kegiatan pendederan minimal berukuran 3/4 inci/ekor. Untuk
mencapai benih ukuran tersebut, dibutuhkan waktu pemeliharaan selama 21-30
hari. Namun, banyak juga petani pembenih yang khusus memproduksi larva patin
umur 1 hari dari telur menetas untuk selanjutnya dijual. Pembenihan patin
dilakukan dengan system kawin suntik dan pebuahannya dilakukan secara
buatan,yakni dengan menyuntikkan hormon perangsang (HCG dan ovaprim)
(Yuliartati, dkk., 2011).
Setelah induk patin disuntuk, telur dan sperma dikeluarkan dari induk
dengan cara distreeping atau diurut. Selanjutnya, telur dan sperma ditampung dan
dicampurkan dalam suatu wadah (mangkok) sampai terjadi pembuahan. Proses
penetasan telur dilakukan dalam wadah khusus berupa corong tetas, akuarium dan
hapa. Sedangkan pemeliharaan larva dilakukan di bak fiberglass, akuarium dan
bak terpal plastik. Wadah tersebut selanjutnya ditempatkan di dalam ruangan
tertutup, terlindung dan terkontrol seperti hatchery atau yang dirancang sendiri.
Intinya, tempat penetasan telur dan pemeliharaan larva harus terlindung
daripengaruh hujan, angin, perubahan suhu yang drastis, cuaca dan terhindar dari

hama predator. Tingkat keberhasilan dalam pembenihan patin sangat tergantung


dari pemahaman

pelaksanaan di lapangan dalam mengoptimalkan teknologi

pembenihan yang digunakan (Anto, 2008).


Pemberian pakan larva yang efektif adalah pada saat 30 jam setelah telur
menetas. Pemberian pakan pada larva patin dilakukan secara bertahap, yaitu
dimulai pada saat kuning telur (yolk) mulai habis, selanjutnya diberi pakan telur
Artemia sp. sampai larva berumur 7 hari. Larva berumur 7-15 hari kemudian
diberi pakan cacing sutera atau Tubifex sp. dan larva berumur 15-30 hari diberi
pakan pellet berbentuk tepung dengan kandungan protein minimal 40%. Kegiatan
usaha pembenihan mempunyai waktu perputaran modal lebih cepat dibandingkan
dengan usaha pembesaran karena biaya operasional dan invetasi yang dikeluarkan
dalam kegiatan pembenihan lebih murah dibandingkan biaya dalam pembesaran.
Masa pemeliharaannnya juga relatif singkat. Jika dibandingkan dengan usaha
pembesaran, usaha pembenihan lebih banyak membutuhkan ketekunan, kejelian
dan ketrampilan dari pembudidaya (Sudiyono, 2010).

Gambar 8. Teknik Streeping

Gambar 9. Bak Fiber, Hapa dan AKuarium

4.3 Prasarana Budidaya


Menurut Harbowo (2011), adapun prasarana yang dibutuhkan dalam
kegiatan budidaya ikan patin adalah sebagai berikut:
1) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya.
Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi
bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan
pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja.
Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau
kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan
air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air
sebaiknya berbentuk monik
2) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.
Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan
bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk
dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah
ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin
agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan
pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu
monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan
dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan.
3) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan
luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air
bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik.
Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran
dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen
dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring
ke arah pembuangan.

BAB V
PEMELIHARAAN

5.1 Penebaran Benih


Penebaran larva atau benih dilakukan pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu
antara pukul 06.00 07.00. Tujuannya agar larva atau benih tidak stress akibat
suhu tinggi. Larva atau benih yang ditebar terlalu siang bisa strees akibat
kepanasan. Sebelum ditebar ke dalam kolam maka perlu dilakukan aklimatisasi
yaitu menyamakan suhu kantong dengan suhu kolam. Padat tebar pendederan
antara 100 200 ekor/m2, agar jumlahnya diketahui, sebelum ditebar larva atau
benih dihitung terlebih dahulu. Cara menghitungnya harus hati-hati, karena
kondisi tubuhnya masih lemah dan mudah terluka. Cara menghitung yang paling
baik dan risikonya paling kecil adalah secara volumetric (Risna, 2011).
Menurut Anto (2008), cara menghitung benih secara volumetrik : tangkap
benih dengan sekupnet halus atau ayakan kecil, biarkan selama 10 detik agar
airnya turun, masukan benih ke dalam gelas minum, mangkuk kecil, atau literan
sebagai takaran, hitung benih dalam wadah itu; masukan ke wadah lain, takar
seluruh benih. Untuk menghitung jumlah benih seluruhnya dapat digunakan
dengan rumus : A = B/C x D
A = Jumlah benih keseluruhan (ekor)
B = Jumlah benih dalam takaran kecil (ekor)
C = Volume gelas (cc)
D = Volume total (cc)

Gambar 10. Penebaran dan Penghitungan Benih

5.2 Pakan dan Pemberian Pakan


Pakan harus mendapat perhatian yang serius karena pakan sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan berat ikan dan merupakan bagian terbesar dari
biaya operasional dalam pembesaran ikan patin. Berdasarkan hasil penelitian para
ahli perikanan, untuk mempercepat pertumbuhan ikan selama pembesaran, setiap
hari ikan patin perlu diberikan makanan tambahan berupa pelet sebanyak 3 5%.
dari berat total tubuhnya. Pemberian pakan dilakukan secara bertahap sebanyak
empat kali yaitu, pagi, siang, sore dan malam hari. Porsi pemberian pakan pada
malam hari sebaiknya lebih banyak daripada pagi, siang dan sore hari, karena ikan
patin lebih aktif pada malam hari. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian
makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa
mencapai panjang 35 40 cm (Yanto, 2012).
Larva ikan patin dapat diberikan pakan berupa nauplius artemia setelah
berumur 30-35 jam setelah menetas hingga larva berumur 7 hari, frekuensi
pemberian pakan berupa nauplius artemia sebanyak 5 kali dengan interval waktu
4 jam sekali. Pada hari kedua dan ketiga sebaiknya frekuensi pemberian pakan
ditingkatkan menjadi 6 kali dengan interval waktu 4 jam sekali, hal ini
dikarenakan pada umur tersebut tingkat kanibalisme larva, sedangkan pada hari ke
4 hingga hari ke 7 frekuensi pemberian pakan kembali diturunkan menjadi 5 kali
dengan interval waktu 4 jam sekali (Sudiyono, 2010).
Pada hari ketiga larva mulai diberi makan. Makanan untuk larva yang
terbaik adalah Artemia. Sehari sebelum saatnya diberikan Artemia harus
ditetaskan terlebih dahulu dalam bak terpisah. Pemberian pakan dilakukan dengan
menciduk air yang berisi Anemia dan menumpahkannya ke dalam akuarium.
Larva akan sangat bergairah melihat makanan yang hidup/bergerak-gerak. Perlu
dicatat bahwa Artemia adalah hewan air laut. Untuk menjaga agar Artemia tidak
cepat mati maka air dalam akuarium tersebut juga harus bersifat agak asin. Untuk
itu bak penampungan sebaiknya diberi garam dapur lebih kurang setengah
kilogram permeter kubik. Artemia diberikan sampai larva berumur lima hari,
selanjutnya digantikan kutu air sampai larva berumur 10 hari. Pakan tambahan
dapat diberikan setelah 4 hari dari penebaran, karena pada awal penebaran, pakan
alami masih cukup tersedia, sedangkan setelah 4 hari pakan alami (Arnelli, 2010).

5.3 Pengendalian Hama dan Penyakit


Selama masa pemeliharan setiap pagi harus dilakukan penyiponan yang
bertujuan untuk membuang feses ikan dan sisa-sisa pakan yang berlebih.
Penyiponan dilakukan menggunakan selang kecil sebelum pemberian pakan di
pagi hari, sekitar pukul 6:00 7:00 WIB. Air siponan ditampung dengan
menggunakan ember, hal ini untuk menampung larva yang mungkin ikut tersipon.
Perlakuan untuk mengambil larva yang ikut tersipon adalah dengan memutar air
pada ember agar kotoran mengumpul ditengah dan dapat dengan mudah sipon
kembali, larva akan berenang melawan arus putaran air sehingga dapat dengan
mudah diambil dengan menggunakan seser halus (Risna, 2011).
Penggantian air dilakukan pada hari ke 4 atau ke 5 masa pemeliharaan
larva atau tergantung kondisi air, selanjutnya dapat dilakukan 2 hari sekali.
Penggantian air dengan menggunakan selang yang telah diberi pengaman berupa
jaring halus agar larva tidak ikut tersedot, setelah air berkurang dinding wadah
bagian samping dan dasar dilap dengan menggunakan kain/spon bersih, setelah
dirasa cukup bersih baru dilakukan penambahan air media dengan menggunakan
air bersih yang telah diendapkan terlebih dahulu.Pengontrolan dilakukan setiap
hari untuk melihat keadaan kolam. Waktunya bisanbersamaan dengan pemberian
pakan tambahan. Saat pengontrolan keadaannya harus diamati dengan cermat,
agar setiap kejadian dapat segera ditangani. Bila ada bocoran pada pematang,
segera diperbaiki agar ketinggian air dapat dipertahankan dan larva atau benih
tidak terbawa arus air (Harbowo, 2011).
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin
menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama
serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan
karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan
hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa
ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain
berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil
yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal
mencari makan dan memperoleh oksigen. Untuk menghindari serangan hama
pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai.

Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarangnya


hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar
lokasi dibersihkan secara rutin (Arnelli, 2010).
Penyakit yang sering menyerang ikan patin terdiri dari dua golongan yaitu
penyakit infeksi yang timbul karena gangguan organisme patogen dan penyakit
non infeksi yang timbul karena organisme lain. Penyebab penyakit infeksi adalah
parasit, bakteri dan jamur yang dapat menular. Sedangkan penyebab penyakit non
infeksi adalah keracunan dan kekurangan gizi. Parasit dapat dikendalikan dengan
metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc
air). Pengendalian jamur menggunakan malachyt green oxalate sejumlah 2 3 g/m
air (1 liter) selama 30 menit. Sedangkan Penyakit bakteri dapat dibasmi dengan
merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 3060
menit, Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5- 10 ppm selama 1224 jam atau
merendam dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam (Sudiyono, 2010).
Pengontrolan dan perawatan wadah budi daya perlu diperhatikan secara
periodik. Setiap kali selesai panen, jaring harus diangkat dan bila ada bagianbagian jaring yang rusak atau sobek, sesegera mungkin diperbaiki atau diganti.
Apabila hal ini tidak dilakukan maka ikan akan lolos dari jaring atau hama dapat
masuk ke dalam jaring dan memangsa ikan peliharaan. Pengontrolan serupa juga
pelu dilakukan untuk peralatan lainnya seperti pelampung, kerangka keramba dan
tali temali. Kerusakan jaring biasanya lebih banyak disebabkan oleh jasad
penempel sehingga bila terlihat ada binatang tertentu yang menempel pada jarring
segera dibuang. Bagian yang berlumut atau tertutup lumpur harus dibersihkan.
Sampah-sampah yang menempel juga dibersihkan agar tidak mengganggu aliran
air yang masuk atau keluar (Anto, 2008).

BAB VI
PANEN DAN PASCAPANEN

6.2 Panen
Pemanenan benih dilakukan setelah masa pemeliharaan berakhir. Caranya
adalah dengan mengeringkan air kolam secara perlahan-lahan, yaitu dengan
membuka papan pintu air. Mula-mula saringan dipasang di depan pintu
pengeluaran, ambil papan yang paling atas dan biarkan airnya terbuang hingga
mencapai ketinggian papan di bawahnya. Sambil menunggu air kolam surut,
benih sedikit demi sedikit ditangkap dengan waring, dimasukan dalam ember,
kemudian ditampung dalam hapa yang dipasang tidak jauh dari tempat panen.
Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam hapa tersebut selama 1
malam agar kondisinya tubuhnya pulih kembali. Air yang masuk ke kolam
penyimpanan hapa harus bersih agar tidak mengotori air dalam hapa. Bila kondisi
kurang aman sebaiknya benih dipindah ke dalam bak atau hapa lainnya yang
dipasang di tempat yang terjamin keamanannya, misalnya di dalam ruangan
(indoor hatchery) (Maskuro, dkk., 2012).
Menurut Anto (2008), berikut disajikan data pertumbuhan benih hasil
pendederan di kolam dalam setiap minggu. Ukuran benih yang dihasilkan
tergantung dari kesuburan kolam, dan cara pengelolaan. Namun pada umumnya
benih yang dihasilkan dari kegiatan pendederan adalah 10 12 cm (berat antara 9
11 gram).

Umur (Minggu)

Panjang (cm

Berat (gram)

2-3

1-3

0.1-0.5

3-4

3-5

0.5-2.5

4-6

5-8

2.5-10

6-9

8-12

10-20

9-12

12-20

100-100

Tabel Tingkat Pertumbuhan Benih

Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski
terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan
tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Untuk pemanenan ikan
di keramba, dilakukan dengan menggunakan serok atau alat tangkap lainnya.
Penanganan saat pemanenan harus hati-hati dan menghindari adanya luka karena
dapat

menurunkan mutu dan harga jual ikan.

Penangkapan langsung

menggunakan tangan sebaiknya tidak dilakukan karena tangan bisa terluka


terkena patil atau duri sirip ikan. Untuk menjaga mutu ikan yang dipanen, sehari
sebelum dipanen biasanya pemberian pakan dihentikan (diberokan). Ikan patin
yang dipanen dimasukkan dalam wadah yang telah diisi dengan air jernih
sehingga ikan tetap hidup dan tidak stress (Risna, 2011).
Pada umumnya panen pada pembesaran ikan patin dapat dilakukan setelah
6 12 bulan pada saat ikan mencapai ukuran berat satu kilogram. Ikan patin yang
dipelihara di karamba jaring apung dengan ukuran awal 5 inci membutuhkan
waktu selama 6 8 bulan untuk mencapai ukuran satu kilogram. Pemanenan
dilakukan secara selektif karena pertumbuhan ikan tidak seragam. Cara panen
ikan patin adalah dengan menggunakan serok atau alat tangkap lainnya.
Penanganan saat pemanenan harus hati-hati dan menghindari adanya luka karena
dapat

menurunkan mutu dan harga jual ikan.

Penangkapan langsung

menggunakan tangan sebaiknya tidak dilakukan karena tangan bisa terluka


terkena patil atau duri sirip ikan. Untuk menjaga mutu ikan yang dipanen, sehari
sebelum dipanen pemberian pakan dihentikan (diberokan) (Arnelli, 2010).

6.2 Pascapanen
Menurut Yanto (2012), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan
benih adalah sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak
cacat. Setelah itu benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem
tertutup) atau keramba (sistem terbuka).

b. Air yang dipakai media pengangkutan harus benih sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainnya, sebagai contoh dapat digunakan air
sumur yang telah di aerasi.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok (dipuasakan) dahulu selama
beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih
dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m
x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 50006000 ekor dengan ukuran 3-5 cm.
Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1) Sistem Terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa bak . Setiap keramba
dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih
ukuran 3-5 cm.

Gambar 11. Penampungan atau Pengangkutan Ikan


2) Sistem Tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu
lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan
terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(HPO)4 H2O sebanyak 9 gram.
Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik: 1) masukkan
air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih, 3) hilangkan udara dengan

menekan kantong plastik ke permukaan air, 3) alirkan oksigen dari tabung


dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air :
oksigen = 1 : 2), 4) kantong plastik lalu diikat, 5) kantong plastik dimasukkan ke
dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang
0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Gambar 13. Packing

Gambar 14. Transportasi Ikan

Menurut Marganof (2005), berapa hal yang perlu diperhatikan setelah


benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut :
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10
liter air bersih).

- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat
sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi
perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2
menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih
ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan
tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut..
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya. Pengemasan
benih harus dapat menjamin keselamatan benih selama pengangkutan.
Menurut Risna (2011), penanganan pascapanen ikan patin dapat juga
dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.
1) Penanganan ikan hidup
Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam
keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 oC.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat
(2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun
pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau
fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum
50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan
disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan
seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara
ikan dengan penutup kotak.

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Pendederan ikan patin adalah kegiatan memelihara larva yang berasal dari
kolam penetasan hingga mencapai benih yang siap dipelihara di tempat
pembesaran. Benih ini disebut sangkal, yaitu benih yang berukuran 10 12 cm,
dan memiliki berat rata-rata 10 gram. Kegiatan ini dilakukan di kolam selama 14
sampai 30 hari. Persiapan kolam pada kegiatan pendederan terdiri dari
pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar, perbaikan kemalir,
pengapuran, pemupukan, serta pengairan.
Penebaran larva atau benih dilakukan pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu
antara pukul 06.00 07.00. Tujuannya agar larva atau benih tidak stress akibat
suhu tinggi. Sebelum ditebar ke dalam kolam maka perlu dilakukan aklimatisasi
yaitu menyamakan suhu kantong dengan suhu kolam. Padat tebar pendederan
antara 100200 ekor/m2, agar jumlahnya diketahui, sebelum ditebar larva atau
benih dihitung terlebih dahulu. Pakan tambahan diberikan setelah 4 hari dari
penebaran, Pemberiannya dilakukan 2 kali dalam sehari, yaitu pada pukul 09.00
dan pukul 15.00.
Selama masa pemeliharan setiap pagi harus dilakukan penyiponan yang
bertujuan untuk membuang feses ikan dan sisa-sisa pakan yang berlebih.
Penyiponan dilakukan menggunakan selang kecil sebelum pemberian pakan di
pagi hari, sekitar pukul 6:00 7:00 WIB. Air siponan ditampung dengan
menggunakan ember, hal ini untuk menampung larva yang mungkin ikut tersipon.
Perlakuan untuk mengambil larva yang ikut tersipon adalah dengan memutar air
pada ember agar kotoran mengumpul ditengah dan dapat dengan mudah sipon
kembali, larva akan berenang melawan arus putaran air sehingga dapat dengan
mudah diambil dengan menggunakan seser halus.
Pemanenan benih dilakukan setelah masa pemeliharaan berakhir. Caranya
adalah dengan mengeringkan air kolam secara perlahan-lahan, yaitu dengan
membuka papan pintu air. Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam
hapa tersebut selama 1 malam agar kondisinya tubuhnya pulih kembali. Air yang

masuk ke kolam penyimpanan hapa harus bersih agar tidak mengotori air dalam
hapa. Pengangkutan benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang
lama dapat menggunakan keramba.
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin
menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama
serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan
karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan
hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa
Ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama
lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora)
Penangkapan langsung menggunakan tangan sebaiknya tidak dilakukan
karena tangan bisa terluka terkena patil atau duri sirip ikan. Untuk menjaga mutu
ikan yang dipanen, sehari sebelum dipanen biasanya pemberian pakan dihentikan
(diberokan). Ikan patin yang dipanen dimasukkan dalam wadah yang telah diisi
dengan air jernih sehingga ikan tetap hidup dan tidak stress.
Pada umumnya panen pada pembesaran ikan patin dapat dilakukan setelah
6 12 bulan pada saat ikan mencapai ukuran berat satu kilogram. Ikan patin yang
dipelihara di karamba jaring apung dengan ukuran awal 5 inci membutuhkan
waktu selama 6 8 bulan untuk mencapai ukuran satu kilogram. Pemanenan
dilakukan secara selektif karena pertumbuhan ikan tidak seragam. Cara panen
ikan patin adalah dengan menggunakan serok atau alat tangkap lainnya.

7.1 Saran
Dalam memulai kegiatan pembudidayaan ikan patin sebaiknya mengikuti
petunjuk atau penuntun yang telah ada sebelumnya agar hasil yang diperoleh lebih
maksimal dan resiko kegagalan usaha dapat diminimalisir sedini mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Arnelli. 2010. Pemberian pakan ikan Budidaya Air Tawar dan Pengaruhnya
Terhadap Lingkungan Perairan . Jurnal Kimia Sains. Volume. XIII, nomor
2. Laborarium Kimia Fisik. Jurusan Kimia Fakultas Mipa. Universitas
Diponegoro, Semarang.
Anto, K. 2008. Agribisnis Patin. Fakultas FMIPA. Jurusan Biologi. Universitas
Brawijaya, Malang.
Harbowo, D. G. 2011. Pengaruh Limbah Cair Perawatan Candi Borobudur
Terhadap Fisiologis Ikan Mas (Cyprinus Caprio). Program Studi Jurusan
Biologi. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Lina, 2010. Teknik Budidaya Ikan Patin Dalam Skala terkontrol. [DISERTASI]
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Program Studi Manajemen
Suberdaya Perairan. Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
Marganof, E. 2005. Pengaruh pembuangan limbah terhadap kualiatas Perairan
Danau Maninjau. [SKRIPSI] Fakultas FMIPA. Universitas Negeri
Semarang, Semarang.
Maskuro, A., Arizal, I. P., Ani, M. A., Corina, O., Nur, I. N. S dan Mega, W.
2012. Penyesuaian Hewan Poikilotermik terhadap Oksigen Lingkungan.
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Mipa. Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah, Jember.
Risna. 2011. Budidaya Ikan Patin (Pangasius djambal) dengan memperhatikan
aspek lingkungan dan Ketersediaan Pakan Alami. Fakultas Pertanian,
jurusan Budidaya Universitas Setia Budi, Jakarta.
Sudiyono, M. 2010. Sistem Pernafasan Ikan Patin. [MODUL]. Fakultas
Pertanian. Program studi manajemen Sumberdya Perairan. Universitas
Sriwijaya, Palembang.
Yanto, H. 2012. Kinerja MS-222 dan Kepadatan Ikan Botia (Botia macracanthus)
yang Berbeda Selama Transportasi. Jurnal Penelitian Perikanan. Volume I,
nomor 1 : 43-51. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNMUH,
Pontianak.
Yuliartati, E. Tingkat Serangan Ektoparasit Pada Ikan Patin (Pangasius
Djambal) Pada Beberapa Pembudidaya Ikan Di Kota Makassar. 2011.
[SKRIPSI] Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan. Program Studi Budidaya
Perairan. Jurusan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.