Anda di halaman 1dari 2

Syarafina Sulwani

A31113530

Rerangka Konseptual

Definisi Kerangka Kerja Konseptual


Kerangka konsepsual (conceptual framework): suatu sistem logis dari tujuan-tujuan
dan dasar-dasar yang saling terkait yang dapat mengarah pada standar-standar konsisten dan
yang menentukan sifat, fungsi, dan batasan dari akuntansi keuangan dan laporan-laporan
keuangan.
Kerangka konsepsual diperlukan untuk:

Mengumumkan lebih banyak standar yang berguna dan konsisten di masa yang akan

datang (dasarnya sama)


Masalah-masalah praktis yang baru muncul, sehingga dapat dengan cepat dipecahkan

dengan referensi kerangka teori dasar yang sudah ada.


Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai
laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar

laporan keuangan perusahaan.


Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada
kerangka teori yang telah ada

Tujuan Dasar Kerangka Kerja Konseptual


Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan
informasi:
1. yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis
dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;
2. untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial, serta
pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;
3. tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di
dalamnya.

Konsep-Konsep Kerangka Kerja Konseptual


Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
a. Kualitas Primer
1. Relevansi. Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back
value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu.
Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat
digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
2. Keandalan. Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan
secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan).
3. Keberdayaujian (verifiability). Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat
diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan konsensus
4. Kenetralan (neutrality). Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan
berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk
memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.
5. Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti
adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.
b. Kualitas Sekunder
1. Keberdayabandingan (comparability).
Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara
satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan
horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang
berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.
2. Konsistensi (consistency)..
Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi
apabila mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama
untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.