Anda di halaman 1dari 20

Diktat RCC untuk program BKJT VI

IV. VARIABEL PROSES

4.1 OPERATING CONDITION


A. KONVERSI.
Severity unit RCC ditentukan oleh tingkat konversi yang merupakan persen feed
yang dapat diubah menjadi gasoline dan produk ringan lainnya atau dapat
dinyatakan dengan formula sbb :
Feed - ( LCO + DCO )
Konversi =
Feed
Konversi tergantung pada :
a.

Sifat-sifat feed (API, MCR & Average Boiling Point).

b.

Sifat-sifat katalis(activity & metal content).

c.

Catalyst / Oil ratio (Temperatur feed, temperatur reactor & temperatur regenerated
catalyst).

Makin tinggi severity maka akan menghasilkan gasoline yang semakin tinggi dengan
angka ON yang semakin menurun, namun produksi coke juga akan meningkat.
Koreksi dilakukan dengan mempergunakan LCO terhadap 90 % distilasi gasoline
pada temperatur 193 C.
B. CATALYST / OIL RATIO.
C/O rattio merupakan perbandingan berat sirkulasi katalis (kg/j) dengan berat umpan
(kg/j) yang dipergunakan untuk menentukan jumlah katalis aktif per satuan berat
umpan. C/O ratio untuk unit FCC/ RCC direkomendasikan antara 5 - 10, namun
UOP merekomendasikan 6,4 - 8,6 dan umumnya C/O ratio yang dipergunkan adalah
7,4. Makin tinggi C/O ratio maka makin banyak reaksi perengkahan katalitis yang
terjadi dan meningkatkan pula reaksi hydrogen transfer sehingga berakibat pada
meningkatnya produksi coke. C/O ratio akan menurun dengan kenaikkan temperatur
regenerator dan kenaikkan temperatur umpan. Rendahnya C/O ratio dan tingginya

Variabel process

61

Diktat RCC untuk program BKJT VI

temperatur reaksi akan mengakibatkan terjadinya thermal cracking, yang akan


meningkatkan produk coke dan dry gas.
Kenaikkan C/O ratio pada temperatur reaktor yg tetap akan mengakibatkan :
1.

Tingkat konversi akan naik.

2.

Produksi light gas akan naik.

3.

Produksi C3 & C4 akan naik.

4.

Kandungan olefin dalam C3 & C4 akan turun.

5.

Kandungan aromat dalam gasoline akan naik.

6.

Kandungan olefin dalam gasoline akan turun.

7.

Kandungan aromat dalam LCO akan naik.

8.

Produksi coke akan naik.

Pengaturan C/O ratio dapat dilakukan dengan mengatur aliran katalis yang melalui
regenerated catalyst stand pipe (15 SLV-102) menuju reaktor yang dipengaruhi oleh
1. Temperatur reaktor (15 TC-022).
2. Temperatur feed (15 TC-030).
3. Temperatur regenerated catalyst (15 TC-072).
4. Beda tekanan 15 SLV-102 (15 PDC-013).
C.

TEMPERATUR REAKTOR.
Temperatur reaktor merupakan kontrol utama severity reaksi yang secara langsung
mempengaruhi besarnya aliran sirkulasi katalis yang

menentukan distribusi dan

sifat-sifat produk.
Menaikkan suhu reaktor pd sirkulasi katalis yg tetap akan mengakibatkan :

D.

1.

Tingkat konversi akan naik.

2.

Produksi light gas akan naik.

3.

Produksi olefin dalam C3 & C4 akan naik.

4.

RON gasoline akan naik.

5.

Aromat dan olefin dalam gasoline akan naik.

6.

Aromat dalam LCO akan naik.

TEMPERATUR UMPAN.
Temperatur umpan akan mempengaruhi viskositas yang sangat menentukan kondisi
pengkabutan umpan pada feed nozzle, dan juga mempengaruhi supply panas yang
dibutuhkan bagi reaksi perengkahan katalitis yang terjadi pada riser reactor.

Variabel process

62

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Kenaikkan suhu umpan pada suhu reaktor konstan akan mengakibatkan :

F.

1.

Sirkulasi katalis (C/O ratio) akan turun.

2.

Produksi coke akan turun.

3.

Temperatur regenerator akan naik.

4.

Delta coke akan naik ( kg coke / kg katalis sirkulasi).

5.

Konversi sedikit turun.

LIFT GAS.
Lift gas yang dipergunakan adalah off gas yang berasal dari sponge absorber yang
diinjeksikan dari bagian bawah (wye piece) riser untuk mengangkat percepatan
katalis kebagian atas riser tempat umpan diinjeksikan.

Selain lift gas juga

dipergunakan lift steam ini untuk membantu mempertahankan kecepatan katalis


pada 14,5 - 16,8 m/dtk. Normalnya, lift gas dan lift steam adalah 2 % berat umpan.
Kenaikkan laju lift gas akan menyebabkan :
1.

Delta coke akan turun.

2.

Suhu regenerator sedikit turun.

3.

Power wet gas compressor akan naik.

4.

Overhead vapor main column akan naik.

5.

Tekanan parsial hydrokarbon dalam riser akan turun.

Jika lift gas mengandung komponen C3+ akibat buruknya recovery pada gas conc
unit, maka hydrokarbon tersebut akan mudah terengkah menjadi produk dry gas
yang dapat merusak performance overhead system.
G.

DISPERSION STEAM.
Steam ini dipergunakan untuk membantu pengkabutan umpan agar mudah kontak
dengan dengan katalis panas.

Penggunaan steam umumnya sekitar 2 % berat

umpan. Kenaikkan dispersion steam sebesar 0,2 % wt.

Pada saat start up steam

dipergunakan untuk sirkulasi katalis, namun pemakaian yang terlalu lama akan
cenderung merusak katalis karena aus.
Kenaikkan total steam ke riser akan menyebabkan :
1.

Suhu regenerator akan turun.

2.

Produksi light gas akan turun.

3.

Delta coke akan turun.

Variabel process

63

Diktat RCC untuk program BKJT VI

H.

STRIPPING STEAM.
Stripping steam dipergunakan untuk melucuti sisa uap hidrokarbon yang masih
menempel pada partikel katalis setelah jatuh dari cyclone, sehingga beban
regenerator tidak terlalu tinggi. Pemakaiannya tergantung pada besarnya sirkulasi
katalis yang umumnya sekitar 1 - 2 kg steam/ton katalis sirkulasi.
Kenaikkan stripping steam diperlukan apabila terjadi perubahan kondisi operasi
seperti :

I.

1.

Kenaikkan umpan.

2.

Kenaikkan laju katalis pada catalyst cooler.

3.

Kenaikkan suhu reaktor.

4.

Penurunan suhu umpan.

5.

Penurunan suhu lower regenerator.

TEKANAN REAKTOR.
Tekanan reaktor tergantung pada tekanan main column yang juga tergantung pada
tekanan overhead receiver yang diatur melalui kontrol 15 PC-502, namun tekanan ini
dijaga konstant. Kenaikkan tekanan reaktor akan menaikkan sedikit konversi dan
menaikkan produksi coke.

Normalnya tekanan sedikit bervariasi sesuai dengan

perubahan laju umpan dan perubahan beban main column, namun perubahan
tekanan harus dihindari guna menjaga fluktuasi kecepatan pada riser, cyclone dan
sirkulasi katalis.
J.

KESETIMBANGAN TEKANAN.
Aliran katalis dari lower regenerator ke riser reaktor disebabkan oleh beda tekanan
dan head katalis dalam stand pipe.

Kenaikkan salah satu

level katalis akan

menaikkan beda tekanan dan aliran katalis dari lower RG ke riser RX. Kenaikkan
tekanan pada RX akan menghambat laju alir katalis dari lower RG ke riser RX.
K.

UDARA PEMBAKARAN.
Total kebutuhan udara pembakaran ke regenerator sebanding dengan jumlah
CO2/CO dalam flue gas. Upper regenerator dirancang untuk pembakaran parsial
coke membentuk gas CO sehingga memungkin kan pembakaran coke dalam jumlah
lebih besar yaitu sekitar 70 - 80 % total coke. Lower regenerator dirancang untuk
pembakaran sempurna coke membentuk gas CO2 sehingga dapat diperoleh katalis

Variabel process

64

Diktat RCC untuk program BKJT VI

yang lebih bersih. Oleh karena panas yang dihasilkan untuk pembakaran C menjadi
CO (2200 kcal/kg) adalah lebih kecil dibanding C menjadi CO2 (7860 kcal/kg) maka
total panas yang dihasilkan hampir sama.
Pada lower regenerator, aliran udara dipertahankan konstan pada 30 % dari total
kebutuhan udara pembakaran. Sedangkan untuk upper regenerator aliran udara
diatur sesuai dengan jumlah coke yang terdapat pada katalis. Jika aliran udara ke
upper regenerator kurang maka jumlah coke yang terbakar juga akan berkurang dan
akan meningkatkan beban lower regenerator yang memungkinkan sebagian katalis
kurang teregenerasi sehingga sebagian katalis tersebut akan kurang aktif saat
melalui riser. Akibatnya akan terjadi behind in burning karena coke pada katalis ini
akan terbakar pada saat melalui spent catalayst stand pipe pada kecepatan rendah.
Jika aliran udara berlebih maka akan timbul gelembung-gelembung udara pada bed
katalis dan akan mengakibatkan after burning sehingga temperatur akan naik yang
dapat merusak cyclone atau saluran flue gas.
Nozzle distributor udara dengan bentuk lubang-lubang dirancang untuk beda
tekanan 0.05 - 0.07 kg/cm2.

Distribusi udara yang kurang merata akan

menyebabkan kerusakan distributor, hal ini dapat ditunjukan oleh tidak meratanya
profil temperatur.

Kurangnya aliran udara akan menyebabkan problem erosi,

khususnya pada lengan distributor upper regenerator.


L.

TEMPERATUR UPPER REGENERATOR.


Temperatur dense phase upper RG tidak dapat langsung dikontrol, tetapi tergantung
pada kondisi reaktor, komposisi umpan dan udara pembakaran.

Pengendalian

temperatur dilakukan dengan mengatur beban penyerapan panas back mix catalyst
cooler dan pemakaian udara pembakaran.
Faktor-faktor yang menyebabkan kenaikkan temperatur dense phase adalah :
1.

Kenaikkan SG umpan, Avr Boiling Point dan MCR.

2.

Penurunan UOP K faktor umpan.

3.

Kenaikkan temperatur feed.

4.

Keanikkan temperatur reaktor.

5.

Kenaikkan tekanan reaktor.

Variabel process

65

Diktat RCC untuk program BKJT VI

TEMPERATUR LOWER REGENERATOR.

M.

Temperatur lower regenerator tergantung pada jumlah coke yang tidak terbakar pada
upper regenerator dan beban flow trough catalyst cooler. Pengendalian temperatur
dilakukan dengan mengatur jumlah aliran katalis melalui flow trough catalyst cooler.
Temperatur dense phase pada lower regenerator merupakan variable utama dalam
mengendalikan reaksi perengkahan.
N.

REGENERATOR LEVEL.
Level akan sedikit bervariasi dengan perubahan kondisi operasi, tetapi harus dijaga
dengan mengatur keseimbangan level antara upper dan lower RG serta

untuk

mempertahankan keaktifan katalis umumnya dilakukan dengan catalyst with drawl


dan catalyst additon secara kontinyu. Laju catalyst additon perhari sekitar 2 % total
catalyst inventory. Pada upper regenerator level katalis harus dipertahankan cukup
tinggi (>30 %) sampai merendam discharge cyclone dipleg yang berfungsi sebagai
katalis seal, mencegah terjadinya catalyst carry over.
O.

REGENERATOR PRESSURE.
Meningkatnya tekanan regenerator dapat membantu memperbaiki regenerasi katalis,
meskipun demikian variabel ini jarang dipergunakan untuk tujuan ini, karena akan
mempengaruhi beda tekanan slide valve, konsumsi power MAB, catalyst
entraintment dan yang lebih penting adalah efisiensi cyclone.
Penurunkan tekanan regenerator akan mengakibatkan :
1.

Meningkatnya beda tekanan spent catalyst stand pipe (15 SLV-101).

2.

Menurunnya beda tekanan regenerated catalyst stand pipe (15 SLV-102).

3.

Meningkatnya konsumsi power pada MAB.

4.

Sedikit memperbaiki distribusi udara.

5.

Meningkatkan entrainment katalis pada cyclone.

Variabel process

66

Diktat RCC untuk program BKJT VI

NO

VARIABEL

Konversi

PENGARUH
d. Sifat-sifat feed (API, MCR & Average Boiling Point).
e. Sifat-sifat katalis(activity & metal content).
f. Catalyst / Oil ratio (Temperatur feed, temperatur reactor &

temperatur regenerated catalyst).


2

Cat/oil Ratio
Cat/Oil naik

9.

Tingkat konversi akan naik.

10. Produksi light gas akan naik.


11. Produksi C3 & C4 akan naik.
12. Kandungan olefin dalam C3 & C4 akan turun.
13. Kandungan aromat dalam gasoline akan naik.
14. Kandungan olefin dalam gasoline akan turun.
15. Kandungan aromat dalam LCO akan naik.
16. Produksi coke akan naik.

Temperatur Reaktor
Temperatur Reaktor naik
pd Sirkulasi Katalis tetap

Tingkat konversi akan naik.

b.

Produksi light gas akan naik.

c.

Produksi olefin dalam C3 & C4 akan naik.

d.

RON gasoline akan naik.

e.

Aromat dan olefin dalam gasoline akan naik.

f.

Aromat dalam LCO akan naik.

a.

Sirkulasi katalis (C/O ratio) akan turun.

b.

Produksi coke akan turun.

c.

Temperatur regenerator akan naik.

d.

Delta coke akan naik ( kg coke / kg katalis sirkulasi).

e.

Konversi sedikit turun.

a.

Delta coke akan turun.

b.

Suhu regenerator sedikit turun.

c.

Power wet gas compressor akan naik.

d.

Overhead vapor main column akan naik.

e.

Tekanan parsial hydrokarbon dalam riser akan turun.

a.

Suhu regenerator akan turun.

Temperatur Feed
Temperatur Feed naik pd
suhu reaktor konstan

Lift Gas
Lifg Gas Naik

a.

Dispersion Steam
Dispersion Steam naik

Variabel process

67

Diktat RCC untuk program BKJT VI

b.

Produksi light gas akan turun.

c.

Delta coke akan turun.

a.

Kenaikkan umpan.

b.

Kenaikkan laju katalis pada catalyst cooler.

c.

Kenaikkan suhu reaktor.

d.

Penurunan suhu umpan.

e.

Penurunan suhu lower regenerator.

Stripping Steam
Stripping Steam naik bila

Tekanan Reaktor
Tekanan Reaktor

a.

konversi naik

b.

Produk coke naik

a.

Kenaikkan umpan.

b.

Kenaikkan laju katalis pada catalyst cooler.

c.

Kenaikkan suhu reaktor.

d.

Penurunan suhu umpan.

e.

Penurunan suhu lower regenerator.

Temperatur upper RG
Temperatur upper RG

4.2 UMPAN DAN PRODUK RCC


A.

KLASIFIKASI UMPAN.
a. Paraffin.

Variabel process

68

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Merupakan ikatan rantai hydrocarbon jenuh dengan rumus umum CnH2n+

yang

mempunyai tingkat kestabilan tinggi. Paraffin terdapat dalam bentuk ikatan paraffin
hydrocarbon rantai lurus (n-Paraffin) maupun cabang (iso-Paraffin). Pada umumnya
umpan FCC didominasi oleh paraffinic dengan kandungan paraffin antara 50 - 60 %
dari total feed.

Paraffinic stocks mudah dilakukan perengkahan dan normalnya

jumlah yield terbesar dengan total liquid produk paling banyak adalah gasoline dan
paling sedikit fuel gas namun octane number rendah.
b. Olefin.
Merupakan ikatan rantai hydrocarbon tak jenuh dg rumus umum CnH2

yang

bersifat kurang stabil sehingga anggota-anggotanya dapat langsung bereaksi, baik


antar senyawa olefin itu sendiri maupun dengan senyawa lain seperti Chlorine,
Bromine, Hydrochloric acid dan Sulfuric acid tanpa pertukaran atom hidrogen. Olefin
terdapat dalam bentuk ikatan Olefin rantai lurus (n-Olefin, al : Ethylene, Propylene,
Butylene dst) maupun Olefin rantai cabang (iso-Olefin, al : iso-Butylene, iso-Pentene
dst). Olefin tidak disukai terdapat dalam feedstock FCC karena umumnya akan
terengkah menjadi produk yang tidak diinginkan seperti slurry dan coke. Olefin
content dalam umpan dibatasi < 5 % wt.
c. Naphthene.
Merupakan ikatan rantai hydrocarbon jenuh dengan rumus umum CnH2n yang sama
dengan olefin tetapi memiliki sifat-sifat yang jauh berbeda. Naphthene merupakan
senyawa hydrocarbon melingkar / tertutup dengan ikatan tunggal, sedangkan
olefin dengan rantai hydrocarbon terbuka dan ikatan ganda ( Cyclopentane,
Cyclohexane, Methyl-cyclohexane ). Naphthene lebih disukai sebagai umpan FCC
karena dapat menghasilkan gasoline dengan angka octane tinggi. Gasoline hasil
perengkahan naphthene mempunyai sifat lebih aromatik dan lebih berat dibanding
hasil dari perengkahan paraffin.

d. Aromatic.
Merupakan rantai hydrocarbon tak jenuh dengan rumus umum CnH2n-6 atau sering
disebut dengan seri Benzene yang memiliki sekurang-kurangnya satu cincin ikatan
rangkap Benzene (Benzene, Toluene, Aniline dll) dan bersifat sangat stabil serta
Variabel process

69

Diktat RCC untuk program BKJT VI

tidak dapat terengkah menjadi komponen yang lebih kecil. Aromatik kurang disukai
sebagai umpan FCC karena sebagian besar molekulnya tidak dapat terengkah.
Perengkahan aromatik pada dasarnya hanya akan memutuskan rantai sampingnya
saja sehingga akan menghasilkan fuel gas berlebihan. Beberapa senyawa aromatik
yang terdiri beberapa cincin (poly nuclear aromatic - PNA) dapat secara terpadu
membentuk chicken wire

yang akan menempel pada catalyst sebagai carbon

residue (coke) dan sebagian akan menjadi produk slurry.

Dibanding dengan

paraffin, perengkahan aromatik stock akan menghasilkan koversi yang lebih rendah,
yield gasoline lebih rendah dan sedikit liquid dengan Octane Number yang lebih
tinggi.
Tabel 1. Perbandingan Thermal Cracking dan Catalytic Cracking.
Type Hydrocarbon Thermal Cracking

Catalytic Cracking

n-Paraffin
Major produk

C2

C3 - C6

Produk lain

C1 & C3

sedikit n-olefin diatas C4.

n-C4 + Olefin

Alpha

Beberapa alpha

Aliphatic

Umumnya normal

Umumnya cabang

n-Olefin
Double bond shift Lambat

Cepat

Skeletal Isomerisasi

Sedikit

H Transfer

Minor

Major

Cracking rate

Sama spt paraffin

Sangat cepat

Tertiary Olefins

Non selective

Selective

Berlebih

Naphthenes
Cracking rate

Lebih lambat dr paraffin

Hampir sama dg parafin

Lebih lambat dr paraffin

Lebih cepat drpd parafin

Alkylaromatics
Cracking rate

SIFAT-SIFAT PHYSIC UMPAN.


a. API GRAVITY - ASTM D-287.
Merupakan ukuran ringan atau beratnya suatu cairan hydrokarbon. Untuk umpan
FCC maupun RCC API gravity dirancang antara 15 - 40 API, namun UOP
Variabel process

70

Diktat RCC untuk program BKJT VI

merekomendasikan 20 - 30 API. Perubahan API gravity unpan disebabkan oleh


adanya perubahan boiling range umpan, type crude atau keduanya.

Jika API

gravity umpan meningkat akibat umpan yang lebih jenuh (sedikit aromatik), maka
akan mengakibatkan :
a.

Umpan lebih mudah dilakukan cracking pada temperatur reaktor yang tetap
dengan konversi yang lebih tinggi.

b.

Pada konversi tetap, gasoline yield meningkat dengan ON lebih rendah.

c.

Produk akan mengandung sedikit Olefin.

b. DISTILLATION - ASTM D-86, D-1160, D-2887.


Data distilasi menginformasikan fraksi-fraksi dalam umpan yang dapat diuapkan
pada temperatur < 350 C maupun > 370 C.

Setiap stream umpan RFCC

mempunyai karakteristik titik didih dan komposisi yang berbeda.

Seringkali

laboratorium kilang tidak memiliki peralatan untuk pemeriksaan PONA dan


beberapa analisa kimia lain untuk umpan RFCC.

Dari data distilasi dapat dihitung

titik didih rata-rata / average boiling point - ABP suatu hidrokarbon dan bersama API
gravity dapat diketahui sifat-sifat hidrokarbon berdasarkan empirical correlation
seperti sebagai acuan ops.
c. UOP K factor.
Merupakan suatu indeks harga pendekatan yang dipergunakan untuk mengetahui
komposisi yang paling dominan suatu hydrokarbon yang merupakan hubungan
antara titik didih rata-rata dengan SG, mengindikasikan kemampuan rengkah suatu
umpan FCC. Makin tinggi K

factor suatu umpan, makin tinggi kandungan

paraffinnya, makin mudah dilakukan perengkahan. Harga K factor < 11 makin


banyak aromatik dalam umpan, K factor > 11 makin banyak paraffinik dalam
umpan.
(VABP,F + 460) 1/ 3
UOP K =
SG
d. ANILINE POINT.
Aniline

merupakan

aromatic

amine

(C 6H5NH2)

yang

dipergunakan

untuk

menentukan aromatisitas umpan FCC.karena aromatik lebih mudah larut dalam


aniline dibanding paraffin dan naphthenik. Makin tinggi aniline point, makin tinggi
Variabel process

71

Diktat RCC untuk program BKJT VI

parafinnya dan makin rendah anilene point makin tinggi aromatiknya, sedangkan
untuk naphtenik dan olefinik harganya terletak diantara paraffin dan aromatik.
Aniline point hanya dipergunakan untuk estimasi aromatsitas gasoil dan stock yang
lebih ringan.
e. VISCOSITAS - ASTM D-88.
Pengukuran viskositas dipergunakan untuk mengetahui komposisi kimia suatu
subtansi. Kenaikkan viskositas menujukkan adanya kenaikkan Hydrogen content
dan penurunan fraksi aromatik. Pengukuran viskositas umumnya dilakukan dengan
metode Saybolt.
f. CARBON RESIDUE.
Merupakan ukuran tidak langsung suatu umpan dalam menghasilkan coke. Harga
carbon residu dapat ditentukan dengan tiga cara yaitu : Conradson, Ramsbottom dan
Micro Carbon Residue (Heptane Insoluble). Kenaikkan jumlah carbon residu dalam
umpan akan menaikkan beban pembakaran coke sehingga meningkatkan
temperatur regenerator.
g. NICKEL DAN VANADIUM.
Adanya Ni & V dalam bentuk senyawa Porphyrin dalam umpan RCC akan dapat
menyebabkan masalah yang serius pada katalis.

Residu yang mempunyai

kandungan Ni & V lebih besar cenderung lebih para


paraffinik. Besarnya kandungan senyawa organometal dalam umpan diukur dengan
metal factor (Fm).
Fm = Fe + V + 10 (Ni + Cu)
Harga metal factor untuk typical umpan RCC adalah : 30 - 300.
Nickel akan terdeposit pada pori matrix catalyst, sehingga pengaruh peningkatan Ni
dalam umpan pada temperatur reaktor yang konstan akan mengakibatkan :
1.

Mempromote peningkatan produksi hydrogen dan coke.

2.

Meningkatkan temperatur regenerator.

3.

Menurunkan catalyst / oil ratio.

4.

Menurunkan konversi.

Vanadium akan migrasi kebagian dalam (zeolite) katalis bereaksi dengan inti asam
catalyst membentuk vanadium acid yang akan merusak struktur zeolite sehingga
mengakibatkan turunnya surface area dan activity catalyst.
h. SULFUR, NITROGEN DAN OKSIGEN.
Variabel process

72

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Porsi terbesar kandungan sulfur terdapat dalam minyak residu dengan berat molekul
yang sangat tinggi dalam bentuk senyawa organik-sulfur (Mercaptan, Sulfide,
Thiophene) yang berkontribusi dalam pembentukan coke pada katalis. Sulfur yang
terdapat dalam coke terbakar dalam regenerator membentuk gas SO2 dan SO3 yang
mengakibatkan korosi peralatan dan polusi udara.
Nitrogen merupakan racun temporer pada katalis yang dapat menurunkan aktifitas
katalis dengan cara menutup sisi asam katalis yang mempromote reaksi
perengkahan. Total konsentrasi Nitrogen dalam umpan < 1000 ppm, umumnya tidak
detrimental pada aktifitas, tetapi aktifitas katalis dapat dipengaruhi oleh nitrogen
dengan konsentrasi > 1.500 ppm. Nitrogen menghasilkan NH3 dan HCN yang dapat
menyebabkan kebuntuan dan korosi, sedangkan NOx dan NH3 dlm flue gas dapat
mencemari lingkungan.
Reduced crude akan menyerap oksigen bila tangki yang dipergunakan untuk
menyimpan tidak di gas blanketed. Oksigen akan bersenyawa dengan minyak pada
temperatur sekitar 230 C membentuk gum yang dapat menyumbat H.E.

Bila

mempergunakan raw oil yang masih memerlukan pre heat dengan HE sampai
temperatur diatas 230 C, sebaiknya penmyimpanan umpan reduced crude dalam
tangki dilakukan dengan gas blanketed.

C.

RFCC PRODUK.
a.

Dry Gas.

Variabel process

73

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Gas (C2 & lighter) yang meninggalkan sponge oil absorber tower lebih umum disebut
sebagai dry gas yang mempunyai kandungan utama hydrogen, methane, ethane,
ethylene dan trace hydrogen sulphide. Setelah dilakukan penghilangan H2S dan
acid gas pada amine-treating, dry gas ini dapat dilakukan blend sebagai refinery fuel
gas. Dry gas kurang dikehendaki sebagai by-product unit RFCC, bila berlebihan
akan meningkatkan beban wet gas compr dan seringkali merupakan kendala pada
cat cracker. Dry gas utamanya diakibatkan oleh thermal cracking, metal dalam
umpan dan non selective catalytic cracking.
Faktor-faktor utama yang meningkatkan produksi dry gas adalah sbb :
Naiknya Olefin, Naphthene & Aromatic dalam umpan yang ditunjukkan dg
kenaikkan refractive index (RI), penurunan UOP K & aniline point.
Naiknya konsentrasi metal (Ni & V) dalam umpan & pada catalyst.
Penurunan MAT E-cat, surf area, rare earth & MAT fresh cat.
Naiknya temperatur reaktor atau regenerator.
Penurunan atomizing steam.
Naiknya residence time uap hydrocarbon dalam reaktor.
Naiknya sirkulasi MCB maupun HCO recycle.
Turunnya performance feed nozzle.

b.

L P G.

Variabel process

74

Diktat RCC untuk program BKJT VI

LPG diperoleh dari overhead stream debutanizer atau stabilizer yang banyak
mengandung olefin, propylene dan butylene
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan yield LPG dan olefinicity adalah :
Perubahan catalyst yang meminimize reaksi hydrogen transfer.
Naikkan konversi.

Naikkan temperatur reaktor.


Menaikkan RX temp pada gasoline yield maksimum akan mengakibat kan
overcracking gasoline dan fraksi LCO sehingga LPG dan olefinicity akan
meningkat.

Naikkan temperatur feed/catalyst mix zone.

Turunnya residence time cracking.


Penambahan additive ZSM-5.
c.

Gasoline.
Merupakan produk yang paling berharga yg dihasilkan oleh unit cat cracker.
Faktor-faktor yang meningkatkan yield gasoline adalah sebagai berikut :
Naikkan Cat / Oil ratio dengan menurunkan temperatur umpan ke riser.
Naikkan aktifitas catalyst dg menaikkan fresh cat addition atau activity.
Naikkan EP-gasoline dg menurunkan main column top pump around rate.
Naikkan RX temp (jika tidak mengakibatkan overcrack produk gasoline).
Faktor-faktor yang mempengaruhi ON gasoline :
Kondisi Operasi.

Reaktor temp, RX temp naik maka ON akan naik.

Regenerator temp, RG temp turun maka ON akan naik.

Cat / Oil ratio, C/O turun ON akan naik.

End Point Gasoline, pada paraffin stock EP tidak mempengaruhi ON, pada
naphthenic atau aromatik stock bila EP naik maka RON akan naik.

RVP Gasoline naik maka RON atau MON akan naik.

Coke content regend catalyst, coke content naik ON akan naik.

Naphtha quench & HCO recycle, quench/recycle naik ON akan naik.

Kualitas Umpan.

API Gravity, API naik ON akan turun karena paraffin makin naik.

K Factor, KF naik maka ON akan turun karena paraffin makin naik.

Variabel process

75

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Aniline Point, AP naik maka ON akan turun karena paraffin naik.

Sodium, additive sodium akan menurunkan konversi dan ON.

Catalyst.

Rare Earth, RE pada zeolit naik maka ON akan turun.

Unit Cell Size, UCS naik maka ON akan turun

Matrix activity, MA naik maka ON akan naik.

Coke on Reg Catalyst, CRC naik maka ON akan turun.

Faktor-faktor yang dapat menurunkan Benzene pada gasoline :


Waktu kontak yang pendek pada riser dan reactor dilute phase.
Cat / Oil ratio yang rendah dan temperatur reactor yang rendah.
Catalyst dengan sifat hydrogen transfer yang rendah.
Faktor-faktor yang dapat menurunkan Sulfur pada gasoline :
End Point Gasoline, EP turun maka sulfur akan turun.
Temperatur reaktor, RX temp turun maka sulfur akan turun.
Matrix Activity, MA naik maka sulfur akan turun.
Catalyst Activity, CA naik maka sulfur akan turun.
Cat / Oil ratio, C/O naik maka sulfur akan turun.

d.

Light Cycle Oil.


LCO merupakan aromatic tinggi dengan typical cut point antara 221 - 343 C yang
secara luas dipergunakan sebagai blending stock pada heating oil atau diesel fuel.
Sering kali dikehendaki operasi RFCC pada maksimum cracking severity mimimal
yield LCO.

e.

HCO & Decant Oil.


HCO seringkali hanya dipergunakan sebagai pumparound stream untuk pertukaran
panas dan mengendalikan panas pada main column. Sedangkan DCO merupakan
fraksi paling berat yang mempunyai harga jual paling rendah.

DCO disebut juga

sebagai slurry oil, clarified oil, bottom dan RFCC residu yang dijual sebagai umpan
carbon black.

Sifat-sifat DCO bervariasi tergantung kualitas umpan dan kondisi

operasi. API gravity merupakan indikasi kasar aromaticity dan boiling range. Produk
DCO umumnya memerlukan filtrasi untuk memisahkan catalyst fine.
Variabel process

76

Diktat RCC untuk program BKJT VI

f. Coke.
Coke merupakan campuran carbon dan hydrogen dengan sebagian kecil sulphur,
nitrogen dan trace metal. Coke dapat mendeaktivasi katalis dengan cara menutup
sisi aktif atau menutup porikatalis. Coke tersebut dihilangkan dengan cara dibakar
dalam regenerator dengan mempergunakan udara pembakaran. Pembakaran coke
akan menghasilkan panas reaksi yang dipergunakan untuk mengkonversi feed
menjadi produk dalam reaktor. Struktur dan uraian kimia pembentukan coke sangat
sulit didefinsikan dan pada umumnya type coke pada RFCC berasal dari empat
sumber sebagai berikut
Feed Residue Coke.
- CCR / MCR .
Coke dari fraksi umpan yang sangat berat dan yield-nya dapat diperkirakan
dengan Conradson
Carbon (CCR), Micro Carbon (MCR) atau Ramsbottom Residue test. Sekitar 50 %
CCR atau MCR dalam feed yang akan menjadi coke, makin tinggi MCR maka
akan makin tinggi coke yang akan terbentuk.
- Non Vaporized Feed Coke.
Sebagian kecil dari umpan yang tidak teruapkan akan langsung terdeposit sebagai
coke pada katalis. Untuk mengatur penguapan feed dengan baik sangat
ditentukan oleh design feed nozzle serta pemakaian dispersion steam. Coke ini
mudah terakumulasi pada low velocity zone dan overhead line yang dapat
mengakibatkan kenaikan beda tekanan RX MC.
Catalytic Coke (Conversion Coke).
Merupakan by-product perengkahan umpan RFCC menjadi produk yang lebih
ringan, merupakan fungsi konversi, catalyst type dan hydrocarbon/catalyst
residence time dalam reaktor. Ada 2 cara untuk mengatur coke in yaitu dengan
menurunkan temperatur reaktor guna menurunkan konversi atau menaikkan
temperatur feed yang akan menurunkan katalis sirkulasi dari RG (C/O ratio turun).
Contaminant Coke (metals coke).
Aktifitas katalitis metals (Ni & V) yg terdeposit pd katalis akan menghasilkan coke.
Oleh karenanya diperlukan pengendalian metal tersebut melalui cat add.
Catalyst Circulation Coke (Striiper Coke).
Variabel process

77

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Coke kaya hydrogen yang berasal reactor-stripper.

Efisiensi catalyst-stripping

(strpping steam) dan catalyst pore size distribution mempengaruhi jumlah


hydrocarbon yang terbawa kedalam regenerator.
Coke (lb)
Coke Yield =
Feed (lb)

Catalyst (lb)
Cat / Oil Ratio =
Feed (lb)

Coke Yield
Coke / Feed Coke
Delta Coke =
=
=
Cat / Oil Ratio Catalyst / Feed

Catalyst

Delta coke merupakan jumlah coke yang terdapat pada regenerated catalyst.
Menurunkan delta coke akan menurunkan temperatur regenerator. Makin tinggi Cat /
Oil ratio akan memperbaiki selektifitas produk dan/atau memperbaiki flexibilitas
pengolahan umpan yang lebih berat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi delta coke adalah :
Feed injection system, system injeksi umpan harus memiliki kecepatan dan
kerataan penguapan yang baik.
Riser design, dengan menurunkan back-mixing catalyst yang telah terlapisi coke
dengan fresh catalyst maka akan mengurangi delta coke.
Cat / Oil ratio, C/O ratio naik maka delta coke turun.
Reactor temperature, RX temp naik maka delta coke akan turun.
Catalyst activity, MAT catalyst naik maka delta coke akan naik.
Setiap cat cracker selalu pernah mengalami coking/fouling yang pada umum nya
diketemukan pada dinding reactor, dome, plenum, cyclone, overhead vapor line dan
MCB. Penyebab utama terjadinya pembentukan coke pada reactor dan MCB adalah
sebagai berikut :
Perubahan parameter operasi.
Coke umumnya terbentuk apabila terdapat cold spot dalam system reaktor
apabila temperatur permukaan logam dinding reaktor / vapor line jatuh
dibawah temp dew point vapor, maka akan terjadi reaksi kondensa si produk
yang mengakibatkan coke build up.
Tingginya level MCB yang melebihi vapor line inlet akan meng akibatkan
terbentuknya lapisan donut coke pada line inlet MCB.
Rendahnya temperatur reactor memungkinkan tidak teruapkannya semua
hydrokarbon & hydrokarbon tersebut akan membentuk coke pada dinding
reaktor dan vapor line.
Variabel process

78

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Lamanya waktu tinggal pada reaktor dan transfer line akan mempercepat
pembentukan coke.
Perubahan sifat-sifat catalyst.
Katalis dengan kandungan rare earth yang tinggi cenderung mempro mote
reaksi hydrogen transfer yang merupakan reaksi yang menghasil kan multing
ring aromatik.
Perubahan sifat-sifat umpan.
Perubahan kondisi mekanikal peralatan.

Variabel process

79

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Gambar 1. Variabel Proses Unit RCC.

OPR CONDITIONS
PRODUCT YIELD
Untreat/Treat Feed Ratio
Dry Gas (wt%).
Octane
Number
Feed Rate.
LPG (wt %).
C2 Olefinicity.
R.C.C
Feed Temperature.
Naphta (wt %).
C3 Olefinicity.
RX Temperature.
LCO (wt%).
C4 Olefinicity.
RX Pressure.
DCO (wt%).
H2/C1 Ratio.
Dispersion Steam.
Coke (wt %).
Stripping Steam.
Conversions (LV %).
Lift Gas.
FEED PROP. CATALYST PROP.
Lift Steam.
Feed API.
E-Cat Activity.
RX RG Diff Press. Feed UOP K. E-Cat Nickel.
Combustion Air.
Feed MCR.
E-Cat Vanadium.
Upper RG Temperature.
Feed Nickel.
E-Cat Surface Area.
Lower RG Temperature.
Feed Vanadium. E-Cat Rare Earth.
RG Level.
E-Cat Alumina.
RG Pressure.
Catalyst Addition.
Catalyst Circulation Rate.
Catalyst Oil Ratio

Variabel process

80