Anda di halaman 1dari 3

Pemeriksaan fisik

Segera setelah bayi lahir, pemeriksaan yang singkat dan teliti pada wajah, mata, mulut,
dada, abdomen, tulang belakang, dan ekstremitas harus dapat menyingkirkan kelainan
mayor. Tangisan yang kuat serta warna kemerahan pada wajah dan tubuh menunjukkan
penyesuain diri yang baik terhadap kehidupan yang independen.
Cuci tangan wajib dikerjakan sebelum memulai pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan sebaiknya dimulai dari kepala hingga kaki untuk memastikan bahwa
pemeriksaan berjalan sistematis dan menyeluruh.
Pemeriksa harus selalu mengukur kembali lingkar kepala dan suhu (aksila) sebelum
melakukan pemeriksaan. Suhu aksila neonatus aterm adalah sebesar 36,5-37,2o C. Bila

suhu ini berada dalam kisaran normal, pemeriksaan boleh dimulai.


Pemeriksa harus menanggalkan semua pakaian bayi agar inspeksi dapat dikerjakan
secara menyeluruh setiap saat dan memberi ruang gerak yang optimal, contohnya,
pada pemeriksaan panggul.

Berikut ini adalah pemeriksaan yang merupakan pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir,
antara lain:
1

Mata: periksa dengan oftalmoskop untuk melihat refleks merah dan bagian luar mata

2
3
4
5

seperti kornea, sklera, dan konjungtiva, iris, bilik mata depan, dan pupil.
Plethora atau pucat: jika dicurigai, periksa hematokrit.
Telinga: liat letak meatus akustikus eksternus dengan senter untuk melihat patensinya.
Tangan: periksa jari tambahan, garis tangan palmar.
Mulut : bibir harus berwarna merah muda dan berbentuk melengkung, merasakan
bagian dalam mulut anak dengan satu jari, mulut anak harus lembab dan hangat, serta
meraba atap mulut untuk memeriksa palatum mole dan palatum durum, melihat warna

membran mukosa yaitu merah muda.


Leher: leher harus diangkat untuk melihat dan memalpasi daerah bawah dagu guna
memeriksa adanya jala-jala serta menyingkirkan diagnosis tortikolis. Raba kelenjar
dan nodus limfe di sekitar dan di dalam lipatan kulit untuk menentukan ada tidaknya
kelainan. Raba denyut arteri karotis, pastikan tidak teraba getaran bising. Tulang bayi
baru lahir terasa lunak, sebagian besar tersusun atas kartilago dan hanya sedikit
mengandung kalsium. Otot bayi baru lahir harus terasa kuat, bentuknya mulus, tidak

bengkak atau mengecil.


Ekstremitas atas: raba klavikula untuk menyingkirkan dugaan fraktur, ekstremitas atas
dimulai dari sendi bahu; humerus dan sendi siku; radius dan ulna; gerakan sendi putar
di pergelangan tangan dengan lembut ke belakang dan ke depan. Periksa adanya

akrosianosis. Jari biasanya fleksi menjadi kepalan dengan ibu jari berada di bawah
jari-jari tersebut. Inspeksi dan palpasi daerah bawah lengan (aksila) untuk memeriksa
ada tidaknya pembesaran kelenjar atau massa.
8 Hidung: hidung harus terletak di tengah dan paten (tidak tersumbat).
9 Ikterus: jika terjadi dalam 24 jam pertama, perlu pemeriksaan lebih lanjut.
10 Jantung: auskultasi. Denyut jantung normal 110-160 kali/menit namun dapat menurun
sampai 80 kali/menit selama tidur. Murmur jantung.
11 Punggung & Tulang belakang: periksa dari atas sampai bawah. Kerutan sakral di
bawah garis celah natal umum dijumpai dan jinak. Jika terletak proksimal dari celah
natal maka memerlukan ultrasonografi untuk mengidentifikasi jika terdapat jalur ke
medula spinalis, walaupun jarang. Periksa punggung untuk pertumbuhan rambut,
pembengkakan, nervus, atau lesi lain di atas tulang belakang yang dapat menunjukkan
kelainan vertebra atau medula spinalis, misalnya spina bifida okulta atau penyatuan
medula. Jika ditemukan maka rencanakan ultrasonografi, dan MRI mungkin
diperlukan.
12 Nadi femoralis: menurun pada koarktasio aorta. Jika dicurigai maka periksalah
dengan mengukur tekanan darah di keempat ekstremitas. Perbedaan > 15 mmHg
dianggap signifikan. Menguat pada duktus arteriosus paten.
13 Tonus otot: amati pergerakan keempat ekstremitas. Rasakan ketika menggendong
(jaga kepala ketika mengangkat bayi). Pada posisi telungkup, bayi aterm (cukup
bulan) akan mengangkat kepalanya ke posisi horizontal.
14 Tampilan umum, postur, pergerakan: apakah normal ?
15 Fontanel: terasa normal. Ukuran normal diameter fontanel anterior bervariasi antara
1,5 dan 5 cm. Ubun-ubun besar berbentuk berlian dan seharusnya tidak cekung atau
cembung. Penutupan fonticulus terjadi sekitar 12-18 bulan. Palpasi hingga melewati
suturan koronalis, kemudian susuri sutura sagitalis dari depan ke belakang menuju
fontanel posterior. Ubun-ubun kecil sukar diraba karena ukurannya hanya sekitar 0,5
16
17
18
19

cm. Periksa ada tidaknya rambut serta rasakan teksturnya, rambut seharusnya lembut.
Wajah : setiap gambaran dismorfik misalnya trisomi 21 (sindrom down).
Langit-langit/palatum: inspeksi dan palpasi untuk mengidentifikasi celah langit-langit.
Sianosis Lidah: jika ragu periksa saturasi oksigen dengan oksimeter nadi.
Pernapasan dan pergerakan dinding dada: amati adanya gawat napas. Peningkatan laju
pernapasan, napas cuping hidung, grunting (napas berbunyi), retraksi dada (sternal

dan interkostal).
20 Abdomen: hati normal 1-2 cm di bawah tepi kosta, ujung limpa dan ginjal kiri
mungkin dapat teraba. Setiap masa periksa lebih lanjut dengan ultrasonografi.
21 Kulit : warna kulit, perfusi, tekstur, tonus dan turgor kulit dan kemunculan tanda lahir
22 Panggul: periksa displasia perkembangan panggul.

23 Punggung: telungkupkan bayi untuk melihat dan meraba tonus. Lihat pergerakan
kepala dan pastikan bahwa garis rambut sesuai, harus ada dua bahu yang simetris
disertai tulang belakang yang lurus, tidak tampak kelengkungan yang berlebihan,
tidak ada sumbing atau rambut. Perlahan, rabalah keseluruhan tulang belakang untuk
memastikan tidak ada kelengkungan yang abnormal, tidak ada sumbing, lesung atau
sinus. Dengarkan sistem pernapasan ketika bayi telentang.
24 Genitalia: periksa testis di dalam skrotum dan penis normal pada bayi laki-laki serta
anatomi normal pada bayi perempuan.
25 Anus: anus harus berada di garis tengah. Pastikan keluarnya mekonium untuk
menyingkirkan dugaan diagnosis anomali anorektal. Pemeriksaan dengan jari tidak
boleh dilakukan secara rutin pada bayi baru lahir.
26 Kaki: pastikan terdapat dua tungkai yang bergerak bebas. Pada tiap tungkai, rasakan
femur, lutut, dan sendi engsel; ekstremitas bawah dan tibia serta fibula ke bawah
hingga mencapai sendi pergelangan kaki dan kaki. Periksa kelima jari kaki apakah
bantalan kuku utuh. Pastikan sendi pergelangan kaki dan kaki dalam keadaan lemas.
Akan terlihat lipatan plantar pada tiap kaki. Refleks babinski dapat dicetuskan dengan
menggerakan jari di sepanjang sisi luar kaki, yang membuat jari kaki meregang ke
luar. Inspeksi dan rasakan integritas kulit.
27 Refleks: uji refleks bertujuan memastikan bahwa perkembangan neurologi berjalan
normal atau guna mengidentifikasi setiap masalah. Refleks moro biasanya diperiksa
terakhir. Refleks ini dicetuskan dengan mengangkat bayi ke depan hingga dagunya
menempel di dada. Dengan satu tangan menopang kepala bayi, biarkan kepala bayi
jatuh ke belakang di atas tangan kedua. Ketika bayi jatuh ke belakang, reaksi yang
normalnya mereka buat adalah melambai-lambaikan lengan ke arah luar lalu
membawanya ke depan menuju garis tengah. Selain menilai tonus bayi dan
kemampuannya menyokong kepala, refleks menggenggam dapat dinilai pula dari
pemeriksaan ini.3