Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tahap pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hal yang harus


dipantau oleh orang tua, dari segi pola makan, pola asuh, serta dari segi kesehatan
utamanya pemberian obat yang harus dipantau. Disadari

anak kecil bukan

dewasa, sehingga penggunaan obat untuk anak merupakan hal khusus yang terkait
dengan perbedaan laju perkembangan organ, sistem enzim yang bertanggung
jawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat. Hal ini ditunjang dengan belum
banyaknya penelitian tentang penggunaan obat pada bayi dan anak. Data
farmakokinetik, farmakodinamik, efikasi dan keamanan obat untuk bayi dan anakanak masih sangat jarang.
Kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki seperti grey baby syndrome
(sebagai akibat pemberian kloramfenikol dengan dosis berlebih), phocomelia
(sebagai akibat pemberian thalidomida) dan kernicterus (sebagai akibat pemberian
sulfonamida) merupakan akibat dari tidak terkontrolnya pemberian obat pada
anak-anak.
Sehingga yang harus diperhatikan pada pediatri adalah dosis yang optimal,
regimen dosis tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan berat badan atau
luas permukaan tubuh pasien pediatri yang diperoleh dari ekstrapolasi data pasien
dewasa. Bioavalaibilitas, farmakokinetik, farmakodinamik, efikasi dan informasi
tentang efek samping dapat berbeda secara bermakna antara pasien pediatri dan
pasien dewasa karena adanya perbedaan usia, fungsi organ dan status penyakit.
Beberapa faktor tambahan harus dipertimbangkan dalam optimalisasi terapi
obat pediatri. Banyak obat yang diresepkan untuk bayi dan anak-anak tidak
tersedia dalam bentuk sediaan yang dikehendaki maka banyak diresepkan obat
racikan.
Dari segi bahasa Pediatri berasal dari bahasa Yunani yaitu pedos yang
berarti anak dan iatrica yang berarti pengobatan anak. Beberapa penyakit
memerlukan penanganan khusus untuk pasien pediatri sehingga harus
diperhatikan penggunaan dosisnya.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari dilakukannya praktikum farmasi simulasi yang bertema
peresepan obat racikan pada bayi dan balita, adalah sebagai berikut :

1. Untuk mensimulasikan pelayanan farmasi di apotek pada pasien bayi dan


anak.
2. Untuk mengetahui dan memberikan informasi penggunaan obat pada bayi
dan anak yang aman.
3. memonitoring atau memantau efek samping obat yang mungkin saja terjadi
pada bayi dan anak.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat dari dilakukannya praktikum farmasi simulasi yang bertema
peresepan obat racikan pada bayi dan balita, adalah sebagai berikut :
1. Agar dapat melaksanakan pelayanan kesehatan dengan jaminan keamanan
pasien bayi dan anak terjaga dengan baik
2. Agar memberikan polifarmasi secara lagis dan rasional dengan memeberikan
pengetahuan yang baik dan benar mengenai efek samping obat yang akan
dikonsumsi.
3. Agar dapat mencegah resiko interaksi obat yang merugikan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dosis
Informasi dosis merupakan hal yang penting dalam pengobatan anak,
dimana profil farmakokinetik dan farmakodinamik berbeda. Obat diberikan
dengan dosis yang lain dari yang tercantum pada PL atau MA. Contoh:
iyrutropium bromida nebuliser (Atrovent @) diberikan lisensi untuk penggunaan
sampai tiga kali sehari tetapi di rumah sakit digunakan lebih dari tiga kali.
B. Indikasi

Obat digunakan untuk indikasi lain dari yang dinyatakan pada PL atau MA.
Contoh: epoprostenol (Flolan 0) diberikan lisensi sebagai pengganti heparin
pada waktu dialisis, tetapi digunakan sebagai vasodilator pada hipertensi primer
pada bayi baru lahir dan untuk indikasi antiplatelet dalam pengobatan diseminasi
intravascular coagulopathy.
C. Usia
Obat digunakan diluar rentang usia yang telah disetujui. Beberapa obat
'tidak direkomendasikan diberikan pada anak'. Contoh: PL untuk omeprazole
(Losec 8) menyatakan 'tidak ada pengalaman penggunaan LO~YP8C pada anak
walaupun obat ini sering digunakan pada kelompok umur ini. Obat lain diberikan
lisensi penggunaan pada anak tetapi hanya pada rentang umur tertentu. Contoh:
sirup salbutamol tidak diizinkan digunakan pada anak dengan usia dibawah dua
tahun, padahal sering digunakan pada kelompok usia ini.
D. Cara pemberian
Banyak anak diberikan melalui cara p emberian yang tidak diizinkan.
Contoh: obat suntik vitarni~l K sering diberikansecara oral kepada bayi baru
lahir untuk menghindari penyakit dengan manifestasi pendarahan sebab tidak
ada sediaan yang tersedia yang sesuai yang diberikan izin.
E. Kontraindikasi
Beberapa obat kontra indi kasi bila diberikan pada anak. Contoh: aspirin
tidak direkomendasikan digunakan pada anak sebab terkait dengan sindrom
Reyes. Namun demiluan, aspirin digunakan sebagai antiplatlet pada pengobatan
penyakit Kawa dan pada beberapa pasien jantung.
F. Cara Menghitung Dosis Anak
Ada beberapa cara dalam menghitung dosis anak. Untuk itu, dipilih yang
dapat menunjukkan pengetrapan dosis individual. Untuk obat-obat yang
mempunyai rentang terapi sempit, maka memerlukan ketelitian yang tinggi dalam
menentukan dosis untuk anak. Contoh: Hitunglah dosis Amoxycil in untuk anak
berumur 4 tahun dengan BB 17 kg Diketahui: Dosis Amoxycil in anak di bawah
BB 20 kg adalah 20-40 mg/kg BB/ hari diberikan dalam dosis terbagi tiap 6-8
jam. Untuk dosis dewasa adalah 250-500 mg, diberikan tiap 6-8 jam.

Perhitungan:
1.

Berdasarkan individual dengan ukuran fisik BB:

17 X (20-40) mg = 340- 780 mg/hari Bila dipilih diberikan 3X sehari, maka dosis
per kali pemberian = 113,33 226,67 mg
2.

Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus Clark

17/20 X (250-500) mg = 60,71 121,43 mg/kali


3.

Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus Young

4/16 x (250-500) mg = 62,5-125 mg/kali


4.

Berdasarkan dosis dewasa dengan Tabel J.Hahn:

Anak 4 tahun, BB 13,0-16,3 kg = 23% dosis dewasa = 57,5-115 mg/kali


Hasil di atas menunjukkan bahwa cara perhitungan tersebut menghasilkan
dosis yang berbeda. Dengan mempertimbangkan kondisi penyakit dan kondisi
penderita, maka dokter dapat menentukan besarnya dosis per kali dan per hari
dalam resepnya. Misalkan diputuskan memberikan amoxycil in per kali 125 mg
Bila frekuensinya 3 kali sehari, maka dosis per hari adalah 375 mg.
G. FORMULA RESEP
Ada 3 formula dalam penulisan resep (magistrlis, officinalis dan
spesialistis). Faktor yang

diperhatikan dalam penentuan jenis formula yang

akan digunakan:
1) ketepatan dosis,
2) stabilitas obat terjamin,
3) kepatuhan pasien,
4) kemudahan mendapatkan obat/sediaan,
5) harga terjangkau
H. FORMULA MAGISTRALIS
Formula ini dikenal dengan resep racikan.Dalam hal ini, dokter selain
menuliskan bahan obat, juga bahan tambahan. Bahan tambahan yang
ditambahkan tergantung dari sediaan yang di nginkan. Oleh karena itu, penting
sekali diperhatikan sifat obat, interaksi farmasetik, macam bentuk sediaan dan

macam bahan tambahan yang dapat digunakan serta pedoman penulisan resep
magistralis.
Hal-hal yang penting diperhatikan dalam formula magistralis:
1. Bahan obat, sedapat mungkin menggunakan bahan baku. Penggunaan
sediaan jadi/paten (tablet, sirup, dl ) sering menimbulkan masalah baik dalam
pelayanan( misalkan tidak dapat halus, tidak homogen, dan tidak stabil) maupun
kerasionalan terapi (antara lain perubahan formula sediaan, perubahan
bioaviabilitas

obat,

Pencampuran
dipertimbangkan

perubahan

bahan

absorbsi,

yang

adanya

lebih

interaksi

penurunan
dari

satu

(farmasetik

konsentrasi
macam

obat).
harus

dan farmakologi) dan

rasionalitas obat.
2. Bntuk sediaan yang dapat dipilih meliputi serbuk (pulveres dan pulvis
adspersorium), kapsul, larutan (solusio, infusa), suspensi, unguenta, cream dan
pasta.
3. Penentuan

bahan

tambahan

(corrigen

saporis,

corrigen

odoris,

corrigen coloris, dan constituent/vehiculum).

BAB III
TELAAH RESEP
A. Resep

B. Salinan Resep

POLTEKKES

APOTEK SIMULASI FARMA


Jurusan Farmasi Poltekkes palembang
Jl. Ismail Marzuki No. 5341/171
Telp. (0711)352071 Palembang
Apoteker :Mona RahmiRuliianti S.Farm, Apt, M.Farm.
SIPA
:
SIA
: 14-05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

PALEMBANG

Resep dari Dokter :


Tertulis tanggal
Untuk

SALINAN

:
:RESEP

R/

Palembang ,
2015
Sesuai dengan aslinya

APOTEKER
No.SIPA :
POLTEKKES

APOTEK SIMULASI FARMA


Jurusan Farmasi Poltekkes palembang
Jl. Ismail Marzuki No. 5341/171
Telp. (0711)352071 Palembang
Apoteker :Mona RahmiRuliianti S.Farm, Apt, M.Farm.
7

SIPA
SIA

PALEMBANG

Resep dari Dokter :


Tertulis tanggal
Untuk

:
: 14-05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

SALINAN

:
:RESEP

R/

Palembang ,
2015
Sesuai dengan aslinya

APOTEKER
No.SIPA :
POLTEKKES

APOTEK SIMULASI FARMA


Jurusan Farmasi Poltekkes palembang
Jl. Ismail Marzuki No. 5341/171

PALEMBANG

Resep dari Dokter :


Tertulis tanggal
Untuk

Telp. (0711)352071 Palembang


Apoteker :Mona RahmiRuliianti S.Farm, Apt, M.Farm.
SIPA
:
SIA
: 14-05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

SALINAN

:
:RESEP

R/
8

Palembang ,
2015
Sesuai dengan aslinya

APOTEKER
No.SIPA :
POLTEKKES

APOTEK SIMULASI FARMA


Jurusan Farmasi Poltekkes palembang
Jl. Ismail Marzuki No. 5341/171

PALEMBANG

Resep dari Dokter :


Tertulis tanggal
Untuk

Telp. (0711)352071 Palembang


Apoteker :Mona RahmiRuliianti S.Farm, Apt, M.Farm.
SIPA
:
SIA
: 14-05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

SALINAN

:
:RESEP

R/

Palembang ,
2015
Sesuai dengan aslinya

APOTEKER
No.SIPA :
POLTEKKES

APOTEK SIMULASI FARMA


Jurusan Farmasi Poltekkes palembang
Jl. Ismail Marzuki No. 5341/171

PALEMBANG

Resep dari Dokter :


Tertulis tanggal
Untuk

Telp. (0711)352071 Palembang


Apoteker :Mona RahmiRuliianti S.Farm, Apt, M.Farm.
SIPA
:
SIA
: 14-05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

SALINAN

:
:RESEP

R/

Palembang ,
2015
Sesuai dengan aslinya

10

APOTEKER
No.SIPA :
C. Etiket

APOTEK SIMULASI FARMA


JURUSAN FARMASI POLTEKKES PALEMBANG
Jl. Ismail Marzuki No.5341/171 telp.(0711)352071 Palembang

Apoteker : Mona Rahmi Rulianti S.Farm, Apt, M.Farm


SIPA
: 14.05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

No. 74
Pro : Agra Nabila Rahayu

Tgl. 26 Oktober 2015


Obat : Ambroxol; Rhinofed

Empat x sehari Satu Tablet / Kapsul / Bungkus


Sendok / Teh / Makan
APOTEK SIMULASI FARMA
JURUSAN FARMASI POLTEKKES PALEMBANG
Jl. Ismail Marzuki No.5341/171 telp.(0711)352071 Palembang

Apoteker : Mona Rahmi Rulianti S.Farm, Apt, M.Farm


SIPA
: 14.05/PROMKES&SDK/DK/IV/2012

No. 74
Pro : Agra Nabila Rahayu
expectorant

Tgl. 26 Oktober 2015


Obat : Salbutamol

D. Perhitungan Bahan
1. Ambroxol
= 4 tablet x Rp.312 = Rp. 1248,Tiga (50
x sehari
Rhinofed
mg) Satu Tablet
= 50/ Kapsul
mg x 20/ Bungkus
Tablet = 1000 mg
1 mg
Sendok
Tehx/ 15
Makan
Diambil Rhinofed 70
= 70/ mg
tablet = 1050 mg
Harga
= 15 tablet x Rp.220 = Rp.3300,Jumlah
= Rp.1300 + Rp.3300 + Rp.500 = Rp. 5.100,Aturan pakai
= empat kali sehari satu tablet
3. Lasal Expektorant
= Rp.38.000 + Rp.200 = Rp.38.200
Aturan pakai
= tiga kali sehari 1 sendok teh (6,25 ml)
Total harga = Rp. 43.300,E. Perhitungan Dosis
F. Cara Penanganan Resep
Urutan Kegiatan Dalam Proses Dispensing
1. Menerima dan memvalidasi resep
a. Konfirmasi nama pasien
b. Nama dan alamat dokter penulis resep
c. Umur pasien

11

d. Pastikan keaslian resep


e. Kroscek nama dan identitas pasien saat penyerahan resep
2. Mengerti dan menginterpretasi resep
a. Membaca resep
b. Menginterpretasi resep yang ditulis dokter
c. Konfirmasi dosis yang diresepkan (bila ditulis tanpa usia dan jenis
kelamin)
Hitung dosis dan jumlahnya dengan tepat
Identifikasi jika ada interaksi obat
Jika ada keraguan pada tulisan dokter dalam resep hubungi prescriber
3.
Menyiapkan obat
a. Memeriksa stok pada wadah obat (membaca label dan mencocokkan
d.
e.
f.

dengan resep)
b. Menghitung atau mengukur jumlah yang dibutuhkan (cairan diukur dengan
alat ukur yang bersih, tablet dan kapsul jangan kontak langsung dengan
4.

tangan)
Mengemas obat
a. Tujuan pengemasan, agar obat tetap terjaga mutunya sampai saat akan
digunakan
b. Kemasan yang digunakan tidak boleh mempengaruhi efek obat
c. Kemasan yang digunakan harus yang memenuhi kriteria standart (plastik,

5.

kertas, botol atau pot plastik)


Memberi etiket
a. Biasanya sangat tidak adekuat (tidak lengkap), kecuali dalam kemasan
utuh
b. Pemberian label sangat penting, sebab informasi lisan hanya 50 % yang

dapat diingat
c. Label sebaiknya ditulis dengan bahasa lokal
d. Label dapat juga dibuat dengan komputer
e. Sebisanya serahkan brosur obat bersama resep
6.
Mencatat kegiatan yang dilakukan.
7. Menyerahkan obat disertai informasi yang jelas dan saran-saran
a. Melakukan pemeriksaan akhir kesesuaian antara penulisan etiket dengan

b.
c.
d.
e.

resep sebelum dilakukan penyerahan.


Memanggil nama dan nomor tunggu pasien
Mengecek identitas dan alamat pasien yang berhak menerima
Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat
Menanyakan dan menuliskan alamat atau nomor telepon pasien dibalik
resep

f. Menyimpan resep pada tempatnya dan mendokumentasikan


G. Monografi Bahan
1. Spriramisin
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Spiramisin 500 mg
12

Indikasi:
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran nafas, seperti tonsilitis, faringitis,
bronkitis, pneumonia, sinusitis, otitis media dan toksoplasmosis.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida
lainnya.
Cara kerja obat:
Spiramisin adalah antibiotik makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces
ambofaciens yang bekerja dengan cara menghambat sintesa protein bakteri.
Spiramisin

efektif

terhadap

kuman

stafilokokus,

streptokokus,

pneumokokus, Bordetella pertusis.


Posologi:
Dewasa:
500 mg, 3 x sehari selama 5 hari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan
sampai maksimal 3000 mg/hari.
Anak-anak:
Sehari 50-100 mg/kg berat badan terbagi dalam 2-3 dosis
.
Peringatan dan Perhatian:
a.

Spiramisin harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan


gangguan hati karena dapat menyebabkan hepatotoksik.

b.

Spiramisin tidak dianjurkan untuk ibu menyusui dan pada trimester


pertama kehamilan.

c.

Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal.

d.

Keamanan penggunaan pada bayi dan neonatus belum diketahui dengan


pasti.

Efek samping:
Efek
samping

yang

serius

dari

spiramisin

sangat

jarang

Mual, muntah, diare, nyeri epigastrik, ruam kulit dan urtikaria adalah efek
samping yang biasanya muncul pada pemberian oral.

13

Interaksi obat:
Efek hepatotoksis dipertinggi oleh tetrasiklin. Spiramisin bersifat antagonis
dengan

penisilin,

streptomisin,

kanamisin,

neomisin

dan

polimiksin.

Penyimpanan:
Simpan di tempat kering, pada suhu di bawah 30C, terlindung dari cahaya.
2. Ambroksol
Komposisi:
Tiap tablet mengandung ambroksol hidroklorida 30 mg.
Indikasi:
Penyakit saluran napas akut dan kronis yang disertai sekresi bronkial yang
abnormal, khususnya pada eksaserbasi dan bronkitis kronis, bronkitis asmatik,
asma bronkial.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap ambroksol.
Dosis:
Dewasa: sehari 3 kali 1 tablet.
Anak-anak 5 - 12 tahun : sehari 3 kali 1/2 tablet.
Anak-anak 2 - 5 tahun : sehari 3 kali 7,5 mg
Anak-anak di bawah 2 tahun : sehari 2 kali 7,5 mg
Dosis dapat dikurangi menjadi 2 kali sehari, untuk pengobatan yang lama.
Harus diminum sesudah makan.
Efek Samping:
Ambroksol umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang ringan pada
saluran pencernaan dilaporkan pada beberapa pasien. Reaksi alergi.
Interaksi Obat:
Kombinasi ambroksol dengan obat-obatan lain dimungkinkan, terutama yang
berhubungan dengan sediaan yang digunakan sebagai obat standar untuk
sindroma bronkitis (glikosida jantung, kortikosterida, bronkapasmolitik, diuretik
dan antibiotik).
Perhatian:
Pemakaian pada kehamilan trimester pertama tidak dianjurkan. Pemakaian
selama menyusui keamanannya belum diketahui dengan pasti.
Cara Penyimpanan:

14

Simpan pada suhu kamar (di bawah suku 30 derajat Celcius) dan tempat kering,
terlindung dari cahaya.
3. Rhinofed
Komposisi Rhinofed :
Stiap tablet mengandung :
Pseudophedrine HCL ----- 30 mg
Terfenadine ----------------- 40 mg
Farmakologi :
Terfenadine adalah suatu antihistamin baru yang bekerja secara spesifik
dan selektif pada reseptor H1, tanpa menimbulkan aktivitas depresi pada saluran
saraf pusat. Pseudophedrine(d-isoefedrine ) adalah suatu stereo isomer efedrin.
Bekerja sebagai "sympathomimemic agent" secara langsung merangsang
reseptor adrenergik. Dalam klinis terfenadine menghilangkan gejala rinitis
alergika seperti : bersin, rinore, rasa gatal disekitar hidung dan mata, sedangkan
gejala hidung tersumbat diatasi oleh pseudoephedrine.
Indikasi :
Rinitis Alegika dan Rinitis Vasomotor.
Kontraindikasi :
Pemakaian obat simpatomimetik dikontraindikasikan pada penderita

a.

dengan penyakit kardiovaskular seperti : insufisiensi koroner, aritmia dan


hipertensi berat.
Wanita hamil, menyusui dan penderita sedang terapi dengan penghambat

b.

monoamin oksidase (MAO)


c.

Hipersensitivitas terhadap psuedoephedrine dan atau terfenadine.

d.

Pemberian bersama ketokonazol dan derivat azol yang lain atau obat
golongan makrolid.

e.

Penderita dengan gangguan fungsi hati.

Dosis :
Dewasa dan anak diatas 12 tahun : 3 x sehari 1 tablet
Keamanan dan keefektifan pemberian untuk anak dibawah 12 tahun belum
ditetapkan.

15

Kelebihan Dosis ( Over Dosis ) :


Beberapa kasus kelebihan dosis telah dilaporkan, gejalaya bisa berupa
aritmia jantung termasuk takikardi ventrikular atau fibrilasi atau torsade de
pointes yang terjadi pada dosis berlebih pada dosis 360 mg. Pada dosis 300 mg
2 kali sehari selama 7 hari terjadi perubahan pada EKG yaitu perubahan
morfologi gelombang T dan timbulnya gelombang U. Pada kasus kelebihan dosis
monitoring EKG harus dilakukan secara intensif. Hemodialisis tidak efektif atau
tidak mempengaruhi berdihan terfenadine atau metabolitnya dari darah.
Peringan dan Perhatian :
a.

Hati-hati digunakan pada penderita narrow angle glaucoma, hipertensi,


diabetes militus dan hipertiroid.

b.

Kehamilan dan wanita menyusui.

c.

Jangan melebihi dosis yang dianjurkan.

d.

Karena terfenadine dimetabolisme secara ekstensif di hati, maka


penggunaan terfenadine pada pasien dengan gangguan fungsi hati harus
dihindari.

e.

Pasien yang diketahui mempunyai kecenderungan QT memanjang


mungkin pada pemakainan terfenadine akan menyebabkan QT memanjang
dan atau aritmia ventrikular. Oleh karena itu dianjurkan untuk menghindari
penggunaan terfenadine pada pasien dengan congenital QT syndrome dan
pada pasien yang sedang meminum obat yang dapat memperpanjang inteval
QT seperti antiaritma, astemizol dan eritromisin atau pasien dengan
hipokalemia yang tidak terkontrol.

Efek Samping :
a.

Gangguan saluran cerna : anoreksia, mual, muntah, sakit perut dan mulut
kering.

b.

Gangguan susunan saraf pusat : insomnia, gelisah dan ansietas.

c.

Kardiovaskular : palpitasi, takikardi dan ekstrasistol.

d.

Pseudoefedrin HCl : Mengantuk, gangguan pencernaan, sakit kepala,


insomnia, eksitasi susunan saraf pusat, gemetar, takhikardia, aritmia, mulut
kering, berdebar-debar, penyumbatan saluran kemih

e.

Terfenadine:

Gangguan

saluran

pencernaan,

lesu,

mulut

kering,

mengantuk, sakit kepala, erupsi kulit dan gatal-gatal termasuk ruam kulit dan
utikaria (biduran/kaligata)

16

f.

Efek samping lain yang pernah dilaporkan adalah nyeri abdomen dan
dispepsia,

alopesia,

reaksi

anafilaksis,

angioedema,

aritmia

jantung,

bronkospasme, gangguan mood, konvulsi, depresi, pusing, sakit kepala,


insomnia, ikterus, gangguan fungsi hati termasuk peningkatan transaminasi,
gangguan haid, nyeri muskuloskeletal, nightmare, ruam, keringat dingin,
tremor dan gangguan visual.

Interaksi Obat :
1. Pemberian obat simpatomimetik pada penderita yang menerima obat
penghambat monoamin oksidase dapat menimbulkan krisis hipertensi.
2. Antasida dapat menimbulkan kecepatan absorpsi pseudoephedrine tetapi
sebaliknya kaolin menurunkannya.
3. Ketokonazol dan derivat azol yang lain serta antibiotik makrolid akan
menghambat metabolisme terfenadine sehingga tidak boleh diberikan
bersamaan (kontraindikasi ).
4. Lasal Expectorant
Kejang bronkus pada semua asma brokial, bronkitis kronis dan emfisema dan
penyait paru lain degan komplikasi bronkokontriksi
Kontra Indikasi :
Hiperesensitif
Peringatan dan Perhatian :
Hati-hati pad penderita thyrotokskosis, hipertensi, gangguan kardiovaskuler,
hipertiroid. Sebaiknya hindari pada kehamilan trimester pertama. Hati-hati
penggunaan pada anak kurang dari 2 tahun.
Efek samping :
Pada pemakaian dosis besar kadang ditemukan terjadi tremor, palpitasi, kejang
otot, takikardia, sakit kepala dan ketegangan.
Dosis:
Dewasa dewasa sehari 2-3 kali 10-20 ml sirup.
Anak 6-12 tahun sehari 2-3 kali 5-10 ml sirup.
Anak < 6 tahun sehari 2-3 kali 2,5-5 ml sirup.

17

Daftar Pustaka
https://razimaulana.wordpress.com/2011/03/19/menulis-dosis-dan-sediaan-resep/
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
http://compolite.blogspot.co.id/2013/09/rhinofed-obat-rinitis.html
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
http://www.farmasi-id.com/pseudoephedrine-hcl/
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
http://medicastore.com/obat/5846/TERFENADIN_TABLET.html
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
http://www.dechacare.com/Spiramycin-Dexamedica-P754-1.html
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
http://www.apotikantar.com/index.php?route=search
%2Falphabetical&text=salbutamol
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)
Anonim. 2013. Informasi Spesialit Obat Indonesia Volume 48. Jakarta: ISFI
Penerbitan

http://liesriyadhul.blogspot.co.id/2012/10/salamsehat-untuk-semua-ini-adalahpost.html
(diakses pada tanggal 24 Oktober 2015)

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta. PT. Elex
Media Komputindo

18

19