Anda di halaman 1dari 14

BAB 4

HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum
4.1.1 Letak Geografis
Kabupaten TTS merupakan salah satu wilayah di Propinsi NTT yang terletak antara
9o26- 10o10 lintang selatan dan 124o4901- 124o0400 bujur timur. Bagian utara
berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), bagian barat berbatasan dengan
Kabupaten Kupang, bagian selatan dengan Laut Timor dan bagian timur dengan Kabupaten
Belu.
Sebagaimana dapat dilihat pada gambar dibawah ini ;

Gambar 4.1.1 Peta Batas Wilayah Kabupaten TTS

4.1.2

Luas Wilayah
Luas wilayah Kabupaten TTS sekitar 3.955,36 km2, yang keseluruhannya berupa

daratan. Wilayah TTS banyak memiliki tekstur perbukitan, wilayah daratan di TTS yang
memiliki kemiringan dari batas ambang 0 - 3 adalah berjumlah sekitar 7,74% dari total luas
daerah Kabupaten TTS. Sedangkan areal dengan tingkat kemiringan 3 - 40 didalam wilayah
Kabupaten TTS adalah sekitar kurang lebih 57,86%. Sedangkan sisanya yang berjumlah
34,40% dari total luas wilayah Kabupaten TTS ini adalah yang memiliki tingkat kemiringan
diatas 40.
Secara administrasi, terdapat 32 kecamatan yang terdiri dari 278 desa dan 12 kelurahan
di Kabupaten TTS. Dari 278 desa yang ada, 23 desa berada di pesisir dan 255 desa bukan di
pesisir. Dari 32 kecamatan yang ada, untuk lokasi penelitian terdiri dari tiga kecamatan, yaitu
Kecamatan Mollo Utara, Kecamatan Amanuban Selatan dan Kecamatan Amanuban Barat.
4.1.3 Kependudukan
Uraian
Jumlah Penduduk (jiwa)
Pertumbuhan Penduduk (%)

2012
448.693
0,60

Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

113

Sex Ratio (L/P)(%)

97

Jumlah Rumah Tangga (juta)

111.939

2013
451.922
0,72
114
97
112.446

% Penduduk menurut kelompok umur


39.32
0-14 tahun
36,77
55,90
15-64 tahun
58,12
4,78
>65 tahun
5,11
Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2013 dari Badan Pusat Statistik (BPS)
Kabupaten TTS, jumlah penduduk Kabupaten TTS adalah 451.922 orang yang terdiri atas
222.490 laki-laki dan 229.432 perempuan. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 0,72
persen dari hasil proyeksi jumlah penduduk tahun 2012 yaitu 448.693 orang.
Tabel 4.1.3 Indikator Kependudukan Kabupaten TTS.

4.1.4

Tingkat Pendidikan
Sesuai data tahun 2013, persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut status

pendidikan adalah penduduk yang belum atau tidak pernah sekolah sebanyak 11,07%, masih
bersekolah 25,09% dan tidak bersekolah lagi 63,84%. Sedangkan menurut kemampuan
membaca dan menulis adalah dapat membaca dan menulis sebanyak 86,53% dan buta huruf
13,47%. Secara umum, tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten TTS masih relatif rendah
dan keadaan penduduk ini merupakan suatu masalah yang berpengaruh terhadap tingkat
pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan.
4.1.5 Pelayanan Kesehatan
Kesehatan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Peningkatan derajat kesehatan
masyarakat perlu ditunjang dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang terjangkau dengan
pelayanan yang memadai dan mudah diakses oleh masyarakat. Jumlah sarana pelayanan
kesehatan di Kabupaten TTS sebanyak 2 buah Rumah Sakit (RS), 93 Puskesmas atau Pustu,
105 Poskesdes atau Polindes yang tersebar di desa atau kelurahan. Jumlah tenaga kesehatan
di Kabupaten TTS tahun 2013 pada seluruh unit pelayanan kesehatan adalah sebanyak 527
orang.
4.1.6 Perumahan
Selama dua tahun terakhir terjadi peningkatan persentase rumah tangga dengan jenis
lantai bukan tanah yaitu dari 35,26% tahun 2012 menjadi 35,78% tahun 2013. Sedangkan
untuk jenis dinding sebanyak 23,91% rumah tangga telah menggunakan dinding permanen.
Untuk jenis atap, sebagian besar telah tinggal menggunakan atap layak yaitu 60,88%. Dan
untuk penerangan 51,07% rumah tangga telah menggunakan listrik sebagai sumber
penerangan utama.
Pada tahun 2013 di Kabupaten TTS sebanyak 88,31% penduduk memiliki rumah
tinggal dengan luas 20 m2 sedangkan penduduk yang memiliki rumah tinggal < 20 m2 hanya
sekitar 11,69% yang umumnya adalah masyarakat di pedesaan yang lebih memilih tinggal di
rumah bulat (ume kebubu).
4.2 Karakteristik Responden
4.2.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin
Jumlah subyek penelitian ada 66 orang terdiri dari 33 kasus dan 33 kontrol.

Tabel 4.2.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin


Subyek Penelitian
Jenis Kelamin

Kasus
N
15
18
33

Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Total

Kontrol
N
%
16
48,5
17
51,5
33
100,0

%
45,5
54,5
100,0

N
31
35
66

%
47,0
53,0
100,0

Tabel diatas menunjukan bahwa jenis kelamin laki-laki pada kelompok kasus sebanyak 15
(45,5%) dan kelompok kontrol sebanyak 16 (48,5%), demikian juga pada jenis kelamin
perempuan proporsinya pada kelompok kasus sebanyak 18 (54,5%) dan pada kelompok
kontrol sebanyak 17 (51,5%).
4.2.2 Distribusi Responden Menurut Golongan Umur
Tabel 4.2.2 Distribusi Responden Menurut Golongan Umur
Subyek Penelitian
Kelompok Umur
15 - 26
27 - 38
39 - 50
Jumlah

Kasus
N
%
15
45,5
11
33,3
7
21,2
33 100,0

N
12
14
7
33

Kontrol
%
36,4
42,4
21,2
100,0

Total
N
27
25
14
66

%
40,9
37,9
21,2
100,0

Tabel diatas menunjukkan bahwa proporsi umur responden yang paling banyak pada
kelompok umur 15 - 26 tahun yaitu 27 orang (40,9%). Pada kelompok kasus, umur responden
yang paling banyak adalah 15 26 tahun yaitu 15 orang (45,5%). Pada kelompok kontrol,
umur responden yang paling banyak adalah 27 38 tahun yaitu 14 orang (42,4%).

4.2.3 Distribusi Responden Menurut Tempat Penemuan Kasus TB Paru BTA Positif
Tabel 4.2.3 Distribusi Responden Menurut Tempat Penemuan Kasus TB Paru BTA Positif
Kasus BTA Positif
N
%
1
3,0
31
94,0
1
3,0
33
100,0

Nama Puskesmas
Noemuke
Nulle
Kapan
Jumlah

Tabel diatas menunjukkan wilayah Puskesmas Nulle merupakan Puskesmas dengan


penemuan kasus terbanyak yaitu 31 kasus (94%), sedangkan Puskesmas Noemuke dan
Puskesmas Kapan masing-masing hanya terdapat 1 kasus (3%).
4.2.4 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Tabel 4.2.4 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Subyek Penelitian
Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah
Tidak Tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Akademi/PT
Jumlah

Kasus
N
%
0
0,0
0
0,0
13
39,4
5
15,2
13
39,4
2
6,1
33 100,0

N
0
1
11
7
14
0
33

Kontrol
%
0,0
3,0
33,3
21,2
42,4
0,0
100,0

Total
N
0
1
24
12
27
2
66

%
0,0
1,5
36,4
18,2
40,9
3,0
100,0

Tabel diatas menunjukkan bahwa proporsi tingkat pendidikan responden paling banyak
adalah tamat SMA yaitu 27 orang (40,9%). Pada kelompok kasus, tingkat pendidikan
responden yang paling banyak adalah tamat SD dan tamat SMA yaitu masing-masing 13
orang (39,4%), pada kelompok kontrol tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tamat
SMA yaitu 14 orang (42,4%).

4.2.5 Distribusi Responden Menurut Jenis Pekerjaan


Tabel 4.2.5 Distribusi Responden Menurut Jenis Pekerjaan
Subyek Penelitian
Jenis Pekerjaan
PNS/ABRI
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Pensiunan
Pelajar/Mahasiswa
Petani
Buruh
Tidak Bekerja/IRT
Lainnya
Jumlah

Kasus
N
%
1
3,0
0
0,0
0
0,0
0
0,0
3
9,1
9
27,3
0
0,0
17
51,5
3
9,1
33 100,0

N
0
0
2
0
1
12
0
16
2
33

Kontrol
%
0,0
0,0
6,1
0,0
3,0
36,4
0,0
48,5
6,1
100,0

Total
N
1
0
2
0
4
21
0
33
5
66

%
1,5
0,0
3,0
0,0
6,1
31,8
0,0
50,0
7,6
100,0

Tabel diatas menunjukkan bahwa berdasarkan jenis pekerjaan, proporsi jenis pekerjaan
responden paling banyak adalah tidak bekerja/IRT yaitu 33 orang (50%). Pada kelompok
kasus, jenis pekerjaan responden paling banyak adalah tidak bekerja/IRT yaitu 17 orang
(51,5%). Pada kelompok kontrol, jenis pekerjaan responden yang paling banyak adalah tidak
bekerja/IRT yaitu 16 orang (48,5%).
4.3 Analisis Faktor Risiko
Deskripsi variabel penelitian ditunjukkan dari hasil distribusi frekuensi dari masingmasing variabel penelitian . Pengelompokan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari
masing-masing variabel yang akan diteliti dengan kejadian TB paru pada orang yang berumur
15 - 50 tahun yang dianalisis dengan menggunakan tiga tahap yaitu tahap pertama
menggunakan analisis univariat, kemudian tahap kedua dicari hubungannya dengan kejadian
TB paru dengan menggunakan analisis bivariat, sedangkan tahap ketiga apabila proporsi
variabel bebas menunjukkan adanya perbedaan antara kasus dan kontrol dengan melihat
significant (p < 0,25), maka dilanjutkan dengan menggunakan analisis multivariat.
4.3.1

Analisis Univariat
Faktor lingkungan rumah yang berhubungan dengan kejadian TB paru.

Kepadatan penghuni rumah dalam penelitian ini adalah perbandingan antara luas
lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah. Pada kasus yang tidak
memenuhi syarat (< 9 m2 per orang) sebesar 81,8%, sedangkan pada kontrol yang tidak
memenuhi syarat kesehatan lebih kecil yaitu sebesar 51,5%. Kepadatan penghuni
rumah pada kasus yang memenuhi syarat ( 9 m2 per orang) sebesar 18,2%, sedangkan
pada kontrol lebih besar yaitu 48,5%.
Suhu ruangan adalah temperatur udara dalam ruangan yang diukur dengan
menggunakan termometer ruangan dalam satuan derajat celcius. Berdasarkan
pengukuran dengan termometer, yang tidak memenuhi syarat (31oC 37oC) pada kasus
sebesar 6,1%, sedangkan pada kontrol lebih besar yaitu 15,2%. Suhu ruangan yang
memenuhi syarat (< 31oC dan > 37oC) pada kasus sebesar 93,9% dan pada kontrol
84,8%.
Kelembaban rumah adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam ruangan,
diukur pada tempat dimana penghuni menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah
dengan menggunakan alat hygrometer. Berdasarkan pengukuran hygrometer pada kasus
yang tidak memenuhi syarat (< 40% dan > 70%) sebesar 87,9%, sedangkan pada
kontrol lebih kecil yaitu 48,5%. Kelembaban yang memenuhi syarat (40% - 70%) pada
kasus sebesar 12,1%, sedangkan pada kontrol lebih besar yaitu 51,5%.
Luas Ventilasi adalah perbandingan antara luas lubang angin yang dapat masuk
kedalam rumah dan luas lantai dikalikan 100% dengan menggunakan rol meter. Pada
kasus yang tidak memenuhi syarat ( < 10% dari luas lantai) sebesar 78,8%, sedangkan
pada kontrol sebesar 54,5%. Luas ventilasi yang memenuhi syarat ( 10% dari luas
lantai) sebesar 21,2%, sedangkan pada kontrol sebesar 45,5%.
Intensitas pencahayaan adalah pencahayaan yang berasal dari sinar matahari,
diukur pada tempat dimana penghuni menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah
dengan menggunakan lux meter. Berdasarkan pengukuran pada kasus yang tidak
memenuhi syarat ( < 60 Lux) sebesar 72,7%, sedangkan pada kontrol lebih kecil yaitu

33,3%. Intensitas cahaya yang memenuhi syarat ( 60 Lux) pada kasus sebesar 27,3%
dan pada kontrol 66,7%.
Jenis lantai adalah tempat berpijak di dalam rumah yang diukur dengan kondisi
kedap air (dilapisi semen atau tegel/ubin/keramik/teraso) atau tidak kedap air (tanah)
dari lantai terluas di dalam rumah. Berdasarkan pengamatan fisik langsung, yang tidak
memenuhi syarat (tidak kedap air) pada kasus sebesar 45,5%, sedangkan pada kontrol
lebih kecil yaitu 27,3%. Jenis lantai yang memenuhi syarat (kedap air) pada kasus
sebesar 54,5% dan pada kontrol sebesar 72,7%.
Kontak serumah adalah adanya keluarga serumah yang sudah diketahui menderita
TB paru BTA positif. Pada kasus yang memiliki kontak serumah sebesar 75,8%,
sedangkan pada kontrol sebesar 51,5%. Pada kasus yang tidak memiliki kontak
serumah sebesar 24,2% dan pada kontrol 48,5%.
Tabel 4.3.1 Hasil Analisis Univariat Faktor Lingkungan Rumah dengan Kejadian TB
Paru di Kabupaten TTS Tahun 2014

Subyek Penelitian
No

Jenis Pekerjaan

Kasus

Kontrol

Kepadatan penghuni
1. < 9 m2 per orang
2. 9 m2 per orang

27
6

81,8
18,2

17
16

51,5
48,5

Suhu ruangan
1. 31oC 37oC
2. < 31oC dan > 37oC

2
31

6,1
93,9

5
28

15,2
84,8

Kelembaban rumah
1. < 40% dan > 70%
2. 40% - 70%

29
4

87,9
12,1

16
17

48,5
51,5

Luas ventilasi
1. < 10% dari luas lantai
2. 10% dari luas lantai

26
7

78,8
21,2

18
15

54,5
45,5

Intensitas pencahayaan
1. < 60 Lux
2. 60 Lux

24
9

72,7
27,3

11
22

33.3
66,7

Jenis lantai
1. Tidak kedap air
2. Kedap air

15
18

45,5
54,5

9
24

27,3
72,7

1.

Kontak serumah
1. Ada
25
75,8
17
51,5
2. Tidak ada
8
24,2
16
48,5
Selanjutnya data tersebut di analisis dengan uji chi-square dan uji regresi logistik untuk

mengetahui hubungan masing-masing variabel dengan kejadian TB paru.


4.3.2 Analisis Bivariat
1. Hubungan kepadatan penghuni rumah dengan kejadian TB paru
Proporsi rumah yang kepadatan penghuni rumahnya < 9 m2 (tidak memenuhi
syarat) lebih sedikit pada kelompok kontrol (51,5%) dibanding pada kelompok
kasus (81,8%). Secara statistik hasil analisa menunjukkan p = 0,009 dan OR =
4,235 dengan CI 95% = 1,385 < OR < 12,947 sehingga bermakna karena p < 0,05
dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kepadatan penghuni rumah merupakan
faktor risiko kejadian TB paru atau ada hubungan antara kepadatan penghuni
rumah dengan kejadian TB paru.

Tabel 4.3.2.1 Distribusi Kepadatan Penghuni Rumah dengan Kejadian TB Paru di


Kabupaten TTS Tahun 2014
Subyek Penelitian
Kepadatan penghuni rumah
2

< 9 m per orang


9 m2 per orang
OR = 4,235

Kasus

Kontrol

N
%
N
27
81,8
17
6
18,2
16
CI 95% = 1,385<OR<12,947

%
51,5
48,5
p = 0,009

2. Hubungan suhu ruangan dengan kejadian TB paru


Proporsi suhu ruangan 31oC 37oC (tidak memenuhi syarat) lebih banyak
pada kelompok kontrol (15,2%) dibanding pada kelompok kasus (6,1%). Secara
statistik hasil analisa menunjukkan p = 0,230 dan OR = 0,361 dengan CI 95% =
0,065 < OR < 2,013 sehingga tidak bermakna karena p > 0,05 dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa suhu ruangan bukan merupakan faktor risiko kejadian TB
paru atau tidak ada hubungan antara suhu ruangan dengan kejadian TB paru.
Tabel 4.3.2.2 Distribusi Suhu Ruangan Rumah dengan Kejadian TB Paru di
Kabupaten TTS Tahun 2014
Subyek Penelitian
Suhu ruangan
31oC 37oC
< 31oC dan > 37oC
OR = 0,361

Kasus

Kontrol

N
%
N
2
6,1
5
31
93,9
28
CI 95% = 0,065<OR<2,013

%
15,2
84,8
p = 0,230

3. Hubungan kelembaban rumah dengan kejadian TB paru


Proporsi kelembaban rumah < 40% dan > 70% (tidak memenuhi syarat) lebih
banyak pada kelompok kasus (87,9%) dibanding pada kelompok kontrol (48,5%).
Secara statistik hasil analisa menunjukkan p = 0,001 dan OR = 7,703 dengan CI
95% = 2,210 < OR < 26,848 sehingga bermakna karena p < 0,05 dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa kelembaban rumah merupakan faktor risiko kejadian TB
paru atau ada hubungan kelembaban rumah dengan kejadian TB paru.

Tabel 4.3.2.3 Distribusi Kelembaban Rumah dengan Kejadian TB Paru di


Kabupaten TTS Tahun 2014
Subyek Penelitian
Kelembaban rumah
< 40% dan > 70%
40% - 70%
OR = 7,703

Kasus

Kontrol

N
%
N
29
87,9
16
4
12,1
17
CI 95% = 2,210<OR<26,848

%
48,5
51,5
p = 0,001

4. Hubungan luas ventilasi dengan kejadian TB paru


Proporsi luas ventilasi < 10% dari luas lantai (tidak memenuhi syarat) lebih
banyak pada kelompok kasus (78,8%) dibanding pada kelompok kontrol (54,5%).
Secara statistik hasil analisa menunjukkan p = 0,037 dan OR = 3,095 dengan CI
95% = 1,051 < OR < 9,113 sehingga bermakna karena p < 0,05 dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa luas ventilasi merupakan faktor risiko kejadian TB paru
atau ada hubungan luas ventilasi dengan kejadian TB paru.
Tabel 4.3.2.4 Distribusi Luas Ventilasi dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten
TTS Tahun 2014
Subyek Penelitian
Luas ventilasi
< 10% dari luas lantai
10% dari luas lantai
OR = 3,095

Kasus
N
%
N
26
78,8
18
7
21,2
15
CI 95% = 1,051<OR<9,113

Kontrol
%
54,5
45,5
p = 0,037

5. Hubungan intensitas pencahayaan dengan kejadian TB paru


Proporsi intensitas pencahayaan < 60 Lux (tidak memenuhi syarat) lebih
banyak pada kelompok kasus (72,7%) dibanding pada kelompok kontrol (33,3%).
Secara statistik hasil analisa menunjukkan p = 0,001 dan OR = 5,333 dengan CI
95% = 1,859 < OR < 15,301 sehingga bermakna karena p < 0,05 dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa intensitas pencahayaan merupakan faktor risiko kejadian
TB paru atau ada hubungan intensitas pencahayaan dengan kejadian TB paru.
Tabel 4.3.2.5 Distribusi Intensitas Pencahayaan dengan Kejadian TB Paru di
Kabupaten TTS Tahun 2014

Subyek Penelitian
Intensitas pencahayaan
< 60 Lux
60 Lux
OR = 5,333

Kasus

Kontrol

N
%
N
24
72,7
11
9
27,3
22
CI 95% = 1,859<OR<15,301

%
33,3
66,7
p = 0,001

6. Hubungan jenis lantai dengan kejadian TB paru


Proporsi jenis lantai tidak kedap air lebih banyak pada kelompok kasus
(45,5%) dibanding pada kelompok kontrol (27,3%). Secara statistik hasil analisa
menunjukkan p = 0,125 dan OR = 2,222 dengan CI 95% = 0,795 < OR < 6,211
sehingga tidak bermakna karena p > 0,05 dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa jenis lantai bukan merupakan faktor risiko kejadian TB paru atau tidak ada
hubungan jenis lantai dengan kejadian TB paru.
Tabel 4.3.2.6 Distribusi Jenis Lantai dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten TTS
Tahun 2014
Subyek Penelitian
Jenis lantai
Tidak kedap air
Kedap air
OR = 2,222

Kasus

Kontrol

N
%
N
15
45,5
9
18
54,5
24
CI 95% = 0,795<OR<6,211

%
27,3
72,7
p = 0,125

7. Hubungan kontak serumah dengan kejadian TB paru


Proporsi adanya kontak serumah lebih banyak pada kelompok kasus (75,8%)
dibanding pada kelompok kontrol (51,5%). Secara statistik hasil analisa
menunjukkan p = 0,041 dan OR = 2,941 dengan CI 95% = 1,031 < OR < 8,394
sehingga bermakna karena p < 0,05 dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
kontak serumah merupakan faktor risiko kejadian TB paru atau ada hubungan
kontak serumah dengan kejadian TB paru.
Tabel 4.3.2.7 Distribusi Kontak Serumah dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten
TTS Tahun 2014
Kontak serumah

Subyek Penelitian
Kasus

Kontrol

N
%
N
25
75,8
17
8
24,2
16
CI 95% = 1,031<OR<8,394

Ada
Tidak ada
OR = 2,941

%
51,5
48,5
p = 0,041

Tabel 4.3.2 Hasil Perhitungan Analisis Bivariat dengan Uji Chi-Square Faktor
Lingkungan Rumah dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten TTS
Tahun 2014
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
4.3.3

Faktor risiko
Kepadatan penghuni
Suhu ruangan
Kelembaban rumah
Luas ventilasi
Intensitas pencahayaan
Jenis lantai
Kontak serumah

OR

95% CI

Nilai p

Keterangan

4,235
0,361
7,703
3,095
5,333
2,222
2,941

1,385<OR<12,947
0,065<OR<2,013
2,210<OR<26,848
1,051<OR<9,113
1,859<OR<15,301,
795<OR<6,211
1,031<OR<8,394

0,009
0,230
0,001
0,037
0,001
0,125
0,041

Sig
Tidak sig
Sig
Sig
Sig
Tidak sig
Sig

Analisis Multivariat
Pada tahap berikutnya data tersebut di analisis secara bersama-sama dengan analisis

multivariat untuk mengetahui adanya hubungan antara faktor lingkungan rumah dengan
kejadian TB paru. Analisis bivariat dari masing-masing variabel faktor risiko yang
mempunyai angka kemaknaan dengan nilai -value < 0,05 adalah kepadatan penghuni rumah,
kelembaban rumah, luas ventilasi, intensitas pencahayaan dan kontak serumah.
Analisis multivariat dapat dilakukan jika hasil analisis bivariat menunjukkan nilai value < 0,25, dengan demikian semua variable dapat dimasukkan dalam analisa multivariat
karena p < 0,25.
Adapun hasil analisis multivariat faktor lingkungan rumah dengan kejadian TB paru
adalah sebagaimana tabel 4.3.3 di bawah ini :
Tabel 4.3.3 Hasil Analisis Multivariat Uji Regresi Logistik Beberapa Faktor Lingkungan
Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten TTS Tahun
2014
No

Faktor risiko

Nilai p

OR

95% CI

1.
2.
3.
4.

Kepadatan penghuni
Kelembaban rumah
Intensitas pencahayaan
Kontak serumah

2,162
1,997
2,425
1,271

0,008
0,012
0,002
0,072

8,689
7,370
11,304
3,566

1,754<OR<43,035
1,544<OR<35,188
2,427<OR<52,649
0,893<OR<14,237