Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap makhluk hidup terus berkembang sejak terjadinya pembuahan
hingga mengalami kematian. Hidup dan Mati adalah inheren pada
setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Hidup dan Mati juga
merupakan masalah hakiki bagi manusia sebagai makhluk hidup ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, dengan adanya perkembangan
teknologi biomedis yang begitu pesat, terutama dengan hadirnya teknologi
respirator, masalah Hidup dan Mati semakin problematik dan
dipertanyakan hakikatnya.
Sejak dahulu kala orang menetapkan mati dengan melihat berhentinya
pernafasan dan denyut jantung, yang sering disebut kematian klinis. Akan
tetapi, seperti telah disebutkan penemuan teknologi canggih seperti alat
respirator maupun alat pacu jantung, menggeser pengertian kematian
tersebut. Jantung yang berhenti dapat dipacu kembali dengan alat pacu
jantung dan fungsi pernapasan dapat ditunjang dengan alat respirator.
Dengan teknologi tersebut, maka apa yang menurut ukuran masa lalu
seharusnya orang sudah dikatakan mati, kini ia dapat bertahan hidup
walaupun secara buatan, yang sering disebut sebagai artificial life. Oleh
karena itu, seiring bertambahnya pengetahuan manusia, khususnya di
bidang medis, maka definisi kematian semakin berkembang sehingga
muncul berbagai istilah seperti mati suri, mati seluler, mati serebral, dan
lain-lain.
Tiap personal selalu menjalankan dan mengalami kodratnya sebagai
manusia, yang dalam hidupnya selalu ada interaksi antara satu dengan yang
lainnya (makhluk sosial). Dengan kata lain setiap manusia saling
berkomunikasi dan saling memberi tanggapan. Kemampuan itu merupakan
indikator prinsipil bagi nilai manusiawi. Tanpa ada kemauan berkomunikasi
atau memberi tanggapan, manusia tidak mungkin dapat merealisasikan
dirinya secara penuh.

Nilai khusus kehidupan manusia yang terletak dalam realitanya tadi,


adalah merupakan basis bagi eksistensi dan pengembangan manusia dalam
martabatnya itu. Maka dari itu, kehidupan manusia tidak boleh sekedar
dipakai untuk mencapai pelbagai tujuan. Tidak boleh terjadi pengobjekan
manusia yang satu oleh manusia yang lainnya, apalagi dengan dikedoki oleh
penerapan teknologi canggih, yaitu alat life support system, yang katanya
demi mempertahankan kehidupan pasien, padahal hanya untuk menjaga
agar alat tersebut tidak mubazir dan agar dapat memberikan keuntungan
ekonomis. Hal ini bertentangan dengan perlindungan hak pasien yang diatur
dalam undang-undang, seperti contohnya dalam UU No. 29 Tahun 2004
tentang Praktek Kedokteran yang menjelaskan bahwa pasien berhak
mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan medis yang
diperoleh dan hak pasien untuk mendapat pelayanan sesuai kebutuhan
medis, maka tindakan pengobjekan pasien merupakan pelanggaran terhadap
undang-undang.
Dewasa ini justru banyak sekali penyalahgunaan tentang pemasangan
dan pelepasan dari ventilator mekanis. Mengingat pentingnya penggunaan
ventilator mekanik ini untuk memperpanjang bahkan menyelamatkan nyawa
yang seharusnya sudah meninggal ini ternyata kerap menimbulkan
kontroversi. Misalnya saja keluarga yang meminta pencabutan ventilator ini
sama saja dianggap keluarga tersebut membunuh sang pasien karena alat
bantu hidupnya dicabut dengan berbagai alasan. Banyak sengketa juga
timbul dalam pemasangan ventilator itu sendiri.
Sekarang yang menjadi persoalannya adalah nilai kehidupan seorang
pasien yang dipertahankan hidupnya dengan alat life support system. Pasien
tersebut sudah dalam koma permanen dan tidak mungkin sadar kembali
yang berarti fungsi hakikinya (fungsi rohani) tidak dapat dipulihkan
kembali, akan tetapi pasien tersebut masih kuat hidup secara vegetative
(artificial); apakah masih layak kehidupannya terus dipertahankan secara
buatan itu? Apakah ada alasan untuk menuda-nunda terus kematiannya,
yang sebetulnya ajalnya sudah siap menjemputnya? Bukankah kematian
seseorang sudah pasti terjadi dan tidak dapat dihindari oleh siapapun dan
dengan cara apapun?

Mengingat masih banyaknya pertanyaan dan kontroversi yang terus


terjadi di masyarakat khususnya masyarakat Indonesia dimana bermacammacam hukum berlaku termasuk hukum agama, hukum kedokteran, hukum
pidana, perdata dan lain sebagainya, maka menjadi sangat penting bagi kita
untuk mempelajari tentang aspek medikolegal untuk pemasangan dan
pencabutan ventilasi mekanik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan jenis-jenis dari ventilasi mekanik?
2. Apa saja indikasi pemasangan dan pencabutan ventilasi mekanik?
3.

Bagaimana aspek medikolegal dari pemasangan dan pencabutan


ventilasi mekanik?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui aspek medikolegal pemasangan dan pelepasan
1.3.2

ventilasi mekanik.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi, tipe-tipe dari ventilasi mekanik
2. Mengetahui secara umum mengenai indikasi pemasangan
dan pencabutan ventilasi mekanik
3. Mengetahui mengenai aspek medikolegal dan inform
consent pada penggunaan ventilasi mekanik
4. Mengetahui contoh standar prosedur operasi penggunaan
ventilasi mekanik di Rumah Sakit

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan referat ini agar mengetahui dan
memahami aspek hukum yang mengatur pemasangan pelepasan alat
bantu nafas pada pasien rawat inap.

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Ventilasi Mekanik
3

2.1.1

Definisi
Ventilator mekanik merupakan alat pernapasan bertekanan negatif

atau positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen


dalam waktu yang lama. Bantuan ventilasi yang diberikan mesin ventilator
dapat berupa pemberian volume, tekanan, atau gabungan keduanya.1
Ventilasi mekanik dapat bersifat life saving pada pasien namun di sisi
lain terdapat komplikasi yang dapat terjadi seperti : ventilator associated
pneumonia (VAP), pneumothorax, cidera jalan napas, dan kerusakan
alveolus.2
2.1.2

Klasifikasi Ventilasi Mekanik


Ventilasi diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung

ventilasi yaitu ventilator tekanan negatif dan ventilator tekanan positif.


1. Ventilator tekanan negatif
Ventilator ini memiliki prinsip mengeluarkan tekanan negatif pada
dada eksternal. Mesin tekanan negatif pertama, yaitu iron lung (drinker
and shaw tank) merupakan mesin tekanan negatif pertama yang
digunakan untuk ventilasi jangka panjang.
Ketika terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida antara aliran
darah dan permukaan alveolus secara difusi, udara harus dipindahkan ke
dalam maupun luar paru untuk membantu keseimbangan pertukaran gas.
Pada saat bernafas spontan, tekanan negatif diciptakan oleh rongga
pleura melalui otot otot pernafasan, sehingga gradien tekanan yang
terajadi antara tekanan atmosfer dan tekanan di dalam thorax
menghasilkan aliran udara ke dalam paru.
Pada iron lung, udara ditarik secara mekanik untuk membentuk
ruang vakum di dalam tanki, sehingga tekanan menjadi negatif. Tekanan
negatif tersebut akan menyebabkan terjadinya ekspansi dada, yang
menyebabkan turunnya tekanan intrapulmoner sehingga meningkatkan
aliran udara sekitar ke dalam paru. Ketika vakum dilepaskan, tekanan di
dalam tangki menjadi sama dengan sekitar, menyebabkan terjadinya
ekshalasi pasif dada dan paru. Ketika ruang vakum terbentuk, abdomen
pun mengembang seiring dengan pengembangan paru, membatasi aliran

darah balik vena ke jantung, sehingga menyebabkan terkumpulnya darah


vena di ekstremitas bawah. Dengan mengurangi tekanan intratoraks
selama inspirasi, memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-paru
sehingga memenuhi volumenya. Ventilator tekanan negatif digunakan
terutama pada gagal napas kronik yang berhubungan dengan kondisi
neovaskular, seperti: polimielitis, distrofi muscular, sklerosis lateral
amiotrofik, dan miastenia gravis. Penggunaan ventilator jenis ini tidak
sesuai untuk pasien yang tidak stabil atau pasien yang kondisinya
membutuhkan perubahan ventilasi sering.3
2. Ventilator Tekanan Positif
Ventilator

tekanan

positif

menggembungkan

paru

dengan

mengeluarkan tekanan positif pada jalan nafas dengan demikian


mendorong alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Pada ventilator
jenis ini diperlukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi untuk
meningkatkan tekanan jalan napas. Tekanan positif ini akan membiarkan
udara mengalir ke dalam jalan napas hingga pernapasan melalui
ventilator dihentikan. Kemudian, tekanan jalan napas akan turun hingga
menjadi nol, dan dinding dada dan paru akan mendorong volume tidal di
dalamnya sehingga memicu udara pernapasan keluar melalui ekshalasi
pasif.
Ventilator ini secara luas digunakan pada klien dengan penyakit
paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif, yaitu: tekanan
bersiklus, waktu bersiklus, dan volume bersiklus.
Ventilator tekanan bersiklus, merupakan ventilator tekanan positif
yang mengakhiri inspirasi ketika tekanan preset telah tercapai. Siklus
ventilator hidup mengantarkan aliran udara hingga tekanan tertentu yang
telah ditetapkan. Ketika tekanan tersebut seluruhnya telah tercapai, siklus
akan mati. Kerugian prinsip ini adalah jika perubahan pada
pengembangan paru, volume udara yang diberikan juga berubah,
sehingga tidak dianjurkan diberikan pada pasien dengan status paru yang
tidak stabil. Ventilator jenis ini digunakan hanya untuk jangka waktu
pendek di ruang pemulihan.

Ventilator waktu bersiklus merupakan ventilator yang mengakhiri


atau mengendalikan inspirasi setelah waktu yang telah ditentukan. Waktu
inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas per
menit). Normal I/E = 1:2.
Ventilator

volume

bersiklus,

merupakan

ventilator

yang

mengalirkan volume udara pada setiap inspirasi yang telah ditentukan.


Jika volume preset telah dikirimkan pada pasien, siklus ventilator mati
dan ekshalasi terjadi secara pasif. Keuntungan prinsip ini adalah
perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal
yang konsisten. Ventilator volume bersiklus sejauh ini adalah ventilator
tekanan positif yang paling banyak digunakan.
2.1.3

Tipe Ventilator2
Ventilasi dapat diberikan melalui:
1. Hand-controlled ventilation, seperti: bag valve mask, continous
flow atau kantung anestesi.
2. Ventilator mekanik, meliputi: ventilator transpor, ventilator ICU dan
NICU, ventilator PAP

2.1.4

Indikasi Pemasangan
Penggunaan ventilasi mekanik diindikasikan ketika ventilasi spontan

pada pasien tidak adekuat untuk memelihara kehidupannya. 2,5 Ventilasi


mekanik juga diindikasikan sebagai profilaksis terhadap kolaps yang akan
terjadi dari fungsi fisiologis lainnya, atau pertukaran gas yang tidak efektif
di dalam paru.
Indikasi utama pemasangan ventilator adalah adanya gagal napas atau
keadaan klinis yang mengarah ke gagal napas. Pada pasien mati batang otak
jelas terdapat gagal napas bahkan tidak terdapat lagi napas spontan. Adapun
kondisi lain yang mengarah ke gagal napas adalah termasuk hipoksemia
yang refrakter, hiperkapnia akut, atau kombinasi keduanya. Indikasi
lainnya adalah pneumonia berat yang tetap hypoksemia walaupun sudah
diberikan oksigen dengan tekanan tinggi atau eksaserbasi PPOK dimana
PaCO2 nya meningkat mendadak dan menimbulkan asidosis.
Contoh indikasi medis penggunaan ventilasi mekanik, yaitu:
6

1. Gagal Napas
Pasien dengan distres pernapasan gagal napas, henti napas (apneu),
maupun hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen
merupakan indikasi ventilator mekanik. Idealnya, pasien telah mendapat
intubasi dan pemasangan ventilator mekanik sebelum terjadi gagal napas
yang sebenarnya. Distres pernapasan disebabkan ketidakadekuatan
ventilasi dan atau oksigenasi. Prosesnya dapat berupa kerusakan paru
(seperti pada pneumonia) maupun karena kelemahan otot pernapasan.
Gagal napas dibagi menjadi 2 tipe, yaitu: gagal napas hipoksemia
dan gagal napas hiperkarbia. Gagal napas hipoksemia disebabkan oleh
kondisi-kondisi sebagai berikut, yaitu: edema paru, pneumonia,
perdarahan paru, dan respiratory distress syndrome yang menyebabkan
ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi dengan shunt. Gagal napas
hipoksemia ditandai dengan SaO2 arteri <90%, meskipun fraksi oksigen
inspirasi > 0.6.
Tujuan dari pemasangan ventilasi mekanik pada kondisi ini yaitu
untuk menyediakan saturasi oksigen yang adekuat melalui kombinasi
oksigen tambahan dan pola ventilasi tertentu sehingga meningkatkan
ventilasi-perfusi dan mengurangi intrapulmonary shunt.
Sedangkan, gagal napas hiperkarbia disebabkan oleh kondisi yang
menurunkan minute ventilation atau peningkatan dead space fisiologis
sehingga ventilasi alveolar menjadi tidak adekuat untuk memenuhi
kebutuhan metabolik. Kondisi yang berhubungan dengan gagal napas
hiperkarbia, yaitu: penyakit neuromuscular seperti miastenia gravis,
ascending polyradiculopathy, miopati, dan penyakit-penyakit yang
menyebabkan kelelahan otot pernapasan karena peningkatan kerja,
seperti: asma, PPOK, dan penyakit paru restriktif. Kondisi gagal napas
hiperkarbia ditandai dengan PCO2 > 50 mmHg dan pH arteri < 7.30.2,5
Hampir semua pasien gagal napas akut mengalami peningkatan
usaha napas, dan juga mengalami beberapa masalah lain: pertukaran gas
abnormal, gangguan perfusi otot, disfungsi otot yang diinduksi sepsis.
Pengurangan

beban

napas

dapat

memperbaiki

hipoksemia

dan

hiperkapnia. Gagal respirasi karena pneumonia, chronic obstructive


pulmonary disease (COPD), serangan asma akut, sindrom distres napas

akut.
2. Apneu
Apneu dengan henti napas, termasuk kasus akibat intoksikasi. Pasien
apneu, seperti pada kondisi kerusakan sistem saraf pusat katastropik,
membutuhkan tindakan yang cepat untuk pemasangan ventilator
mekanik.

Tujuan

penggunaan

ventilator

adalah

mengembalikan

ventilasi.2,5
3. Syok
Semua jenis syok menyebabkan proses metabolik seluler yang akan
memicu terjadinya jejas sel, gagal organ, dan kematian. Syok akan
menyebabkan paling tidak tiga respon pernapasan, yaitu: peningkatan
ruang mati ventilasi, disfungsi otot-otot pernapasan, dan inflamasi
pulmoner. pasien dengan syok biasanya dilaporkan sebagai dispneu.
Pasien juga biasanya mengalami takipneu dan takikardi, asidosis
metabolik atau alkalosis respiratorik dengan beberapa derajat kompensasi
respiratorik.2,5
Pada pasien yang hemodinamiknya tidak stabil, perfusi jaringan
termasuk sistem saraf pusatnya terganggu, 2 tujuan penggunaan ventilasi
mekanik

adalah

mencapai

jalan

napas

yang

adekuat

dan

menurunkanVO2. Dengan mengistirahatkan otot napas dan dilakukan


sedasi, ventilasi mekanik dapat menurunkan VO2 dan menurunkan tonus
simpatis. Efek ini dapat memperbaiki perfusi jaringan.6
4. Insufisiensi jantung
Tidak semua pasien dengan ventilator mekanik memiliki kelainan
pernapasan primer. Pada pasien dengan syok kardiogenik dan CHF,
peningkatan kebutuhan aliran darah pada sistem pernapasan (sebagai
akibat

peningkatan

kerja napas

dan

konsumsi

oksigen)

dapat

mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilator untuk mengurangi


beban kerja sistem pernapasan sehingga beban kerja jantung juga
berkurang.2
5. Disfungsi Neurologis
Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang berisiko mengalami apneu
berulang juga mendapatkan ventilator mekanik. Selain itu, ventilator
mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan napas pasien. Ventilator
mekanik juga memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien

dengan peningkatan tekanan intrakranial.2


Menurut Standard Operating Procedure Rumah Sakit di salah satu
rumah sakit di Pakistan, kriteria ekstubasi berupa :
1.Neurologikal
a.Sadar
b. Tidak ada sisa blok neuromuskular
c. Kooperatif
d. Dapat mengambil nafas secara dalam dan batuk
2. Jantung
a. Tekanan darah stabil
b. Pasien sebaiknya dalam low inotropic support
c. Tidak ada disritmia yang serius
3. Respirasi
a. Frekuensi napas 12-20 kali permenit
b. pH tidak <7.30
c. Maximum Inspiratory pressure (MIP paling sedikit 25cm H2O)
d. Rontgen : tidak ada bukti edema paru yang hebat atau konsolidasi
peripneumonic yang besar
e. Tidak adanya pneumothorax
4. Ginjal
a.Urine output tidak kurang darri 0.5ml/kg/jam
b. Tidak ada tanda dari kelebihan cairan
5. Suhu
a. Suhu inti antara 35-39C
b. Rentang suhu inti perifer tidak > 5C
Sedangkan Protokol untuk Memulai Ventilatory Support adalah sebagai
berikut :
1. Jika terdapat ahli anestesi , dilakukan clinical assesment terlebih
dahulu sebelum memulai ventilatory support
2. Kriteria untuk memulai ventilatory support :
a. Frekuensi napas > 35 kali per menit
b. PCO2>60 mmHg pada kasus non-PPOK
c. PO2<50mmHg pada kasus non-sianotik heart disease
d. Tanda-tanda dari kelelahan otot

e. Berkeringat
f. Kegagalan metabolik
3. Persiapan intubasi
a. Ambu bag
b. Ukuran facemask harus tepat
c. Ukuran ETT di atas dan di bawah ukuran yang diprediksi harus
dipersiapkan
d. Ukuran blade laringoskop harus tepat
e. Suction kateter
f. Magills forceps
g. Jenis dari ETT
h. Preoksigenasi selama 3 menit
4. Ventilator sebaiknya diatur :
a. CVM untuk emergency ventilation dan mode diubah ke SIMV +
Pressure Support jika emergensi sudah selesai
b. Minute volume, 100ml/kg
c. Tidal Volume, 10 ml/kg
d. Frekuensi napas, 20 kali permenit saat awal dan disesuaikan
dengan umur dan kebutuhan ventilasi
e. Rasio I : E , 1:2
f. FiO2, 1
5. Sedasi secara dalam atau agen induksi dapat digunakan menurut
kebutuhan pasien
6. Jika terpasang NGT maka lakukan penyedotan isi lambung terlebih
dahulu
7. Berikan muscle relaxant dan ventilasi saat menerapkan cricoid
pressure
8. Konfirmasi posisi dari ETT, dan hubungkan dengan ventilator
9. Jika memungkinkan lakukan Analisis Gas Darah 10 menit sebelum
dan 10 menit sesudah pemasangan ventilator
10. Obat-obatan yang telah diberikan dapat dilanjutkan saat ventilatory
support
11. CPR trolley dan obat-obatan resusitasi harus dipersiapkan
12. Lakukan rontgen dada secepat mungkin
2.1.5

Efek Penggunaan Ventilasi Mekanik


Akibat tekanan positif pada rongga toraks, darah yang kembali ke

jantung terhambat, venous return menurun, sehingga cardiac output juga


menurun.

Bila

terjadi

penurunan

respon simpatis

(misal,

karena

hipovolemia, obat, dan usia lanjut), dapat mengakibatkan hipotensi. Darah


yang melalui paru juga berkurang karena ada kompresi mikrovaskular

10

akibat tekanan positif sehingga darah yang menuju atrium kiri berkurang,
akibatnya cardiac output juga berkurang. Bila tekanan terlalu tinggi, dapat
terjadi gangguan oksigenasi. dada (kegagalan memompa udara karena
distrofi otot).5
Akibat cardiac output yang menurun, perfusi ke organ-organ lain pun
menurun, seperti pada hepar, ginjal, dengan berbagai akibat yang dapat
terjadi. Akibat tekanan positif di rongga toraks, darah yang kembali dari
otak terhambat sehingga tekanan intrakranial meningkat.7
2.1.6

Komplikasi Ventilasi Mekanik


Terdapat beberapa komplikasi ventilasi mekanik, yaitu:

1. Komplikasi yang terkait dengan airway: edema laring, trauma mukosa

trakea, kontaminasi saluran napas bawah, hilangnya fungsi kelembaban


pada saluran napas atas.
2. Komplikasi pada paru: ventilator-induced lung injury, barotrauma,
toksisitas oksigen, atelektasis, pneumonia nosokomial, inflamasi.
pada kardiovaskular: berkurangnya venous return,

3. Komplikasi

berkurangya cardiac output, hipotensi.


4. Komplikasi
pada
gastrointestinal

dan

nutrisi:

perdarahan

gastrointestinal, malnutrisi.
5. Komplikasi pada neuromuskular: peningkatan tekanan intrakranial.
6. Komplikasi pada keseimbangan asam basa: asidosis respiratorik,

alkalosis respiratorik.
2.1.7

Mencabut ventilasi
Mencabut ventilasi mekanis merupakan proses mengurangi bantuan

ventilasi, sehingga pasien dapat bernafas secara spontan dan dapat


diekstubasi. Proses ini dapat dicapai pada kebanyakan 80 % pasien saat
penyebab dari gagal nafas diketahui dan telah mengalami perbaikan.
Sedangkan pada kasus lain akan membutuhkan metode pencabutan ventilasi
yang lebih bertahap.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan pencabutan
ventilator mulai dari adakah kondisi awal yang mempengaruhi pasien,
apakah keadaan umum pasien dalam keadaan optimal, apakah pasien
mempunyai masalah saluran napas yang teridentifikasi atau terobati, dan

11

apakah napas adekuat. Penyebab dari gagal napas harus diidentifikasi dan
ditangani hingga tingkat yang stabil dan memungkinkan. Optimisasi dari
keadaan umum termasuk di dalamnya persiapan yang hati hati sangatlah
penting karena pasien yang diintubasi ulang memiliki outcome yang sangat
buruk.
Pencapaian pelepasan intubasi juga memerlukan refleks saluran napas
yang baik termasuk batuk yang adekuat dan sekresi minimal. Tingkat
kesadaran yang adekuat juga dibutuhkan untuk mempertahankan keadaan
setelah ekstubasi. Adanya edema laringeal harus diketahui sebagai penyebab
sulitnya bernapas setelah eksubasi yang terjadi pada 10 hingga 15%. Faktor
resiko terjadi edema saluran napas setelah ekstubasi antara lain : alasan
pengobatan, intubasi yang sulit atau traumatik, ekstubasi sendiri, cuff
tracheal tube yang terlalu mengembang, dan intubasi yang terlalu panjang.
Tabel 1. Prekondisi umum untuk memulai weaning ventilator
Perbaikan dari penyebab utama pemakaian ventilator
Pasien sadar dan responsif
Analgesia baik, dapat batuk
Dosis minimal atau berkurangnya kebutuhan bantuan inotropik
Berfungsinya pencernaan, tidak ada distensi abdomen
Status metabolik normal
Konsentrasi hemoglobin adekuat
Dalam memprediksi berhasil atau tidaknya pecabutan ventilator,
sensitivitas dan spesifisitas juga perlu diperhatikan. Banyak petunjuk yang
memiliki sensitivitas baik namun memiliki spesifistas yang rendah. Petunjuk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

tersebut antara lain :


Minute ventilation < 10 L/m
Kapasitas vital/berat > 10 ml/kg
Frekuensi respirasi < 35 bpm
Volume tidal/berat > 5ml/kg
Volume inspirasi maksimal < -25cm H2O
Pa0/Pa02 > 0,35
Tingat respirasi/volume tidal <100 /L
Pa0/Fi02 >200 mmHg
Dalam mencapai napas yang adekuat Spontaneous Breathing Trial
(SBT) merupakan suatu pendekatan yang sederhana dalam pencabutan

12

ventilator. Teknik orisinil yang ada adalah secara langsung memutuskan


hubungan antara pasien dengan ventilator melalui alat yang disebut T-piece.
Apapun jenis lain yang disebut Continous Positive Aiway Pressure (CPAP),
yang menjaga kapasitas fungsional residual, dan alat lain yang disebut
Pressure Support Ventilation (PSV) tingkat rendah untuk mengatasi
resistensi napas melalui sebuah tube endotracheal. Selain juga mencapai
keadaaan pasien agar siap saat diekstubasi, meningkatkan durasi SBT dapat
digunakan untuk mendapatkan proses pelepasan ventilator dan dapat
dilakukan tanpa harus memutuskan hubungan pasien dengan ventilator.
Ketika pasien siap untuk pencabutan, cara terbaik untuk mengetahui
mereka mampu bernapas sendiri adalah dengan melakukan SBT. Kemudian
dilanjutkan dengan proses ekstubasi. Penting juga untuk diberikan informasi
bahwa trakeostomi dapat dilakukan sewaktu-waktu.
Perlu juga diketahui bahwa banyak pasien yang tidak mampu
melewati SBT pada percobaan pertama, khususnya pada mereka dengan
beberapa komorbiditas, misalnya pada pasien tua yang diventilasi terlalu
lama. Pilihan ventilasi pada pasien pasien ini antara lain :
1. Trial T-piece
2. Synchronized intermittent mandatory ventilaltion (SIMV)
3. Pressure support ventilaltion (PSV)
Percobaan T piece meliputi periode-periode dimana ventilasi bantuan
secara gradual dirusak oleh peningkatan durasi SBT (ditingkatkan dua kali
sehari). Ketika pasien mampu menjaga kondisinya selama 2 jam tanpa
masalah, mereka dapat diekstubasi. Di bawah ini adalah kriteria1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

kriterianya :
Respiratory rate >35 x/menit
SpO2 <90%
Heart rate >140 x/menit
Tekanan darah sistolik >180 atau <90 mmHg
Agitasi
Berkeringat
Kecemasan atau meningkatnya kerja napas
Sedangkan SIMV dilakukan dengan cara menurunkan mandatory rate
secara gradual (2-4 x/menit pada basis 2 x sehari atau lebih jika dapat
ditolerir). End point pada pasien SIMV ini adalah 4-5 /menit. Jika pasien
memenuhi kriteria makan pasien dapat diekstubasi. Pada kebanyakan
13

percobaan, SIMV merupakan metode paling efisien. Harus diperhatikan


bahwa pada trial ini tidak ada bantuan untuk pernapasan spontan antara
pernapasan

mandatory

yang

dipicu.

Ventilator

moderen

sering

mengkombinasi SIMV atau tekanan saluran napas positif bi-level dan


bentuk dari PSV.

Gambar 2.1

Alur Pemasangan Ventilator

Pasien yang dilakukan intubasi ulang memiliki komplikasi yang lebih


tinggi dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Ventilasi non invasif tidak
hanya mencegah intubasi pada beberapa pasien, namun juga memiliki peran
penting dalam mencegah intubasi ulang pada mereka yang gagal ekstubasi.
Pasien dengan PPOK, dan mereka yang dengan defisiensi imun dengan

14

infiltrat bilateral, memiliki jumlah intubasi dan tingkat mortalitas yang


rendah yang berkurang akibat penggunaan ventilasi non invasif.
Keuntungan juga didapat pada pasien dengan edema paru kardiogenik.
Kelebihan ventilasi non invasif sendiri jika dibandingkan dengan CPAP
masih harus dilakukan studi lebih lanjut.
2.2 Informed Consent
2.2.1

Definisi8

Menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

(Permenkes)

nomor

290/Menkes/Per/III/2008, persetujuan tindakan medis (PTM) atau informed


consent adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga terdekat
setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran
atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. Dari pengertian
di atas, informed consent adalah persetujuan yang diperoleh dokter sebelum
melakukan pemeriksaan, pengobatan atau tindakan medik apapun yang akan
dilakukan.
Dengan informed consent dimaksudkan bahwa pasien dengan bebas dan
tanpa

dipaksa

menyetujui

suatu

tindakan

medis

setelah

dokter

menyampaikan informasi secukupnya tentang arti tindakan tersebut, risiko


yang terkandung di dalamnya, manfaat yang diharapkan, dan alternatif yang
tersedia. Persetujuan pasien dalam dunia medis dapat berlaku dalam bidang
diagnostik maupun terapeutik. Ide dasarnya adalah bahwa dokter
mempunyai

pengetahuan

dan

keahlian

medis,

sedangkan

pasien

membutuhkan pelayanan medis, adalah kaum awam dan umumnya tidak


mengerti seluk beluk pengobatan dan pemeriksaan kesehatan.
Persetujuan pasien dalam tindakan medis harus dimengerti sebagai
konsekuensi prinsip menghormati otonomi pasien. Setiap tindakan yang
dilakukan di bidang diagnostik dan terpeutik tanpa meminta persetujuan
pasien melanggar otonominya,
Beauchamp dan Childress membagi informed consent menjadi 7 unsur,
yaitu kompetensi, kebebasan, penyampaian informasi oleh dokter,
rekomendasi oleh dokter, pemahaman pasien, keputusan, dan otorisasi oleh
pasien.
15

Syarat pertama adalah kompetensi pasien. Seorang pasien dikatakan


kompeten bila ia bisa mengambil keputusan atas dasar alasan yang rasional,
sanggup mengerti prosedur, mempertimbangkan manfaat dan risiko, dan
mengambil keputusan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Bila pasien
tidak kompeten, ia dapat diwakili oleh seorang wali, disebut sebagai proxy
consent. Pasien yang dianggap tidak kompeten adalah anak, pasien sakit
jiwa, pasien tidak sadar, orang cacat mental dan sebagainya.
Biasanya wali itu adalah orang tua untuk anak di bawah umur, suami
untuk istri, istri unutk suami, dan sebagainya. Seorang wali harus kompeten,
memperoleh informasi secukupnya, dan juga memahami informasi itu.
Persetujuan juga harus diberikan demi kepentingan pasien, bukan demi
kepentingan wali atau pihak lain, dalam hal ini tidak boleh terjadi konflik
kepentingan dengan wali itu sendiri.
Jika terjadi situasi sulit di rumah sakit, di mana persetujuan atau
penolakan wali bertolak belakang dengan kepentingan pasien, Komisi Etika
Rumah Sakit dapat dilibatkan, sehingga keputusan para dokter dapat
diperkuat dan lebih obyektif. Dalam keadaan gawat darurat, tidak
dibutuhkan proxy consent bila keluarga terdekat tidak mungkin segera
dihubungi. Dokter harus bertindak semata-mata berdasarkan prinsip berbuat
baik. Kasus yang tergolong keadaan darurat, seorang dokter harus segera
berusaha menyelamatkan nyawa pasien tanpa izin dulu sekalipun.
Kebebasan dalam informed consent berarti bahwa seseorang dapat
mengambil keputusan tanpa paksaan atau penekanan berupa kekerasan,
ancaman, atau manipulasi. Kebebasan membuat keputusan menjadi pilihan
dari orang yang bersangkutan.
Dalam konteks pengobatan, informasi harus diberikan oleh dokter.
Berdasarkan pada informasi itu, pasien harus memperoleh pengetahuan
mengenai penyakitnya dan harus memperoleh pengetahuan tentang
penyakitnya dan harus dapat mempertimbangkan risiko dan manfaat
pengobatannya.
Isi informasi yang harus diberikan oleh seorang dokter biasanya
menyangkut lima hal berikut, yaitu keadaan medis pasien (hasil diagnosis

16

dan prognosis bila tidak diadakan pengobatan), prosedur atau pengobatan


yang dipertimbangkan, cara pengobatan lain yang memungkinkan, risiko
dan manfaat yang menyangkut pengobatan atau prosedur diagnositk tertentu
maupun alternatifnya, pandangan professional tentang pengobatan lain atau
alternatif bila ada. Dokter selalu harus memberi kesempatan kepada pasien
untuk bertanya, sebab hal ini merupakan salah satu cara untuk menghargai
otonomi pasien.
Rekomendasi oleh dokter seringkali disampaikan bersamaan dengan
penyampaian informasi. Bila dalam sebuah kasus ada pilihan beberapa
terapi, dokter akan mulai menjelaskan dulu terapi pertama yang mempunyai
preferensi dari sang dokter, kemudian setelahnya ia dapat menjelaskan
alternatif yang ada.
Informasi yang diberikan harus dapat dimengerti oleh pasien. Dokter
wajib menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana, tidak terlalu
teknis atau berbelit-belit.
Untuk pemahaman informasi, pasien juga memiliki hak untuk meminta
second opinion tentang diagnosis atau terapi yang diusulkan, pada dokter
atau rumah sakit lain yang dipilih oleh pasien sendiri. Dokter dan rumah
sakit pertama harus selalu kooperatif.
Pengambilan keputusan setelah pemberian informasi, biasanya akan
diambil oleh pasien bersama dengan keluarga dan teman-temannya. Sering
juga terjadi bahwa dokter ikut berperan dalam pengambilan keputusan
tersebut, yang penting otonomi pasien tetap dipertahankan dan tidak boleh
adanya paksaan dalam bentuk apapun.
Pasien berhak untuk menolak bila tidak menyetujui tindakan yang akan
diambil oleh seorang dokter, dan keadaan penolakannya harus merupakan
informed refusal. Penolakan tersebut tidak memenuhi syarat bila pada
kenyataannya pasien menolak tindak medis karena ketidaktahuan atau
kurangnya pengetahuan.
Pengambilan keputusan dan otorisasi membentuk inti dari persetujuan.
JIka pasien akhirnya mengambil keputusan untuk menjalani operasi atau
tindak medis lainnya, secara teoritis masih terdapat kemungkinan ia

17

memilih dokter atau rumah sakit lain untuk melaksanakannya. Dalam hal
ini, pasien memberi wewenang atau otorisasi kepada dokter lain, bukan
kepada dokter yang menyampaikan informasi. Namun, biasanya dengan
mengambil keputusan langsung, berarti pasien memberi otorisasi kepada
dokter itu juga.
Persetujuan tindak medis harus diberikan secara tertulis terutama dalam
konteks pengobatan di rumah sakit karena ada efek hukumnya. Bila pasien
kompeten, sebaiknya pasien sendiri menandatangani formulir tersebut,
tetapi bila ia mau menyerahkan urusan formulir persetujuan kepada wali,
dokter atau rumah sakit dapat menerimanya.
2.2.2

Hakikat

1. Merupakan sarana legimitasi bagi dokter untuk melakukan intervensi


medik yang mengandung risiko serta akibat yang tidak menyenangkan.
2. Merupakan pernyataan sepihak. Maka yang menyatakan secara tertulis
hanya yang bersangkutan saja yang seharusnya menandatangani.
3. Merupakan dokumen yang tetap sah walaupun tidak memakai materai.
2.2.3

Bentuk Informed Consent

1. Implied Constructive Consent (Keadaan Biasa)


Tindakan yang biasa dilakukan telah diketahui dan dimengerti
oleh masyarakat umum sehingga tidak perlu lagi dibuat dalam bentuk
tertulis. Misalnyapengambilan darah untuk laboratorium, suntikan atau
menjahit luka terbuka.
2. Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat)
Bila pasien dalam kondiri gawat darurat sedangkan dokter perlu
melakukantindakan segera untuk menyelematkan nyawa pasien
sementara pasien dankeluarganya tidak dapat membuat persetujuan
segera. Misalnya dalam kasus sesak nafas, henti nafas atau henti
jantung.
3. Expressed Consent (Bisa lisan/tertulis bersifat khusus)
Persetujuan yang dinyatakan baik lisan ataupun tertulis, bila
yang akandilakukan melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan

18

biasa. Misalnya pemeriksaan vaginal, pencabutan kuku, tindakan


pembedahan/operasi atau pengobatan/tindakan yang bersifat invasif.
2.2.4

Dasar Hukum Informed Consent9,10

1. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 pasal 45 tentang persetujuan


tindakan kedokteran.
2. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 pasal 53 tentang kewajiban
dan hak tenaga kesehatan, dan hak pasien
3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008
tentang persetujuan tindakan kedokteran.
4. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 pasal 56, 57, dan 58 tentang
Kesehatan.
5. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 32
2.2.5

Ketentuan Persetujuan TindakAN Medis9,10

Ketentuan persetujuan tindakan medis berdasarkan SK Dirjen Pelayanan


Medik No.HR.00.06.3.5.1866 tanggal 21 April 1999, diantaranya :
1. Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus dalam kebijakan dan
prosedur (SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2. Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter
3. Informed consent dianggap benar apabila:
a. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk
tindakan medis yang dinyatakan secara spesifik.
b. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa
paksaan.
c. Persetujuan dan penolakan tindakan medis diberikan oleh
seseorang (pasien) yang sehat mental dan memang berhak
memberikan dari segi hukum.
d. Setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang
diperlukan.
4. Isi informasi dan penjelasan yang harus diberikan meliputi:
a. Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada
dilakukan (purhate of medical procedure)
b. Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan.
c. Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
d. Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko
risikonya.
e. Tentang prognosis penyakit bila tindakan dilakukan.

19

f. Diagnosis
5. Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan
Dokter yang melakukan tindakan medis
Apabila berhalangan dapat diwakilkan kepada dokter lain, dengan
diketahui oleh dokter yang bersangkutan.
Cara menyampaikan informasi dapat secara lisan maupun tulisan.
Pihak yang menyatakan persetujuan adalah:
Pasien sendiri yang berumur 21 tahun lebih atau telah menikah.
Bagi pasien yang berumur kurang dari 21 tahun dengan urutan hak:
Ayah atau ibu kandung.
Saudara-saudara kandung.
c. Bagi pasien yang berumur kurang dari 21 tahun yang tidak memiliki
6.
7.
a.
b.

d.

e.

f.

8.

9.

orangtua atau berhalangan dengan urutan hak:


Ayah atau ibu adopsi.
Saudara-saudara kandung.
Induk semang.
Bagi pasien dengan gangguan mental dengan urutan hak:
Ayah atau ibu kandung.
Wali yang sah.
Saudara-saudara kandung.
Bagi pasien dewasa dibawah pengampuan:
Wali.
Kurator.
Bagi pasien dewasa yang telah menikah atau orangtua:
Suami atau istri.
Ayah/ibu kandung.
Anak-anak kandung.
Saudara-saudara kandung.
Cara menyatakan persetujuan
Tertulis: mutlak pada tindakan medis risiko tinggi.
Lisan: tindakan tidak berisiko.
Jenis tindakan medis yang membutuhkan informed consent disusun

oleh komite medik yang ditetapkan oleh pimpinan RS.


10. Tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat yang tidak didampingi oleh
keluarga pasien.
11. Format isian informed consent persetujuan atau penolakan
Diketahui dan ditandatangani oleh kedua orang saksi dengan
perawat bertindak sebagai salah satu saksi.
Materai tidak diperlukan.
Formulir asli harus dismpan dalam berkas rekam medis pasien.
Formulir harus ditandatangan 24 jam sebelum tindakan medis
dilakukan.

20

Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti telah


diberikan informasi.
Bagi pasien atau keluarga yang buta huruf dapat membubuhkan cap
jempol ibu jari tangan kanannya.
12. Jika pasien menolak tandatangan surat penolakan maka harus ada
catatan pada rekam medisnya.

BAB III
KESIMPULAN
Ventilasi mekanik dapat bersifat life saving namun harus dipergunakan
sebagaimana mestinya sesuai indikasi yaitu ketika ventilasi spontan pada
pasien tidak adekuat untuk memelihara kehidupannya. Ventilasi mekanik
juga diindikasikan sebagai profilaksis terhadap kolaps yang akan terjadi atau
pertukaran gas yang tidak efektif di dalam paru. Penggunaan ventilasi
mekanik juga memiliki komplikasi pada sistem tubuh lainnya.
Menyapih ventilasi mekanis merupakan proses mengurangi bantuan
ventilasi, sehingga pasien dapat bernafas secara spontan dan dapat
diekstubasi.

Proses

ini

harus

memenuhi

kriteria-kriteria

tertentu,

keberhasilannya pun dapat diprediksi. Proses ini dapat dicapai pada


kebanyakan 80 % pasien saat penyebab dari gagal nafas diketahui dan telah

21

mengalami perbaikan.
Informed consent adalah persetujuan yang diperoleh dokter dari pasien
atau keluarga pasien sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan atau
tindakan medik apapun yang akan dilakukan. Beauchamp dan Childress
membagi informed consent menjadi 7 unsur, yaitu kompetensi, kebebasan,
penyampaian informasi oleh dokter, rekomendasi oleh dokter, pemahaman
pasien, keputusan, danotorisasi oleh pasien.
Isi informasi yang harus diberikan oleh seorang dokter biasanya
menyangkut lima hal berikut, yaitu keadaan medis pasien (hasil diagnosis
dan prognosis bila tidak diadakan pengobatan), prosedur atau pengobatan
yang dipertimbangkan, cara pengobatan lain yang memungkinkan, risiko
dan manfaat yang menyangkut pengobatan atau prosedur diagnostik tertentu
maupun alternatifnya, pandangan professional tentang pengobatan lain.
Dasar hukum yang menjadi dasar informed consent adalah Peraturan
Menteri Kesehatan nomor 290/MENKES/PER/III/2008, Undang-Undang
nomor 29 tahun 2004 pasal 45, Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 pasal
56, 57, dan 58, Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 pasal 32, dan
Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 pasal 53.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, et al. Harrisons
Principles of Internal Medicine. Ed ke-17. New York : McGraw-Hill
Companies; 2008.
2. Byrd

R.

P.

Mechanical

Ventilation.

Medscape.

2012.

http://emedicine.medscape.com/article/304068-overview#showall [5
Desember 2013]
3. Laghi F., Tobin M. J. Indications for Mechanical Ventilation. Di
dalam: Tobin M. J, editor. Principles and Practice of Mechanical
Ventilation. Ed ke-2. New York: McGraw-Hill. 2006. hlm 129-47.
4. Tobin M. J. Principles and Practice of Mechanical Ventilation. Ed
ke-2. New York: McGraw-Hill; 2006. hlm 148-51.
5. Jeremy Lermitte B.M., Mark J Garfield M. B. Weaning from
Mechanical Ventilator. Continuing Education in Anaesthesia,
Critical Care & Pain 2005: 5(4); 2005.
6. Janet M. Torpy. Mechanical Ventilation. Journal of the American
Medical Association 2013: 303(9); 902.
23

7. J-M. Boles, J. Bion, A. Connors, M. Herridgem B. Marsh, C. Melot,


et al. Weaning from Mechanical Ventilation. European Respiratory
Journal 2007: 29; 103356.
8. Bertens, K. 2011. Etika Biomedis. Cetakan ke-5. Penerbit Kanisius :
Jakarta.
9. http://hukumkesehatan.com/informedconsent.html
10. http://hukumkes.wordpress.com/category/hukum-kesehatan/page/2/

LAMPIRAN
UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus
mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien mendapat penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan
baik secara tertulis maupun lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung
risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
24

(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau


kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat
(3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 53 :
(1) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
(2) Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
(3) Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan
tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan
kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan.
(4) Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien
sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 56 :
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau
seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya
setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan
tersebut secara lengkap
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak berlaku pada:
a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat
menular ke dalam masyarakat yang lebih luas
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri atau
c. gangguan mental berat
(3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan

25

Pasal 57 :
(1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya
yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan.
(2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal:
a. perintah undang-undang,
b. perintah pengadilan,
c. izin yang bersangkutan,
d. kepentingan masyarakat, atau
e. kepentingan orang tersebut.

Pasal 58 :
(1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang,
tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya.
(2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan
penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32 :
(1) memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang
berlaku di Rumah Sakit
(2) memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
(3) memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa
diskriminasi
(4) memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional
(5) memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien
terhindar dari kerugian fisik dan materi

26

(6) mengajukan

pengaduan

didapatkan
(7) memilih dokter

dan

atas
kelas

kualitas

pelayanan

perawatan

sesuai

yang
dengan

keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit


(8) meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada
dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di
dalam maupun di luar Rumah Sakit
(9) mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya
(10) mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan
(11) memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya
(12) didampingi keluarganya dalam keadaan kritis
(13) menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang
dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya
(14) memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit
(15) mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit
terhadap dirinya
(16) menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianutnya
(17) menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah
Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan
standar baik secara perdata ataupun pidana
(18) mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

27