Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Leukimia adalah suatu penyakit yang dikenal dengan adanya proliferasi


neoplasitik dari sel-sel organ hemopoietik, yang terjadi sebagai akibat mutasi
somatik sel bakal (stem cell) yang akan membentuk suatu klon sel leukimia.
Leukimia merupakan keganasan hemopoietik yang mengakibatkan proliferasi
klon yang abnormal dan sel bakal mengalami transformasi leukimia, terjadi
kelainan pada diferensiasi dan pertumbuhan dari sel limfoid dan mieloid.
Diagnosa leukimia akut dapat ditegakkan dari pemeriksaan hematologi Hb,
leukosit, tulang, yaitu tipe leukimia akut berdasarkan klasifikasi FAB.
Pewarnaan sitokimia dapat menkonfirmasi asal leukimia akut apakah dari
limfoid atau mieloid. Dengan pemeriksaan immunopheno-typing diagnosis
leukimia akut dapat diketahui apakah mieloid atau limfoid, bahkan LLA dapat
didiferensiasi lebih lanjut apakah dari sel T ataukah sel B. Pemeriksaan sitogenik
akan memberi petunjuk ada/tidaknya aberasi kromosom. Telah dilakukan
penelitian pada delapan subyek Leukimia akut, terdiri dari empat anak-anak,
seorang remaja, dua dewasa dan seorang Manula (tiga orang perempuan dan lima
orang laki-laki). Umur berkisar antara 4-82 tahun.
LMA terdapat pada empat subyek, anak tigabelas tahun LMA-M3, dua
dewasa LMA-M2 dan seorang Manula LMA-M2. LLA sel T pada dua subyek,
seorang anak dan seorang dewasa. LLA sel B pada dua subyek, seorang anak dan

seorang dewasa. LLA sel T ditandai adanya CD3, CD5, dan CD7; LLA sel B
ditandai adanya CD10, CD 19, CD20, CD22 dan HLA-DR. lMA ditandai adanya
CD13 dan CD33.
Bila immunophenotyping (pada tujuh subyek) digunakan sebagai goldstandard untuk diagnosis leukimia akut, maka diagnosis berdasar pemeriksaan
HB, leukosit, trombosit, hitung jenis dan morfologi sediaan apus darah tepi dan
atau sumsum tulang sensitivitasnya adalah 71,4%. Pewarnaan sitokimia terdiri
dari MPO, SBB, PAS, esterase spesifik dan esterase non-spesifik sensitivitas
100%. Pemeriksaan sitogenetik pada enam subyek, semuanya menunjukkan
aberasi kromosom. Trisomi 21 terdapat pada tiga subyek (50%), terdapat dua
subyek dengan abberrant expression, yaitu disertai ekspresi sel mieloid pada
LLA sel B dan ekspresi sel B pada LLA sel T. Terdapat dua subyek dengan aberasi
kromosom yang belum ditemui dalam literatur, yaitu 21, t(6;11)(q27;q23) pada
anak LMA-M3 dan 17, 21, t(2;6)(q34;q26) pada remaja LLA sel B.

BAB II
ARTIKEL

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Langsung ke: navigasi, cari
Leukemia
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Acute_leu emia-ALL.jpg
Sediaan sumsum tulang dengan pewarnaan Wright. Sediaan menujukkan
leukemia limfoblastik akut prekurisr sel-B.
ICD-10
C91-ICD-10 Chapter C|C95
ICD-9
208.9
ICD-O:
9800-9940
DiseasesDB
7431
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik
yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi
maligna dari sel-sel pemebntuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Selsel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal.
Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer
atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses
pemebentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.
Kata leukemia berarti "darah putih", karena pada penerita ditemukan
banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak
merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi
ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.

2.1Klasifikasi
Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar:
Perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronis
Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat,
mematikan, dan memburuk. Apabila tidak diobati segera, maka penderita dapat
meninggal dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis
memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan
hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun.

Tipe sel predominan yang terlibat: limfoid dan mieloid


Kemudian, penyakit diklasifikasikan dengan jenis sel yang ditemukan pada
sediaan darah tepi.

Ketika leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut


leukemia limfositik.

Ketika leukemia mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan


eosinofil, maka disebut leukemia mielositik.

Jumlah leukosit dalam darah

Leukemia leukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah lebih dari normal,
terdapat sel-sel abnormal

Leukemia subleukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah kurang dari


normal, terdapat sel-sel abnormal

Leukemia aleukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah kurang dari


normal, tidak terdapat sel-sel abnormal

Prevalensi empat tipe utama


Dengan mengombinasikan dua klasifikasi pertama, maka leukemia dapat dibagi
menjadi:

Leukemia limfositik akut (LLA) merupakan tipe leukemia paling sering


terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang
terutama telah berumur 65 tahun atau lebih

Leukemia mielositik akut (LMA) lebih sering terjadi pada dewasa


daripada anak-anak.Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik
akut.

Leukemia limfositik kronis (LLK) sering diderita oleh orang dewasa yang
berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa
muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak

Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa.


Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit

Tipe yang sering diderita orang dewasa adalah LMA dan LLK, sedangkan LLA
sering terjadi pada anak-anak.

2.3 Patogenesis
Leukemia akut dan kronis merupakan suatu bentuk keganasan atau maligna yang
muncul dari perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak
terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik
akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab
atas pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi.
Sel-sel leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat dibandingkan sel
normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan lanbar dan
bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal.
2.4 Etiologi
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti:
2.5Radiasi
Radiasi dapat meningkatkan frekuensi LMA dan LMA. Tidak ada laporan
mengenai hubungan antara radiasi dengan LLK. Beberapa laporan yang
mendukung:

Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia

Penderita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia

Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima


dan Nagasaki, Jepang

Faktor leukemogenik
Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi
frekuensi leukemia:

Racun lingkungan seperti benzena

Bahan kimia inustri seperti insektisida

Obat untuk kemoterapi

2.5 Epidemiologi

Di Afrika, 10-20% pwnsweita LMA memiliki kloroma di sekitar orbita


mata

Di Kenya, Tiongkok, dan India, LMK mengenai penerita berumur 20-40


tahun

Pada orang Asia Timur dan India Timur jarang ditemui LLK.

2.6 Herediter
Penderita sindrom Down memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari
orang normal.
2.7 Virus
Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus, virus leukemia feline,
HTLV-1 pada dewasa.

3. Leukemia akut
3.1 Manifestasi klinik
Manifestasi leukemia akut merupakan akibat dari komplikasi yang terjadi pada
neoplasma hematopoetik secara umum. Namun setiap leukemia akut memiliki ciri
khasnya masing-masing. Secara garis besar, leukemia akut memiliki 3 tanda
utama yaitu:

Jumlah sel di perifer yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya


infiltrasi jaringan aau leukostasis

Penggantian elemen sumsum tulang normal yang dapat menghasilkan


komplikasi sebagai akibat dari anemia, trombositopenia, dan leukopenia

Pengeluaran faktor faali yang mengakibatkan komplikasi yang signifikan

3.2 Alat diagnosa


Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti:

Pemeriksaan morfologi: darah tepi, aspirasi sumsum tulang, biopsi


sumsum tulang

Pewarnaan sitokimia

Immunofenotipe

Sitogenetika

Diagnostis molekuler

3.3 Referensi
1. Simon, Sumanto, dr. Sp.PK. 2003. Neoplasma Sistem Hematopoietik:
Leukemia. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.

Gambar 1:penderita pada anak leukemia

BAB III

KESIMPULAN

10

Penyakit kanker darah (leukimia) menduduki peringkat tertinggi kanker


pada anak. Namun, penanganan kanker pada anak di Indonesia masih lambat.
Itulah sebabnya lebih dari 60% anak penderita kanker yang ditangani secara medis
sudah memasuki stadium lanjut.
Pendapat itu disampaikan dr Maria Abdulsalam dari Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo kepada Media, di sela-sela
seminar ilmiah bertema Kanker pada anak yang diselenggarakan Yayasan
Onkologi Anak Indonesia, Kamis (12/2) di Jakarta.
Maria yang membahas pentingnya deteksi dini kanker pada anak
menjelaskan selama ini keluarga atau masyarakat belum mengetahui tentang
bagaimana tanda-tanda kanker pada anak. Kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang kanker, menyebabkan penanganan penyakit keganasan itu lambat di
Indonesia.
''Keluarga baru membawa anaknya ke rumah sakit umumnya sudah dalam
kondisi stadium lanjut atau parah. Di RSUPN lebih dari 60% kasus semacam ini,''
jelas spesialis anak ini.
Selain Maria, hadir dalam seminar itu sejumlah pembicara lain, yaitu Prof
dr RM Padmosantjojo SpBS, dr Lumongga Simanungsong SpM (K), dr
Djajadiman Gatot SpA (K), dan dr Endang Windiastuti SpA (K).
Lebih lanjut, Maria mengatakan, meskipun angka kejadian kanker pada
anak relatif jarang, yakni satu sampai tiga persen dari seluruh kanker manusia,
tetapi masyarakat perlu mengetahui adanya informasi yang benar dan jelas
mengenai penyakit kanker.

11

''Informasi perlu disebarkan sehingga masyarakat termasuk puskesmas


sebagai garis depan bisa tahu dengan baik,'' tambahnya.
Maria menambahkan, apabila di dalam keluarga terdapat salah satu
anggotanya mengidap kanker, sebaiknya anaknya perlu melakukan deteksi dini
kanker untuk pencegahan. ''Pencegahannya dengan mengonsumsi vitamin A dan
C, buah maupun sayuran yang kaya akan serat.''
Kendati kanker pada anak cukup jarang, namun hingga kini kanker darah
(leukemia) menduduki peringkat tertinggi kanker pada anak. Hingga kini
penyebab kanker sendiri belum diketahui dengan pasti. Namun, penyakit ini bisa
dilihat dari faktor risiko, seperti genetika (keturunan) dan lingkungan antara lain
infeksi virus, bahan kimia atau obat, radiasi, makanan, dan sebagainya.

12

DAFTAR PUSTAKA

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Langsung ke: navigasi, cari
Leukemia
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Acute_leu emia-ALL.jpg

13