Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Audit mencangkup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keungan
historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Akuntan
publik yang memberikan jasa audit disebut dengan istilah auditor. Atas dasar audit yng
dilaksanakan terhadap laporan keuangan historis suatu entitas, auditor menyatakan suatu
pendapat mengenai apakah laporan keungan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima
umum.
Secara umum auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi
bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian-kejadian
ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan
tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai
yang bekepentingan.
Dalam akuntansi, seorang akuntan harus menemempuh beberapa langkah dari pencatatan
bukti transaksi hingga memperoleh laporan keuangan. Begitu pula dalam auditing, terdapat
beberapa langkah yang harus ditempuh oleh auditor sehingga memperoleh perbaikan sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam makalah yang berjudul TAHAPAN
AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN ini penulis memaparkan langkah-langkah atau
tahapan yang harus ditempuh auditor dalam mengaudit laporan keuangan.
1.2 Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
Dalam melakukan audit, seorang auditor haruslah mengetahui langkah-langkah audit apa
yang akan dilakukan. Langkah-langkah audit ini ditempuh untuk memenuhi tujuan audit yaitu
untuk mencapai perbaikan atas berbagai program atau aktivitas dalam pengelolaan perusahaan
yang masih memerlukan perbaikan. Serta perbaikan ini dilakukan terhadap objek-objek audit
yang meliputi keseluruhan perusahaan atau kegiatan yang dikelola oleh perusahaan tersebut
dalam rangka mencapai tujuannya. Adapun langkah-langkah atau proses audit atas laporan
keuangan dibagi menjadi empat tahap yaitu:
2.1 Penerimaan Perikatan Audit
Perikatan adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan suatu ikatan perjanjian. Dalam
perikatan audit, klien yang memerlukan jasa auditing mengadakan suatu ikatan perjanjian dengan
auditor. Dalam ikatan perjanjian tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan
keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut

berdasarkan kompetensi profesionalnya. Langkah awal pekerjaan audit atas laporan keuangan
berupa pengambilan keputusasn untuk menerima atau menolak perikatan audit dari calon klien
atau untuk melanjutkan atau menghentikan perikatan audit dari klien berulang. Ada enam
langkah perlu ditempuh oleh auditor di dalam mempertimbangkan penerimaan perikatan audit
dari calon kliennya, antara lain sebagai berikut:
a. Mengevaluasi integritas manajemen
Audit atas laporan keuangan bertujuan untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan yang
disajikan oleh manajemen. Oleh karena itu, utnuk dapat, menerima perikatan audit, auditor
berkepneitngan untuk mengevaluasi integritas manajemen, agar auditor mendapatkan keyakinan
bahwa manajemen perusahaan klien dapat dipercaya, sehingga laporan keuangan yang diaudit
bebas dari salah saji material sebagai akibat dari adanya integritas manajemen.
b. Mengidentifikasi keadaan khusus dan risiko luar biasa
Faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor tentang kondisi khusus dan risiko luar biasa
yang mungkin berdampak terhadap penerimaan perikatan audit dari calon klien dapat diketahui
dengan cara:
Mengidentifikasi pemakai laporan audit
Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa depan,
Mengevaluasi kemungkinan dapat atau tidaknya laporan keuangan calon klien diaudit.
c.

Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit


Standar umum yang pertama berbunyi sebagai berikut; Audit harus dilaksanakan oleh seorang
atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor. Oleh karena itu,
sebelum auditor menerima suatu perikatan audit, ia harus mempertimbangkan apakah ia dan
anggota tim auditnya memiliki kompetensi memadai untuk menyelesaikan perikatan tersebut,
sesuai standatr auditing yang ditetapkan oleh IAI ( Ikatan Akuntan Indonesia).

d. Menilai independensi
Standar umum yang kedua: dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi
dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Oleh karena itu, sebelum auditor
menerima suatu perikatan audit, ia harus memastikan bahwa setiap profesional yang menjadi
anggota tim auditnya tidak terlibat atau memiliki kondisi yang menjadikan independensi tim
auditnya diragukan oleh pihak yang mengetahui salah satu dari delapan golongan informasi.
e.

Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya dengan kecermatan


dan keseksamaan.
Standar umum yang ketiga berbunyi sebagai berikut: dalam pelaksanaan audit dan penyusunan
laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
Dengan demikian, kecermatan dan keseksamaan penggunaan kemahiran profesional auditor
ditentukan oleh ketersediaan waktu yang memadai untuk merencanakan dan melaksanakan audit.

f.

Membuat surat perikatan audit

Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk
mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukkan oleh klien, tujuan
dan lingkup audit, lingkup tanggungjawab yang dipikul oleh auditor bagi kliennya.
2.2 Perencanaan Audit
Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari kliennya, langkah berikutnya
yang perlu ditempuhhhh adalah merencanakan audit. Ada tujuah tahap yang harus ditempuh oleh
auditor dalam merencanakan auditnya:
a. Memahami bisnis dan industri klien
Pemahaman atas bisnis klien memberikan panduan tentang sumber informasi bagi auditor untuk
memahami bisnis dan industri klien.
b. Melaksanakan prosedur analitik
Prosedur analitik memberikan panduan bagi auditor dalam menggunakan prosedur analitik pada
tahap perencanaan audit, pada tahap pengujian dan pada tahap review menyeluruh terhadap hasil
audit. Prosedur analitik dilaksanakan melalui enam tahap, yaitu:
Menidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
Megembangkan harapan
Melaksanakan perhitungan/perbandingan
Menganalisa data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut
Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit
c.

Mempertimbangkan tingkat materialitas awal


Pada tahap perencanaan audit, audit perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tingkat
berikut ini:
Tingkat kaporan keuangan
Materialitas awal pada tingkat laporan keuangan diterapkan oleh auditor karena pendapat
auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keungan sebagai keseluruhan.
Tingkat saldo akun
Materialitas awal pada tingkat saldo akun ditentukan oleh auditor pada tahap perencanaan audit
karena untuk mencapai kesimpulan tentang kewajaran laporan keuangan sebagi keseluruhan,
auditor perlu melakukan verifikasi saldo akun.
d. Mempertimbangkan risiko bawaan
Dalam keseluruhan proses audit, auditor mempertimbangkan berbagai risiko, sesuai dengan
tahap-tahap proses auditnya. Berbagai risiko yang harus dipertimbangkan oleh auditor dalam
setiap tahap proses auditnya yaitu:

Perencanaan Audit
Pemahaman & pengujian pengendalian intern

Penaksiran risiko pengendalian


Pelaksanaan Pengujian Substantif
Penetapan risiko deteksi
Penerbitan Laporan Audit
Penilaian Risiko Audit
e.

Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika periaktan
dengan klien berupaa audit tahun pertama
Auditor harus menetukan bahwa saldo awal mencerminkan penerpaan kebijakan akuntansi yang
semestinya dan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan
tahun berjalan. Bila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi atau penerapnnya, auditor
harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut memang semestinya dilakuakn, dan
dipertanggungjawabkan, serta diungkapkan.

f.

Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan


Dengan adanya keterkaitan antara bukti audit, materialitas dan komponen risiko audit (risiko
bawaan, risiko pengendalian dan riiko deteksi), auditor dapat memilih strategi audit awal dalam
perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi. Ada dua strategi audit awal
yang dapat dipilih oleh auditor:
Primarily substantive approach
Lower assessed level of control risk approach
g. Memahami pengendalian intern klien
Langkah pertama dalam pengendalian intern adalah dengan mempelajari unsur-unsur
pengendalian intern yang berlaku. Langkah berikutnya adalah melakukan penilaian terhadap
efektivitas pengendalian intern dengan menentukan kekuatan dan kelemahan pengendalian intern
tersebut. Untuk mendukung keyakinan atas efektivitas pengendalian intern tersebut, auditor
melakukan pengujian pengendalian.
2.3 Pelaksanaan Pengujian Audit
Auditor melakukan berbagai macam pengujian yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
golongan sebagai berikut.
a. Pengujian analitik
Pengujian analitik dilakukan olehh auditor pada tahap awal proses auditnya dengan cara
mempelajari perbandingan dan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada awal
proses audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis
klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Sebelum seorang
auditor melaksanakan audit secara rinci dan mendalam terhadap objek audit, auditor harus
memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai perusahaan yang diaudit. Untuk itu, analisi
ratio, analisis laba bruto, analisis terhadap laporan keungan perbandingan merupakan cara yang

umumnya ditempuh oleh auditor untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis
besar mengenai keadaan keungan dan hasil usaha klien.

b. Pengujian pengendalian
Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk memverifikasi
efektivitas pengendalian intern klien. Pengujian pengendalian terutama ditujukan untuk
mendapat informasi mengenai:
Frekunsi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan,
Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut
Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut.
c.

Pengujian substantif
Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan
kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan.
Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
kemungkinan terjadi karena dalam:
Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia
Tidak diterapkannya prinsip akuntasni bertrima umum di Indonesia.
Ketidakkonsistenan dalam penerapan prinsip akuntasi berterima umum di Indonesia.
Perhitungan.
Pekerjaan penyajian penggolangan dan peringkasan informasi.
Pencatuman pengungkapan unsur tertnetu dalam laporan keuangan.
Prosedur pengujian substantif meliputi:
1. Verifikasi atas ketepatann saldo kas dan sekdul kas.
2. Penerapan prosedur analitis.
3. Perhitungan kas yang disimpan dalam entitas.
4. Melaksanakan pengujian pisah batas kas.
5. Konfirmasi saldo simpanan pinjaman di bank.
6. Konfirmasi perjanjian atau kontrak lain dengan bank.
7. Melakukan pemindaian (sacnning) penelaahan, atau pembeuatan rekonsiliasi bank.
8. Menghimpun dan menggunakan laporan pisah batas bank.
9. Melakukan pengujia pisah batas penerimaan kas.
10. Mengusut transfer bank
11. Menyiapkan pembuktian kas.
12. Membandingkan penyajian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
2.4 Pelaporan Audit
Bagian akhir dari proses audit adalah pelaporan hasil audit. Isi laporan audit terikat pada
format yang telah diterapkan oleh IAI. Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh
auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor
menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keungan auditnya. Pendapat auditor

tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku.
Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf:
a. Paragraf pengantar
Paragraf pengantar dicantumkan sebagai paragraf perteman laporan audit baku. Terdapat tiga
fakta yang diungkapkan oleh auditor dalam paragraf pengantar yaitu: tipe jasa yang diberikan
oleh auditor, objek yang diaudit, serta pengungkapan tanggungjawab manajemen atas laporan
keungan dan tanggungjawab auditor atas pendapat yang diberikan atas laporan keungan
berdasarkan hasil auditnya.
b. Parangraf lingkup
Paragraf lingkup berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan oleh
auditor.
c. Paragraf pendapat
Paragraf pendapat berisi pernyataan ringkas mengenai pendapat.
Laporan memuat kesimpulan audit tentang elemen-elemen atas tujuan audit dan
rekomendasi yang diberikan untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang terjadi serta rencana
tindak lanjut dalam mengaplikasikan rekomendasi tersebut.Implementasi tindak lanjut atas
rekomendasi yang diberikan auditor merupakan bentuk komitmen manajemen dalam
meningkatkan proses dan kinerja perusahaan atas beberapa kelemahan/kekurangan yang masih
terjadi. Auditor tidak memiliki kewenangan memaksa dan menuntut manajemen untuk
melaksanakan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi yang diberikan, tetapi lebih
menempatkan diri sebagai supervisor atas rencana, pelaksanaan, dan pengendalian tindak lanjut
yang dilakukan. Rekomendasi seharusnya merupakan hasil diskusi dan rumusan bersama antara
manajemen dan auditor, dan juga harus menyajikan analisis dan manfaat yang diperoleh
perusahaan jika rekomendasi tersebut dilaksanakan, serta kerugian yang mungkin terjadi jika
rekomendasi tidak dilaksanakan karena tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan perusahaan.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Langkah-langkah audit meliputi empat tahap, yaitu:
a. Penerimaan Perikatan Audit terdiri dari: mengevaluasi integritas manajemen, mengidentifikasi
keadaan khusus dan risiko luar biasa, menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit,
menilai independensi, menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya
dengan kecermatan dan keseksamaan dan membuat surat perikatan audit.
b. Perencanaan Audit, terdiri dari: memahami bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur
analitik, mempertimbangkan tingkat materialitas awal, mempertimbangkan risiko bawaan,

mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika periaktan
dengan klien berupaa audit tahun pertama, dan memahami pengendalian intern klien.
c. Pelaksanaan Pengujian Audit, ada tiga golongan: pengujian analitik, pengujian pengendalian dan
pengujian substantif.
d. Pelaporan Audit, Isi laporan audit terikat pada format yang telah diterapkan oleh IAI. Laporan
audit baku terdiri dari tiga paragraf; paragraf pengantar, paragraf lingkup dan paragraf pendapat.
Seluruh tahapan audit ini pada akhirnya akan menghasilkan rekomendasi yang kemudian
harus ditindaklanjuti, yang menyajikan analisis dan manfaat yang diperoleh perusahaan jika
rekomendasi tersebut dilaksanakan, serta kerugian yang mungkin terjadi jika rekomendasi tidak
dilaksanakan karena tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan perusahaan.
3.2 Saran
Agar setiap perusahaan yang diaudit mempertimbangkan dengan baik rekomendasi yang
diberikan oleh auditor sehingga memperoleh keputusan yang bermanfaat serta bijaksana.

Langkah-Langkah Dalam
Proses Audit
Seperti sudah saya kemukakan di awal tulisan, seorang auditor menjalankan proses
audit melalui 7 (tujuh) tahapan atau langkah. Yaitu:

Langkah-1: Membuat Perencana Audit (Audit Planning)

Langkah-2: Mengumpulkan dan Mengevaluasi Informasi Sehubungan


dengan Auditee dan Lingkungannya

Langkah-3: Memeriksa Risiko Salah-Saji Yang Bersifat Material

Langkah-4: Merancang Respon Audit dan Prosedur Audit Lanjutan

Langkah-5: Menjalankan Audit Lanjutan

Langkah-6: Mengkaji Dan Memeriksa Kembali Hasil (Temuan) Audit

Langkah-7: Mengkomunikasikan Hasil (Temuan) Audit

Selanjutnya kita bahas masing-masing langkah tersebut satu-per-satu.

Langkah-1: Membuat
Perencanaan Audit (Audit
Planning)
Perencanaan audit yang dikenal dengan istilah audit planning dimulai dengan
mempelajari permintaan (pesanan) dari klien. Berdasarka permintaan ini, auditor
membuat rencana kerja audit.
Tingkat kepadatan aktivitas dan waktu yang dibutuhkan dalam fase ini, bervariasi
tergantung apakah auditee (perusahaan yang akan diaudit) baru pertamakalinya
ditangani atau sudah kesekian kalinya; perusahaan auditee baru biasanya
membutuhkan perencanaan yang lebih banyak, sehingga membutuhkan waktu
yang lebih panjang.
Dalam penyusunan rencana audit, ada beberapa faktor yang penting untuk
dipertimbangkan oleh auditor, diantaranya:
1. Ekonomi Secara teori, ada berbagai faktor ekonomi (lokal, nasional, dan
internasional), terutama yang dianggap mempengaruhi situasi bidang usaha
perusahaan auditee, yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan rencana
audit. Namun dalam prakteknya sangat jarang dilakukankecuali untuk situasi
yang sangat menghebohkan.
2. Bidang Usaha Perusahaan Auditee Misalnya: bidang usaha perusahaan
auditee adalah kontraktor, maka situasi umum bidang usaha perkontraktoran perlu
menjadi pertimbangan dalam penyusunan rencana audit. Khusus faktor ini, auditor
biasanya menggunakan pengalamannya di perusahaan-perusahaan lain yang
sejenis.
3. Aktivitas Bisnis Perusahaan Auditee Untuk perusahaan auditee baru, ini
membutuhkan waktu yang relative lebih lama (dengan tingkat kepadatan aktivitas
yang lebih tinggi) jika dibandingkan dengan perusahaan yang sudah pernah diaudit
sebelumnya. Pemahaman mengenai aktivitas bisnis perusahaan auditee
(khususnya auditee baru) diperoleh melalui berbagai aktivitas, antara lain:

Melakukan komunikasi (minta keterangan) dengan auditor sebelumnya, yang


dikenal dengan istilah predecessor auditor; mengunjungi lokasi perusahaan
(terutama dimana fasilitas dan aktivitas utama perusahaan berada);

Mempelajari laporan keuangan periode sebelumnya (sebelum dan setelah


diaudit) dan laporan interim periode berjalan;

Mempelajari laporan auditor sebelumnya (jika sudah pernah diaudit);

Mempelajari laporan keuangan fiskal (termasuk SPT) periode sebelumnya;

Mempelajari laporan hasil audit pajak (jika sudah pernah diaudit); dan

Mempelajari laporan pajak bulanan jika ada.

Selain ketiga faktor utama di atas, auditor juga perlu meminta


informasi(keterangan) dari manajemen perusahaan auditee guna memperoleh
input yang lebih lengkap. Untuk auditee yang yang sudah pernah ditangani
sebelumnya (sudah termasuk pelanggan), auditor biasanya hanya perlu
berkomunikasi dengan pihak manajemen, kalau-kalau ada perubahan signifikan
sehubungan dengan aktivitas bisnis auditee (misalnya: perubahan kepemilikan,
manajemen, wilayah opersi yang diperluas, pengembangan produk baru,
penggunaan sumber pembiayaan yang baru, dlsb). Pihak manajemen perusahaan
biasanya diwakili oleh komite audit perusahaan auditeeyang terdiri dari dewan
direksi, eksekutif, dan internal auditor.
Dengan berbagai informasi yang telah dihimpun dan dipelajari, auditor bisa
membuat perencanaan audit yang lebih konkret untuk:

Meminta surat penugasan (engagement letter) dari klien

Menyusun team audit (auditor dan assistant) yang akan ditugaskan


(menyangkut jumlah dan kompetensi/level auditor, biasanya managing partner
langsung menunjuk nama)

Jadwal kerja audit (menyangkut waktu, lokasi, dan obyek yang akan diaudit
dan siapa yang akan melaksanakan). Kecuali audit investigasi, ini biasanya
disesuaikan dengan kebijakan operasional perusahaan, agar tidak
menimbulkan polemic yang tidak perlu selama proses audit nantinya.

Budget audit (menyangkut total waktu dan perencanaan biaya yang


diperlukan untuk melaksankan keseluruhan kegiatan audit).

Secara keseluruhan, bisa dibilang: disamping penentuan jadwal kerja, esensi


audit planning adalah menentukan (dan penyusunan) strategy audit, yang akan
diterapkan agar tujuan audit tercapai.

Langkah-2: Mengumpulkan
dan Mengevaluasi Informasi
Sehubungan dengan Auditee
dan Lingkungannya
Mengumpulkan dan mengevaluasi informasi sehubungan dengan Auditee dan
lingkungannya adalah aktivitas penting yang harus dilakukan oleh auditor untuk:

Mapping awal, sebelum melakukan pemeriksaan terhadap risiko salah-saji


dalam laporan keuangan perusahaan auditee.

Merancang alur, waktu dan prosedur audit lebih lanjut

Membuat penilaian (judgment) awal, mengenai: materialitas, kesesuaian


laporan keuangan auditee dengan prinsip-prinsip akuntansi, dan identifikasi
awal mengenai wilayah yang memerlukan perlakuan audit khusus.

Fase kedua ini, diidentikan dengan apa yang disebut Risk Assessmentyang
esensinya tiada lain adalah pemetaan kemungkinan adanya kesalahan dan
penyimpangan (dalam obyek audit) lebih dinisebelum risk
assessmentsesungguhnya dilakukan (di langkah berikutnya). Prosedur risk
assessment di tahapan ini biasanya dilakukan dengan berbagai macam aktivitas,
antara lain: meminta susunan kepemilikan perusahaan, susunan manajemen dan
strukur organisasi secara keseluruhan, melakukan observasi dan inspeksi.
Melalui risk assessment procedure ini, auditor juga berusaha untuk memperoleh
berbagai informasi sehubungan dengan: alur operasi perusahaan, kepemilikan,
hubungannya dengan pemerintah, hubungan-hubungan istimewa dengan pihak
tertentu, metode pembiayaan (debt/equity) jangka pendek dan panjang, misi dan
visi perusahaan, strategi dan manajemen risiko yang diterapkanyang menjadi
dasar pijakan pihak manajemen perusahaan auditee dalam menilai kinerja
keuangan perusahaan dan penyusunan sistim pengendalian internalnya.
Dengan melakuan itu semua, auditor bisa memperoleh gambaran awal
mengenai asersi ( terdiri dari: saldo akun, kelompok transaksi dan disclosure)yang

kemungkinan besar mengandung risiko-salah-saji (material misstatement risk)


tinggi.
ASPEK UTAMA, yang wajib masuk dalam petimbangan di tahap ini adalahaspek
SISTIM PENGENDALIAN INTERN (Internal control) yang diterapkan di dalam
perusahaan auditee.
Tentu. Tidak semua unsur dan aspek pengendalian internal control perusahaan
auditee relevan dengan tujuan audit yang dilaksanakan. Pengendalian intern yang
dianggap relevan oleh auditor adalah yang diperkirakan berpengaruh terhadap
mampu-atau-tidaknya perusahaan auditee untuk membuat laporan keuangan yang
sesuai dengan PSAK.
Seperti diuangkapkan dalam COSO Framework, pengendalian intern (internal
control) didefinisikan sebagai suatu proses (yang dipengaruhi oleh dewan direksi,
manajemen dan pegawai perusahaan) untuk memberikan jaminan akan
terwujudunya:

Pelaporan keuangan yang handal (reliability of financial reporting);

Keefektifan dan efisisensi operasional perusahaan (effectiveness and


efficiency of operations); dan

Kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku


(compliance with applicable laws and regulations)

Dalam konteks audit, pengendalian intern terdiri dari 5 komponen, yang


saling berubungan satu dengan lainnya, antra lain:

Lingkungan pengendalian

Pemeriksaan risiko

Aktivitas pengendalian

Informasi dan komunikasi

Pengawasan (monitoring)

Note: lebih detailnya, silahkan baca COSO Framework, yang baru-baru ini (per
2012) mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Karena begitu pentingnya aspek pengendalian intern, dalam proses audit, maka
auditor diwajibkan untuk memperoleh pemahaman yang cukup mengenai setiap
penerapan kompenen internal control tersebut, di dalam perusahaan auditee,

sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pemeriksaan risiko salah-saji


dan penyusunan strategi audit lanjutan.
Seperti telah disampikan di atas, untuk pemahaman yang cukup mengenai
hal ini, auditor tidak saja meminta dokumen prosedur dan kebijakanyang
biasanya mencerminkan sistim pengendalian intern perusahaan auditee, tetapi
juga melakukan pengamatan (observasi) dan inspeksi di lapangan untuk melihat
apakah prosedur dan kebijakan perusahaan telah dilaksanakan dengan benar dan
konsisten. Dalam prose ini, auditor selalu melakukan koordinasi dan komunikasi
yang diperlukan dengan pigak internal auditor perusahaan.
Hal terakhir yang dilakukan oleh auditor, dalam fase ini, adalah
mengasimilasikan dan mensitesiskan pemahaman semua informasi yang mungkin
mempengaruhi proses audit secara keseluruhanterutama sekali terkait dengan
wilayah-wilayah yang dianggap mengandung risiko salah saji yang bersifat metrial.

Langkah-3: Memeriksa Risiko


Salah-Saji Yang Bersifat
Material (Risks of Material
Misstatement)
Laporan keuangan (perusahaan auditee) terdiri dari rangkaian asersi (pernyataan)
manajemen sehubungan dengan laba-rugi dan posisi keuangan perusahaan, yang
presentasikan dalam bentuk transaksi, saldo akun dan diskolsur.
Menggunakan pemahaman yang di peroleh di langkah pertama dan kedua, auditor
melakukan pemeriksaan risiko salah-saji yang bersifat material, baik dalam tingkat
asersi yang relevan maupun dalam tingkat laporan keuangan secara keseluruhan.
Risiko salah saji yang bersifat material digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:

Inherent Risk Risiko salah-saji yang bersifat inherent alias tidak ada

hubungannya dengan pengendalian internal; dan


Control Risk Risiko yang ada hubungannya dengan efektifitas fungsi

internal control (dalam hal ini, sistim pengendalian internal perusahaan auditee
dianggap mengalami gagal fungsi atau minimal kurang efektif).
Untuk memastikan apakah risiko salah-saji besifat material memang ada
atau tidak, konkretnya, auditor melakukan pemeriksaan terhadap: transaksi,
saldo akun dan disklosur, yang dalam langkah-2 sebelumnya diperkirakan
mengandung risiko salah saji yang tinggi. Untuk masing-masing asersi (transaksi,
saldo akun dan disklosur), auditor mencari tahu:

Apa yang salah (atau tidak sesuai) di sini?

Bagaimana kesalahan (atau ketidaksesuaian) itu terjadi?

Berapa nominal/rupiah yang terlibat dalam salahan (ketidaksesuaian) itu?

Untuk setiap kesalahan (atau ketidaksesuaian) yang ditemukanterutama


yang bersifat material, seorang auditor biasanya berdiskusi dengan anggota team
audit lainnya untuk mengetahui apakah anggota team lainnya menemukan
kesalahan (ketidaksesuaian) yang sejenis (dengan pola/modus sejenis juga) atau
tidak.
Jika iya, maka auditor biasanya mulai mencurigai adanya unsur kesengajaan
di dalamnya, yang bisa saja mengarah ke tindakan fraud. Bila diperlukan (dan
diminta oleh klien), maka team auditor bisa meminta bantuan team auditor khusus
(yang memiliki komepetensi dan sertifikasi khusus) untuk melakukan investigasi
fraud, yang biasanya dilakukan oleh Fraud Examiner(yang bertitel Certified Fraud
Examiner = CFE).
Proses lain yang tak kalah pentingnya, dalam fase ini, adalah melakukan
identifikasi terhadap apa yang disebut dengan Significant Risk, yaitu: risiko yang
membutuhkan prosedur audit khusus.
Misalnya: Auditor sedang melakukan audit terhadap perusahaan kontraktor.
Dalam perusahaan kontraktor, wilayah pengakuan pendapatan-dan-biaya
cenderung mengandung risiko salah-saji yang tinggi. Dalam kondisi demikian,
auditor bisa memutuskan bahwa wilayah pengakuan pendapatan-dan-biaya
membutuhkan prosedur audit khusus.
Prosedur audit khusus yang dimaksudkan di sini yaitu, auditor perlu:

Melakukan evaluasi terhadap rancangan sistim pengendalian yang mestinya

bisa mencegah risiko tersebut (sering disebut control test saja); dan
Melakukan prosedur substantive (sering disebut substantive test saja),

yang memiliki tautan jelas dengan risiko yang dimaksud.


(Catatan: kita akan bahas ini di fase berikutnya, langkah-4).
Sayang, ruang ini tidak cukup untuk menampung semua langkah yang
diperlukan dalam audit. Terpaksa harus saya penggal sampai di sini dahulu.
Di Bagian kedua (segera) akan saya bahas mengenai langkah berikutnya,
yaitu: