Anda di halaman 1dari 6

Biji Pinang (Areca semen)

Tumbuhan asal: Pinang (Areca catechu L.)

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus: Areca
Spesies: Areca catechu L.
Pemanfaatan biji pinang (Areca catechu), sebagai obat tradisional telah digunakan secara
luas sejak ratusan tahun lalu). Diperkirakan, populasi pengguna biji pinang secara berkala dalam
berbagai bentuk sediaan mencapai sekitar 500 juta orang. Terdapat sekitar 200600 juta orang di
dunia mengkonsumsi pinang selama hidup mereka. Di Taiwan terdapat sekitar 2 juta orang
mengkonsumsi pinang secara aktif. Selain itu, sekitar 10% masyarakat di dunia mengkonsumsi
pinang secara kontinu (Sahelian, 2004).
Biji pinang mengandung arecoline, yaitu senyawa alkaloid aktif (Agusta, 2001). Selain
arecoline, pinang juga mengandung, arecaidine, arecaine, guvacine, arecolidine, guvacoline,
isoguvacoline, dan coline (Anonimus, 2001). Efek yang ditimbulkan oleh pinang terutama
disebabkan oleh bahan aktifnya, yaitu arecoline yang merupakan alkaloid utama buah pinang.
Paparan arecoline diketahui menyebabkan terjadinya sitotoksisitas pada berbagai sel mamalia

dan meningkatkan hiperpolarisasi potensial membran mitokondria dan menginduksi fragmentasi


DNA. Pada mencit jantan, paparan arecoline merubah morfofungsi gonad, pada domba
menyebabkan abnormalitas spermatozoa dan menghambat sintesis DNA sel-sel kecambah dan
sel-sel lainnya pada manusia (Sinha dan Rao, 1985) serta menghambat proses spermatogenesis
pada ayam jantan. Selain itu, hasil penelitian Kiong-Er et al. (2006) menunjukkan bahwa induksi
arecoline secara in vitro mampu menurunkan motilitas spermatozoa.
EFEK PAPARAN DEKOK BIJI PINANG (Areca catechu) TERHADAP MOTILITAS
SPERMATOZOA TIKUS (Rattus norvegicus): UPAYA MENEMUKAN KANDIDAT
ANTIFERTILITAS PRIA
The Effect of Betel Nut Extract (Areca catechu) on Mice Spermatozoa Motility
(Rattus
norvegicus: Effort to Find Out Man Antifertility Candidate
Muslim Akmal1, Aulanniam2, Rasmaidar1, Dasrul1, Tongku N. Siregar1, dan
Erdiansyah Rahmi1
1Fakultas

Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh


MIPA Universitas Brawijaya, Malang

2Fakultas

J. Ked. Hewan Vol. 2 No. 2 September 2008

Momordica fructus
Tanaman asal: Pare (Momordica charantia)

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)


Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Ordo: Violales
Famili: Cucurbitaceae (suku labu-labuan)
Genus: Momordica
Spesies: Momordica charantia L.

Pare (Momordica charantia L) Sinonim Momordica balsamina Blanco,


Momordica balsamina Descourt, Momordica cylindrica Blanco, Momordica
jagorana C.Koch, Momordica operculata Vell, Cucumis africanus Lindl.
Merupakan tanaman tropis, hidup di dataran rendah dan dapat merupakan
tanaman yang dibudidayakan atau tanaman liar di tanah kosong. Buah bulat
memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan,
panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit. Warna buah hijau, bila masak menjadi
oranye yang pecah dengan tiga katup.
Tanaman Pare tergolong dalam bangsa Cucurbitaceae, jenis Momordica
charantia L. Penyebarannya meliputi Cina, India dan Asia Tenggara (Williams,
1971). Pemanfaatan buah Pare bagi masyarakat Jepang bagian Selatan sebagai
obat pencahar, laksatif dan obat cacing (Okabe et al. 1980). Di India, ekstrak
buah Pare digunakan sebagai obat diabetik, obat rheumatik, obat gout, obat
penyakit.
Rasa pahit buah Pare disebabkan oleh kandungan kukurbitasin (momordikosida K dan L),
yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel (West, et al. 1971). Kukurbitasin yang
digolongkan dalam glikosida triterpen memiliki struktur dasar siklopentan perhidrofenantrena yang
juga, dimiliki oleh steroid. Menurut Jackson dan Jones (1972), steroid dapat berperan sebagai
penghambat spermatogenesis dan bersifat reversibel. Spermatozoa adalah sel haploid, yang berasal
dari perkembangan dan diferensiasi sel-sel induk germinal di dalam testis. Dengan dasar ini maka,
bila ekstrak buah Pare diberikan pada mamalia jantan, akan dapat menghambat spermatogenesis.
Namun, belum diketahui dengan pasti apakah momordikosida tersebut bekerja secara steroid atau
secara sitotoksik.
Hasil penelitian Dixit, et al. (1978) menyimpulkan, bahwa efek ekstrak
buah Pare menekan fungsi testis anjing percobaan dalam memproduksi
spermatozoa. Parameter lain terlihat bahwa diameter tubulus seminiferus
mencit pada pemberian ekstrak buah Pare selama 40 hari. Hal tersebut diduga
karena efek sitotoksik dan momordikosida, sehingga sel-sel spermatogenik yang
mengisi tubulus seminiferus tidak dapat mempertahankan aktifitasnya.

flavonoid yang disintesis oleh hampir seluruh dunia tumbuhan, dapat


menghambat enzim aromatase. Dengan dihambatnya enzim tersebut yaitu yang
berfungsi mengkatalisis konversi androgen menjadi estrogen, maka jumlah
androgen (testosteron) akan meningkat. Tingginya konsentrasi testosteron akan
berefek umpan balik negatif ke hipofisis tidak melepaskan FSH dan atau LH;
dengan demikian akan menghambat spermatogenesis.
Penelitian ekstrak buah Pare telah dilaporkan pula oleh Wardoyo (1990),
ternyata dapat mempengaruhi morfologi dan motilitas spermatozoa tikus
percobaan. Semakin tinggi kadar ekstrak buah Pare dan semakin lama
pemberiannya, maka motilitas dan viabilitas spermatozoa semakin rendah,
sebaliknya morfologi abnormal spermatozoa semakin meningkat. Hal ini
mungkin disebabkan oleh bahan aktif golongan glikosida triterpen yang
terkandung dalam buah Pare

POTENSI BUAH PARE (Momordicha charantia L.) SEBAGAI


HERBAL ANTIFERTILITAS
Hernawati
Jurusan Pendidikan Biologi
FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia

Daun Pacing Putih (Costus folium)


Tanaman asal: Costus specious
Nama lain: Tawar, Tetawar, tebu tawar, tewu tupok, dan pacing

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus: Costus
Spesies: Costus speciosus (Koenig) Sm.
Jenis tumbuhan herba tahunan ini merupakan tumbuhan yang digunakan
sebagai salah satu bahan baku kontrasepsi. Etnis dayak Benuaq di Kalimantan
Timur menggunakan air yang banyak di dalam batangnya sebagai KB alami dengan
cara diminum. Costus speciosus tumbuh liar ditempat yang lembab dengan sedikit
naungan, dapat pula tumbuh liar dihutan primer dan sekunder. Saat ini banyak jenis
Costus yang ditanam untuk menghiasi pekarangan.
Rimpang dan biji tumbuhan ini mengandung bahan baku obat kontrasepsi
(anti hamil) antara lain diosgenin, tigogenin, diosin, grasisilin, dan sitosterol.
Dapus : bikin sendiri hehe