Anda di halaman 1dari 133

ADVANCE TRAUMA LIFE

SUPPORT

Laki laki 20 tahun pengendara sepeda


motor, tanpa helm, terjatuh. Ditemukan
dalam keadaan tak sadar, ngorok, nafas
cepat, keluar darah dari mulut dan hidung

APA YANG TELAH TERJADI?


APA YANG SEDANG TERJADI
APA YANG AKAN TERJADI

Tumpul (kulit, otot, tulang, visera)


Tajam (menembus jaringan bocor)
Bakar ( mukosa luar dan dalam)
Ledakan (rongga udara pecah)

Kepala, wajah, leher ( Airway)


Leher, torak, abdomen ( Breathing)
Torak, abdomen, pelvis ,ekstremitas
(Circulation)

AIRWAY ; gurgling, snoring, hoarsness atau


stridor
BREATHING; sesak nafas, megap-megap,
sianosis bibir, RR>30/mnt, jejas dan
Gangguan pergerakan dinding dada,
gangguan pengembangan paru baik kolaps
atau memar, pergeseran mediastinum

CIRCULATION; akral dingin, nadi >100/mnt,


TD menurun, dan untuk non perdarahan
vena leher terbendung
Disability; AVPU dan GCS
Environtment ; hipotermi dan hipertermi

Persiapan laringoskop lampu nyala,


bagvalve dll
Imobilisasi masih manual
Lakukan bantuan ventilasi dengan BVM
sampai sianosis berkurang atau saturasi
membaik
paO2 jumlah oksigen dalam darah 80-100
mm Hg, saturasi ikatan O2 oleh Hb, 95100%

Buka mulut dengan cara cross fingger, lihat


OP, bersihkan untuk lihat epiglotis, jelas
intubasi, tak jelas bersihkan, jelas intubasi
tak jelas krikotiroiditomi needle atau
surgical
Cek kedalaman OT apakah tepat dengan
mendengarkan suara dari bagvalve ke OT
setinggi T4 atau putting mama fiksasi,
pasang OPA, nek kolar dan ke Bagvalve

Setelah semua dikerjakan baru nilai kembali


akral, nadi, TD, urine, bila tak ada perbaikan
atau malah pemburukan fikirkan 3
kemungkinan cairan darah kurang berikan
liter ke 2, bersamaaan cari kemungkinan
non hemorargik apakah tension
pneumotorak pada Breathing kembali
berulang atau ada cardiak tamponade

Atasi penyebab non hemorargis sebagai


penyebab tak respon, kalau bukan non
hemorargik, berarti perdarahan aktif intra
abdomen siapkan operasi resusitasi
Bila respon baik cari sumber perdarahan
yaitu kulit, otot, tulang (sudah),
torak(sudah), tinggal abdomen
intraperotoneal, retroperitoneal dan pelvis

Perdarahan IP akan memperlihatkan tandatanda peritonitis (kembung, BU melemah,


MG atau DM +) kecuali bila ada gangguan
kesadaran (cedera kepala, obat2an), nyeri
sangat sekitar perut (fraktur kosta,
vertebra, pelvis) atau kelumpuhan (cedera
MS) maka dilakukan DPL bila dicurigai
gangguan C berasal intraabdomen

Setelah IP disingkirkan fikirkan


Retroperitoneal atau pelvis, buat foto
pelvis/abdomen
setelah ABC baik, dinilai apakah kesadaran
menurut AVPU mengalami perbaikan? Bila
tidak gunakan GCS dan ukuran pupil untuk
kemungkinan cedera otak dan adanya lesi
masa berkembang

Pada survei primer operasi yang dilakukan


bertujuan untuk resusitasi, Gangguan
Breathing ( Ruptur trakea/bronkus,
Hematotorak masif, Circulation syok
perdarahan kelas IV di abdomen atau syok
kelas III tak respon akibat perdarahan
berlangsung aktif, dan Disability bila ada
herniasi transtentorial menyertai gangguan
kesadaran

Mekanisme trauma tajam, organ cedera


torak, A bebas B(open PT, TP, HT),
gangguan C (TP.CT,HT), gangguan D
(hipoksia/iskemia)

Mencari tanda-tanda ancaman kehilangan


nyawa (ABCDE)
Melakukan resusitasi sesuai ancaman
Melakukan penilaian setelah resusitasi
Melakukan resusitasi lanjutan atau
mengubah resusitasi atau melakukan
resusitasi operasi bila tetap tak respon
Bila respon masuk sekondari survei

Head

to toe protection
Tutup kepala,
kacamata,
masker,
gaun,
sepatu dan sarung tangan

Lakukan tindakan imobilisasi penderita


kepala leher pundak sekaligus pada semua
kasus
Tentukan tingkat kesadaran dengan
menyapa, memberi rangsang nyeri apakah
alert, bangun saat dipanggil, bangun saat
dirangsang nyeri atau tak ada komunikasi
dari semua rangsang
Berikan oksigen setelah yakin penderita
hidup

Berikan oksigen menggunakan NRFM (TV


10cc/kgBB+Dead Space 2 cc/kgBB, BB 70
Kg, RR 12-16/mnt 10-12//mnt
O2 bebas 20%, kanul 20%, Simple FM3050%, Rebreathing FM 50-70%, NRFM 7090%, bagvalve A definitif 100%

Kesadaran pada penderita trauma bisa


terganggu oleh kelainan ekstrakranial
seperti
gangguan A dan B ( hipoksia) atau
gangguan C (iskemia).
Pupil pada gangguan kesadaran
ekstraakranial biasanya isokor dan reaktif
Sapa penderita apakah Alert atau hanya
bangun atau merespon saat dipanggil
(verbal)

Bila tak merespon sapaan,


gunakan rangsang nyeri dengan mencubit,
bila penderita berteriak marah artinya
respon terhadap rangsang nyeri (P),
bila tak ada komunikasi dengan rangsang
nyeri hanya erangan dianggap tak respon
(U)
Pada gangguan kesadaran U, A umumnya
tak bebas

bernafas

dengan udara bebas


FiO2 20% paO2 80-100mg
dengan Nasal Kanul 40%
simple face mask 50%
rebreathing face mask 70%
Non rebreathing face mask 90%
Bag-valve definitive airway 100%

manual

imobilisasi oleh
asisten dari arah berbeda
penolong tetap dari arah
kepala

Imobilisasi oleh asisten dari arah berbeda


Untuk gurgling, buka mulut dengan cross
fingger, lihat bOP untuk darah, lendir dll
hisap sampai bersih O2 kembali
Bunyi dengkur snoring buktikan dengan
jaw thrust hilang, pasang OPA dengan
ukuran sesuai, bila gangguan ulangi
prosedur sesuai sebelumnya

Buka mulut dengan cara cross fingger


Lihat orofaring
Tanyakan apakah terlihat darah, lendir atau
sisa makanan
Bila ada lakukan penghisapan
menggunakan penghisap kaku atau rigid
Tanyakan apakah bersih, bila ya berikan O2

Bila

kemudian terdengar suara


mendengkur lakukan pengecekan
dengan cara jaw thrust
Bila suara mendengkur hilang simpulkan
kemungkinan dari lidah jatuh
Pasang OPA dengan ukuran sesuai yaitu
dari pusat mulut ke angulus mandibula
atau sudut mulut ke tragus
Pasang sesuai cara pemasangan

Setelah

pemasangan OPA untuk


snoring ditanyakan apakah A
bebas
Bila tak bebas kembali lakukan
prosedur yang sama
Bila setelah prosedur ke 2 A tak
bebas kembali putuskan untuk
pemasangan A definitive

Disiapkan

set ETT yaitu NT dan


OT, karena ada maksilofasial
trauma antisipati kerusakan
periepiglotis dimana ETT tak bisa
masuk melalui epiglotis dengan
menyiapkan krikotiroidotomi set
baik needle maupun surgikal

Gagal 2 kali Airway DefinitifETT dan Kriko


set (diantisipasi karena kemungkinan
epiglotis atau laring terganggu)
ETT melalui Naso kontraindikasi bila apnea
dan fraktur basis kranii
Pilih ETT sesuai jari manis penderita
dengan nomor diatas dan dibawahnya,
balon baik

pipa

endotrakeal
persiapan krikotiroidotomi
laringoskop
bag valve mask
stetoskop
opa dll

Lakukan baging dengan BVM sesuai irama


pernafasan
Saat inspirasi dilakukan pemompaan, saat
ekspirasi lakukan pelepasan
Lihat sianosis apakah berkurang atau
saturasi bertambah

Dengan cross fingger buka mulut masukan


laringoskop dari kanan sesuai kelengkungan
lidah geser ketengah
Lihat apakah epiglotis jelas langsung
intubasi
Bila epiglotis tertutup darah bersihkan bila
jelas intubasi, ulang kembali bila tak jelas
kriko

Lihat gerakan dada bila keduanya terangkat


saat beging artinya tepat
Dengarkan suara nafas pada hemitorak
kanan kiri
Atau dengarkan suara udara di bronkus
tepat cabang trakea setinggi putting
dengan aliran udara beging

Pemberian oksigen NRFM atau Bagvalve


Airway Definitif
Cari apakah ada TPNeedle
Torakosentesis mediastinum kegaris
tengah lanjutkan pemasanganChest Tube
keluar udara disusul undulasi. Untuk HT
pasang chest tube, untuk kontusio paru
saturasi, rendah bantuan ventilasi, open
PneuTtutupb kasa3 sisi chest tube
diatas luka

Bila setelah pemasangan CT udara terus


keluar dan torak foto paru kolaps (ruptur
trakea-bronkus) torakotomi resusitasi
Bila darah initial 1400 cc atau tiap jam
>200cc torakotomi resusitasi
Bila saturasi 95-100 % dan RR kembali
normal breathing selesai

torakosentesis

-tentukan tempat masuk


ICS2( angulus
ludovisi+lineamidklavikula)
- masuk diatas iga 3

Keluar

udara dari jarum mendesis


Mediastinum kembali kegaris tengah
( trakea di garis tengah, bendungan
vena menghilang)
RR kembali ke normal <30/mnt
Tekanan darah menuju normal

Kasus 1 setelah TP diatasi menggunakan


NT, dan mediastinum balik ke garis tengah,
pasang CT utk keluarkan udara dari rongga
torak dan tube dihubungkan ke WSD agar
paru berkembang
Kasus 2, tutup SCW gunakan kasa minyak 3
tepi, pasang CT diatas luka, dan luka
ditutup definitif

cabut

jarum torakosentesis
- hubungkan dengan WSD
- lihat udara keluar disusul
undulasi
- lihat saturasi melalui pulse
oksimeter
- SpO2 diharapkan 95%, usaha
bernafas atau bantuan ventilasi

Kelas I gejala klinik tak ada


Kelas II nadi > 100/mnt, tekanan nadi
menyempit
Kelas III akral dingin, nadi >100/mnt, sistol
<90 mmHg
KelasIV tekanan darah tak terukur atau
dengan palpasi

Kelas

IV bila luka tajam abdomen


langsung operasi resusitasi, bila
daerah torak tentukan apakah
ada syok bukan perdarahan
( tension P berulang, kardiak
tamponade, hematotorak masif)

Tentukan

jumlah darah hilang dari


penilaian akral,Nadi,TD apakah klas
II,III atau IV
Kelas IV bila luka tembus abdomen
langsung operasi, daerah torak
fikirkan non hemorargik
Kelas III, siapkan darah sebanyak
hilang, pada BB 70 Kg 2 lt, kristaloid
6 lt hangatkan

Kelas IV ( siapkan darah sebanyak yang


hilang dan kristaloid 3 kali darah,
dihangatkan, pilih 2 IV line perifer,
ekstremitas atas, bawah, sentral, vena cut
down, guyur 500 cc pada masing2 IV,
tekan perdarahan luka yang menjadi aktif
kembali, psg kateter dan pipa
nasogastrik lihat respon

Berikan 2 botol pertama (1000cc), lihat


apakah luka berdarah kembali juga otot dan
tulang yang deformitas, lakukan balut
tekan, pelurusan tungkai dan fiksasi
Pasang kateter urine dengan prosedur
kemungkinan ruptur uretra (semua kasus
dilakukan colok dubur), pasang NGT bila tak
ada fraktur cribriformis

Ada 3 kemungkinan
- cairan darah baru 1 liter tambahkan
- penyebab bukan hemorargik cari
bendungan vena leher ( TP,PCT,HM) atau
cek posisi CT klinik atau radiologik
- perdarahan bertambah aktif dalam rongga
torak (HM) atau rongga peritoneal
torakotomi atau celiotomi resusitatif

Kulit,

otot, tulang
Rongga torak
Abdomen ( intra, retro dan
pelvis)
Ekstremitas

Periksa kerusakan anatomi mulai kulit, otot,


tulang dan visera dari organ head to toe
Merencanakan pemeriksaan penunjang
seperti radiologi sesuai penemuan
Periksa semua lubang
Pemeriksaan neurologis lengkap (GCS,pupil,
lateralisasi)
Operasi definitif

-GCS skor
Pupil ukuran dan reaksi cahaya
Lateralisasi motorik
Sensibilitas dan kekuatan motorik

Dari penemuan Head to toe untuk


pencitraan kelainan anatomi yang dijumpai
menggunakan pemeriksaan radiologi tanpa
dan dengan kontras, pemeriksaan USG dll
Dari pemeriksaan neurologis dikonfirmasi
melalui pemeriksaan radiologi

Operasi devinitive ditujukan untuk koreksi


anatomi setelah penderita bebas ancaman
nyawa, sedangkan operasi resusutative
untuk keadaan ancaman nyawa
Operasi bisa dilakukan di tempat pende4rita
tiba atau dirujuk ke trauma centre yang lbh
tinggi