Anda di halaman 1dari 4

METODE SAMPLING

1) Consecutive sampling
Consecutive sampling merupakan pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang
memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah sampel yang
diperlukan terpenuhi. Misalnya, terjadinya wabah diare selama kurun waktu tertentu dimana
waktu tersebut menunjukkan terjadinya puncak insiden diare.1
Sumber: Maryani L. Muliani R. 2010. Epidemiologi kesehatan: Pendekatan penelitian.
Yogyakarta: Graha Ilmu. p:120-3.
Consecutive sampling (sampling berurutan) adalah metode pengambilan sampel yang
diketemukan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu pada suatu interval waktu yang ditetapkan
atau jumlah sampel atau pasien.
Metode sampling berurutan merupakan metode yang terbaik dari nonprobabilitas teknik,
dan sangat sering digunakan. Menjadi masalah bila interval waktu sangat pendek, seperti
terjadinya penyakit yang dipengaruhi oleh waktu musiman.
Sumber: Pasiga B. 2007. Metode praktis perhitungan besar sampel. Makassar: Bagian
IKGM FKG Unhas. p:7-9.
Pada consecutive sampling, semua subyek yang datang secara berurutan dan memenuhi
kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan
terpenuhi. Consecutive sampling ini merupakan jenis non-probability yang paling baik dan
seringkali merupakan cara yang termudah. Faktanya sebagian besar penelitian klinis
(termasuk uji klinis) pemilihan subjeknya dilakukan dengan teknik ini.
Agar hasil pemilihan subyek dengan consecutive sampling dapat menyerupai hasil
dengan probability sampling, maka jangka waktu pemilihan pasien atau subyek penelitian
harus tidak terlalu pendek, terutama untuk penyakit yang dipengaruhi oleh musim.
Contohnya, pengambilan pasien demam berdarah dengue pada bulan-bulan Agustus dan
September mungkin tidak mewakili karakteristik pasien demam berdarah dengue pada
umumnya. Karena puncak insidens penyakit ini biasanya terjadi antara bulan April sampai
Juni dan karakteristik pasien pada puncak insidens tidak sama dengan bulan-bulan lain.
Untuk jenis penyakit yang tidak dipengaruhi oleh musim hal tersebut dapat diabaikan.

Sumber: Sastroasmoro S. Ismael S. 2011. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta:


Sagung Seto. p:99-100.
2) Convenience sampling
Convenience sampling/accidental sampling merupakan pemilihan sampel dengan cara
mencari subjek berdasarkan hal-hal yang menyenangkan atau mengenakkan peneliti. Subjek
dijadikan sampel karena kebetulan dijumpai di tempat dan waktu secara bersamaan pada
pengumpulan data. Misalnya, pada waktu peneliti praktek di ruangan kebetulan menjumpai
pasien yang diperlukan dan sesuai masalah penelitian, maka peneliti langsung menetapkan
subjek tersebut untuk diambil datanya, kemudian peneliti cuti dan tidak melanjutkan.
Setelah beberapa lama, peneliti melanjutkan lagi penelitian subjek, demikian seterusnya.1
Sumber: Maryani L. Muliani R. 2010. Epidemiologi kesehatan: Pendekatan penelitian.
Yogyakarta: Graha Ilmu. p:120-3.
Convenience sampling adalah suatu metode pengambilan sampel berdasarkan kemudahan
(pengambilan seenaknya) dimana unit-unit yang secara kebetulan tersedia pada saat
pengumpulan data.
Teknik pengambilan sampel dengan cara ini secara luas digunakan dalam penelitian
klinik sebab member keuntungan dalam hal ongkos dan logistic.
Contoh: seorang peneliti ingin mempelajari sikap orang desa terhadap jasa pelayanan
tentang keluarga berencana oleh MCH klinik. Ia memutuskan untuk mewawancarai semua
pasien orang dewasa yang pernah mengunjungi klinik selama hari tertentu. Teknik
pengambilan ini lebih berdasarkan pertimbangan kemudahan daripada pengambilan sampel
secara random (acak) dari suatu desa/kampong.
Kelemahan metode convenience sampling adalah tidak mewakili golongan untuk
populasi yang ingin dipelajari. Beberapa unit mungkin over-selected, yang lain tidak terpilih
atau luput/kehilangan sama sekali semuanya.
Sumber: Pasiga B. 2007. Metode praktis perhitungan besar sampel. Makassar: Bagian
IKGM FKG Unhas. p:7-9.
Cara ini merupakan cara termudah untuk menarik sampel, namun juga sekaligus cara yang
paling lemah. Pada cara ini sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dapat
dianggap dapat mewakili populasi terjangkau apalagi populasi target penelitian.
Contoh:

Ingin diketahui kadar Imunoglobulin pasien penyakit jantung bawaan ditetapkan besar
sampel 40. Peneliti, suatu hari mengambil 8 kasus di poliklinik jantung. Kemudian ia cuti,
dan masuk kembali, kalau tidak rapat atau memberi kuliah dia mengumpulkan lagi pasien
sampai mencapai 40. Cara ini mudah namun subyek terpilih tidak mewakili pasien jantung
bawaan yang berobat di poliklinik tersebut. Dalam keadaan tertentu, bila variabilitas nilai
pada subyek penelitian tidak berbeda besar, maka hasil yang diperoleh dapat dianggap
representative untuk populasi target, misalnya pada penelitian untuk memperoleh nilai-nilai
normal (contoh: ukuran ginjal yang baru lahir, dimensi ruang jantung dengan EKG pada
orang dewasa normal).
Sumber: Sastroasmoro S. Ismael S. 2011. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta:
Sagung Seto. p:99-100.

3) Quota sampling
Quota sampling merupakan pemilihan sampel dengan menentukan sampel dalam kuota
berdasarkan tanda-tanda yang mempunyai pengaruh terbesar variabel yang akan diselidiki.
Quota artinya penetapan subjek berdasarkan kapasitas/daya tampung yang diperlukan dalam
penelitian. Misal, dalam suatu penelitian didapatkan adanya 70 populasi yang tersedia,
peneliti menetapkan kuota 50 subjek untuk dijadikan sampel, maka jumlah tersebut
dinamakan kuota.1
Cara pengambilan sampel dengan jatah hampir sama dengan pengambilan sampel
seadanya, tetapi dengan control yang lebih baik untuk mengurangi terjadinya bias.
Pelaksanaan pengambilan sampel dengan jatah sangat tergantung pada peneliti, tetapi
dengan criteria dan jumlah yang telah ditentukan sebelumnya.
Contoh:
Penelitian tentang tingkat pendidikan masyarakat. Dalam hal ini telah ditentukan
jumlahnya, yaitu sebanyak 100 orang dengan kriteria 50 orang laki-laki dan 50 orang wanita
yang berumur antara 20 sampai dengan 35 tahun, tetapi 50 orang laki-laki dan 50 orang
wanita mana yang akan diwawancarai tergantung sepenuhnya pada peneliti.
Sumber: Budiarto E. Biostatistika untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat. Jakarta:
EGC. 2001. p:27

Sampling kuota adalah metode pemilihan sampel yang berdasarkan suatu jumlah unit
sampel tertentu dari kategori berbeda dengan cirri khas yang ada sehingga semua
karakteristik yang ada di populasi diwakili.
Sumber: Pasiga B. 2007. Metode praktis perhitungan besar sampel. Makassar: Bagian
IKGM FKG Unhas. p:7-9.