Anda di halaman 1dari 3

REAKSI KIMIAWI PADA RESPIRASI SELULER

I.

TUJUAN
Menemukan bagaimana sel menggunakan energi yang tersimpan dalam
molekul makanan untuk membuat ATP dengan menggunakan reaksi redoks.

II.

DASAR TEORI
Pada banyak reaksi kimiawi terjadi transfer satu atau lebih elektron (e) dari
satu reaktan ke raektan yang lain. Relokasi elektron melepaskan energi yang
tersimpan dalam molekul makanan dan energi ini digunakan untuk mensintesis
ATP. Transfer elektron ini disebut reaksi redusi-oksidasi atau disingkat redoks.
Pada suatu reaksi redoks, kehilangan elekktron dari suatu bahan disebut oksidasi,
dan penambahan elektron ke bahan lain dikenal sebagai reduksi. Misalnya,
perhatikanlah reaksi antara natrium dan klorin untuk menghasilkan garam dapur.

Atau kita dapat menuliskan reaksi redoks dengan cara ini:

Dalam reaksi
umum, substansi x, donor
(pemberi) elektron disebut agen pereduksi, substansi ini mereduksi y. Substansi y,
akseptor (penerima) elektron, merupakan agen pengoksidasi, bahan ini
mengoksidasi x.

Pembakaran metana merupakn reaksi redoks penghasil energi. Selama


reaksi, elektron yang digunakan bersama dalam ikatan kkovalen berpindah
menjauhi atom karbon dan hidrogen dan lebih dekat ke oksigen, yang sangat
elektronegatif. Reaksi ini melepaskan energi ke sekelilingnya karena elektron
kehilangan energi potensial begitu elektron itu berpindah lebih dekat ke atom
elektro negatif.ugas kali ini redoks yang akan kita bahas adalah redoks yang
terjadi pada respirasi seluler. Oksidasi metana oleh oksigen merupakan reaksi
pembakaran uatama yang terjadi pada kompor gas. Tetapi proses redoks penghasil

energi yang terjadi pada manusia adalah respirasi, oksidasi glukosa dan molekul
bahan bakar lain dalam makanan.
III.

PROSES

Bahan bakar (gula) dioksidasi dan oksigen di reduksi, dan elektron


kehilangan proses energi potensial bersama proses tersebut. Perubahan pada status
kovalen dari elektron begitu hidrogen ditransfer ko oksigen ialah perubahan
energi. Dengan mengoksidasi glukosa, respirasi mengeluarkan energi dalam
penyimpanan dan membuatnya siap digunakan untuk sintesis ATP.
Elektron kehilangan energi potensialnya ketika bergeser dari atom yang
kurang elektronegatif yaitu atom dengan tarikan ke elektron yang lemah, ke arah
atom yang lebih elektronegatif, reaksi redoks yang merelokasi elekron lebih dekat
ke oksigen, akan melepaskan energi kimiawi yang dapat digunakan untuk
melakukan suatu kerja.
Hanya rintangan dari energi aktivasi yang menahan banjir elektron untuk
menuju keadaan energi yang lebih rendah. Tanpa rintangan ini, bahan makanan
seperti glukosa itu terbakar di udara, dan melepaskan panas 686 kkal (kira-kira
180 garam). Suhu tubuh tidak cukup tinggi untuk mengawli pembakaran, yang
merupakan oksidai bahan bakar yang cepat, yang diikuti oleh pelepasan banyak
sekali energi panas. Tetapi menelan sejumlah glukosa, dan ketika molekol itu
mencapai sel kita, enzim-enzim akan menurunkan rintangan energi aktivasi itu,
yang memungkinkan gula dapat dioksidasi secara lambat.
IV.

PEMBAHASAN
Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga bagi manusia. Glukosa merupakan salah satu
hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi.

Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosamonosakarida yang


mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung
gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut
"cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam cincin
ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom

kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk
suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan
bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7.
Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi.
Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain
seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari
formaldehida pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem
biokimia primitif. Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah
kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak
mudah bereaksi secara nonspesifik dengan gugus amino suatu protein. Reaksi ini
(glikosilasi) mereduksi atau bahkan merusak fungsi berbagai enzim. Rendahnya
laju glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer
siklik yang kurang reaktif. Meski begitu, komplikasi akut seperti diabetes,
kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan saraf periferal (peripheral neuropathy),
kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi protein.

V.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell ,N.A, Mitchell. 2000. Biologi edisi 5. Erlangga, Jakarta.
http://en.wikipedia.org/wiki/activation_energy
http://id.wikipedia.org/wiki/glukosa
http://id.wikipedia.org/wiki/oksigen