Anda di halaman 1dari 4

Tugas Farmakoterapi Terapan

FARMAKOTERAPI HIPERTENSI

Disusun Oleh:
M. Hilka P. I.
260112150156

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

a. KASUS
Seorang wanita 40 tahun dengan riwayat hipertensi datang ke klinik dengan keluhan badan
lemah. Ia merokok pak per hari, minum kopi rendah kalori dan alkohol serta mengkonsumsi
suplemen kalsium setiap harinya. BMI nya 32 kg/m2, lingkar pinggang 97 cm.
Riwayat kesehatan

: Hipertensi selama 3 tahun, terkontrol.

Riwayat keluarga

: Ayah masih hidup, 58 tahun. Ibu masih hidup dengan

riwayat

obesitas dan depresi.


Riwayat sosial

: Ia perawat. Ia merokok pak per hari, minum kopi


rendah kalori dan alkohol serta mengkonsumsi suplemen kalsium.

Obat yang dikonsumsi sehari-hari:


Irbesartan 150 mg once daily
Hydrochlorothiazide 25 mg once daily
S (Subjek)
-

Seorang wanita
Usia: 60 Tahun
Keluhan: badan lemah, merokok pak per hari, minum kopi rendah kalori dan

alkohol.
Riwayat kesehatan: Hipertensi selama 3 tahun, terkontrol.

O (Objek)
Sebelum pengobatan
-

Tanda vital: Tekanan darah 120/82, heart rate 82, respiratory rate 16, suhu 37oC
BB: 109 kg; TB: 163 cm; Lingkar pinggang: 97 cm
Kardiovaskular normal, abdomen normal, ekstremitas normal
Laboratorium: Semua dalam batas normal
EKG normal
BMI nya 32 kg/m2, lingkar pinggang 97 cm (obesitas I)

A (Asessment)
Jika dilihat dari BMI nya 32 kg/m2, pasien tersebut tergolong kedalam obesitas I
(sedang) dengan rentang BMI (30.0-34.9 kg/m2). Penyebab obesitas pada pasien ini
dapat disebabkan oleh genetik yang diturunkan dari ibunya. Gen ini diduga dapat

mempengaruhi jumlah dan besar sel lemak, distribusi lemak dan besar penggunaan energi
untuk metabolisme menjadi predisposisi obesitas ketika adanya kalori yang cukup. Jenis
kelamin juga ikut berpengaruh, wanita lebih sedikit memiliki otot maka wanita
memperoleh kesempatan lebih kecil untuk membakar lemak.
Kondisi lain yang mendukung pasien ini terkena obesitas mungkin berasal pola
makan yang tidak teratur karena pekerjaannya sebagai perawat. Orang mungkin makan
berlebihan ketika depresi, merasa putus asa, marah, bosan dan berbagai sebab lain yang
sebenarnya tidak butuh makan. Perasaan berpengaruh terhadap kebiasaan makannya.
Pasien memiliki

riwayat hipertensi, namun karena telah mengkonsumsi obat

antihipertensi sehingga hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah pasien berada
pada rentang normal (120/82). Hal tersebut menunjukkan bahwa obat-obatan yang
dikonsumsi tepat sasaran. Irbesartan yang dikonsumsi sebagai antihipertensi, yang
termasuk kedalam golongan Enzim Konverting Antagonis (EKA) merupakan obat
antihipertensi utama pada pasien obesitas.
P (Plan)
Terapi Farmakologi
-

Irbesartan 150 mg 1x sehari


Hydrochlorothiazide 25 mg 1x sehari

Deskripsi Obat
Irbesartan
Kelompok obat yang disebut angiotensin II reseptor antagonis
Mekanisme
: Menjaga pembuluh darah dari penyempitan, yang mana membuat
Indikasi

tekanan darah menurun dan meningkatkan aliran darah.


: Hipertensi (sebagai monoterapi atau terapi kombinasi dengan obat
antihipertensi lain), untuk mengobati masalah

Kontra Indikasi
Efek samping
Dosis

ginjal yang

disebabkan oleh diabetes tipe-2 (not insulin- dependent diabetes).


: Hamil dan laktasi
: Demam, menggigil, edema tungkai atas atau wajah, kemerahan,
mumur, infark miokard, angina pektoris, aritmia, henti nafas-jantung,
: Dosis awal 150 mg melalui mulut (per oral) 1x sehari;
Dosis rumatan 150-300 mg melalui mulut (per oral) 1x sehari

Hydrochlorothiazide
Kelompok obat Diuretik Tiazid
Mekanisme

: Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam parsassendens


ansa henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya K +, Na+, dan Clmenyebabkan peningkatan pengeluaran urin. Hilangnya natrium

Indikasi
Kontra Indikasi
Efek samping

menyebabkan turunnya GFR.


: Diuretika, edema, terapi tambahan pada hipertensi.
: Anuria, terapi bersama litium, dekompensasi ginjal
: Gangguan metabolik, ketidak seimbangan elektrolit,

anoreksia,

gangguan saluran cerna,sakit kepala, pusing, hipotensi,pastural,


impotensi, penglihatan menjadi kuning, reaksi hipersensitif, jarang
Dosis

ikterik kolestatik, pankreatitis dan diskrasia darah.


: 50-200 mg per hari

Terapi Non Farmakologi


1. Mengatur pola makan yang sehat dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah
sebagai sumber serat, sehingga dapat mengurangi absorpsi kalori dan lemak di usus
halus.
2. Membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana, menghindari
makanan cepat saji.
3. Melakukan kegiatan jasmani yang cukup, sesuai dengan umur dan kemampuan
(olahraga).
4. Mengurangi konsumsi alkohol dan terutama berhenti merokok karena merokok dapat
meningkatkan kekentalan darah dan kelenturan arteri.
5. Memberi jarak waktu saat mengkonsumsi obat dan suplemen kalsium karena kalsium
dapat menurunkan absorpsi dari obat.