Anda di halaman 1dari 23

PETUNJUK TEKNIS

PEMBIBITAN SAPI POTONG

Penyusun:
Ahmad Hanafiah

Penyunting:
Dedi Sugandi

Disain Layout:
Nadimin

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) JAWA BARAT


BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN

2010

Petunjuk Teknis

KATA PENGANTAR
Dalam rangka mengimbangi laju peningkatan permintaan akan
produk pertanian serta untuk meningkatkan kesejahteraan petani,
maka pembangunan sektor pertanian perlu dilakukan dengan lebih
cepat, efektif, dan efisien. Salah satu program pemerintah untuk
memenuhi permintaan akan produk pertanian berupa produk daging
sapi adalah melalui program PSDS (Pembibitan Sapi Potong).
Keberhasilan PSDS dapat dipercepat melalui implementasi
teknologi hasil Badan Litbang Pertanian oleh pengguna melalui
kawalan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di tingkat lapangan.
BPTP Jawa Barat bekerjasama dengan Dinas Instansi terkait secara
proaktif telah melaksanakan pendampingan PSDS di beberapa sentra
pengembangan sapi potong, untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan
tersebut dipandang perlu membuat petunjuk teknis pendampingan
sebagai acuan bagi kelancaran pelaksanaan pendampingan
tersebut.
Petunjuk teknis Pembibitan Sapi Potong diharapkan dapat
berfungsi sebagai acuan para pelaksana pendampingan maupun pihak
lainnya dalam mengimplementasikan kegiatan pendampingan.
Lembang, Desember 2010
Kepala BPTP Jawa Barat,

Dr. Ir. Bambang Irawan, MS.

P SDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................... i


DAFTAR ISI ...............................................................................ii
I.

PENDAHULUAN ....................................................................... 1
A. Latar Belakang ..........................................................................................1
B. Maksud Tujuan ........................................................................................2
C. Ruang Lingkup ........................................................................................2

II.

SARANA DAN PRASARANA .................................................... 3


A. Bangunan dan Peralatan .....................................................................3
B. B i b i t .........................................................................................................4
C. Pakan ...........................................................................................................6
D. Obat Hewan .............................................................................................9
E. Tenaga Kerja ..............................................................................................9

III. PROSES PRODUKSI BIBIT ..................................................... 11


A. Pemeliharaan ........................................................................................ 11
B. Tujuan Produksi Pembibitan............................................................. 11
C. Perkawinan ............................................................................................. 11
D. Persilangan ............................................................................................ 12
E. Pencatatan (Recording) ...................................................................... 13
F. Seleksi Bibit ............................................................................................. 13
G. Afkir (Culling) ........................................................................................ 14
H. Ternak Pengganti (Replacement Stock) ........................................ 14
I. Kesehatan Hewan .................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 19

ii

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani
semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya pertambahan
penduduk, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang
seimbang, dan meningkatnya daya beli masyarakat. Kondisi ini
memposisikan Indonesia sebagai pengimport sapi potong dalam
jumlah yang besar
Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan daging tersebut
yaitu dengan meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas
sapi potong. Untuk itu bibit sapi potong merupakan salah satu
faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis
dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging, sehingga
diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara
berkelanjutan.
Dalam upaya mendukung pencapaian program swasembada
daging 2014, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
berupaya mendampingi para peternak sapi potong di Jawa Barat
melalui kegiatan Pendampingan dan Disseminasi inovasi untuk
mendukung keberhasilan pencapaian swasembada daging sapi.
Permasalahan yang dihadapi sekarang sangat terbatasnya
ketersediaan bibit sapi didalam negeri sehingga pengembangan
penggemukan kurang berkembang. Pembibitan sapi potong saat ini
masih berbasis pada peternakan rakyat yang berciri skala usaha kecil,
manajemen sederhana, pemanfaatan teknologi seadanya, lokasi tidak
terkonsentrasi dan belum menerapkan sistem dan usaha agribisnis.
Kebijakan pengembangan usaha pembibitan sapi potong
diarahkan pada suatu kawasan, baik kawasan khusus maupun
terintegrasi dengan sub sektor lain (pertanian, perkebunan,
kehutanan) dan komoditas (padi, palawija, kopi, kakao, silvipasture)
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

serta terkonsentrasi di suatu wilayah untuk mempermudah


pembinaan, bimbingan, dan pengawasan dalam pengembangan
usaha pembibitan sapi potong yang selanjutnya dapat dibangun ke
arah pembentukan Village Breeding Center (VBC) yang menerapkan
praktek pembibitan yang baik (Good breeding practice).
B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
a. bagi peternak yang melakukan usaha pembibitan sapi potong,
Juknis ini diharapkan sebagai acuan dalam melakukan usaha
pembibitan sapi potong untuk menghasilkan bibit yang
bermutu ;
b. bagi petugas dinas yang menangani fungsi peternakan di
daerah, sebagai pedoman dalam melakukan pembinaan,
bimbingan dan pengawasan dalam pengembangan
pembibitan sapi potong.
2. Tujuan
Sebagai Pedoman teknis dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan
sapi potong agar diperoleh bibit sapi potong yang memenuhi
persyaratan teknis minimal dan persyaratan kesehatan hewan.
C.

Ruang lingkup

Ruang lingkup yang diatur dalam Pedoman teknis ini meliputi:


1. Sarana dan prasarana;
2. Pemeliharaan
3. Proses produksi bibit;

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

II. SARANA DAN PRASARANA


A. Bangunan dan Peralatan
1. Untuk pembibitan sapi potong sistem semi intensif diperlukan
bangunan dan peralatan sebagai berikut:
a. Bangunan
- Kandang yang dapat menampung dan melindungi ternak
pada malam hari atau selesai digembalakan. Pemagaran
kandang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
jumlah dan daya tampung.
- Halaman sekitar kandang (Cattle Yard) yaitu bagian dari
kandang yang dapat digunakan untuk tempat sapi berjalanjalan, tempat mengawinkan, penanganan sapi dalam hal
vaksinasi, bongkar muat, dan sebagainya.
b. Peralatan
- tempat pakan dan tempat minum; berupa bak dari beton
berukuran tinggi 60cm, lebar 60 cm dan panjang sesuai
panjang kandang, atau dapt pula menggunakan drum
plastik
- peralatan kebersihan kandang; sekop, sapu lidi, sikat lantai,
ember
- peralatan penanganan ternak seperti tambang pengikat
ternak.
2. Untuk pembibitan sapi potong sistem intensif diperlukan
bangunan, peralatan, persyaratan teknis dan letak kandang yang
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Bangunan:
- kandang pemeliharaan;
- kandang isolasi;
- gudang pakan dan peralatan;
- unit penampungan dan pengolahan limbah.
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

b. Peralatan:
- tempat pakan dan tempat minum;
- alat pemotong dan pengangkut rumput;
- alat pembersih kandang dan pembuatan kompos;
- peralatan kesehatan hewan.
c. Persyaratan teknis kandang:
- konstruksi harus kuat;
- terbuat dari bahan yang ekonomis dan mudah diperoleh;
- sirkulasi udara dan sinar matahari cukup;
- drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah
dibersihkan;
- lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering dan tahan
injak;
- luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung; setiap
ekor sapi memerlukan ruang 2 m x 1,5 m
- kandang isolasi (kandang untuk memisahkan ternak yang
sakit) dibuat terpisah.
d. Letak kandang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- alat angkutan dapat masuk ke sekitar kandang;
- lingkungan kandang kering dan tidak tergenang saat hujan;
- dekat sumber air;
- cukup sinar matahari, kandang tunggal menghadap timur,
kandang ganda membujur utara-selatan;
- tidak mengganggu lingkungan hidup;
- memenuhi persyaratan kebersihan dan kesehatan
lingkungan.
B.

Bibit
1. Klasifikasi bibit
Bibit sapi potong diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok,
yaitu:
a. bibit dasar (elite/foundation stock), diperoleh dari proses
seleksi rumpun atau galur yang mempunyai nilai pemuliaan
di atas nilai rata-rata;
PSDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

b. bibit induk (breeding stock), diperoleh dari proses


pengembangan bibit dasar;
c. bibit sebar (commercial stock), diperoleh dari proses
pengembangan bibit induk.
2. Standar mutu bibit
Untuk menjamin mutu produk yang sesuai dengan permintaan
konsumen, diperlukan bibit ternak yang bermutu, sesuai
dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi potong
sebagai berikut:
a. Persyaratan umum bibit:
i. sapi bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik
seperti cacat mata (kebutaan), punggung atau cacat
tubuh lainnya;
ii. semua sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat
reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan
gejala kemandulan;
iii. sapi bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak
menderita cacat pada alat kelaminnya.
b. Persyaratan khusus:
Persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk masingmasing rumpun sapi yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Persyaratan Bibit Sapi Peranakan Ongole (PO)
Ciri-ciri Tubuh
- Warna bulu putih keabu-abuan;
- Kipas ekor (bulu cambuk ekor) dan
bulu sekitar mata berwarna hitam;
- Badan besar, gelambir longgar
bergantung;
- Punuk besar;
- Leher pendek;
- Tanduk pendek.
Ciri-ciri Tubuh
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Ukuran Tubuh
Betina umur 18-24 bulan
Tinggi gumba:
Kelas I minimal 116 cm;
Kelas II minimal 113 cm;
Kelas III minimal 111 cm.
Panjang badan:
Kelas I minimal 124 cm;
Kelas II minimal 117 cm;
Kelas III minimal 115 cm.
Ukuran Tubuh
5

Petunjuk Teknis

Ciri-ciri Tubuh

Ukuran Tubuh
Jantan umur 24-36 bulan
Tinggi gumba:
Kelas I minimal 127 cm;
Kelas II minimal 125 cm;
Kelas III minimal 124 cm.
Panjang badan:
Kelas I minimal 139 cm;
Kelas II minimal 133 cm;
Kelas III minimal 130 cm.

Tabel 2. Persyaratan Bibit Sapi Brahman


Ciri-ciri Tubuh
- Warna pada yang jantan putih
abuabu, pada betina putih/abu-abu
atau merah;
- Badan besar, kepala relatif besar.

C.

Ukuran Tubuh
Betina umur 18-24 bulan
Tinggi gumba:
Kelas III minimal 112 cm
Jantan umur 24-36 bulan
Tinggi gumba:
Kelas III minimal 125 cm

Pakan
1. Setiap usaha pembibitan sapi potong harus menyediakan
pakan yang cukup bagi ternaknya, baik jumlah maupun
kualitasnya.
2. Pakan dapat berasal dari pakan hijauan, maupun pakan
konsentrat.
3. Pakan hijauan dapat berasal dari rumput, leguminosa (kacangkacangan), sisa hasil (limbah) pertanian dan dedaunan.
4. Pakan konsentrat yaitu pakan tambahan yang berasal dari
camputran bahan seperti dedak padi, tepung jagung, tepung
gaplek, bungkil kelapa, bungkil kedele, ampas tahu, onggok
dan lain-lain. Pakan konsentrat mengandung kadar serat
rendah dan kadar energi tinggi
5. Setiap ekor sapi memerlukan pakan hijauan segar sekitar 10
% dari berat tubuhnya. Sebagai contoh sapi seberat 350 kg
memerlukan hijauan segar seberat 35 kg dan konsentrat sekitar
1 2 % dari bobot tubuhnya atau sekitar 3,5 7 kg. (Hardianto
dan Sunandar, 2009, Mathius dan Togatorop, 1993)
PSDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

6. Kadar protein pakan yang diperlukan sekitar 13 15 %


7. Perbaikan kualitas hijauan pakan dapat juga dilakukan dengan
menambahkan daun kacang kacangan seperti daun cebreng/
gamal (glirisidia), daun kaliandra, daun dan buah lamtoro,
daun turi, jerami kacang tanah, sisa panen kacang panjang
dengan perbandingan sesuai keadaan sapi.
8. Pakan sapi potong untuk pembibitan perlu memiliki
keiseimbangan kandungan antara serat, Protein, energi dan
mineral.
9. Air minum harus selalu tersedia di kandang (ad-libitum).
CONTOH HIJAUAN PAKAN TERNAK BERKUALITAS TINGGI
(KACANG-KACANGAN / LEGUMINOSA)

Gambar 1. Tanaman Cebreng atau


Gamal (Glirisidia sepium)

Gambar 2. Kaliandra
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

Gambar 3. Jerami sisa panen kacang tanah

Gambar 4. Daun kacang-kacangan merambat (Centrosema sp)

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

Tabel 3. Contoh Campuran Pakan Konsentrat Untuk Sapi Potong


No
1
2
3
4
5
6

Bahan
Dedak Padi
Bungkil kelapa
Bungkil Inti Sawit
Dedak jagung
Mineral
Garam dapur
Jumlah

Komposisi Bahan
%
60
5
20
12
2
1

Protein Kasar
%
10
22
24
9
-

Total Protein
%
6,0
1,1
4,8
1,1
13

Sumber : Petunjuk Teknis Penelitian Dan Pengkajian Nasional Peternakan dan Perkebunan. Balai
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian .2003
http:// bp2tp.litbang.deptan.go.id/file/juknis_nak_bun.pdf

Tabel 4. Contoh Perbandingan Campuran Rumput/Jerami Dengan


daun Kacang-kacangan (Leguminosa)
Ststus fisiologis
Jantan dewasa
Induk bunting
Induk menyusui

Rumput/jerami %
75
60
60

Daun Kacang-kacangan %
25
40
40

D. Obat Hewan
1. Obat hewan yang dapat disediakan oleh petani yaitu obat
cacing, obat luka seperti yodium tincture, desinfektans seperti
alkohol, lisol dan obat alami.
2. Obat hewan yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan
biologik harus memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan
obat alami seperti ramuan jamu hewan tidak dipersyaratkan
memiliki nomor pendaftaran.
3. Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasn dokter
hewan sesuai ketentuan peraturan perundang-udangan yang
berlaku di bidang obat hewan.
E.

Tenaga Kerja
1. Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan
a. pada pembibitan sapi potong dengan sistim intensif

P SDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

(dikurung), setiap satu orang/hari kerja, untuk 5 ekor sapi


dewasa
b. pada pembibitan sapi potong dengan sistem gembala,
setiap satu orang/hari kerja, untuk 10-20 ekor sapi dewasa
2. Perlu dilatih agar mempunyai pemahaman teknis dan
keterampilan dalam pembibitan sapi potong.

10

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

III. PROSES PRODUKSI BIBIT


A. Pemeliharaan
Dalam pembibitan sapi potong, pemeliharaan ternak dapat
dilakukan dengan sistim pastura (penggembalaan), sistim semi
intensif, dan sistim intensif.
1. Sistim pastura yaitu pembibitan sapi potong yang sumber pakan
utamanya berasal dari padang penggembalaan yang dikelola
dengan baik. Pastura dapat merupakan milik perorangan, badan
usaha atau kelompok peternak.
2. Sistim semi intensif yaitu pembibitan sapi potong yang
menggabungkan antara sistem pastura dan sistem intensif. Pada
sistem ini dapat dilakukan pembibitan sapi potong dengan cara
digembalakan untuk memenuhi kebutuhan pakannya dan pada
malam hari dikandangkan.
3. Sistem intensif yaitu pembibitan sapi potong dengan pemeliharaan
di kandang. Pada sistem ini kebutuhan pakan disediakan penuh di
kandang.
B.

Tujuan Produksi Pembibitan

Berdasarkan tujuan produksinya, pembibitan sapi potong


dikelompokkan ke dalam pembibitan sapi potong bangsa/rumpun
murni dan pembibitan sapi potong persilangan.
1. Pembibitan sapi potong bangsa/rumpun murni, yaitu
perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara
mengawinkan sapi yang sama bangsa/rumpunnya.
2. Pembibitan sapi potong persilangan, yaitu perkembangbiakan
ternaknya dilakukan dengan cara perkawinan antar ternak dari
satu spesies tetapi berlainan rumpun.
C.

Perkawinan
Perkawinan dapat dilakukan jika terdapat tanda-tanda induk sapi

P SDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

11

Petunjuk Teknis

betina birahi. Tanda-tanda birahi yang umum adalah :


1. Alat kelamin induk sapi betina agak bengkak
2. Alat kelamin induk sapi betina berwarna agak kemerahan
3. Alat kelamin induk sapi betina suhunya agak hngat
4. Alat kelamin induk sapi betina mengeluarkan lender bening
5. Nafsu makannya menurun
6. Gelisah, kadang-kadang menggesek-gesekan bagian belakan
tubuhnya, kadang kadang melenguh (bersuara, berteriak) dan
menghentak-hentakkan kakinya
7. Menaiki ternak lainnya atau diam bila dinaiki.
Bila terlihat tanda-tanda ini, maka segera mencarikan sapi
pejantan untuk mengawini secara kawin alam, atau menghubungi
inseminator.
Dalam upaya memperoleh bibit yang berkualitas melalui teknik
perkawinan dapat dilakukan dengan cara kawin alam atau Inseminasi
Buatan (IB).
1. Pada kawin alam perbandingan jantan : betina diusahakan 1:810.
2. Perkawinan dengan Inseminasi Buatan memakai semen beku SNI
01.4869.1-2005 atau semen
cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan
bebas dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui
semen.
3. Dalam pelaksanaan kawin alam atau Inseminasi Buatan harus
dilakukan pengaturan penggunaan pejantan atau semen untuk
menghindari terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding).
D. Persilangan
Persilangan yaitu salah satu cara perkawinan, perkembangbiakan
ternaknya dilakukan dengan cara perkawinan antara sapi-sapi dari
satu spesies yang berlainan rumpun. Untuk mencegah penurunan
produktivitas akibat persilangan, harus dilakukan menurut ketentuan
12

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

sebagai berikut:
1. Sapi induk rumpun kecil (sapi lokal, PO, Madura dan Bali) yang
akan disilangkan harus berukuran di atas standar atau setelah
beranak pertama;
2. Komposisi darah sapi persilangan sebaiknya dijaga komposisi
darah sapi temperatenya tidak lebih dari 50%;
3. Prinsip-prinsip seleksi dan culling sama dengan pada rumpun
murni.
E.

Pencatatan (Recording)

Setiap usaha pembibitan sapi potong hendaknya melakukan


pencatatan (recording). Pencatatan (recording) tersebut meliputi:
1. Rumpun;
2. Silsilah;
3. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam);
4. Kelahiran (tanggal, bobot lahir);
5. Penyapihan (tanggal, bobot badan);
6. Beranak kembali (tanggal, kelahiran);
7. Pakan (jenis, konsumsi);
8. Vaksinasi, pengobatan (tanggal, perlakuan/treatment);
9. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak);
F.

Seleksi Bibit

Seleksi bibit sapi potong dilakukan berdasarkan performan


anak dan individu calon bibit sapi potong tersebut, dengan
mempergunakan kriteria seleksi sebagai berikut:
1. Calon Induk
a. calon induk harus subur dan dapat menghasilkan anak secara
teratur;
b. anak jantan maupun betina tidak cacat dan mempunyai rasio
bobot sapih umur 205 hari (weaning weight ratio) di atas ratarata.
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

13

Petunjuk Teknis

c. penampilan fenotipe (fisik) sesuai dengan rumpunnya.


2. Calon Pejantan
a. bobot sapih di atas rata- rata;
b. bobot badan umur 205 dan 365 hari di atas rata-rata;
c. pertambahan bobot badan antara umur 1-1,5 tahun di atas
rata-rata;
d. libido dan kualitas spermanya baik;
e. penampilan fisik tubuh (fenotipe) sesuai dengan rumpunnya.
G. Afkir (Culling)
Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi
persyaratan bibit (afkir/culling), dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Untuk bibit rumpun murni, 50% sapi bibit jantan peringkat
terendah (pertumbuhan lambat, testis tidak normal dan tidak
simetris dan cacat lainnya) saat seleksi pertama (umur sapih)
dikeluarkan atau dijadikan bakalan untuk digemukkan dan dijual.
2. Sapi betina yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bibit,
dikeluarkan sebagai ternak afkir (culling).
3. Sapi induk yang tidak produktip segera dikeluarkan.
H. Ternak Pengganti (Replacement Stock)
Pengadaan ternak pengganti (replacement stock), dilakukan
sebagai berikut:
1. Calon bibit betina dipilih 25% terbaik digunakan untuk induk
pengganti (replacement), 10% untuk pengembangan populasi
kawasan, 60% dijual ke luar kawasan sebagai bibit dan 5% dijual
sebagai ternak afkir (culling);
2. Calon bibit jantan dipilih 10% terbaik pada umur sapih dan
bersama calon bibit betina 25% terbaik untuk dimasukkan pada
uji performan.
14

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

I.

Kesehatan Hewan

Untuk memperoleh hasil yang baik, pembibitan sapi perah harus


memperhatikan persyaratan kesehatan hewan yang meliputi:
1. Situasi penyakit
Pembibitan sapi potong harus terletak di daerah yang tidak
terdapat gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit mulut dan
kuku (Foot and Mouth Disease), ingus jahat (Malignant Catarhal
Fever), Bovine Ephemeral Fever, lidah biru (Blue Tongue), radang
limpa (nthrax), dan keluron/keguguran menular (Brucellosis).
2. Pencegahan/Vaksinasi
a. pembibitan sapi potong harus melakukan vaksinasi dan
pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit tertentu yang
ditetapkan oleh instansi yang berwenang;
b. mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang
dipakai dalam kartu kesehatan ternak;
c. melaporkan kepada Dinas yang membidangi fungsi peternakan
dalam rangka pengamanan kesehatan.
Setiap pembibitan sapi potong harus memperhatikan hal-hal
tindak biosecurity sebagai berikut:
1). Lokasi usaha harus terhindar dari binatang liar serta bebas dari
hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit;
2). Lakukan pengendalian serangga seperti lalat dan serangga,
lainnya;
3). Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu
kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang
melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani
ternak yang sehat;
4). Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk
kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan
penyakit;
5) Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan
kendaraan tamu dipintu masuk perusahaan;
P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

15

Petunjuk Teknis

6). Memisahkan (mengisolasi) ternak yang sakit ke kandang


khusus
7). Mengkonsultasikan tindakan pecegahan atau pengobatan
kepada petugas yang berwenang
8). Membakar atau mengubur bangkai ternak yang mati karena
penyakit menular, dan mendesinfeksi kandang bekas ternak
sakit.
BANGSA SAPI POTONG YANG ADA DI JAWA BARAT
Beberapa bangsa sapi yang digunakan dalam usaha pembibitan
dan penggemukan sapi potong di Jawa Barat adalah :
A. Sapi Ongole.
Cirinya berwarna putih dengan nuansa warna hitam di beberapa
bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya
baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya
disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole
tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
B. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih
pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi
primadona sapi potong di Indonesia.
C. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah
bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya,
tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik
D. Sapi Simental
Tubuh besar, warna tubuh coklat, pada bagian kepala, dada,
perut, kaki dan berwarna putih
E. Sapi Brahman Cross (BX)
Merupakan persilangan sapi brahman dengan beberapa jenis
sapi eropa, tubuh sedang hingga besar, warna tuhuh bervariasi mulai
16

PSDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

putih hingga coklat tua, kadang agak berpunuk kadang punggungnya


datar

Gambar 5. Sapi PO (Peranakan Ongole)


Gambar 6. Sapi Brahman

Gambar 7. Sapi Simental


P SDS BPTP JABAR
Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

17

Petunjuk Teknis

350

:
:
:
:

Berat
Badan
(kg)

No/Nama Ternak
Umur/tanggal lahir
Jenis Kelamin
Tipe kelahiran

Tgl/Bln/Thn

1 Jan 2010
19 Jan 2010

09/Linda
12 Januari 2008
Betina
Tunggal

Perkawinan

Status
Fisiolo
gis

dara

: PO
: Joko/PO
: Intan/PO

Berat
sapih
(kg)

Menyapih
Jumlah
(ekor)

Bangsa
No/Nama Pejanan/Bangsa
No/Nama Induk/Bangsa

Betina
(ekor)

Melahirkan
Jantan
(ekor)

Jual
Harga
(Rp)

Vaksinasi

CatatanKhusus:

Berat
(kg)

Mutasi ternak
Digulir
kan
(ekor)

KARTU PENCATATAN USAHATERNAK

No Jantan/
Betina/Bangsa

02/limousin

Alam

V
02/limousin

IB

Keterangan

PSDS BPTP JABAR

18

Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Petunjuk Teknis

DAFTAR PUSTAKA
Anonym,Pedoman Pembinitan Sapi Potong Yang Baik. Direktorat Jenderal
Peternakan
Hardianto, R, 2008. Pakan Ruminansia. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
jawa Barat. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Pertanian.
Badan Litbang Pertanian
Hardianto dan Nandang Sunandar, 2009. Petunjuk Teknis Budidaya Sapi
Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian jawa Barat. Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan Pertanian. Badan Litbang
Pertanian
Ismeth Inounu, dkk. 2008. Implementasi Peningkatan Populasi sapi betina
Produktif : Dalam Negeri dan Impor dalam Upaya Peningkatan
populasi sapi Betina Produktif Di Indonesia. Puslitbang
Peternakan.
I.W. Mathius dan M.H. Togatorop. 1993. Bahan Pakan Dan Penyususnan
Ransum Ternak sapi Potong. Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Peternakan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian.
Mariyono dan Endang Romjali. 2007. Petunjuk Teknis Teknologi Inovasi
Pakan Murah Untuk Usaha Pembibitan Sapi Potong. Puslitbang
Peternakan, badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian

P SDS BPTP JABAR


Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS)

19