Anda di halaman 1dari 122

1

2

3

4 .

5 .

6 .

M. Seluruh sivitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana yang telah memberikan bimbingan.7 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepala pemerintahan Kabupaten Rote Ndao dan Staf beserta jajaran instansi terkait yang telah memberikan ijin dan bantuan selama melakukan penelitian. dalam memberikan masukan dan saran dalam penulisan skripsi sampai tahap ini. M. Kabupaten Rote”. 4. serta sebagai sumber motivasi penulis menempuh pendidikan. MMR. Bapak dr. Ibu Maria Agnes Etty Dedy. Apt selaku dosen pembimbing 2 dan penguji yang telah meluangkan waktu. S. Masyarakat Kecamatan Pantai Baru yang secara sukarela bersedia sebagai subjek dalam penelitian yang dilakukan penulis. karena atas berkat dan kasih karunia-Nya. Kecamatan Pantai Baru.Si. 3. Apt selaku penguji 3 yang telah meluangkan waktu. Teman-teman calon sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang Angkatan 2011 yang selalu menemani dan memberikan dukungan motivasi penulis selama menempuh pendidikan. 9.B. Ibu Magdarita Riwu. penulis juga mengucapkan terima kasih kepada : 1. 8. serta semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi sampai tahap ini.Farm. dan Oma Maria terima kasih untuk dukungan dan motivasi yang diberikan untuk menyelesaikan kuliah ini. . Semua sahabat.Farm. 7. J Koamesah. saudara. dalam memberikan masukan dan saran dalam penulisan skripsi. Saudaraku Melinda. Orang tua tercinta Bapak Frederik S.Haning dan Ibu Paulina Haning Ndolu yang selalu setia mendoakan dan mendukung penulis hingga menyelesaikan skripsi ini. S. 5. 2. MMPK selaku dosen pembimbing 1 dan penguji yang telah sabar membimbing dan menyediakan waktu. tenaga dan pikiran untuk mengarahkan dalam penulisan skripsi sampai tahap ini. penulis dapat menyelesaikan skripsi penelitian dengan judul “Analisis Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap Kejadian Diare di Puskesmas Korbafo. 6. pengetahuan dan bantuan selama penulis menempuh pendidikan. S.

8 Akhir kata. penulis berharap semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu. 1 April 2015 Penulis . Kupang.

9 ANALYSIS OF RISK FACTOR OF ENVIROMENTAL HEALTH FOR THE INCIDENCE OF DIARRHEA IN PUSKESMAS KORBAFO PANTAI BARU SUB-DISTRICT ROTE NDAO DISTRICT .

The study about “Analysis of Risk Factor of Environmental Health for The Incidence of Diarrhea in Puskesmas Korbafo Pantai Baru Sub-District Rote Ndao District 2014”. type of floor. Data analysis was performed univariate and bivariate with used chi square test and Odds Ratio. Keywords: Diarrhea. Results of the analysis showed no corellation between the supply of clean water (p = 0. puskesmas ANALISIS FAKTOR RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KORBAFO KECAMATAN PANTAI BARU KABUPATEN ROTE NDAO . S.117) and the incidence of diarrhea. It was recommended more leaflets and posters were made about the influence of environmental health on the incidence of diarrhea so that people were more vigilant and conducted surveillance and investigation of water supply from both government and private property. Maria Agnes Etty Dedy3. was held in August 2014. risk factor. enviromental health. It can be concluded there is a corr between the supply of clean water with diarrhea in Puskesmas Korbafo Pantai Baru Sub-district Rote Ndao District 2014. The study was conducted in an analytical observational of cases and controls design. The case group were patients in Puskesmas Korbafo who was diagnosed with diarrhea based on medical records in Puskesmas Korbafo in 2013. 1 Medical Faculty of Nusa Cendana University 2 IKM-IKKOM Departement of Medical Faculty of Nusa Cendana University 3 IKM-IKKOM Departement of Medical Faculty of Nusa Cendana University ABSTRACT Diarrhea was one of the tropical diseases and based environment became the third major contributor to morbidity and mortality in the world.J Koamesah2. Latrine ownership.M.000 and OR = 5. the ownership of wastewater disposal had no relationship with the incidence of diarrhea.10 Marchindy Paul Adrian Haning1. while the control sample was a sample nearest neighbors in the same case.

Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan rancangan kasus dan kontrol... kepemilikan sarana pembuangan air limbah tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare.i . Kata Kunci : Diare... S. sedangkan sampel kontrol merupakan tetangga terdekat sampel kasus di lingkungan yang sama. Kepemilikan jamban.............. Sampel Kasus adalah penderita Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo yang dinyatakan menderita diare berdasarkan rekam medik di Puskesmas Korbafo pada tahun 2013...... Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara penyediaan air bersih (p = 0.. faktor risiko... Penelitian “Analisis Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan Terhadap Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kecamatan Rote Ndao Tahun 2014”.......000 dan OR = 5....117) dengan kejadian diare..... dilaksanakan pada bulan Agustus 2014......M....... Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao Tahun 2014... Disarankan semakin banyak leaflet dan poster yang dibuat mengenai pengaruh kesehatan lingkugan terhadap kejadian diare sehingga masyarakat lebih waspada serta melakukan pengawasan dan investigasi terhadap penyediaan air bersih baik dari pemerintah maupun milik pribadi...J Koamesah2.11 Marchindy Paul Adrian Haning1........... puskesmas DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............... jenis lantai........ Maria Agnes Etty Dedy3 1 Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana 2 Departemen IKM-IKKOM Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana 3 Departemen IKM-IKAKOM Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana ABSTRAK Penyakit diare merupakan salah satu penyakit tropis yang berhubungan dengan lingkungan sebagai penyumbang utama ketiga pada angka kesakitan dan kematian di dunia........ kesehatan lingkungan. Analisis data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan uji chi square dan Odds Ratio..

....................3......................................4...................................................................................... Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL).....................xi DAFTAR TABEL........19 2......................... Faktor Manusia (host)..........................3...................................x DAFTAR ISI................v SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI MANUSKRIP.......16 2.................................................................................2............................ Pencegahan Diare........................ Tujuan Penelitian.....2.............4............................1...............3...................................xiv DAFTAR SINGKATAN....................................................... Penyediaan Air Bersih...........................1..........1........................ Hipotesis.......2........................... Kesehatan Lingkungan..............23 2.....................................................vi HALAMAN PENGESAHAN MANUSKRIP....................................................2......................................................................................... Etiologi..3.........2...................1 Sumber Air Minum........9.................................................17 2.............................8..1..................................... Penanggulangan Diare....................7 2..4 1.........1.........................................................12 2............... Klasifikasi Diare......1.7.....................18 2.................................. Pengertian......................................... Latar Belakang...8 2.............................................................16 2...................................................ix ABSTRAK....................................... Kepemilikan Jamban.............................iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI...........................................17 2..........3.................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.........................................................................xii DAFTAR GAMBAR..................................14 2...............1.................................................................................vii KATA PENGANTAR........................xiii DAFTAR SKEMA..................... Faktor Lingkungan (environtment)................................ Kesehatan Lingkungan Dengan Diare.....................................................9 2..........1...............1.......2...... Jenis Lantai Rumah........................................................................................3...............13 2.......... Faktor Penyebab (agent)................................................................2 Kualitas Fisik Air Bersih.viii RIWAYAT HIDUP........................ Prinsip Tatalaksana Penderita Diare..............................10........... Gejala Diare................2.................................................................. Epidemiologi Diare....1..............................................1.....................28 2..............xv BAB 1 PENDAHULUAN 1................ Perilaku Kesehatan......7 2...........................15 2..........................6............6...............3..................20 2..........6 2.......................................5................1...............................................................................................5..................... Patomekanisme Diare.....1................. Manfaat Penelitian............................6 2............................................................................................................................3..........1................ Penularan Diare.....................................................ii HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI...........1....................................4..3. Kerangka Teori.......................15 2.........4..........................1.......................................................12 HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI...........................................3................ Diare..................................6 2..2....................................23 2.....................................................................32 BAB III METODE PENELITIAN ...................................1.....30 2...............................3..............iii HALAMAN PERNYATAAN LEMBAR ORISINALITAS..............10 2.4 1............ Rumusan Masalah..................1 1.......

.........61 Lampiran 1.....1.............................1 Letak Geografis..................................................................................................................45 4...............................................................2 Karakteristik Responden.......................1 Gambaran Umum...................................................................................................................... Lokasi dan Waktu................................................................................................... 4....1...................................................................34 3....................................................................................................3 Analisis Faktor Risiko..63 Lampiran 3.......45 4..................................2....................46 4.......73 Lampiran 7....................................................................36 ..................8.......46 4...........3 Kependudukan..................................................................................................................................5.....................................................................................................10....................... Populasi dan Sampel.....................................................................................................5 Perumahan......................................................................67 Lampiran 6.....................................43 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.......................1............................................................40 3...........................................................................................................2............................................................6........62 Lampiran 2.................... Kerangka Konsep.......2..............37 3................ Analisis Data.....................89 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3...........36 3............................. Definisi Operasional...........................2..................13 3.57 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................35 3.......................3............................47 4........................................3..................1...........................7....65 Lampiran 4...........................33 3.......................................................... Jadwal Kegiatan...............2 Distribusi Responden Menurut Kelompok Usia........................1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin.................................................................46 4...57 6...........................................................4 Keterbatasan Penelitian...................2 Saran......1 Simpulan.....................................4 Pelayanan Kesehatan......................................66 Lampiran 5..........44 4....................................................44 4...............59 LAMPIRAN..........1.......78 Lampiran 8.1..9.......................3........... Kriteria Inklusi dan Eksklusi...............................................................................................................................................39 3...................................................41 3.........................................................................................................2 Luas Wilayah..4.............3 Distribusi Responden Menurut Penemuan Kasus Diare........................................2.................... BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6...................... 4..................85 Lampiran 9.............. Hubungan Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan Dengan Kejadian Diare......................................1............................................1 Gambaran Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan Dengan Kejadian Diare.47 4...................................................................................................................................................................... Jenis dan Rancangan Komponen Penelitian............44 4.................36 3................ Definisi Operasional..................................................45 4................................. Alur Penelitian dan Cara Kerja......................................................... Identifikasi Variabel................

14

Tabel 3.2. Jadwal Kegiatan................................................................................43
Tabel 4.1. Nama Desa dan Luas Wilayah di Puskesmas Korbafo
Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2013.......................44
Tabel 4.2. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin.................................46
Tabel 4.3. Distribusi Responden Menurut Keompok Usia................................46
Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Tempat Penemuan Kasus Diare......47
Tabel 4.5. Gambaran Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan dengan
Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo
Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014.......................48
Tabel 4.6. Distribusi Penyediaan Air Bersih dengan Kejadian Diare di
Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai
Baru Kabupaten Rote Ndao 2014.....................................................50
Tabel 4.7. Distribusi Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare di
Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru
Kabupaten Rote Ndao 2014..............................................................52
Tabel 4.8. Distribusi Jenis Lantai Rumah dengan Kejadian Diare di
Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan
Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014.........................................53
Tabel 4.9. Distribusi Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah
dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas
Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014.........55
Tabel 4.10. Hasil Perhitungan Analisis Bivariat dengan Uji Chi-Square
Faktor Kesehatan Lingkungan dengan
Kejadian Diaredi Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo
Kecamatan Pantai Baru Kabupaten
Rote Ndao 2014................................................................................56

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1.Segitiga Epidemiologi (Leavel dan Clark, 1958)...............................15

15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

16

Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling
berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan sendiri. Banyak faktor
yang mempengaruhi kesehatan yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan,
dan hereditas.(1) Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang
harus ada antara manusia dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat
dari manusia. Termasuk keseimbangan di dalam lingkungan manusia tinggal dan
bermukim.(2)
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit tropis yang berhubungan
dengan lingkungan sebagai penyumbang utama ketiga pada angka kesakitan dan
kematian di dunia. Diare menyebabkan 15-34 % kematian di seluruh dunia,
kurang lebih 300 kematian per tahun.(3) {Formatting Citation}{Formatting
Citation} Hampir seluruh daerah geografis dunia dan semua kelompok usia
diserang diare, tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi paling banyak
didapatkan pada bayi dan anak balita.(4,5)
Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi
pendorong terjadinya diare yaitu faktor agen, pejamu, lingkungan dan perilaku.
Penyakit diare berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan, akses terhadap air
bersih, perilaku hidup sehat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh
masyarakat. Rendahnya cakupan kebersihan sanitasi seperti sarana penyediaan air
bersih dan pembuangan tinja sering menjadi faktor risiko terjadinya KLB diare.(6)
Badan Kesehatan Dunia memperkirakan empat milyar kasus diare yang
terjadi di dunia pada 2000. Sebanyak 2,2 juta penderita meninggal dari empat
milyar kasus diare yang ada dan sebagian besar anak-anak di bawah umur lima

dengan keadaan topografinya yang terdiri dari pantai.3%.(9) Hasil penelitian Zaenal Abidin tentang faktor risiko kesehatan lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian diare (studi diare akut pada balita di .(7) Menurut laporan Profil Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perkiraan kasus diare Provinsi NTT 2011 berjumlah 200.(8) Puskesmas di Kabupaten Rote Ndao berjumlah 12 buah dan dari jumlah kasus yang terjadi.92%. dengan dua kabupaten yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu Kabupaten Rote Ndao dan Manggarai. yang ditangani sebanyak 106.046 kasus atau sebesar 55.17 tahun.721 kasus.098 kasus dengan CFR sebesar 2.239 kasus dengan CFR sebesar 1. Selanjutnya diikuti oleh Demam Berdarah Dengue (DBD) sebanyak 79. diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak pada pasien rawat inap pada 2010 yaitu sebanyak 96. persawahan. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao menyatakan bahwa distribusi kasus diare berdasarkan puskesmas di Kabupaten Rote Ndao sebesar 4. bukit. yang wilayah kerjanya tersebar di satu kelurahan dan lima desa. dan rawa.142 kasus pada 2013. Pada 2012.5%.193 kasus atau sebesar 51. Puskesmas Korbafo merupakan puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao. yang ditangani sebanyak 111. pada 2012 jumlah kasus sebanyak 388 kasus dan pada 2013 jumlah kasus penyakit diare menjadi 479 kasus.216 kasus. hutan.06%.986 kasus pada 2012 dan meningkat menjadi 5. Di Indonesia.278 kasus dengan angka kematian Case Fatality Rate (CFR) sebesar 1.29% dan demam tifoid dan paratifoid sebanyak 55. perkiraan kasus diare berjumlah 206. puskesmas Korbafo jumlah peningkatan kasusnya paling tinggi dibandingkan dengan puskesmas yang lain yaitu terjadi peningkatan sebanyak 91 kasus pada 2013.

3.18 Kabupaten Lampung Selatan) didapatkan faktor risiko yang berhubungan antara lain sumber air permukaan. kondisi SPAL. kondisi jamban.Tujuan Khusus . 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah sanitasi jamban.2. kondisi tempat sampah dan jenis konstruksi rumah. Tujuan Umum Mengetahui dan menganalisis faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo 2014.(11) Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare di Puskesmas Korbafo 2014. tingkat risiko pencemaran sumber air. kualitas mikrobiologis air bersih. 1.(10) Penelitian yang dilakukan Wibowo Sapta tentang faktor risiko kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Citamiyang. 1. Tujuan Penelitian 1. sarana pembuangan air limbah (SPAL). cara pengambilan air. jenis SPAL. jenis jamban. kuantitas air.2.1.3.3. Kota Sukabumi didapatkan 12 variabel yang berhubungan dari 16 variabel yang diteliti yaitu: jenis sarana air bersih. maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Faktor risiko kesehatan lingkungan apa saja yang berhubungan dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo”. jenis tempat sampah. dan keberadaan kandang ternak disekitar rumah (<10 m). tempat penyimpanan air bersih terbuka. jenis SPAL dan keberdaan sampah.

4. 4. . 1.19 1. Bagi masyarakat Menambah pengetahuan masyarakat mengenai diare dan faktor risiko kesehatan lingkungan yang mempengaruhinya. Bagi Peneliti Sebagai bahan informasi dan pengetahuan berkaitan dengan kejadian diare dan faktor risiko kesehatan lingkungan yang mempengaruhinya. Bagi tempat penelitian (Puskesmas Korbafo) Memberikan informasi tentang faktor risiko kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian diare kepada tenaga medis di Puskesmas Korbafo sehingga diharapkan dapat dilakukan upaya pencegahan yang bisa menekan angka kejadian diare. Mengetahui dan menganalisis hubungan faktor risiko kepimilikan sarana pembuangan air limbah (SPAL) terhadap kejadian diare.3. 1. Mengetahui dan menganalisis hubungan faktor risiko lantai rumah terhadap kejadian diare.5.2. Bagi subyek penelitian Dapat menjadi tambahan pengetahuan tentang faktor risiko kesehatan lingkungan yang mempengaruhi kejadian diare sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap kejadian penyakit ini.4. 2. Mengetahui dan menganalisis hubungan faktor risiko penyediaan air bersih terhadap kejadian diare. 1.4. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di dalam penanggulangan penyakit infeksi khususnya diare. Mengetahui dan menganalisis hubungan faktor risiko kepemilikan jamban terhadap kejadian diare. Manfaat Penelitian 1. 1. 3.1.4.4. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar-dasar bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao untuk dapat mencari solusi atau upaya-upaya kesehatan dalam menekan angka kejadian diare di Kabupaten Rote Ndao.4.4. 1.

Akibat diare akut adalah dehidrasi.1. Pengertian Diare adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat). yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus.(12) 2. Akibat disentri adalah anoreksia. 3.1. yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Diare akut.1. . Diare persisten. jenis diare dibagi menjadi empat yaitu:(13) 1. Diare 2. penurunan berat badan dengan cepat. 2.20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Disentri. kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa. kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.2. sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. Klasifikasi Diare Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) 2005.1. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.

3. 7. Gejala Diare 2.1. 8. Virus: Rotavirus. Norwalk virus Terkhususnya di Negara berkembang penyebab paling seringnya Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC). iskemik dan sebagainya. Rotavirus. 9. 2. Etiologi Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% berat badan (BB)) gambaran klinisnya turgor kurang. 6.1. Anusnya lecet. suara serak. T. seperti demam. perfringens 2. 2. Parasit: Protozoa: Shigella dysentriae.21 4. Salmonella para typhi A/B/C. Derajat Dehidrasi 1.Salmonella typhi. chlolerae. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu.1. Dehidrasi. bahan-bahan toksik.2.sollium 3. Entamoeba Vibriae hystolitica. Giardia Clostridium lamblia.duodenale. berlendir. A. Diare akut karena infeksi dapat ditimbulkan oleh:(14) 1. 2.1. Muntah sebelum atau sesudah diare. Cacing: A.4. Diare dengan masalah lain. Vibrio cholera. ujung-ujung ekstremitas dingin. Salmonella spp. yaitu anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten). gangguan gizi atau penyakit lainnya. dan 10. Demam. 5.4. T.lumbricoides.4. Gangguan gizi akibat asupan makan yang berkurang. . Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah). Bakteri: Eschericia Coli.3. Nyeri perut sampai kejang perut.saginata. Adenovirus. muka pucat.1. Gejala diare yaitu:(15) 1. atau berdarah. sedangkan sekitar 10% karena sebab-sebab lain antara lain obat-obatan. mungkin juga disertai dengan penyakit lain. pasien belum jatuh dalam presyok. 2. Tinja encer. Gelisah. 4.

otototot kaku.6. campak. dimana faktor lingkungan dan perilaku dapat menimbulkan kejadian diare melalui makanan dan minuman. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Faktor lingkungan dan perilaku. nadi cepat. dan buang air besar sembarangan.(12) 3. Sindrom Zollinger-Ellison(12). suara serak. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar melalui fekaloral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. adalah sebagai berikut 1.1. Dua faktor yang dominan. Penularan penyakit diare melalui jalur fekal-oral yang terjadi karena: . Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap beberapa penyakit dan lamanya diare yaitu riwayat penyakit neuropati autonomik. napas cepat dan dalam. pasien jatuh dalam presyok ata syok. antara lain menggunakan air minum yang tercemar.5. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Penularan Diare Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. kurang gizi. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% BB) gambaran klinisnya tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma. immunodefisiensi.1. Epidemiologi Diare Epidemiologi penyakit diare. Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. sianosis). 2.(13) 2.22 2.(13) 3. dan 3. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB) gambaran klinis turgor buruk. menggunakan air minum yang tercemar. tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sebelum dan sesudah makan.

Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. baik tercemar dari sumbernya. Melalui tinja yang terinfeksi.7. dan lingkungan hidup lainnya.1. disentri basiler.(1) 2. yaitu: menggunakan air minum yang tercemar. maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya. Pencemaran ini terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan(16).23 1. Melalui air yang sudah tercemar. tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sebelum dan sesudah makan. atau tercemar pada saat disimpan di rumah.(16) Sedangkan menurut Depkes RI kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fekal-oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. serta menggunakan air minum yang tercemar(16). Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap dimakanan. Patomekanisme Diare .(17) Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. 3. Lantai rumah yang berdebu dan basah menimbulkan sarang penyakit serta perilaku penghuni rumah tidak sesuai dengan norma-norma kesehatan seperti tidak membersihkan lantai dengan baik. tanah. seperti: kolera. dan buang air besar sembarangan. tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah. dan diare serta sebagai sumber pencemaran air permukaan. Melalui air limbah yang tidak diolah dengan baik dapat mencemari lingkungan hidup menjadi transmisi berbagai penyakit. dan 4. maka akan menyebabkan terjadinya penularan penyakit termasuk diare(1). tifus abdominalis. 2.

. Malabsorbsi asam empedu. pasca vagotomi. Gangguan permeabilitas usus disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus. 2. 3. K+ ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal. disebabkan karena meningginya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik magnesium sulfat (MgSO4). malabsorpsi glukosa/galaktosa. malabsorbsi lemak disebabkan oleh gangguan pembentukan/produksi empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati. Penyebab gangguan motilitas anatara lain: diabetes mellitus. penyakit yang menghasilkan hormon. malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus misalnya pada defisiensi disaridase. reseksi ileum (gangguan absorpsi garam empedu). 5. Diare ini secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali dan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum. Osmolaritas intraluminal yang meninggi atau diare osmotik. 6. Motilitas dan waktu transit usus abnormal disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus. dan efek obat laksatif (dioktilnatriumsulfosuksinat dan lain-lain). Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera atau Escherichia coli.24 Diare disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme sebagai berikut: (12) 1. serta menurunnya absorpsi. hipertiroid. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+. 4. magnesium hidroksida (Mg(OH)2).

Mekanisme absorpsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat. Infeksi dinding usus. serta klorida). diare oleh bakteri dibagi atas non-invansif (tidak merusak mukosa) dan invansif (merusak mukosa).25 7. yang disebut diare toksigenik. Prinsip Tatalaksana Penderita Diare Intervensi untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian adalah melaksanakan tatalaksana penderita diare. Inflamasi dinding usus. yang lalu membentuk adenosine monofosfat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air. disebut diare infeksi disebabkan oleh infeksi bakteri. Inflamasi mukosa usus disebabkan infeksi (disentri shigellosis) atau non infeksi (kolitis ulseratif dan penyakit Crohn). Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorpsi secara aktif oleh dinding sel usus.8. sehingga terjadi produksi mukus yang berlebihan dan eksudat air dan elektrolit kedalam lumen. yaitu: (13) 1. disebut diare inflamatorik yang disebabkan oleh adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi.1. dan 8. air. ion kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorpsi ion natrium (diiringi oleh air. Bakteri non-invansif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri tersebut. Mencegah terjadinya dehidrasi Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan. Dari sudut kelainan usus. . 2. ion kalium dan ion bikrabonat. Contoh diare toksigenik yaitu kolera. gangguan absorpsi air-elektrolit. natrium. dan kation natrium dan kalium. ion bikarbonat. Enterotoksin yang dihasilkan kuman Vibrio cholare/eltor merupakan protein yang dapat menempel pada epitel usus.

3.1. dengan tetap mengutamakan rehidrasi. Setelah diare berhenti. Memberi makanan Memberikan makanan selama serangan diare sesuai yang dianjurkan dengan memberikan makanan yang mudah dicerna. 3. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI. Penemuan kasus secara aktif Tindakan untuk menghindari terjadinya kematian di lapangan karena diare pada saat KLB di mana sebagian besar penderita berada di masyarakat. maka diberikan pengobatan sesuai anjuran. yaitu dengan oralit. 2. Mengobati dehidrasi Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak). pemberian makanan diteruskan selama dua minggu untuk membantu pemulihan berat berat badan anak.26 2. penderita harus segera dibawa ke petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang lebih cepat dan tepat. Pembentukan pusat rehidrasi .9. Mengobati masalah lain Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain. 2. penanggulangan diare antara lain:(13) 1. Pengamatan intensif dan pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data tentang jumlah penderita dan kematian serta penderita baru yang belum dilaporkan dengan melakukan pengumpulan data secara harian pada daerah fokus dan daerah sekitarnya yang diperkirakan mempunyai risiko tinggi terjangkitnya penyakit diare. 4. Sedangkan pelaksanaan SKD merupakan salah satu kegiatan dari surveilans epidemiologi yang kegunaanya untuk mewaspadai gejala akan timbulnya KLB diare. Penanggulangan Diare Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2005.

Pengelolaan tinja dengan tepat terutama pembuatan jamban sehat. ubin. Perbaikan sanitasi lingkungan seperti penggunaan lantai yang kedap air (semen. Penyelidikan terjadinya KLB Penyelidikan terjadinya KLB merupakan kegiatan yang bertujuan untuk pemutusan mata rantai penularan dan pengamatan intensif baik terhadap penderita maupun terhadap faktor risiko. Penyediaan logistik saat KLB Penyediaan logistik saat KLB dilakukan agar tersedianya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penderita pada saat terjadinya KLB diare. Penggunaan jamban yang benar.27 Tempat untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan pada keadaan tertentu misalnya lokasi KLB jauh dari puskesmas atau rumah sakit.1. 4. Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan dan buang air besar (BAB). atau keramik) atau lantai rumah dari tanah agar tidak berdebu maka dilakukan penyiraman air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat dan dilakukan berkali-kali. penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan antara lain:(13) 1. 6. dan . 4. Penggunaan air bersih yang cukup. 5.Pencegahan Diare Menurut Departemen Kesehata Republik Indonesia 2005. 3. Penularan penyebab KLB Upaya pemutusan rantai penularan penyakit diare pada saat KLB diare meliputi peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan penyuluhan kesehatan. 5. 2. 2.10.

1. atau kematian pada manusia.(1) Host Environtment Agent Gambar 2. ketiga komponen tersebut seimbang atau dengan kata lain orang disebut sehat. obat-obatan. dan lingkungannya (environtment).28 6. Diare karena infeksi dapat ditimbulkan oleh:(14) . iskemik dan sebagainya. Dalam keadaan normal. kecacatan. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan. baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Pengelolaan air limbah yang baik agar tidak menjadi media pekembangbiakan mikroorganisme patogen. Tiga faktor tersebut disebut sebagai epidemiological triad yang terdiri dari penyakit (agent). yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri.(18) 2.2. Segitiga Epidemiologi (Leavel dan Clark. Kesehatan Lingkungan dengan Diare Masalah kesehatan merupakan suatu masalah yang sangat komplek. agen penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh manusia dan menimbulkan sakit. Faktor penyebab (agent) Faktor penyebab (agent) adalah penyebab dari penyakit diare bisa disebabkan oleh infeksi atau sebab-sebab lain seperti makanan-makanan yang terkontaminasi. manusia (host).2.1. ketidakmampuan.(1) 2. misalnya saat lingkungan hidup menurun sampai tingkatan tertentu.1958) Menurut Leavel dan Clark (1958) ditinjau dari sudut ekologis ada tiga faktor yang dapat menimbulkan suatu kesakitan. Apabila keseimbangannya terganggu. bahan-bahan toksik.

Parasit: Protozoa: Shigella dysentriae. A.2. Vibrio cholera.2. Adenovirus. Pemanfaatan dan perawatan jamban. dalam hal ini orang sehat. Entamoeba Vibriae hystolitica. Faktor Manusia (host) Faktor manusia (host) adalah organisme. pembuangan kotoran manusia (tinja). dan kepemilikkan sarana pembuangan air limbah (SPAL). perumhan yang dilihat dari jenis lantai rumah. Bakteri: Eschericia Coli.3. T. 2. Cacing: A. Penggunaan air yang tercemar.sollium 3.duodenale. Virus: Rotavirus.saginata. 2. chlolerae. Faktor Lingkungan (environtment) Faktor lingkungan (environtment) adalah variabel yang mendapat perhatian khusus untuk menilai kondisi kesehatan masyarakat. Rotavirus. seperti: 1. Norwalk virus Terkhususnya di negara berkembang penyebab paling seringnya Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC).2. perfringens 2.Salmonella typhi.3. Indikator yang berperan dalam kesehatan lingkungan yaitu penyediaan air bersih. 2. Salmonella para typhi A/B/C. dan 3.kepemilikan jamban sehat. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun sesudan dan sebelum makan serta setelah buang air besar. 2. Salmonella spp. Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan mencakup perumahan. T.29 1. Giardia Clostridium lamblia.lumbricoides. penyediaan air . Faktor yang mempengaruhi host yaitu perilaku kesehatan.

30

bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), rumah hewan
ternak (kandang), dan sebagainya.(1)
2.3.1.
Penyediaan Air Bersih
Air merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Kebutuhan manusia
akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mencuci, mandi, dan
sebagainya. Menurut perhitungan Badan Kesehatan Dunia di negara-negara maju
setiap orang memerlukan air antara 60 – 120 liter per hari. Sedangkan di negaranegara berkembang, termasuk Indonesia setiap orang memerlukan air antara 30 –
60 liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting
adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum
(termasuk untuk memasak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar tidak
menimbulkan penyakit bagi manusia diantaranya diare.(1)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah:(13)
1. Mengambil air dari sumber air yang bersih,
2. Mengambil dan menyimpan air menggunakan tempat yang bersih dan tertutup,
serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air,
3. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang, anakanak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum dengan sumber
pengotoran (tangki septik), tempat pembuangan sampah, dan air limbah harus
lebih dari 10 meter,
4. Menggunakan air yang direbus, dan
5. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.
2.3.1.1 Sumber Air Minum
Masyarakat membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari, yang dipasok dari
sumber air seperti:(1)
1. Air hujan atau Penampungan Air Hujan (PAH)
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini
tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum
yang sehat perlu ditambahkan kalsium di dalamnya.
2. Air sungai dan danau

31

Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau berasal dari air hujan
yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua
sumber air ini sering disebut air permukaan.
3. Mata air
Air yang keluar dari mata air biasanya berasal dari air tanah yang muncul
secara alamiah. Sumber air ini, bila belum tercemar oleh kotoran dapat
langsung dijadikan air minum, tetapi karena belum yakin akan kebersihannya,
maka sebaiknya air tersebut direbus terlebih dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah, maka disebut juga air tanah. Dalamnya lapisan
air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke tempat yang lain
berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari
permukaan tanah.
5. Air sumur dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan
tanah biasanya di atas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian besar air sumur
dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung
diminum tanpa melalui proses pengolahan.
2.3.1.2 Kualitas Fisik Air Bersih
Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan
tidak berbau. Syarat-syarat air minum yang sehat adalah sebagai berikut:(1)
1. Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tidak berwarna),
tidak berasa, tidak berbau, suhu dibawah suhu udara di luarnya, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari cara mengenal air yang memenuhi persyaratan
fisik tidak sukar.
2. Syarat Bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri,
terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum

32

terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel air
tersebut. Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari empat bakteri E.
coli, maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat Kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah
tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia di dalam air,
akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia seperti flour (1-1,5
mg/l), klor (250 mg/l), arsen (0,05 mg/l), tembaga (1,0 mg/l), besi (0,3 mg/l),
zat organik (10 mg/l), pH (6,5-9,6 mg/l), dan karbondioksida (CO2) (0 mg/l).
Kondisi fisik sarana air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan berdasarkan
penilaian inspeksi sanitasi dengan kategori tinggi dan amat tinggi dapat
mempengaruhi kualitas air bersih dengan adanya pencemaran air kotor yang
merembes ke dalam air sumur.(19)
2.3.2.
Kepemilikan Jamban
Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang pokok
untuk sedini mungkin diatasi. Karena kotoran manusia (tinja) adalah sumber
penyebaran penyakit yang multikompleks. Benda-benda yang terkontaminasi oleh
tinja dari seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu, sudah barang
tentu akan menjadi penyebab penyakit bagi orang lain. Kurangnya perhatian
terhadap pengelolaan tinja akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit yang
ditularkan melalui tinja. Maka bila pengelolaan tinja tidak baik, jelas akan mudah
tersebar. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain:
tifus, disentri, diare, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang,
pita), schistomiasis, dan sebagainya. Jamban merupakan sarana yang digunakan
masyarakat sebagai tempat buang air besar, atau tempat pembuangan tinja,

Lama pemakaiannya antara 5-15 tahun. 9. yaitu:(17) 1. diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. binatang lainnya. Mudah digunakan dan dipelihara. agar berfungsi dengan baik. 7. Bila permukaan penampungan tinja sudah mencapai kurang lebih 50 cm dari permukaan tanah. Murah. 3. dan dapat ditembok ataupun tidak agar tidak mudah ambruk. 2. 6. Jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan. sedangkan lubangnya dapat dipergunakan kembali. kenyamanan dan kesehatan. perlu pemasukan air setiap hari. dan Dapat diterima oleh pemakainya. Aqua-privy (Cubluk berair) Terdiri atas bak yang kedap air. Macam-macam jamban atau tempat pembuangan tinja.33 sehingga jamban sangat potensial sebagai penyebab timbulnya berbagai gangguan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Proses pembusukannya sama seperti halnya pembusukan tinja dalam air kali. kecoak. Isinya digali kembali untuk pupuk. Pit-privy (Cubluk) Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80–120 cm sedalam 2. Sederhana desainnya. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya. Ditunggu 9-12 bulan. Cubluk yang penuh ditimbun dengan tanah. Untuk cubluk ini. Tidak menimbulkan bau. Tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut. dianggap cubluk sudah penuh. Dindingnya diperkuat dengan batu atau bata. dan binatang5. 8. baik sedang dipergunakan atau tidak. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat.5–8 meter. 2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. 3. apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:(1) 1. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan estetika. Watersealed latrine (Leher angsa) . 4.

8.3. hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama. selokan. Bored hole latrine Sama dengan cubluk. tetapi dengan kertas (toilet paper). misalnya pesawat udara atau kereta api.3. Bucket latrine (Pail closet) Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat lain. 4. 6. Pada jamban ini klosetnya berbentuk leher angsa. sehingga bau busuk dari jamban tidak tercium di ruangan rumah kakus. Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum. Jenis Lantai Rumah Syarat rumah yang sehat. Lantai rumah dari tanah . 2.34 Jamban jenis ini merupakan cara yang paling memenuhi persyaratan. sehingga akan selalu terisi air. Trench latrine Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30 – 40 cm untuk tempat penampungan tinja. oleh sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini yang dianjurkan. kali dan rawa. misalnya untuk penderita yang tidak dapat meninggalkan tempat tidur. Fungsi air ini gunanya sebagai sumbat. 5. Chemical toilet (Chemical closet). Dapat pula digunakan dalam rumah sebagai pembersih tidak dipergunakan air. 7. jenis lantai rumahnya yang penting tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Tanah galiannya dipakai untuk menimbuninya. Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi soda kaustik sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi. Overhung latrine Jamban ini semacam rumah-rumahan yang dibuat di atas kolam.

lebih kurang 80% dari air yang digunakan sehari-hari pada kegiatan manusia dan dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). bersama-sama dengan air tanah. . maka akan menyebabkan terjadinya penularan penyakit termasuk diare.(1) 2.3. Volume air sisa ini besar. perkantoran. Air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia. lantai ubin atau semen merupakan lantai yang baik sedangkan lantai rumah dipedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. dan sebagainya. Lantai yang basah dan berdebu menimbulkan sarang penyakit. air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik. Dari segi kesehatan.4. Selanjutnya air sisa dalam bentuk limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan kemudian digunakan lagi oleh manusia. industri. dan industri. perdagangan. baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan manusia. Apabila perilaku penghuni rumah tidak sesuai dengan norma-norma kesehatan seperti tidak membersihkan lantai dengan baik. perhotelan. maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup. air permukaan. baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman. dan air hujan yang mungkin ada. Oleh sebab itu.35 agar tidak berdebu maka dilakukan penyiraman air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat dan dilakukan berkali-kali. Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga.

. Oleh sebab itu. dan umumnya terdiri dari bahan-bahan organik. secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi:(1) 1. Air buangan industri (industrial wastes water). biasanya berwarna suram seperti larutan sabun. tempat-tempat umum. Secara garis besar karakteristik air limbah ini digolongkan menjadi:(1) 1. bagian-bagian tinja.36 Air limbah ini berasal dari berbagai sumber. dan sebagainya. sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Kadang-kadang mengandung sisasisa kertas. garam-garam. hotel. zat pelarut. zat pewarna. Karakteristik air limbah perlu dikenal karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri. logam berat. Terutama air limbah rumah tangga. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water). amoniak. Air buangan kotapraja (municipal wastes water). sedikit berbau. lemak. dan sebagainya. air bekas cucian dapur dan kamar mandi. dan sebagainya. Karakteristik fisik Sebagian besar terdiri dari air dan sebagainya kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. tempat-tempat ibadah. yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. antara lain: nitrogen. yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkotaan. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekstreta (tinja dan air seni). berwarna bekas cucian beras dan sayur. sulfida. restoran. pengolahan jenis air limbah ini agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit. mineral. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan limbah rumah tangga. 2. perdagangan. 3. yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk.

2. Gabungan yang mengandung nitrogen. 3. pada umumnya bersifat basah pada waktu masih baru. Oleh sebab itu. dan sebagainya. dan asam amino. namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan. Merupakan sumber pencemaran air permukaan. Menimbulkan bau yang tidak sedap serta pandangan yang tidak enak Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen. B. protein. Menjadi media berkembang biaknya nyamuk atau tempat hidup larva nyamuk.37 2. sabun. misalnya: lemak. Sesuai dengan zat-zat yang terkandung dalam air limbah ini maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain:(1) 1. Gabungan yang tidak mengandung nitrogen. misalnya: urea. Substansi organik dalam air buangan terdiri dari gabungan. dan sampah-sampah lainnya. tanah. tifus abdominalis. Karakteristik kimiawi Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimiawi anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian tinja. karena orang bekerja dengan tidak nyaman. Karakteristik bakteriologis Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli terdapat juga dalam air limbah tergantung darimana sumbernya. dan disentri basiler. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit terutama: kolera. yakni: A. diare. 6. dan cenderung bau asam apabila sudah mulai membusuk. dan karbohidrat. amina. 4. dan lingkungan hidup lainnya. 5. termasuk selulosa. 3. . Mengurangi produktivitas manusia. urin.

pengendapan yang . perikanan. Tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi. 6. sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang. cara ini menimbulkan kerugian lain. Pengenceran (dilution) Air limbah diencerkan sampai mencapai kosentrasi yang cukup rendah. Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain:(1) 1. 3. kemudian baru dibuang ke badan-badan air. 5. Tidak mengakibatkan pencemaran terhadap permukaan tanah. Tidak dapat dihinggapi serangga. alam mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya. Baunya tidak mengganggu. Namun demikian. bahaya kontaminasi terhadap aliran-aliran air masih tetap ada. atau tempat-tempat rekreasi. Secara alamiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum. maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak. tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor.38 Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut diperlukan kondisi. diantaranya. Akan tetapi. Di samping itu. Pengolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. 4. maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. air sungai. dengan makin bertambahnya penduduk yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia. Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat dicapai oleh anak-anak. 2. dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula. persyaratan dari upaya-upaya sedemikian rupa sehingga air limbah tersebut:(1) 1.

2. rumah potong hewan. sungai. Responsi masih terbatas pada perhatian. Dalam keadaaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. dan di daerah yang terbuka. Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir. Kolam oksidasi (oxidation ponds) Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari. seperti selokan. dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Respon terhadap stimulus ini sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice). dan lain-lainnya dimana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanaman-tanaman. Irigasi Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali. ganggang (alga). Perilaku Kesehatan Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman. bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. . pengetahuan dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut. Perilaku tertutup (Cover Behaviour) Respon seorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (cover). Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter.4. dan sebagainya. persepsi. danau. 3. Berdasarkan bentuk respon terhadap stimulus. 2. perusahaan susu sapi. sehingga memungkinkan sirkulasi amgin dengan baik. 2. perilaku dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:(1) 1.39 akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air. Perilaku terbuka Respon terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.

2.5.40 yang mudah dapat diamati atau dilihat orang lain. Menggunakan air yang tercemar 3. terjadinya diare antara lain:(1) Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sesudah dan sebelum makan serta setelah buang air besar. Pemanfaatan dan perawatan jamban 2. dan virus Mikroorganisme Infeksi/masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh Makanan Perilaku Kesehatan :  Pemanfaatan dan perawatan jamban  Menggunakan air yang tercemar  Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan serta setelah buang air besar. Misalnya penderita tuberkulosis paru minum obat secara teratur. Perilaku yang dapat menyebabkan kuman enterik dan meningkatkan risiko 1. parasit. Kerangka Teori Environment Kesehatan Lingkungan :  Penyediaan air bersih (kualitas fisik air bersih dan sumber air minum)  Kepemilikan jamban  Jenis lantai rumah  Kepemilikan SPAL Agent Bakteri. Orang sehat Kejadian diare .

dan kepemilikan SPAL akan mempengaruhi terhadap perkembangan mikroorganisme (agent) penyebab diare di lingkungan rumah.41 Host Skema 2.(18) Faktor risiko lingkungan adalah variabel yang mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. . maka indikator yang berperan di dalamnya adalah kesehatan lingkungan.2. Kerangka Teori (Sumber modifikasi: Leavel dan Clark. dan lingkungan (environtment). Untuk menggambarkan keadaan lingkungan. penyebab (agent). 1958) Kerangka teori dalam penelitian ini berdasarkan modifikasi dari segitiga epidemiologi dari Leavel dan Clark (1958) yang menggambarkan interaksi dari tiga komponen penyakit yaitu manusia (host). Keesehatan meliputi penyediaan air bersih yang dilihat dari kualitas fisik air bersih dan sumber air. Perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma kesehatan bisa mempermudah host terpapar mikroorganisme penyebab diare. jenis lantai rumah. Selanjutnya mikroorganisme ini bisa menginfeksi orang sehat atau bisa melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme penyebab diare. kepemilikan jamban.

42 2. .6. Hipotesis Ada hubungan antara faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare di wilyah kerja Puskesmas Korbafo.

Kerangka Konsep Penyediaan Air Bersih Kepemilikan Jamban Jenis Lantai Rumah Faktor Sanitasi Lingkungan Kejadian Diare Kepemilikan SPAL Faktor Perilaku Kesehatan Skema 3.43 BAB III METODE PENELITIAN 3. Kerangka Konsep .1.1.

1.44 Keterangan : Diteliti Tidak diteliti Keterangan : 1. Penelitian ini ingin melihat sejauh mana hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dan faktor risiko yang mungkin ada. Identifikasi Variabel 3. 2. Kejadian diare merupakan variabel terikat atau variabel yang diprngaruhi variabel bebas. 3.1 Definisi Operasional No Variabel 1. dan merupakan variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Penyediaan air bersih. Variabel terikat: Diare Definisi Pengukuran Penyajian Diare adalah Kuisioner. 3. Penyediaan air bersih 2. kepemilikan SPAL merupakan variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi variabel terikat serta merupakan variabel yang diteliti.1 Variabel Bebas: Kesehatan lingkungan meliputi : 1. Kepemilikan jamban 3.3. Jenis lantai rumah 4.2.2. Diare besar dengan sekunder tinja berbentuk Skala Nominal . Kepemilikan sarana pembuangan air limbah 3. kepemilikan jamban jenis lantai rumah.2 Variabel Terikat: Kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao. Definisi Operasional Tabel 3.2. Tidak diare buang air dan data 2. Perilaku kesehatan dapat juga juga mempengaruhi variabel terikat tetapi tidak diteliti dalam penelitian ini.

Memiliki dan observasi jamban. Sarana yang digunakan untuk buang air besar yang dimiliki oleh responden 2 Penyediaan air bersih 3 Kepemilikan jamban 4 Jenis lantai Keadaan rumah lantai responden berdasarkan bahannya Kuisioner 1. Tidak kedap air a) Tanah Nominal Nominal . kotor dan tidak tertutup Kuisioner 1.45 cair atau setengah cair (setengah padat). Tidak memiliki jamban. Kedap air dan observasi a) Semen jenis lantai b) Ubin rumah c) Keramik 2. jika kepemilikan ada lubang jamban leher angsa/tangki septik. Air terlindung dan observasi dan memenuhi penyediaan syarat kondisi air bersih fisik air bersih 2. Air tidak terlindung dan tidak memenuhi syarat kondisi fisik air bersih Nominal Kuisioner 1. jika tidak ada lubang leher angsa/tangki septik. kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 3 kali sehari. bersih dan tertutup 2. Asal atau jenis air yang digunakan untuk minum bagi keperluan hidup seharihari yang memenuhi syarat kondisi fisik air bersih.

46 5 3. (21) Desain kasus kontrol dapat digunakan untuk menilai berapa besar peran faktor risiko dalam kejadian penyakit. Secara sederhana rancangan kasus-kontrol dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:(20) Faktor risiko + Faktor risiko Faktor risiko + Faktor risiko - Retrospektif (kasus) Efek + Populasi (sampel) Retrospektif (kontrol) Efek - . Memiliki sarana dan observasi pembuangan air sarana limbah pembuangan 2.(20) Dengan kata lain. Kepemilikan sarana pembuangan air limbah (SPAL) Sarana pembuanaga n air buangan atau air sisa rumah tangga yang meliputi : karakteriristi k fisik. dan cara pengolahan air limbah b) Kayu/bambu Kuisioner 1. efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini. Penelitian kasus-kontrol adalah merupakan penelitian epidemiologis analitik observasional yang menelaah hubungan antara efek (penyakit atau kondisi kesehatan) tertentu dengan faktor risiko tertentu dengan pendekatan retrospektif. Tidak memiliki air limbah sarana pembuangan air limbah Nominal Jenis dan Rancangan Komponen Penelitian Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kasus-kontrol (case-control study). jenis air limbah. kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu yang lalu.4.

1. Kontrol : Responden yang tidak menderita diare. Sampel . Rancangan Penelitian Kasus-Kontrol Keterangan : Faktor risiko : Penyediaan air bersih. dan kepemilikan sarana air limbah. Kecamatan Pantai Baru. Efek : Kejadian diare. Kecamatan Pantai Baru. Populasi Kasus Semua responden yang mengalami diare pada 2013 di wilayah kerja Puskesmas Korbafo. 3. Populasi 1. Populasi dan Sampel 3. Kabupaten Rote Ndao pada Agustus 2014. 3.2.47 Skema 3. 2. Kecamatan Pantai Baru. Kabupaten Rote Ndao.5.6.6. Kasus : Responden yang menderita diare. Populasi Kontrol Semua responden yang tidak mengalami diare pada 2013 di wilayah kerja Puskesmas Korbafo.2. kepemilikan jamban. 3. jenis lantai rumah.6. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Korbafo. Kabupaten Rote Ndao.

05) untuk uji dua arah = 1. kelurahan. misal wilayah (kodya.96.469 OR = Besar risiko paparan x faktor risiko = 3.8242(22) Zα = Statistik z pada distribusi normal standar. pada tingkat kemaknaan 95% (α=0. Teknik sampling penelitian ini dengan sistem cluster sampling. kecamatan.531(22) Q2 = 1 .P1 P2 = Perkiraan proporsi paparan pada kelompok kontrol = 0.P2 = 0.48 Pada penelitian ini pemilihan sampel dengan cara probability sampling yaitu tiap subyek dalam populasi terjangkau mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih atau untuk tidak dipilih sebagai sampel penelitian.84 P = ½ (P1+P2) . yaitu sampel dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamiah.(21) Besar sampel dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:(21) P1−P2 ¿ ¿ ¿ 2 ( Z α √2 PQ+ Zβ √ P1 Q1 + P2 Q2) n1=n2= ¿ dimana : n1=n2= Jumlah kasus dan kontrol P2 = Perkiraan proporsi paparan pada kelompok kasus P 1= ¿ x P2 ( 1−P2 ) +(¿ x P2) Q1 = 1 . Zβ = Power sebesar 80% = 0. dan seterusnya).

469)) n1=n2= ¿ n1=n2 = 44.531 =0.812 ( 1−0.96 √ 2 ( 0.812−0.812) = 0. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.188 )+ ( 0.1.812 = 0.824 x 0.188 P = ½ (0.359)+ 0.640 Q = 1 – 0.84 √ ( 0.2 Maka responden yang dibutuhkan adalah 44 kasus dan 44 kontrol.640 ) (0.824 x 0.359 0. 3. maka besar sampel dapat dihitung sebagai berikut : P1= 3.640 = 0.49 Q=1–P Berdasarkan rumus di atas.7.7.531 ¿ ¿ ¿ 2 (1. Penderita diare usia 0-15 tahun yang menderita diare berdasarkan catatan rekam medik pada tahun 2013 .531 ) +(3.531) Q1 = 1 – 0.469 + 0.531 ) (0.812 )( 0. Kriteria Inklusi Kelompok kasus: 1.

Kecamatan Pantai Baru. Bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Korbafo.8.1. 2.1. Subjek penelitian berusia 0-15 pada tahun 2013 B.8. C. 4.50 2. Tidak menderita diare berdasarkan rekam medik. 3. Alur Penelitian dan Cara kerja 3. Memiliki riwayat penyakit kronik.7. Kabupaten Rote Ndao. 3. Bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan menandatangani informed consent. 3. Penentuan Populasi Data Alur Penelitian Izin Penelitian Teknik sampling dan penentuan besar sampel Pemberian kuisioner dan observasi sesuai dengan faktor risiko yang diteliti Informed Consent Pemilihan sampel sesuai kriteria inklusi . Bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Korbafo. Kriteria Eksklusi 1. Untuk kelompok kontrol adalah: A. Kabupaten Rote Ndao. Penderita diare usia lebih dari 15 tahun. Kecamatan Pantai Baru.

Data primer diambil menggunakan instrumen kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang karekteristik lingkungan responden. Pengumpulan Data Setelah data penelitian terkumpul dan lengkap. Cara Kerja 1. B. 2. Alur Penelitian 3. serta observasi langsung untuk mencatat ada tidaknya faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare di Puskesmas Korbafo 2013. 2. Analisis Data 3. 3.51 Skoring Analisis Data Penyajian data dalam laporan hasil penelitian Skema 3. Kuisioner terstruktur sebagai panduan wawancara dan pengamatan untuk mendapatkan data dari responden. Alat penelitian/Instrumen Penelitian A.2.9. Sumber data Data sekunder diambil melalui pencatatan dari rekam medik pasien diare di Puskesmas Korbafo pada 2013. Editing Setelah data terkumpul dilakukan editing untuk mengecek kelengkapan data.8.9. kemudian dilakukan langkah– langkah sebagai berikut : 1.1. Coding . kesinambungan data dan keseragaman data untuk menjamin validitas data.3. Rol meter.

Analisis Bivariat Untuk melihat hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Tabulating Pembuatan tabel untuk variabel yang akan dianalisa. 3. Uji statistik menunjukkan adanya B. Nilai p>0. Analisa Univariat Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Nilai p<0. hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan data.05 berarti H0 ditolak (nilai p<α).05 dan 95% Condidence Interval (CI) dengan ketentuan bila:(23) A.2. yaitu:(20) . 4.52 Pemberian kode dan skor terhadap jawaban responden. gambar diagram maupun grafik. Untuk menginterpretasikan hubungan risiko pada penelitian ini digunakan Odds Ratio (OR).9. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentasi dari tiap variabel yang disajikan dalam bentuk tabel. Dalam penelitian kesehatan uji signifikan dilakukan dengan batas kemaknaan α=0. Jenis Pengolahan Data Data dianalisa dan diinterpretasikan dengan menggunakan program komputer dengan tahapan sebagai berikut: 1. apakah variabel tersebut mempunyai hubungan yang signifikan. Entry data Memasukkan data-data ke dalam program komputer. hubungan yang signifikan.05 berarti H0 diterima (nilai p>α). Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan. Dalam analisis uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square (X2).(21) 2. 3.

diperkirakan tidak ada asosiasi antara faktor risiko dan penyakit atau bukan merupakan faktor risiko. diperkirakan terdapat asosiasi negatif antara faktor risiko dan penyakit atau faktor yang diteliti merupakan faktor yang melindungi atau protektif. Jika OR<1. 3.53 a. Jika OR>1. diperkirakan terdapat asosiasi positif antara faktor risiko dan c. penyakit atau faktor yang diteliti merupakan faktor risiko.2 Jadwal Kegiatan Kegiatan 2014 4 Penyusunan Proposal Seminar Proposal Pengumpulan data Pengolahan Data Analisis Data Penyusunan Laporan Seminar Hasil Ujian Skripsi 5 6 7 8 2015 Bulan 9 10 11 12 1 2 3 . Jika OR=1. b. Jadwal Kegiatan Tabel 3.10.

4.18 km 2.1. di sebelah selatan timur berbatasan dengan Kecamatan Rote Timur dan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Rote Tengah.1.(24) 4. Di sebelah utara Puskesmas Korbafo berbatasan dengan Laut Sawu. yang perincian luas wilayahnya sebagai berikut:(25) Tabel 4.5. Letak Geografis Secara geografis.2.2. Gambaran Umum 4.54 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Luas Wilayah Luas wilayah Kecamatan Pantai Baru sekitar 176. Puskesmas Korbafo berada di wilayah Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao. Nama Desa dan Luas Wilayah di Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Tahun 2013 No Desa Luas Wilayah (Km2) Presentase .

ventilasi rumah yang baik.91 12.913 jiwa dimana terdiri dari laki-laki sebesar 6. Perumahan Rumah sehat merupakan bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yakni yang memiliki jamban sehat. Jumlah pendatang sebesar 181 jiwa dan jumlah penduduk yang pindah sebesar 63 jiwa dengan kepadatan penduduknya sebesar 78 jiwa/Km2.36 9.03 3.08 11.89 8. Puskesmas terdapat di ibukota kecamatan yaitu Kelurahan Olafulihaa serta di Desa Sonimanu.76 23.go.86 6. puskesmas pembantu dan yang baru tahun ini adalah adanya puskesmas keliling.60 16.2.8. sedangkan wilayah desa lain hanya terdapat puskesmas pembantu.(26) 4.89 13.7.990 jiwa dan perempuan sebesar 6.13 43.59 5. dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah . sarana pembuangan air limbah.2.60 8.73 176.27 13.(26) 4.bps. kepadatan hunian rumah sesuai.id(25) 4. sarana air bersih.82 100.59 24.60 6.00 Sumber :rotendao.2. jumlah penduduk Kecamatan Pantai Baru adalah 13.72 9.18 4.55 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nusakdale Batulilok Lenupetu Sonimanu Oebau Oeledo Olafulihaa Tunganamo Tesabela Edalode Keoen Jumlah 7. tempat pembuangan sampah. Pelayanan Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Pantai Baru yaitu berupa puskesmas.64 15.69 16. Kependudukan Berdasarkan data registrasi penduduk 2013 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Pantai Baru.86 5.56 7.6.923 jiwa.

5 100.2.52%). 4.0 N 26 18 44 % 59.2 .0%).2. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Jumlah responden ada 88 orang terdiri dari 44 kasus dan 44 kontrol.(25) 4. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Peumahan).7 % dan usia 5 – 15 tahun menempati urutan prevalensi tertinggi ke empat sebesar 9 %.0 Total N 46 % 52.0 Kontrol N % 19 43.2. Tahun 2013 di Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru. jumlah rumah yang diperiksa sebanyak 1600 rumah dari 1955 rumah yang ada (81.00 100. Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Sampel Total Jenis Kelamin Kasus Kontrol N 30 14 44 Laki-laki Perempuan Jumlah % 68.5%) dan kelompok kontrol sebanyak 26 orang (59.5 31.5 100.35%) dan terendah di Desa Edalode (80. Distribusi Responden Menurut Kelompok Usia Data dari Riskesdas 2007 menunjukan prevalensi terdeteksi diare paling banyak pada anak balita (1 – 4 tahun) yaitu sebesar 16.44%).0 Tabel diatas menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki pada kelompok kasus sebanyak 30 orang (68.0%).49%).2.1. maka presentase rumah sehat tertinggi berada di wilayah Kelurahan Olafulihaa (88. demikian juga pada jenis kelamin perempuan proporsinya pada kelompok kasus sebanyak 14 orang (31.56 (Kemenkes No. Rumah yang memenuhi persyaratan sebagai rumah sehat sebanyak 1367 rumah (85. Jika dilihat menurut wilayah.5 36. Karakteristik Responden 4.0 N 56 32 88 % 63.2.(27) Sampel Kelompok Usia <5 Kasus N % 27 61.5%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 18 orang (41.00 41.

3.2. 4.4.0 7 15.0 88 Tabel 4.4 100. Distribusi Responden Menurut Tempat Penemuan Kasus Diare Tabel 4. . Pengelompokkan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari masing-masing variabel yang akan diteliti dengan kejadian diare pada responden yang berusia 0-15 tahun yang dianalisis dengan menggunakan dua tahap yaitu tahap pertama menggunakan analisis univariat. Pada kelompok kasus. Distribusi Responden Menurut Tempat Penemuan Kasus Diare Desa Kejadian Diare Olafulihaa N 15 % 34 Tungganamo 18 41 Tesabela 5 11 Edalode 3 7 Keoen 3 7 Jumlah 44 100 Tabel diatas menunjukkan Desa Tungganamo merupakan desa dengan penemuan kasus terbanyak yaitu 18 kasus (41%). Distribusi Responden Menurut Kelompok Usia 36.2%).0 Tabel diatas menunjukkan bahwa proporsi usia responden yang paling banyak pada kelompok umur dibawah 5 tahun yaitu 46 orang (52.4 11.0 10 Jumlah 44 100.0%). usia responden yang paling banyak adalah di bawah 5 tahun yaitu 27 orang (61.57 5 – 10 14 32.3.2. sedangkan Desa Edalode dan Desa Keoen masing-masing hanya terdapat 3 kasus (7%). 4.0 44 100. Analisis Faktor Risiko Deskripsi variabel penelitian ditunjukkan dari hasil distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian.0 18 40.0 32 11 – 15 3 7.

8 9 20.4 6 13. Jenis leher angsa 2. Sumber airnya berjarak > 10 meter dari sumber pencemar serta tidak berbau. berasa.1. Sumber airnya berjarak 25 56.5 5 11. Memiliki sarana pembuangan dan tempat penampungan air limbah 2.5 < 10 meter dari sumber pencemar serta berbau. 19 43.5 1. Terbuat dari semen. berwarna.6 38 86.5. Tidak terbuat dari semen. ubin atau keramik 2.0 27 17 61. berwarna.2.5 6 13. Gambaran Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan dengan Kejadian Diare Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi subjek penelitian dan distribusi proporsi kasus dan kontrol menurut masing-masing variabel bebas (faktor risiko) yang diteliti.6 39 88.2 35 79. berasa.4 . 4. dan keruh 2. Tidak memiliki sarana pembuangan dan tempat penampungan air limbah 22 22 50. dan keruh 2 3 4 Kepemilikan Jamban 1. Tabel 4.4 35 79. Gambaran Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 Sampel No Faktor Risiko Kasus Kontrol N % N % Penyediaan Air Bersih 1. ubin atau keramik Kepemilikan Sarana Pembuanagan Air Limbah 1. Bukan jenis leher angsa Jenis Lantai Rumah 1.4 38.0 50.6 38 86.58 kemudian tahap kedua dicari hubungannya dengan kejadian diare dengan menggunakan analisis bivariat dan OR untuk menilai faktor risiko.6 9 20.

sedangkan pada kontrol sebesar 86.5%.4%. Jenis lantai yang kedap air (jenis lantai rumahnya tidak dilapisi semen.6%. berwarna dan keruh) sebesar 56.5%. Pada kasus yang tidak memilki SPAL (tidak memiliki tempat penampungan dan saluran pembuangan air limbah) sebesar 88. sedangkan pada kontrol yang tidak memenuhi syarat kesehatan lebih kecil yaitu sebesar 20. Pada kasus yang tidak memiliki jamban (bukan jenis leher angsa) sebesar 50. sedangkan pada kontrol lebih kecil yaitu 38. berasa. Sampel kasus yang memiliki SPAL (tidak memiliki tempat penampungan dan .0% dan pada kontrol 61. Jenis lantai rumah adalah keadaan lantai rumah responden berdasarkan bahannya. ubin atau keramik) pada kasus sebesar 86.5%. Sarana pembuangan air limbah adalah sarana pembuangan air buangan atau air sisa rumah tangga yang meliputi: karakteristik fisik.59 Penyediaan air bersih dalam penelitian ini adalah asal atau jenis air yang digunakan untuk minum bagi keperluan hidup sehari-hari yang memenuhi syarat kondisi fisik air bersih.6%. Pada kasus yang tidak memenuhi syarat (sumber airnya berjarak <10 meter dari sumber pencemar serta berbau. dan cara pengolahan air limbah.0%. Berdasarkan observasi pada kasus yang lantainya tidak kedap air (jenis lantai rumahnya tidak dilapisi semen. sedangkan pada kontrol lebih kecil yaitu 79. ubin atau keramik) sebesar 13. jenis air limbah.6%. Kepemilikan jamban adalah sarana yang digunakan untuk buang air besar yang diimiliki responden.4%. sedangkan pada kontrol lebih besar yaitu 20.4%.8%. Sampel yang memiliki jamban (jenis leher angsa) pada kasus sebesar 50.

dan keruh memiliki risiko 5. Tabel 4. berasa.161 0. Odds Ratio 5. berwarna.117 N % N % 19 43.117 dengan CI 95% = 1.989<OR<13.60 saluran pembuangan air limbah) sebesar 11.2 35 79.4%.2.000 Secara statistik hasil analisa menunjukkan p=0. 4.000 (p<0. sedangkan pada kontrol sebesar 13. Hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian diare Penyediaan air bersih adalah asal atau jenis air yang digunakan untuk minum bagi keperluan hidup sehari-hari yang memenuhi syarat kondisi fisik air bersih.5 25 56. berwarna dan keruh.161 dengan demikian dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat dinyatakan bahwa penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare.8 9 20.5 CI 95% = 1. berasa.989 < OR < 13.2. Selanjutnya data-data tersebut di analisis dengan uji chi-square dan OR untuk mengetahui hubungan dan risiko masing-masing variabel dengan kejadian diare.05) dan OR=5.117 berarti seseorang yang sumber airnya memiliki jarak <10 meter dari sumber pencemar serta berbau. Hubungan Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan dengan Kejadian Diare 1. Distribusi Penyediaan Air Bersih dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 Responden P Penyediaan Air Bersih Kasus Kontrol Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat OR = 5.6. .117 kali lebih besar untuk menderita diare dibandingkan dengan orang yang sumber airnya memiliki jarak > 10 meter dari sumber pencemar serta tidak berbau.6%.

kandang ternak. (16) Dari hasil pengamatan peneliti dilapangan didapatkan sumber air yang digunakan masyarakat memiliki jarak kurang dari 10 meter dari sumber pencemar seperti kubangan air ternak. dkk 2012 tentang hubungan lingkungan rumah dan penyediaan air bersih dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu.006. terutama melalui jalur fekal-oral yaitu lewat air yang sudah tercemar.61 Dari hasil penelitian Nelazyani. Hubungan kepemilikan jamban dengan kejadian diare . atau tercemar pada saat disimpan di rumah.697. baik tercemar dari sumbernya. Pencemaran ini terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah. Kota Bengkulu 2012 menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare dengan didapatkan Odds Ratio 3. keruh. dan berbau. airnya tidak memenuhi karakteristik fisik air bersih seperti air yang berasa asin. 2. serta tangki septik. Selain itu dari hasil wawancara dengan kuesioner dan obervasi terhadap sampel diketahui bahwa sebagian masyarakat sumber airnya berasal dari sumur.(28) Sumber air yang tidak memenuhi syarat dapat memudahkan penyebaran penyakit diare. Kecamatan Sungai Serut. p=0. Dilapangan peneliti juga mendapatkan ada beberapa masyarakat yang peralatan makan dan minum yang digunakan tidak dicuci dengan bersih namun hal tersebut tidak diteliti oleh peneliti.

017.588. Kecamatan Bondosari.681<OR<3. Dari hasil penelitian Kadarrudin. seperti masih adanya .7.(29) Sedangkan dari hasil penelitian Siti Amaliah 2010 tentang hubungan sanitasi lingkungan dan faktor budaya dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Toriyo.4 Tidak memiliki 22 50.0 17 38. Kabupaten Gowa menunjukkan tidak ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare dengan didapatkan hasil nilai p=0.731.075 Secara statistik hasil analisa menunjukkan p=0.(30) Kepemilikan jamban bukan merupakan faktor risiko kejadian diare pada wilayah penelitian karena berdasarkan hasil pengamatan peneliti dilapangan sebagian responden sudah memiliki jamban yang sehat terutama jenis leher angsa tetapi angka kejadian diare masih tinggi karena kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan jamban masih kurang. dkk 2014 tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Pallangga.283 OR = 1.0 27 61.05) dengan demikian dapat dikatakan H0 diterima dan H1 ditolak sehingga kepemilikan jamban tidak ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare tetapi merupakan faktor risiko karena nilai OR>1 yaitu sebesar 1. Distribusi Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 Responden Kepemilikan P Kasus Kontrol Jamban N % N % Memiliki 22 50.588 CI 95% = 0.62 Kepemilikan jamban adalah sarana yang digunakan untuk buang air besar yang diimiliki responden.283 (p>0. Tabel 4.6 0. Kabupaten Sukoharjo menunjukan ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare dengan didapatkan hasil nilai p=0.

3.63 perilaku masyarakat yang buang air besarnya di hutan.395 (p>0. dkk 2014 tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Pallangga Kabupaten Gowa menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis lantai dengan kejadian diare dengan didapatkan hasil nilai p=0.5 CI 95% = 0. Tabel 4. Kabupaten Boyolali menunjukkan ada hubungan antara jenis lantai dengan kejadian diare dengan didapatkan hasil nilai p=0. sekitar perkarangan rumah dan lain-lain sehingga memudahkan penularan penyakit oleh tinja terutama bila dihinggapi oleh lalat sebagai sumber penularan. ubin atau keramik) tetapi .05) dengan demikian dapat dikatakan H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat dinyatakan bahwa jenis lantai rumah bukan merupakan faktor risiko kejadian diare atau tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare.6 9 20.8. Hubungan jenis lantai rumah dengan kejadian diare Jenis lantai rumah adalah keadaan lantai rumah sampel berdasarkan bahannya.(5) Berdasarkan hasil pengamatan peneliti didapatkan hampir semua responden baik kelompok kasus maupun kontrol sudah memiliki jenis lantai yang kedap air (semen. Dari hasil penelitian Kadarrudin.4 35 79.902 0.198<OR<1.036.5 6 13.614 N % N % 38 86.252.395 Secara statistik hasil analisa menunjukkan p=0. Distribusi Jenis Lantai Rumah dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 Responden P Jenis Lantai Rumah Kasus Kontrol Kedap Air Tidak Kedap Air OR = 0.(29) Sedangkan dari hasil penelitian Umiati 2009 tentang hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Nogosari.

232 CI 95% = 0.005) dengan demikian dapat dikatakan H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dapat dikatakan tidak ada hubungan antara sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare tetapi merupakan faktor risiko .6 0. dan cara pengolahan air limbah. jenis air limbah.4 6 13. namun hal tersebut tidak diteliti oleh peneliti. Distribusi Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 Responden P Sarana Pembuangan Kasus Kontrol Air Limbah N % N % Memiliki 5 11. sebagian masyarakat di wilayah tersebut tidak menggunakan alas kaki ketika keluar dan masuk ke dalam rumah terutama anak-anak. 4. Tabel 4.347<OR<4. sehingga beberapa rumah didapati lantainya terdapat kotoran ternak seperti kotoran ayam.64 kejadian diare masih cukup tinggi karena adanya perilaku masyarakat seperti membiarkan hewan ternak masuk ke dalam rumah. Hubungan kepemilikan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare Sarana pembuangan air limbah adalah sarana pembuangan air buangan atau air sisa rumah tangga yang meliputi: karakteristik fisik.6 38 86.377 Dari hasil penelitian tentang kepemilikan SPAL secara statistik menunjukkan p=0. dan ada perilaku anak-anak yang setelah bermain di perkarangan rumah tidak mencuci tangan padahal jenis tanah di daerah tersebut adalah jenis tanah yang berdebu sehingga memudahkan penularan kuman penyakit sehingga jenis lantai tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo.747 Tidak memiliki 39 88.747 (p>0.4 OR = 1.9.

283 Tidak Sig 0.377 0.232 0. Dari hasil penelitian Yuki Laura Angeline. 4.4% (kontrol).989<OR<13.65 karena nilai OR>1.000 Sig 1. Tabel 4.177 1. Hasil Perhitungan Analisis Bivariat dengan Uji Chi-Square Faktor Kesehatan Lingkungan dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014 N O 1. Kecamatan Medan Maimun menunjukkan tidak ada hubungan antara sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare dengan di dapatkan hasil p=0. dkk 2012 tentang hubungan kondisi sanitasi dasar dengan keluhan kesehatan diare serta kualitas air pada pengguna air sungai Deli di Kelurahan Sukaraja. (31) Hasil Penelitian Bhakti Rochman 2010 tentang hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Jatipuro.681<OR<3.(32) Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di lapangan didapatkan hampir semua responden baik itu kelompok kasus maupun kontrol tidak memiliki sarana pembuangan air limbah (SPAL) dengan frekuensinya 88.347<OR<4. Faktor Risiko OR 95%CI Nilai p Keterangan Penyediaan air bersih Kepemilikan jamban Jenis lantai rumah Kepemilikan sarana 5.026. 3.395 Tidak Sig 1.747 Tidak Sig .198<OR<1.10. Kabupaten Karanganyar menununjukkan ada hubungan antara sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare dengan didapatkan hasil p=0.614 0. 2.05.161 0.6% (kasus) dan 86. sehingga air limbahnya dialirkan atau dibuang saja ke pekarangan rumah.588 0.902 0.075 0.

Ada hubungan antara faktor risiko penyediaan air bersih dengan kejadian diare. Puskesmas Korbafo tetapi tidak menjadi variabel dalam penelitian ini.4. Data yang diperoleh adalah data sekunder sehingga tidak membedakan klasifikasi diare secara lebih detail. menjadi variabel dalam penelititan ini sehingga mempengaruhi hasil penelitian. Keterbatasan Penelitian Perilaku dan tingkat pendidikan ternyata merupakan salah satu faktor risiko terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo tetapi tidak 2. Kebersihan peralatan makan dan minum ternyata juga merupakan salah satu faktor risiko yang memepengaruhi terhadap kejadian diare di wilayah kerja 3. Simpulan Hasil penelitian tentang hubungan faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian Diare di wilayah kerja Puskesmas Korbafo.66 pembuangan air limbah 1. Kecamatan Pantai Baru. 4. Kabupaten Rote Ndao dapat disimpulkan sebagai berikut : a. .1. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.

Tidak ada hubungan antara faktor risiko jenis lantai rumah dengan kejadian diare. c. Bagi Dinas Kesehatan atau Puskesmas : a. 2.67 b. . Bagi Masyarakat : Perlu memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dalam pencegahan kejadian diare. b. Saran 1. tetapi merupakan faktor risiko. 5. dan lain-lain tentang faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare agar semua lapisan masyarakat dapat melakukan tidakan pencegahan terhadap kejadian diare. Perlu dilakukan penyebaran media informasi seperti leaflet.2. Bagi peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian dengan memperhatikan variabel-variabel lain yang berhubungan dengan kejadian diare terutama variabel perilaku dan pengetahuan terutama di wilayah kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao. tetapi merupakan faktor risiko. d. 3. Tidak ada hubungan antara faktor risiko sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare. Tidak ada hubungan antara faktor risiko kepemilikan jamban dengan kejadian diare. Bekerja sama dengan instansi terkait dalam penyediaan sumber air umum yang memenuhi syarat kesehatan. poster.

Hal. 2. Edisi ke-2. Faktor-faktor Resiko Kejadian Diare Akut pada Anak 0-35 Bulan (BATITA) di Kabupaten Bantul. 5. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nogosari Kabupaten Boyolali Tahun 2009. 3.Rineka Cipta. Junias M. Wibowo T. 2009. 4. 2013. 2. Kupang: Undana Press. Jakarta: Rineka Cipta.68 DAFTAR PUSTAKA 1. Editior: Ratu J. Buku Ajar Kesehatan Lingkungan Permukiman. Juffrie M. Jakarta: PT. . Edisi ke-2. Notoatmodjo S. Notoatmodjo S. Zubir. Kesehatan Masyarakat. 2011. Umiati. 2006. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar. 2003.

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Setiowulan W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Depkes RI. 18. 6–7. Agtini MD. editors. [diunduh 11 Februari 2015] Hal. 14. Hal. Universitas Indonesia. Situasi Diare di Indonesia. 2005. Hal. Universitas Diponegoro Semarang.. 2008. Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan Kemnkes RI. Profil Kesahatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 11.. Jakarta: Interna Publishing. Sapta W. 2012. Penyakit Tropis Epidemiologi. Chandra B. Widoyono. Dinas Kesehatan. 2012. 12. Jakarta. 2836–42. Setiati S. Jakarta: Media Aesculapius. Simadibrata M. Diare Akut. Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan yang berpengaruh Terhadap Kejadian Diare (Studi Diare Akut Pada Balita di Kabupaten Lampung Selatan). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Triyanti K. Fakto Risiko Kesehatan Lingkungan yang Berhubungan dengan Kejadian Diare Pada Balita di Kecamatan Citamiyang Kota Sukabumi. Alwi I. Surabaya: Erlangga. 8. Pencegahan dan Pemberantasannya. Distribusi Kasus Diare Berdasrkan Puskesmas di Kabupaten Rote Ndao Tahun 2012-2013. 2011. Setiawan B. 2009. Jakarta: Interna Publishing. 7. . Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. 2010. 2002. 16. 500–7. Setiyohadi B. Wardhani WI. Penularan. Entjang I. 2007. Editor: I. Widyastuti P. Diare Akut karena Infeksi. Depkes RI. 2011. Setiyohadi B. Dalam: Sudoyo A. Soenarto SS. Edisi ke-5. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Kementrian Kesehatan RI. 17. Alwi I. 548–56. Abidin Z. 15. 2010. Setiati S. Hal. Pengantar Kesehatan Lingkungan [Internet]. Edisi ke-3. Jakarta: EGC. Dalam: Sudoyo A. Savitri R. Daldiyono. Edisi ke-5. Mansjoer A.69 6. Kapita Selekta Kedokteran. editors. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Dinas Kabupaten Rote Ndao. editors. 13. Jakarta: Citra Adtya Bakti. 10. 2000. 9. Simadibrata M. Jakarta. Simadibrata M. 2014.

BPS KAB. Riyanto A. Hubungan Lingkungan Rumah dan Penyediaan Air Bersih dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu Tahun 2012. Jakarta. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rote Ndao. 2012.Rineka Cipta. Hal. 20. 2005. 2011.go. Profil Kesehatan Puskesmas Korbafo Tahun Kabupaten Rote Ndao. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Wohanggara OM. 2014 [diunduh 11 Februari 2015]. Rahadi EB.go. Kementrian Kesehatan RI. Sastroasmoro S. Dasar-Dasar Metdologi Penelitian Klinis.2. Metodologi Penelitian Kesehatan.70 Diunduh dari: https://books. 3–6. Ismael S. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Balita (12-48 Bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Tana Rara Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur. 4th ed. Yogyakarta: Nuha Medika. Pantai Baru Dalam Angka 2014. Tersedia dari: http://rotendaokab.id/index. 22.ROTE NDAO. 23. 21. 2012. Notoatmodjo S.google.id/index. Jakarta: Sagung Seto. 2010. Situasi Diare di Indonesia. Statistik Daerah Kecamatan Pantai Baru 2014. 2011.id/books? id=dOrH3zuDYdgC&pg=PA1&dq=Kesehatan+Lingkungan&hl=id&sa=X &ei=q97vVLCmHcKzuQT8YK4DA&ved=0CBsQ6AEwAA#v=onepage&q=Kesehatan Lingkungan&f=false19. Hal. . Nelazyani L. 2013.php? hal=publikasi_detil&id=19 26. 2014 [diunduh 11 Februari 2015]. Tersedia dari: http://rotendaokab. Kabupaten Rote Ndao.ROTE NDAO. 2011. Rina.co.php? hal=publikasi_detil&id=29 27.bps. Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian Diare di Desa Peganjaran Kecamatan Bae Kabupaten Kudus Tahun 2005. 24. II. BPS KAB. 28. 25. 4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rote Ndao. Jakarta: PT.bps. Puskesmas Korbafo.

Rismayanti. Naria E. 2010. Kadaruddin. 2014. 30. . 2012. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Faktor Budaya dengan Kejadian Diare pada Anak Balita di Desa Toriyo Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo. 31.71 29. Amaliah S. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare Pada Balita di Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar. Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pallangga Kabupaten Gowa. Hubungan Kondisi Sanitasi Dasar Dengan Keluhan Kesehatan Diare Serta Kualitas Air Pada Pengguna Air Sungai Deli di Kelurahan Sukaraja Kecamatan Medan Maimun. Rochman B. 2010. 32. Marsaulina I. Laura Angeline Y. Arsyad sidik D.

72 LAMPIRAN .

Rp.000.Rp. 45. 45.000.Rp. 3.Total Rp.000.Rp.550. 500.000. 70. GAMBARAN UMUM PENELITIAN .000. 2. Uraian Kertas A4 Tinta Printer Black Tinta Printer Color Foto copy Percetakan dan penjilidan proposal Percetakan dan penjilidan skripsi Tiket Feri Lain – lain Volume 2 Rim 1 Botol 1 Botol 600 lembar Biaya Satuan Rp.- Rp. 500. 100. RANCANGAN ANGGARAN No 1. 7.Rp.Rp. 4. 6. 45.000.000.000. 8.000. 150.Rp.Rp.200.000. 2.200.- Lampiran 2. 90.000.000.1.Rp. 5.000.73 Lampiran 1.- Total Biaya Rp. 45. 35.- 6 buah Rp.

Haning. mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana ingin mengajak Bapak/Ibu/Saudara/i untuk terlibat menjadi subjek penelitian (responden) dalam penelitian saya yang berjudul “Analisa Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan Terhadap Kejadian Diare di Puskesmas Korbafo. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit tropis yang berhubungan dengan lingkungan sebagai penyumbang utama ketiga pada angka kesakitan dan kematian di dunia. Dengan ini saya ingin menjelaskan bahwa penyakit diare saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kecamatan Pantai Baru. Kabupaten Rote Ndao. Diare sendiri sering menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di Provinsi Nusa Tenggara Timur terutama di Kabupaten Rote Ndao dan Manggarai. perkenalkan saya Marchindy P. consent.A. termasuk Kabupaten Rote Ndao. Kecamatan Pantai Baru. Kabupaten Rote Ndao 2014”. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2014.74 Salam sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan kesehatan lingkungan kejadian diare di Puskesmas Korbafo. Responden yang secara sukarela bersedia untuk menjadi subjek penelitian dengan diwawancara menandatangani mengenai identitas informed responden. keadaan akan sanitasi lingkungan dan akan dilakukan observasi ke rumah responden untuk . bertempat di wilayah kerja Puskesmas Korbafo.

........75 melihat kuaitas fisik air bersih. Keuntungan mengikuti penelitian ini adalah Bapak/Ibu/Saudara/i juga dapat mengetahui lebih banyak lagi tentang kusta. jenis jambann.. sumber air minum...... Apabila Bapak/Ibu/Saudara/i penelitian ini.. peneliti mengucapkan terima kasih.... Manfaat dari penelitian ini agar penyakit diare dapat dicegah dan jumlah penderitanya dapat dikendalikan melalui faktor risikonya..... serta kualitas fisik hasil olahan air limbahnya.... bagaimana menjaga lingkungan agar tetap bersih sehingga dapat terhindar dari penyakit-penyakit menular yang berbasis lingkungan. Atas kerjasama dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i. bersedia untuk Bapak/Ibu/Saudara/i menjadi bisa respondem menandatangani dalam surat persetujuan bersedia untuk menjadi subyek dalam penelitian ini. Rote.. Partisipasi dalam penelitian ini bersifat sukarela sehingga Bapak/Ibu/Saudara/i berhak untuk menerima ataupun menolak dan mengundurkan diri selama proses penelitian berlangsung..2014 Peneliti . Demikian gambaran mengenai penelitian yang akan dilakukan. jenis lantai rumah.

Demikian surat permohonan ini peneliti buat. Peneliti juga menjaga hak – hak anak sebagai responden dari kerahasiaan selama penelitian berlangsung. UNIVERSITAS NUSA CENDANA FAKULTAS KEDOKTERAN SURAT PERMOHONAN JADI RESPONDEN Saya yang bertanda tangan dibawah ini Nama : Marchindy Paul Adrian Haning NIM : 1108011001 Dengan ini mengajukan permohonan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i untuk bersedia menjadi responden penelitian yang akan saya lakukan dengan judul : “Analisis faktor risiko kesehatan lingkungan terhadap kejadian diare di Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao 2014. kapan saja saat penelitian berlangsung. yang berisi pertanyaan mengenai data anak dan pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan faktor risiko kesehatan lingkungan kejadian diare pada sampel di wilayah kerja Puskesmas Korbafo. Peneliti menjamin bahwa penelitian ini tidak berdampak negatif atau merugikan pasien. menghargai keinginan responden untuk tidak meneruskan dalam penelitian. .” Prosedur penelitian yang akan dilakukan adalah mengisi kuesioner yang akan dilakukan oleh bapak/ibu/saudara/i. atas kesediaan dan kerjasama bapak/Ibu/Saudara/i. peneliti mengucapkan terima kasih. Hasil penelitian ini kelak akan memberikan konstribusi postif terhadap upaya peningkatan Pelayanan Kesehatan khususnya di wilayah kerja Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao.76 Lampiran 3.

Haning Lampiran 4. Kecamatan Pantai Baru.77 Rote. Kabupaten Rote Ndao” dengan ini saya menyatakan bersedia secara sukarela untuk menjadi sampel dalam penelitian tersebut. LEMBAR PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN (Informed Consent) Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : _______________________________________________ Umur : _______________________________________________ Alamat Lengkap : _______________________________________________ _______________________________________________ Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan oleh peneliti tentang penelitian yang berjudul “Analisis Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan Terhadap Kejadian Diare di Puskesmas Korbafo. 2014 Peneliti Marchindy P. .A.

. Kuisioner Penelitian Analisis Faktor Risiko Kesehtan Lingkungan terhadap Kejadian Diare di Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao A...... sehingga saya bisa menolak ikut atau mengundurkan diri dari penelitian ini tanpa kehilangan hak saya untuk mendapat pelayanan kesehatan...... Saya percaya bahwa keamanan dan kerahasiaan data penelitian ini akan terjamin dan saya dengan ini menyetujui semua data yang dihasilkan pada penelitian ini untuk disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Memperkenalkan diri dan memberitahukan maksud dan tujuan penelitian ini kepada responden. dengan menandatangani surat ini saya menyatakan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.. 2. 4.. Apabila saat wawancara terdapat jawaban tambahan dari sampel agar dicatat..201 4 Mengetahui Responden Penelitian Peneliti Lampiran 5. Petunjuk Pengumpulan Data 1.... Juga saya berhak bertanya atau meminta penjelasan pada peneliti bila masih ada hal yang ingin saya ketahui tentang penelitian ini.. Rote. ucapkan terima kasih kepada responden.78 Saya tahu bahwa keikutsertaan saya ini bersifat sukarela tanpa paksaan. .. 5... Melakukan wawancara sesuai dengan kuesioner. Setelah wawancara selesai.. 6..... Memberi salam sebelum masuk ke tempat tinggal responden.... Oleh karena itu.. Meminta kesediaan responden menjadi sampel dalam penelitian ini. 3.

... Jenis Kelamin 4.. Umur : .79 Tanggal Wawancara : Pewawancara : Nomor Responden : Alamat Responden : Kaegori Responden : 1) Kasus 2) Kontrol B.... 5... 6......tahun Pekerjaan : 1) PNS/ Pensiunan/ ABRI 2) Wiraswata 3) Karyawan Swasta 4) Petani 5) Ibu Rumah TanggA 6) Buruh 7) Pelajar Pendidikan Terakhir : 1) Tidak Tamat SD 2) Tamat SD 3) Tamat SLTP 4) Tamat SLTA 5) Sarjana 6) Lain-lain . Ibu : ....... Alamat Responden 3........ Nama Responden 2..... 5.tahun Orang tua / wali : Ayah : . Data Responden 1...... 7..... : : : 1) Laki-laki 2) Perempuan Umur : .

Apakah semua penghuni rumah termasuk balita buang air besar di jamban keluarga? . Kesehatan Lingkungan pada Kepemilikan Jamban 11. Kejadian Diare 1. Apakah anda memiliki sarana air bersih? 1) Ya 2) Tidak 5. Apakah air bersih yang anda gunakan berbau? 1) Ya 2) Tidak 8. Apakah air bersih yang anda gunakan berasa? 1) Ya 2) Tidak 9.80 C. Apakah anda pernah terkena diare dalam enam bulan terakhir? 1) Ya 2) Tidak 2. Apakah tinja anda cair (lembek) dengan atau tanpa lendir dan darah? 1) Ya 2) Tidak D. Apakah jenis Sumber air yang anda gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ? 1) PDAM 2) Air Mineral 3) Sumur 4) Air hujan atau PAH 5) Air Sungai 7. Apakah air bersih yang anda gunakan berwarna? 1) Ya 2) Tidak 10. apakah air bersih yang anda gunakan milik pribadi? 1) Ya 2) Tidak 6. Kesehatan Lingkungan pada Penyediaan Air bersih 4. Apakah anda dalam satu hari buang air besar lebih dari 3 kali? 1) Ya 2) Tidak 3. Jika Ya. Apakah air yang anda gunakan keruh? 1) Ya 2) Tidak E. Apakah anda memiliki jamban keluarga? 1) Ya 2) Tidak 12.

................. Apakah jamban anda selalu tertutup? 1) Ya 2) Tidak 15.....................81 1) Ya 2) Tidak Jika Tidak............. Apakah anda membersihkan jamban? 1) Ya 2) Tidak Jika Ya.. 13. berapa kali sehari . Keshatan Lingkungan pada Jenis Lantai Rumah 16.. berapa kali sehari ... Apakah anda memiliki sarana pengolahan air limbah ? 1) Ya 2) Tidak . Apakah jenis jamban yang anda gunakan sudah menggunakan lubang leher angsa? 1) Ya 2) Tidak 14.... Apakah lantai rumah anda dibersihkan setiap hari? 1) Ya 2) Tidak Jika Ya.......... Kesehatan Lingkungan pada Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah 18. di manakah anda buang air besar ... Apakah jenis lantai yang anda gunakan kedap air (semen............................ F.. keramik)? 1) Ya 2) Tidak 17..... ubin. G..

Apakah hasil air limbah dialirkan ke tempat penampungan air limbah? 1) Ya 2) Tidak 22. HASIL ANALISIS Case Processing Summary Cases Valid Missing Total . Apakah air limbah anak banyak mengadung sisa-sisa kertas atau tinja? 1) Ya 2) Tidak 21. Apakah air limbah anda berwarna suram atau berwarna bekas air cucian beras atau sayuran ? 1) Ya 2) Tidak 20. Apakah saluran pembuangan air limbah tertutup? 1) Ya 2) Tidak Lampiran 6.82 19.

83 N Penyediaan Air Bersih * Kejadian Diare Kepemilikan Jamban * Kejadian Diare Jenis Lantai * Kejadian Diare Sarana Pembuangan Air Limbah * Kejadian Diare Percent N Percent N Percent 88 100.0% 88 100.5% 44 44 44.0% 88 100.0% 0 0.5% 19 35 27.0 27.0% Penyediaan Air Bersih * Kejadian Diare Crosstab Kejadian Diare Diare Count Tidak Memenuhi Syarat Expected Count % within Kejadian Diare Tidak Diare 25 9 17.2% 79.0% 88 100.0% Penyediaan Air Bersih Count Memenuhi Syarat Expected Count % within Kejadian Diare Count Total Expected Count % within Kejadian Diare Crosstab Total .0% 88 100.0% 88 100.0% 0 0.0% 88 100.0 100.0% 0 0.8% 20.0% 88 100.0% 0 0.0% 100.0 17.0 43.0 44.0 56.

(2- Exact Sig. Sig.0 % within Kejadian Diare 100.000 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases . 0 cells (. (1- sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 12.0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate Value 95% Confidence Interval .270a 1 .000 Continuity Correctionb 10.84 Count Tidak Memenuhi Syarat 34 Expected Count 34.0 % within Kejadian Diare 38.000 .6% Penyediaan Air Bersih Count Memenuhi Syarat 54 Expected Count 54.131 1 .0 % within Kejadian Diare Total 61. (2- Exact Sig. b.001 Likelihood Ratio 12.0% Chi-Square Tests Value Df Asymp.00.001 12. The minimum expected count is 17.784 1 .4% Count 88 Expected Count 88.000 88 a.648 1 .

5 19.408 .0 88.0% 38.163 .0% 61.989 13.0 50.0 100.0% 100.0% 100.4% 55.85 Lower Upper Odds Ratio for Penyediaan Air Bersih (Tidak Memenuhi 5.161 2.0 50.0 44.6% 44.090 1.7% 44 44 88 44.5 24.0% Kepemilikan Jamban Count Memiliki Expected Count % within Kejadian Diare Count Total Expected Count % within Kejadian Diare Chi-Square Tests .381 3.117 1.226 .5 39.3% 22 27 49 24.739 Syarat / Memenuhi Syarat) For cohort Kejadian Diare = Diare For cohort Kejadian Diare = Tidak Diare N of Valid Cases 88 Kepemilikan Jamban * Kejadian Diare Crosstab Kejadian Diare Diare Count Tidak Memiliki Expected Count % within Kejadian Diare Total Tidak Diare 22 17 39 19.5 49.

0 cells (.511 1. (1- sided) sided) sided) 1.225 Memiliki) For cohort Kejadian Diare = Diare For cohort Kejadian Diare = Tidak Diare N of Valid Cases 88 Jenis Lantai * Kejadian Diare Crosstab .86 Value Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Asymp. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate Value 95% Confidence Interval Lower Upper Odds Ratio for Kepemilikan Jamban (Tidak Memiliki / 1.138 N of Valid Cases 1 . (2- Exact Sig.50.256 .195 . Sig.283 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association .737 1 .286 88 a. b.154 1 .681 3. (2- Exact Sig.705 1.791 .903 .151a 1 .830 1.391 1. The minimum expected count is 19.588 .283 .0%) have expected count less than 5.391 1.

Sig.0 100. The minimum expected count is 7.0% 100. Computed only for a 2x2 table .723a 1 .5 73.715 1 .6% 20.286 . 0 cells (.321 1 .0% 44 44 88 44.5 36. (2- Exact Sig.0 13.0% 100.50.395 Continuity Correctionb . (1- sided) sided) sided) Pearson Chi-Square .572 .0 86.5 15.5 7.0%) have expected count less than 5.727 1 .571 Likelihood Ratio .0% 38 35 73 36. (2- Exact Sig.394 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases . b.398 88 a.5% 83.4% 79.0 44.5% 17.0 88.87 Kejadian Diare Diare Count Tidak Kedap Air Tidak Diare 6 9 15 7.0% Expected Count % within Kejadian Diare Total Jenis Lantai Count Kedap Air Expected Count % within Kejadian Diare Count Total Expected Count % within Kejadian Diare Chi-Square Tests Value df Asymp.

5 88.198 1.88 Risk Estimate Value 95% Confidence Interval Lower Odds Ratio for Jenis Lantai (Tidak Kedap Air / Kedap Air) For cohort Kejadian Diare = Diare For cohort Kejadian Diare = Tidak Diare Upper .483 1.776 2.4% 5 6 5.251 .017 N of Valid Cases 88 Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah * Kejadian Diare Crosstab Kejadian Diare Diare Count Tidak Memilki Expected Count % within Kejadian Diare Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah Count Memiliki Expected Count % within Kejadian Diare Total Count Expected Count Tidak Diare 39 38 38.0 44.6% 44 44 44.614 .0 .398 1.5 5.5 11.902 .4% 13.5 38.768 .6% 86.

104 1 .5% Count Memiliki 11 Expected Count 11.0%) have expected count less than 5.0 % within Kejadian Diare Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah 87.500 . Sig. The minimum expected count is 5.104a 1 .0 % within Kejadian Diare 12. (2- Exact Sig.0% 100.747 Continuity Correctionb . (2- Exact Sig.0 % within Kejadian Diare 100.000 1 1.89 % within Kejadian Diare 100.000 Likelihood Ratio .0% Chi-Square Tests Value Df Asymp. .000 .747 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.5% Count Total 88 Expected Count 88. (1- sided) sided) sided) Pearson Chi-Square .0% Crosstab Total Count Tidak Memilki 77 Expected Count 77.749 88 a. 0 cells (.50.103 1 .

377 1.630 .116 .624 Memiliki) For cohort Kejadian Diare = Diare For cohort Kejadian Diare = Tidak Diare N of Valid Cases 88 Lampiran 7.569 .116 .588 .961 . UJI VALIDITAS Correlations P7 Pearson Correlation P1 Sig.059** .103** -.504 1.103** -.232 .178 -.208 .905 .059** .347 4.783 . (2-tailed) P8 P9 P10 P11 P12 -. (2-tailed) N P3 Pearson Correlation Sig.588 .011 .569 .122** .103 -.569 .783 .562 2.90 b.178 -. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate Value 95% Confidence Interval Lower Upper Odds Ratio for Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah (Tidak Memilki / 1.011 .961 24 24 24 24 24 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation P2 Sig.783 .178 -.116 .588 .630 .961 24 24 24 24 24 24 -.114 .011 .406 .059 .630 .122** .406 .406 .122 .

003 .218 -.588 .546 .178* Sig.605 .806 .178 -.348** .872 .111 -.053 -.499 24 24 24 24 24 24 -.364 -.459 .008 -.364 .130 -. (2-tailed) .000 .588 .969 .329 .160 .406 24 24 24 24 24 24 -.044 .296 .081 .194 -. (2-tailed) N Pearson Correlation P7 Sig. (2-tailed) N P8 N 24 24 24 24 24 24 -.122 . (2-tailed) .159 1 . (2-tailed) N P10 N P11 Pearson Correlation Sig.546 .415 .459 .111 .969 .035 -.91 N 24 24 24 24 24 24 -.207 .476 -.406 .096 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .872 .296 -.008 .159 -.872 .096 .116 .339 .263 .806 .415 Sig.053 -.122 .035 -.035 -.348 -.900 -.160 .574 -.204 -.019 . (2-tailed) N Pearson Correlation P5 Sig.364 -.116 .214 24 24 24 24 24 24 -.035 .476 1 -.267 -. (2-tailed) .605 .218 1 .339 .000 .495 .044 Pearson Correlation P4 Sig.204 -.130 .306 Pearson Correlation P9 Sig.145 .306 . (2-tailed) N Pearson Correlation P6 Sig.019 .900 1 .872 .116 .014 24 24 24 24 24 24 1 .081 .569 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .569 .

499 .204 -.569 .259 -.185 .122 -.386 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .011 -.763 .011 -. (2-tailed) N P6 P18 .329 -.122 .961 . (2-tailed) .92 N Pearson Correlation P12 Sig.569 .059 .103 Pearson Correlation P3 P15 Pearson Correlation N P2 P14 Pearson Correlation .450 Sig.630 .263 -.044 . (2-tailed) Sig.783 .059 .026 Sig.221 .103** .961 .122** N P4 P16 .145 .783 .122 -.103** .103 .096 .630 .386 24 24 24 24 24 24 .103 .630 .902 24 24 24 24 24 24 -.185 .630 .103 .569 .065 .296 -.214 .339 .122 -.783 . (2-tailed) .393 24 24 24 24 24 24 -.415 -.011 -.406 .386 24 24 24 24 24 24 . (2-tailed) N N Pearson Correlation Sig.122 -.122** .183 .059** .178 .348 -.103 -.221 .569 .588 24 24 24 24 24 N 24 Correlations P13 P1 .630 .569 .059** Pearson Correlation P5 P17 .961 .011 -. (2-tailed) 24 24 24 24 24 24 -.185 Sig.116 1* .569 .122 -.630 .783 .259 -.569 .

044 .035 -.253 .459 .415 .806 .487 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .243 -. (2-tailed) .630 .103 -.053 -.116 .053 .364 .053 -.071** Sig.194 .159 .324 .783 .872 . (2-tailed) N P11 N Pearson Correlation P12 Sig.053 .026* .075 .219 24 24 24 24 24 24 -.324 .569 .902 24 24 24 24 24 24 N P7 N Pearson Correlation P8 Sig.027 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .159 .111 -.806 .329 .160 . (2-tailed) .969 .059 .93 Sig.008 -.210 .214 .459 .348 .103 .872 .605 .969 .218 -.630 .969 .159 .059 -. (2-tailed) N Correlations P19 P20 P21 P22 TOTAL .630 .033 Sig.806 .806 .370 .111 .008 -.008 .035 -.605 .263 -.783 .630 .969 .149 .149* .008 -. (2-tailed) .961 .260 Sig.459 .210 .880 24 24 24 24 24 24 -. (2-tailed) N P9 N Pearson Correlation P10 Sig.103 -.487 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .742 24 24 24 24 24 24 -.116 .306 .096 . (2-tailed) .

406 .499 .145** .145 . (2-tailed) N Pearson Correlation P7 Sig.160 .046 -.046 .041 .831 .277 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .605 . (2-tailed) .178 .111 .831 .831 .461 .94 P1 Pearson Correlation .046 . (2-tailed) N P8 N .059 .229 -. (2-tailed) .281 .046** -.046 -.223 .000 .191 .258 .160 .041 .073 -.000 .223 1.499 .160 . (2-tailed) N Pearson Correlation P3 Sig.736 .831 .231 .204 .681 .340 Sig.169 .783 .046** -.831 .130 -.339 1.499 .099 24 24 24 24 24 N Pearson Correlation P2 Sig.831 .000 . (2-tailed) .831 .546 .145** .849 .316 .132 .295 24 24 24 24 24 -.806 .000 24 24 24 24 24 .296 .000 .831 .000 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .290 -.046 .313 -.000 24 24 24 24 24 .158 .053 -.296** .296** . (2-tailed) N P4 N Pearson Correlation P5 Sig.137 . (2-tailed) N Pearson Correlation P6 Sig.345 Sig.681 .372 24 24 24 24 24 -.281 .229 -.104 24 24 24 24 24 .849 .046 .681 Sig.

218 -.059** .231 Sig.783 .000 .000 1.109 .000 .259 -.831 .000 .059 -.111 1. (2-tailed) N Correlations P1 P13 P4 P5 P6 .075 .483 24 24 24 24 24 -.783 .569 .783 .065 -.630 . (2-tailed) .221 .430 1.763 .122 .430 .000 1.849 .569 .122** -.160 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation Sig.569 .169 . (2-tailed) N Pearson Correlation P15 P3 Pearson Correlation N P14 P2 Sig.103 .046 -.630 .122 -.059 -.569 .849 .204 -. (2-tailed) N .103** .122 .296 .000 . (2-tailed) .783 .277 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .339 .059** .103** .122** .073 -.099 24 24 24 24 24 -.281 .041 .763 .169 -.122 .103 Sig.000 .345 Sig.736 .000 .630 .630 24 24 24 24 24 24 .041 -.333 .065 -.306 .783 .95 P9 Pearson Correlation .059 .229 -.569 24 24 24 24 24 24 .151 .612 24 24 24 24 24 N P10 N Pearson Correlation P11 Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation P12 Sig.569 .370 -. (2-tailed) .

(2-tailed) .831 .145 -.831 .831 .831 .630 .046 -.961 24 24 24 24 24 24 -.046 .191 Sig.000 .340 .386 .961 .046 -.185 -.499 .290** .059 Sig.104 .183 -.681 .499 .386 .027 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .178 .046* Sig.160 .961 .461 .132 .073 .214 .046 .736 .329 Sig.026 .450 .046 .499 .229 Sig. (2-tailed) N P22 N TOTAL N .000 .296 . (2-tailed) .406 1.011 .263 -. (2-tailed) .046 . (2-tailed) N P19 N P20 N Pearson Correlation P21 Sig.281 .831 .96 P16 Pearson Correlation .313 -.296 .681 .160 .372 24 24 24 24 24 24 N P17 N Pearson Correlation P18 Sig.499 .158 -.831 .221 .000 .185 -.011 Sig.103 .831 .259 -.831 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .103 .160 .137 . (2-tailed) .122 -.046 . (2-tailed) .316 . (2-tailed) .961 .145 -.630 .000 .169 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .185 -.569 .386 .145 -.902 .116 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .145 -.011 -.681 .630 .011 .103 .223 -.229 .393 .000 -.295 .281 24 24 24 24 24 24 -.783 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .296 .

806 .459 .000 -. (2-tailed) Sig.210** -.630 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .008** Pearson Correlation P17 P11 -.103 .370 .111 .008 -.059 . (2-tailed) N N N P18 N Pearson Correlation P19 Sig.459 .041 .370 .364 .035 .605 .783 24 24 24 24 24 24 -.902 24 24 24 24 24 24 -.306 .033 -.783 .605 .605 .258 -.969 .053 -.969 .229 Sig.159 -.059 -.630 . (2-tailed) .041 .459 .075 .035 -.159 .806 .059 .149 .194 -.008** .111 .487 .111** .071 .880 .210 .806 .253 .044 .214 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .218 -. (2-tailed) N P20 P12 .103 .487 .324 .053 .630 24 24 24 24 24 24 .111 -.969 .806 .97 Correlations P7 P13 -.159** .053** N P16 P10 .149 .219 .053 .026 Sig. (2-tailed) .324 .872 .096 .742 .243 -.306 .415 -.260 .333 -.806 .053 -. (2-tailed) .169 .348 -.103 Sig.116 24 24 24 24 24 24 -.872 .969 .329 Sig.008 Pearson Correlation P15 P9 Pearson Correlation N P14 P8 Pearson Correlation .263 Sig.075 .783 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .218 -. (2-tailed) .

348 -.612 24 24 24 24 24 24 N P21 N Pearson Correlation P22 Sig.008** -.000 1.019 .000 -.831 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .339 . (2-tailed) .096 .159** . (2-tailed) N TOTAL N Correlations P13 Pearson Correlation P13 Pearson Correlation Sig.476 .969 .849 1.406 .130 .210 .041 .277 .98 Sig.122 -.459 .849 .204 -.242 24 24 24 24 24 24 -.041 .169 -.008** 1 .000 .071 .159** -.071 . (2-tailed) .324 .000 .231 .849 1.000 .849 1.099 .065 .071 .763 1.430 . (2-tailed) N Pearson Correlation P15 Sig.223 .122 .324 .073** Sig.210 -.459 .151 -.742 24 24 24 24 24 24 .281 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .459 .345 .046* .000 -.742 1 Sig.277 .109 Sig.546 .178 .736 24 24 24 24 24 24 -.476 1 .430 .210 .459 .210 .345 -.159** .969 24 24 24 24 24 24 -. (2-tailed) N P16 Pearson Correlation P15 P16 P17 P18 .569 .248 .231 .000 .000 .000 . (2-tailed) N P14 P14 . (2-tailed) .159** 1 .099 .483 .

499 .204 -.046 24 24 24 24 24 24 N P17 N Pearson Correlation P18 Sig.281 .459 .122 1 .041 -.071 .211 .406 . (2-tailed) N Pearson Correlation P20 Sig.742 .849 .849 .002 .818 24 24 24 24 24 24 -.258 .041 .178 .316 .041 .849 . (2-tailed) N Pearson Correlation P21 Sig.783 .324 .096 .265 -.546 . (2-tailed) N Pearson Correlation P19 Sig.242 .596 -.115* Sig.185 Sig.451 -.337 1.591 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation . (2-tailed) .205 .229 .130 .569 .99 Sig. (2-tailed) . (2-tailed) .122 .348 -.014 .333 .268 .159 -.041 -.742 .386 24 24 24 24 24 24 -. (2-tailed) N P22 N TOTAL N .913** .569 .071 .950 .071 .059 . (2-tailed) .324 .132 .211 .383 .386 .742 .569 24 24 24 24 24 24 -.591 24 24 24 24 24 24 -.050 .024 .145 .027 .546 .339 .111 .000 .130 .910 .265 .411 Sig.019 .742 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .115 .206 .130 .248 -.546 .000 24 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .185 1 .223 .849 .000 .065 .

268 .339 1.000 .000 .316 Sig.041 . (2-tailed) N P20 TOTAL -.115 .223 .159 Pearson Correlation P13 P20 Pearson Correlation .206 24 24 24 24 24 .596 .041 .002 .211 .265** -.849 .229 .100 Correlations P19 .000 .200 .783 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.130 .546 .115 .040 24 24 24 24 24 .205 .258** .024 .950 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .265 . (2-tailed) N P18 N Pearson Correlation P19 Sig.818 .333** -.459 .027 .258 .422 1.050 -.910 24 24 24 24 24 -.065 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .913 . (2-tailed) N P16 N Pearson Correlation P17 Sig.451** N P14 P21 -.000 1 -.849 .499 .014 .111 .000 .849 .383 .204 .079 -.411 Sig.132 24 24 24 24 24 -.546 .211 .000 -. (2-tailed) .059 Sig.059 -.546 .591 .223 .337 .130** Pearson Correlation P15 P22 -.281 .041 .145 .849 .130** . (2-tailed) . (2-tailed) Sig.000 .041 -.046 24 24 24 24 24 1 .000 1.591 .

349 .000 -.040 .193 1 Sig.01 level (2-tailed).375 1.461 . *.258 -. (2-tailed) 1.366 24 24 24 24 Sig. (2-tailed) N TOTAL .783 24 N P22 .422 . (2-tailed) .783 . (2-tailed) Pearson Correlation Sig.059 .193 .713 .000 N 24 24 24 .349 24 Pearson Correlation P21 .071 24 24 24 24 24 -.05 level (2-tailed).200 .375 .158 .461 24 24 24 24 24 Pearson Correlation .071 .158 1 .101 Sig.000 . Data Mentah Nama Diare PAB Jamba n Lantai SPAL AH 1 1 0 0 0 . Correlation is significant at the 0.713 N **. Correlation is significant at the 0. Lampiran 8.366 24 .079 1 .223 .

102 AM 1 1 0 0 1 GT 0 0 1 1 1 AB 0 0 1 1 1 MB 1 1 1 0 1 TSL 1 0 0 0 1 AL 1 0 1 0 1 MP 0 0 0 0 1 VB 0 0 0 0 1 AB 1 1 1 0 1 AF 0 1 1 0 1 YL 1 0 1 0 1 DKM 0 0 0 0 0 TP 1 0 1 0 1 FDT 1 1 1 0 1 FZ 1 0 0 0 1 AL 1 0 0 0 1 FF 0 0 0 0 1 RF 0 1 1 0 1 MH 0 1 1 0 1 DT 1 1 0 0 1 PH 0 0 0 0 1 RN 1 0 0 0 1 ML 0 0 0 0 1 ST 1 0 0 1 1 N 0 0 0 0 1 DN 0 0 0 0 1 IB 0 0 0 0 1 .

103 JMSR 0 0 1 0 1 PL 0 0 0 0 1 FO 0 0 1 1 1 VL 1 1 0 0 1 TN 0 0 0 1 1 AB 0 0 1 1 1 MB 1 1 1 1 1 SAA 1 0 0 0 0 DU 1 1 1 0 1 FAU 1 0 1 0 1 LB 1 1 0 0 0 DJM 1 1 1 0 1 JMT 1 1 1 0 1 AE 1 0 1 0 1 ME 1 0 0 0 1 RL 1 1 0 0 1 AD 0 0 1 1 1 EZ 0 0 1 0 1 AM 0 0 0 0 1 SK 0 0 1 1 1 GB 0 0 0 0 1 DL 0 0 1 0 1 IM 0 0 0 0 1 AP 0 0 0 0 0 BM 0 0 0 0 0 RN 0 0 0 0 1 EN 1 0 0 0 1 .

104 YL 1 1 0 0 0 RL 1 1 1 1 1 AF 1 1 0 0 0 PU 1 1 1 0 1 LB 0 0 1 0 1 SL 0 0 0 0 1 YN 0 1 0 0 1 LL 0 1 0 0 1 YS 0 0 1 1 1 BF 1 0 0 0 1 TF 1 0 1 0 1 JE 1 1 0 0 1 DT 1 0 0 0 1 MD 1 1 1 1 1 VP 0 1 0 0 1 JF 0 0 0 0 1 NB 0 0 0 0 0 MU 0 1 0 0 1 JE 0 0 0 0 0 AB 1 0 1 0 1 MB 1 1 1 0 1 TF 1 1 1 0 1 SB 1 1 0 0 1 SK 0 0 0 0 0 NL 0 1 1 0 1 RN 0 0 1 0 1 AK 1 1 1 1 1 .

105 RB 1 1 1 0 1 AA 1 0 0 0 1 AB 1 1 1 0 1 JP 1 0 0 1 1 NK 0 0 0 0 1 EB 0 0 1 1 1 .

106 Lampiran 9. Kasus Kontrol Faktor Risiko Penyediaan Air Bersih .

107 Kasus Kontrol Faktor Risiko Kepemilikan Jamban Kasus Kontrol Faktor Risiko Jenis Lantai Rumah .

108 Kasus Kontrol Faktor Risiko Kepemilikan Sarana Pembuangan Air Limbah .

109 .

110 .

111 .

112 .

113 .

114 .

115

116

117

118 .

119 .

120 .

121 .

122 .