Anda di halaman 1dari 4

Klasifikasi Pneumonia dan Faktor Penyebabnya

Vanesha Cicilia Kwentano


102013229
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no.06 Jakarta 11510
Email: vckwentano@gmail.com

Pendahuluan
Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit di mana alveolus yang bertanggung jawab
menyerap oksigen dari atmosfer terinflamasi dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga
disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya,
seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol, namun penyebab yang paling sering
ialah serangan bakteria Streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus. Sebelum penemuan dari
antibiotik-antibiotik, satu per tiga dari semua orang-orang yang telah mengembangkan
pneumonia sesudah itu meninggal dari infeksi. Saat ini di dunia penyakit pneumonia dilaporkan
telah menjadi penyakit utama di kalangan kanak-kanak dan merupakan satu penyakit serius yang
merenggut nyawa beribu-ribu warga tua setiap tahun. Diagnosis pneumonia secara klinis
umumnya mudah ditegakkan. Tanda dan gejalanya sangat khas yakni bila ditemukan demam,
batuk berdahak (sputum yang produktif) atau nyeri dada. Diagnosis lebih meyakinkan bila
didapatkan infiltrat pada pemeriksaan foto rontgen paru dan penemuan mikroba penyebabnya.

Anamnesis
Dalam anamnesis, tanyakan mengenai keluhan atau gejala seputar pneumonia, bisa lokal
dengan batuk produktif, sesak napas, atau nyeri pleuritik. Batuk bisa produktif menghasilkan
sputum (seringkali berwarna hijau) atau mengandung darah (klasik sputum berwarna kerat pada
pneumonia pneumokokal), bisa disertai gejala sistemik, seperti kelelahan, anoreksia, mialgia,
demam, dan mengigil. Jika berat, pneumonia bisa menimbulkan gejala gagal napas, syok, atau
bingung.2 Kemudian pasien bisa memiliki penyakit pernapasan yang mendasari, seperti PPOK

atau asma, atau imunosupresi akibat obat-obatan, HIV, neutropenia, atau baru menderita
influenza. Etiologi penting lain diantaranya adalah aspirasi, berkurangnya batuk akibat nyeri
pada dinding dada (misalnya fraktur iga, pascaoperasi), dan obstruksi bronkial akibat tumor
bronkial.2 Pada pasien anak, dapat ditanyakan pada ibunya atau orang terdekat (alloanamnesis).
Jika anak tersebut mengeluh sesak, tanyakan sudah berapa lama? Bagaimana awalnya; mendadak
atau bertahap? Apa yang sedang dilakukan pasien pada saat awal gejala (berbaring, berlari,
berjalan, dsb)? Apakah memburuk? Apa yang memicunya atau meredakannya (postur tubuh,
obat, atau oksigen)? Adakah gejala penyerta (nyeri dada, batuk, palpitasi, hemoptisis, mengi,
demam/sifat demam)?3 Tanyakan juga apakah ibunya punya riwayat penyakit paru? adakah anak
atau ibunya alergi? kebiasaan merokok (misal, dalam keluarga satu rumah)? tanyakan juga obatobatan yang sebelumnya digunakan? dan hal-hal yang berkaitan dengan riwayat/lingkungan
sosial pasien.3
Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
Perlu diperhatikan adanya takipnea, dispne, sianosis, pernapasan cuping hidung, ,
batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri dada pada waktu menarik
napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5 tahun adalah 40 kali / menit atau
lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada
pneumonia berat, tarikan dinding dada kedalam akan tampak jelas.3
b) Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan atau
tachycardia.3
c) Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.3
d) Auskultasi

Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke


hidung/mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit, dan
ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni, kadang
terdengar bising gesek pleura.3
Pada pemeriksaan fisik dada, terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas
dengan suara napas bronkial kadang-kadang melemah. Didapatkan ronki basah halus,
yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.4
Pemeriksaan penunjang

Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan

diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan "air
broncogram", penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak
dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah
diagnosis etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering disebabkan oleh
Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral
atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukkan
konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.4

Pemeriksaan mikrobiologis
Pada pneumonia anak, pemeriksaan mikrobiologis tidak rutin dilakukan, kecuali pada

pneumonia berat yang rawat inap. Spesimen pemeriksaan ini berasal dari usap tenggorok, sekret
nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru . Spesimen dari saluran
napas atas kurang bermanfaat untuk kultur dan uji serologis karena tingginya prevalens
kolonisasi bakteri.
Kultur sputum umumnya memerlukan kurang lebih dua sampai tiga hari, jadi sebagian
besar dari sputum digunakan untuk konfirmasi antibiotika yang sudah diberikan dan sensitif
terhadap infeksi itu. Pada contoh darah dapat dikultur dengan cara yang sama untuk mencari
infeksi dalam darah(kultur darah). Setiap bakteri yang teridentifikasi kemudian di uji untuk
melihat antibiotik mana yang paling efektif. 4

Pemeriksaan darah
Pada pneumonia virus atau mikoplasma, umunya leukosit normal atau sedikit meningkat,

tidak lebih dari 20.000/mm3 dengan predominan limfosit. Pada pneumonia bakteri didapatkan
leukositosis antara 15.000-40.000/mm3 dengan predominan sel polimorfonuklear khususnya
granulosit. Leukositosis hebat (30.000/mm3) hampir selalu menunjukkan pneumonia bakteri.
Adanya leukopenia (<5.000/mm3) menunjukkan prognosis yang buruk. Kadang-kadang terdapat
anemia ringan dan peningkatan LED. Namun, secara umum, hasil pemeriksaan darah perifer
lengkap dan LED tidak dapat membedakan infeksi virus dan bakteri secara pasti.4

Tes Serologi
Uji serologis untuk deteksi antigen dan antibodi untuk bakteri tipik memiliki sensitivitas

dan spesifisitas rendah. Pada deteksi infeksi bakteri atipik, peningkatan antibodi IgM dan IgG
dapat mengkonfirmasi diagnosis.
Tes serologi darah yang spesifik untuk bakteri lain (Mycoplasma,Legionella,dan Chlamydophila)
dan tes urine untuk antigen Legionella yang tersedia. Sekresi dari pernapasan dapat juga dicoba
untuk menunjukan virus seperti influenza,virus syncyal respiratory dan adenovirus.4

Daftar Pustaka
1. Arvin BK. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 2. Edisi 15. Jakarta: EGC;2012.h.1034-7.
2. Gleadle J. History and examination at a glance. Diterjemahkan oleh: Rahmalia A, Safitri
A. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2005. h. 96.
3. Bickley LS. Bates guide to physical examination & history taking. Edisi 8.
Diterjemahkan oleh: Hartono A, Dwijayanthi L, Novrianti A, Karolina S. Jakarta: EGC.
2009. h. 671-2.
4. Staff ilmu kesehatan anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 3. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan FKUI. h. 1228-43.