Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Invaginasi merupakan keadaan akut suatu gangguan peristaltic usus, dimana suatu
segmen usus menjorok masuk ke segmen sebelahnya. Umumnya segmen proximal
masuk ke segmen distal. Invaginasi sering ditemukan pada anak dan jarang pada orang
muda dan dewasa.
Invaginasi pada anak dan bayi sering dijumpai pada usia di bawah 2 tahun dan terbanyak
ditemukan pada usia 5-9 bulan. Penyebab invaginasi pada anak dan bayi 70%-90% tidak
diketahui; beberapa kepustakaan menghubungkan dengan hypertrophied peyer's patches
akibat infeksi oleh virus, perubahan cuaca atau perubahan pola makanan. Sedangkan
invaginasi pada anak yang besar dan orang dewasa penyebabnya adalah suatu kelainan
patologis (divertikel Meckel, polip, tumor). Pada referensi lain dikatakan 70% pasien
dibawah umur 1 tahun (sering pada usia 6-7 bulan). Insidensi bervariasi dari 1-4 per
1000 kelahiran hidup, dan pria 4 kali lebih banyak daripada wanita. Serta lebih banyak
ditemukan pada bayi dengan gizi baik.
Kasus invaginasi masuk ke rumah sakit sebagai kasus gawat darurat. Tindakan pertama
yaitu mengatasi kekurangan cairan, elektrolit & keseimbangan asam basa.

INVAGINASI
A; DEFINISI
Invaginasi atau intususepsi adalah suatu keadaan akut saluran cerna dimana
suatu segmen usus bagian proximal masuk ke bagian distal yang umumnya akan berakhir
dengan obstruksi usus strangulasi.
Bila disertai strangulasi harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis
setelah perforasi. Invaginasi hampir selalu terjadi di ileum terminal.
Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum.
Sedangkan bagian usus yang mengandung intususeptum disebut intususipien.

Figure

Anatomy

of

typical

intussusception of ileum into the colon.


The

leading

proximal,

small

bowel

segment (intussusceptum) telescopes into


the

distal,

colon

segment

(intussuscipens). C. McKee

B;

EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian intususepsi (invaginasi) dewasa sangat jarang , menurut angka

yang pernah dilaporkan adalah 0,08% dari semua kasus pembedahan lewat abdomen dan
3% dari kejadian obstruksi usus , angka lain melaporkan 1% dari semua kasus obstruksi
usus, 5% dari semua kasus invaginasi (anak-anak dan dewasa), sedangkan angka-angka
yang menggambarkan angka kejadian berdasarkan jenis kelamin dan umur belum pernah
dilaporkan, sedangkan segmen usus yang telibat yang pernah dilaporkan Anderson 281
pasien terjadi pada usus halus (Jejunum, Ileum), 7 pasien ileocolica, 12 pasien cecocolica
dan 36 colocolica.
Hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun
(Bisset et all, 1988) sedangkan Orloff mendapatkan 69% dari 1814 kasus pada bayi dan
anak-anak umur kurang dari 1 tahun (Cohn 1976). Chairl Ismail 1988 mendapatkan
insiden tertinggi dicapai pada anak-anak umur antara 4 sampai dengan 9 bulan.
Perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2:1.

Insidensi tertinggi dari inttususepsi terdapat pada usia dibawah 2 tahun (Ellis
1990). Orloof mendapatkan 69% dari1814 kasus pada anak-anak terjadi pada usia kurang
dari 1 tahun (Cohn 1976). Pada bayi dan anak-anak intususepsi merupakan penyebab
kira-kira 80-90% dari kasus obstruksi. Pada orang dewasa intususepsi lebih jarang terjadi
dan diperkirakan menjadi penyebab kira-kira 5% dari kasus obstruksi.

C; ANATOMI
Usus halus merupakan tabung komplek, berlipat-lipat yang membentang dari
pylorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup, panjang usus halus sekitar 12 kaki/
sekitar 3,6 meter. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung
proximalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin ke bawah lambat laun garis
tengahnya semakin berkurang sampai sekitar 2,5 cm.
Usus halus mencakup duodenum, jejunum dan ileum. Ia bertanggung jawab
bagi sebagian besar panjang saluran pencernaan dan luas permukaan mukosanya yang
luas merupakan tempat absorpsi bahan makanan, air dan mineral yang memungkinkan
pemeliharaan normal, pertumbuhan dan perkembangan.
Sepertiga proximal usus halus terdiri dari jejunum, 2/3 yang berikut merupakan
ileum. Tak ada batas pasti antara bagian usus halus. Sepertinya terlihat perubahan
bertahap dari ketebalan dinding usus yang menurun dengan lebih jauh ke distal usus.
Lebar lumen juga mengikuti pola serupa. Sehingga obstruksi lebih mudah timbul dalam
ileum distalis dibandingkan jejunum proximalis.

Figure 1 - Anatomy of the digestive tract

Ada perbedaan antara usus halus proximal dan distal dalam mesenterium, yaitu
pada mesenterium jejunum lemak yang terkandung di antara lembaran berakhir tepat
sebelum batas usus dalam area Bering dan pembuluh darah dapar terlihat. Kalau pada
ileum, lemak terbentang sampai dinding usus sehingga pembuluh darah sulit dilihat.
Usus halus mesenterika seluruhnya dilayani oleh a. mesenterika superior melalui 12 -15
cabang yang membentuk arcades yang kemudian menimbulkan arteri lurus yang
menyilang mesenterium langsung ke dinding usus.
Dinding usus halus di bagi dalam 4 lapisan :
1; Tunica Serosa.
Terdiri dari jaringan ikat longgar yang dilapisi oleh mesotel.
2; Tunica Muscularis.
Dua selubung otot polos tidak bergaris membentuk tunica muskularis usus halus.
Lapisan ini paling tebal di dalam duodenum dan berkurang dalamnya kearah
distal. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum
sirkulare. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak di
antara kedua lapisan otot ini.
3; Tela Submukosa.
Tela Submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunika
muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak dibawah
mukosa. Dalam ruang ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Juga ditemukan neuroplexus Meissner.
4; Tunica Mukosa.
Tunica mukosa usus halus, kecuali pars superior duodenum tersusun dalam
lipatan sirkuler tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masingmasing lipatan ini ditutup dengan tonjolan, vili.
Lipatan dan vili lebih banyak di dalam jejunum dibandingkan di dalam ileum,
sehingga bertanggung jawab lebih besar permukaan absorbsi dalam bagian usus
ini.

Ada dua area dalam tingkatan submukosa dan bagian spesifik usus halus :
5

1; Plaque peyer
Plaque peyer terutama berada di dalam ileum dan lebih banyak ke distal. Ia
terdiri dari agregasi lymphaticus yang dikelilingi oleh plexus lymphaticus di atas
permukaan mesenterica usus.
2; Glandula Brunner
Glandula Brunner ada hampir seluruhnya di dalam duodenum, tetapi di dalam
jejunum proximal ia terdapat di proximal dan menurun dengan penuaan.
Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter,
terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Diameter terbesarnya pada saat kosong
6,5 cm dalam sekum, dan berkurang menjadi 2,5 cm dalam sigmoid. Pada sekum
terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Katup ileosekal
mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran
balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus.
Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan sigmoid.
Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan disebut fleksura hepatica
dan kiri fleksura lienalis.
Dinding kolon terdiri dari 4 lapisan, yaitu:
1; Tunika Serosa
Membentuk apendises epiploica, yaitu kantong-kantong kecil yang berisi lemak
dan menonjol dari serosa, kecuali pada rectum.
2; Tunika Muscularis
Terdiri atas stratum longitudinal di sebelah luar dan stratum circular di sebelah
dalam. Stratum circular membentuk m.Sphincter ani internus sedangkan stratum
longitudinale membentuk 3 pita yang disebut taenia coli, yang lebih pendek dari
kolon itu sendiri sehingga membentuk kolon berlipat-lipat seperti kantong
(haustrae).
3; Tela Submucosa
Dibentuk oleh jaringan penyambung longgar yang berisi pembuluh darah dan
kelenjar getah bening.
4. Tunika Mukosa

Licin karena tidak

mempunyai vili,

permukaan

dalamnya mempunyai

lipatan-Lipatan (plicae mucosae) berbentuk bulan sabit karena tidak mencapai


seluruh lingkaran lumen dan dinamakan plicae semilunares.
Vaskularisasi
Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan
suplai darah yang diterimanya. Arteri mesenterika superior (memperdarahi belahan
kanan; sekum, kolon ascenden dan duapertiga proximal kolon transversum) akan
bercabang ke a.ileokolika, a.kolika dextra. Sedang arteri mesenterika inferior
(memperdarahi sepertiga kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian
proximal rectum) akan bercabang ke a.kolika sinistra, a.sigmoid, a.hemoroidalis superior.
Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. V.mesenterika
superior untuk kolon ascenden dan transversum. Sedang v.mesenterika inferior untuk
kolon descenden, sigmoid dan rectum.
Rektum disuplai oleh a.hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika
inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna). Sedang aliran
venanya yaitu v.hemoroidalis superior dan inferior.
Aliran Limfe
Sejalan dengan perdarahannya antara lain kelenjar para kolik, kelenjar dalam
mesenterium, kelenjar para aorta pada pangkal a.mesenterika superior dan inferior.
Aliran limfe pada rectum yaitu, inguinal, kelenjar iliaka interna, kelenjar para
kolik, kelenjar di mesenterium, dan kel.para aorta.
Persyarafan
Usus besar diperarafi oleh system otonom kecuali sfingter externa diatur secara
volunter. Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari n.splannikus dan
pleksus presakralis serta serabut yang berasal dari n.vagus. Sedangkan rectum dipersarafi
oleh serabut simpatis yang berasal dari plexus mesenterikus inferior dan dari system
parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yang
berasal dari S 2-4.
D; ETIOLOGI
Penyebab kebanyakan invaginasi belum diketahui.
7

Berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari bayi-bayi dengan invaginasi


didapatkan hal-hal sebagai berikut :
1; Adanya penebalan Plaque Peyer akibat suatu proses dari infeksi virus pada usus.
Adenovirus ditemukan dari limfonodi mesenterika pada pembedahan dan juga
dari biakan permukaan dengan presentase yang lebih tinggi pada anak dengan
invaginasi daripada control. Invaginasi pada anak biasanya disebut idiopatik,
dimana disebabkan oleh penebalan plaque Peyeri yaitu suatu jaringan limfoid di
dinding ileum bagian distal, yang dapat merangsang peristaltic usus sebagai
upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.
2; Adanya perubahan flora usus sehingga timbul peristaltic yang meniggi.
Perubahan flora memang terjadi pada usia 6-9 bulan sehubungan dengan
perubahan pola makan pada bayi.
3; Sedangkan pada anak di atas usia 2 tahun atau orang dewasa umumnya
ditemukan pencetus gerakan peristaltic yang berlebihan tersebut, misalnya: polip,
divertikel Meckel, limfoma, hemangioma, dan mesenteric hematom.
Sekali usus bagian proximal masuk ke bagian usus distal, oleh adanya
peristaltic, maka bagian usus proximal ini akan tetap ada dan bahkan lebih jauh masuk
dalam usus bagian distal.

E;

PATOFISIOLOGI

Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada


dewasa pada intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu
bagian usus yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang
bebas dibandingkan bagian lainnya, karena arah peristaltik adalah dari oral keanal
sehingga bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal,
keadaan lainnya karena suatu disritmik peristaltik usus, pada keadaan khusus dapat
terjadi

sebaliknya

yang

disebut

retrograd

intususepsi

pada

pasien

pasca

gastrojejunostomi . Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan
menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah
menurun dan keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus
Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum.
Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Perubahan pada intususeptum
ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien, dan juga
karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium.
Edema dan pembengkakan dapat terjadi. Pembengkakan dapat sedemikian besarnya
sehingga menghambat reduksi. Adanya bendungan menimbulkan perembesan (ozing)
lendir dan darah ke dalam lumen. Ulserasi pada dindidng usus dapat terjadi. Sebagai
akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren. Gangren dapat berakibat lepasnya bagian
yang mengalami prolaps. Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen
usus. Akan tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga obstruksi komplit
kadang-kadang

tidak

terjadi

pada

intususepsi

(Tumen

1964).

Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun total
dan strangulasi (Boyd, 1956). Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil
menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. Usus bagian distal yang
menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi, terjadi edema. Akibatnya terjadi
perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi.
Invaginasi merupakan keadaan yang potensial berbahaya, karena bukan saja
terjadi obstruksi tetapi termasuk jenis strangulasi dimana pembuluh-pembuluh darah
dalam mesenterium dari usus bagian proximal yang masuk ke bagian distal
(intususeptum) terjepit diantara kedua dinding usus tersebut, sehingga kemungkinan
intususeptum mengalami nekrosis. Konstriksi mesenterium menyumbat aliran balik
vena; selanjutnya terjadi pembengkakan intususeptum, karena edema dan perdarahan

mukosa menyebabkan tinja mengandung darah, kadang mengandung mucus (red currant
jelly-selai kismis merah).
Pada proses strangulasi tersirat oleh adanya rasa sakit & perdarahan per rectal.
Serangan sakit mula-mula hilang timbul kemudian menetap, gelisah sewaktu serangan
dan sering disertai rangsangan muntah.
Puncak invaginasi dapat berjalan sampai ke kolon tranversum, desenden,
sigmoid, bahkan sampai & melewati anus pada kasus yang ditelantarkan. Tanda ini
harus dibedakan dari prolaps rectum. Proses obstruksi usus sebenarnya sudah dimulai
sejak invaginasi terjadi, tetapi penampilan klinik obstruksi memerlukan waktu.
Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala.

Right-Hemicolectomy Specimen (External View) Showing the Ileocecal Intussusception.


The cecum (C) and ileocecal valve have invaginated into the ascending colon (AC).
The dashed lines indicate the appendix. I denotes the terminal ileum

F; KLASIFIKASI
Intususepsi dibedakan dalam 4 tipe :
1; Enterik : usus halus ke usus halus(6.7%)
2; Ileosekal : valvula ileosekalis mengalami invaginasi prolaps ke sekum dan
menarik ileum di belakangnya. Valvula tersebut merupakan apex dari intususepsi.
(39 %)
3; Kolokolika : kolon ke kolon.(4.7%)
4; Ileokoloika : ileum prolaps melalui valvula ileosekalis ke kolon.(31.5%)
G;

DIAGNOSIS

10

Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan


penunjang.
Anamnesis:

serangan rasa sakit/kholik (Rasa sakit berhubungan dengan passase dari


intususepsi).

Muntah(Stenosis Pilorus : Encer dan asam ,Obstruksi usus halus : Berwarna


kehijauan ,Obstruksi kolon : onset muntah lama)

keluarnya darah melalui rektum,

terdapatnya masa yang teraba di perut


TRIAS INVAGINASI :

Anak mendadak kesakitan episodic, menangis dan mengankat kaki (Craping


pain), bila lanjut sakitnya kontinyu

Muntah warna hijau (cairan lambung)

Defekasi feses campur lendir (kerusakan mukosa) atau darah (lapisan dalam)
currant jelly stool

Pemeriksaan Fisik
Umumnya bayi dalam keadaan sehat, gizi baik. Mungkin beberapa hari
sebelumnya terdapat peradangan saluran nafas bagian atas.
Pada kasus-kasus yang khas, nyeri kolik hebat yang timbul mendadak, hilang
timbul. Bayi tiba-tiba menangis seperti menahan rasa sakit untuk beberapa saat,
kemudian diam, lalu main atau tidur kembali. Sering disertai rangsangan muntah.
Muntah berupa minuman atau makanan yang masuk.
Beberapa jam kemudian (antara 6-8 jam setelah serangan pertama) bayi
defekasi disertai darah segar dan lendir. Selanjutnya defekasi hanya darah dan lendir.
Sementara gejala & tanda obstruksi belum tampak, pada pemeriksaan abdomen dapat
teraba massa. Bila massa teraba di kanan atau kiri atas maka perabaan pada abdomen
kanan bawah terus kosong. Keadaan ini disebut sebagai Dances Sign.
Pemeriksaan colok dubur terdapat feses dengan darah segar serta lendir pada
sarung tangan.

11

Menjelang 24 jam sejak serangan sakit, usus yang tadinya tersumbat parsial
dapat berubah menjadi sumbatan totalis, seperti abdomen yang membuncit dengan
terlihat kontur & peristaltic usus. Muntah sudah berwarna hijau, karena mengandung
empedu atau sudah fekal. Massa intra abdomen sulit teraba lagi.
Pemeriksaan colok dubur mungkin teraba ujung invaginatum, seperti perabaan
pada portio yang dikenal sebagai pseudoportio. Sarung tangan hanya terdapat darah dan
lendir, tidak ada feses lagi.
Pengeluaran cairan yang terus menerus akan menyebabkan dehidrasi yang bila
tidak segera ditangani akan menyebabkan syok & mungkin kenaikan suhu tubuh.
Pada anak yang menderita malnutrisi, gejala nyeri tidak hebat, gejala obstruksi
berjalan menahun & intususeptum dapat prolaps melalui anus.
Pemeriksaan Penunjang
1; Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologis berupa foto polos abdomen memperlihatkan tanda-tanda
obstruksi usus halus, kadang-kadang tamapak bayangan menyerupai sosis di bagian
tengah abdomen. Pemeriksaan USG menunjukkan doughnat sign atau pseudokidney
sign. Dengan enema barium tampak defek pengisian barium yang konveks, barium
akan terhenti sementara, bayangan per mobil (coiled spring appearance) apabila
barium melingkari intususeptum. Refluks kontras ke dalam ileum adalah tanda satusatunya bahwa reduksi telah berhasil (Rasad, 2005).

Caption:. Note intussusception in the left upper quadrant on this plain film of an infant with pain
vomiting. Courtesy of Dr. Kelly Marshall, Children's Healthcare of Atlanta at Scottish Rite.
Pic.Type X-RAY

12

A computed tomographic scan revealed air within the wall of the ascending colon and the typical target lesion of a colonic
intussusceptions (arrow in Panel B).

Foto polos Saussege appearance

13

Gambaran USG Invaginasi


2; Reduksi hidrostatik
Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan
kateter dengan tekanan tertentu. Pertama kali keberhasilannya dikemukakan oleh
Ladd tahun 1913 dan diulang keberhasilannya oleh Hirschprung tahun 1976.
Reposisi barium diikuti oleh X-ray. Mula-mula tampak bayangan barium
bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi. Dengan tekanan hidrostatik
sebesar - 1 meter air, barium didorong ke arah.proksimal. tekanan hidrostatik
tidak boleh melewati 1 meter air dan tidak boleh dilakukan pengurutan atau
penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisis hidrostatik.

14

Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum


terminalis. Pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang diberikan per os
akan keluar melalui dubur. Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat
terlihat coiled spring appearance. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa
barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi
Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk prosedur
diagnostic, kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi. Pemberian sedikit
sedative yang cukup sebelum prosedur enema sangat banyak membantu
berhasilnya reduksi hidrostatik ini.
Indikasi:
;
;
;
;

tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum


tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi
tidak dehidrasi
gejala invaginasi kurang dari 48 jam

kontra indikasi:,
1;
2;
3;
4;

distensi abdomen yang berlebihan,


invaginasi rekuren
gejala invaginasi lebih dari 48 jam,
peritonitis

www.pennhealth.com/intestobstruct_2.html (15)

H; REPOSISI HIDROSTATIK
15

Kasus invaginasi masuk RS sebagai kasus gawat darurat. Tindakan pertama yaitu:
1; Tindakan perbaikan keadaan umum mutlak perlu dikerjakan sebelum melakukan
tindakan apa pun.
2; Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi & mencegah aspirasi.
3; Rehidrasi. Hati-hati tanda dehidrasi kadang-kadang tidak jelas tampak karena
bayi bergizi baik & malah sering gemuk.
4; Obat-obat penenang untuk penahan rasa sakit.
5; Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah
tampak tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak
terdapat kontraindikasi.
Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke
lumen usus lainnya. Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi
pneumostatik atau melalui pembedahan.

Pengelolaan
o Masukan oral dihentikan, penderita diberi cairan intravena dan
selanjutkan dilakukan reposisi usus.
o

Bergantung pada keadaan penderita, reposisi dilakukan dengan operasi


atau barium enema. Pada operasi, reposisi secara manual dan hasilnya
langsung diketahui.

o Reposisi barium diikuti oleh X-ray, Mula-mula tampak bayangan barium


bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi. Dengan tekanan
hidrostatik sebesar 3/4 meter air, barium didorong ke arah proksimal.
o Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum
terminalis. Pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang
diberikan per os akan keluar melalui dubur.
o Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat terlihat coiled
spring appearance. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa barium
pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi.

16

o Sejak 1876, barium enema sudah dipergunakan untuk pengobatan


invaginasi dan hasilnya memuaskan. Hanya sedikit kemungkinan terjadi
perforasi walaupun usus telah mengalami gangren, asal tekanan
hidrostatik tidak melebihi 1 meter.
o Demikian pula lamanya perawatan pada reposisi barium lebih pendek
daripada operasi. Sebaliknya dengan reduksi manual pada operasi ternyata
lebih bersifat traumatik, sehingga lebih mudah terjadi ruptur usus.
o Dengan kelebihan yang disebut tadi, di Skandinavia reposisi barium lebih
banyak digunakan. Survival rate 55%, masing-masing 81% pada umur
kurang 1 tahun dan 15% pada usia kurang 3 bulan.
o Kadang-kadang reposisi barium tidak berhasil, misalnya pada umur
kurang 3 bulan dan invaginasi ileo-ileal. Bayangan kontras dalam bentuk
cupping tidak mencapai ileum terminalis sehingga memerlukan operasi.
o Operasi dini tanpa terapi barium dikerjakan bila terjadi perforasi,
peritonitis dan tanda-tanda obstruksi. Keadaan ini biasanya pada
invaginasi yang sudah berlangsung 48 jam.
o Demikian pula pada kasus-kasus relapse. Invaginasi berulang 11% setelah
reposisi barium dan 3% pada operasi tanpa reseksi usus. Bisanya reseksi
dilakukan jika aliran darah tidak pulih kembali setelah dihangatkan
dengan larutan fisiologik.
o Usus yang mengalami invaginasi nampak kebiruan. Pada perawatan ke2x, dikerjakan operasi tanpa barium enema.
Penanganan Lain:
1. Pre-operatif
Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti penangan pada
kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan umum seperti rehidrasi dan
koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit elektrolit
2. Durante Operatif
Reseksi anastosmose segmen usus yang terlibat dengan memastikan lead
pointnya. Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi tepi segmen usus

17

yang terlibat, pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi,
kemudian dilakukan anastosmose end to end atau side to side.
Operasi tidak akan dilakukan pada keadaan umum bayi yang jelek. Bayi
baru dapat dibius dan dioperasi bila kita sudah yakin perfusi darah ke jaringan
sudah baik. Kalau proses penyakit diduga sudah lebih dari 24 jam atau bayi
menderita demam maka diharuskan pemberian antibiotik berspektrum luas.
Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah cukup
yang dapat diukur secara klinis dari produksi urin, yaitu 0,5 1 ml/kgBB/jam
melalui kateter. Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang dari 38C, nadi kurang
dari 120 kali per menit, pernapasan tidak lebih dari 40 kali/ menit, turgor kulit
membaik, dan paling utama kesadaran yang baik. Akral yang tadinya dingin jadi
hangat kembali. Biasanya dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari kebutuhan
( untuk koreksi & kebutuhan normal), perfusi jaringan sudah dapat dicapai.
Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi jaringan tidak
memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil metabolisme yang
seharusnya dikeluarkan dari tubuh, dan hal ini akan mengakibatkan oksigenasi
jaringan yang buruk, yang dapat berakibat kerusakan sel yang irreversible, dan
bila menyangkut organ vital akan menyebabkan kematian.
Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong
invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal, dorongan dilakukan dengan hatihati tanpa tarikan dari bagian proximal.
Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi. Setelah dinding
perut dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada. Reposisi
dikerjakan secara manual diperas seperti memeras susu sapi yang disebut
milking, dikerjakan secara halus dan perlahan dengan sabar, dan diselingi dengan
istirahat beberapa waktu untuk memberi kesempatan agar aliran darah balik yang
mengurangi edema sehingga mempermudah usaha milking selanjutnya. Jangan
sekali-kali menarik bagian usus yang masuk ke dalam usus lainnya, tetapi diperas
dari pihak lainnya. Kalau terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking
maka dilakukan dengan reseksi usus, kemudian anastomosa end to end. Kalau
kita berhasil dengan milking, maka sebagian besar pakar tidak melakukan fiksasi
sekum.

18

Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas, danbanyak bagian dari
usus itu yang harus diangkat. Maka pada kasus ini tidak dapat dilakukan
anastomosis end to end, harus colostomy supaya proses digestive tetap berjalan.
Kalau ditemukan penyebab yang menjadi factor pencetus seperti
divertikulum atau duplikasi maka perlu dilakukan reseksi. Pada penderita yang
berhasil dengan cara milking umumnya sudah dapat meninggalkan rumah sakit
pada hari ke-4 dan ke-5 pascabedah.
3. Pasca Operasi

Hindari Dehidrasi

Pertahankan stabilitas elektrolit

Pengawasan akan inflamasi dan infeksi

Pemberian analgetika yang tidak mempunyai efek menggangu motilitas usus.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC
Robbins, S.L, M.D. dan Kumar, V.,M.D. 1995. Traktus Gastrointestinal dalam
Buku Ajar Patologi II. Jakarta : EGC, hal 281-293.
R.Sjamsuhidajat, Wim de Jong; Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Cetakan I
1997, Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal : 846 850.
Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta : UI, hal 415416.
Sabiston, D.C.Jr, Adrianto,P, Dr. 1994. Buku Ajar Bedah Jilid 2. Jakarta : EGC,
hal : 269-273.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: UI.
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Edisi 6. Jakarta: EGC, hal : 435-458.
19

http://www.emedicinehealth.com/includes/basicsearch.asp.
http://www.yoursurgery.com/procedures/intussusception
http://www.nejm.org on March 11, 2010
http://www.pedisurg.com/intestinal_obstruction.htm.
http://www.lpch.org/DiseaseHealthInfo/HealthLibrary/digest/intussus.html.
Copyrigh 2006.

20

Anda mungkin juga menyukai

  • Mitral Stenosis: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
    Mitral Stenosis: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
    Dokumen26 halaman
    Mitral Stenosis: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Kuisioner Fix
    Kuisioner Fix
    Dokumen2 halaman
    Kuisioner Fix
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Bab 1 Fix
    Bab 1 Fix
    Dokumen2 halaman
    Bab 1 Fix
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Bab 1 Fix
    Bab 1 Fix
    Dokumen2 halaman
    Bab 1 Fix
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Bab 1 Fix
    Bab 1 Fix
    Dokumen13 halaman
    Bab 1 Fix
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Bab 4 Fix
    Bab 4 Fix
    Dokumen6 halaman
    Bab 4 Fix
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • TULANG
    TULANG
    Dokumen19 halaman
    TULANG
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Kuisioner Depan
    Kuisioner Depan
    Dokumen1 halaman
    Kuisioner Depan
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Naskah Publikasi-3 PDF
    Naskah Publikasi-3 PDF
    Dokumen15 halaman
    Naskah Publikasi-3 PDF
    Indah Dwi Pangesti
    Belum ada peringkat
  • Malaria
    Malaria
    Dokumen4 halaman
    Malaria
    ulfa
    Belum ada peringkat
  • Ngartiiinnnn
    Ngartiiinnnn
    Dokumen1 halaman
    Ngartiiinnnn
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Invaginasi
    Invaginasi
    Dokumen20 halaman
    Invaginasi
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Cover Invaginasi
    Cover Invaginasi
    Dokumen2 halaman
    Cover Invaginasi
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Invaginasi
    Invaginasi
    Dokumen33 halaman
    Invaginasi
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Invaginasi
    Invaginasi
    Dokumen33 halaman
    Invaginasi
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Presentasi Mitral Stenosis
    Presentasi Mitral Stenosis
    Dokumen36 halaman
    Presentasi Mitral Stenosis
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Indonesia Referat Jurnal Carvedilol - Ischemic Stroke
    Indonesia Referat Jurnal Carvedilol - Ischemic Stroke
    Dokumen13 halaman
    Indonesia Referat Jurnal Carvedilol - Ischemic Stroke
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Daftar Pustaka
    Daftar Pustaka
    Dokumen1 halaman
    Daftar Pustaka
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • CARVEDILOL STROKE
    CARVEDILOL STROKE
    Dokumen39 halaman
    CARVEDILOL STROKE
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Tinjau Pustaka + Analisis Kasus
    Tinjau Pustaka + Analisis Kasus
    Dokumen16 halaman
    Tinjau Pustaka + Analisis Kasus
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Cover
    Cover
    Dokumen1 halaman
    Cover
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Miestenia Gravis
    Miestenia Gravis
    Dokumen25 halaman
    Miestenia Gravis
    Andre Prasetyo Mahesya
    100% (1)
  • Miestenia Gravis
    Miestenia Gravis
    Dokumen25 halaman
    Miestenia Gravis
    Andre Prasetyo Mahesya
    100% (1)
  • Cover
    Cover
    Dokumen10 halaman
    Cover
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Cover
    Cover
    Dokumen1 halaman
    Cover
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Miestenia Gravis
    Miestenia Gravis
    Dokumen25 halaman
    Miestenia Gravis
    Andre Prasetyo Mahesya
    100% (1)
  • Cover SZ Paranoid
    Cover SZ Paranoid
    Dokumen1 halaman
    Cover SZ Paranoid
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • CR Skizofrenia Paranoid
    CR Skizofrenia Paranoid
    Dokumen32 halaman
    CR Skizofrenia Paranoid
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat
  • Kurnia Abstraks
    Kurnia Abstraks
    Dokumen1 halaman
    Kurnia Abstraks
    Andre Prasetyo Mahesya
    Belum ada peringkat