Anda di halaman 1dari 3

Home > Kolom > Resonansi

Citra Pendidikan Indonesia (2)


Thursday, 20 February 2014, 06:00 WIB
Komentar : 2

Republika/Daan

Azyumardi Azra
A+ | Reset | AREPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra
Citra pendidikan Indonesia bagi banyak pengkaji dan pengamat pendidikan hampir selalu
selalu tidak positif. Citra negatif itu sebenarnya sudah sangat diketahui publik dalam waktu
relatif panjang. Tetap saja belum ada perbaikan citra itu secara substantif meski berbagai
upaya juga dilakukan pemerintah melalui Kemendikbud dan Kemenag.
Salah satu sebab kegagalan menumbuhkan citra lebih positif melalui peningkatan kualitas
pendidikan dasar dan menengah dalam berbagai seginya adalah kebijakan yang selalu
berubah-ubah, tidak konsisten, ad hoc, parsial dan remeh temeh. Hal ini paling mendasar
antara lain terlihat misalnya dalam soal kurikulum yang sering disebut sebagaiganti menteri,
ganti kurikulum.
Tanpa melalui penelitian mendalam yang bisa dipertanggungjawabkan, kurikulum demi
kurikulum diterapkan Kemendikbud. Lihatlah, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
mulai diterapkan pada 2004 diganti dengan Kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP, 2006) yang kemudian diganti lagi dengan Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 yang menghabiskan dana triliunan rupiah untuk sosialisasi, pelatihan guru
dan pengadaan buku teks boleh jadi pula diganti Mendikbud baru dalam Kabinet pascaPilpres 2014 nanti. Karena itu seharusnya dilakukan kajian mendalam tentang kurikulum
yang tengah berlaku. Sebaiknya cukup memperbaiki dan menyempurnakannya daripada

menggantinya dengan kurikulum baru.


Akibat berbagai kebijakan seperti itu, yang menjadi korban terutama adalah para guru dan
tentu saja juga para murid dan orangtua. Guru khususnya kian menjadi sasaran kritik
masyarakat sebagai tidak berhasil mencerdaskan dan membentuk karakter murid-muridnya.
Mereka menjadi kambing hitam kegagalan peningkatan mutu pendidikan Indonesia.
Terlepas dari soal kambing hitam, mutu guru Indonesia memang masih merupakan salah
satu masalah pokok pendidikan dasar dan menengah Indonesia. Sertifikasi guru yang pertama
kali diselenggarakan sejak 2004 tidak banyak berhasil meningkatkan kualitas guru. Peneliti
seperti Fahmi, Maulana dan Yusuf (2011) dan Bjork (2012) tidak menemukan bukti
sertifikasi berhasil meningkatkan mutu dan kinerja guru maupun kinerja murid.
Sami mawon, penelitian lebih akhir oleh De Ree dkk (2012) dan Suryahadi & Sambodho,
menemukan, sertifikasi tidak berhasil meningkatkan hasil pembelajaran di 360 SDN dan
SMPN. Tetapi mereka menemukan, peningkatan pendapatan guru berkat tunjangan sertifikasi
berhasil mengurangi kecenderungan guru mencari pekerjaan sampingan untuk tambahan
pendapatan; dengan demikian sedikit banyak mengurangi kesulitan keuangan mereka.
Kenapa sertifikasi tidak atau belum berhasil? Kegagalan itu terkait banyak dengan kenyataan
proses pembelajaran murid bagi banyak guru lebih merupakan kerutinan belaka. Para guru
umumnya hanya mengulang-ulang pelajaran dari buku teks, memberikan PR, melakukan tes
penguasaan materi, dan kemudian memberi laporan kinerja murid kepada orangtua atau wali
murid.
Bisa dibayangkan, dalam kerutinan itu hampir tidak ada imajinasi dan kreativitas
menyelenggarakan proses pembelajaran lebih efektif. Kenyataan ini terkait pula dengan
budaya rikuh melakukan terobosan karena para guru berhadapan dengan kepala sekolah,
pengawas, dan Dinas Pendidikan yang hampir tidak menyisakan ruang gerak dan otonomi
bagi mereka.
Kelangkaan imajinasi dan kreativitas guru banyak terkait dengan proses pembelajaran yang
mereka terima sebelumnya dari LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) seperti
IKIP (yang kini sebagian besar menjadi Universitas) dan Fakultas atau Prodi Tarbiyah di
lingkungan UIN, IAIN atau STAIN. Bukan rahasia lagi, proses pembelajaran mahasiswa atau
calon guru di LPTK tidak mendorong tumbuhnya imajinasi dan
kreativitas.Merekamenghabiskan banyak waktu dalam matakuliah teknis keguruan daripada
matakuliah lebih substantif.
Walhasil ketika menjadi guru, mereka pun juga tidak memiliki imajinasi dan kreativitas. Bagi
mereka yang terpenting adalah menyelesaikan tugas pembelajaran seperti yang telah
ditetapkansesuai silabus. Tidak menjadi masalah bagi mereka apakah pembelajaran itu
berhasil meningkatkan mutu murid atau tidak.
Jelas, masa depan pendidikan dasar dan menengah Indonesia tidak bisa hanya sekedar
rutinitas. Pembenahan mesti bermula dari peningkatan kualitas guru melalui reformasi LPTK
sehingga dapat melahirkan (calon-calon) guru yang tidak hanya ahli dalam teknis keguruan,
tetapi juga menguasai substansi ilmu yang diajarkan. Pada saat yang sama, LPTK hendaknya
memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan imajinasi mereka.

Kelak ketika mereka menjadi guru, perlu pelatihan reguler baik sebelum bertugas maupun
setelah beberapa tahun bertugas (_pre-servirce dan in-service trainings). Sepatutnya dihindari
program pelatihan ad hoc yang pada gilirannya berubah hanya sekedar formalitas seperti
lazim terjadi pada program untuk mendapatkan sertifikasi guru.
Selain itu, perlu perbaikan sisstem penilaian kinerja guru. Sekali lagi, penilaian semestinya
tidak bersifat sementara dan parsial, tetapi kontinu dan berkesinambungan. Jika dalam
penilaian tersebut kinerja guru belum mampu memperbaiki mutu murid, yang bersangkutan
wajib menempuh
pelatihan ulang atau pendidikan tambahan.