Anda di halaman 1dari 8

Artikel

Fisika Bumi
Pergerakan Lempeng Bumi

Di susun oleh :
Agil Syahrir
1212140001
Fisika Sains (c)

Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan alam
Universitas Negeri Makassar
2013

Pergerakan Lempeng Bumi


Kulit bumi dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Hal ini telah menjadi
bahan pemikiran para ahli untuk mengungkap proses perubahan dan perkembangan kulit bumi
pada masa lalu, sekarang dan prediksi pada masa yang akan datang.
Adapun berbagai teori terbentuknya kulit bumi yang dikemukakan para ahli antara lain sebagai
berikut.
I.

TEORI KONTRAKSI (CONTRACTION THEORY)


Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Descrates (1596-1650). Ia menyatakan
bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengkerut yang disebabkan oleh terjadinya
proses pendinginan, sehingga di bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung,
lembah, dan dataran.
Teori kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852).
Mereka berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses
pendinginan di bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi
mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.

II.

TEORI DUA BENUA (LAURASIA-GONDWANA THEORY)


Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua benua yang sangat
besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub selatan bumi.
Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah equator bumi, sehingga
akhirnya terpecah-pecah menjadi benua benua yang lebih kecil.
Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana
terpecah menjadi Afrika, Australia dan Amerika Selatan. Teori Laurasia-Gondwana kali
pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884.

III.

TEORI PENGAPUNGAN BENUA (CONTINENTAL DRIFT THEORY)


Teori pengapungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener pada 1912. Ia
menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua maha besar yang disebut
Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian terpecah pecah dan terus bergerak melalui
dasar laut.
Gerakan rotasi bumi yang sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut
bergerak ke arah barat menuju equator. Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa
kesamaan garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta
adanya kesamaan batuan dan fosil pada kedua daerah tersebut.

IV.

TEORI KONVEKSI (CONVECTION THEORY)


Menurut teori konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess
dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz, menyatakan bahwa di dalam bumi
yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan kulit
bumi yang berada di atasnya, sehingga ketika arus konveksi yang membawa materi
berupa lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah
samudera), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru
menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.
Bukti kebenaran teori konveksi adalah terdapatnya tanggul dasar samudera (Mid
Oceanic Ridge), seperti Mid Atlantic Ridge dan Pasific-Atlantic Ridge. Bukti lainnya
didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan bahwa semakin jauh dari
punggung tengah samudera,
umur batuan semakin tua. Artinya terdapat gerakan yang berasal dari Mid Oceanic
Ridge ke arah berlawanan yang disebabkan oleh adanya arus konveksi dari lapisan di
bawah kulit bumi.

V.

TEORI LEMPENG TEKTONIK (PLATE TECTONIC THEORY)


Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa planet bumi terdiri atas sejumlah lapisan.
Lapisan bagian atas bumi merupakan bagian yang tegar dan kaku berada pada suatu
lapisan yang plastik atau cair. Hal ini mengakibatkan lapisan permukaaan bumi bagian
atas menjadi tidak stabil dan selalu bergerak sesuai dengan gerakan yang berada di
bawahnya. Keadaan inilah yang melatarbelakangi lahirnya teori Lempeng Tektonik.
Lahirnya teori lempeng tektonik (tectonic Plate theory) pada tahun 1968 merupakan
kenyataan mutakhir dalam geologi yang menunjukkan terjadinya evolusi bentuk
permukaan bumi.
Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh Tozo Wilso. Berdasarkan teori ini, kulit
bumi atau litosfer terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan
astenosfer, Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena
pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer yang berada di bawah
lempeng tektonik kulit bumi.
Litosfer sebagai lapisan paling luar dari badan bumi, bagaikan kulit ari pada kulit
manusia dan merupakan lapisan kerak bumi yang tipis. Prinsip teori tektonik lempeng
adalah kulit bumi terdiri atas lempeng-lempeng yang kaku dengan bentuk tidak beraturan.
Dinamakan lempeng karena bagian litosfer mempunyai ukuran yang besar di kedua
dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertikal
(ketebalan). Bandingkan dengan daun meja, daun pintu, atau lantai di kelas kalian!
Lempeng ini terdiri atas lempeng benua (tebal sekitar 40 km) dan lempeng samudera
(tebal sekitar 10 km). Kedua lempeng tersebut berada di atas lapisan astenosfer dengan
kecepatan rata-rata 10 cm/tahun atau 100 km/10 juta tahun.
Astenosfer merupakan suatu lapisan yang cair (kental) dan sangat panas. Panasnya
cairan astenosfer senantiasa memberikan kekuatan besar dari dalam bumi untuk
menggerakkan lempeng-lempeng secara tidak beraturan. Kekuatan ini dinamakan tenaga
endogen yang telah menghasilkan berbagai bentuk di permukaan bumi. Di bumi ini
litosfer terpecah-pecah menjadi sekitar 12 lempeng. Teori lempeng tektonik banyak

didukung oleh fakta ilmiah, terutama dari data penelitian geologi, geologi kelautan,
kemagnetan purba, kegempaan, pendugaan paleontologi, dan pemboran laut dalam.
Lahirnya teori lempeng tektonik sebenarnya merupakan jalinan dari berbagai konsep dan
teori lama seperti Teori Apungan Benua, Teori Arus Konveksi, Teori Pemekaran Lantai
samudera, dan Teori Sesar Mendatar, sebagaimana telah dijelaskan pada teori-teori di
atas. Berdasarkan kajian para ahli, lempeng tektonik yang tersebar di permukaan
bumi.Lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak dan mendesak satu sama lain. Lempeng
tektonik bagian atas disebut lempeng samudera, sedangkan lempeng tektonik pada bagian
atas terdapat masa kontinen disebut lempeng benua.
Kedua lempeng ini memiliki sifat yang berbeda. Apabila dua lempeng yang berbeda
sifat tersebut saling mendekat, umumnya lempeng samudera akan ditekuk ke bawah
lempeng benua hingga jauh ke dalam lapisan astenosfer.
Bertemunya antara dua lempeng seperti ini dinamakan gerakan bertumbukan
(subduction), sedangkan daerah yang menjadi tempat tumbukan lempenglempeng disebut
subduction zone.
Selain saling mendekat kemudian bertumbukan, gerakan lempeng juga ada yang saling
menjauh dengan lempeng lainnya, dinamakan gerak divergent atau disebut juga sebagai
proses pemekaran. Hasil pemekaran lempeng yang berada di atas benua disebut rifting,
sedangkan pemekaran yang berada di samudera disebut spreading.
Contoh proses ini adalah pecahnya Benua Pangea pada Zaman Trias dengan
membentuk celah sepanjang pinggiran Atlantik yang memisahkan Afrika dan Amerika
Latin.
Coba anda perhatikan kedua benua tersebut! Pasti nampak seperti sebuah sobekan
kertas yang keduanya menunjukkan ciri-ciri bekas sobekan yang berpasangan.
Selain itu, ada juga gerakan lempeng yang hanya bersinggungan atau berpapasan,
disebut juga transcurrent fault. Setiap gerakan lempeng yang berbeda tersebut, akan
mempengaruhi gejala dan fenomena alam di atas permukaan bumi. Secara lengkap,
prinsip pergerakan lempeng-lempeng tektonik adalah sebagai berikut:

a. Konvergensi
Konvergensi, yaitu gerakan saling bertumbukan antarlempeng tektonik. Tumbukan
antarlempeng tektonik dapat berupa tumbukan antara lempeng benua dengan benua atau
antara lempeng benua dengan lempeng dasar samudera. Zone atau tempat terjadinya
tumbukan antara lempeng tektonik benua dengan benua disebut Zone Konvergen.
Contohnya tumbukan antara lempeng India dengan lempeng Benua Eurasia yang
menghasilkan terbentuknya pegunungan lipatan muda Himalaya yang merupakan
pegunungan tertinggi di dunia dengan puncak tertingginya, yaitu Mount Everest. Contoh
lainnya, tumbukan lempeng Italia dengan Benua Eropa yang menghasilkan terbentuknya
Pegunungan Alpen. Zone berupa jalur tumbukan antarlempeng benua dengan lempeng
dasar samudera, disebut Zone Subduksi atau zone tunjam, contohnya tumbukan antara
lempeng benua Amerika dengan lempeng dasar Samudera Pasifik yang menghasilkan
terbentuknya Pegunungan Rocky dan Pegunungan Andes. Fenomana yang dihasilkannya:
1) lempeng samudera menghujam ke bawah lempeng benua;
2) terbentuk palung laut di tempat tumbukan tersebut;
3) pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan;
4) terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi dan ekstrusi;
5) daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam;
6) penghancuran lempeng akibat pergesekan lempeng;
7) timbunan sedimen campuran atau melange.
Contoh:
Pegunungan di pantai barat Amerika, deretan Pulau Sumatera, Jawa dan Nusa
Tenggara, merupakan akibat pembengkakan lempeng benua. Bermunculan puncak
gunungapi dan terjadi gempa di sepanjang pulau dan pegunungan tersebut.
Ingatlah bahaya gempa yang menimbulkan Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara
pada akhir Desember 2004, gempa tersebut timbul akibat adanya tumbukanantara
lempeng samudera Australia terhadap lempeng benua Asia.
b. Divergensi

Divergensi yaitu gerakan saling menjauh antarlempeng tektonik contohnya


gerakan saling menjauh antara lempeng Afrika dengan Amerika bagian selatan. Zone
berupa jalur tempat berpisahnya lempeng-lempeng tektonik disebut
Zone Divergen (zone sebar pisah). Fenomena yang terjadi, sebagai berikut:
1) Perenggangan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepinya.
2) Pembentukan tanggul dasar samudera (med ocean ridge) di sepanjang tempat
perenggangan lempeng-lempeng tersebut.
3) Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur bantal
(lavabantal) dan hamparan leleran lava encer.
4) Aktivitas gempa.
Contoh:
Di Lautan Atlantik, tanggul dasar samudera memanjang dari dekat Kutub Utara
sampai mendekati Kutub Selatan. Celah ini menjadikan benua Amerika bergerak
saling menjauh dengan benua Eropa dan Afrika. c. Sesar mendatar Sesar mendatar
(Transform), yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah) antarlempeng
tektonik. Contohnya, gesekan antara lempeng Samudera
Pasifik dengan lempeng daratan Amerika Utara yang mengakibatkan terbentuknya
Sesar San Andreas yang membentang sepanjang kurang lebih 1.200 km dari San
Francisco di utara sampai Los Angeles di selatan Amerika Serikat.
Zone berupa jalur tempat bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zone
Sesar Mendatar (Zone Transform). Bentukan alam yang dihasilkan antara lain
patahan atau sesar mendatar. Gerak patahan atau sesar ini dapat menimbulkan gempa
bumi. Contoh: Sesar Sam Andreas di California.
c.

Sesar mendatar
Sesar mendatar (Transform), yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah)

antarlempeng tektonik. Contohnya, gesekan antara lempeng Samudera Pasifik dengan


lempeng daratan Amerika Utara yang mengakibatkan terbentuknya Sesar San Andreas
yang membentang sepanjang kurang lebih 1.200 km dari San Francisco di utara sampai
Los Angeles di selatan Amerika Serikat.

Zone berupa jalur tempat bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zone Sesar
Mendatar (Zone Transform). Bentukan alam yang dihasilkan antara lain patahan atau
sesar mendatar. Gerak patahan atau sesar ini dapat menimbulkan gempa bumi. Contoh:
Sesar Sam Andreas di California. Tenaga endogen yang telah mengakibatkan adanya
variasi bentuk muka bumi, tidak hanya terjadi di daratan melainkan juga di dasar laut.